Kuroko no Basuke Fanfiction
Drabble - 12
Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi
Rating : T
Warning : Maybe OOC
Pair : Akakuro, side : AoKise & MuraHimu
A/N : Minna-san, kali ini author apdet dengan membawakan tema.. err.. reinkarnasi? O x O sebenernya kepikiran waktu ga sengaja denger lagu ONE OK ROCK - [Just], dan entah mengapa adegan dalam fic ini terlintas gitu aja, makannya author cepet-cepet nulis dan menyingkirkan tugas-tugas author dulu #plak. Mungkin karena jenuh dari tugas makannya Author jadi menyingkirkan tugasnya dulu sementara dan buat fic T A T
Sekian dulu deh kata dari curhatan gaje dari author :3
akhir kata, Author ucapkan buat semua yang sudah men-riview, fave, follow, alert, pm, bahkan untuk semua silent reader yang telah membaca fic abal-abal ini.. :D maaf juga bila terdapat banyak kesalahan dalam penulisan m(_ _)m
Happy Reading, all..
With Love,
Zelvaren Yuvrrezla a.k.a ren-chanz
Kilatan mata berwarna Heterochrome kini memandang ke arah langit, dimana secara perlahan salju turun dan mengenai pipinya yang bersemu kemerahan. Meskipun ia telah melilitkan sebuah syal berwarna hitam di lehernya, memasukannya tepat seperti model Cravats, memakai topi rajutan yang menutupi telinganya, memakai beberapa lapis mantel, dengan lapisan terluar memiliki tambahan fur disekitarnya dan sepasang boots yang mencapai lutut, tetapi hawa dingin masih dapat ia rasakan dengan begitu jelas.
Tangannya yang terlapisi sepasang sarung tangan kini ia posisikan didepan mulutnya, ia meniup tangannya, mencari kehangatan sementara dari mulutnya. Saat ia berdiam diri, tiba-tiba sekaleng minuman hangat berada di pipinya, ia menoleh, melihat kearah seseorang yang baru saja memberinya minuman kaleng tersebut.
"Akashicchi~ minumlah ini, maaf telah menunggu lama-ssu, Daikicchi lama sekali sih!" Protesnya sambil melirik kearah pemuda berambut Navy yang berada di sampingnya itu. Pemuda berambut Ruby itu kemudian mengambil minuman yang baru saja Kise Ryouta berikan kepadanya
"Apa boleh buat, tuntutan kerja nih, kalau ga aku mana bisa membayar sewa apartement kita, Ryouta" Katanya sambil meminum minuman kaleng miliknya yang telah terbuka "Lagipula kan gajiku tidak sebesar gajimu yang merupakan model itu" katanya sambil menunjukkan smirk-nya
"Yahh, kan tidak usah sampai menyangkut-nyangkut pekerjaanku juga-ssu.." Kata Kise sambil mengembungkan pipinya
"Bila kalian mau melanjutkan debat kalian itu, silahkan lakukan di apartement kalian" kata Akashi Seijuurou sambil menatap keduanya "tapi sebelumnya aku harap kau bisa memberitahu dimana rumah Atsushi berada, Daiki" Akashi kini membuka kaleng minuman hangat itu dan meminumnya
"Ah, Maaf.. aku harus mencari alamat rumahnya tadi di buku sensus penduduk" katanya sambil meronggoh sakunya, mengeluarkan sebuah kertas kecil bergambar peta dan alamat jelas Murasakibara Atsushi.
Akashi lalu mengambil kertas tersebut, melihat peta yang digambar oleh temannya itu.
"Kau tidak ingin kami antar ke rumah Muracchi, Akashicchi?" tanya Kise sambil tersenyum lebar.
"Kurasa aku bisa pergi sendiri" katanya sambil memasukan secarik kertas bergambar peta tersebut kedalam saku mantelnya "Lagipula kalian bisa melanjutkan perdebatan kalian lebih awal." katanya sambil tertawa kecil.
Wajah Kise lalu merona "Daikicchi sih! Lihat, Akashicchi jadi menggoda kita."
Namun Aomine ikut tertawa "Kau kan mudah di Bully, Ryouta, bukan kita, tapi kau~" katanya sambil berseringai.
"He? Daikicchi jahattt~~" katanya sambil merengek.
"Kalau kau ada perlu, jangan sungkan menghubungi kami ya, setidaknya selama kau berada di Tokyo ini" katanya sambil menatap wajah Akashi.
