Disclaimer: I am not, in any way, take any profit from the story and that all creative rights to the characters belong to their original creator(s). Naruto © Masashi Kishimoto.
Jejak Bulan di Atas Air
blackpapillon
11. Chikade
.
.
Pagi hari ini cerah. Belum ada tanda-tanda musim penghujan datang—pertanda musim semi akan berakhir—meskipun hari-hari terus berlalu. Karena itu, latihan pagi kembali dilaksanakan setelah sehari libur karena ada pesta penyambutan. Sejak pagi para prajurit yang jumlahnya ribuan itu sudah berbaris rapi di lapangan, dan seperti biasa, setelah pengarahan singkat, mereka mulai berlatih. Entah latih tanding berpasangan, atau latihan sendirian. Ada banyak sarana yang bisa dimanfaatkan di lapangan itu, mulai dari target panah sampai sejenis perangkat untuk berlatih menghindari rintangan. Selain itu, di pinggir lapangan itu banyak dojo yang digunakan dalam berbagai fungsi, seperti karate, judo, naginata, dan kendo.
Biasanya, di antara kelima jenderal itu, Shikamaru-lah yang paling malas, bukan? Tapi, hari ini sepertinya keempat rekannya juga sedang terkena virus malas. Mereka hanya duduk-duduk, sambil memperhatikan anak-anak buahnya yang sedang berlatih. Entah malas atau karena apa. Yang pasti, anak-anak buahnya juga tak berani protes. Shikamaru terus-menerus menguap, sementara Naruto berdiri sambil mengunyah roti, Neji duduk sambil menengadah ke langit, Sai sibuk dengan buku sketsa yang sudah lama tak disentuhnya, dan Sasuke terlihat seperti memikirkan sesuatu sambil bermain-main dengan elang kesayangannya.
"Aaaaahhh… hari ini kita berlatih lagi setelah kemarin berpesta," kata Naruto sambil meregangkan badannya. "Malaaaaassss…"
"Pesta itu seharusnya menyenangkan. Tapi pesta kemarin hanya membuatku mengantuk," cetus Shikamaru, sambil memperhatikan anak buahnya yang sedang berlatih.
Naruto mencibir. "Aku malah ingin ada pesta lagi. Susunan syaraf dan otakmu 'kan berbeda dari orang kebanyakan," katanya sebal. "Ngomong-ngomong, ke mana para utusan itu? Bukannya mereka berasal dari kalangan militer? Kok mereka tidak ikut berlatih bersama kita?"
"Mungkin mereka masih sibuk?" tebak Sai asal. Ia kembali mengambil buku sketsanya, lalu mencoret-coretkan sesuatu di atas kertas. Gambar yang tidak jelas. Lalu ia menguap, mengambil kertas baru dan mencoret-coret lagi.
"Sibuk apa?" tanya Naruto.
Neji tampak berpikir sebentar. Mencoba mencari penjelasan yang dinilainya dapat dimengerti oleh lelaki berambut pirang itu. "Mereka tak serta-merta datang ke sini hanya untuk berlatih saja. Peran mereka juga pasti ganda, jadi banyak tugas lain yang harus diselesaikan," kata Neji menjelaskan. "Mungkin baru beberapa hari ke depan mereka bisa ikut berlatih. Itu pun kalau mereka berminat."
"Aku tak peduli soal itu," kata Shikamaru cuek.
"Tentu saja kalian tidak perlu peduli. Karena kami akan datang sendiri ke sini," kata seseorang dari belakang. Para jenderal muda itu menoleh. Di belakang mereka, Kankurou dan Temari berdiri dengan beberapa perlengkapan aneh di tangannya.
"Oh, kalian datang rupanya."
"Tentu saja! Kami tak ingin absen berlatih meskipun sedang ada di negara lain," ujar Kankurou, "tapi sepertinya kalian malah terlihat santai. Padahal sedang ada sesuatu yang mengancam kita meskipun masih tersembunyi."
Neji menatap Kankurou sinis. "Kami juga memerhatikan hal itu. Kami tidak lepas tangan begitu saja, jangan salah."
