Disclaimer: I am not, in any way, take any profit from the story and that all creative rights to the characters belong to their original creator(s). Naruto © Masashi Kishimoto.


Jejak Bulan di Atas Air

blackpapillon


12. Unsilent Night

.

.

"Apa yang mereka lakukan?" tanya Temari saat melihat rombongan kecil itu menjauh. "Bukankah seharusnya ini menjadi jam latihan kalian? Kalian ini berminat tidak, sih, menjadi seorang pemimpin?"

Shikamaru menoleh dan menatap wanita itu dengan pandangan malas. "Apa yang kau harapkan dari kami, memangnya?"

Temari menarik napas, "reputasi kalian cukup bagus, dan kalian menjadi jenderal di usia muda, jadi aku cukup mengharapkan kalian," kata Temari. Ia melirik Shikamaru yang tampaknya masih anteng-anteng saja bersantai. "Kau tak takut akan ancaman serangan dari 'pasukan pembebasan'?" tanyanya kesal. Kesal juga dia. Dia sangat berharap pada mereka, dan sebagai duta dari negara lain, tugasnya yang lain juga mengobservasi kemampuan negara ini dalam menghadapi penyerangan kelompok kudeta. Tapi mengapa pemimpin yang ia temui malah bersifat seperti ini? Jangan-jangan pihak Suna harus menganalisis lagi kelayakan Konoha untuk menjadi aliansi Suna.

Shikamaru mengernyitkan kening. "Pasukan Pembebasan?"

Temari angkat bahu. "Oh, kudengar dari para penduduk di utara, itulah yang mereka katakan. Pasukan kalian belum ada yang satupun melakukan pergerakan? Kudengar sudah banyak penduduk perbatasan yang mengungsi karena rumahnya dirampok."

Shikamaru sama sekali tak menatap wanita itu. "Kami sudah menempatkan beberapa satuan di sana. Dan kami sudah punya cara sendiri."

"Dan kau masih bisa santai saja?" sambar Temari cepat. "Bagaimana dengan para penduduk sipil? Sebagai pimpinan militer kau diberi hak oleh Kaisar untuk memberikan perintah secara independen. Kau harus memperbaiki sikapmu, kau dengar. Berlakulah begini terus dan kau akan diserang secara tiba-tiba. Dasar pemalas, lebih baik aku latihan lagi…" wanita itu mengangkat senjatanya yang terlihat berbentuk seperti kipas raksasa. Namun ada yang aneh.

Kakinya tak bisa bergerak?

Dan BRUK, sekonyong-konyong tubuhnya terjatuh, terbaring di tanah.

Cepat wanita itu menoleh ke arah Shikamaru. Dan yang ia lihat adalah Shikamaru yang sedang menyunggingkan senyum kemenangan, dengan segel terpasang di tangannya. Masih berbaring di atas bangku.

"Kagemane no jutsu," jelas Shikamaru, seakan-akan menjawab rona penuh tanya dari wanita itu. "Kaulah yang seharusnya lebih sigap."

Temari menggeram kesal.


Oke, sekarang kita tinggalkan mereka dan mari kita lihat apa yang dilakukan teman-teman mereka. Sepertinya pagi hari ini berubah menjadi darmawisata keliling wilayah para prajurit yang terdapat dalam istana.

"Eh, Hinata-chan suka memasak?" kata Naruto antusias. Hinata mengangguk pelan, malu-malu.

Ino yang mendengar percakapan mereka nyengir dan menepuk bahu gadis itu dengan suara keras. "Tentu saja! Dialah yang kelihatannya paling menikmati waktu di dapur. Ya, kan, Hinata?" Hinata menatap sahabatnya itu, lalu cepat-cepat mengangguk karena sepertinya tatapan Ino menyuruhnya berkata 'ya'.

"Wah, kalau begitu, kau pandai, dong, Hinata-chan? Apa kau bisa memasakkan ramen?" tanya Naruto.

