Kuroko no Basuke Fanfiction
Drabble - 16 (Part I)
Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi
Tecmo - Fatal Frame series
Rating : T
Warning : Failed!Horror, Maybe OOC
Pair : Akakuro, AoKi (hint)
A/N : Hallo, Minna-san.. :D Deadline yang banyak akhir-akhir ini ngebuat author ga bisa buat fic *sigh* Mungkin buat kedepan author akan update setelah selang beberapa minggu karena beberapa Project yang harus diselesaikan. Gomen ne *bow*
Buat cerita di chapie sebelumnya, mungkin ada beberapa yang kebingungan ya? biar Author jelaskan :)
Didalam dunia tersebut, terdapat manusia dan beberapa makhluk lainnya seperti demon, dan para demon itu mempunyai petinggi mereka, atau penguasa mereka sesuai dengan element mereka masing-masing. Contohnya Fire Demon, ia adalah salah satu pengikut dari Guardian of Fire, yang notabene adalah penguasa atau raja dari Fire Demon tersebut. Dan perintah penguasa itu absolut kepada anak buahnya. Lalu Judgement, Judgement adalah seseorang dengan tingkatan yang berada di atas para Guardian dari berbagai element, ia semacam hakim yang memutuskan layak atau tidaknya seorang demon menjadi penguasa. Lalu, masalah kepribadian Seijuurou, Seijuurou yang author buat di chapie sebelumnya itu seperti 2 orang yang berada di dalam 1 tubuh. Saat Seijuurou memanggil Tetsuya dengan sebutan "Kuroko" itu adalah Seijuurou yang Kuroko kenal selama ini, sedangkan Seijuurou dengan mata Heterochrome adalah Seijuurou "lainnya", kalau istilah di manganya, mungkin "Emperor".
Tema kali ini author mengambil dari penggabungan Fatal Frame series, kalian tahu kan? Game Horror yang memakai kamera itu? Karena author salah satu penggemar berat series ini, Author mencoba menggabungkan fic ini dengan beberapa bumbu fatal frame didalamnya. Mungkin bagi yang tidak tahu tentang fatal frame bisa menanyakannya pada abah Google?
Nah, kalau kalian salah satu yang ngikutin series Fatal Frame, silahkan tebak siapa aja Ghost list yang author masukan dalam fic ini :3 author mengambil dari setting Fatal Frame I-IV. Dan fic ini akan author bagi menjadi 2 bagian, karena author menyadari kalau disatukan akan sangat panjang, makannya author membaginya jadi 2 bagian.
Sekian kata dari author, semoga kalian suka :D
Thankyou for all review, favorite, alert, following, even the silent readers.. and thank you for all your support and PM, it's really a good things that you all actually enjoy this story.. thank you :D
Happy Reading, all..
With Love,
Zelvaren Yuvrezla a.k.a ren-chanz
If you have a chance to meet someone that so precious to you and whoever s/he already dead.. What will you do?
Hal ini bermula ketika kami hendak pulang kembali menuju Tokyo. Hampir 5 bulan semenjak kejuaraan Winter Cup berlangsung, semenjak kejadian itu, sekarang, para anggota Kiseki no Sedai pun kembali berkumpul seperti dahulu.
Sesuai dengan permintaan, atau mandat dari Akashi Seijuurou yaitu mantan Captain Teiko dan Captain Rakuzan sekarang, mereka semua pergi liburan selama 4 hari 3 malam disebuah Villa disekitar pegunungan, dan jalur tersebut hanya bisa dilewati oleh 1x penurunan kereta dan 2x penurunan Bus. Mereka pun bertemu satu sama lain dan berangkat bersama menuju tempat tersebut.
Kami semua menikmati kebersamaan yang telah lama menghilang itu, seperti pada awal-awal tahun dimana Kiseki no Sedai terbentuk. Semua berkumpul dengan bahagia, bercanda gurau, dan beberapa kali bahkan kami bermain basket disana, karena di halaman Villa tersebut terdapat sebuah lapangan basket.
Namun, sebuah kejadian yang tidak terduga terjadi. Pada saat Kiseki no Sedai itu hendak pulang kembali menuju Tokyo, bulan sudah menunjukkan permukaan wajahnya. Para anggota Kiseki yang telah lelah pun tertidur sejenak, sebelum kereta yang mereka naiki berguncang dengan sangat keras, membuat para penumpang didalamnya terbangun.
Dan satu hal yang mereka ketahui.. mereka terjatuh..
