Disclaimer: I am not, in any way, take any profit from the story and that all creative rights to the characters belong to their original creator(s). Naruto © Masashi Kishimoto.


Jejak Bulan di Atas Air

blackpapillon


8. Tamu

.

.

Upacara minum teh—atau biasa disebut chanoyu atau sado, memang benar-benar membuat pegal, itu bukan sekedar rekaan. Bayangkan saja. Kau harus duduk dengan posisi tertentu selama berjam-jam. Minimal, empat puluh lima menit. Itu kalau ruangan minum tehnya hanya berukuran empat setengah tatami—yang berarti, tamunya hanya sedikit.

Tapi, melakukan upacara minum teh di sebuah washitsu yangberukuran berkali-kali lipat dari itu tentu sangat melelahkan. Dan hal inilah yang harus dilakukan oleh Sakura saat ini. Berlatih menuang teh, mengelap cawan, dan sebagainya. Kakinya sudah mengeluh kesemutan. Namun, iemoto yang mengajarinya kali ini agak sedikit galak. Jadi dia tak berani membantah.

Menurut Sakura sendiri, sebetulnya melakukan upacara minum teh itu tidak penting. Iya, kan? Mengapa setelah minum dari cawan, cawan harus diputar tiga kali? Mengapa cawan harus dilap dengan chakin—bukan fukusa, padahal mereka sama-sama kain? Dan mengapa setiap tatami jumlah langkahnya harus sama?

Mengapa minum teh saja harus ada upacaranya? Padahal, kalau mau minum teh, ya minum teh saja.

Tapi, ayah dan ibunya sudah membebankan tugas ini padanya. Menyambut tamu penting dari Suna! Ya, biasanya tugas ini dilakukan oleh permaisuri sendiri, tapi karena menurut permaisuri, usianya sudah cukup dewasa, jadi dia boleh melakukannya sendiri.

Aaah, membosankan...

Sakura hampir saja menguap. Untung saja dapat ditahannya. Ia mengingat-ingat nasihat ibunya waktu pertama kali harus berlatih. Sejak kecil, ia sudah diharuskan berlatih upacara minum teh, ikebana, juga bermain koto dan shamisen. Nyaris seperti geisha saja.

Ia melihat sekilas ke luar. Burung-burung gereja hinggap di beranda, lalu terbang lagi. Omong-omong soal burung, ia jadi teringat pada Shiro-chan. Bagaimana keadaannya, ya? Semoga saja Sasuke akan merawatnya dengan baik. Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya. Ah, pasti burung itu akan sehat kembali. Tapi, ia ingin menengoknya... Apa nanti aku datang saja ke sana, ya? Tapi, apa tidak apa-apa?

"Sakura-hime. Ada yang sedang Anda pikirkan?" terdengar suara iemoto dengan nada yang agak meninggi.

Sakura tersadar dari lamunannya. Jantung Sakura berdegup. Wajahnya memerah. "Eee... ma...maaf, bila Anda kurang berkenan..."

"Baiklah." Wanita setengah baya itu mengangguk. "Kali ini saya maafkan. Tapi besok, jangan dilakukan lagi. Karena acaranya akan diadakan beberapa hari lagi. Tolong anda ulangi, Sakura-Hime."

"Ba... baik."

Sakura menegakkan tubuhnya. Kembali duduk dalam posisi Seiza, dan bersiap melakukannya sekali lagi.


Ah, akhirnya latihan selesai! Sakura meluruskan kakinya begitu sang iemoto keluar dari ruangan itu. kakinya pegal sekali. Dipikir-pikir, barangkali rasa pegal yang dirasakan para shinobi puluhan kali lipat dibanding yang ia rasakan sekarang. Perlahan ia bangkit dan mengenakan geta-nya, lalu berjalan ke tempat kandang burung-burung pengantar pesan. Ia ingin mengetahui keadaan Shiro-chan hari ini. Apa dia baik-baik saja?

Sakura berjingkat melewati beranda yang lengang, lalu melewati sebuah taman di depan bangunan itu. Ia berjalan ke arah mes tentara. Tapi, di pintu gerbang, ia tidak terus masuk, melainkan berputar ke kanan. Di sana terdapat lapangan besar, di mana ratusan burung hinggap di sana untuk makan. Di sisinya, ada deretan kandang burung berjajar, berbagai ukuran, mulai dari kecil hingga besar. Namun tetap terlihat rapi. Berbagai jenis burung dilatih di sana untuk mengantar pesan dan menjadi semacam asisten bagi para ninja. Ada burung merpati, dara, gagak, elang, sampai burung hantu. Burung itu sering dilepas, karena meskipun mereka dilepas, mereka akan kembali lagi ke sana. Kakinya menyusuri deretan kandang burung itu, mencari di mana kira-kira Shiro-chan. Namun sepertinya ia tak usah repot-repot mencari.

