Disclaimer: I am not, in any way, take any profit from the story and that all creative rights to the characters belong to their original creator(s). Naruto © Masashi Kishimoto.
Jejak Bulan di Atas Air
blackpapillon
10. Intrik
.
.
Daerah utara adalah wilayah yang sangat dingin. Di musim semi pun angin tetap berhembus kencang dan dingin. Hanya hujan yang menggantikan salju di musim semi. Dan di daerah paling ujung—sebuah hutan dengan pohon yang besar-besar, berada tersembunyi di balik gunung. Di ujungnya terdapat sebuah tebing. Sebuah pintu besar aneh terpampang di dinding sebuah tebing batu yang terjal. Angin berhembus kencang—nyaris bagaikan topan, namun pintu besi itu sama sekali tak bergeming.
Begitu juga dengan obor-obor yang dipasang di dinding bagian dalam. Di balik pintu besi itu terdapat lorong-lorong serupa gua, dengan dinding yang bercahaya keemasan karena api. Ada pintu-pintu besi lagi dengan ukiran di permukaannya. Pintu yang sangat besar terpatri di ujung lorong, yang merupakan pintu menuju ruangan besar di baliknya. Tak akan ada yang tahu di balik pintu besi di luar terdapat ruangan sebesar ini. Sebelumnya tebing ini adalah gua yang dipakai semasa perang dulu, namun kini perang sudah berakhir. Pintu itu tersegel selama puluhan tahun dan tak terjamah lagi. Tak ada lagi yang memedulikan gua itu. Siapapun tak akan menyadari gua itu diam-diam telah dibuka segelnya dan ada yang meninggali tempat itu sekarang.
Tak akan ada yang menyadari ada kehidupan di dalam gua itu.
"Para duta itu sudah datang?"
"Ya, tuan."
"Apa kita mesti bergerak sekarang, tuan?"
Lelaki yang duduk di kursi itu tersenyum dingin. Diangkatnya gelas anggurnya tinggi-tinggi. "Tidak perlu," kata pria itu ogah-ogahan.
Orang-orang yang ada di ruangan itu mengernyitkan dahi.
"Eh?"
Pria itu tak bergeming dari kursi kebesarannya.
"Santailah saja dulu. Tapi bila tiba waktunya… kau," dia mengangkat jemarinya dan mengarahkan jari telunjuknya ke arah seseorang yang berdiri di paling pojok—sedari tadi minum dengan diam-diam dari gelasnya, "majulah dengan hati-hati. Tapi tidak sekarang." Desis orang yang disebut 'tuan' itu.
Orang itu menganggukkan kepala dengan takzim.
"Baik."
Tak perlu buru-buru dalam mengambil langkah…
.
"Terima kasih atas kehadiran anda semua," kata Sakura memberi salam penutup. Teh telah selesai disajikan. Baik teh utama maupun teh penutup. Makanan sudah selesai diedarkan dan para tamu sudah dapat rileks. Ia pun dapat berbaur dengan para tamu. Beberapa orang masih berada di dalam washitsu, namun sebagian besar sudah berada di luar, kembali menikmati keindahan taman. Sakura bangkit dan keluar dari washitsu. Ada orang yang ingin kita temui.
Gadis itu berjalan mengelilingi taman, melihat tamu-tamu yang datang, sesekali memberi salam—eh, tidak, berkali-kali—sampai pegal rasanya. Seorang tamu pria dengan model rambut aneh dan pakaian terusan hijau dari ujung kepala sampai ke ujung kaki bahkan mencoba menjabat tangannya keras-keras (untung para penjaga langsung menghalangi orang itu). Sakura berjalan dengan agak buru-buru, sampai akhirnya…
BUG
…menabrak seorang pria.
.
Sakura mundur secara refleks. "Maaf, aku melihat sembarangan hingga menabrak anda…"
"Tak apa-apa," lelaki itu berkata lirih; nyaris seperti desisan, "untunglah minuman ini tidak tumpah."
Sakura perlahan mendongakkan kepala. Sejenak tampak kaget dan langsung terkesiap. Namun ia dapat menjaga ekspresi wajahnya.
"Ga…Gaara-san."
Gaara sama sekali tak tersenyum. Namun bukan berarti dia kesal, karena wajahnya juga tidak menunjukkan ekspresi bengis. Tangannya memegang cawan teh yang miring, namun tertahan oleh selaput aneh berwarna kuning. Sakura segera berbalik. "Permisi!" katanya cepat, dan ia langsung berjalan melewatinya. Ia melihat ke arah pojok taman dan melihat orang yang dicari.
Gaara menatap gadis yang pergi buru-buru itu dalam diam.