Akashi lalu tersenyum tipis "Akan kuhubungi kalian bila aku memerlukan beberepa informasi mengenai Tokyo" katanya sambil melihat kearah Aomine dan Kise "Meskipun sudah 7 tahun aku tidak kembali, kurasa Tokyo telah berubah."
Tak lama, Akashi Seijuurou kini melangkahkan kakinya, pergi menuju tempat yang telah digambar oleh temannya itu. Akashi memang pernah berada di Tokyo, ia bersekolah hingga SMP di Tokyo, tetapi setelah memasuki masa SMA dan kuliahnya, ia dipindahkan oleh orangtuanya ke Eropa, tepatnya di Jerman. 7 tahun berlalu dan selama itu, Akashi tidak pernah kembali ke Tokyo.
Akashi menggerutu kecil, mencari dimana alamat rumah seorang Murasakibara Atsushi, teman dekat dari keluarga Akashi. Karena tuntutan pekerjaan sementara, Akashi harus menetap di Tokyo, dan orangtua Akashi yang berada di Osaka, memintanya untuk menginap di rumah kediaman Murasakibara hingga urusan pekerjaannya itu selesai.
Akashi hendak menanyakan alamat kediaman Murasakibara, sebelum pandangannya tertuju pada sebuah bangunan kuno. Seakan menarik perhatiannya, Akashi kini mendekat kearah bangunan tua tersebut, ia melihat kearah sekitarnya, dan seketika pintu dari rumah itu terbuka secara perlahan.
Seolah memintanya untuk masuk, Akashi kini melangkahkan kakinya ke rumah tua itu. Bangunan tingkat dua dengan kayu yang telah lapuk, didalamnya terdapat banyak puing-puing yang telah tertimbun. Lalu ia melihat kearah sekitar untuk memastikan keadaan. Akashi Seijuurou, pemuda berumur 22 tahun yang memiliki Sixth Sense yang kuat sedari kecil kini melihat ke lantai atas, seakan sesuatu menarik perhatiannya untuk pergi ke tempat tersebut.
Ketika ia sampai di lantai atas, ia menemukan sebuah Shoji, pintu geser khas Jepang yang telah lapuk, namun ia tetap menggesernya secara perlahan. Ruangan tersebut masih terlihat ke-khas-an Jepang didalamnya, meskipun entah sudah berapa puluh tahun tidak berpenghuni.
Yang membuatnya makin penasaran ialah, mengapa bangunan yang telah tua ini tidak diruntuhkan? Hal ini membuat guratan rasa penasaran milik Akashi timbul. Saat melihat kearah jendela, yang langsung terhubung tengan taman pada bangunan tua itu bila terlihat dari atas, tiba-tiba suara kecil dapat terdengar dari belakang Akashi.
"Apa kau akan pergi meninggalkanku lagi?" Suara tersebut terdengar begitu lirih. Spontan, Akashi langsung menengok ke belakang, menemukan sesosok pemuda berambut Icy Blue dengan setelan Hakama yang kini sedang berdiri di belakangnya itu. Pandangannya begitu kosong, hampa.
"Kau.. Penunggu tempat ini?" tanya Akashi kepada pemuda berambut Icy Blue tersebut. Ia memang sudah terbiasa berkontak dengan mahkluk lain, sosok yang tampak transparant itu.
Pemuda berambut Icy Blue kini melihat kearahnya "Kau bisa melihatku?" tanyanya sambil memandang iris mata Heterochrome milik Akashi.
"Kalau bukan kau, memangnya pada siapa lagi aku berbicara" katanya tertawa kecil "Hey, siapa namamu?"
Pemuda berambut Icy Blue itu terdiam sesaat ketika Akashi menanyakan namanya, ia tersenyum tipis lalu mulai berbicara "Kuroko Tetsuya"
- xXx -
"Aka-chin~ kata Muro-chin kau habis dari bangunan tua itu ya?" tanya Murasakibara sambil menghias cake-nya. Saat ini Akashi dan Murasakibara berada di dapur kediaman Murasakibara. Akashi datang beberapa jam lalu ketika ia telah selesai berkunjung ke bangunan tua itu, dan pada saat ia keluar, ia menemukan Himuro Tetsuya berpapasan dengannya.
Akashi mengangguk "Entah mengapa aku tertarik untuk memasuki rumah itu, Atsushi" katanya sambil meminum coffee hangat yang baru saja ia buat.
