Kuroko no Basuke Fanfiction
Drabble - 16 Part II (Final Part)
Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi
Tecmo - Fatal Frame series
Rating : T
Warning : OC!Akashi Twin, Failed!Horror, Maybe OOC
Pair : Akakuro
A/N : Hallo, Minna-san, author hadir membawakan lanjutan dari Drabble sebelumnya~ karena author tidak bisa publish diwaktu yang dekat dengan chapie sebelumnya dikarenakan oleh project yang lagi dikejar deadline, akhirnya author cuma bisa mencicil fic ini sebagian-sebagian TAT
Author hadiahkan spesial buat kalian semua yang menunggu lanjutannya, karena kedepannya author mungkin akan lama meng-update cerita ini.
Tema kali ini masih tetap sama, author mengambil tema Fatal Frame ~ dan untuk Ghost-List yang muncul di chapie sebelumnya itu ada Sae Kurosawa [FF2], Woman in Box[FF2], Kageri Sendou & Watashi [FF4]. Untuk chapie kali ini, selain Kageri&Watashi, ada Blinded [FF1], Crawling Woman [FF3]. Umnn.. gomen kalau kesan horrornya mungkin ga terlalu kerasa ya, minna-san *bow* dan disini author akan menampilakn OC author, kembaran Akashi Seijuurou :3
Akhir kata, Thank you for all review, fav, alert, follow, and all silent readers :D Thank you for all support and all PM.. I'm happy that you all enjoy this story ^w^ Thank You ~
Happy Reading, all..
With Love,
Zelvaren Yuvrezla a.k.a ren-chanz
"Don't touch me..."
Katanya dengan suara yang terdengar begitu jelas ditelinga Akashi.
Dengan teriakan yang agak kencang, ia berhasil membuat tangan Akashi mundur ke belakang, kini sang Yurei berdiri didepan Yurei yang sedang duduk itu, sesaat ia memandang ke atas, percikan api yang berasal dari lilin panjang berwarna merah yang terletak ditengah ruangan kini menampakkan wujud wanita itu dengan sangat jelas.
Ia melihat ke arah samping secara perlahan, kepalanya ia gerakkan sepelan mungkin ketika ia melihat hawa keberadaan manusia. Rambutnya memiliki panjang sebahu, berwarna hitam. Kulit putih pucat, bahkan lebih pucat dibanding manusia manapun.
"Don't touch me!" Ia menjerit dengan suara yang melengking, lalu dalam hitungan beberapa detik, ia menghilang, bersamaan dengan Yurei yang tengah duduk di kursi roda itu.
Tak lama, mereka bisa merasakan 2 sosok wanita menyerang seluruh anggota Kiseki. Sang Yurei yang sedari tadi duduk di kursi roda tersebut bergerak dengan gerakan yang terpatah-patah, ia tidak memiliki bola mata, sehingga menyisakan hitam hampa dibagian yang seharusnya terdapat mata itu, dan bagian mukanya seakan retak. Lalu semua menyadari bahwa itu adalah sosok boneka yang memiliki ukuran tubuh seperti wanita dewasa, ia tengah digerakkan.
Sang Puppett kini mendekat kearah Kise yang tampaknya sudah histeris, Midorima segera memasuki Viewfinder dan hendak membidik Yurei tersebut. Namun gerakan yang terpatah-patah itu membuatnya tampak kesusahan, ditambah beberapa kali ia sempat menghilang.
"Shintarou! Jangan fokus ke arah boneka itu, awas dibelakangmu!" Teriak Akashi dari kejauhan.
Kuroko yang berada dekat dengan Midorima kini langsung mendorongnya, menjauhkan ia dari sentuhan sang Puppetter.
"Terimakasih, Kuroko" kata Midorima yang masih kanget akan kejadian yang berlangsung dengan cepat itu.
Kuroko mengangguk "Kita semua harus waspada" kata Kuroko dengan suara yang serius.
Midorima kini bangkit dan hendak mengambil posisi Viewfinder kembali.
"Puppeter berada dekat dengan Atsushi, sedangkan Puppett berada dekat Daiki" kata Akashi "Daiki, kau menjauh dari tempat itu. Shintarou, coba bidik salah satu diantara mereka, kita selesaikan satu dulu"
"Aku tahu, nanodayo, biarkan aku membidiknya" kata Midorima sambil memegang kamera tersebut dengan khawatir. Ternyata, Yurei seperti ini yang sering dilihat oleh seorang Akashi Seijuurou. Sangat menakutkan.
Midorima hendak membidik sang Puppetter, ketika filamen kamera tersebut hampir menunjukkan lingkaran merah, tiba-tiba sang Puppett muncul di bawah samping Kamera tersebut. Midorima kaget bukan main ketika sang Puppett hampir mencekiknya, gerakan yang terpatah-patah itu makin memicu jantung Midorima, namun dengan sigap ia segera menekan tombol kamera tersebut.
FLASH
Sang Puppett berteriak kecil, Midorima kembali membidik Puppett tersebut, menekan tombol hingga sang Puppett menghilang. Namun tak lama dari kejauhan sang Puppett kembali lagi.
"Bukankah kita sudah mengeliminasinya-ssu! Kenapa ia balik lagi!" teriak Kise yang kini ikut berlari dari kejaran sang Puppetter.
