Kuroko no Basuke Fanfiction

Drabble - 11

Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi
ZIZZ STUDIO - denshi no shi -Nervus-, denshi no shi -Vox-

Rating : T

Warning : Tragedy, failed!Angst, Maybe OOC

Pair : Akakuro

A/N : Happy Akakuro, Minna-san! #telat sebenernya Author ingin mempublish cerita yang author buat untuk AkaKuro days, tentunya bukan fic Failed Angst ini, tapi karena keterbatasan Author, Author cuma bisa ngepublish cerita ini, sebenernya cerita yang udah agak lama dibuat waktu ada waktu senggang sehari, tetapi author belum bisa menyelesaikannya dan dipublish pada hari itu. Tema kali ini berbeda dengan Drabble sebelumnya, sesuai aslinya, kita akan melanjutkan Drabble dengan berbeda tema.. :D

akhir kata, Author ucapkan buat semua yang sudah men-riview, fave, follow, alert, pm, bahkan untuk semua silent reader yang telah membaca fic abal-abal ini.. :D

Happy Reading, all..

With Love,

Zelvaren Yuvrrezla a.k.a ren-chanz


"If in this world, there is no you beside me again, I would rather let this world meet the Apocalypse.."

[Denshou no Shi – Nervus-]

"Kuroko Tetsuya?" Seorang pemuda berambut Spicky Red berdiri tepat didepan pemuda berambut Icy Blue yang sedang tertunduk, memeluk kedua kakinya. Wajahnya terangkat ketika Pemuda berambut Spicky Red itu memanggil namanya, kemudian pemuda berambut Spicky Red jongkok kebawah untuk melihat wajah pemuda berambut Icy Blue yang melihat wajahnya

"Aku tahu kau tidak bisa mengeluarkan kata-kata, bila tidak ada tempatmu untuk pulang, ikutlah denganku" Pemuda berambut Spicky Red itu kemudian berdiri, tersenyum lalu mengulurkan tangannya pada Pemuda berambut Icy Blue tersebut "Tenanglah, aku juga membenci 'organisasi' itu, biarkan aku merawat luka-lukamu"

Salju turun secara perlahan, Kuroko Tetsuya dapat merasakan tangan dan seluruh badannya mulai mati rasa. Sudah lebih dari sehari ia duduk ditempat tersebut, tempat yang ia pikir sangat cocok untuk bersembunyi. Ia tahu tindakannya saat ini tidak lebih dari sekedar melarikan diri, tetapi ia lelah, lelah menjadi alat dan dipergunakan layaknya seperti mainan, maka dari itu, dia pergi. Untuk pertama kalinya pada saat itu, Kuroko Tetsuya dapat merasakan bahwa pemuda yang ditemuinya itu akan merubah kehidupannya saat ini.

Kuroko meraih tangan pemuda tersebut, ia dapat melihat sepasang mata Heterochrome berwarna Merah-Emas yang kini memandang wajahnya. Tak lama pemuda tersebut memberikan topi dan syal yang sedari tadi ia gunakan kepada Kuroko. Ia lalu mengambil Hoodie di jaketnya untuk menutupi kepalanya yang mulai terkena salju

"Akashi Seijuurou" kata pemuda berambut Spicky Red tersebut "Namaku Akashi Seijuurou"

- xXx -

-Confirmation code : 00529465820, Name of design : Kuroko Tetsuya, Security Warning & Code Access : High-Security, Type Zero-

Aku terlahir dengan turunan seorang Rexvrail, seorang yang dikaruniai nyanyian untuk mengendalikan akses kota ini. Kekuatanku bisa digunakan untuk 2 hal, membangun sesuatu, atau menghancurkan sesuatu. Suaraku tidak dapat keluar selain untuk Lullaby untuk tempat ini. Semenjak aku membuka mataku, aku telah berada dalam sebuah tabung besar, dengan beberapa kabel yang terhubung dengan badanku. Aku bahkan tidak tahu bila aku seorang manusia atau bukan.

Setiap hari, aku dikurung disuatu tempat tertentu, dan tugasku hanya satu, bernyanyi demi tempat ini. Seperti burung yang terus terkurung dalam sangkarnya, aku bahkan tidak mengenal bagaimana arti kebabasan itu sendiri. Siapa diriku sebenarnya, kedua orangtuaku, saudara. Apakah aku memiliki hal tersebut?