Sasuke menyipitkan mata sambil memperhatikan dua tamu yang muncul tiba-tiba itu. Tak bertanya apa-apa, namun ia tampak mencari seseorang yang tak ada. Dan Temari menyadari gelagat itu. Wanita itu berjalan, mendekati Sasuke dan berbisik di telinganya. "Sudah kuduga. Kau mencarinya, kan?"
"Apa…?"
"Meskipun kau tak mengakuinya, kau tahu itu," desis Temari, "sayang sekali adikku tercinta sedang sibuk. Tapi aku sudah menduga kau juga akan mencarinya. Kau ingin suatu pengakuan kekuatan, kan?" kata wanita itu. Sasuke sama sekali tak diberi kesempatan untuk menjawab, karena sebelum ia dapat berkomentar, wanita itu sudah berujar lagi. "Pasti akan datang waktunya…"
Wanita itu berlalu, meninggalkan kata-kata yang tampaknya sekali itu tak dapat dicerna oleh Sasuke.
Pengakuan kekuatan? Aku?
Neji melirik Sasuke yang tampak kebingungan dengan dirinya sendiri. Ditepuknya bahu Sasuke sambil berkata, "Sepertinya kau sedang memikirkan sesuatu. Tak biasanya kau tidak ikut latihan—meskipun kami semua sedang malas, kau pasti latihan sendirian."
Sasuke tak menoleh. Ia memberi tanda pada elang putihnya, membuat binatang besar itu bergerak sesuai dengan arahannya. Namun komentar Neji tak segera ditanggapinya. "Hanya malas saja," kata Sasuke akhirnya. Pendek dan seadanya, menandakan pria itu sedang tak dapat diajak bicara.
Neji sudah maklum.
"Kau tidak melatih mereka?" tanya Temari pada Shikamaru yang masih malas-malasan sambil meneguk tehnya, "aku jadi meragukanmu apakah kau benar-benar seorang jenderal. Dari pasukan ahli strategi pula…" komentar wanita itu sambil memandang Shikamaru.
Shikamaru menoleh ogah-ogahan. "Jadi kau meragukanku?" tanyanya sinis.
"Tidak kalau kau sudah menunjukkan kemampuanmu."
Shikamaru menguap lebar, membuat tensi Temari sedikit naik karena pria itu terkesan meremehkannya. "Nanti juga kau akan tahu," katanya di antara kuapannya yang lebar, "belum saatnya. Kemampuanku belum dibutuhkan…" sahut Shikamaru santai.
Temari mengernyitkan kening. Makin bingung saja dia akan pikiran kaisar tentang orang ini. Menurutnya Shikamaru sangat santai. Kemarin saja dia tertidur dengan tenangnya seakan-akan berada di rumah. Tipe orang yang pastinya akan sangat langka ditemui. Dan juga sulit dimengerti, batinnya. Tapi yang pasti, kaisar tak akan memilih Shikamaru sebagai jenderal bila saja dia tak punya kapasitas untuk menempati jabatan itu. Terlebih karena ahli strategi merupakan posisi yang vital dan dibutuhkan bagi pasukan inti.
Oh ya, satu lagi yang mengherankan: kenapa dia jadi memikirkan dan penasaran soal itu?
Sakura berjalan di lorong istana sendirian. Ia baru saja sarapan dengan kedua orang tuanya. Sesuatu yang jarang dilakukannya, karena ia lebih suka sarapan sendiri atau dengan teman-temannya di ruangan para dayang. Lagipula kedua orang tuanya itu sangat sibuk. Meskipun Sakura mencoba meluangkan waktu, tetap saja sulit. Tapi untunglah, sejauh ini ia tak berubah benci pada mereka. Ia sudah belajar lebih banyak bersyukur selama bertahun-tahun ini.
