Kuroko no Basuke Fanfiction

Drabble - 17

Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi

Rating : T

Warning : OOC-ness, failed!Humor, Akashi!Fam

Pair : AkaKuro, AoKi

A/N : Holla, Minna-san XDD Akhirnya libur telah tiba! Author jadi punya waktu luang buat nulis cerita X3 untuk Drabble kali ini adalah request dari "Myadorabletetsuya" Sankyuu buat requestnya. Kebetulan gara-gara Author yang sedang proses membuat cerita Gloomy di cerita "The World Between Light and Darkness" makannya author sangat butuh menulis fic yang nyantai dan rada humor, meskipun tampaknya humornya gagal TxT tapi author sangat enjoy menulis chapie ini. Moga" kalian suka ya, meskipun agak singkat dari chapie biasanya :D

Thank you for all review, fav, alert, follow, and all silent readers :D Thank you for all support and all PM.. I'm happy that you all enjoy this story ^w^ Thank You ~ and Author will be waiting for your review ^w^

Happy Reading, all..

With Love,

Zelvaren Yuvrezla a.k.a ren-chanz


Aomine dan Kise menelan ludahnya, mengharapkan agar mereka dapat keluar dari keributan yang berada didepan matanya ini. Bagi hidup seorang Kise Ryota dan Aomine Daiki yang berniat untuk mengunjungi rumah kediaman Akashi, tidak ada hal terparah yang mereka pernah alami. Ini gawat, sangat gawat karena nyawa mereka kini sedang diujung tanduk.

Mengapa? Mari kita lihat bagaimana kronologi-nya.

Siang hari nan cerah, angin berhembus dengan sepoy-seyop, bercampur dengan angin yang menerbangkan beberapa kelopak Sakura. Kise Ryota dengan antusias kini mengajak Aomine Daiki untuk menemaninya mengembalikan buku Novel perdana milik Kuroko yang ceritanya akan dipublish seminggu lagi.

Aomine yang tidak mendapat Shif kerja, lantaran libur itupun akhirnya setuju setelah Kise tidak berhenti mengganggunya bila ia tidak mau menemaninya. Dan tibalah mereka dirumah kediaman Akashi.

Kenapa Akashi? Karena 3 bulan lalu Akashi Seijuurou dan Kuroko Tetsuya selesai melangsungkan acara pernikahannya, sehingga kini nama keluarga Kuroko berubah menjadi Akashi. Akashi Tetsuya.

Namun hal yang membuat keduanya langsung terdiam adalah, sewaktu mereka hendak memencet bel rumah, tiba-tiba melintaslah sebuah Pot bunga berukuran 50x30 yang langsung pecah keluar, bersamaan dengan bunga-bunga didalamnya yang tepat melintas dengan kecepatan ekstra disamping kedua pengunjung rumah tersebut.

Aomine dan Kise melihat kearah pot tersebut dengan slow-motion, sweet drop ketika melihat vas bunga dengan ukuran tidak lazim itu melintas keluar, seakan terdorong oleh serangan sang Phantom Player ketika memberi pass bola pada mereka yang kini diterapkan pada vas tersebut.

"Seijuurou-kun, baka!" teriak sebuah suara yang begitu familiar dari dalam. "Kau seharusnya tidak usah mempertahankan 'kau dan keabsolutanmu' yang bodoh itu!"

Uh-Oh? Apakah yang mereka dengar? Pertengkaran antara Kuroko, er, ralat, Akashi Tetsuya dengan? Dengan siapa lagi kalau bukan Akashi Seijuurou, suami tercintanya.

"Dengarkan aku, Tetsuya!"

"Cukup, Pulangkan aku kerumah orangtuaku!"

Lho? Apa mereka tidak salah dengar?

Belum sempat Aomine dan Kise mencerna perkataan Akashi Tetsuya, kini orang yang dimaksud malah keluar. Melihat kedua temannya menganga didepan rumah miliknya, akhirnya Tetsuya menarik keduanya untuk ikut berlari.

"Ku..Kurokocchi! Ada apa, kenapa kau berantem dengan Akashicchi!?" kata Kise degan panik.