Hanya dengan bernyanyi, hingga suaraku sakit, hingga tenggorokanku terasa sangat sakit, aku lelah terus bernyanyi seperti ini. Nyanyian dalam karunia yang diberikan padaku merupakan sumber energi bagi mereka, sumber kekuatan untuk mereka. Tetapi lama-kelamaan aku tahu, bahwa kekuatanku disalahgunakan oleh mereka, mereka hanya memperalatku. Maka dari itu, aku melarikan diri.

Tidak ada yang peduli dengan diriku, mereka hanya memikirkan kekuatanku, bukan?

Tidak ada orang yang benar-benar peduli padaku

"aku pernah mendengar nyanyianmu" Akashi berdiri disebelahku, menuntunku menuju suatu tempat yang kuyakini adalah rumahnya "Mungkin secara tidak langsung tentunya, aku mendengar nyanyianmu saat kau sedang berada di menara atas, kebetulan aku sedang mencari sesuatu disana. Dan pada saat itu, aku mendengar suaramu, Lullaby yang sangat indah" katanya sambil tersenyum

Aku hanya tertunduk, ia tahu masa laluku, apakah ia akan memanfaatkanku juga?

"Kau bisa tinggal bersamaku mulai hari ini, aku hanya seorang diri dirumah, ah..bersama hewan peliharaanku" Ia lalu berbalik dan memandang wajahku "Aku tidak tahu jelas bagaimana masa lalumu, karena aku tidak akan mempedulikan seberapa buruk itu, dan aku tidak akan menanyakannya padamu. Aku hanya ingin kau berada bersamaku mulai saat ini"

Lalu, untuk pertama kalinya, aku tersenyum, senyum yang selama ini tidak pernah kutunjukkan pada siapapun, bahkan pada diriku sendiri sekalipun

"Kau tahu? Kau tampak lebih manis bila tersenyum" katanya sambil mengelus kepalaku

- xXx -

"Tetsuya? Apa yang kau lakukan disana? Bertengkar dengan Nigou?" tanya Akashi yang langsung tertawa ketika ia memasuki ruang tengah. Disana terlihat Kuroko sedang berebut tempat duduk dengan Nigou

Kuroko menggeleng sambil menunjukkan wajah manyun-nya, ia kemudian menunjuk kearah Nigou, tak lama ia mengambil spidol dan menuliskannya di papan yang Akashi berikan padanya pada tahun sebelumnya.

"Nigou memulainya duluan! Aku hanya ingin duduk disebelah Akashi-kun untuk merayakan ulang tahunmu!" begitulah yang Kuroko tulis kemudian menunjukkannya pada Akashi

Melihat kejadian itu, Akashi malah tertawa "Kau lebih mirip seperti anak kecil sekarang, Tetsuya" katanya kemudian mendekat dan menggendong Nigou, kemudian mengecup dahi Kuroko

"Ah.. Okaeri!" katanya menunjukkan tulisan lainnya kemudian memperlihatkannya kepada Akashi "Selamat Ulang Tahun, Akashi-kun!" Kuroko lalu menyalakan lilin diatas kue yang telah ia siapkan, lengkap dengan bingkisan kado yang telah ia bungkus dengan rapi

Akashi lalu duduk dan mengelus kepala Kuroko "Terimakasih, sudah 3 tahun lamanya.. hari ulangtahunku menjadi spesial karena kehadiranmu, Tetsuya"

Tak lama Nigou pun mengonggong "Ah, dan kau juga, Nigou" kata Akashi sambil mengelus hewan peliharaannya itu

"Apa ada yang kau inginkan, Akashi-kun?" tanya Kuroko di papan yang berada disampingnya

"Apa aku boleh mendengar suaramu?" tanya Akashi pada Kuroko, yang alhasil membuat senyum Kuroko pudar

Akashi menghela nafas "Maaf, tapi aku sangat ingin mendengar suaramu.. aku tahu aku meminta hal yang mustahil, kau tidak menggunakan suaramu selain untuk menyanyi Lullaby, bukan?" Akashi lalu memegang pipi Kuroko "Bagaimana bila kau memanggil nama kecilku?"

Wajah Kuroko lalu sedikit memerah, kemudian ia menulis sesuatu di papan tulisannya itu, ia sempat ragu sejenak, sebelum ia melanjutkan kembali tulisannya "Seijuurou?"

