Disclaimer: I am not, in any way, take any profit from the story and that all creative rights to the characters belong to their original creator(s). Naruto © Masashi Kishimoto.
Jejak Bulan di Atas Air
blackpapillon
6. Bayangan Malam
.
.
Sasuke mengernyitkan dahi, dan melihat ke arah yang ditunjukkan Neji. Di beranda istana, ia dapat melihat tiga orang gadis dan seorang laki-laki. Shikamaru. Dan yang paling aneh, di tangan salah satu gadis itu bertengger seekor burung… elangnya?
Bagaimana mungkin burung itu bisa ada di sana? Semestinya ia langsung datang padanya—sebagai pemiliknya, tentu saja. Dalam hati ia mengutuk si burung karena kebodohan burung itu. Dan parahnya, burung itu hinggap di tangan seorang puteri. Puteri tunggal kaisar, pula. Tanpa pelindung... dan pasti tangan gadis itu terluka. Cepat dipakainya sarung tangannya.
Bergegas ia berlari ke arah tempat itu. Neji mengikutinya. Shikamaru juga sudah memberi tanda agar mereka mendekat. Dan berhubung Naruto adalah tipe orang yang selalu ingin tahu, dia menarik Sai dan berlari sekencang-kencangnya, meninggalkan berbagai kekacauan di belakang…
"Elang ini milik siapa?" tanya Sakura sekali lagi.
Shikamaru menolehkan kepalanya ke arah Sasuke yang baru saja datang. "Elang ini milik Sasuke." Bersamaan dengan itu, Sasuke dan Neji telah sampai ke dekat mereka. Sasuke, untuk sekali itu, terlihat agak merasa tak enak juga. Sekalipun ia tetap mencoba mempertahankan ekspresinya yang tetap sedingin es.
Tapi mungkin, sekali ini es itu nampak sedikit mencair.
"Sakura-hime. Kurasa elang milikku mengganggu anda." Kata lelaki itu. Sakura agak menundukkan kepala, menyembunyikan wajahnya yang hampir berubah warna. Berharap degup jantungnya tak terdengar.
"Ti…tidak apa-apa. Aku… aku juga menyukai elang ini." Ia menelan ludah, mencoba mendapatkan wibawanya kembali. "Jadi burung ini milikmu?"
Sasuke mengangguk. Perlahan diulurkannya tangannya. Elang itu segera berpindah tangan. Diambilnya surat yang terikat di kaki elang itu. "Dasar burung bodoh." Ia berbisik agak marah pada burung itu. Tak ada yang mendengarnya—selain dia dan si burung. Untung saja.
"Maafkan kelakuan burung ini. Dia akan kulatih lagi nanti."
Sakura menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak! Tidak, sungguh, tak apa-apa! Aku menyukai elang itu… warna dan bentuknya amat cantik. Sungguh. Lagipula, ia begitu jinak. Ia hinggap di tanganku dengan perlahan-lahan," kata Sakura. "Dia burung yang tahu sopan-santun."
Mata hijaunya seperti tenggelam dalam kedalaman hitamnya mata bening Sasuke. Tangan lelaki itu terulur lagi. Namun kali ini bukan untuk si elang yang sekarang hinggap tanpa dosa di pohon sebelah beranda. Disentuhnya lengan Sakura yang tadi dihinggapi elang itu. Dan memeriksa luka gores yang ada di sana dengan teliti.
"Tapi, tangan anda jadi terluka. Bukan begitu?" kata Sasuke.
Sakura tak bicara apa-apa. Hanya 'eh' kecil yang keluar dari mulutnya. Namun ia bicara juga. "Aku bisa obati sendiri. Tak apa-apa, sungguh…"
Lelaki itu menggeleng. Ia mengambil botol kecil yang tergantung di celananya. Cairan bening yang ada di dalamnya ia oleskan ke luka gores Sakura—yang sepertinya agak dalam juga. Ia juga mengambil sehelai kain dari sakunya dan membalut luka itu dengan sigap. Semua tak ada yang berkata-kata melihat tindakan itu.