Wajah gadis cantik itu makin bersemu. "A…aku bisa," katanya pelan.

"WOOOOOW! Kau bisa buatkan untukku, eh? Bisa tidak?" tanya lelaki pirang itu, melupakan sudah berapa tahun usianya sekarang saat mendengar kata 'ramen'.

Saat mendengar kata "ramen' sepertinya wajah Naruto jadi seratus kali bercahaya dari biasanya—membuat gadis itu makin grogi. Tapi, yah, bukan Naruto namanya kalau tak bisa memancing orang bicara—terutama tentang ramen—dan mereka langsung terlibat percakapan tentang makanan. Ino yang melihatnya cuma geleng-geleng kepala. Tenten pergi entah ke mana dan Hinata ditarik menjauh, jadi hanya tinggal dia sendiri di sini, di dojo yang sedang tidak terpakai.

Oh, ada Sai juga.

"Rasanya rugi sekali kalau mereka bertemu cuma untuk membahas ramen," kata Ino sambil angkat bahu. "Padahal jarang-jarang 'kan mereka bisa mengobrol bebas seperti ini. Berduaan pula. Dasar Naruto tidak peka…" komentar Ino.

"Itulah Naruto," kata Sai yang berdiri di belakangnya, "tapi kalau dia tidak begitu, namanya bukan Naruto."

"Yaaaah," Ino angkat bahu—lagi—sambil menyisir rambut pirangnya dengan jari. "Menurutmu bagaimana, Sai?"

Sai tersenyum simpatik. "Maksudmu?"

Ino mencibir. Pria ini selalu saja begitu. Pura-pura tak tahu, padahal jelaslah dia yang paling tahu semuanya. Membuang-buang waktu saja. "Mengaku sajalah. Kau tahu perasaan Sakura dan yang lainnya, kan?"

Mereka berdua terdiam. Lalu Sai tertawa kecil. "Ya, begitulah. Perempuan itu sangat menarik. Ekspresi mereka amat mudah terbaca."

Ino mengibas-ngibaskan tangannya dengan tak sabar, "lalu, apa kau tahu bagaimana perasaan teman-teman priamu?" tanya Ino. "Aku cuma ingin menanyakan itu."

Wajah tampan berkulit agak pucat itu menyunggingkan senyum simpatiknya lagi, membuat gadis pirang yang bersamanya jadi agak kesal karena terlalu banyak basa-basi. Memang cuma itu maksudnya ikut dengan mereka, agar bisa menanyakan hal itu pada Sai. Menurut Ino Sai tahu semuanya—termasuk pikiran para prianya, barangkali? Kalau ia bisa tahu, 'kan dia bisa kembali sedikit membantu sahabat-sahabatnya (dan sepertinya itu cuma dorongan nafsu pada suatu hal bernama 'gosip',— sepertinya).

Dan info harus didapat dari mana saja! Sekalipun dari cowok-tanpa-ekspresi ini!

…begitulah pendapat Ino.

Namun Sai menggeleng. "Tidak. Aku tidak tahu. Kami jarang saling bercerita."

"Yaah," Ino tampak kecewa. "Kukira aku bisa mendapatkannya darimu…" keluhnya kecewa, sambil berbalik dan menatap ke luar jendela dojo. "Sayang sekali."

"Kau tampaknya begitu memperhatikan orang lain," kata Sai pelan. Ia terdiam, mencoba memilih kata-kata yang tepat untuk bertanya. Karena dia agak penasaran juga. "Bagaimana dengan dirimu sendiri?"

Ino menoleh, sambil membetulkan rambutnya yang terbang tertiup angin. "Mengapa kau juga bertanya seperti itu?"

"Aku juga memperhatikanmu," kata Sai, membuat Ino mengernyitkan kening. "Aku tahu."

Wajah Ino memerah. "Apa yang ketahui?"

