Disclaimer: I am not, in any way, take any profit from the story and that all creative rights to the characters belong to their original creator(s). Naruto © Masashi Kishimoto.
Jejak Bulan di Atas Air
blackpapillon
7. Shiro-chan
.
.
"Sasuke?" Sakura menatap lelaki itu dengan heran, sang elang masih ada di pangkuannya; "Mengapa elang ini bisa ada di sini? Apa kau…"
Sasuke menggeleng. "Maaf." Katanya pelan. "Elang ini tadi kabur dariku dan ia terbang ke arah sini—hingga ia menabrak cabang pohon itu." Ia mengarahkan jarinya ke arah pohon besar di samping kamar Sakura. "Sepertinya aku mengganggu anda lagi."
Ekspresi heran Sakura berubah menjadi tawa kecil. "Tidak, tidak!" Sakura menggelengkan kepalanya. "Hanya saja, lucu sekali… elang seperti dia ini menabrak pohon sampai sayapnya luka…" Ia melirik burung itu. Burung itu jatuh tepat ke beranda. Untunglah ia tidak jatuh ke air, pikir Sakura. Sebab, antara beranda dan halaman istana dibatasi oleh parit yang cukup lebar—dirancang seperti sungai kecil yang mengelilingi istana. Dan di sana berdiri pohon Sakura besar yang dahan-dahannya menjulur sampai kamarnya. Burung itu menabrak pohon tersebut.
"Yah, mungkin dia ingin menemui anda." Komentar Sasuke, membuat Sakura tertawa lagi. "Biar kubawa dan kuobati. Sudah dua kali dia melakukan kesalahan seperti ini."
Sakura tersenyum. "Tapi aku menyukai burung ini," kata Sakura. "Biarkan aku yang mengobatinya. Bagaimana?"
"Hah?" wajah Sasuke berubah heran, "Anda?"
"Eh, jangan remehkan aku," kata Sakura cepat, "begini-begini aku sempat diajarkan oleh Tsunade-shishou soal beberapa metode penyembuhan. Lagipula aku menyukai burung itu," ujarnya. Memang, dulu dia sempat diajarkan beberapa metode penyembuhan oleh tabib istana itu. Meskipun itu cerita saat ia berusia 15 tahun, sih…
"Itu akan merepotkan anda."
Sakura menggeleng lagi. "Kubilang tidak apa." Ia menatap Sasuke tajam. Sebetulnya, daripada tajam, lebih pantas disebut memohon. Sasuke hampir saja tersenyum melihat ekspresi lucu gadis itu.
"Dan daripada kau terus berdiri di situ, bagaimana kalau kau ikut mengawasi burung ini saja?" tanya Sakura.
Sesaat Sasuke tampak ragu. Setidaknya, ia masih punya rasa hormat. Yang benar saja. Kalau ia salah langkah, bisa saja penjaga akan mengusirnya keluar.
Tapi, bukankah puteri yang meminta?
Sudahlah. Ia menghilang dalam sekejap dari pandangan Sakura, dan muncul lagi di sebelah gadis itu, membuat gadis itu kaget. "Bagaimana keadaannya?"
Sakura meneliti keadaan burung malang itu. "Tidak terlalu parah. Tunggulah sebentar di sini, aku akan segera kembali." Sakura bangkit dan mengambil kotak kecil dari dalam lemarinya. Lalu membalut luka burung itu dengan cermat. "Anggap saja ini sebagai balas budi karena kau sudah membalut lenganku tadi."
Sasuke tak berkata apa-apa. Ia hanya memperhatikan gerakan cepat gadis itu dalam membalut. Ia melihat keadaan sekeliling. Ada sebuah teleskop di sebelahnya. Dan di belakangnya, ada sebuah rak kecil berisi buku-buku tentang antariksa dan kenegaraan. Dilihat dari keadaannya, buku itu pastilah sering dibaca.
"…Kau sedang mengamati langit?" tanya Sasuke, tanpa sadar menggunakan kata 'kau'.
Sakura menghentikan pekerjaannya. Wajahnya merona sedikit. "Be-begitulah." Katanya, lalu kembali menyibukkan diri. "Aku mulai menyukai langit sejak berusia sepuluh tahun… dan hari ini, langit begitu cerah."
Ada rasa penasaran menyelinap dalam hatinya. Duh, apa mungkin ia ingat?
Sasuke mengintip sedikit melalui teleskop itu. "Betul juga." Katanya saat melihat langit, "Ada beberapa bintang besar terlihat. Bintang biduk. Orion… Cygnus. Apa aku tidak salah lihat?"
"Eh?" gadis itu terkejut. "Kau tahu? di mana?" tanya Sakura. "Apa kau juga mengamati langit?"