"Paling tidak, luka itu sudah steril sekarang." Ucap Sasuke, lalu membungkukkan tubuhnya sedikit. "Saya permisi."
Dia pergi begitu saja, kembali melatih anak buahnya. Wajah Sakura tak bisa digambarkan dengan kata-kata. Tampaknya ia malu sekaligus senang. Naruto sampai tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, Sakura-chan? Tampaknya kamu senang, bukan? Diperlakukan begitu oleh si Teme! Kurasa, dia bisa bersikap baik juga…" tawa Naruto. Dan ia segera menerima tatapan tajam yang seakan-akan bersuara, 'bicaralah-lebih-sopan' dari Tenten. "Ups."
Naruto segera menoleh ke arah lain, dan dilihatnya Hinata yang masih bersembunyi di balik punggung Tenten. "Hinata-chan? Mengapa kau ada di situ?"
"Kurasa tadi dia ketakutan akan elang… begitu, kan, Hinata?" Tenten tersenyum ke arah Hinata.
Naruto tiba-tiba saja teringat akan sesuatu. Ia mengambil hiasan rambut Hinata yang sedari kemarin sudah ada di saku celananya. Diberikannya pada Hinata sambil tersenyum lebar. "Ini, Hinata! Maaf, ya! Kemarin kau menjatuhkan ini, namun kau langsung masuk ke dalam… apa kau mencarinya? Karena aku baru mengembalikannya hari ini…"
Hinata begitu kaget, hingga ia hanya bisa diam. Melihat sikap Hinata, Naruto malah heran dan mengambil tangan Hinata, lalu meletakkan hiasan rambut itu di tangan gadis berambut biru itu, "Ini, Hinata-chan! Kukembalikan!"
Tubuh Hinata lemas saking malunya. Tenten segera menopang tubuh gadis itu dan berbisik, "Jangan lemah begitu, dong! Ayo, ucapkan terima kasih!" kata Tenten cepat.
"A-ano… Aku—eh… eto—maksudku…" Hinata terbata, menundukkan kepala, wajahnya memerah; sementara Naruto menunggu di bawah, masih tersenyum, menunggu kata-kata yang akan Hinata ucapkan.
"Te-teri-terima kasih banyak… Naruto… kun." Katanya dengan suara yang kecil.
Senyum Naruto makin lebar. "Ng! Sama-sama, Hinata-chan!" katanya senang. "Lain kali, kau harus lebih teliti, ya! Jangan dijatuhkan lagi!" katanya riang.
"Oh… begitu?" terdengar desisan-super-menyeramkan di belakang Naruto.
Naruto langsung melonjak kaget. "HIIIIII?!"
Dia berbalik perlahan dan melihat Hyuuga Neji di belakangnya dengan wajah bengisnya yang 10x lipat lebih seram daripada biasanya.
"Dan sebaiknya kau harus belajar untuk mengembalikan barang orang tepat waktu… begitu, kan, Naruto?"
"E-eh. Iya! Iya! Iya!" kata Naruto, mulai panik. "Tapi, menunda sehari itu biasanya wajaar, kaaaan!"
"Hmm… ini beda urusan, tahu."
"Apa bedanya? Ini soal mengembalikan barang hilang!"
"Ne-Neji-niisan, hentikan!" kata Hinata tiba-tiba. "Bagaimanapun… Na-Naruto-kun sudah membantuku! Seharusnya kau tak perlu melakukan hal seperti itu!"
Neji menghentikan geraknya. "Menurutmu begitu?"
Tenten tertawa. "Menurutku, kau agak berlebihan. Begitu, bukan, tuan Hyuuga?" katanya. "Kurasa sebaiknya kau membiarkan adikmu agak bebas sedikit. Dia juga sudah dewasa, bukan?"