Sai tersenyum. "Kau sangat perhatian pada orang lain, juga ingin tahu tentang mereka. Namun sebetulnya itu salah satu caramu agar orang lain tak bertanya tentang dirimu, ya 'kan?" kata lelaki itu, tak peduli dengan ekspresi Ino yang tampak aneh. "Bukan kesalahan kalau kau bersikap seperti itu, namun kau juga harus berbagi pada orang lain. Bersikaplah adil."

"Kau bersikap seakan-akan kau juga bersikap seperti itu, namun tidak, bukan?" kata Ino. "Mengapa kau harus memaksaku menceritakan apa yang ada dalam hatiku? Sedangkan kau sendiri dikenal sebagai laki-laki yang paling tertutup di dunia. Apa yang kau ketahui tentang aku?" nada suara gadis itu mulai meninggi.

Sai tersenyum lagi. membuat Ino makin kesal. Lelaki itu mengambil langkah mendekatinya, hingga mereka berdua berdiri bersebelahan, menghadap jendela dojo yang sunyi, yang mengarah ke arah lapangan barat. Ditunjuknya sesosok laki-laki yang sedang berbaring di atas bangku kayu, sepertinya dia sedang mengobrol dengan wanita di sebelahnya.

"Soal dia."

.

.

Pandangan Ino berubah nanar. Ia menundukkan kepala. "Jangan sok tahu," katanya dengan nada agak terbata, "apa hubunganku dengan Shikamaru… Sai-san? Mengapa aku harus memperhatikan dia?"

"Ino," Sai menarik napas, "sayangnya aku tahu."

Sunyi. Apa-apaan dia? Bersikap sekan dia yang paling tahu tentang aku. Bersikap seakan-akan dialah yang paling mengerti tentang aku!

Ino mengertakkan gigi. "Kuharap kau bisa terus menjaga kesopananmu."

Tatapan pria itu sayu. "Jangan pernah berbohong…" bisiknya lamat-lamat, "kau harus memperhatikan dirimu sendiri, barulah kau dapat memberikan saran yang terbaik untuk orang lain."

Ino, kau menyukai lelaki itu… ya, 'kan?


"Aku ingin membandingkan kekuatanku dengan kekuatanmu."

.

.

Kelopak mata Sasuke terbuka perlahan, memperlihatkan sepasang mata indah yang bagaikan batu obsidian. Pria itu bangkit dan duduk di atas sofa yang tadi ditidurinya. Ia menggaruk-garuk kepalanya refleks, meskipun kepalanya tidak gatal. Diliriknya jam yang bertengger manis di dinding. Pukul sepuluh malam. Hari negitu cepat berlalu. Ia bahkan nyaris tak bisa ingat apa saja yang ia lakukan hari ini, selain melakukan sesi latihan pagi yang nyaris tak berguna dan analisis data statistik para prajurit sejak siang. Dia menarik napas. Pasti ia tertidur di sini, karena seingatnya tadi ia sedang meneliti statistik anak buahnya. Diambilnya tumpukan kertas dan gulungan-gulungan di atas meja dan dirapikannya. Beberapa gelas kosong tergeletak berantakan di samping tumpukan itu.

Beberapa hari sudah berlalu setelah pesta penyambutan. Namun dia masih ingat pertemuannya dengan pria aneh bernama Gaara itu. Pertemuan yang, menurutnya, sama sekali tak menyenangkan. Juga tentang kata-kata pria yang tampaknya menantangnya itu… ia bahkan sampai memimpikan kata-kata itu. Hanya kata-katanya saja. Yaaa, siapa manusia yang bisa mengontrol mimpi?

Sasuke mengambil gelas dan meminum habis isinya. Padahal Gaara-lah yang bilang bahwa dia ingin mengukur kekuatannya dengannya. Tapi Sasuke malah tak bertemu dengannya setelah itu. Sepertinya mereka disibukkan dengan urusan diplomatik, padahal setahu Sasuke mereka berasal dari kalangan militer juga. Ya sudah. Toh ia juga tidak menantangnya duluan.