.
.
.
.
"Aw! Aw! Aww! Hidoiii~~!" rengek pemuda berambut pirang yang terkapar di sebuah tanah berlapir rerumputan kecil.
"Oi! Kalian semua baik-baik saja!?" Kini pemuda berambut Navy dengan kulit Tan langsung beranjak berdiri dan melihat kearah sekitar. Mereka semua telah terlempar keluar kereta, yang entah bagaimana caranya.
"Ah~ snack-ku masih ada~" kata Murasakibara Atsushi, pemuda berambut Violet dengan nada datar khas-nya itu.
"Rasanya ini bukan hal yang tepat untuk memikirkan snack, nanodayo" tambah pemuda berambut Hijau sambil mengambil kacamatanya yang terjatuh saat ia terhempas keluar kereta.
"Sebenarnya apa yang terjadi-ssu! Kenapa kereta yang kita naiki tiba-tiba berguling.. dan dimana ini!" Kise Ryota kini agak panik sambil berdiri untuk melihat keadaan sekitar.
"Kenapa hanya kita yang keluar kereta! Dimana penumpang yang lainnya?" kini Aomine melihat kearah sekeliling, namun hanya rumput dan bebatuan yang terlihat oleh mereka.
Kini mereka mulai panik, bahkan Midorima mencoba mengecek ponselnya, namun ia tidak menemukan sinyal yang terdapat dilayar handphone-nya itu. Begitu pula yang terjadi dengan yang lainnya.
"Diam semua" Hanya dengan 2 patah kata sang Mantan Captain Teiko, semua pun terhenti dari kepanikan mereka "Tidak ada gunanya bila kalian panik, lebih baik kita mulai menyelidiki dimana posisi kita saat ini" katanya sambil menghela nafas.
"Akashi-kun betul, tapi.. aku sama sekali belum pernah melihat tempat ini sebelumnya. Apa karena kereta kita terjatuh kebawah, makannya kita tidak familiar dengan tempat ini?" kata Kuroko Tetsuya, pemuda berambut Icy Blue yang tampak tidak panik, atau ia berusaha untuk menyembunyikan kepanikan dibalik wajah datarnya itu. Saat ini ia duduk disebelah pemuda berambut Scarlet yang tampaknya melihat kearah sekitar.
"Sebutkan nama kalian dan beritahu kondisi kalian saat ini. Sekarang" titah Akashi sambil melihat kearah teman-temannya itu.
"Oi, kenapa harus menyebutkan nama ju—" ucapan Aomine kini terhenti ketika menyadari pelototan seorang Akashi Seijuurou yang melihat kearahnya.
"errr… Aomine Daiki, lenganku sedikit lecet, sepertinya ketika terhempas keluar dan mengenai kerikil disini, tapi tidak ada luka yang berat"
"Kise Ryota, aku baik-baik saja-ssu, kecuali kepalaku yang rasanya masih berputar-putar karena goncangan kereta itu" katanya sambil meletakkan tangannya dimulutnya.
"Midorima Shintarou, tidak ada luka, hanya kacamataku agak retak. Dan, dimana benda keberuntunganku, nanodayo?" ia lalu melihat kearah sekitar dan tidak menemukan apapun.
"Murasakibara Atsushi~ tidak ada luka dibadan, Cuma snack-ku jadi gepeng semua, Aka-chin~" katanya sambil menunjukkan ekspresi yang sedih.
"Kuroko Tetsuya.. kakiku.. tergilir"
Dan semua kini serentak melihat kearah pemuda berambut Icy Blue tersebut.
"Kau bisa berjalan, Tetsuya?" tanya Pemuda beriris Heterochrome sambil memegang pergelangan kaki Kuroko.
Kuroko sedikit teringis ketika kakinya tersentuh oleh Akashi. Menyadari perubahan ekspresi Kuroko yang nyaris tidak terlihat itu, Akashi pun menghela nafas.
"Daiki, gendong Tetsuya di pundakmu sampai kita berhasil menemukan tempat terdekat yang bisa kita kunjungi." Aomine lalu mengangguk dan menghampiri Kuroko.
Lalu, sebelum berdiri, Akashi memegang keningnya sesaat, sebelum ia membuka mulutnya sambil menutup mata "Akashi Seijuurou, tidak ada yang terluka, namun aku khawatir bahwa kita semua akan melewati malam yang panjang saat ini. Persiapkan mental kalian semua, jangan sampai terpisah satu sama lain, dan ikuti semua titahku"
"Akashicchi.. kenapa kau berkata seolah-olah.." wajah Kise kini agak memucat, ia berharap apa yang ia dengar selanjutnya bukanlah sesuatu yang ingin ia dengar.