Neji mendengus. "Dewasa? Begitulah, tapi aku tak mungkin membiarkannya bersama dengan anak-ingusan macam ini." Tudingnya ke arah Naruto.
"He, kenapa kau bisa sembarangan menuduh begitu?" bentak Naruto—kembali mendapatkan keberaniannya?
"Dewasa tidak hanya dilihat dari hal-hal kecil yang mungkin sedang anda pikirkan sekarang, tuan," kata Tenten lembut, "Sebaiknya anda perhatikan saja dari kejauhan dan anda akan begitu kaget saat menyadari adik anda sudah begitu dewasa."
Neji mengernyitkan dahi.
Tenten menarik napas. "Oke, oke, tuan-tuan, selesaikanlah perkelahian ini di sana dan biarkan kami, para wanita, pergi," kata Tenten. Ia menoleh ke arah Neji dan tersenyum manis. "Kurasa kau harus membiarkan adik manismu ini dewasa, tuan Hyuuga. Mari…"
Mereka berjalan ke dalam Istana, membiarkan Sakura berdiri sendirian di sana, bersama Neji yang tampak agak kebingungan.
"Maafkan atas kelancangan saya, Sakura-hime, namun izinkan saya bertanya." Kata Neji sambil menatap sosok gadis berambut cokelat yang semakin jauh itu. "Gadis itu… Tenten-sama, bukan?"
"Ya. Bukankah kau sering melihatnya di berbagai acara kenegaraan, Neji-san?" tanya Sakura. "Ada yang aneh?"
Neji hanya menggeleng. "Tidak. Maaf sudah mengganggu anda, saya permisi."
Biarpun ia menggeleng, sebenarnya ada perasaan penasaran juga dalam hatinya. Seorang gadis, puteri perdana menteri yang bicara padanya dengan agak sarkastik…
Terus terang, baru hari itu mereka berbicara langsung. Dan kesan pertamanya?
Gadis yang berbeda dari biasanya. Sikap gadis itu seakan mau menantangnya.
"Kaisar telah tiba!" Shinobi itu mengumumkan.
Semua orang yang ada di ruangan itu menyambut kedatangan kaisar dengan membungkuk hormat. Kaisar tersenyum, lalu mengangkat tangan meminta semua untuk duduk kembali.
"Baiklah." Ia berdehem sebentar. "Aku minta maaf karena beberapa hari ini terus meminta kalian berkumpul, jadi aku janji hari ini adalah yang terakhir. Hari ini kita akhirnya bisa bertemu dengan duta kita di Suna. Betul, Itachi?" Ia menoleh ke arah Itachi sambil tersenyum. "Kuharap kau tidak akan mengecewakanku. Bagaimana hasil perundinganmu dengan pihak sana?"
Itachi meminum tehnya sedikit, lalu berdiri dan berkata dengan nada tenang dan percaya diri. "Perundingan kemarin memang agak sulit, namun akhirnya kami bisa mencapai kesepakatan. Sebagai tanda kerjasama, mereka akan mengirimkan tiga orang perwakilan tetap, begitu pula sebaliknya dengan kita."
Kakashi menguap, "Kalau begitu, siapa yang akan kita kirimkan? Aku tidak yakin mereka betul-betul mau bekerja sama dengan kita—huaaaaheemmm..."
"Ssst!" tegur Shizune sambil menyodok tulang rusuk Kakashi, "Bicaralah yang benar!"
"Aku bicara dengan benar," sahut Kakashi malas sambil mengucek matanya, "Aku hanya menguap..."
Kaisar terkekeh geli melihat tingkah shinobi berambut keperakan itu. "Aku sudah memikirkan kemungkinan itu sebelumnya, dan sepertinya Suna akan mengirimkan orang-orang dari kalangan militer." Kata lelaki tua itu. "Jadi, aku ingin pihak kita mengirimkan orang dari pihak militer juga. Shikamaru, aku menyerahkan pemilihan orang-orang itu padamu." Ia menatap Shikamaru yang sedang menyalakan rokoknya yang kelima, "Kuharap kau memilih orang yang tepat." Ada nada tekanan dalam suaranya.