"Mengamati langit?" Sasuke menatap Sakura yang baru saja menyelesaikan pembalutan dan membiarkan burung itu di sebuah kotak, "Aku memang kadang melakukan pengamatan, tetapi hanya sedikit. Dan akhir-akhir ini semakin jarang karena kesibukan." Kata Sasuke.
Wajah Sakura tampak bersinar karena senang. "Tapi kau tahu soal konstelasi itu," Kata gadis itu gembira, "Berarti kau tahu banyak?"
Lelaki itu tampak jengah. "Tahu… tidak juga. Tapi aku tahu beberapa. Yang mudah saja…" kata Sasuke, matanya kini terkonsentrasi pada langit. "Konstelasi yang tadi kusebutkan 'kan sebetulnya bisa ditemukan dengan mata telanjang." Katanya agak merendah.
Sakura mengambil alih teleskop itu dan mengintip. "Banyak bintang yang muncul malam ini… dan aku bisa melihat beberapa planet!" katanya senang. Ia tersenyum lebar. "Itulah yang kusukai dari langit. Mereka selalu menyajikan pemandangan berbeda setiap harinya. Betul, kan?"
Sasuke menatap gadis yang sedang tersenyum itu. Lalu ia menganggukkan kepalanya. "Begitulah." Ia melirik buku-buku di sebelahnya. "Dan di sela-sela membaca buku tentang langit… kau juga membaca buku-buku tentang kenegaraan." Ia mengambil salah satu buku itu. Sebuah buku konfusianisme. Rupanya dia belajar sampai ke berbagai aliran juga. "Kurasa kau sudah berubah menjadi puteri yang begitu memikirkan rakyatnya."
Mereka berdua terdiam. Sakura berhenti meneropong dan menatap Sasuke dalam diam. Dalam sekejap wajahnya sudah berubah menjadi semerah apel. Mungkinkah…
"E…eh… menurutmu… begitu? Sasuke…"
"Ya." Sasuke mengangguk tegas. "Dulu kau memang dikenal sebagai puteri yang manja, tapi rupanya seiring dengan bertambahnya umur kau melakukan berbagai perubahan." Kata Sasuke.
"...Terima kasih..."
Sakura tersenyum bahagia. Ya, itulah Sasuke. Orang yang sangat berterus terang.
Cepat ia menggelengkan kepalanya. "Eh… ehm… mungkin kau bisa membawa si burung ini sekarang—eh, kau tidak memberinya nama?"
Sasuke mengerutkan dahi. "Nama? Kami jarang memberi nama—kecuali Naruto yang menamai burungnya Naruto Junior—dasar…"
Sakura tertawa. "Nama membantumu kalau memanggil seseorang, bukan?" katanya. Disentuhnya pelan burung itu. "Kalau begitu, aku akan memberinya nama Shiro… iya, kan, Shiro-chan?" Sakura tersenyum.
"Hei! Kenapa Shiro-chan?"
"Karena warnanya putih. Begitu, 'kan?" Kata Sakura cuek.
"Ya, tapi kenapa harus –chan?"
Sakura tertawa kecil. Lucu juga melihat lelaki itu agak keberatan. Entah kenapa hari ini ia merasa tak begitu takut pada Sasuke. "Karena lucu." Tandasnya riang. "Nah, karena malam sudah semakin larut, sebaiknya anda pulang ke mes dan membawa Shiro-chan sekarang, tuan. Oke?" Kata Sakura jenaka. "Oh, ya... ini," Sakura mengeluarkan sesuatu dari balik kimononya. "Terima kasih atas saputanganmu tadi pagi, Uchiha-san..."
Sasuke menatap gadis itu. Ia menganggukkan kepala, mengambil sapu tangan itu dalam diam. Lalu dalam sekejap menghilang, meninggalkan Sakura sendirian. Sakura tak berkata apa-apa. Dadanya hampir meledak karena senang.
Malam ini adalah malam yang agak berbeda daripada biasanya.
"Dari mana saja kau?" tanya Sai begitu Sasuke membuka pintu. "Rapat 'kan sudah selesai sedari tadi."
Sasuke tak langsung menjawab. Ia meletakkan beberapa gulungan di atas kursi. Ia melirik sekeliling. Naruto tampak sudah teler di atas sofa. Sasuke mendengus. Sepertinya, begitu pulang rapat, anak itu langsung makan ramen dan ketiduran, karena ia melihat beberapa bungkus bekas ramen instan di atas meja.