"Ryota.. sebisa mungkin jangan sampai kau banyak berteriak, dan Atsushi, kuminta agar kau tidak memakan snack-mu selama perjalanan kita kedepan, karena kita akan melewati banyak Yurei untuk keluar dari tempat ini" ucapnya dengan serius.
Dan kini semua anggota Kiseki no Sedai menelan ludah mereka. Akashi Seijuurou memang dikaruniai kekuatan spiritual yang tinggi, ia bisa melihat apa yang orang lain tidak bisa lihat. Dan, ada saat dimana ia mengatakan bahwa mereka harus menyiapkan mental mereka, itu berarti mereka harus berhadapan dengan makhluk dari dunia lain yang tampaknya tidak akan bersahabat dengan kehadiran mereka saat itu.
- xXx -
Mereka berjalan melewati beberapa pepohonan, seolah terhempas menuju hutan yang tidak berpenghuni, atau bahkan nyaris tidak memiliki hawa keberadaan makhluk hidup. Akashi Seijuurou kini memandang kearah langit, bulan tengah menunjukkan Fullmoon-nya dengan indah dan terang. Hanya sinar dari rembulan itu satu-satunya penerangan yang mereka miliki saat ini.
Suasana masih terlihat sangat tegang, Akashi tidak banyak berbicara, atau lebih tepatnya ia memutuskan untuk tidak banyak berbicara untuk menghilangkan rasa kekhawatiran rekannya itu. Mereka berjalan menyelusuri hutan itu dan menemukan beberapa kupu-kupu merah, Crimson Butterfly yang tampaknya sedang berkumpul di depan sebuah Mansion tua, satu-satunya Mansion yang terhubung dengan hutan itu.
"Sepertinya tidak ada jalan lain, kita harus melewati rumah ini bila kita ingin keluar dari tempat ini" Akashi kini melihat kearah sekitar. "Daiki, kau masih sanggup membawa Tetsuya?"
"Ini sih tidak masalah!" kata Aomine sambil berseringai, namun ketika Akashi memegang lengan Aomine, orang yang bersangkutan meringis kesakitan.
"Atsushi, gantikan Daiki dan bawa Tetsuya" katanya sambil memandang kearah Murasakibara yang mengangguk.
"Maaf membuat kalian repot" kata Kuroko dengan nada yang sedih.
"Ini kan bukan sesuatu yang kau lakukan secara sengaja, Kuroko. Jadi jangan salahkan dirimu, nanodayo"
"Betul apa kata Midorimacchi, Kurokocchi~" kini Kise menepuk pundak Kuroko.
"Jangan protes bila kugendong lho, Tetsu!"
Kuroko lalu tersenyum "Terimakasih, semuanya"
Hal pertama yang mereka sadari ketika mereka semua memasuki mansion tua itu, hawa dingin langsung menyelusuri permukaan kulit mereka. Ditambah dengan suasana tempat yang gelap tanpa penerangan, meskipun mereka masih bisa melihat keadaan sekitar secara samar-samar.
Kise langsung memeluk lengan Aomine. Aomine yang awalnya ingin protes lalu mengurungkan niatnya ketika melihat kearah Kise yang mati-matian menahan rengek-an ketakutannya saat itu. Akhirnya Aomine mengelus kepala Kise untuk sedikit menenangkannya.
Akashi memimpin mereka menyelusuri sebuah lorong, lorong yang terbilang cukup panjang dengan lantai kayu yang tampaknya sudah agak lapuk. Dan disebuah pertigaan, Akashi menyuruh mereka semua untuk berdiam dan bersembunyi dibalik sebuah penyekat ruangan yang tak jauh dari tempat mereka berdiri saat ini sambil menundukkan kepala mereka.
Tak lama secara sayup-sayup dapat terdengan suara lirih, suara seorang perempuan yang bergumam melewati mereka, yang tentunya hanya Akashi yang dapat melihatnya. Perempuan itu terus berkata-kata "Are you leaving me again? Ne, Oneechan.. are you leaving me again?" dan kata-kata itu terus terucap oleh perempuan itu, perlahan suara tawa kecil dapat terdengar dibalik ucapannya yang terdengar pilu itu, dilanjutkan dengan tawa histeris, tawa yang berhasil membuat bulu kuduk mereka berdiri.
