Disclaimer: I am not, in any way, take any profit from the story and that all creative rights to the characters belong to their original creator(s). Naruto © Masashi Kishimoto.
Jejak Bulan di Atas Air
blackpapillon
5. Pertemuan
.
.
Malam sudah larut. Bulan bersinar terang di langit, bulat sempurna membentuk purnama. Cahayanya bersinar keperakan. Malam yang sunyi. Hanya sekilas terdengar suara burung malam berbunyi.
Istana kekaisaran tampak lengang. Hanya para shinobi penjaga yang berkeliling di sekitar pagar istana, berjaga bergantian. Jika kita masuk pun, halaman istana sunyi. Pun departemen-departemen yang berkantor di istana, sepi. Ruang utama yang berisi singgasana kaisar pun tenang.
Namun, di suatu bangunan yang digunakan sebagai markas besar para shinobi, keadaan yang terjadi sungguh berbanding terbalik. Ruangan itu terang-benderang dengan cahaya lampu. Puluhan pegawai membereskan kursi-kursi dan meja serta tumpukan berkas. Malam itu akan diadakan rapat penting. Beberapa shinobi duduk di depan ruangan itu, sambil menunggu ruangan itu dibereskan.
"Sudah kubilang, melihat wajah kaisar jenggot setiap hari juga tidak baik," ujar Naruto sambil memegangi perutnya, "Aku lapar."
"Sebetulnya, kalau kau mau makan roti, di sana ada mesin penjual otomatis, kan." Komentar Shikamaru sambil menyalakan rokoknya. "Kau pasti Cuma ingin makan ramen." Ia menyandarkan tubuhnya di dinding, dan mengisap rokoknya dalam-dalam. Naruto hanya nyengir lebar mendengan kata-kata Shikamaru itu.
"Aku ingin pulang. Kukira hari ini aku bisa pulang, tapi ternyata tidak." Kata Neji malas. "Setiap hari rapat seperti ini, dan topik yang dibahas setiap hari sama saja. Kubilang tak usah ragu-ragu, tapi keputusan rapat masih belum didapatkan juga." Ia menarik napas panjang.
"Sepertinya kaisar masih ragu dalam mengambil langkah," kata Sasuke yang juga berada di situ, "Yah, tapi bisa dimengerti. Melakukan aliansi dengan pihak Suna butuh banyak pertimbangan." ujar Sasuke sambil meregangkan tubuhnya. Sudah tiga puluh menit ia terus berada di tempat itu, dan karena latihan tadi, tubuhnya jadi pegal-pegal. Beberapa hari ini pekerjaannya begitu melelahkan. Ia sebetulnya ingin istirahat barang sejenak saja.
"Kuharap kakakmu bisa sedikit menjernihkan pikiran Kaisar, Sasuke." Kata Sai sambil menyeruput kopinya. "Bagaimana kabarnya di sana? Apa penempatan wakil di sana juga belum bisa menunjukkan bahwa kedua negara ini sudah beraliansi?"
"Dia duta yang bersifat sementara. Kita tidak punya kantor kedutaan di sana. Sifatnya hanya misi diplomatik tidak tetap sehingga persahabatan antara Konoha-Suna masih patut dipertanyakan," kata Sasuke. "Lagipula, keberadaannya di sana betul-betul hanya berfungsi sebagai pemecah masalah. Kuharap perundingan terakhirnya nanti bisa menghasilkan keputusan yang baik."
"Semoga saja," kata Neji. "Bagaimanapun kita dan pihak Suna harus bekerjasama, kupikir begitu."
"Bagaimana menurutmu, Shikamaru, eh?" tanya Naruto sambil menyikut Shikamaru, "Ada ide? Aku ingin cepat menyelesaikan segala hal ini dan makan ramen dengan tenang di kedai Ichiraku." Kata Naruto.
Shikamaru hanya mengedikkan bahu dan menggumamkan sesuatu yang terdengar seperti, 'merepotkan'. Naruto hanya tertawa getir mendengarnya. Ia meraba saku celananya dan menyadari ada sesuatu di sana.
Hiasan rambut Hinata.