Sasuke malas pindah ke kamarnya sendiri. Karena itu ia kembali merebahkan tubuhnya di atas sofa ruang kerja itu. Dipejamkannya matanya, namun tidak bisa. Bayangan pohon Sakura yang melambai tertiup angin terlihat dari jendela. Membuat lelaki itu bangkit lagi, malah mengambil mantel dan keluar dari rumah yang ditempatinya bersama keempat temannya itu.

Ruangan lain sudah gelap. Perlahan Sasuke membuka pintu tanpa bersuara, lalu menutup pagar. Seorang penjaga memberi salam padanya. Hal ini sudah biasa terjadi. Saat salah seorang jenderal mereka keluar dan berjalan-jalan di malam hari, berarti dia sedang tak bisa tidur…

Sasuke menghirup udara malam. Ia menyukai malam. Menurutnya malam cocok dengan dirinya. Saat ia merasa bosan, atau insomnia dadakan menyerangnya, obat yang paling manjur adalah keluar sebentar dan berjalan-jalan. Para penjaga yang berjaga malam pun tahu hal itu—sehingga mereka tak akan menyangka Sasuke sebagai penyusup. Malam adalah tempat dia bisa merasa bebas, sendirian. Meskipun akhir-akhir ini ia dapat berada di tempat ramai bersama dengan orang lain, tetap saja ia menyukai saat-saat sendirian seperti ini tanpa ada yang mengganggu.

"Aku tak ingin membuatnya tak bisa menikmati alam bebas seperti aku…"

Ada tambahan; selain malam, akhir-akhir ini ia jadi menyukai pagi musim semi yang cerah.

Tiba-tiba dia jadi ingat seseorang yang sempat bertemu dengannya tadi pagi. Pria itu diam sebentar di tengah arah menuju hutan tempat latihan, lalu berbalik arah ke arah berlawanan, ke arah bangunan utama.

Dia mungkin sedang melihat bintang lagi.

.

.


"Hei."

.

Sakura menengokkan kepalanya dari teleskop yang sedang dipegangnya. Lalu tersenyum saat tahu siapa orang yang muncul di depan berandanya itu. "Selamat malam, tuan jenderal," sapa gadis itu jenaka, "kurasa bukan saatnya lagi seorang jenderal ikut berjaga bersama para prajurit?" tanyanya agak menyindir.

Sasuke menyeringai melihat sikap gadis itu. "Aku menambahkan jadwal pribadi untukku sendiri," sahutnya membalas, "lagipula kurasa tak ada larangan untuk berjalan-jalan sendiri di lingkungan istana pada malam hari, kecuali dia penyusup."

Sakura tertawa kecil. Ia merapatkan mantel yang menyelimutinya, lalu bersandar ke pagar kayu yang membatasi mereka. "Oh, ya? Aku baru tahu. Karena aku hanya bisa keluar di malam hari hanya apabila aku bersama ayah atau ibu," kata Sakura sambil menerawang ke kolam yang ada di bawahnya. Bulan sabit memantulkan bayangannya ke permukaan kolam, menimbulkan riak-riak kecil dari para ikan yang penasaran.

"Konsekuensi," ujar Sasuke sambil bersandar ke pohon terdekat. "Kedudukanmu berbeda dengan kami."

Gadis itu tersenyum pedih. "Aku tahu," katanya, "bahkan saat pergi sendirian di sore hari, aku dimarahi olehmu. Ya 'kan?" katanya, membuat Sasuke mendengus. Sakura tertawa lagi.

"Ya sudahlah," Sasuke mengalihkan pembicaraan, "mungkin kalau di depan kamarmu, kau masih bisa… toh tidak kemana-mana. Asal kau tahu batasnya… mungkin."

Sakura mengedikkan bahu dan menunjuk ke kolam memanjang yang ada di depan bangunan itu. "Tapi ada kolam."

"Lompat saja," kata Sasuke cuek.