"Kalahkan sang pengendali dan semua akan selesai~" kata Murasakibara yang sedang mencoba berdiri akibat terpeleset oleh tirai panjang yang menyentuh lantai itu.
"Kita tidak memiliki pilihan lain. Shintarou, aku akan menjadi umpan sang Puppetter, saat ada kesempatan, segera bidik dia" kata Akashi sambil menganalisa ruangan tersebut.
"Hati-hati, nanodayo!"
Akashi mengangguk kecil, ia berlari mendekati Puppetter yang tampaknya mulai menyadari keberadaan Akashi disekitarnya. Ia lalu mendekat dan semakin mendekat kearah Akashi, tangannya ia majukan kedepan, seolah bersiap untuk mencekik sang Captain tersebut.
"Shintarou, sekarang!"
Midorima lalu menekan tombol pada Camera Obscura tersebut, setelah sang Puppetter itu mundur, ia tidak menggerakan posisi Viewfindernya, ia masih terdiam untuk menyerang sang Puppetter dengan hit-combo, dan beberapa kali filamen tersebut menunjukkan lingkaran merah.
Bulu kuduk Midorima kembali berdiri ketika ia menyadari sang Puppett kini hendak menghampirinya dari arah depan. Ia tahu ia harus memilih, ia harus bertaruh untuk menghancurkan sang Puppetter.
Midorima terus membidik sang Puppetter, posisinya saat ini adalah spot terbaik untuk membidiknya dengan dekat, sedangkan disisi lain sang Puppett sudah makin mendekat, ditambah gerakannya yang terpatah-patah itu.
Anggota Kiseki lainnya sudah keringat dingin melihat adegan itu, mereka tidak bisa berbuat apa-apa kecuali berdoa agar temannya itu bisa selamat dari ancaman sang Yurei.
Dan disaat Midorima hendak tersentuh oleh sang Puppett, bahkan tinggal 3 cm sebelum tangan Puppett menyentuhnya, sang Puppetter yang sedari tadi terus dibidik oleh Midorima pun berteriak kencang sebelum menghilang.
Sesaat Puppett tersebut pun ikut berteriak, tepat didepan Midorima dengan kencang, sebelum akhirnya ia menghilang. Midorima lalu ambruk, nafasnya tersengal-sengal ketika ia menyadari hal yang baru saja terjadi, hampir saja ia kehilangan nyawanya itu.
Akashi pun menghela nafas kecil sambil terduduk dilantai.
"Otsukare-sama-ssu!" kata Kise yang menepuk pundak Midorima.
"Kerja bagus, Midorima!" balas Aomine.
"Ini bukan cuma kerja kerasku seorang, nanodayo, tapi berkat Akashi yang bertaruh menjadi umpan juga"
Akashi tersenyum kecil "kerja bagus, semua"
Kuroko dan Murasakibara kini menghampiri Akashi.
"Akashi-kun, kau tidak apa-apa?" tanya Kuroko sambil ikut duduk didepannya, memandang wajah Akashi yang tampak agak pucat tersebut.
"Tidak apa-apa.. hanya.. kepalaku..pusing" kata Akashi sambil memegang kepalanya.
"Aka-chin, mukamu pucat sekali" balas Murasakibara yang berjongkok disamping Akashi.
"Suara teriakan para Yurei.. ughhh..kepalaku..seakan berputar.." tak lama Akashi lalu ambruk, kepalanya mendarat mulus di pundak Kuroko.
"Akashi-kun!" Kuroko langsung berteriak ketika sang Captain tidak sadarkan diri.
Semua kini menghampiri Akashi.
"Tidak apa-apa, ia hanya pingsan, nanodayo. Kekuatan spiritualnya yang tinggi membuat ia tidak sanggup menghadapi aura para Yurei yang mengganggunya, apalagi semenjak awal kita masuk ke tempat ini, ia tetap berusaha menahan dirinya" katanya sambil mengela nafas.
Kuroko memeluk sang Captain yang tidak sadarkan diri itu dengan dekapan yang erat.
"Bagaimana ini-ssu! Kalau Akashicchi tidak sadarkan diri, bagaimana kita bisa keluar dari tempat ini!" Kise kini mulai panik.
"Oi, Kise! Jangan panik seperti itu! Kita masih mempunyai Kamera itu, kan. Setidaknya kita bisa berjuang hingga Akashi bangun!" kata Aomine sambil memegang pundak Kise, memandang kearahnya.
"Mine-chin betul~ kita harus terus berjalan sampai Aka-chin bangun~"
"Murasakibara, kau harus membawa Akashi di pundakmu" kata Midorima mengambil alih titah.
"Ok~" katanya sambil melihat kearah Kuroko, memitanya untuk melepaskan pelukannya dari pelukan sang Phantom Sixth Man tersebut.
Kuroko mengangguk, lalu memberikan Akashi untuk digendong oleh Murasakibara.
"Lukamu tidak apa-apa, Tetsu?" tanya Aomine.
"Tidak apa-apa, Aomine-kun. Setidaknya aku bisa berjalan sendiri sekarang" katanya sambil tersenyum. Kuroko lalu menghampiri Kise dan memegang tangannya "Bila kau takut, kita bisa berjalan sambil bergandengan tangan, Kise-kun" kata Kuroko sambil mengelus kepala Kise.
"Ku..Kurokocchii!" kata Kise yang langsung memeluk Kuroko dengan erat.
"Ayo..kita lanjutkan perjalanan kita" kata Kuroko dengan wajah yang serius.
