Disclaimer: I am not, in any way, take any profit from the story and that all creative rights to the characters belong to their original creator(s). Naruto © Masashi Kishimoto.
Jejak Bulan di Atas Air
blackpapillon
4. Wanita dan Para Pria
.
.
"TENTEN!" teriak Sakura keras, dan dia langsung menghambur ke arah gadis itu, membuat Tenten hampir terjatuh. Tenten tertawa melihat sikap Sakura itu. "Tenten! Kau datang? Kapan kau datang? Bagaimana? Apa kau akan menginap? Berapa lama? Ah, apa paman juga datang ke sini? Tapi, bukankah sedang tidak ada rapat kekaisaran?" tanyanya bertubi-tubi.
Tawa Tenten terdengar lagi, membuat Sakura jadi malu karena terlalu semangat. "Oke, oke—aduh! Kau semangat sekali, Sakura-chan," kata Tenten sambil membimbing gadis itu ke sofa. "Tadi pagi, Ino dan Hinata mengirim pesan padaku dan memintaku untuk datang. Aku datang hanya dengan pengawalku, namun tadi dia sudah kuminta pulang dan datang menjemput lagi lusa. Kebetulan sekali, aku juga ingin melihat keadaan latihan para prajurit shinobi."
"Sudah kuduga kau akan senang, Sakura!" kata Ino ceria sambil membawakan nampan berisi teh, "Kita sudah lama tak berkumpul begini. Ya, kan, Hinata?"
Hinata mengangguk. "Untunglah aku menginap di sini hari ini."
"Oh?" Tenten menoleh ke arah Hinata, "Memangnya, kakak sepupumu—maksudku, Hyuuga Neji pulang ke rumah hari ini?" tanyanya, Hinata mengangguk lagi.
"Haaa, kau pasti sebal, ya, Tenten? Sayang sekali, Neji akan pulang saat matahari terbenam! Padahal kau datang ke sini juga untuk bertemu dia, kan?" goda Ino.
Wajah Tenten terasa panas, mendadak warnanya berubah merah. "Apa, aku 'kan ke sini untuk bertemu dengan Sakura-chan! Iya, kan, Sakura?" Ia mencoba mencari pembenaran sambil menoleh ke arah Sakura.
Sakura tertawa geli. "Ya, boleh saja kok, kalau kau memang ingin bertemu dengan Neji," ujarnya, "Aku tahu kau selalu memperhatikan dia. Ya, kan?"
Wajah Tenten semakin merah. Ia menahan ekspresinya sekuatnya. Namun tetap saja wajahnya itu sudah merona. "Eh? Ak-aku... cuma menganggap dia hebat... dia begitu bertanggung jawab... lalu, dia juga sangat berwibawa...itu saja."
"Sudahlah, sudahlah," kata Ino cepat, "mengaku sajalah. Lagipula Hinata pasti tidak akan keberatan kalau Tenten menjadi kakak iparnya. Betul, kan, Hinata?"
Hinata juga ikut tertawa. "Iya, aku juga akan senang kalau Tenten mau jadi kakak iparku." Ujarnya, ikut menggoda.
Tenten benar-benar salah tingkah sekarang. "Sudah cukup!" Teriaknya dengan wajah yang terlhat begitu malu, "Aku... yah, aku memang memperhatikannya... tapi, dia 'kan sama sekali tidak melihat aku." Katanya sambil membenamkan wajahnya ke bantal.
Puteri perdana menteri itu sekarang terlihat berbeda sekali dari biasanya. Sejak dulu, dia memang sudah menjadi panutan dan sahabat Sakura. Gadis itu lebih tua setahun dari mereka semua, namun persahabatan di antara mereka sudah terjalin bahkan sejak mereka masih kecil. Di kalangan umum, gadis berambut cokelat itu berperan sebagai kakak bagi Sakura. Sikapnya pun selalu tenang, tegas, dan dewasa. Ini merupakan hal tambahan yang membuat Sakura begitu berusaha menjalani kehidupannya sebagai seorang puteri—selain saat ia ditampik oleh Sasuke dulu. Meskipun dari luar tampak tenang, gadis ini selalu berubah saat bicara dengan teman-temannya.