Gadis itu tertawa geli. "Jadi, kau menyuruhku melompat, …Sasuke-kun?"

"Hanya menawarkan. Dan jangan panggil aku dengan embel-embel itu."

Sakura nyengir, lalu memegang pagar kayu yang ada di hadapannya. Pagar kayu yang tak begitu tinggi. Sekalipun bahannya dari kayu, namun sangat kuat. Tingginya kira-kira sebatas pinggul gadis itu. Pagar kayu itu berlekuk indah, terbuat dari kayu berwarna kemerahan berkilap memantulkan cahaya lampu kecil di atas beranda itu.

"Kurasa kalau aku melompat aku akan menimbulkan keributan dan memanggil para penjaga ke sini, jadi kurasa sebaiknya kita mencari cara untuk pergi ke situ tanpa harus menarik perhatian orang…" gumam Sakura sambil berpikir, "ada ide?"

Sasuke tersenyum tipis, lalu berjalan selangkah demi selangkah—sampai akhirnya kakinya tenggelam di dalam kolam itu sebatas betisnya. Sakura terbelalak dengan apa yang dilakukan pria itu, namun sepertinya dia sendiri tak peduli. Pria itu mengulurkan tangannya.

"Ayo."

Sakura menatap tangan yang terulur itu dengan pandangan sangsi, lalu wajah Sasuke, lalu air yang menggenang di bawah mereka. "Kau basah."

Sasuke hanya menyeringai.

"Kalau begitu, jangan buat aku lebih kedinginan di dalam sini dan cepat ke sini."

Seulas senyum manis kembali muncul di bibir gadis itu. Diturutinya kata-kata Sasuke. Ia naik dan duduk di atas pagar, lalu menggenggam tangan lelaki itu dan mengayunkan tubuhnya.

Hup.

Oke, paling tidak aku tidak perlu tercebur ke kolam dengan suara keras—dan basah kuyup, pikir Sakura. Tapi mengapa sepertinya hanya sedikit bagian kakinya yang tercelup ke dalam air? Otaknya bergerak cepat. Tubuh Sasuke jelas lebih tinggi darinya, dan dalam kolam itu mencapai pertengahan betisnya. Seharusnya Sakura tenggelam lebih dalam, Tapi kenapa hanya pergelangan kakinya yang basah? Lagipula ia mengapung…

Dalam keadaan begini, sepertinya nuraninya lebih cepat bereaksi.

.

Tentu saja mengapung, bodoh! Karena kau sedang digendong. D-i-g-e-n-d-o-n-g!

Eh?

Eh.

Eh.

EH!

Refleks tangannya mendekap tubuh Sasuke—yang tampaknya masih tenang-tenang saja—dan nyaris berteriak kalau saja dia tidak menyadari bahwa masalah akan menimpa mereka setelah itu kalau dia berteriak. "Sa-Sasuke, turunkan aku…" desisnya lirih, mencoba menyembunyikan derap jantungnya yang mendadak makin cepat.

Sasuke mendengarnya. Wajah gadis itu berada di atas kepalanya sekarang. Dia tak bicara apa-apa, namun berputar dan akhirnya menurunkan gadis itu di atas tanah. Dengan kaki yang hanya sedikit basah tentunya, sedangkan kakinya sendiri basah sampai mencapai lutut karena pengaruh gerakan-gerakan yang dilakukannya tadi.

"Bagaimana pendapatmu? Apa pemandangan yang kau lihat berbeda?" tanyanya sambil beranjak keluar dari kolam itu, dan sibuk mengeringkan kakinya yang basah.

Sakura mendongak dan mencoba menguasai kembali pikirannya. Yak, pikirannya sudah kembali normal. Ia duduk di atas rumput yang dingin. "Sama seperti apa yang kulihat dari jendela, namun lebih luas," hanya itu yang dapat dikatakan Sakura, tampak seperti orang bodoh. Benar-benar, sepertinya sel-sel otaknya berubah tidak normal; hanya itu yang dapat ia katakan. "…Aku tak pernah berjalan-jalan sendirian di lingkungan istana saat malam hari."