"Selamat siang," katanya, "terima kasih kalian sudah datang."
"Tentu saja aku datang, Sakura-chan!" sorak Naruto riang sambil melambai-lambaikan tangannya ke arah Sakura yang berjalan ke arahnya, "makanannya enak, tapi durasinya sebaiknya jangan terlalu lama, ya? Kakiku pegal dan kesemutan…" katanya sambil setengah berbisik.
Sakura tertawa mendengarnya. "Aku juga menganggap itu terlalu lama," sahut Sakura, membuat Naruto nyengir lebar. Sakura beralih kepada seorang pria yang sedang meminum tehnya dengan tenang, bersandar pada dinding. Gadis itu tersenyum dan menghampirinya.
"Terima kasih karena kau mau datang, Sasuke-san," kata Sakura memberi salam. Pria itu menoleh.
"Terima kasih juga karena aku sudah diundang," jawab Sasuke, "dan jangan panggil aku dengan embel-embel seperti itu, membuat kuping gerah saja."
Wajah Sakura tiba-tiba memanas—lagi-lagi—membuat gadis itu kesulitan menyembunyikan rona merah yang muncul dari wajahnya.
"Lalu, Sasuke-sa—"
"Begitu saja cukup," potong Sasuke tegas.
Mereka berdua terdiam. Namun akhirnya Sakura tersenyum.
.
"Baiklah, Sasuke."
Sasuke menatap gadis itu sebentar, namun kemudian memalingkan wajahnya, seakan-akan tak ingin gadis itu melihat ekspresi wajahnya. Terdengar sedikit suara tawa Sakura, membuat pria itu kembali menoleh dan mendengus agak kesal. Sakura kembali tersenyum. "Apa upacara minum teh tadi cukup lama?" tanya Sakura tiba-tiba.
"Eh?" Sasuke menoleh, "lama kenapa?"
"Karena Naruto menganggap upacara tadi sangat lama sampai membuat kakinya pegal," jawab Sakura, "tapi tak hanya dia yang beranggapan begitu. Aku pun beranggapan sama. Tadi aku takut tak dapat melakukannya dengan lancar karena durasinya terlalu lama…"
Sasuke menyandarkan tubuhnya ke pilar, tak menjawab pertanyaan Sakura. Namun ia menatap wajah gadis itu, lama, sampai akhirnya ia mengatakan sesuatu.
"Kau melakukannya dengan baik."
.
.
Gadis itu merasakan wajahnya berubah warna.
"Oh, ya? Terima kasih."
Di belakang mereka, Naruto menyemburkan minumannya sampai tumpah ke pakaian dengan gaya yang berlebihan. "S-s-sasuke," Naruto berbisik gemetar dengan ekspresi nyaris tak percaya, "Sasuke baru saja memuji orang, kau dengar, Sai?"
Sai melirik Naruto yang berdiri di sebelahnya—tanpa sedikit pun bersimpati untuk membantu Naruto yang kebasahan—lalu Sasuke yang masih mengobrol dengan tuan puteri mereka. NarutoSasukeNarutoSasukeNarutoSasukeNarutoSasuke—
Berikutnya, lelaki itu tersenyum.
"Ya, bagus, kan? Sedikit perubahan baginya. Itu bagus."
Tatapan Naruto berubah aneh ke arah Sai, bagaikan kakek-kakek melihat keadaan comiket yang penuh dengan otaku. Sulit sekali memang menjelaskan fenomena alam luar biasa yang baru saja terjadi beberapa menit yang lalu pada orang (sok) baik dan terus tersenyum dengan wajah-tanpa-dosa seperti ini—sepertinya malahan mungkin dia yang lebih dingin, pikir Naruto agak menggerutu.
"...sepertinya kau sama sekali tak mengerti hal bernama 'emosi manusia', ya, Sai... aku tak bisa membayangkan kalau kau nanti menikah dan punya anak."
Sai tertawa kecil mendengarnya, "apa? Aku masih bisa peduli pada orang lain, kok."
"Oh, ya?" Naruto menoleh ke arah Sakura dan Sasuke, lalu ke arah Sai dan kemudian mencibir. "Lebih baik aku mencari Hinata, di mana dia, ya? Eeeh, tapi aku untuk apa aku mencari dia? Aaah, sudahlaaah!" ia mulai menggerundel sendirian.
.
.
benar, kok!
"Selamat siang, Sakura-hime," sapa seseorang, memotong percakapan Sakura dan Sasuke. Mereka berdua menoleh dan melihat seorang gadis berpakaian putih yang sedang memainkan kipas mungil yang dipegangnya. "Terima kasih atas tehnya. Anda sangat pandai meraciknya," kata wanita itu.