Dan Hyuuga Neji—ya, jenderal muda itu—akhir-akhir ini seperti menarik perhatiannya. Dan hal itu pula yang akhir-akhir ini disadari oleh para sahabatnya.
"Wah, wah, kalau begitu kau juga senasib dengan Sakura, Tenten," Kata Ino sambil duduk di sebelah mereka, "Dia juga 'kan tiap hari harus bertahan dengan perlakuan lelaki itu padanya. Cuma bedanya, yang kau incar sekarang ini sister complex." Komentarnya sambil mendelik ke arah Hinata.
"Ma-maaf! Aku, bukan maksudku... tapi..." Tiba-tiba Hinata jadi merasa serba salah. Tenten, Ino, dan Sakura tertawa melihat sikap gadis itu.
"Ah! Hinata, tak perlu dianggap serius! Kamu ini..." Tenten tersenyum simpul. "Lagipula... aku ingin melihat latihan mereka... karena aku tak pernah dibolehkan oleh ayah untuk menjadi seorang kunoichi." Sahut Tenten pelan.
"Apa? Apa maksudmu, Tenten?" tanya Sakura tiba-tiba. "Kau benar-benar mau menjadi seorang kunoichi?" tanyanya.
"Sebetulnya, itu yang benar-benar kuinginkan," Kata Tenten. "Tapi... kau tahu, kan? Ayah sama sekali tidak mengizinkanku."
"Jelas saja tidak boleh, bodoh! Kau 'kan anak seorang perdana menteri!" teriak Ino gemas, "Kau masih tidak mensyukuri semua itu? Seluruh anak gadis di negeri ini ingin menjadi puteri bangsawan seperti kau, tahu!"
"Tapi... aku benar-benar menginginkannya!" Katanya cepat, "Aku tak dapat mengerti. Apakah kita tak boleh menjadi seorang kunoichi hanya karena kita adalah seorang puteri bangsawan? Kita juga harus bisa melindungi diri sendiri, kan?"
"Ya, tapi..."
Hal inilah yang paling menonjol dari Tenten: keinginannya untuk menjadi seorang kunoichi—alias ninja wanita. Meskipun ia bertindak sebagai pengayom di antara mereka, namun sifatnyalah yang paling tomboi. Sejak kecil ia gemar memain-mainkan senjata milik ayahnya, atau para prajurit saat ia sedang mengunjungi mereka latihan. Impiannya mungkin begitu sederhana bagi para perempuan biasa—menjadi seorang kunoichi. Namun posisinya sebagai puteri perdana menteri menghalangi keinginannya itu. Bagi para wanita kalangan biasa, malah diwajibkan untuk menguasai dasar-dasar jurus ninja. Bagi yang memang berminat, mereka dapat melanjutkan pendidikannya.
Namun, bagi puteri seorang bangsawan, jalan itu sudah tertutup. Satu-satunya bela diri—entah apa itu bisa disebut bela diri atau bukan—hanyalah memanah. Yah, dan mungkin, aikido.
"Ah, sudahlah! Hari ini kita berkumpul di sini untuk menghibur Sakura. Iya, 'kan, Sakura-chan?" Tenten mengedipkan mata. "Kau masih pusing? Atau kesal? Atau… stres?"
"Jangan berlebihan," ucap Sakura sambil tertawa geli. Dilemparnya bantal yang dipegangnya ke arah Tenten sehingga gadis itu menjerit menghindar. "Mungkin aku sedang agak kurang enak badan. Yang jelas sikapnya pagi tadi membuat mood jadi jelek." Kata Sakura.
"Kurasa sifatnya memang sudah jelek," komentar Ino sambil mengambil kue yang tadi disiapkannya sendiri. Uh, emmbicarakan para cowok memang selalu membuatnya lapar.
"Ku-kurasa… menurutku, itu bisa saja karena masa lalunya… keluarganya dibantai secara kejam." Kata Hinata, mencoba memebela. "Karena, kalau dipikir, benar juga, kan? Orang yang dibantai keluarganya mungkin akan berusaha menutup diri karena kehilangan kepercayaan pada orang lain."