Sasuke yang sedang memakai sepatunya kembali mendengus. "Huh, 'lebih luas'? apa kau menganggap kamarmu sendiri seperti kerangkeng? Kau berlebihan," katanya sambil menjatuhkan diri di sebelah gadis itu. Berbaring di atas rumput yang empuk.

Sakura menarik napas panjang. "Aku memang pergi kemana-mana. Dari satu wilayah ke wilayah lain, berkunjung melihat keadaan rakyat… berkeliling istana dan menghadiri pesta-pesta bersama orangtuaku…" mata hijau gadis itu menerawang jauh ke atas langit. "Ada kalanya aku bosan. Meskipun berada di luar… tetap saja aku berpikir tak bisa melihat seperti yang lainnya."

"Bosan memang sudah jadi sifat buruk manusia." Ya, hanya itu jawaban singkat dari Sasuke.

Gadis itu tersenyum. Ia sudah tahu, itulah jawabannya.

"Sasuke," Sakura perlahan mengulurkan tangannya, menyentuh rambut hitam lelaki yang sedang berbaring itu. Lama ia tak bicara. Begitupun Sasuke. Sampai akhirnya Sakura melanjutkan kalimatnya yang tadi sempat terputus. "Kau pernah merasa lelah? Atau bosan?"

.

.

Sepi.

"Kau tak pantas bertanya seperti itu padaku," kata Sasuke pelan. "Sepertinya kau yang merasa begitu."

Sakura menarik napas panjang. "Begitulah… aku capek. Rasanya ingin berhenti saja…" kata Sakura. "Bukan, bukan maksudku untuk tidak mensyukuri keadaanku yang sekarang—maksudku, ya, aku beruntung karena aku masih punya orang tua—tapi, aku… bukan, maksudku… aku ingin istirahat sedikit. Bukan, bukan istirahat yang mengharuskan aku berlibur dengan dikawal sekian puluh orang… tapi…"

Sasuke menahan senyum yang ingin muncul tiba-tiba sebisanya, tangannya terulur menutup mulut gadis yang terlihat kebingungan mengungkapkan pikirannya itu. Bisa dimengerti. Sakura pastinya sudah tahu kalau orang tua kandung Sasuke sudah tiada, dan dia mungkin tak ingin membuat suasana makin runyam dengan salah bicara.

Namun, pria itu juga sudah lebih bijaksana kali ini.

"Bicaralah apa yang ingin kau katakan," kata Sasuke, "tak usah pedulikan aku, karena kau yang mengalami semua itu. Kita berjalan di kehidupan kita sendiri-sendiri."

Sakura terdiam, tampak berpikir. Lalu sejurus kemudian tertawa. "Ya… terima kasih," katanya setelah tawanya terhenti. Pandangannya beralih ke atas. Lukisan malam amat cantik hari ini. Bulan sabit menggantung di langit bersaputkan awan kelabu. Membuat perasaannya jadi agak aneh dan campur aduk.

"Aku ingin keluar dari istana sebentar saja…" kata Sakura akhirnya, "mungkin sekarang aku sedang merasa bosan. Tapi aku ingin… keluar tanpa pengawalan. Aku ingin keluar tanpa harus diadakan pengawasan penuh atas diriku… aku merasa bebas sebentar saja."

"Tak hanya kamu yang mengalami hal itu. Semua orang juga mengalaminya. Ingin keluar dari rutinitas sehari-hari yang menjemukan dan membosankan. Jangan hanya berpikir dari sisi dirimu, berpikir juga dari sisi orang lain…" kata Sasuke, "kurasa akan banyak orang yang tak percaya kalau seorang puteri raja bosan. Menurut mereka, kau 'kan punya segalanya."

"Justru karena itu, bukan?"