"Pokoknya aku benci Seijuurou! Aomine-kun, biarkan aku diam di apartement-mu sebentar, dan Kise-kun pokoknya ikut saja!" katanya sambil menarik keduanya ke apartment milik Aomine.

Tanpa bertanya lebih lanjut akhirnya mereka menurut saja ditarik oleh Tetsuya.

Lalu setibanya mereka di apartment milik Aomine

"Lalu, kenapa kau sampai berantem dengan Akashi, Tetsu?" kata Aomine sambil menuangkan Vanilla-shake ala buatanya kepada Tetsuya yang masih mangut-mangut.

"Bahkan selama kalian berpacaran dulu, kurasa kalian tidak pernah berantem separah ini-ssu!" kata Kise sambil memandang Tetsuya yang kini menenguk Vanilla shake-nya dengan sekali teguk.

Aomine dan Kise makin sweat drop, baru kali ini mereka melihat Tetsuya yang tampaknya sangat kesal.

"Jadi..ceritanya.." kata Tetsuya mulai berbicara ketika amarahnya sudah mereda.

-FLASHBACK-

"Seijuurou-kun, kau mau makan apa hari ini?" kata Tetsuya sambil tersenyum lembut.

"Bagaimana bila aku memakanmu saja, Tetsuya?" Seijuurou lalu mendekat dan mengunci bibir mereka.

"Mou, Kau harus makan yang benar, bagaimana dengan Tofu?"

"Ah~ apapun masakan Tetsuya aku pasti suka" katanya sambil memeluk Tetsuya dari belakang.

"Seijuurou-kun, bantu aku memasak ya"

Seijuurou mengangguk kecil tanda persetujuan.

Lalu selesai mereka memasak.

"Seijuurou, ahhh~" kata Tetsuya meminta Seijuurou untuk membuka mulutnya, menyuapi suami tercintanya maksudnya.

Seijuurou dengan senang hati membuka mulutnya dan dengan senang menikmati masakan Istri tercintanya.

"Err.. Tetsu, kau ini bercerita tentang alasan kau berantem atau tentang kau sedang bermesra-mesraan dengan Akashi, sih?" Jengkel Aomine yang sudah dengan penasaran ingin mendengar alasan mereka bertengkar.

"Aomine-kun diam dulu, ceritanya baru mau dimulai nih" kata Tetsuya sambil mengembungkan pipinya.

Kise sendiri malah sudah nosebleed membayangkan seorang Kuroko-er..Akashi Tetsuya yang bermesra-mesraan dengan Akashi Seijuurou, sang mantan kapten tersadisnya di Teiko dulu.

Kembali ke cerita utama

"Lalu bagaimana dengan dessert-nya, aku membuatkan puding untuk kita berdua"

"Ide bagus, ayo kita menuju dapur"

Tetsuya kini mengeluarkan 2 puding dengan warna biru Aqua dari lemari es milik mereka.

"Tetsuya? Kau membuat semua Biru? Kemana Merah-nya?"

"Bahan pewarna merahnya habis, Seijuurou-kun, makannya kubuat biru saja, bagaimana? Kau kan bisa mengingatku selalu saat memakan puding ini"

"Tapi aku tidak suka bila tidak ada merah, Tetsuya. Kau tahu warna kesukaanku"

"Sekali-kali kan tidak apa-apa, Seijuurou-kun"

"Tentu tidak bisa, Tetsuya! Aku absolut dan semua harus memiliki warna Merah!"

Tetsuya mulai jengkel.

"Seijuurou-kun selalu mengatakan merah, merah, merah! Kan kali-kali tidak apa-apa kalau tidak ada merah!"

"Tidak bisa seperti itu, Tetsuya! Merah itu tidak pernah lepas dari imej-ku!"

Kuroko yang kesal lalu mengangkat Vas bunga yang berada disebelahnya, lalu mendorongnya dengan kencang.

Dan itulah, tragedy yang terjadi di rumah kediaman milik Akashi siang hari nan cerah itu.

-END FLASHBACK-

"Jadi.. kau bilang, pertengkaran kalian itu hanya karena.. PUDING!?" Teriak Aomine tidak percaya.