Shikamaru mengangguk cepat.
"Apa saya bisa langsung memberitahu siapa saja yang saya calonkan?"
"Oh?" Kaisar mengernyitkan dahi. "Kau langsung memberikan usulan?"
Dia mengangguk lagi. "Ada tiga orang, bukan? Yang saya usulkan adalah Shino dari klan Aburame, Kiba dari klan Inuzuka, dan Chouji dari klan Akimichi. Tiga orang. Seperti yang mereka minta."
"Atas dasar apa kau mengajukan mereka?"
"Mereka sudah terlatih. Satu angkatan dengan saya, Naruto, Sasuke dan yang lain," Shikamaru berkata tegas. "Saya mempercayai kemampuan mereka dan masing-masing juga memiliki ciri khas berupa jutsu yang tak dimiliki klan lain. Dengan kata lain, jutsu ciri khas klan."
"Bagus." Wajah tua itu kembali tersenyum. "Bagaimana dengan yang lain? Ada yang tidak setuju?"
Hening. Kaisar tersenyum lagi dan menepukkan tangannya sekali. "Baiklah, kuanggap itu sebagai tanda setuju. Untunglah kita tidak menemui kendala kali ini, sehingga kita bisa selesai lebih cepat. Kalian tahu? Sudah beberapa hari ini pundakku pegal karena terus duduk di kursi keras ini—" katanya sambil menepuk-nepuk kursinya. Ia terkekeh lagi. "Dan satu hal lagi. Untuk dua orang Uchiha yang ada di ruangan ini," kata Kaisar.
Itachi dan Sasuke menoleh.
"Hati-hatilah."
.
"Aniki, kau akan pergi lagi ke Suna?"
"Begitulah." Kata Itachi sambil memain-mainkan dedaunan pohon yang menjulur di atas kepalanya. Ia berputar di atas cabang pohon, membuat tubuhnya berputar-putar di pohon besar itu. "Kau tahu, tugasku sebagai duta di sana. Di luar duta yang baru saja diusulkan tadi, tentu saja."
Hutan belakang istana memang selalu sepi. Pohon-pohonnya besar-besar, daun-daunnya rimbun sehingga membuat hutan itu tampak gelap. Nmaun, bila pagi hari, pemandangan yang ada di situ sungguh menakjubkan. Sinar matahari akan menembus dari sela-sela pohon, sehingga menimbulkan garis-garis cahaya yang sangat indah. Namun jarang ada yang bisa melihatnya. Jarang ada yang masuk sana, selain jam-jam latihan. Alasannya mudah ditebak: medannya memang dirancang untuk berlatih, sehingga tidak dapat dipakai untuk bersantai. Namun tempat ini adalah tempat favorit Itachi dan Sasuke untuk mengobrol.
Ia menoleh ke arah Sasuke yang sedang bermain dengan burung pengantar pesannya, "Ada hal penting yang harus kau sampaikan?"
"Kaisar bilang pada kita untuk berhati-hati." Kata Sasuke pelan. "Apa mungkin hal ini ada hubungannya dengan yang sudah membantai klan Uchiha? Karena kau sama sekali tak menjawab pertanyaanku di surat itu."
Itachi terdiam.
"Aku belum tahu pasti." Kata Itachi akhirnya. "Tapi ada indikasi mengarah ke sana. Aku akan memberitahumu lagi nanti. Jangan bergerak sendirian, oke?" lelaki itu mengultimatum. "Lebih baik kau santai saja dulu dan carilah perempuan. Kau tahu, namamu sangat terkenal di antara para kunoichi, mengapa tidak kau manfaatkan saja?" nada suaranya aneh, terkesan menahan tawa. Dan BLUG—sebuah batu kena telak mengenai kepalanya.