Akhirnya dengan mengumpulkan segenap keberanian mereka, seluruh anggota Kiseki, kecuali Akashi yang kini masih terkapar pun kembali berjalan lagi untuk menemukan pintu keluar. Pintu awal mereka masuk kini masih terkunci rapat, namun, mereka menemukan sebuah pintu yang sedari tadi tertutup oleh figura-figura besar.
"Lihat~ disana ada pintu, sepertinya tertutup oleh figura~" Murasakibara kini menunjuk tempat yang ia maksud itu.
"Benar ucapan Murasakibara-kun, aku bisa melihat gagang pintunya" tambah Kuroko.
Midorima, Kise dan Aomine kini memindahkan figura itu dengan hati-hati, sehingga mereka kini menemukan sebuah pintu kayu yang memiliki ukiran-ukiran unik diluarnya, seperti ukiran sebuah topeng Noh. Aomine menahan nafasnya ketika ia hendak memegang gagang besi di pintu kayu yang tengah lapuk itu. Bulu kuduknya berdiri, ia berharap semoga tidak ada apapun didalam ruangan itu.
Ketika mereka memasuki ruangan selanjutnya, bulu kuduk mereka langsung berdiri ketika mendengar suara tawa histeris dari ruangan yang sebelumnya mereka masuki, suara tawa yang sama ketika mereka bersembunyi dibalik sekat pada awal mereka memasuki mansion ini. Suara yang begitu lirih dan pilu, namun dalam sekejab suara itu berubah menjadi histeris.
"Se..sebaiknya kita cepat pergi menuju tempat selanjutnya-ssu" kata Kise dengan nada yang agak gemetar.
"A..aku juga tidak mau lama-lama disini, nanodayo" ucap Midorima yang kini melangkah duluan sambil memposisikan kameranya dalam mode Viewfinder, setidaknya dengan mata lens yang terdapat di kamera ini, mereka bisa mengetahui bila ada sosok Yurei yang berada didepan mereka.
Kini mereka terhubung dengan lorong baru, lorong yang cukup panjang, dengan beberapa tali tambang yang menggantung di langit-langit ruangan tersebut, tali tersebut diikatkan pada beberapa kayu yang panjang, yang tampaknya siap jatuh kapanpun mereka melewatinya. Beberapa lantai berhias kayu itupun sudah ada beberapa yang hancur, makannya mereka harus melewati tempat tersebut dengan hati-hati.
Diujung lorong, dimana tempat tersebut terdapat sebuah cermin yang besar dan tinggi, disana terdapat 2 arah, antara kiri dan kanan terdapat sebuah pintu. Mereka mencoba untuk membuka pintu bagian kanan, namun terkunci. Menghela nafas, akhirnya mereka membuka pintu bagian kiri.
Mereka tidak menemukan pintu atau hal lainnya selain ruangan tatami dengan ukuran yang sangat besar. Sekitar 3 sekat Shoji berada disana, dengan posisi yang sejajar. Namun Shoji tersebut telah hancur dan menampakkkan ruangan tersebut dengan sangat jelas. Ruangan tersebut berhias cat berwarna Putih pucat, sedangkan lampu disana menyala secara remang-remang.
"My eyes.. my eyes.."
Suara mereka tercekat ketika menyadari sosok lain yang berada di tempat tersebut. Mereka semua dapat melihatnya, sosok wanita berbalut Kimono dengan bagian depannya yang agak terekspos, bagian kiri kimononya yang agak menurun sehingga mereka dapat melihat dengan jelas pundak wanita tersebut. Pucat pasi, kulit wanita tersebut sangat pucat. Urat-urat kemerahan dapat terlihat disekitar leher dan tangannya. Lalu, yang membuat mereka ketakutan, adalah mata sang Wanita tersebut.
Matanya dibalut oleh sebuah kain yang menutupi sampai ke dahinya, dan tangisan darah dapat terlihat dengan jelas dibalik kain yang menutupinya itu. Darahnya mengucur kebawah hingga menghiasi bingkai di wajahnya.
Spontan mereka semua menahan teriakan yang nyaris mereka keluarkan. Mereka semua terdiam di spot mereka masing-masing. Beruntungnya sang Yurei tampaknya tidak bisa melihat keberadaan mereka. Kise mencoba mengatur nafasnya, dan itu menarik perhatian sang Yurei, ia mendekat kearah suara nafas itu berasal. Semakin dekat dan dekat. Yurei tersebut ternyata sensitif terhadap suara. Kise tercekat ketika sang Wanita melayang kearahnya. Dengan segera ia langsung menahan nafasnya, menutupnya dengan tangannya.
Kise bergidik, dengan jelas ia melihat darah di wajah sang Wanita itu terus mengalir hingga membasahi lehernya yang pucat itu. Airmata Kise nyaris keluar sebelum suara FLASH terdengar. Spontan wanita tersebut mengerang kesakitan, ia lalu menengok ke belakang, terlihat Midorima yang sedang membidiknya. Beberapa kali wanita tersebut menghilang lalu muncul kembali dibalik tembok. Semua kini berlarian untuk mengalihkan perhatian sang Yurei.
Hingga akhirnya, Midorima mengakhiri bidikannya ketika mendengar suara pilu sang Wanita yang menghilang setelah ia memfotonya untuk ke-8 kalinya.