"Mereka tak bisa berpikir dari sisi itu karena mereka tak memiliki apa yang kau miliki," jelas Sasuke, "bersyukurlah lagi sedikit. Anak-anak perempuan kecil di seluruh negeri ini ingin menjadi sepertimu. Mereka akan senang sekali kalau bisa menjadi sepertimu di masa yang akan datang."

Sakura mengangkat alis. "Eh? Dari mana kau tahu?"

Pria itu tersenyum tipis. "Aku melakukan patroli bergantian dengan yang lain," katanya mulai menjelaskan. "Dan sering sekali aku melihat anak-anak kecil yang bermain peran sebagai kita. Lucu juga melihat anak-anak perempuan kecil yang berebut ingin menjadi dirimu, atau anak-anak lelaki yang menggunakan kayu-kayu tak terpakai sebagai pedang, berperan sebagai para jenderal…" Sasuke berhenti bicara, melihat reaksi gadis itu. Sakura tampak antusias.

"Benarkah? Sepertinya manis sekali! Aku ingin melihatnya, bisa, tidak?"

"Yaaah…" Sasuke menarik napas, "agak sulit, tapi bagaimana kalau kau melakukan sedikit 'kunjungan pribadi'?" usulnya. "Kurasa kaisar akan mengizinkanmu keluar dengan pengawalan kami, dan kau bisa pergi dengan teman-temanmu."

Wajah Sakura makin cerah. "Benarkah? Aku akan segera bilang pada ayahku! Pasti ia mengizinkannya!" katanya senang. "Lalu, kita akan kemana?"

"Sesuatu yang akan membuatmu melihat hal yang berbeda," kata Sasuke berteka-teki.

"Misalnya?"

"Aku akan memberitahumu kalau kau sudah mendapatkan izinnya," ujar Sasuke sambil bangkit dari rumput yang ditidurinya. Ia membersihkan rumput-rumput yang menempel di tubuhnya, lalu menepuk bahu Sakura perlahan. "Nah, sudah larut dan aku bisa mendapatkan surat peringatan kalau ketahuan ada di sini bersamamu, jadi kembalilah ke kamar."

"Eh, tunggu!" potong Sakura, "kau belum menjelaskan padaku lebih lanjut…"

"Kau tidak bisa kembali ke kamarmu sendiri, 'kan?" sahut Sasuke tak peduli, "kau butuh bantuanku, jadi kalau kau terus bertanya, aku bisa saja membiarkanmu terus duduk di sini."

Sakura mengernyitkan dahinya, sebal. "Oke, oke! Sekarang aku akan mengalah, tapi kau harus memberitahuku, ya!" kata Sakura kesal, "Dasar cowok menyebalkan, memanfaatkan kelemahan orang lain!" gadis itu merengut, sambil berdiri dan membersihkan kimononya dari serpihan rumput, membuat Sasuke menyeringai.

"Hal itu yang dibutuhkan oleh tentara, tahu," katanya, "tak peduli laki-laki atau perempuan. Nah…" lelaki itu tersenyum-agak-licik dan menggendong Sakura dengan sekali gerakan—tak ada protes kali ini—dan gadis itu kembali berada di balik pagar kayu, berada di dalam kamarnya lagi. "Selamat malam dan selamat tidur, Sasuke menyeringai lagi melihat wajah Sakura yang hampir sewarna dengan rambutnya, dan langsung menghilang seperti beberapa waktu yang lalu tanpa berkata apa-apa.

Sakura merengut, wajahnya masih merah. Ia bahkan tak sempat membalas ejekan yang dilontarkan lelaki itu. Sungguh…

.

.

Ah, pria memang menyebalkan…


"Anda sudah kembali," seorang penjaga menyambut kedatangan Sasuke di pagar mes mereka. "Ada panggilan untuk anda dari kaisar."

"Dari kaisar?" Sasuke mengerutkan dahi, "ada apa? Mengapa selarut ini?"

"Para jenderal diminta menghadap kaisar di ruangan bawah tanah," kata penjaga itu cepat, "ada panggilan darurat. Yang lain baru saja berangkat."