"Kau melihat sesuatu disana, Aka-chin~?" tanya Murasakibara dengan suara yang datar "Rumah itu sudah berdiri dari ratusan tahun yang lalu, katanya beberapa orang yang hendak meruntuhkan tempat itu selalu saja tertimpa kecelakaan, makannya bangunan itu tetap dibiarkan hingga sekarang~"
"Kenapa aku tidak menyadari bangunan itu sewaktu dulu ya?" tanya Akashi sambil melihat kearah jendela.
"Mungkin karena kau tidak pernah bermain ke daerah sini, kan ~ ? Lagipula aku juga baru pindah ke daerah ini 3 tahun lalu~ "
"Hmm.." Akashi terdiam, ia melihat kearah coffee yang berada di gelasnya "Ne, Atsushi, Bagaimana hubunganmu dengan Tatsuya sekarang?" tanya Akashi mengalihkan topik.
"Muro-chin~? Ahh.. dia sangat perhatian, Aka-chin~ Meskipun hanya 2 jam, ia pasti menyempatkan waktu untuk melihatku, terakhir kali aku mengajaknya date kurasa minggu lalu~"
Akashi lalu tersenyum "Baguslah kalau hubunganmu berjalan lancar dengannya, semenjak kau kenalkan dia padaku melalui e-mail, aku bisa menebak ia akan menjadi orang yang berharga untukmu"
Murasakibara memberhentikan kegiatannya, dan pegi ke belakang Akashi lalu memeluknya dari belakang "Aku harap Aka-chin juga bisa menemukan seseorang yang berarti untuk Aka-chin~"
Akashi lalu tersenyum tipis, ia melepas pelukannya dari Murasakibara, mengelus kepalanya pemuda berambut Violet itu. "Segeralah kau selesaikan pesanan kue itu, hari sudah mulai larut."
Murasakibara lalu mengangguk dan kembali menyelesaikan Black Forest Cake yang sedari tadi ia buat.
- xXx -
Keesokan harinya, ketika Akashi telah pulang dari pertandingan shogi, dimana ia diminta menjadi pembicara tentang pertandingan tersebut, Akashi kembali melewati bangunan tua tersebut. Tanpa ia sadar, kakinya melangkah memasuki ruangan itu kembali.
"Kau datang lagi?" tanya Kuroko memecahkan keheningan didalam ruangan itu.
"Bila tidak, kau tidak akan menemukanku disini, Tetsuya" katanya sambil menatap wajah Kuroko.
Wajah Kuroko tampak sedikit merona "Kenapa.. kau datang kemari lagi?"
"Karena aku ingin bertemu denganmu."
"Apa kau menginginkan sesuatu dariku?" tanyanya sambil memiringkan kepalanya
Akashi lalu tertawa kecil "Ah, bukan. Aku hanya ingin mengobrol denganmu, tidak apa-apa, kan?"
Kuroko terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil "Bila Akashi-kun yang menginginkannya" katanya tersenyum kecil.
"Ah.. Apa aku pernah menyebutkan namaku sebelumnya? Kurasa aku lupa memberitahu namaku kemarin." Muka Akashi kini dililitkan oleh sebuah tanda tanya.
"Ah.. tidak, Akashi-kun sudah memperkenalkan dirimu kok, kurasa kau melupakannya" katanya sambil tersenyum.
'Kurasa aku belum menyebutkan namaku' batinnya dalam hati.
"Tetsuya, sejak kapan kau berada disini?" tanyanya sambil keluar kamar dan melihat bangunan tersebut. Kuroko Tetsuya kini mengikutinya dari belakang "Entahlah, kurasa sudah sangat lama"
"Kenapa kau masih belum tenang dan tetap bergentayangan? Apa ada sesuatu yang kau tunggu?" kini pertanyaan Akashi berhasil membuat Kuroko terdiam "Tetsuya?" Akashi melirik ke belakangnya, meskipun hanya sekilas, ia dapat melihat bahwa pemuda berambut Icy Blue itu memasang senyum sedih di wajahnya, meskipun tak lama ia samarkan dengan wajah datarnya.
"Aku hanya menunggu seseorang, Akashi-kun, tapi ia tidak pernah kembali" katanya sambil membuang mukanya kearah lain.
Akashi terdiam sejenak "Bangunan yang sangat luas" katanya mengalihkan pembicaraan "Kau tinggal disini, Tetsuya?"
"Hai, Akashi-kun" katanya sambil mengikuti langkah Akashi menuju sebuah tempat, ruangan tatami yang terletak di tengah ruangan, bersebrangan dengan taman yang Akashi lihat tempo hari dari kamar Kuroko.