Sakura menganggukkan kepalanya senang, "Sama-sama, Temari-san," jawabnya, lalu menoleh ke arah Sasuke. "Oh, ya… Temari-san, ini salah satu dari kelima jenderal Konoha, Uchiha Sasuke. Dia pemimpin pasukan malam… kurasa kalian tadi belum sempat berkenalan?"
Temari menatap Sasuke dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu tersenyum anggun. "Ya, aku memang sedang akan memberi salam pada para jenderal pasukan ini karena tadi kami hanya sempat bertatap mata… salam kenal, Uchiha-san. Dari kabar yang kudengar, kelima Jenderal Konoha masih berusia sangat muda… namun tak kukira semuda ini. Sekitar… sembilan belas, atau dua puluh tahun, mungkin?" kata Temari, menebak-nebak, sembari mengulurkan tangannya.
Sasuke menatap wanita itu tajam.
"Tahun ini dua puluh tahun."
"Oh," wanita itu tersenyum mendengarnya, "berarti kau seusia dengan adikku. Ya 'kan, Gaara?" ia menoleh ke arah pria yang sedang berdiri diam di belakangnya. Mendapat perlakuan seperti itu, pria berambut merah itu mendengus dan mencibir.
"Adikmu?" tanya Sasuke agak sangsi, "kalian kakak-beradik?"
"Yup, tentu saja. Aku belum menerangkan kalau kami bertiga kakak beradik, ya?" wanita itu mengibas-ngibaskan tangannya dengan tak sabar, "Kalian sebaiknya juga saling kenal, karena kalian mirip… Baiklah, aku mau memberi salam para pemimpin pasukan yang lain dulu," katanya sambil melenggang pergi.
Sakura hanya angkat bahu. "Oh ya, Gaara-san… maafkan aku ya, atas kejadian tadi," kata Sakura.
Graara mengangguk, "kau 'kan tadi sudah minta maaf."
"Tapi rasanya aku masih merasa tidak enak padamu," kata Sakura, "tapi syukurlah kalau kau tak merasa terganggu!" ujarnya riang. Sasuke mengernyitkan kening, tak mengerti apa yang mereka bicarakan.
"Memangnya, apa yang terjadi tadi?" tanya Sasuke.
"Eh… tadi tanpa sengaja aku menabrak Gaara-san saat menuju kemari," jelas Sakura. "Aku lega Gaara-san tidak tersinggung, karena aku tadi hanya minta maaf sekenanya."
"Oh."
Sepi lagi.
"Emmm…" Sakura menggigit bibir, mencoba mencari topik yang cocok untuk mereka bertiga, "Gaara-san, apa kau tadi merasa kalau upacaranya terlalu lama?" tanyanya mendadak.
Sasuke mendelik. "Kau menanyakan hal itu pada semua orang?"
Gadis itu hanya tersenyum nakal, "aku hanya ingin tahu apakah ada orang yang berpikiran sama denganku, tak masalah kalau dia tak ingin mengatakan jawabannya. Karena sama seperti Temari-san, aku juga menganggap kalau kalian—" mendadak Sakura menghentikan ucapannya di tengah jalan.
Alis Sasuke terangkat tak mangerti. "Maksudmu?"
"Ti… tidak, kok. Ah… Sasuke, aku pergi ke tempat ayah dulu. Gaara-san juga, permisi…" Sakura membungkukkan badannya sedikit, lalu bergegas pergi dari sana, meninggalkan Sasuke dan Gaara yang memandang gadis itu dengan tatapan heran. Sakura jadi merasa canggung berada di antara mereka. Atmosfernya jadi terasa berbeda. Ia segera pergi ke tempat di mana kaisar berada.
Sakura melirik kedua sosok (yang tampaknya masih saling diam) itu dari jauh, hanya sekilas. Nyaris saja ia meneruskan kalimatnya tadi. Ya, dalam hatinya, ia menyetujui kata-kata Temari, bahwa mereka berdua ada kemiripan satu sama lain. Tentu saja bukan dalam masalah penampilan, karena dari luar mereka benar-benar berbeda. Tapi ada hal yang entah kenapa memunculkan aura kemiripan dari mereka.
Setelah ini, mungkin akan ada sesuatu.
"Salam kenal, aku Temari. Kita tadi memang sudah bertemu, tapi kita belum saling memperkenalkan diri."
Naruto mendongakkan kepalanya. Lalu tersenyum lebar. "Tentu, tentu! Namaku Uzumaki Naruto! Kau bisa panggil aku Naruto!" jawab Naruto sambil mengulurkan tangannya, "aku pemimpin pasukan Harimau!"
