Disclaimer: I am not, in any way, take any profit from the story and that all creative rights to the characters belong to their original creator(s). Naruto © Masashi Kishimoto.


Jejak Bulan di Atas Air

blackpapillon


13. Euforia

.

.

"Kumohon, jangan!" teriak seorang wanita berusia setengah baya. Setengah mati ia berusaha mempertahankan seorang gadis kecil yang ada di pelukannya. Anak perempuan mungil yang wajahnya kotor oleh debu. Di belakangnya keadaan sudah kacau. Sebuah bangunan kayu tengah bermetamorfosis menjadi arang dan abu. Menyala-nyala menerangi malam. "Jangan!"

"Tak ada pilihan 'jangan', ibu," desis seseorang yang ada di hadapannya. "Hanya ada dua pilihan. Kau atau anakmu."

"Biarlah aku," wanita itu mulai meratap, "tapi, jangan lakukan apapun pada anakku!"

Orang itu menyeringai. "Kau sudah mengambil satu pilihan."

JLEBB

Malam ini, ada pesta besar yang penuh dengan kembang api.

Kalian menyukainya? Lihatlah, saat ini kami sedang menunjukkan eksistensi kami… sebagai manusia.

.

.

Dan penguasa.

.

.

"IBUUUUUUUUUUUUU!"

.

.


.

.

"Bangun, bangun, bangun!" teriakan Naruto membahana di ruangan depan barak, "dua puluh dari tiap pasukan, semua bersiap untuk pergerakan! Bangun, ayo bangun!" lelaki berambut pirang itu terus berteriak, membuat para prajurit yang sedang tidur terjaga. Masih dengan wajah yang mengantuk, mereka bangkit dari futon-futon yang mereka pakai untuk tidur, lalu memakai seragam mereka dengan wajah yang terlihat amat penasaran.

"Ada apa?"

"Apa yang terjadi?"

"Hei, kau tahu mengapa kita dibangunkan malam-malam begini?"

"JANGAN RIBUT!" terdengar teriakan Sai. "Seratus orang yang kusebutkan sekarang, harap maju dengan seragam lengkap ke lapangan barat! Untuk prajurit lain, siapkan penjagaan ketat di sekitar istana! Beberapa orang persiapkan kuda-kuda dan persenjataan, kita tak punya banyak waktu!"

Para shinobi muda itu berhenti mengobrol, berganti dengan kesibukan persiapan. Seratus orang yang namanya disebutkan oleh Sai berbaris teratur, menuju lapangan barat dengan persenjataan lengkap. Setiap dua puluh prajurit memakai seragam yang berbeda-beda. Mereka berbaris dalam gelapnya malam, hanya sedikit cahaya lentera yang bergantung di dinding-dinding barak. Mereka terdiam, namun hati mereka bertanya-tanya. Apa yang sesungguhnya terjadi?

Sasuke memilah-milah tumpukan senjata yang ada di lemarinya. Ia hanya membawa senjata-senjata yang kegunaannya vital saja. Kunai dan shuriken memang merupakan peralatan yang harus selalu ada, namun ia tak perlu membawanya terlalu banyak. Bagaimanapun, pasukannya bukan pasukan intelijen yang harus bergerak secara sembunyi-sembunyi. Mungkin hanya pasukan Sai yang bergerak tanpa kuda.

Diambilnya sesuatu yang ada di sudut kamarnya. Sebilah katana. Di salah satu sisinya terdapat lambang keluarga Uchiha. Dia menarik napas, lalu menggeleng. Diletakkannya kembali benda itu ke tempatnya.

Belum saatnya untuk memakai ini…


"Kau sudah dapat perincian dari kaisar? Siapa yang sedang berada di sana?" tanya Neji sambil memasang perlengkapannya, "sejauh ini, bagaimana keadaan di sana?"

"Kabar buruk," kata Shikamaru dengan wajah frustrasi, "aku tak mengerti mengapa info yang datang bisa terlambat. Iruka-sensei sekarang sudah hampir sampai ke utara, tapi tak bisa diketahui kapan dia akan tiba. Kita akan lakukan pengarahan singkat saja. Neji, kau maju duluan. Utamakan perlindungan pada penduduk setempat. Kalau kau sudah tiba, kau kirim pesan pada kami."

"Oke," Neji menganggukkan kepala, lalu menoleh ke arah anggota pasukannya. "Kalian! Kalau sudah siap, kita segera maju!" teriak Neji ke arah anak buahnya. Dia sendiri bergegas naik ke kudanya. Seekor kuda putih yang terlihat besar dan kuat. "Kami maju duluan."