"Tadi itu..sangat mengerikan, nanodayo" ucap Midorima yang langsung duduk "Wajahnya.." katanya sambil mengenang ingatan yang baru saja ia alami itu.
"Sebenarnya..apa yang terjadi ditempat ini-ssu.. Tempat ini sangat mengerikan" kata Kise sambil memeluk lengan kakinya.
Murasakibara kini hendak duduk di tatami tersebut. Ia kaget mendapati kepala Akashi terbentur ke tembok ketika ia hendak memutar badannya. Ia terdiam sejenak, melihat kearah kiri dan kanan. Mendapati tidak ada orang menyadari , ditambah Akashi yang tampaknya tidak bangun, akhirnya dengan wajah seolah tidak terjadi apapun ia letakkan Akashi di bawah.
"Jalan buntu..tidak ada tempat lain yang bisa kita masuki" kata Aomine menghela nafas.
"Apa kita akan terjebak disini?" Murasakibara kini bersandar di tembok belakangnya.
"Tidak, masih ada jalan" kata Kuroko tiba-tiba. Ia menunjuk kesebuah pintu kecil di ujung ruangan.
Spontan mereka semua kini melihat kearah pintu tersebut.
"Kecil sekali-ssu! Tampaknya kita semua tidak muat kesana, kecuali.." Kise kini terdiam, hanya ukuran tubuh Kuroko dan Akashi yang bisa melewatinya.
"Aku akan pergi" tiba-tiba ucapan Sang Captain dapat terdengar dari jauh. Ia membuka kilatan Heterochrome-nya secara perlahan. "Uhh.. kepalaku sakit" kata Akashi sambil memegang bagian kepalanya itu.
Murasakibara hanya menelan ludah ketika Akashi mengomentari kepalanya itu. Kalau Akashi sadar saat itu, mungkin ia akan digunting-gunting oleh sang mantan Captain karena sudah membenturkan kepalanya ke tembok.
"Aka-chin/Akashi/Akashicchi/Akashi-kun!" kata mereka bersamaan.
"Aku tahu, jangan berteriak" katanya sambil menghela nafas "Maaf membuat kalian repot selama aku tidak sadarkan diri, sekarang, biarkan aku yang memasuki tempat itu"
"Aku akan ikut denganmu, Akashi-kun" ucap Kuroko.
Awalnya Akashi hendak menolak, namun melihat keseriusan dimata Kuroko, akhirnya ia menyetujuinya.
"Baiklah, kau ikut denganku, Tetsuya" katanya sambil mengusap kepala Kuroko.
"Bawalah kamera ini, nanodayo" kata Midorima sambil menyerahkan kamera tersebut kepada Akashi.
"Tapi, bagaimana dengan kalian?" tanya Kuroko.
"Kita akan menunggu disini sampai kalian kembali~" kata Murasakibara.
"Lagipula bila sesuatu terjadi kita bisa berlari-lari di ruangan ini hingga kalian kembali-ssu!"
"Makannya, cepat kembali, Tetsu! Akashi!"
"Kau berani memerintahkanku, Daiki?" Ucapan Akashi kini terdengar dingin.
"A..bu..bukan maksu—"
"Baiklah, untuk kali ini akan kupertimbangkan. Secepat mungkin aku dan Tesuya akan kembali, jangan pergi sebelum kami kembali" katanya sambil mencoba membuka pintu tersebut.
Aomine lalu bernafas lega, tumben sekali Mantan ketua-nya tidak menggubrisnya saat ini.
"Sampai jumpa lagi, semua" kata Kuroko sambil tersenyum.
KRIETTTT
Akashi membuka pintu tersebut, mereka harus merangkak untuk memasuki tempat tersebut. Tempat tersebut tidak berlantai, kini mereka harus merangkak di tanah yang telah kering.
"Tetsuya? kau baik-baik saja?" tanya Akashi yang tetap maju kedepan.
"Aku baik-baik saja, Akashi-kun, Cuma tempat ini sempit sekali ya..kurasa hanya kita berdua yang bisa memasukinya" katanya sambil berada dibelakang Akashi.
"Seijuurou bila kita hanya berdua, coba panggil namaku, Tetsuya" kata Akashi sambil tertawa kecil.
Wajah Kuroko agak merona.
"Uh.. S..Seijuurou..kun" katanya sambil malu-malu.
"Kau bilang apa, Tetsuya? aku tidak mendengarnya"
"S..Seijuurou-kun.." ulang Kuroko.
Siluet senyuman dapat terlihat dibalik wajah Akashi, ia memandang ke depan, namun Kuroko tahu Akashi kini sedang tersenyum puas.
"Aku ingin cepat keluar, udara disini sedikit sekali" kata Akashi sambil mengehala nafas.
Mereka kini terus merangkak mengikuti arus jalan, disisi kiri dan kanan mereka tersekat oleh kayu-kayu, sehingga mereka hanya bisa melewati tempat yang sudah diarahkan saat itu.
BRUKKK! BRUKK! BRUKKK!
Kuroko melompat kaget ketika ia tiba-tiba mendengar suara yang terdengar begitu jelas di atasnya itu.
"It's so dark... Let me out! Please let me out!" Suara teriakan dapat terdengar dengan jelas ditelinga mereka.
"Tetsuya.. jangan jauh dariku" Akashi kini mengarahkan kamera tersebut kearah Viewfinder.