"Ah.. tempat ini.. tempat yang 'ia' sukai. Tempat dimana 'ia' bisa melihat taman kecil beralunkan suara bambu yang mengalirkan air dari pancuran"
"Kau.. sangat menyukai orang itu, ya?" tanya Akashi yang memandang taman tersebut.
"Ia adalah orang yang sangat berharga bagiku, Akashi-kun"
- xXx -
Beberapa hari berlalu semenjak kedatangan Akashi ke bangunan tua tersebut. Akashi kini belajar banyak dari Kuroko, ia banyak bercerita mengenai masa lalunya, dan Akashi pun berbagi cerita dengannya. Akashi tau, bahwa Kuroko kini sedang menunggu seseorang, seseorang yang sangat disayanginya yang tak kunjung datang. Maka dari itu, dia tidak bisa beristirahat dengan tenang hingga sekarang. Namun Akashi tidak pernah menanyakan siapa orang itu, ia takut membuka luka lama yang terpendam dalam diri Kuroko. Hingga malam itu, Akashi tengah bermimpi sesuatu..
-Flashback-
Pemuda berambut Icy Blue terlihat sedang membaca buku, dipangkuannya terdapat pemuda berambut Merah yang sedang tertidur dengan pulas. Pemuda berambut Icy Blue kini memandang kearahnya, mengusap kepalanya dengan lembut.
Tak lama pemuda berambut Merah itu terbangun, terlihat mereka membicarakan sesuatu, lalu keduanya tertawa kecil. Pemuda berambut Merah kini berada dalam posisi duduk, memegang pipi dari pemuda berambut Icy Blue dan mengunci bibir mereka.
Beberapa kejadian terlintas pada mimipi Akashi saat itu
Ada saat dimana pemuda berambut Merah itu membawa pemuda berambut Icy Blue ke sebuah danau, mereka bercanda gurau disana. Pemuda berambut Icy Blue kini membuat karangan bunga yang dipakaikan ke kepala pemuda berambut Merah, sedangkan sebagai gantinya, pemuda berambut merah itu memasangkan sekelopak bunga yang menurutnya indah di dekat daun telinga pemuda berambut Icy Blue.
Lalu pada malam harinya, mereka melihat sebuah bintang dari atas bukit, pemandangan yang sangat indah. Angin malam membuat pemuda berambut Icy Blue tampak kedinginan, saat itu, Pemuda berambut merah melepas sehelai Yukata yang ia gantungkan di pundaknya sedari tadi, mendekap tubuh kecil pemuda berambut Icy Blue tersebut.
Dan kepingan kenangan terus mengalir dalam mimpi seorang Akashi Seijuurou.. hingga ssat itu tiba..
"Seijuurou-kun.. Jangan pergi! Kumohon, kau tidak bisa meninggalkan semuanya begitu saja, Paman pasti akan sedih mengetahui kau akan keluar begitu saja"
"Sudahlah Tetsuya! Cukup! Semua sudah cukup, kau bahkan tidak menginginkanku lagi, semua memaksaku, tidak ada seorangpun yang akan mengkhawatirkanku kelak bila aku menghilang nanti! Semua sudah terlambat, Tetsuya.. semua sudah terlambat!"
"Kenapa kau bilang begitu? Aku akan mengkhawatirkanmu, Seijuurou! Apa kau akan pergi meninggalkanku?" katanya sambil memegang lengan pemuda berambut merah itu, namun pemuda bermata heterochrome itu menempis tangan pemilik mata Baby Blue tersebut.
Dan pemuda berambut Merah itu pergi, membuka pintu rumahnya dengan paksa, dan berlari keluar, dan pada saat itu, sebuah kereta kuda melintas disampingnya, tubuhnya terhempas mengenai trotoar, kepalanya terbentur dengan besi yang berada di samping jalan. Dan darah keluar sangat banyak dari kepalanya. Dan saat itu, ia hanya bisa melihat wajah Pemuda Icy Blue berlari kearahnya sambil meneteskan airmata, setelah itu, semua buram, dan hitam.
-end of flashbakc-
Akashi terbangun dari mimpinya, ia langsung membuka matanya lebar sebelum ia duduk secara paksa, nafasnya tersengal-sengal. Ia meletakkan tangannya di dahinya "Mimpi itu.. Tetsuya? Dan pemuda berambut merah itu.. aku?"
Keesokan harinya, setelah pekerjaannya selesai, seperti biasanya ia langsung menuju bangunan kuno itu sebelum pulang ke rumah kediaman Murasakibara.