"Kau juga dulu meninjau ke sana, kan, Sakura?" tanya Tenten. "Sayang sekali waktu itu aku tidak boleh ikut… hanya keluarga kaisar yang datang secara pribadi. Bagaimana keadaan saat itu?" tanya gadis itu penasaran.
Sakura terdiam. Ia memandang langit-langit kamarnya yang megah. Lalu pandangannya menerawang. "Menakutkan."
"Eh?"
"Menakutkan," komentar Sakura sekali lagi. "Kau tahu, lapangan itu benar-benar penuh percikan darah. Dan yang hidup hanya dia… kalau dipikir, pantas saja kalau ia selalu menutup hatinya." Ujarnya. Ia tak tahu ekspresi apa yang terlihat dari wajah lelaki itu sepuluh tahun yang lalu. Hatinya miris. Ia tak sanggup membayangkan bila dalam satu hari, ia kehilangan SELURUH keluarganya. Ya, seluruh. Yang tersisa hanya satu orang…
sejak awal, ia juga memang sudah berpikir, anak itu bukan orang biasa. Bukan orang seperti dirinya yang senantiasa dikelilingi hadiah-hadiah dan ratusan dayang yang siap melayaninya.
Dia adalah seorang anak kecil yang terlalu cepat dewasa.
"—Tapi kakaknya juga masih hidup, kan? Sakura? Sakura?" Ino menggoyang-goyangkan tangannya di depan muka sahabatnya itu. Sakura segera tersadar dari lamunannya. Ia cepat-cepat menggelengkan kepalanya. "Eh… ya, apa?"
"Yang tersisa dua orang, kan? Dia dan kakaknya? Tapi, mengapa kau bilang, dia hanya sendirian, Sakura-chan?" tanya Hinata.
Sakura berpikir lagi sebentar. "Ah, ya. Dia memang hanya sendirian saat itu. Karena kakaknya sudah dilatih untuk menjadi duta khusus militer di Suna, ingat?" kata Sakura. "Kakaknya orang yang jenius. Saat itu ia tak ada di tempat kejadian, sehingga dia selamat."
"Tapi ada yang aneh," kening Tenten terlihat berkerut, "Itachi tidak mati… mungkin itu bisa sedikit dimengerti, mengingat saat itu ia sedang tak ada di tempat. Tapi, mengapa Sasuke yang juga ada di sana masih hidup?"
"Ah, benar juga. Tapi aku tak bisa begitu mengerti alasan itu." Kata Sakura. "Kejadian itu sudah lama sekali… kurasa, semua orang juga pasti tak mau membuka lembaran masa lalu yang kelam."
"Kudengar dari beberapa dayang di kementerian, sikap Sasuke pada orang tua angkatnya juga dingin. Maksudku, dia memang menghormati keduanya, namun ia sama sekali tak suka bercerita tentang dirinya sendiri. Kurasa ia hanya bercerita pada kakaknya." Kata Hinata.
"Oh, ya? Apa mereka sangat dekat? Maksudku, Itachi 'kan hanya datang sesekali ke negara ini..." kata Tenten.
"Kurasa, satu kata yang paling tepat untuk Sakura saat ini hanyalah 'berjuang'!" Kata Ino, setengah menggoda. Wajah Sakura bersemu merah lagi. "Biarpun kau kesal padanya, kau menyukainya, kan, Sakuraaa?"
Sakura sedikit tersenyum kali ini. Jemarinya memain-mainkan ujung furisode merah yang ia pakai. "Justru itu yang membuat dia menyebalkan!"
Semuanya tertawa bersama. Ino semakin gencar. "Eh, memang apa sih yang kau lihat dari cowok macam dia? Aku sama sekali tak bisa mengerti. Saat aku pertama melihatnya, aku memang langsung tertarik—maksudku, dia memang tampan, tapi saat aku tahu seperti apa sifatnya, aku langsung kesal…"
Sakura tersipu lagi kali ini. Dipeluknya bantal besar yang dipegangnya. "Kurasa, aku mengagumi caranya menyelesaikan berbagai masalah di dalam lingkungan kekaisaran." Katanya pelan. "Kau tahu, sikapnya memang dingin, tapi dia selalu mengambil tindakan yang tepat. Dan lagi…" ia menarik napas panjang, "Ada satu hal yang membuatku jadi sangat memperhatikannya. Begitulah."