Tapi… kadang ia lelah. Ia ingin pergi sekali saja dari rutinitas ini. Sesekali, ia ingin merasakan berlari dengan bebas di luar, tanpa harus terkungkung tembok pembatas yang tinggi. Ia ingin merasakan bagaimana rasanya berbelanja di pasar, bagaimana rasanya makan di jalan atau piknik di pinggir sungai—ia begitu terkurung dalam regulasi dan protokoler. Sakura menarik napas.
"Sakura!" terdengar suara panggilan dari ujung lorong. Sakura berbalik dan tersenyum senang saat melihat Ino, Hinata, dan Tenten. Ia berjalan menghampiri mereka. Mereka bertiga tampak semangat hari ini.
"Selamat pagi, Sakura," sapa Tenten riang, "hari ini aku pulang, ya…"
"Kau pulang sekarang?" Sakura menatap sahabatnya itu muram, "kau bisa menginap di sini lagi, kan? Mengapa tidak lebih lama saja?"
Tenten tersenyum. "Aku 'kan sudah seminggu lebih di sini, Sakura. Orang tuaku sudah mengirimkan pengawal untuk menjemputku. Aku juga harus pulang ke rumahku," jelas Tenten, "kalau terlalu lama, rasanya juga tidak enak pada yang mulia."
Bibir Sakura mengerucut, membuat teman-temannya tertawa.
"Memangnya kau begitu kesepian? Tidak, kan?" Ino menyikut Sakura sambil menggodanya, "Sekarang ada Uchiha, kan? Masa' kau masih kesepian juga?"
Wajah Sakura mendadak memerah. "Hei! Kenapa kalian malah bilang begitu? Maksudku, memang di sini ada Ino dan Hinata… tapi tentu akan lebih menyenangkan kalau berempat. Mengapa kalian malah bilang begitu, sih? Aku dan Sasuke hanya…"
"Hanya…?" terdengar suara Ino dengan desisan menyeramkan—membuat Hinata bersembunyi di belakang Tenten. "Kau pikir kami tidak tahu? Sepertinya kalian makin akrab saja, yaaa? Kau bahkan memanggil cowok itu dengan nama depannya. Saat pesta kemarin juga…"
"Ya, ya, ya!" Tenten membenarkan, "Hubungan kalian maju cepat dalam waktu beberapa minggu. Bagus juga. Berterima kasihlah pada elang itu, Sakura…"
"Cih," Ino mencibir ke arah Tenten, "kau juga, 'kan? Sepertinya saat pesta kemarin ada sesuatu di antara kau dengan Neji," kata gadis itu, lalu menoleh ke arah Hinata, "benar, 'kan, Hinata?"
Hinata mengangguk-anggukkan kepala, lalu tertawa kecil. "Aku memang tidak menanyakannya pada Neji-niisan, tapi sepertinya kelakuannya jadi agak aneh akhir-akhir ini," jelas Hinata, "dan dia jadi tidak terlalu overprotektif. Terima kasih, ya, Tenten-chan?" katanya separo menyindir.
Giliran wajah Tenten yang merona. "Eh, apanya… memangnya aku bilang apa… kemarin juga, aku Cuma sedikit minta maaf, kok!" bantah Tenten cepat.
"Oh! Kalau itu aku juga sudah tahu," kata Sakura—merasa ada kesempatan pas untuk menghindar dari cecaran pertanyaan sahabatnya soal dia dan Sasuke. Padahal memang tidak apa-apa, sih. Tapi juga bukan berarti tidak ada apa-apa. Karena itu, lebih baik ia menghindar dulu kali ini. "Kau meminta maaf pada Neji-san di hadapan para tamu. Tindakan yang berani juga…" komentar Sakura.
"Benar. Kurasa kata-kata Tenten-chan waktu itu mengena sekali, sampai sikapnya jadi agak berubah akhir-akhir ini," ujar Hinata. "Kurasa dia jadi lebih mempercayaiku. Aku senang sekali…" bisiknya pelan.
Ino menatap Hinata gembira. "Eh? Jadi penjagaannya padamu sudah agak melonggar, ya? Baguslah, kau bisa lebih dekat dengan Naruto, kan, Hinata?" Ino menyikut Hinata, dan wajah cantik gadis itu berubah jadi semerah apel. "Dan kau juga, Tenten," ia menoleh ke arah Tenten, "Kau bisa mendekati Neji. Wah, perkembangan yang bagus sekali untuk kalian semua!" kata Ino setengah bersorak sambil menepukkan tangannya.