Lalu Akashi tersenyum kecil

- xXx -

"Bila kau menghubungkan arah bintang itu dengan itu.. kau bisa melihat rasi Aquarius, Tetsuya. Kau bisa melihatnya?" tanya Akashi sambil menunjuk ke arah langit, menandakan arah bintang mana saja agar Kuroko dapat melihatnya

Wajah Kuroko mengkerut ketika melihat kearah langit, namun tak lama wajahnya menjadi cerah lalu mengangguk. Kuroko lalu mengambil tas yang sedari tadi ia bawa, mengeluarkan papan beserta spidol lalu segera menulis sesuatu "Bagaimana dengan bintangmu?" katanya sambil menunjukkannya pada Akashi

"Sagittarius ada di ujung sana" katanya sambil mengarahkan jarinya ke atas, Kuroko lalu mengikuti arah tangan Akashi lalu tersenyum

Kuroko lalu menuliskan sesuatu lalu menunjukkannya pada Akashi "Apa kau tahu dimana rumah Sagittarius berada?" katanya sambil tersenyum

Akashi terdiam sejenak, uap dapat keluar dari mulut mereka berdua, saat itu, salju masih tetap turun, mereka berdiam diatas atap rumah milik Akashi. Ia melihat kearah langit, ia memang sering melihat rasi bintang semenjak kecil, namun pertanyaan Kuroko Tetsuya itu sangat unik, apakah ada suatu hal yang belum ia ketahui?

"Aku tahu jawabannya, mau kutunjukkan" tanya Kuroko dalam papannya itu

Akashi lalu menganguk, kemudian Kuroko mengambil tangan Akashi, kemudian meletakkan tangan tersebut tepat di dada Kuroko.

Mata Akashi membulat, lalu ia tertawa kecil "Ah.. iya, harusnya aku mengerti apa maksud dari ucapanmu sedari awal" katanya lalu tak lama mendekat ke arah Kuroko kemudian menciumnya

- xXx -

Kuroko khawatir, lampu rumah dimana ia tinggal bersama dengan Akashi mati. Ia mencoba untuk masuk, memastikan bahwa Akashi Seijuurou baik-baik saja. Ia telah mencari keberbagai tempat di rumah itu, namun ia tidak menemukan siapapun, bahkan Nigou sekalipun.

Hujan turun sangat deras pada saat itu, kenangan masa lalu yang ia tidak ingin ingat kembali bermunculan seperti alunan piano yang sedang dimainkan oleh pianist-nya. Kuroko lalu menutup kedua matanya, tangannya ia gunakan untuk menyamarkan bunyi petir yang sepertinya siap menyambarnya kapanpun itu

'Seijuurou-kun! Seijuurou-kun!' teriak Kuroko dalam hati

"Tetsuya?" Akashi memasuki rumah mereka bersama dengan Nigou yang baru selesai ia bukakan jas hujannya, ia langsung berlari kearah Tetsuya yang sedang duduk ketakutan di ujung ruangan "Tetsuya!? Ada apa!?" tanyanya khawatir

Hati Akashi terasa sakit ketika melihat Kuroko menangis pada saat itu, seorang diri dengan hujan yang terus menyambarkan petirnya "Maaf.." kata Akashi langsung memeluk Kuroko "Maaf, aku tidak tahu kau takut dengan petir" Akashi lalu mengusap punggung Kuroko "Tadi aku keluar bersama Nigou, menyuntik vaksin untuknya, aku mengirimkan pesan ke ponselmu, sebelum aku sadar bahwa ponselku kehabisan batre"

Kuroko menggelengkan kepalanya, ia lalu mempererat pelukannya kepada Seijuurou, seakan tidak mau melepaskannya kembali

-xXx-

"Aku tidak mengerti apa yang kalian bicarakan" suara dengan nada yang dingin dapat terdengar dari mulut Akashi Seijuurou. Nigou sedari tadi terus menggonggong. Beberapa orang muncul dan memasuki rumah Akashi Seijuurou, menanyakan tentang keberadaan Kuroko Tetsuya "Seandainya aku tahu sekalipun, aku tidak akan pernah memberitahukannya pada kalian. Sekarang pergilah, bila kalian masih sayang dengan nyawa kalian" Mata Akashi terlihat sangat dingin pada saat itu, tak lama sekomplotan orang itu lalu pergi meninggalkan rumah kediaman Akashi

"Tetsuya, kau bisa keluar sekarang" kata Akashi dengan lembut

Wajah Kuroko tertunduk, ia keluar dari dalam kamar Akashi Seijuurou

"Kenapa kau tetap menyamarkan kehadiranku? Mereka bisa melacak keadaanku, Seijuurou. Aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu" tulis Kuroko dalam papannya

"Apa..kau mau pergi?" tanya Akashi sambil memandang wajah Kuroko dengan wajah yang datar, pandangan yang kosong "Apa kau mau pergi meninggalkanku, Tetsuya? Apa kau lebih memilih untuk itu?"