"Tetsuya.. apa dulu aku pernah mengenalmu? Apa dulu aku pernah hidup denganmu?" tanya Akashi ketika Kuroko menampakkan dirinya, senyum diwajahnya kini memudar ketika Akashi melontarkan pertanyaan itu.
"Kenapa..kau menanyakan hal itu, Akashi-kun?"
"Aku.. bermimpi" katanya memandang kearah Kuroko "Katakanlah, Tetsuya.. apa aku pernah mengenalmu?"
Kuroko kini terdiam, ia menunjukkan senyum tipisnya "aku mengenalmu, Akashi Seijuurou.. pada kehidupanmu sebelumnya" katanya dengan pancaran mata yang sedih .
"Sudah kuduga" katanya sambil mengepalkan tangannya, Akashi lalu memukul tembok disekitarnya dengan sebelah tangannya, sebelu ia keluar dari kamar Kuroko dan menuju lantai bawah.
Dari belakangnya, dapat terdengar suara Kuroko yang mengatakan sesuatu
"Apa kau akan pergi meninggalkanku lagi, Seijuurou?"
Lalu, kaki Akashi terhenti. Ia berhenti ketika Kuroko mengatakan hal yang sama, hal yang ia pernah lakukan dulu di kehidupan sebelumnya, yaitu meninggalkan Kuroko.
"Ne, Akashi-kun.. apa kau kan meninggalkanku?" dan kini, Kuroko telah berada didepan Akashi, menatap wajahnya, menatap sepasang iris Heterochrome milik Akashi.
"Tetsuya.. " Akashi dapat melihat pancaran mata yang menunjukkan kesedihan dimata Kuroko, kemudian ia memeluk Kuroko, meskipun pada saat ini ia tidak bisa memeluknya seutuhnya, namun ia gesturkan posisinya seperti sedang memeluk Kuroko.
"Maaf.. Maafkan aku, Tetsuya.. tapi kau boleh tenang sekarang, kau boleh pergi, aku tidak akan menahan kepergianmu lagi, karena aku tidak akan pernah melupakan janji diantara kita berdua. Maka dari itu, sekarang pergilah, giliran kau yang harus menepati janjimu padaku nanti" katanya sambil seolah memegang pipi Kuroko.
Lalu Kuroko tersenyum, senyum yang sangat hangat "Seijuurou.." tubuh Kuroko lalu bersinar, kepingan kecil seperti kunang-kunang kini keluar dari tubuh Kuroko "Dikehidupan selanjutnya.. kita harus bertemu ya?" katanya sambil meneteskan airmatanya "Dari dulu hingga sekarang, aku akan tetap menyukaimu, Seijuurou"
"Aku juga, Tetsuya. Di kehidupan kita selanjutnya, biarkan aku mencarimu" katanya sambil menghapus air mata Kuroko.
Dan Kuroko hanya bisa tersenyum "aku senang bisa bertemu denganmu kembali."
Dan tak lama, tempat tersebut pun menjadi sunyi, itulah kata-kata terakhir yang Kuroko berikan pada Akashi. Akashi dapat merasakan setitik airmata mengalir dari matanya. "Selamat jalan, Tetsuya"
.
.
.
.
.
- xXx-
Pemuda berambut Merah kini berjalan di koridor sekolahnya, sekolah yang ia telah pilih, yaitu Teiko. Ia melihat kearah langit sambil menikmati kesunyian disekitarnya. Suasana memang sudah sepi karena jam pelajaran telah usai, ketika ia berjalan, ia tidak menyadari bahwa seseorang berada didepannya, yang alhasil membuat keduanya bertubrukan dan terjatuh.
Pada saat itu, iris mata Heterochrome bertemu dengan iris mata Baby-Blue
"Ah, Maaf.. " katanya sambil menundukkan kepalanya
"Tidak apa-apa, harusnya aku yang meminta maaf karena tidak melihatmu" katanya sambil tersenyum kecil. "Hey, apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
Pemuda berambut Icy Blue itu memiringkan wajahnya, memandangnya dengan wajah yang datar "Hmmm… mungkin? Aku rasa aku pernah melihatmu sebelumnya" katanya tersenyum kecil.
"Ah, mungkin kita pernah berpapasan di koridor atau semacamnya. Namaku Akashi, Akashi Seijuurou, kau?" tanya Akashi sambil menyodorkan tangannya
"Kuroko Tetsuya" balasnya sambil menjabat tangan milik Akashi
- ~ Owari~ -