Suara mereka semua tercekat, bahkan Midorima kini sibuk menutup mulut Kise yang nyaris berteriak, sedangkan Aomine memeluknya dari belakang untuk menenangkannya. Murasakibara menelan ludahnya, bahkan dari seumur hidupnya, ia bahkan belum pernah mengalami hal seperti ini. Kuroko kini mengaitkan jemarinya di tangan Akashi sesaat, dan memegangnya agak erat. Akashi tahu Kuroko ketakutan saat ini. Namun mereka tidak memiliki pilihan lain selain melewati tempat ini.
"Tampaknya sudah aman" kata Akashi beberapa menit kemudian, yang membuat anggota Kiseki kini bisa bernafas lega. "Perempuan itu.. dia menggenakan sebuah kimono dengan bercak darah di sekitar kimononya, ia berjalan sambil memanggil seseorang. Nampaknya seseorang yang sangat berarti baginya"
"Akashicchi.. kau tidak takut?" kini semua perhatian tertuju kearah Kise "kami yang tidak melihatnya secara langsung saja sudah ketakutan, apalagi kau yang bisa melihatnya kan" kata Kise sambil menahan airmatanya karena ketakutan.
Akashi lalu tersenyum kecil, lalu mengusap kepala Kise dengan lembut. Ia tidak harus berkata apapun pada Kise saat ini, karena mereka semua tahu apa yang akan Akashi katakan saat ini. Ia tidak mau membuat semua menjadi cemas.
"Kita akan mencari obat-obatan yang tersisa ditempat ini, mungkin beberapa perban dan obat untuk mengobati luka Tetsuya" kata Akashi sambil memandang kearah semuanya, mengalihkan topik.
"Tapi apa kau yakin disini akan tersedia barang seperti itu, Akashi?" tanya Midorima.
"Entahlah, tapi bila kita memiliki kemungkinan itu, mengapa tidak kita pergunakan?" Akashi kini tersenyum simpul.
Kuroko lagi-lagi tertunduk "Maaf.."
"Tetsuya" kata Akashi sambil memegang pipi Kuroko "Ingatlah ini bukan salahmu, kau tahu perintahku absolut, bukan?"
Kuroko lalu mengangguk.
"Jangan pernah berkata seolah-olah kau menjadi beban bagi kami semua. Kau salah satu bagian dari keluarga Kiseki, bila satu terluka, maka yang lainnya pun akan menanggung penderitaan yang sama. Tidak akan ada lagi seseorang yang meninggalkan ataupun ditinggalkan. Sekarang tatap mataku, Tetsuya" kata Akashi sambil menatap mata Aqua milik Kuroko.
"Kita semua, akan keluar dari tempat ini dengan selamat. Dan kau bisa memegang perkataanku ini"
Kuroko lalu mengangguk, sebelum akhirnya memeluk tubuh Akashi Seijuurou dengan erat.
Setelah beberapa detik, akhirnya Kuroko melepaskan pelukannya. Akashi kini berdiri dan mengisyaratkan mereka untuk pergi ke ruangan selanjutnya.
Ruangan yang mereka masuki setelah ketiga kalinya adalah sebuah ruangan berhias tatami, dengan sebuah lampion berwarna ungu yang terhias di ujung ruangan. Sedangkan diantara sekat jendela, terdapat beberapa pasang Kimono yang digantung ditempat tersebut. Di ujung ruangan terdapat sebuah pintu shoji yang tampaknya telah terbuka lebar, dan dibalik shoji itu hanya memiliki petak berukuran 200x80cm, tidak terlalu lega, mungkin itu sebuah gudang kecil untuk menyimpan barang-barang yang tidak terpakai.
Kini semua berpencar membuka lemari yang berada di ruang utama itu, ada banyak lemari yang berada disana, dan kebanyakan berisi tentang buku, catatan, dan bahkan sebuah peta.
"Hey, aku menemukan sesuatu~" kata Murasakibara sambil mengeluarkan sebuah kamera dari dalam lemari tersebut.
"Kamera tua?" mereka lalu mendekat kearah Murasakibara dan Kuroko berada.
Akashi sontak membuka matanya lebar.
"Camera..Obscura?"
Dan semua kini melihat kearah kamera tersebut.
"Kamera yang bisa menangkap keberadaan Yurei itu?" balas Midorima sambil membetulkan posisi kacamatanya.