SHUUU~~ suara angin kini berhembus dari arah depan, dan ketika mereka melihat kedepan mereka, Kuroko mendapati tubuhnya merinding.
Didepan mereka, muncul sesosok wanita, dia merangkak, sama seperti Akashi dan Kuroko, namun perbedaannya, posisi tangannya itu terlihat seperti patah, dia memiringkan tangannya, sangat miring, seperti seakan terlihat seperti laba-laba. Apalagi dengan posisi badan yang sangat ia turunkan itu. Kukunya mencengkram tanah kering dengan erat. Rambut hitam panjang sebahu yang agak menutupi sedikit matanya. Ia menggunakan kaos dengan panjang setengah lengan berwarna kecoklatan.
Dan ketika ia maju, bukan main kagetnya Akashi dan Kuroko. Ia berjalan dengan sangat cepat! Sampai-sampai Akashi gagal mengetahui keberadaannya ketika ia melewati mereka. Tapi Akashi dapat merasakan bahwa ia masih berada disini.
"Seijuurou-kun! Disamping kanan!" teriak Kuroko yang spontan mengalihkan arah Viewfinder kamera tersebut.
Bahkan Akashi sempat menelan ludah ketika ia melihat sosok tersebut SANGAT dekat dengannya. Ia nyaris menyentuh pundak Akashi bila Sang Captain tidak kalah cepat menekan tombol FLASH. Mata kemerahan dapat terlihat jelas, bukan pupil matanya yang berwarna merah, namun daerah yang seharusnya berwarna putih itu berwarna merah.
Namun ketika Akashi hendak membidikny lagi, wanita tersebut dengan sigap mundur kebelakang dan menghilang kembali. Beberapa kali ia melakukan hal yang sama.
"Tetsuya! dia ada dibelakangmu! Bidik dia!" kata Akashi sambil melempar Kamera tersebut kebelakang. Kuroko langsung mengambilnya, dan ketika ia memasuki Viewfinder, wajah Wanita tersebut sudah sangat dekat, dengan posisi terbalik! Sang Yurei merangkak dengan posisi badannya berada di atas, ia memekik keras, bahkan Akashi sekalipun dapat mendengar suaranya dengan sangat jelas. Kuroko lalu menekan FLASH tersebut sambil menutup matanya karena ketakutan. Dan suara teriakan sang Wanita itupun bergema di tempat itu.
"Kerja bagus" kata Akashi sambil menghela nafas.
Bahkan Kuroko masih tidak bergeming, tangannya tampak masih gemetar.
"Ayo kita lanjutkan" kata Akashi membuyarkan lamunan Kuroko.
Sesampainya mereka di ujung, mereka menemukan sebuah pintu kecil, satu-satunya pintu yang terhubung dengan tempat itu. Ketika mereka membukanya, mereka dapat melihat sebuah ruangan kecil berwarna merah dengan hiasan kertas berbentuk Voodoo yang menghiasi dinding tempat tersebut. Tidak ada jalan lain lagi.
"Seijuurou-kun, ada sebuah kunci di altar itu" kata Kuroko sambil mendekati altar yang ia maksud. Ditengah ruangan terdapat meja altar yang panjang, dan diatas meja tersebut terdapat sebuah altar kecil dengan lilin kecil yang menyala untuk menerangi ruangan tersebut.
Akashi tampak berpikir, namun tak lama ia langsung mengambil kunci itu "Mungkin bisa kita gunakan untuk membuka pintu lain" katanya.
Kuroko kini mengaitkan jemarinya dengan jemari milik Akashi sambil mengelilingi tempat tersebut, mencari benda lain yang mungkin bisa mereka gunakan. Mereka menemukan lagi beberapa rol film didalam altar tersebut.
Setelah selesai, mereka kembali melewati jalan sebelumnya, namun tidak terjadi apa-apa saat ini. Dan saat mereka keluar, mereka bisa melihat wajah para Kiseki yang lega melihat Akashi dan Kuroko kembali.
"Apa kalian menemukan sebuah pintu yang terkunci selama aku tidak sadarkan diri?" tanya Akashi kepada para anggota Kiseki.
"Sebelum kita kesini, ada pintu yang tidak bisa terbuka, Aka-chin~" balas Murasakibara.
"Mungkin kita bisa menggunakan kunci itu" kata Aomine sambil memandang Kunci yang Akashi bawa.
Lalu semua mengangguk dan pergi ke depan pintu yang mereka maksud.
Akashi lalu memasukan kunci pintu tersebut, dan.. terbuka!
Kini terlihat lorong lagi, horden-horden melambaikan ujung kainnya, tertiup oleh angin yang berasal dari luar dibalik jendela yang tersekat oleh teralis besi. Namun diluar lorong tersebut, mereka bisa melihat sebuah pohon besar berada disana, ditengah halaman tersebut. Dan sebuah pintu besar yang mereka yakini adalah pintu keluar.
Akashi kini menempelkan jemarinya ke kaca jendela tersebut, melihat pemandangan diluar, di halaman tersebut.
"Kita perlu menemukan pintu yang menghubungkan dengan halaman itu, dan setelah itu kita bisa keluar dari sini" katanya sambil memandang kearah belakang, dimana para Kiseki kini melihatnya dengan pandangan horror.
"A..Akashicchi.." kata Kise sambil menelan ludahnya.
"Kenapa, Ryota? Dan kalian semua juga, seakan ada sesuatu.."