Sakura menatap sahabatnya itu. "Lagakmu seperti madam pencari jodoh saja, Ino," sindirnya, "lalu, bagaimana dengan dirimu sendiri?"
Keempat gadis itu berpandangan. Di antara mereka berempat, hanya Ino-lah yang paling jarang bercerita. Meskipun ia selalu meledak-ledak, namun gadis pirang itu juga tertutup mengenai dirinya sendiri. Ino kali ini sedikit terlihat salah tingkah. Ia menremas-remas ujung kimononya, tak mengatakan apapun. Membuat Sakura, Tenten, dan Hinata semakin penasaran.
"Ayo," gadis itu berbalik dan berjalan ke arah lapangan barat, "lebih baik kita melihat latihan mereka saja!" katanya cepat. Ketiga sahabatnya hanya mengedikkan bahu, lalu mengikuti gadis itu.
.
"Selamat pagi. Rupanya kalian sudah mulai berlatih lagi?" sapa Sakura pagi itu sambil menuruni tangga pendek yang ada di pinggir beranda. Naruto menoleh, dan seperti biasa, menjadi orang yang paling bahagia menyambut mereka.
"Pagi! Begitulah, Sakura-chan! Meskipun kami hari ini agak malas karena kekenyangan makan, sih…" kata Naruto riang, sambil menghampiri gadis itu. Sai yang ada di belakangnya memukul punggung Naruto.
"Hanya kau saja yang kemarin kebanyakan makan, Naruto," dia mengatakan hal itu pada Naruto sambil tersenyum, lalu menoleh ke arah Sakura. "Pagi, Sakura-Hime. Tenten-sama, Ino-san dan Hinata-san, juga selamat pagi. Pagi ini kalian semua datang bersama?" tanyanya.
Ino mencibir. Pertanyaan basa-basi, pikirnya sebal. Baginya Sai terlihat tak pernah memperhatikan orang lain. Gadis itu tahu Sai memang bermaksud baik. Namun entah mengapa ia tak dapat melihat pria itu sebagai sesuatu yang positif. Dia hanya pria yang bisanya Cuma berbasa-basi tanpa bisa memahami perasaan orang lain secara lebih mendalam.
Tepatnya, dia tak begitu suka orang itu.
"Begitulah…" Sakura melambaikan tangannya ke arah Tenten, "Karena Tenten pulang hari ini, dia ingin berpamitan sekaligus melihat-lihat kegiatan kalian."
"Oh, kalian mau melihat kegiatan kami dari dekat secara langsung? Aku senang sekali!" sorak Naruto senang. "Ne, ne, Hinata-chan! Kalau mau, kau bisa kuantar! Sai juga, kau akan mengantar juga, kan? Ya, kan, Sai?" tambahnya dengan sorot mata penuh harapan. Hinata tampak snagat kaget tiba-tiba diajak oleh Naruto—dan membatu di tempat.
Sai mengangguk-angguk mengerti. "Kalau begitu, silakan melihat-lihat kegiatan kami. Bisa kuantar, kok. Kebetulan hari ini kami masih melakukan penyesuaian karena kemarin terlalu banyak libur—" dia tertawa kecil, "Oh ya, Sakura-hime, Uchiha-san ada di sebelah sana…" ia menunjuk ke arah Sasuke yang masih diam saja di bangku pinggir lapangan, "anda tak berniat menemuinya?"
Ino membelalakkan mata sekaligus telinga—meskipun dalam kenyataannya telinga tidak bisa dibelalakkan—saat mendengar kata-kata Sai itu. Karena menurut telinganya, kata-kata itu berarti bahwa 'aku-tahu-kau-menyukai-Uchiha-san-dan-pasti-ingin-bertemu-dengannya'. Gadis itu adalah sahabat yang baik, tentunya, dan pastinya tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini (baca: mencari tahu apa yang mereka lakukan sehingga jadi dekat). Apalagi peluang ada di rekan Sasuke sendiri. Meskipun dia adalah Sai yang nyaris tanpa ekspresi, dia tak akan menyia-nyiakannya. Ditariknya lengan Sai cepat-cepat, lalu menoleh ke arah Sakura.