Temari menganggukkan kepala, "apa kalian semua seumur? Kelihatannya semua jenderal Konoha sebaya," ujarnya.
"He? Oh, ya, ya—umur kami rata-rata sembilan belas-dua puluhan. Tapi Neji paling tua di antara kami, usianya dua puluh satu tahun. Tahun ini aku dua puluh tahun, begitu juga Sasuke dan Sai. Sedangkan Shikamaru sudah dua puluh tahun." jelas Naruto. Ia berpaling ke arah teman-temannya dan memanggil mereka. "Hei, kalian! Ke sini juga, dong!"
Sai bangkit dari duduknya, lalu mendekati wanita itu. "Namaku Sai. Senang bertemu denganmu, aku pemimpin pasukan angin."
Temari menoleh ke arah Neji yang sedang membaca buku. "Kau pasti Hyuuga Neji. Aku dapat mengenalimu dari matamu."
Neji menghentikan kegiatannya. Memperhatikan gadis itu sejenak, lalu menjawabnya dengan jawaban singkat, "Ya. Aku pemimpin pasukan Elang."
"Ah... sepertinya nama-nama pasukan kalian tidak berhubungan satu sama lain, ya?" komentar Temari.
"Begitulah," jawab Sai. "Itu bukan nama resmi. Kaisar saja yang gemar menyebut kami dengan sebutan seperti itu. Katanya agar mudah dibedakan. Dalam kenyataannya, di atas kertas pasukan kami tidak memiliki nama, hanya disebut berdasarkan pemimpinnya saja. Tapi sepertinya rakyat juga gemar menyebut kami dengan nama itu."
"Ya... kami sempat berdialog dengan mereka sebantar dalam perjalanan ke sini, dan rakyat heboh sekali membicarakan kalian."
"Eh, Eh? Mereka bicara tentang aku? Aku? Apa yang mereka katakan?" tanya Naruto, mendadak bersemangat. Temari tersenyum melihatnya. Sedangkan Neji sudah mencibir.
Dasar mau dipuji... tapi, dia mendengarkan juga penjelasan Temari.
"Para wanita banyak membicarakan Uchiha-san dan Hyuuga-san. Katanya mereka tampan dan berbakat," kata Temari. Dia tertawa kecil. "Tapi banyak juga yang membicarakanmu, Sai-san. Katanya kau memiliki ketenangan yang tak dimiliki pemimpin pasukan lainnya. Dan Naruto sering dibicarakan anak-anak... para orang tua juga membicarakan pemimpin pasukan yang bernama Nara Shikamaru. Eh—" wanita itu kini tampak kebingungan, tampak mencari-cari. "Aku sepertinya belum bertemu dengan pemimpin pasukan yang satu lagi?" tanya Temari.
Neji, Sai, dan Naruto saling berpandangan. Berikutnya Naruto tergelak, yang malah membuat Temari lebih bingung. Sampai akhirnya Sai berinisiatif buka suara, karena Neji memilih diam (sepertinya karena dia juga menahan tawa. Sepertinya...).
"Dia ada di depanmu," katanya, sambil menunjuk ke sosok pria yang sedang tertidur di bangku di hadapan Temari.
Temari terbelalak. Orang ini? Sosok agak kurus dengan rambut berkuncir tinggi, mata terpejam dan mengeluarkan suara dengkuran halus. Wanita itu merasa jalan pikirannya melambat. Setahunya, pasukan yang dipimpin Nara Shikamaru adalah pasukan strategi. Tadinya ia kira orang ini akan berupa orang yang serius dan berkacamata, tapi...
"Maksud kalian, dia?" tanyanya pada ketiga pria itu, yang langsung ditanggapi dengan anggukan sinkron.
Tapi dia kan sedang tidu—...
BUAAAKKKK
Terdengar suara hantaman benda tumpul. Detik berikutnya, yang mereka lihat adalah gadis pirang yang baru saja memukul kepala orang itu dengan Tangannya. Temari melompat mundur karena kaget. Ada apa lagi ini?
"SHIKAMARUUUUU!" Teriak Ino emosi, masih dengan seragam iromuji-nya yang berwarna ungu, "JANGAN TIDUR DI ACARA PESTA RESMI! DASAR BODOH!"
"Ukh!" Shikamaru bangun sambil mengusap-usap kepalanya yang kesakitan, "aku tahu, tapi kau tidak usah memukulku seperti itu, kan?" katanya sebal. "Dasar cewek bengal—"
"APA KAU BILANG?"