"Akashi-kun..didepanmu.." Kuroko kini memperlihatkan wajah pucatnya.
Spontan, Akashi lalu menengok ke depan. Matanya langsung membulat ketika ia melihat sosok yang ia sangat kenal berada diluar, sosok yang menyerupai dirinya, siluet yang sangat mirip dengan dirinya ketika ia masih berada di Teiko dulu, dengan poni yang hampir menutupi sebagian matanya, sebelah matanya yang bolong, sebelahnya lagi menunjukkan mata berwarna crimson, dari mata tersebut meneteskan darah yang mengalir kebawah. Posisinya sama dengan posisi yang Akashi lakukan, ia menempelkan salah satu jemarinya, tepat diposisi jemari Akashi berada dibalik jendela itu. Di kepalanya terlihat beberapa perban yang sudah melonggrar.
Pandangan matanya melotot, melihat Akashi dengan pandangan yang sangat dingin.
"Seijuurou.." katanya dengan suara yang lirih.
Spontan, Akashi langsung menarik tangannya, ia langsung mundur dengan cepat hingga menubruk seseorang yang ia tidak peduli siapapun itu. Akashi lalu memegang dadanya, bersamaan dengan menghilangnya bayangan tersebut.
"Reicchirou.." ucap Akashi dengan suara yang lirih. Nafasnya mulai tidak beraturan, Akashi kini meremas kemeja yang ia pakai pada saat itu, tepat didepan dadanya, seakan ia sedang kesakitan.
"Akashi-kun!" Dan Kuroko lah orang pertama yang memanggilnya, ya Kuroko lah orang yang Akashi tubruk pada saat ia mundur kebelakang. Kuroko langsung memeluk Akashi dalam dekapannya. Kuroko lalu mengusap punggung Akashi yang kini tampak gemetar itu.
"Oi, Akashi! Kau baik-baik saja!?" Aomine kini tampak khawatir melihat mantan Captain-nya berprilaku seperti itu. Sungguh, bukan hanya Aomine yang tercengang, bahkan para anggota Kiseki sekalipun tidak pernah melihat sisi Akashi yang seperti ini. Mereka tidak pernah melihat sosok Akashi yang ketakuatn seperti itu.
"Tapi sosok itu.. mirip sekali dengan Akashicchi-ssu.." kata Kise sambil memegang lengan baju Aomine.
"Aka-chin.. siapa Reicchirou itu?" Murasakibara kini melihat kearah Akashi.
Midorima lalu menghela nafas ketika Akashi tidak mengeluarkan sepatah kata apapun "Reicchirou itu..saudara kembar Akashi.. Akashi Reicchirou. Aku pernah sekali pergi ke rumah Akashi dan berkenalan dengannya" kata Midorima yang berhasil membuat seluruh anggota Kiseki lainnya membulatkan matanya lebar-lebar.
"Tubuh fisik Reicchirou sangat lemah, makannya Otou-sama dan Okaa-sama memutuskan untuk memberikan home schooling padanya. Ia jarang pergi keluar karena kami takut sesuatu terjadi padanya" kata Akashi yang mulai berbicara "Saat kenaikan kelas ke tingkat 3 pada saat di Teiko dulu, ia meninggal.. aku tahu ia pasti membenciku" kata Akashi dengan pandangan mata yang kosong.
"Kenapa kau beranggapan bahwa ia membencimu, Akashi? Dan mengapa tidak akabar apapun di surat kabar tentang kematian keluarga Akashi, Akashi Reicchirou itu?" tanya Aomine.
Akashi menutup matanya, sebelum ia mengukir sebuah senyum pilu di wajahnya "Keluarga Akashi..hanya mengenal 1 putra saja.. Otou-sama hanya mengganggap keberadaanku. Meskipun kami berdua sama-sama cerdas, sama-sama memiliki potensi yang besar untuk mengurus perusaan Akashi kelak, namun Reicchirou selalu menjadi bayang-bayangku. Aku yang selalu dibangga-banggakan, aku yang selalu disebut-sebut, aku yang selalu tampil didepan 'masyarakat', semua hanya mengenal 1 putra dari keluarga Akashi. Sedangkan satu diantara yang tidak terlihat..dibuang.." kini pandangan Akashi tampak kosong.
Kuroko kini memegang tangan Akashi "Apa Reicchirou-kun pernah mengatakan benci padamu, Aka—Seijuurou-kun?" tanya Kuroko sambil memandang ke arah Akashi.
Senyum tipis kini muncul di wajah mantan Captain tersebut "entahlah.."
Tak lama setelah kejadian tersebut, akhirnya mereka melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda itu.
Beberapa kali siluet Reicchirou tampak sayup-sayup berada di depan mereka. Namun, dibanding menyerang, sang Yurei tampak seperti menunjukkan jalan untuk mereka semua.
Disaat mereka tidak menemukan jalan lain untuk keluar, beberapa kali Reicchirou muncul dihadapan mereka dan menunjukkan sebuah arah dengan telunjukknya. Hingga akhirnya mereka sampai di gerbang yang mereka lihat dibalik jendela saat pertama kali memasuki lorong tersebut.
Shinboku, atau yang Akashi percayai sebagai Spirit Trees kini berdiri kokoh ditengah halaman yang terlihat gersang. Tak jauh dari sana, terdapat secarik kertas, kertas yang telah lusuh dan teremas-remas.