"Hei!"
"Itu balasanku karena sudah mengataiku yang tidak-tidak." Gerutu Sasuke sambil berjalan pergi. "Aku pergi!" katanya ketus, dan segera menghilang di balik pepohonan. Itachi tak berkomentar apa-apa.
Ah, menggoda adik sendiri sungguh hal yang menarik.
Sejak kecil mereka memang hidup nyaris terpisah. Itachi sering kali pergi dari Konoha ke Suna dan sebaliknya, terus begitu, untuk menjalani pelatihan sebagai perwakilan khusus dari Konoha. Sejak kecil, Itachi telah terpilih untuk mengemban tugas itu di masa mendatang. dan memang itulah yang terjadi, bukan?
Biarpun terpisah, ia tetap memerhatikan sang adik. Mereka jarang bertemu, tapi paling tidak selalu menyempatkan diri mengobrol. Karena hanya mereka anggota klan yang masih tersisa. Bagi Itachi, sudah menjadi tanggung jawabnya untuk tetap memerhatikan perkembangan adik lelaki satu-satunya itu…
Termasuk mengawasi siapa gadis yang berhasil mencuri perhatian adiknya itu… meskipun sampai saat ini ia belum menemukannya.
Sakura membuka jendela kamarnya. Udara malam langsung masuk ke dalamnya. Ia memakai mantelnya dan berjalan ke beranda. Saatnya meneropong lagi kali ini. Langit sangat cerah dan bersih. Sama sekali tak berawan. Hari ini saat tepat untuk melihat planet-planet. Ia duduk di beranda. Tanpa sengaja ia melihat kain yang terlipat di atas meja.
Sekejap wajahnya berubah merah lagi. Ia melihat sapu tangan yang baru saja bersihkan itu. Sebuah sapu tangan berwarna biru dengan sulaman benang putih di sisi-sisinya, membentuk ukiran halus huruf U dan S. Tadi warna biru itu sedikit buram oleh darah. Namun sekarang sudah bersih kembali.
Sakura menatap saputangan itu lama. Mengingat kejadian tadi pagi yang hanya sekejap saja. Namun sungguh sangat berarti baginya. Perlahan dilipatnya kembali.
Aku harus segera mengembalikannya.
Ia kembali menatap langit. Diambilnya teropongnya dan mengintip sang langit dari sana. Benar. Langit tampak luar biasa. Ia dapat melihat beberapa konstelasi di beberapa sudut langit. Bahkan ada planet yang terlihat. Bercahaya kekuningan. Indah sekali.
Terdengar suara gemerisik dedaunan. Sakura menoleh. Ia sedikit ketakutan. Tapi… bagaimana mungkin ada orang asing yang menyusup? Penjagaan di sini begitu ketat. Ah, mungkin hanya seorang pengawal yang berjaga, batinnya dalam hati.
Namun suara gemerisik itu begitu keras. Dari pepohonan di samping kamarnya! Ia mundur selangkah demi selangkah. Terdengar suara benturan keras dan suara benda jatuh.
Detik berikutnya, ada sesuatu yang jatuh ke atas lantai kayu beranda itu… seekor elang putih berpunggung hitam.
Sakura kaget. Namun sedetik kemudian langsung memburu. Apa yang terjadi? Bukankah itu elang milik Sasuke? Diambilnya hewan yang terlihat melemah itu dengan hati-hati. Terdengar suara kuakan kecil dari paruhnya.
Astaga… ada warna merah di sayapnya. Sayapnya terluka!
Detik berikutnya, dedaunan itu terbuka. Terlihat seorang lelaki berambut hitam berdiri dengan wajah antara kaget melihat Sakura—dan kaget melihat keadaan si elang. Mereka berdua berpandangan.
"Sasuke?"
To Be Continued
Terima Kasih Sudah Membaca.
Blackpapillon