Kelima jenderal itu memang masih muda. Karena itu kaisar memutuskan bahwa kelima orang ini harus tinggal bersama dalam suatu rumah. Seharusnya mereka diberi fasilitas rumah sendiri-sendiri dalam lingkungan istana. Namun, karena usia mereka masih muda, kaisar ingin mereka lebih banyak belajar bertoleransi. Memang, mereka tinggal di rumah dengan fasilitas yang cukup mewah, tidak seperti para prajurit yang harus tinggal di barak-barak. Mereka juga diperbolehkan pulang ke rumah keluarga mereka secara berkala. Seperti Neji yang rutin pulang dua minggu sekali.
"Yaaa. Ada urusan sedikit." Jawab Sasuke pendek, langsung mengganti pakaiannya. "Oh ya, hari ini aku tidak akan tidur disini. Aku mau tidur di tempat orang tuaku."
"Baiklah." Kata Sai. "Sudah lama juga kau tidak pulang ke rumah orang tuamu, ya?"
"Oh, ya?" Sasuke menjawab tanpa berpikir.
"Ya," Kata Sai. "Untunglah Itachi datang. Sudah lama juga dia tidak pulang. Masalahnya, kau hanya pulang kalau ada Itachi."
"Hm."
Sai hanya menghela napas panjang.
Siang itu terasa teduh. Ino dan Hinata bersantai di ruang istirahat para dayang. Di sana juga ada Tenten—yang sedang menghabiskan waktu karena Sakura sedang tidak ada di sana. Ruangan itu ada di sebelah timur istana, berseberangan dengan tempat tinggal para anggota keluarga kerajaan. Ruangan itu juga berdekatan dengan mes tentara.
Meskipun tempatnya berdekatan, namun 'aura' yang ada di sana sangat berbeda. Ruangan istirahat para dayang adalah bagian dari sebuah bangunan besar yang memang diperuntukkan untuk tempat tinggal para gadis-gadis itu. interiornya rapi, dengan hiasan-hiasan bunga dan lukisan di beberapa tempat. Sedangkan mes tentara? Meskipun sama-sama berbentuk bangunan bertatami, tapi keadaannya sungguh berbeda. Lebih berantakan. Yah, dasar laki-laki. Para kunoichi tidak mendapat tempat tinggal khusus. Mereka diperbolehkan tinggal di rumah masing-masing, atau menyewa kamar di dekat istana. Dan semua itu dibiayai oleh kaisar dengan beberapa ketentuan.
Kedua tempat itu dibatasi dengan sebuah taman mungil. Tempat favorit untuk para dayang yang memiliki kekasih dari kalangan shinobi untuk berduaan. Bahkan ada legenda di sana yang mengatakan, bila kau berciuman di atas jembatan yang ada di taman itu saat bulan purnama, kau akan bahagia. Tapi tidak jelas juga sih, bahagia atas hal apa. Lagipula legenda itu Cuma beredar di kalangan dayang saja. Dayang yang sedang dimabuk asmara, khususnya.
"Hah? Jadi kau bilang begitu? Hahahahaahaha!" terdengar tawa Ino di ruangan itu, membuat wajah Tenten merengut.
"Tenten-chan, tidak apa-apa, kok. Neji-niisan tidak akan membencimu..." Kata Hinata, mengusap punggung Tenten, mencoba menghiburnya.
Wajah Tenten malah semakin muram. "Sepertinya aku ini aneh," gumamnya pelan. "Saat tadi berteu dia, sebetulnya aku ingin bicara padanya seperti biasa, tapi..." dia menghela napas panjang, "Yang keluar malah kata-kata yang terdengar agak kasar seperti itu."
"Agak kasar?" Ino menatap Tenten dengan pandangan heran, "Apa? Menurutku itu biasa saja, kok. Ah, tapi kalau dengan orang yang kita sukai, rasanya mungkin agak berbeda, mungkin, ya?"
"A...a...aku juga kadang-kadang sering melakukan kesalahan itu," kata Hinata tiba-tiba, "Kadang-kadang, kata-kata yang menurut orang lain terdengar biasa, bagi kita akan menimbulkan perasaan berbeda kalau kita katakan pada orang yang kita sukai. Ya, kan?" Hinata tersenyum kecil.
Ino tersenyum lebar, lalu mencubit pipi gadis itu, "Waaah maksudmu, kamu yang mendadak jadi sangat malu-malu kalau bertemu Naruto? Ya, kaaan, Hinataaaa?" goda Ino keras-keras, hingga wajah Hinata berwarna kemerahan. Dia menunduk dan mengangguk malu.
"A...aku ingin menghilangkan hal itu... rasanya aku jadi kelihatan bodoh..." keluh Hinata.
"Wah, kalian berdua memang tampaknya sedang bingung gara-gara cowok, ya," komentar Ino melihat dua sahabatnya itu. "Kurang kerjaan sekali."