Kuroko lalu berlari dan memeluk Akashi, ia menggelengkan kepalanya dalam pelukan Akashi.

"Aku mengerti..kau tidak akan meninggalkanku, Tetsuya. Maaf" kata Akashi sambil tersenyum dan menutup matanya, mengelus kepala Kuroko

"Karena kau begitu penting bagiku, aku tidak ingin kehilangamu, Tetsuya"

- xXx -

Suara tenang apada malam itu langsung berubah seketika ketika suara ledakan terjadi dari arah luar rumah dimana Akashi tinggal, Akashi dan Kuroko yang menyadari suara itu langsung terbangun.

"Sial.. Mengapa mereka ngotot sekali" umpat Akashi sambil melirik kearah jendela "Kita harus pergi, Tetsuya" katanya sambil menarik tangan Tetsuya. Nigou yang sedari tadi berada di dalam langsung menghampiri Akashi "Nigou, kau ingat dimana tempat Midorima kan? Pergilah kesana dan jangan keluar sebelum aku menjemputmu, mengerti?"

Nigou adalah anjing yang pintar, ia mengerti ketika Akashi mengisyaratkannya untuk pergi ke rumah Midorima, maka ketika pintu belakang terbuka, Nigou langsung pergi kearah yang berlawanan dengan Akashi

"Kita akan pergi dari tempat ini" kata Akashi sambil tersenyum "Bila tidak ada tempat untuk kami di tempat ini, kita akan pergi ke tempat lain"

Kuroko memandang kearah Akashi, lalu tersenyum kecil sambil mencoba mengikuti irama larian Akashi

"Ada..sesuatu yang ingin kuberikan nanti, Tetsuya" kata Akashi tanpa menengok kebelakang "Dan kuharap kau tidak keberatan dengan permintaanku kelak"

Kuroko dapat merasakan senyum kecil terpasang di wajah Akashi meskipun ia tidak menengok sedikitpun, dan wajah Kuroko entah mengapa berubah agak merona

- xXx -

Kami berdua berlari, berlari keluar kota ini, tempat dimana para anggota organisasi mengejar kami berdua

"Apa kau pikir kau bisa menghalangi kami berdua?" Kata Akashi sambil menarik Kuroko untuk berlari, menghindari pasukan organisasi yang mengejar mereka sedari tadi

Mereka akhirnya bisa menemukan tempat yang sepi, pada saat itu, Akashi langsung memeluk Kuroko, lalu melepas pelukannya, memegang kedua pipinya

"Tetsuya" kata Akashi lembut pada Kuroko "Apapun yang terjadi, aku akan tetap menyukaimu" katanya sambil tersenyum "Aku ingin—" Akashi hendak mengeluarkan sesuatu yang berasal dari jaketnya, sebelum gerakannya tiba-tiba berhenti dalam waktu yang singkat

Dan…

DORR

Bunyi tembakan pistol menusuk ke dada Akashi. Mata Kuroko melebar, mencoba untuk menarik tubuh Akashi yang terjatuh, namun nihil. Dari dalam saku yang telah ia raba sebelumnya, terjatuhlah sepasang cincin yang bertuliskan lambang S-K. Kuroko terdiam sejenak, mencoba memproses apa yang telah terjadi didalam benak pikirannya. Seketika, Rasa marah dan sedih mulai muncul dalam diri Kuroko

Activate code : Type Zero, Sound of Chaos

"ARGHHHHH!" Suara Kuroko dapat terdengar dari sana, suara yang ia keluarkan pertama kali selain suara untuk Lullaby-nya, suara yang langsung membuat benda-benda disekitar berterbangan lalu dengan waktu yang singkat, ia menghancurkannya. Anggota organisasi yang berada disana langsung pergi setelah mengetahui Kuroko Tetsuya telah mengaktifkan kemampuan terlarangnya.

"A..Aka..Akashi…" katanya langsung mendekat kearah Akashi "Seijuurou! Seijuurouu..!" katanya sambil menangis

Akashi tersenyum "Akhirnya.. aku dapat..mendengar suaramu..T..Tetsuya"

"Seijuurou..tidak.. jangan pergi.. jangan tinggalkan aku..!"