"Shaeiki, atau Camera Obscura, kamera yang diciptakan oleh Dr. Kunihiko Asou. Menurut buku yang pernah kubaca, kamera ini memiliki abilitas untuk melakukan Exorcise pada Yurei."
Belum sempat mereka mengoprek lebih jauh tentang kamera, tiba-tiba suara dapat terdengar dibalik shoji tersebut, dari dalam ruangan berpetak 200x80 itu.
"Gawat!" Akashi lalu mendesis kecil.
"Dark..." ucap suara tersebut, suara seorang wanita, berbeda dengan suara sebelumnya.
"O..oi.. apa aku berhalusinasi atau bukan.. tapi.. kenapa aku bisa melihat sesuatu keluar dibalik Shoji itu?" tanya Aomine sambil menunjuk kearah yang ia maksud.
Dari dalam ruangan itu, perlahan terlihat sesosok wanita yang menggunakan kimono yang telah lusuh, ia berdiri sambil berbungkuk-bungkuk, wajahnya tertutup oleh rambut yang sebagian besar menutupi wajahnya. Dan ia keluar dari sebuah Box yang berada tak jauh dari shoji itu berada.
"Aominecchi tidak salah! Kita bisa melihatnya!"
"Apa yang terjadi sebenarnya, nanodayo! Bukankah hanya Akashi—"
"Semua! Hati-hati!" kata Akashi yang langsung memperingatkan mereka.
"dark..dark...it's coming" Setelah mengakhiri perkataannya, wanita itu berjalan menghampiri mereka, semua sudah histeris sambil berlarian menghindari serangan sang wanita yang hendak menyerang mereka.
Beberapa kali sang wanita menghilang dan muncul secara tiba-tiba di depan, samping, atau bahkan belakang mereka. Dan tempat favoritnya keluar adalah dibalik tembok. Akashi kini tidak bisa tinggal diam, ia menghampiri Murasakibara yang tampaknya masih memegang kamera tersebut dan mengambilnya dari pemuda berambut violet itu.
"Bila kamera ini memang kamera yang banyak dibicarakan itu" Akashi lalu melihat kamera tersebut dengan posisi Viewfinder, terdapat beberapa rol film yang tersisa disana. Akashi lalu memberanikan diri mendekati wanita yang mendekatinya itu, lalu setelah kamera tersebut menunjukkan lingkaran merah, ia langsung memotret wanita tersebut. Dan setelah terkena foto tersebut, sang Yurei berteriak sambil mundur kebelakang. Akashi lalu tersenyum, ia tahu ini akan berhasil.
Setelah sekali lagi Akashi membidik wanita itu, akhirnya Yurei tersebut pun berteriak dan menghilang, menyisakan ruangan yang sepi dengan kehadiran Kiseki yang sudah setengah hidup itu.
"Setidaknya kita memiliki perlindungan bila kelak ada Yurei yang menyerang kita seperti tadi itu" kata Akashi sambil melihat kearah sekitar. "Kalian semua baik-baik saja?"
"Aku kira aku akan di grepe-grepe wanita tadi-ssu!" kata Kise sambil merengek.
"Tampaknya, kita bisa menjadi atletik lari tercepat setelah keluar dari mansion ini" Aomine langsung duduk di ruangan tersebut, mencoba mengatur nafasnya.
"Aaaa~ tadi celanaku sempat ditarik-tarik.." kata Murasakibara sambil membetulkan posisi celananya.
"Dimana Kuroko, nanodayo?" Midorima kini melihat kearah sekitar.
"Tetsuya?" tanya Akashi yang kini ikut memanggil namanya.
"Aku disini" kata Kuroko yang langsung keluar dari balik kimono. "Karena kalian semua asik dikejar, aku hanya berdiam di balik kimono ini" katanya sambil merangkak keluar.
'Kami tahu hawa keberadaanmu itu tipis, Kuroko. Tapi, apa Yurei sekalipun tidak bisa menyadari kehadiranmu?' pikir semua anggota Kiseki dalam hati mereka.
Akashi lalu menghampiri Kuroko dan mengulurkan tangannya pada Phantom Sixth Man tersebut, Kuroko lalu tersenyum sambil menerima uluran tangannya.
"Minacchi!" perkataan Kise kini membuyarkan keheningan "ada sesuatu dibalik Shoji tempat wanita itu keluar!" kata Kise yang menyeret Aomine ikut memeriksa keadaan.