"Haaaaaaaaaaaah," Shikamaru menguap lebar, membuat wajah gadis itu makin sewot, "perempuan memang merepotkan—" ia mengangkat lengannya dan melakukan peregangan tubuh seperti kucing, lalu melihat sekeliling. Oh, pesta masih berlangsung. Berarti dia baru tidur sebentar, baguslah. Namun matanya menangkap sosok yang tidak ia kenal. "Siapa kau?" tanyanya pada Temari.
Temari—masih shock atas keadaan yang terjadi—hanya menggumamkan nama pelan.
"Oh ya, kau duta dari Suna itu, ya?" ia menatap wanita itu sekenanya, dan langsung beralih pada Ino. "Sekarang, lebih baik kau pergi dan lanjutkan saja tugasmu, babi, dan aku akan berterima kasih kalau kau mau meninggalkan tempat ini, oke?" katanya malas. Ino menjulurkan lidah dan beranjak pergi dari situ, setelah menawarkan nampan berisi minuman kepada Naruto dan Neji.
Shikamaru menguap lagi, duduk lagi, dan berikutnya sudah mendengkur lagi. Ketiga temannya mengedikkan bahu.
Temari menggeleng-gelengkan kepala. Sepertinya aku sudah bertemu dengan orang yang aneh... dasar.
"Apa maksudnya..." desis Sasuke pelan, sambil memperhatikan gadis yang sekarang sedang bersama kaisar itu. Ia tak sempat menangkap maknanya, karena tadi Sakura juga tidak tuntas mengatakannya.
Gaara menyeringai.
"Mungkin, soal bahwa katanya kita berdua mirip?"
Mata Sasuke berubah tajam. Dia? Dia mirip dengan orang aneh berambut merah dengan lingkaran hitam di bawah matanya itu? Yang benar saja! Sasuke diam, sama sekali tak tertarik menanggapi ucapan pria berambut merah itu. Namun orang itu kembali memancing.
"Kurasa itu bisa dibilang benar, meskipun tidak seluruhnya benar."
Sasuke mendelik. "Aku sedang tak ingin mencari-cari masalah dengan orang lain."
"Aku tidak sedang mencari-cari masalah dan bukan soal itu yang aku maksud," kata Gaara tenang tanpa emosi. "Aku tahu kau sama denganku."
.
.
"...maaf?"
Sasuke mendongakkan kepala dan menatap lelaki itu dengan tatapan ganas. Sungguh, sepertinya kehadiran orang ini di dekatnya hanya membuat emosinya naik saja. Ditariknya napas dalam-dalam. Diletakkannya gelas yang sedari tadi dipegangnya, lalu menegakkan tubuhnya tanpa sedikit pun melepaskan tatapannya pada lelaki itu.
"Apa maumu?" tanya Sasuke, agak kasar kali ini.
Gaara menyeringai. Tepat sasaran. Senyum dingin jelas terpampang di wajahnya. "Aku sudah mencari tahu latar belakang tentang kalian, para pemimpin pasukan, sejak lama. Dan aku menjatuhkan pilihan padamu."
Padaku?
Hanya itu pertanyaan yang terlintas di benak Sasuke. Apa yang akan dikatakan lelaki aneh ini? Soal apa yang ia bicarakan?
"Aku ingin membandingkan kekuatanku dengan kekuatanmu."
Bersamaan dengan itu, tubuh lelaki itu pun menghilang dari hadapan Sasuke. Berlalu dan kelihatannya kembali berbaur dengan tamu lain. Meninggalkan beberapa pertanyaan yang akhirnya dapat dijawab sendiri oleh lelaki itu.
...berarti... bertarung.
.
.
.
To Be Continued
Terima kasih untuk Hatake gHee, Azumi Uchiha, M4yura, . . (KonoBi? Hmmm...), Hazelleen, Akina Takahashi, Karupin69, Faika Araifa, Sora Aburame, Rin Kajuji, Hime-Baka, Miyu201,.Bulanbiru., Sabaku No Ray, eye-of-blue, Yozora Ageha, Mademoiselle Moony, . -chan, Pink-Violin, Moo-chan the authoress, AriaTheCheshireCat, Yvne-devolnueht, Maa-Chan-tik, X-Tee, , Uchiha Yuki-chan, Inuzumaki Helen, Aero-Dragon Warrior, Reikahikaru, Toya terumi, philip william-wammy, Cherrie Fukaya, dan nama-nama lain yang mungkin kelupaan, mohon maap...
Okay, si Non Blekpappi ini udah cape! Silakan menunggu chapter selanjutnya!
Terima kasih sudah membaca.
Blackpapillon