"T..Tetsuya.. Maaf.. aku tidak bisa memenuhi..janjiku..padamu"

"Tidak.. Seijuurou..aku tidak mau berpisah denganmu"

Akashi lalu melihat cincin yang sedari tadi ia ingin berikan pada Kuroko "aku..ingin memberikan cincin itu padamu.. Kurasa..aku ingin memintamu menjadi seorang Akashi Tetsuya.." katanya sambil tertawa kecil "tapi.." Akashi lalu terbatuk-batuk

"Seijuurou-kun!"

"Tetsuya.." Akashi, dengan sisa kekuatan yang ia miliki berusaha menempelkan tangannya pada pipi Kuroko "Jangan menangis.. aku.. ingin melihat kau tersenyum.. untuk terakhir kalinya.."

Hati Kuroko sakit, sangat sakit. Ia melihat orang yang sangat dicintainya terdiam sekarat dalam pangkuannya, ia tidak memiliki waktu banyak lagi bersama dengan Akashi. Dan permintaan terakhirnya, ia meminta dirinya untuk tersenyum?

Dengan segala kekuatan yang ia miliki, Kuroko berusaha membuat senyum di wajahnya, berusaha tersenyum, setidaknya hingga Akashi masih hidup

"Arigatou..Tetsuya.. Daisuki.." dan perkataannya saat itu, adalah perkataan terakhir yang diucapkan Akashi kepadanya

"Seijuurou..?" Kuroko melihat kearah Akashi yang kini sudah tidak bernafas lagi

Dan pada saat itu, airmatanya mengalir kembali dari matanya, ia menangis sekencang-kencangnya hingga tenggorokannya sakit, ia memeluk Akashi, memintanya untuk kembali, namun ia tahu.. bahwa tidak akan ada lagi jawaban yang terucap dari mulut Akashi

If The world turn to hate me, I wouldn't care, I'm only care if you turned to hate me

[Densou no Shi –Vox-]

.

.

.

.

.

Pemuda berambut Icy Blue kini berada dalam sebuah ruangan, ruangan yang sangat putih. Ia bernyanyi sebuah Lullaby, Lullaby kematian. Para anggota organisasi mencoba untuk mendobrak masuk, tetapi nihil karena pemuda berambut Icy Blue itu telah menguncinya dari dalam

Ia terduduk sambil terus bernyanyi, dipangkuannya terdapat seorang pemuda berambut Spicky Red yang telah menutup matanya untuk selamanya itu. Di tangan kanannya terdapat sebuah cincin berlambangkan S-K, begitu pula dengan tangan dari pemilik mata Heterochrome yang telah tiada tersebut. Airmata terus turun dan membasahi cincin berlambang S-K tersebut berada.

Lalu.. kenangan akan masa lalu mereka kembali bermunculan..

"Akashi Seijuurou" "Namaku Akashi Seijuurou"

Perlahan, air mata dari pemuda berambut Icy Blue jatuh membasahi muka pemuda berambut Spicky Red yang telah tiada itu

"Aku hanya ingin kau berada bersamaku mulai saat ini"

Suara pemuda berambut Icy Blue itu mulai gentar, tetapi ia tetap melanjutnya nyanyiannya itu

Apa kau mau pergi meninggalkanku, Tetsuya?

Pemuda berambut Icy Blue itu kini memegang tenggorokannya yang tampaknya sudah sakit, tetapi ia tahu, ia harus melanjutkannya hingga selesai

Lalu, setelah alunan lagu itu selesai. Ia menutup matanya, lalu tersenyum kecil

Activate mode : Destruction – on
Will begin at countdown by 10….9….8…7…6..

"Seijuurou.." katanya sambil memeluk tubuh Akashi yang telah mendingin tersebut "Tugasku.. telah selesai, bukan? Sekarang.. bolehkah aku pergi bersamamu?"

5

4

3

"Kali ini.. bawa aku pergi ya? Bawa aku pergi bersamamu.."

2

1

0

"Because you are too precious to me, I don't want to lose you, Tetsuya"

Saat itu, suara ledakan besar terjadi, reruntuhan mulai berjatuhan menutupi ruangan tersebut, bangunan dimana "penjara" para Rexvrail, setelah sekian lama akhirnya hancur. Lullaby-Lullaby dari para Rexvrail yang 'berteriak' dari dalam pun membantu menyampaikan pesan kematian pada dunia, meskipun mereka tahu kematian telah mendekat, tetapi mereka senang, karena mereka akan memperoleh suatu hal yang tidak pernah mereka dapatkan semanjak mereka lahir, yaitu sebuah 'kebebasan' yang mereka idamkan setelah sekian lama


"If in this world, there is no you beside me again, I would rather let this world meet the Apocalypse.."


~Owari~