Naruto jadi panik—takut Neji memergokinya. Yah, karena kalau ketahuan, pasti Neji akan mengomelinya karena tidak langsung mengembalikan barang milik orang lain—milik Hinata, pula. Ia melihat ke kanan dan ke kiri. Bagus. Tampaknya Neji sedang sibuk dengan hal lain...
Seketika, keinginannya makan ramen menghilang, digantikan dengan harapan ia bisa bertemu dengan Hinata dan memberikan hiasan rambut itu padanya—sebelum Neji tahu dan membuatnya babak belur.
"Kaisar telah tiba!" Terdengar suara seorang shinobi. Dan obrolan kecil mereka langsung terhenti begitu saja.
"Ah, selamat pagi, kalian semuaaa!" sorak Naruto riang sambil melambaikan tangannya ke segala arah ruang ganti pagi itu.
"Selamat pagi." Hanya Sai yang membalas salam anak itu, karena masing-masing sepertinya sedang tidak mood untuk membalasnya. "Setelah rapat semalam, kau sepertinya semangat sekali?"
"Begitulah," kata Naruto riang. Langkah-langkahnya panjang dan ringan—nyaris melompat, malah. "Kurasa aku senang karena akhirnya rapat-rapat sialan itu berakhir juga."
"Berakhir apanya? Jangan bodoh," kata Shikamaru. "Maksudmu, libur dua hari untuk rapat, kan? Hari Kamis nanti kita masih harus mengadakan rapat terakhir untuk putusan duta. Kakakmu juga akan datang 'kan, Sasuke?"
Sasuke mengangguk tanpa suara.
"Untunglah akhirnya selesai juga. Tapi bisa kupastikan kita juga pasti akan mengirim duta dari pihak militer. Kurasa kau harus mengirimi kakakmu itu sedikit pesan pendek. Hanya untuk sekedar konfirmasi… atau mungkin mencari tahu siapa yang akan dikirimkan ke Konoha." tanya Neji.
"Kurasa begitu. Jadi, tadi malam begitu selesai rapat, aku langsung mengiriminya pesan." Kata Sasuke pendek. "Ada selentingan yang beredar, duta yang akan dikirimkan oleh pihak Suna itu wanita."
"Apa? Wanita?" Shikamaru menatap Sasuke tak percaya, dengan ekspresi malas. "Luar biasa. Wanita itu 'kan merepotkan."
"Yah, itu 'kan baru gosip…"
"Lagipula kalau kau pasti akan selalu menganggap apapun merepotkan." Kata Neji. Shikamaru hanya sedikit nyengir.
"Yah! Tapi paling tidak aku bisa makan ramen di Ichiraku, kan? Paman ramen juga pasti sudah kangen padaku, ha-ha-ha!" teriak Naruto dengan ekspresi orang yang baru saja mendapatkan anugerah yang begitu besar… -apa, yah?-
"Kangen… maksudmu, untuk membayar hutang-hutangmu, kan?" komentar Sasuke yang sedang memakai sepatunya. Wajah Naruto langsung berubah murka.
"Apa maksudmu, heh, bandot?"
"Kubilang, kau banyak hutang."
"Ulang sekali lagi!"
"Kau-ba-nyak-hu-tang." Ulang Sasuke, lambat dan jelas, dengan penekanan di tiap suku katanya, plus senyum licik merendahkan.
Cukup sudah. Naruto berdiri dengan posisi memasang kuda-kuda—entah untuk jurus apa. Sasuke masih dengan sikap tenangnya, namun dengan pandangan yang jelas-jelas menantang. Topik yang dipertengkarkan benar-benar kadang bahkan tidak layak untuk dipermasalahkan. Naruto memang kekanak-kanakan, semua orang tahu itu. Tapi Sasuke? Kelihatannya sikap tenang lelaki itu hanya berubah beringas pada Naruto—beringas yang tampak seperti anak kecil. Anak kecil yang bertengkar memperebutkan permen. Semua sudah menarik napas stres—kapan kiranya pertengkaran tak penting di antara mereka berdua akan berakhir.
Sepertinya, tidak. Mereka harus menunggu gunung Everest meletus dulu… tunggu, sejak kapan gunung Everest dikenal sebagai gunung berapi?