Karena Sasuke sudah ada di sana.


"Bagaimana keadaan Shiro-chan?" Tanya Sakura sambil berjalan menghampiri pria itu.

Sasuke menoleh, tampak kaget. "Dia baik-baik saja."

"Syukurlah. Boleh aku melihatnya?" tanya Sakura. Sasuke mengangguk dan mengeluarkan elang putih itu dari kandangnya. Kemarin, elang putih itu tampak begitu mengkhawatirkan. Tapi keadaan elang itu sekarang sudah tampak jauh lebih baik. Meskipun sayapnya masih terbalut perban dan bengkok sedikit.

"Aku agak khawatir mengenai keadaannya, jadi aku datang lagi ke sini." Kata Sakura sambil mengusap bulu-bulu putih elang itu. Sayapnya tampak sudah terbalut perban baru. "Kau baik-baik saja, kan, Shiro-chan?" Tanya gadis itu dengan ekspresi jenaka. Burung itu merespon dengan mematuk lembut tangannya. "Bagus. Sepertinya keadaanmu semakin baik."

Ia mengangkat wajahnya. "Kalau tak ada Shiro-chan, dengan burung yang mana kau mengirimkan pesan?" Tanya Sakura. "Setiap hari pasti ada pesan yang harus diantarkan, bukan?"

"Banyak burung pengantar pesan di sini. Tak hanya dia yang aku punya. Mash ada seekor burung gagak, jadi aku menggunakan dia." Jelas Sasuke. "Tapi, waktu tempuh jadi agak lambat karena elang ini lebih cepat."

"Begitu." Mata hijau Sakura kembali menatap burung elang itu. "Cepatlah sembuh, Shiro-chan. Tuanmu sangat membutuhkanmu." Kata Sakura lembut. Burung itu bersuara kuk pelan dan kembali asyik sendiri. Sakura tersenyum melihat tingkah laku burung itu.

Ia menoleh ke sekeliling, tampak mencari-cari. "Kau ke sini sendirian?"

Sakura mengangguk. "Ya. Memangnya kenapa?"

"Mengapa?" Sasuke menatap gadis itu dengan tatapan heran. "Seharusnya kau datang diiringi banyak dayangmu itu."

Sakura mengedikkan bahu. "Aku ke sini sendirian. Kurasa ayah juga mengizinkanku pergi di lingkungan istana sendiri." Kata Sakura. "Aku hanya ingin melihat keadaan Shiro-chan saja, karena itu untuk apa aku mengajak mereka?"

"Yah." Sasuke tak berkomentar lagi soal itu. "Apa kau tidak ada kesibukan lain? Kupikir acara penyambutan para tamu dari Suna tinggal beberapa hari lagi."

"Begitulah!" Kata Sakura. "Tadi aku baru saja berlatih untuk upacara minum teh."

"Begitu." Hanya itu komentar Sasuke.

Sakura tersenyum. Pria itu memang jarang bicara. Namun, Sakura tahu, Sasuke mendengarkan kata-katanya. Ia tak seperti orang yang gemar menambahkan celetukan-celetukan tak jelas, namun tak tahu apa topik pembicaraannya.

"Hari sudah sore." Kata Sasuke. "Meskipun di lingkungan istana sekalipun, seharusnya kau ditemani paling tidak seorang. Lebih baik kau segera pulang."

"Eh? Tapi aku masih ingin melihat Shiro-chan…"

"Tidak." Kalimat Sakura terputus oleh ucapan Sasuke. "sudah sore. Lebih baik kau segera kembali ke istana. Jangan berada di mes tentara seperti ini sendirian. Kalau mau melihat keadaannya, kau bisa datang lagi besok." Dia menatap Sakura. "Akan kuantar kau ke tempat para dayang. Tempatnya cukup dekat dari sini, bukan?"

Sakura menggeleng. "Kalau begitu, tak usah mengantarku. Aku bisa ke sana sendiri…"

"Aku bertanggung jawab mengantarmu karena kau ingin melihat elang milikku." Kata Sasuke tegas. "Karena itu, lebih baik Anda mengikuti kata-kataku dan membiarkan aku mengantar Anda sampai ke tempat peristirahatan para dayang, Sakura-hime."

Tangan pria itu terulur, membuat Sakura tak kuasa menolak. Diikutinya langkah-langkah panjang lelaki itu, berjalan kembali ke arah tempat peristirahatan para dayang.

Kadang Sakura sama sekali tak mengerti sifat Sasuke. Apakah dia seorang pria yang baik, ataukan tidak sopan dan sedikit pemberontak—sifatnya sungguh tak dapat ditebak. Sekali waktu ia merasa bingung, sekali waktu ia merasa senang hanya dengan melihatnya saja. Sekali waktu, pipinya bersemu merah hanya karena sedikit omongannya. Namun kadang ia juga takut melihat pria itu karena wajahnya yang selalu dingin.