"Ah, laki-laki memang sulit dimengerti, ya?" kata Tenten sambil tertawa. "Kau juga, Hinata-chan. Kupikir orang yang seberisik Naruto tak akan membuat seorang gadis pun tertarik, namun kau bisa melihat sisi positif dari dia, ya?" goda Tenten.
Wajah Hinata yang tadi terlihat tenang, kini berubah merah semerah apel. Ia mulai berkeringat dingin. "A-ano—maksudmu apa, Tenten-chan…?"
"Aaaah, Hinata ini lucuuu, yaaa!" sorak Ino gemas sambil mencubit Hinata—lagi-lagi—dan membuat gadis itu menjerit. "Berterus teranglah, kita ini 'kan sama-sama perempuan! Iya, kan!" katanya sambil meminum tehnya dengan semangat.
Hinata tersenyum malu. "Eh… dia bersemangat… lalu… dia… selalu bersemangat dalam mengerjakan segala hal… dan dia… eh… ano… selalu ceria… em…" ditariknya bantal dari tangan Ino, dan ia langsung menenggelamkan wajahnya ke sana sambil menjerit, "Sudahlah, sudahlah!"
Tawa gadis-gadis itu terdengar lagi. Sakura menghapus air matanya yang muncul karena tertawa. "Menyukai seseorang itu 'kan wajar, Hinata?" kata Sakura sambil mengusap punggung gadis itu. "Naruto itu memang orang yang baik."
"Hanya saja, aku tidak begitu menyukainya karena dia gemar menghancurkan barang-barang," komentar Ino. "Kemarin ia menyusup lagi ke dapur sampai membuat para dayang memarahinya, dan pada akhirnya dia kabur setelah memecahkan beberapa cawan untuk minum teh. Dasar bocah!" gerutu gadis berambut pirang itu. Sakura dan Tenten tertawa lagi.
"Kurasa kau akan kerepotan kalau sudah menikah dengan dia, ya, Hinata?" Tenten ikut angkat bicara. Hinata makin salah tingkah.
"Ka-kalian semuaaa! Kenapa aku—aku harus—harus meni..."
Hinata hampir pingsan saat mengucapkan kata-kata itu. Ino yang tertawa paling keras. "Menikah, eh?" tanyanya bersemangat, "Siapapun yang punya orang yang disukai pasti ingin menikah dengannya. Kau juga, kan, Tenten?" ia menoleh ke arah Tenten yang terkesiap, "Kau juga pasti punya 'bayangan' dengan Neji?"
"Apaan, sih, Ino!" protes Tenten dengan wajah yang ikut merona, "Kenapa kau menanyakan hal seperti itu padaku? Lebih baik kau tanya pada Sakura!"
Sakura ikut menghindar. "Dan kenapa harus aku?" bantahnya. "Sedari tadi, yang belum cerita kan... cuma kau, Ino!" tunjuknya ke arah Ino.
Ino menatap mereka dengan penuh percaya diri. "Oke, aku!" katanya cepat. "Kalian pikir, aku punya seseorang yang aku sukai?"
Mereka bertiga menggeleng.
"Bagus!" sahut Ino lagi. "Kalian harus bisa menebaknya dahulu, itu sudah pasti! Aku tak akan cerita sebelum kalian bisa menebaknya!"
serentak tiga buah bantal langsung terlempar ke arah Ino, yang langsung refleks menghindar sambil tertawa. Mereka berkejaran di kamar itu—menaiki kasur, kursi, dan apapun yang menghalangi jalan mereka.
"IIIIIINOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!"
Sakura tertawa begitu keras, hatinya terasa lega sekarang. Ah, teman memang selalu dapat diandalkan. Dalam keadaan apapun... dan mereka menghilangkan segala perasaan resah dan tak enakmu begitu saja.
Ia menatap ke sisi lain istana. Bangunan di hadapannya masih terang benderang. Ia tahu ruangan itu adalah markas besar para tentara—dan sekarang ia mulai berandai-andai, apa yang tengah terjadi di sana.
Pandangannya sayu ke arah jendela. Langit malam tengah melukis pemandangan berbintang.
To Be Continued
Terima kasih sudah membaca.
Blackpapillon