"DASAR KAU SIAL—"
BRAK! Sebuah papan shogi melayang di antara mereka berdua, dan dengan sukses membuat Sasuke dan Naruto melompat mundur. Papan itu menabrak dinding dan langsung tewas di tempat. Semua tatapan mengarah ke arah papan shogi itu bermula. Shikamaru menarik napas panjang, dengan kuapan lebar mengiringi ucapannya.
"Hentikan tindakan bodoh kalian, dan segera pergi ke lapangan barat."
Naruto dan Sasuke saling berpandangan. Lalu membuang muka.
"CIH!"
"Sakura, selamat pagi!" kata Tenten cerah melihat mata Sakura yang akhirnya terbuka. "Hari ini mereka latihan lagi 'kan? Bagaimana kalau kita lihat mereka?"
"Uuuhh… Tenten, kau semangat sekali! Aku bahkan baru bangun." Sakura menggosok-gosok matanya yang berair karena ia masih mengantuk. Disibaknya kelambu tempat tidurnya. Pagi musim semi yang cerah, seperti biasanya. Sinar matahari masuk dengan bebas ke kamar itu. Ia bangkit perlahan dan merapikan yukatanya. "Kita pergi hanya berdua?"
Tenten menggeleng cepat. "Tentu saja tidak! Ino dan Hinata memang sudah bangun sejak subuh tadi karena mereka harus membantu pekerjaan istana, namun Hinata sudah agak bebas. Sepertinya dia yang akan mendampingi kita kali ini."
"Baguslah." Sakura menguap kembali. "Memang Ino sedang apa?"
"Ia pergi ke kota mengatur pesanan makanan dan sebagainya," kata Tenten. "Sepertinya akan ada pesta. Kau tahu sesuatu, Sakura-chan?"
"Yaaah… mungkin pesta menyambut musim semi?" jawab Sakura sekenanya.
Hinata menyambut mereka berdua di ujung lorong. "Selamat pagi, Sakura-Hime, Tenten-chan," sapanya sambil membungkuk. "Hari ini, kalian akan meninjau latihan para shinobi lagi?"
"Begitulah. Tapi, Tenten yang minta, sih…" kata Sakura setengah mengejek. Wajah Tenten memerah lagi, membuat Hinata dan Sakura tertawa geli. Mereka berjalan menyusuri beranda yang memanjang. Di sampingnya, langsung bersisian dengan lapangan barat, tempat para Shinobi berlatih. Dari sana, gadis-gadis itu dapat melihat Shikamaru yang sedang memberikan instruksi.
"Baiklah." Shikamaru menepukkan tangannya. "Kita semua akan kembali berpasangan kali ini untuk melakukan sparring. Tapi, sebelumnya, untuk kalian, termasuk aku, para pemimpin pasukan, harap memberikan instruksi berlatih dan kita akan mulai berlatih setelah itu."
Kumpulan itu bubar dan mulai menyebar. Shikamaru kembali berkutat dengan anggota pasukannya. Memberi instruksi pada mereka untuk mulai latihan bertarung. Meskipun mereka bertindak sebagai pengatur strategi, namun setidaknya, mereka harus unggul dalam hal fisik juga. Neji memberikan serangkaian gerakan pemanasan dan melanjutkan latihannya dengan praktek menghitung jarak antara kita dan musuh di lapangan—agar keakuratan serangan tetap terjaga.
Naruto tampak bermain-main, namun memberikan beberapa serangan beruntun pada anak buahnya dengan beberapa kagebunshin-nya dan sesi latihan mereka langsung berubah menjadi arena pertarungan brutal sampai akhirnya Sai harus turun tangan menghentikan pertarungan itu. Sedangkan Sai sendiri sudah membiarkan anggota pasukannya berlatih dengan segala rupa sarana yang ada di sana.
"Lihat mereka, tampaknya latihan kali ini akan repot!" kata Tenten saat melihat Sai ribut membereskan ulah Naruto. "Sudah lama akau tak melihat latihan mereka. Lucu juga, ya…"
"Tampaknya ini bukan untuk pertama kalinya Naruto berbuat begitu." Ujar Sakura, juga menahan tawa. "Itu memang sifatnya. Membuat ramai suasana, kalau itu bisa dibilang 'meramaikan'…" ia tertawa lagi.