Ia tak mengerti... atau belum mengerti. Itu hanya soal waktu.

.


"Sakura lama sekali," ujar Tenten.

"Tentu saja. Latihannya pasti lebih panjang karena acara nanti adalah menyambut Duta dari Suna. Itu acara yang sangat penting, bukan? Terlebih karena baru kali ini kita menempatkan perwakilan secara resmi." Kata Ino. "Tapi, kenapa tiba-tiba, ya? Apa kaisar berubah pikiran?" komentarnya.

Hinata tak berkata apa-apa. Ia mengambil bantal duduk dan memeluknya, melihat jauh ke arah taman yang bunga-bunganya masih mekar. Sekelebat sosok yang sudah sangat ia kenal menghentikan pikirannya yang mulai melamun. "...Ino-chan," kata Hinata, "Siapa itu? Itu seperti Sakura-chan... ya?"

Ino menoleh. Menyipitkan mata. Meneliti. Dan...

"Saaaakuraaa?" terdengar teriakan heran dari Ino saat melihat Sakura berjalan ke arah mereka dengan seseorang… yang tak-lain-dan-tak-bukan adalah Sasuke. Gadis berambut pirang itu sampai terbangun dari posisinya yang sedang berbaring di atas tatami. "Hei, latihanmu sudah selesai?"

Sakura tersenyum. "Begitulah. Dan Uchiha-san berbaik hati mengantarku ke sini." Ia menoleh ke arah Sasuke. "Terima kasih banyak."

Tak ada suara dari shinobi berambut hitam itu. Hanya anggukan kecil, dan seperti sebelumnya ia langsung menghilang bersama dengan angin. Ino, Tenten, dan Hinata terbengong-bengong. Sekejap tampak bingung. Dan berikutnya, Ino yang sadar akan apa yang terjadi lebih dulu langsung menarik Sakura. "Sakura, kau hebat!" Ia menarik tangan gadis itu, memintanya duduk. "Apa yang kau lakukan hingga kau bisa membuat cowok-es itu mengantarmu kemari?"

Sakura merasa wajahnya memanas. Ia tak menjawab, malah menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

"Hei, Sakura! Ayolah, ceritakan pada kami. Apa yang terjadi? Kau sihir dia—atau apa?"

"Eh… kami… kami Cuma bertemu di sana…" kata Sakura. Namun jawaban itu masih tak membuat sahabatnya puas. "Kau hebat juga! Gerak cepat! Setelah kejadian kemarin, sepertinya kalian jadi tambah dekat mendadak, ya?" Tanya Ino gencar. Sakura menggeleng.

"Kurasa itu bagus, Sakura… baiklah! Sedikit agresif ternyata membantu majunya hubungan percintaan…" gumam Tenten, mendadak menyemangati diri sendiri. Hinata yang diam saja hanya menatap temannya itu dengan tatapan heran—plus wajah yang memerah, tentunya. Seorang gadis seperti Tenten bicara masalah 'agresif' dalam percintaan.

.

Yang cocok bicara hal seperti itu… mungkin Ino.

.

"Eh, Sakura! bagaimana ceritanya kau bisa diantarkan dia ke sini?" Tanya Ino lagi.

Sakura menatap teman-temannya bergantian. Bergelut dalam hatinya apakah ia bercerita atau tidak soal kejadian tadi malam. Kejadian kemarin, meskipun sederhana—telah membawanya pada sedikit kemajuan, sebetulnya. Setidaknya ia jadi lebih mudah mengobrol dengan lelaki itu. Selangkah lebih dekat. Karena itu ia menganggapnya sebagai suatu momen yang berharga. Sebetulnya ia ingin menyimpannya sendiri. Tapi, mendengar saran teman-temannya juga ia pikir sebagai suatu hal yang penting.

Ah.

"Tak ada apa-apa!" Sakura menggeleng cepat, membuat teman-temannya semakin penasaran.

Biarlah ini kusimpan sendiri saja.


Pagi itu, Sakura bangun dengan semangat. Ia ingin mengunjungi Shiro-chan lagi nanti. Digantinya pakaiannya. Hari ini para dayang akan sibuk mempersiapkan acara penyambutan duta dari Suna. Karena itu sepertinya ia harus melakukan beberapa hal sendirian. Namun itu tak masalah baginya.

.

"Baiklah, aku kembali lagi, Shiro-chan!" sapa Sakura pagi itu. Cuaca cerah—meskipun agak sedikit berawan. Dan hari ini ia datang lagi. Sama seperti kemarin, perban burung elang itu sudah diganti dengan baik. Sakura tersenyum. Sasuke merawat peliharaannya dengan baik, rupanya. "Rupanya kau dirawat dengan baik. Senang melihatmu tampak sehat."