"Bukan gara-gara PUDING, Aomine-kun! Aku kesal karena Seijuurou-kun tidak mau mengalah sesekali"

"Yah, kadang pertengkaran itu memang diperlukan sih, Kurokocchi" kata Kise sambil menyumbat hidungnya dengan tissue. "Meskipun pertengkaran karena puding itu..."

Belum sempat mereka berkata lebih jauh, tiba-tiba pintu depan Aomine terbuka secara paksa.

"Tetsuya! Jangan pergi meninggalkan rumah seenaknya!" kata Akashi yang langsung masuk dan menemukan sosok yang ia cari.

"OI! Akashi! Jangan rusak pintu depanku!" Protes Aomine. "Dan lepas sepatumu, WOI!"

"Diam kau, Daiki" ucapan dingin terdengar dari mulut Seijuurou yang masih marah, alhasil membuat Kise dan Aomine kini berdiam di pojok ruangan menyaksikan pertengkaran suami istri LIVE yang berada di kamarnya.

"Kenapa kau mengikutiku!?" Tanya Tetsuya dengan pandangan yang tajam.

"Jawab pertanyaanku sebelumnya, Tetsuya" kata Akashi dengan nada yang rendah.

Dan disinilah Aomine Daiki dan Kise Ryota hanya terdiam melihat kelakuan mereka berdua, kelakuan sepasang suami istri yang baru saja bertengkar besar-besaran.

Tanpa melihat sikon, Tetsuya langsung melempar-lemparkan barang disekitarnya, ditambah Akashi yang tidak kalah kekanak-kanakannya untuk ikut melempar barang disekitarnya juga.

Chaos! Kamar Aomine kini terancam kelestariannya karena ulah sang Duo Akashi. Meskipun semua orang sudah mengetahui bahwa kamar Aomine itu bak Kapal pecah dan semua orang telah mengetahui rahasia umum itu, namun kekacauan yang dibuat pasangan baru Akashi membuat imej kamarnya menjadi makin hancur.

Hingga akhirnya Kuroko menuju kasur Aomine dan melempar barang yang berada didekatnya.

"O..OII! Koleksi Mai-chan-ku!" Protes Aomine ketika Tetsuya mengambil tumpukan buku yang berada di ujung, tumpukan yang tampaknya Aomine sembunyikan dengan sangat rapi.

Namun dengan lihai, Seijuurou menghindari buku itu, membuat figura yang terpasang didinding jatuh ke lantai.

"Aominecchi! Kok masih menyimpan buku-buku Mai-chan!" kata Kise yang langsung menunjukkan wajah kesalnya.

"Ah.." Aomine kini bersiul-siul sambil memandang kearah lain.

"Kau kan sudah bilang mau membuang semua koleksi Mai-chan-mu itu-ssu!" Rengek Kise yang melebihi petengkaran Tetsuya dan Seijuurou.

"Ahomine! BAKA-SSU! Kau bilang kau sudah tidak tertarik dengan tubuh Mai-chan! Apa tubuhku saja tidak cuku untukmu-ssu! HUWEEEE!"

"O..Oi, Kise" Aomine mulai panik ketika melihat Kise malah menangis.

"Aominecchi baka! Baka, baka, baka, bakaa!"

"Hee~" Sang Duo Akashi kini memandang kearah Aomine dan Kise.

"Kau membuatnya menangis, Aomine-kun" kata keduanya dengan ekspresi senyum yang mencurigakan.

"Apa boleh buat, pasangannya tetap selingkuh dengan buku-buku ajaibnya itu, bagaimana pasangannya tidak sedih. Ah, tampaknya pertengkaran kita masalah puding ini terdengar sangat konyol"

"Aku juga, Seijuurou-kun.. Maaf sudah berprilaku seenaknya seperti itu. Lain kali aku akan menanyakan saranmu terlebih dahulu"

"Kalau begitu, ayo kita pulang, Tetsuya. Aku ingin membaca buku bersamamu"

"Tentu saja, Seijuurou-kun"

Dan inilah kisah diantara keluarga Akashi pada siang hari nan cerah bahagia sang keluarga Akashi yang membuat hubungan -?- pribadi temannya sedikit terganggu.

~Owari~