"Ini.. kotak medis, nanodayo. Ada beberapa obat dan perban didalamnya"
"Bagus, kita bisa gunakan itu, Shintarou. Hanya beberapa yang kita butuhkan"
Setelah mereka selesai mengobati luka dikaki Kuroko, serta mengobati luka di lengan Aomine, kini mereka pun mulai melanjutkan kembali perjalanan mereka.
Saat ini, mereka harus melewati tangga ke atas, tangga yang memiliki ukuran yang cukup lebar, dengan pagar besi yang telah terbuka lebar, seakan menyambut kedatangan mereka. Meski beberapa kali mereka bisa mendengar suara sayup-sayup, namun Akashi tidak berkata apapun, mereka tahu Akashi tidak ingin membuat mereka khawatir, tetapi suara itu dapat terdengar begitu jelas oleh mereka.
Ketika mereka hendak membuka pintu yahng berada di hadapan mereka, tiba-tiba, sesosok Yurei yang menggunakan pakaian suster melewati pintu yang berada di samping belakang mereka, ia berkata sesuatu yang bahkan para Kiseki tidak tangkap karena rasa kaget akan kemunculan suster tersebut. Badannya berlumuran dengan darah, dan pandangan matanya terlihat sangat dingin.
Terdiam sejenak, akhirnya mereka kembali sadar ke dunia mereka saat ini. Akashi mencoba membuka pintu didepannya namun terkunci rapat. Dengan terpaksa akhirnya ia mengikuti jalan yang Yurei itu beritahu pada mereka.
Didalam ruangan tersebut, ruangan dengan kesan Gothic didalamnya. Ditengah ruangan tersebut terdapat sebuah peti, peti mati yang tertutup rapat. Tak jauh dari peti tersebut terdapat sebuah Manekin yang berdiri kokoh, saking kokohnya sampai-sampai terlihat seperti melihat kehadiran para Kiseki yang baru masuk tersebut.
Dibalik ruangan tersebut, terdapat sebuah Tirai yang menutupi ruangan baru, disana terdapat beberapa peti lagi yang menggantung didalamnya. Setelah Akashi mengambil beberapa rol film yang tampaknya tergeletak di lantai, tiba-tiba sesuatu terjadi.
Akashi Seijuurou hanya bisa terdiam ketika ia melihat peti yang sedari tadi diam tidak bergeming itu kini membuka-tutup permukaan luarnya secara kasar dan berulang kali. Sedangkan yang lainnya sudah berteriak karena ketakutan. Dan ketika mereka berhamburan keluar dari tirai itu, tiba-tiba sesosok wanita dengan dress hitam ala Vintage memunggungi mereka, ia duduk di sebuah kursi roda.
Semua tercengang dengan pemandangan yang berada didepannya itu, sejak kapan ada wanita yang berdiam disana? Tidak ingin menimbulkan masalah, merekapun pergi dengan perlahan menuju pintu keluar, namun pintu tersebut terkunci rapat. Akashi lalu menengok kebelakang, tempat dimana wanita itu tetap berdiam tidak bergerak sedikitpun, seolah melihat mereka dari kejauhan.
"Midrorima, aku tahyu kekuatan akurasimu tinggi, maka dari itu, kuserahkan kamera ini padamu, bila sesuatu terjadi, segera tekan tombol ini, mengerti?"
"Apa yang ingin kau lakukan, Akashi?" tanya Midorima sambil menerima kamera tersebut.
"Yurei ini menolak kita untuk meninggalkan ruangan. Siap-siap untuk menghindar, semuanya. Jangan sampai kalian tersentuh, mengerti?"
Dan semua pun menganggukkan kepalanya dengan cepat.
Akashi kini berjalan mendekati wanita yang tengah terdiam di kursi roda tersebut. Dengan perlahan ia mencoba untuk menyentuhnya, namun, sebelum ia berhasil menyentuh wanita itu, tiba-tiba suara bisikan terdeengar dari belakang Akashi.
Bahkan Akashi bisa merasakan bahwa tubuh bagian belakangnya memanas, sesosok wanita lain kini berdiri tepat dibelakang Akashi, wanita dengan pakaian yang mirip dengan wanita yang berada di kursi roda tersebut, namun perbedaannya ia memakai sebuah topi hitam berhias bulu-bulu disampingnya.
"Don't touch me..."
Katanya dengan suara yang terdengar begitu jelas ditelinga Akashi.
~TBC~