Hinata tak berkata apa-apa. Ia hanya berkali-kali menggelengkan kepala. Namun sesuatu tiba-tiba mengejutkannya. Terdengar suara kibasan sayap yang begitu keras. "Kyaaa, Sakura-hime! Di sebelahmu…!"
Sakura menoleh. Dalam sekejap mata, pandangannya menangkap siluet seekor burung.
Refleks, diulurkannya tangannya. Burung besar itu nyaris terkait dengan ujung lengan kimononya, namun untunglah itu tak terjadi. Sepertinya burung itu cukup terlatih. Gerakannya anggun dan mendarat di tangan Sakura dengan perlahan agar tak membuat tangan gadis itu terluka—namun, yah, karena Sakura sama sekali tak memakai pelindung apapun, toh cengkeraman kuku burung itu tetap melukai jarinya.
"Bu-burung apa itu?" tanya Hinata, segera bersembunyi di belakang punggung Tenten.
Tenten meneliti burung itu sejenak. "Sepertinya ini… sejenis elang, benar kan, Sakura?"
Sakura menganggukkan kepala. "Elang punggung hitam," jawabnya memastikan. Memang terlihat sebagai elang. Kepakan sayapnya pun nyaris tak terdengar, kecuali saat ia akan mendarat tadi sehingga Hinata mendengarnya. Tubuhnya tegak dan cukup besar, terawat dan terlatih. Warnanya seputih salju, dengan warna abu kehitaman di bagian punggungnya. Di kakinya terikat sebuah surat. Gadis itu mengerutkan dahi. "Aku tahu burung ini! Ini salah satu burung pengantar pesan istana, kan?"
"O, ya?" tanya Tenten. "Tapi, milik siapa?" tanyanya heran. "Dan burung itu langsung hinggap di tanganmu."
mereka mengedikkan bahu. Sakura yang jadi menyukai burung itu mengusap pelan bulu-bulu putihnya yang lembut. Shikamaru yang melihat kejadian itu langsung datang menghampiri mereka.
"Selamat pagi, Sakura-hime. Apa yang terjadi pagi ini?"
"Oh! Shikamaru, selamat pagi," kata Sakura cepat. "Burung ini tiba-tiba saja mendekati kami. Apa kau tahu ini milik siapa?" tanya Sakura.
Shikamaru menatap burung itu dengan teliti. Lalu tersadar. "Lho? Ini, kan…"
Sasuke hanya memberikan instruksi untuk melakukan latihan bertarung, dengan pengawasan darinya selama beberapa belas menit. Ia memberitahu kekurangan-kekurangan mereka secara langsung tanpa basa-basi. Namun, yah, kata-katanya memang benar. Pemimpin satu ini memang tegas dan tak suka basa-basi. Ia tak terus menjaga latihan anak-anak buahnya, melainkan menatap ke arah langit biru yang luas.
"Ada apa?" tanya Neji.
"Burung pengantar pesanku belum datang." Kata Sasuke. "Seharusnya dia tiba hari ini, kan?"
"Mungkin ada beberapa halangan?" Neji memberi opsi alasan.
"Aku menanyakan beberapa hal lain selain yang kau bilang tadi itu." Kata Sasuke. "Semoga saja tidak disadap seseorang."
Neji tak bertanya tentang isi pesan itu lebih lanjut. Mungkin itu masalah pribadi. "masalah mengenai kemunculan negara baru memang kadang menyulitkan, ya. Tampaknya pihak Konoha maupun Suna langsung kocar-kacir begitu mendengar kemunculan gerakan pembentukan negara baru di daerah utara." Ia menoleh ke arah istana, berharap semoga ada Hinata di sana. Tak hanya Hinata yang ia lihat. "Tunggu, Sasuke. Kurasa itu… burung pengantar pesanmu, kan? Mengapa burung itu ada di tangan Sakura-hime?"
Sasuke menoleh. Dan terkesiap.
To Be Continued
Terima kasih sudah membaca.
Blackpapillon