Tenten merengut lagi. "Kamu bilang begitu, suatu saat kau akan kena batunya, lho, Ino."
"Ha ha ha!" Tawa Ino kembali membahana. "Apanya? Aku memperhatikan banyaaaaak sekali lelaki di daerah istana ini, tapi belum ada yang menarik perhatianku." Ia memandang ke arah mes tentara yang bagian depannya sedang dipenuhi para shinobi yang sedang beristirahat. "Apalagi lelaki yang bersifat seperti si Shikamaru... hiii, kalau dia begitu terus, bisa-bisa dia tak dapat pacar."
"Sebelum mengkhawatirkan orang lain, lebih baik kamu mengkhawatirkan dirimu sendiri," Kata Tenten. "Kamu juga punya resiko jadi perawan tua kalau begitu terus."
Ino menoleh ke arah Tenten, menatap gadis itu dengan tatapan tajam. "Aaaapaaaa? Umurku sembilan belas, tahu! Sembilan belas! Bukannya kamu yang paling tua, umur dua puluh masih mengejar-ngejar cinta orang!" semburnya.
Wajah Tenten berubah merah. "Me...mengejar-ngejar? Kau pikir aku ini perempuan macam apa..."
"SUDAH, SUDAH!" potong Hinata cepat, mengakhiri debat mulut mereka. "Kalian ini apa-apaan, sih?"
"Huh." Ino menarik napas. "Mungkin kita semua memang sedang kurang kerjaan, siang bolong begini malah duduk-duduk saja di ruang istirahat."
"Memangnya kalian sedang tidak ada pekerjaan, Ino, Hinata?" tanya Tenten. "Kalian berdua 'kan dayang. Mengapa bisa santai-santai di sini?"
"Pekerjaan kami 'kan sudah selesai dari pagi. Lagipula sebetulnya tugas utama kami adalah menjadi dayang pribadi Sakura." Jawab Ino. "Kalau begitu, ngapain kamu, yang anak pejabat malah ikut-ikutan di sini?"
Mereka bertiga tertawa.
"Eeh, memangnya Sakura sedang apa, sih?" tanya Tenten. "Apa sedang ada kegiatan di luar? Tapi kalau begitu seharusnya 'kan aku juga ikut..."
"Em... Sakura-chan sedang latihan chanōyu di ruangan sebelah selatan," jawab Hinata. "Sepertinya untuk menyambut tamu penting dari Suna, frekuensi latihannya diperbanyak."
"Oooh..." Tenten mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.
"Jangan Cuma 'oh' dan 'oh' saja," kata Ino sebal. "kau juga seharusnya sedang berada di sana, tuan puteri?"
"Malas, ah." Kata Tenten. "Aku 'kan datang ke sini untuk beristirahat. Masa' sampai di sini aku harus berlatih lagi? Di rumah juga aku sudah berlatih, kan... setiap hari sampai badanku pegal. Lagipula, untuk menyambut tamu penting... pasti dia yang akan disuruh melakukannya, 'kan? jadi puteri memang capek." Komentarnya sambil merebahkan badan di atas tatami.
"Iya... semoga saja Sakura-chan tidak sakit..." kata Hinata.
"Ah, omong-omong, kemarin juga aku berangkat untuk itu. Belanja untuk membeli bahan-bahan cha kaiseki." Kata Ino. "Kepala dayang menyuruhku mencari ikan kakap merah yang paling bagus. Uuuh, aku sampai harus berkeliling-keliling seluruh toko ikan."
"Oh, ya? Jadi kemarin kau belanja untuk chanōyu, ya? Memangnya, kapan upacaranya akan diadakan?" tanya Tenten. "Dan untuk apa?"
Ino mengedikkan bahu. "Mana kutahu. Tanya saja pada para shinobi itu. yang aku tahu, upacaranya akan diadakan hari minggu ini. Undangannya belum diberikan, ya?" tanyanya.
Tenten mengangguk.
Siang hari di musim semi sungguh menyenangkan. Angin tetap bertiup sejuk, dan cuacanya hangat. Tidak terlalu panas, juga tidak dingin. Bunga-bunga bermekaran di tiap sudut istana. Bunga-bunga Sakura juga mulai mekar penuh, meniupkan kelopak-kelopak bunganya kemana-mana. Sungguh sayang untuk dilewatkan. Jadi, kenapa aku harus mengurung diri? Pikir Tenten. Ia menatap para shinobi yang sedang berkumpul bersama beberapa kunoichi di seberang sana.
Ingin rasanya ia ikut bersama mereka, ikut berlatih. Tapi, mana mungkin?
To Be Continued
Terima kasih sudah membaca.
Blackpapillon