"Ya, tapi ada apa?" tanya Sasuke sekali lagi.

Penjaga itu menggeleng cepat. "Saya juga tidak diberi tahu, yang pasti anda semua diminta ke sana."

Sasuke bergegas masuk ke dalam mes, mengganti pakaiannya dengan seragam keprajuritan, dan bergegas berlari ke arah istana. Lucu juga, karena tadi ia baru saja kembali dari sana… hanya saja, urusannya lain. Ia masuk lewat pintu selatan, menekan relik yang terpampang di dinding, membukakan sebuah pintu yang di dalamnya terdapat tangga menuju ke arah bawah tanah. Pintu ke arah ruangan yang jarang dipakai kecuali ada hal yang sangat penting. Hatinya sedari tadi terus bertanya-tanya. Kakashi telah menunggunya di pintu masuk. Hal ini membuatnya makin bingung—karena setahunya Kakashi adalah manusia-paling-tidak-tepat-waktu sedunia.

"Kau sedikit terlambat, tapi tak apalah," kata Kakashi sambil menggiring Sasuke ke dalam. Sasuke bahkan tak diberi kesempatan untuk bertanya. Di dalam ruangan itu sudah ada kaisar dan sederetan petinggi, serta para duta dari Suna. Teman-temannya sesama pemimpin pasukan duduk di deretan kursi sebelah kanan. Naruto duduk sambil membersihkan sisa-sisa makanan yang entah mengapa menempel di mulutnya saat bukan sedang waktu makan.

"Baik," Kaisar berdehem dan menepukkan tangannya, emmbuat ruangan itu hening. "baru saja ada pesan yang dibawa oleh utusan gubernur derah utara. Kuminta seluruh pemimpin pasukan bersiap. Shikamaru, Naruto, Neji, Sasuke, Sai… aku serahkan semua pada kalian. Kakashi, Asuma dan Guy, kuharap kalian bisa melakukan backing bagi mereka. Bertindaklah sebagai pengalih perhatian, namun terus awasi mereka. Tsunade, persiapkan tim medis bersama Kurenai dan Shizune yang menjadi pelindung. Tak usah menurunkan seluruh pasukan, dua puluh dari masing-masing pasukan kalian sudah cukup. Yang aku butuhkan adalah kemampuan utama dari masing-masing pasukan."

"Apa yang terjadi?" bisik Sasuke pada Neji yang duduk di sebelahnya.

.

.

"Wilayah utara diserang."

.

.


To Be Continued


.

IYA, SAYA TAU!Saya super payah karena hiatus kelamaan. Berapa lama? Saya males ngitung. Sumpah bukan mau saya. Sekolah sibuk, euy. Ini juga harus curi-curi waktu. Maklum kelas tiga, nyaris ngga ada waktu libur, hiks. Selain itu saya juga keasyikan bikin ilustrasi. Maklum baru punya DeviantArt yang alamatnya blackpapillon dot deviantart dot com –kampungan- ayooo watch saia! –bletak-

Memang begitulah adanya. Ngga banyak kemajuan di chapter 12 ini. Cuma ada tambahan fluffy-ish dan OOC-ness yang luar biasa banyak. Saya kebingungan menentukan momen yang pas untuk memunculkan Gaara lagi. Santai sajaaaa… Saya cuma membiarkan semua mengalir. –ditampol- eh, tapi saya masih punya alur cerita, kok! Sumpaaah!

Udah deh. Saya ngga bisa ngomong apa-apa lagi selain maaf dan terima kasih untuk semua yang (mungkin) masih minat baca (dan review) cerita yang hobinya ngalor ngidul ini… lama ga maen ke FFn, banyak fic baru ya? Huah, yang masuk alert aja belum semuanya dibaca. Maafkan aku, teman-teman…

Current listening: Tatanka – Last Of The Mohicans

Terima kasih sudah membaca.

Blackpapillon