"Aka-chin~ kau mau kemana?" tanya Murasakibara yang melihat Akashi mendekati Spirit Trees tersebut.
"Ada sesuatu yang mengganggu pikiranku, tunggu sebentar" kata Akashi sambil mengambil kertas tersebut lalu membacanya. Mata Akashi lalu membulat, ia terpaku melihat isi dari tulisan tersebut. Senyum tipis kini tampak di wajah Akashi.
Anggota Kiseki lainnya kini mendekat ke arah Akashi dan ikut melihat isi kertas tersebut.
"Whatever
happens,
I
Will
love you
as my dear
twin brother,
.
.
Seijuurou"
"Seijuurou-kun" kata Kuroko sambil menyentuh kertas yang berada di tangan Akashi "Kupikir Reicchirou-kun tidak akan pernah membencimu" katanya sambil tersenyum.
"Reicchirou.. aku..ingin bertemu denganmu.." kata Akashi dengan suara yang kecil.
Seluruh anggota Kiseki kini membuka gerbang yang berada didepan Spirit Trees, mereka semua menahan nafas, ketika mereka keluar dari gerbang tersebut, mereka tidak menemukan apapun kecuali sebuah genangan air dengan pintu besar yang berada di tengah perairan tersebut.
"Aku pernah membacanya.. Laut yang memisahkan antara mereka yang masih hidup dan yang telah tiada" kata Kuroko sambil memandang kedepan "Abyss of the Horizon, atau mungkin lebih dikenal dengan Sea of Endless Night. Terletak di Mutsu Region, dibelakang Kuze Shrine"
"Tapi..mengapa kita berada disini-ssu! Jangan-jangan.. " Kise kini mengerutkan keningnya. Apa jangan-jangan kita semua sudah..meninggal?
"Jangan berpikir macam-macam, Kise! Kalau kita sudah meninggal, mana mungkin para Yurei mengincar kita, kan?" balas Aomine yang tampaknya mengetahui isi pikiran yang rambut Blonde tersebut.
"Apa yang Aomine ucapkan itu benar, Nanodayo"
"Lihat.. orang-orang itu.. semua menuju pintu itu" kata Murasakibara sambil menunjuk gerombolan arwah yang hendak 'menyebrang' laut tersebut.
"Kita tidak boleh berada disini, bila kita masih hidup, kita tidak boleh mendekat kearah pintu tersebut" kata Kuroko sambil melihat kearah gerbang tersebut.
Semua kini tetap berdiri di spot mereka masing-masing, sebelum mereka menyadari sesosok yang mereka kenal melintas didepan mereka.
"Reicchirou!" Spontan, Akashi berteriak sambil melangkah maju.
Namun semua anggota Kiseki kini menahan sang Captain yang tampaknya meronta ketika ditahan.
"Lepaskan aku! Ini perintah!" kata Sang Captain setengah berteriak dengan suara yang terdengar sangat dingin.
Semuanya menolak, meskipun kelak Akashi Seijuurou akan membunuh mereka karena mencegahnya, itu akan lebih baik dibanding mereka harus kehilangan Captain yang mereka sayangi itu.
"Tidak! Seijuurou-kun! Kau tidak boleh kesana!"
"Betul apa kata Tetsu! Hoi, Akashi! Kau tidak mendengar apa yang Tetsu katakan barusan!?"
"Akashicchii! Kumohon, apapun yang terjadi jangan ikuti para arwah itu!"
"Aka-chin, jangan pergi!"
Akashi makin meronta, ia tidak peduli bahkan seluruh anggota Kiseki kini menahannya, ia mencoba melepaskan diri dari genggaman dan pelukan para Kiseki lainnya.
"Kau tidak boleh pergi kesana, Akashi. Kau masih hidup, dan kau harus tetap hidup demi dirinya, nanodayo!"
Akashi kini terdiam, ia menggertakan giginya. Reichiirou, Kakak Kembarnya kini berada dihadapannya, dan untuk terakhir kalinya, bahkan ia tidak sempat mengucapkan kata perpisahan apapun padanya?
Melihat Akashi yang agak tenang, akhirnya mereka melonggarkan pegangan mereka. Dan bukan main terkejutnya saat Akashi kini berlari kearah Reichiirou, menghiraukan anggota Kiseki lainnya yang tampak mematung melihat kepergian seorang Akashi Seijuurou. Para anggota Kiseki kini ikut mengejar Akashi ketika kesadaran mereka mulai kembali.
Namun, sebelum mencapai Pintu pembatas tersebut, Akashi Reicchirou kini berhenti berjalan, kemudian ia menengok kebelakang, kearah Akashi Seijuurou yang berlari menghampirinya.
Kini, sang kembar Akashi saling memandang satu sama lain. Reicchirou yang berada dihadapannya tidak sama seperti Reichiirou yang mereka temui tadi. Sosoknya terlihat sama seperti Akashi Seijuurou pada saat mereka masih di Teiko dulu. Kilatan Crimson terlihat dengan jelas pada kedua matanya. Para anggota Kiseki akhirnya bisa mengejar pemuda berambut Scarlet yang kini terdiam, memandang kembarannya itu.
"Seijuurou-kun!" kini Kuroko yang datang terlebih dahulu langsung memeluk Akashi dari belakang, matanya sudah berkaca-kaca dan nafasnya sudah tidak beraturan ketika Akashi menengok ke belakang.