"Sakura, kau bisa pergi duluan! Aku dan yang lain akan pergi bersama Naruto dan Sai, ya, kan?" Ia menoleh ke arah teman-temannya yang lain, meminta persetujuan.
Naruto nyengir, lalu meraih tangan Hinata, yang tak sempat menolak apa lagi berkomentar sambil berkata, "Ya, kalau begitu, Hinata akan bersama ku! Kami akan berkeliling-keliling! Sampai nanti, yaaa, Sakura-chan!" teriaknya sambil berjalan menjauh. Dari kejauhan lelaki itu tampak mengedipkan mata.
Sakura menunduk malu. Lalu mengangguk dan pergi ke tempat orang itu berada, meninggalkan seorang gadis berambut cokelat sendirian di pinggir lapangan. Tanpa disadarinya, sesosok pria dengan tubuh tinggi tegap dan bermata cemerlang mendekatinya.
"Padahal hari ini andalah yang akan pulang, tapi kelihatannya malah anda terlihat tak tertarik berkunjung."
Tenten memandang orang yang menghampirinya itu, lalu tersenyum. "Eh! Tidak, aku… bukan begitu, tapi…" ia menunjuk ke arah Naruto yang mulai menjauh bersama Hinata, Sai, dan Ino. "Hanya saja, jumlahnya jadi ganjil. Terlebih aku tak ingin mengganggu Naruto. Anda juga, kan, Tuan Hyuuga?" tanyanya dengan nada manis.
"Begitulah," hanya itu komentar Neji. "Anda juga mau berkeliling? Melihat-lihat keseharian tentara itu cukup menyenangkan, kok."
"Y-ya?" wajah gadis itu bertanya-tanya. Kentara sekali ia tak mengerti.
Lelaki itu tersenyum tipis, membuat matanya yang bening tampak agak menyipit. "Kalau denganku, jumlahnya akan jadi genap, bukan?"
.
.
"Shiro-chan, tampaknya kau sekarang sudah sehat, ya?" Kata Sakura sambil mengelus bulu putih elang itu. Burung itu tampak patuh. Ia bertengger manis di sebuah palang besi, dalam ketinggian yang bisa dicapai Sakura, dan menundukkan kepalanya. Tampak jinak.
"Syukurlah kau bisa sehat lagi, ya," ujar Sakura senang.
"Dia sepertinya benar-benar suka padamu, ya?" komentar Sasuke sambil menyandarkan tubuhnya di palang itu, lengannya terlipat. "Sedari tadi dia amat sulit mengikuti instruksiku, dan begitu kau datang dia langsung patuh seakan-akan dia burung paling baik sedunia."
Sakura tertawa geli. "Begitukah? Wah, kau anak nakal, ya, Shiro," katanya lembut sambil mengusap kepala elang itu, membuat burung itu bersuara pelan. Sakura menoleh ke arah pemilik burung itu—yang tampaknya sudah menemukan kegiatan baru, bermain-main dengan burung-burung kecil yang ada di sekitar situ—dan bertanya, "Eh, Sasuke… boleh aku membiarkan burung ini hinggap di tanganku?"
Sasuke mengernyitkan kening. "Jangan bodoh," tanggapnya tegas, "kemarin saja tanganmu tergores. Meskipun kau memakai sarung tangan kulit, bobotnya terlalu berat untukmu."
"Yaaah…" kata Sakura dengan nada kecewa. "padahal burung yang mau jinak padaku hanya Shiro saja. Sayang sekali…" gadis itu melirik Sasuke dengan tatapan iri. "padahal kau bisa begitu mudah memancing burung-burung kecil itu hinggap di tanganmu."