"…Kau datang lagi." Terdengar suara yang sudah sangat familiar.

Sakura menoleh dan tersenyum melihat Sasuke. "Selamat pagi, Uchiha-san. Boleh 'kan aku datang lagi untuk menjenguk?"

"Lagi-lagi kau datang sendirian."

"Tapi ini 'kan pagi hari, jadi tidak apa-apa." Kilah Sakura.

"Hm."

Sakura tertawa.

Ia melihat ke sekeliling lapangan itu. Puluhan Shinobi memulai kegiatan pagi mereka dengan mengurus burung-burung pengantar pesannya. Mereka membuka kandang-kandang itu satu per satu, membiarkan puluhan jenis burung beterbangan keluar dan hinggap di lapangan di mana pakannya sudah ditebarkan. Lapangan itu tampak begitu penuh dengan kawanan burung. Tak hanya burung milik tentara, melainkan juga burung liar yang juga ikut tertarik. Udara pagi berhembus segar. Cahaya matahari pagi mnembus sela-sela dedaunan pohon yang tinggi, membuat garis-garis sinar indah yang tampak oleh mata.

Beberapa shinobi menyapanya, membungkukkan badannya memberi hormat; beberapa bertanya-tanya mengapa putri kaisar bisa berada di situ pagi-pagi sekali.

"Tidak sibuk?" tanya Sasuke. "Bukankah acaranya besok?"

"Hari ini waktunya beristirahat dan rileks." Jawab Sakura ringan. "Karena besok aku-lah yang akan melakukan upacara minum tehnya."

"Kurasa kakiku akan pegal."

Sakura tertawa melihat ekspresi malas Sasuke. "Tapi kau akan datang, kan?" ujarnya, memandang Sasuke penuh harap.

Pandangan mereka berdua bertemu.

Sasuke menatap gadis itu, lama. Salah satu kebiasaan jelek Sasuke adalah kadang ia suka bolos dari beberapa acara istana. Terlebih acara penyambutan-penyambutan atau pesta semacam ini. Sebenarnya, ia juga punya sedikit rencana untuk datang terlambat saja. Menurutnya, daripada menghadiri acara semacam itu, lebih baik ia tidur saja di mes. Atau berlatih sendirian. Atau… yah, bahkan mengurus elang miliknya masih jauh lebih baik dibanding menghadiri acara protokoler dan pesta-pesta yang membuat mengantuk.

Tapi, kali ini...

"Ya." Jawabnya akhirnya.

Senyum gadis itu mungkin berhasil meluluhkannya.


.

Istana memang sedari dulu sudah tampak megah. Selain megah, ukurannya luar bisa besar, dengan hiasan-hiasan yang mewah. Namun karena akan ada tamu dari negara tetangga, istana kali ini tampak kelihatan lebih 'wah' daripada biasanya. Kain-kain transparan berwarna perak dan emas melingkari pilar-pilar, karangan bunga dipasang di setiap sudut. Kadang-kadang harumnya agak menyesakkan hidung. Taman-taman yang ada di istana diatata ulang. Patung-patungnya diganti, lampu-lampu yang mati diganti baru, bahkan ikan-ikan yang ada di kolam tampak 'baru' alias diganti. Dayang-dayang yang biasanya berseragam Tsukesage atau Tsumugi—kimono yang bahannya ringan dan cocok dipakai bekerja, kali ini memakai Iromuji—atau kimono semi formal yang berwarna biru muda. Mereka hilir-mudik membawa penganan, juga menyambut tamu-tamu penting yang datang satu per satu.

Di depan istana, keluarga kaisar telah siap di sana. Menyambut tamu penting yang baru saja tiba. Tiga orang berjalan masuk ke dalam wilayah istana. Kaisar tersenyum kebapakan menyambut mereka—bagaimanapun, ketiganya masih sangat muda. Mungkin seusia Sakura.

"Selamat datang di kekaisaran kami." Kata Kaisar. "Kalian bertiga dipersilakan memperkenalkan diri terlebih dahulu. Lalu silakan masuk ke ruang minum teh."

Seorang gadis maju. Lalu membungkukkan kepalanya hormat. "Nama saya Temari. Senang berkenalan dengan anda semua."

"Kankurou. Senang berkenalan." Seorang lelaki dengan tampilan aneh—dan sepertinya menggendong benda aneh pula—maju. Sakura agak sedikit berjengit melihat lelaki itu, tapi sepertinya lelaki itu tak berbahaya. Begitulah. Lalu, seorang pria lagi maju. Anggota terakhir. Matanya tajam, rambutnya berwarna kemerahan.

Wajah yang dingin.

"Gaara."


To Be Continued


Terima Kasih sudah membaca.

Blackpapillon