Anggota Kiseki lainnya pun sudah tersengal-sengal mengatur nafas mereka sambil menunjukkan muka yang khawatir. Akashi Seijuurou dengan agak merasa bersalah kini meminta maaf kepada teman-temannya yang sudah semerawut mengejarnya hingga kehabisan nafas.
"Reicchirou.." kata Seijuurou sambil memandang kearahnya
"Maaf..dan Terimakasih" katanya sambil tersenyum.
Reichiirou memandang datar kearah adik kembarnya itu, ia kemudian melihat betapa bahagianya bahwa seorang Akashi Seijuurou kini memiliki sahabat-sahabat yang membutuhkannya. Kemudian ia tersenyum, senyum tulus dan lembut.
"Seijuurou..hiduplah, demi diriku. Setidaknya aku bahagia menemukan kalian semua, yang dengan tulus menyayangi adik kembarku" katanya sambil tersenyum "Sekarang, pergilah..kembali pada dunia kalian"
Dan sesaat cahaya putih kini menyilaukan mata mereka. Seijuurou sempat melihat kearah Kakak kembar-nya itu untuk terakhir kalinya, ia mengucapkan sesuatu pada Seijuurou.
Dan—
.
.
.
.
.
Semua anggota Kiseki membuka mata mereka lebar-lebar, kemudian saling memandang satu sama lain dengan tatapan Horror. Kini mereka melihat daerah sekitar mereka dengan tatapan yang bringas, paranoid bila mereka terlempar kedunia manapun lagi. Namun, saat itu mereka masih didalam kereta , duduk manis dengan selimut kecil yang melapisi tubuh mereka masing-masing.
Tidak ada yang berbicara, mereka saling memandang satu sama lain, hingga akhirnya Kuroko memberanikan diri untuk berbicara.
"Apa kalian semua juga…bermimpi?"
"Mimpi!? Kukira itu sungguhan!" kata Aomine berteriak histeris.
"Betul sekali-ssu! Aku sudah panas-dingin mengingat kejadian itu!"
"Sssttt! Kau bisa membuat penumpang lain terbangun, Mine-chin, Kise-chin~~" kata Murasakibara.
"Tapi.. kenapa kita semua bisa bermimpi hal yang sama, didalam situasi yang sama, nanodayo" Midorima kini menghela nafas.
Mereka semua kini ribut membicarakan apa yang baru saja mereka alami barusan, memastikan bahwa mereka memang berada disana saat itu. Hanya 2 orang yang tidak ikut dalam pembicaraan mereka.
Akashi terdiam dalam lamunannya, ia hanya menopangkan tangannya di dagunya sambil menatap keluar jendela, hujan deras mengguyur kepulangan mereka saat ini.
Kuroko lalu menepuk pundak Akashi, ia duduk disebelah pemuda beriris Heterochrome tersebut.
"Kau memikirkan Reicchirou-kun?"
Akashi mengangguk kecil, namun tak lama perubahan wajah sebal langsung berbesit di wajahnya.
"Kenapa, Seijuurou-kun?"
Akashi kini memandang Kuroko tajam "Kau baru saja bertemu dengan Reicchirou tidak lebih dari sehari dan kau langsung menyebut nama kecilnya, tapi butuh 3 tahun untuk memanggil nama kecilku" katanya sambil menghela nafas.
Kuroko terdiam sejenak, sebelum ia tertawa lepas. Ya ampun, bisa-bisanya Seijuurou cemburu hanya masalah nama kecil, apalagi yang dibicarakan itu masalah kakak kembarnya. Kuroko lalu menyenderkan kepalanya ke pundak Akashi.
"Kau tidak pernah bercerita apapun tentang Kakak kembarmu" kata Kuroko sambil menutup matanya.
"Aku.." ucapan Akashi kini terhenti, seperti menyadari sesuatu lalu.
"Seijuurou-kun?"
".. aku bahkan berpikir untuk membunuh eksistensinya dalam kehidupanku" kata Akashi tertawa pilu "Sungguh, adik macam apa aku ini" tangannya kini tengah memijat dahinya.
"Kau tahu Reicchirou-kun tidak akan pernah membencimu, kan?" Kuroko kini membingkaikan tangannya di pipi Akashi.
Akashi menutup matanya, menyentuh kembali tangan Kuroko yang berada di pipinya.
"Tetsuya.. temani aku ke makam Reicchirou ketika kita tiba di Tokyo, ya? Akan kuperkenalkan orang yang spesial bagiku pada Kakak Kembarku"
Kuroko lalu tersenyum "Tentu saja, Seijuurou-kun.."
"Seijuurou.. be happy.. I don't hate you for all our parrents did to us. Remember our best moment together in the past? Our bond will not apart, Maybe I won't be near you as psychically, but I always be in your hearts.."
Akashi tersenyum kecil ketika ia mengingat apa yang Kakak kembarnya katakan padanya sebelum ia kembali. Bila Seijuurou adalah pemuda yang keras, arogan dan menakutkan, maka Reicchirou adalah kebalikan dari dirinya, ia lembut, baik hati dan penyayang.
Meskipun kau sudah tidak ada lagi disisiku, tapi aku akan mengingat kau, Reicchirou..
I'll living, for you who couldn't feel the same sky as am I, for you who has a blessed for me to get a happiness, for you..who always in my hearts, forever.
~ Owari ~