Memang benar. Di tangan pria itu hinggap dua ekor burung yang sedang makan biji-bijian di telapak tangannya dengan tenang. Meskipun tangannya bergerak, burung-burung itu sama sekali tak kabur dan terbang dari situ. Sasuke menatap Sakura dari sudut matanya.
"Kalau cuma begini, kau juga bisa."
"Wah, benar?" tanya Sakura antusias. "Bagaimana caranya?"
Sasuke mendorong tangannya ke udara, membuat burung-burung itu kaget dan segera terbang menjauh. "Ulurkan tanganmu."
Gadis itu menurut, diulurkannya tangannya. Sasuke mengambil sesuatu dari kantung kertas yang ada di atas bangku kayu. Sedikit biji-bijian—makanan favorit burung-burung kecil, lalu diletakkannya ke atas telapak tangan gadis itu. Beberapa saat kemudian, seekor burung mampir ke atas tangannya, memakan biji-bijian itu. Wajah Sakura berubah cerah.
Namun sekejap terbang lagi. wajah gadis itu langsung kecewa.
"Terbang lagi!" keluh Sakura, "Mengapa dia tadi bisa lama bertengger di tanganmu?"
"Begini," Sasuke mendekat, menopang tangan kanan gadis itu dengan lengannya dan memandunya sambil bergerak. Pelan sekali. Sampai akhirnya seekor burung muncul. Sakura nyaris saja berteriak kegirangan kalau saja Sasuke tak memperingatkan gadis itu. "Dia pasti akan hinggap sebentar. Kau harus tahu tanda-tandanya, saat dia akan terbang…"
Patukan burung kecil itu terasa geli di telapak tangannya, membuat Sakura tertawa kecil. "Saat dia akan terbang? Setelah itu, bagaimana?" bisik Sakura.
"Sssst—" burung mungil itu terlihat seperti akan terbang. Tepat saat burung mungil itu akan terbang dari telapak tangan Sakura, ditariknya sedikit tangan gadis itu ke bawah, membuat burung itu kehilangan keseimbangan dan kembali hinggap. Begitu terus berkali-kali. "Kalau kita halangi keseimbangannya saat dia akan bertolak, sudah pasti dia akan turun dan turun lagi. hanya itu saja…"
"Begitu…" wajah gadis itu tampak penasaran melihat fenomena kecil yang terjadi di atas telapak tangannya. Lucu sekali burung kecil itu. Akan terbang, hinggap lagi. Akan terbang, hinggap lagi. Burung mungil seukuran tepak tangannya, berwarna merah dan putih kecuali kepalanya yang berwarna hitam. Cantik sekali. "Kau tahu apa nama burung ini?"
"Namanya Chikade," ujar Sasuke. "Hanya muncul saat udara dingin. Beruntung juga kita menemukannya saat pertengahan musim semi begini."
Sakura mengangguk-angguk mengerti (dan Shiro-chan pun terlupakan). Ia tampak senang bermain-main dengan binatang mungil itu. "Manis sekali, ya, burung ini," komentarnya senang, "kalau mungil begini, pasti tidak akan melukai tanganku."
"Kalau begitu, mengapa tidak kau tangkap dan kau masukkan saja ke sangkar?" tanya Sasuke. "Toh kamu berhasil mendapatkannya."
Sakura berpikir sebentar, namun kemudian tangannya diulurkan ke udara, membuat burung mungil itu terbang kembali. Sasuke mengernyitkan kening heran melihat Sakura yang malah melepaskan burung itu.
"Mengapa kau lepaskan?"
Sakura tersenyum lembut. "Aku tak ingin membuatnya tak bisa melihat alam bebas seperti aku."
Sasuke terdiam, merenungi kata-kata gadis itu. Baginya, kata-kata itu memiliki banyak arti. Namun Sasuke tak bisa menafsirkan apa yang dimaksud gadis itu. Karena seorang puteri pastinya selalu dapat menghirup alam bebas.
Mengapa dia bilang, 'tidak'?
To Be Continued
Terima kasih sudah membaca.
Blackpapillon