Shikamaru mengangguk. Mereka berdua berjabat tangan sekilas. "Semoga berhasil."

Derap langkah puluhan kuda maju berpacu dengan angin yang agak tak bersahabat. Malam makin larut. Shikamaru melirik jam, sudah hampir pukul dua belas malam. Mereka harus bergerak cepat; jika tidak, fajar akan segera datang dan semua akan terlambat. "Naruto!" teriak Shikamaru, "kapan kau berangkat? Kau seharusnya segera maju mendampingi Neji!"

"Oh!" Naruto melongok dari balik barak persenjataan, "oke, oke! Sebentar! Baiklah… apa kalian sudah siap?" dia bertanya pada anak-anak buahnya yang masih sibuk. Mereka diam saja. "KALIAN SUDAH SIAP?"

"YA!"

"Bagus!" kata Naruto senang, dan ia langsung melompat naik ke kudanya yang kecokelatan. "Kyuubi, berlarilah dengan cepat, ya?" ia mengelus sayang kudanya, dan dengan satu gerakan pasukan itu pun maju, mengikuti barisan pasukan yang dipimpin Neji di depan mereka. Shikamaru menghela napas lega. Paling tidak dua pasukan sudah maju. Berikutnya adalah…

"Kau sepertinya melupakan kami," terdengar suara seseorang, membuat Shikamaru terlonjak. Temari tersenyum di belakangnya, bersama kedua adik laki-lakinya yang sudah siap dengan persenjataan lengkap. "Kami juga harus ikut. Kau lupa, ya?"

Shikamaru menyeringai. "Huh, kau memang selalu tak ingin ketinggalan. Baiklah, kau akan ikut pasukan yang mana? Semua terserah kalian."

"Aku akan ikut dengan pasukan Sai," kata Kankurou dengan suaranya yang agak serak, "kurasa kugutsu-ku akan berguna kalau dipakai menyelinap."

"Aku pergi dengan Uchiha Sasuke," desis Gaara di belakangnya.

"Baiklah, Sai juga sebentar lagi akan berangkat. Lebih baik kau pergi ke arah timur, ke tempat persiapan mereka. Lalu, Gaara…" Shikamaru menoleh, melihat sekeliling. Di mana pasukannya? "Oh, mungkin Sasuke ada di sebelah selatan, dekat barak utama. Bagaimana denganmu?" tanya Shikamaru pada Temari. Kedua adik wanita itu telah menghilang dari pandangan, menuju tujuannya masing-masing.

"Aku ikut denganmu."


"Sasuke, kau seharusnya pergi setelah Naruto," kata Sai saat melihat Sasuke yang masih membereskan peralatannya. "Kau belum berangkat?"

Pria itu menggeleng. Ia tampak melakukan sesuatu dengan elang putih di hadapannya. Mengaitkan perlengkapan surat-menyurat di kakinya. "Aku akan pergi sekarang dan memberikan laporan secepatnya begitu tiba."

"Baiklah, aku akan segera menyusul."

"Tunggu," terdengar suara dari belakang mereka. Sasuke mengernyitkan dahi melihat dua orang 'asing' yang tak biasanya ada di sana. "Ada apa?" tanyanya sembari menyipitkan mata curiga.

"Kami akan ikut dengan kalian, bisa, kan?" kata Kankurou.

"Pertanyaan retoris. Suka atau tidak, kami harus pergi dengan kalian, kan?" sambar Sasuke sinis. "Bagaimana perinciannya? Cepat bereskan dan kita akan segera pergi—" ia baru saja akan mengikat tali di kaki elangnya saat tiba-tiba saja burung itu melesat terbang dari hadapannya. "HEI, AKU BELUM SELESAI, BURUNG BODOH!"

Sai tertawa kecil. "Sepertinya dia sudah mengerti akan kemana dia. Biarkan sajalah," katanya saat melihat ekspresi kesal Sasuke. "Hei, jadi bagaimana keputusannya?"

"Aku senang kalian mengerti," kata Kankurou sembari menyeringai, "aku ikut dengan pasukanmu, Sai, dan Gaara akan ikut dengan Uchiha. Kurasa kalian bisa bekerja sama, bukan begitu? Lagipula Gaara-lah yang memilihmu. Ini menarik…" katanya sambil mendesis.

Sasuke membelalakkan mata mendengar nama yang barus aja disebutkan lelaki itu. Sedangkan yang disebut namanya tetap dingin seperti biasa, tanpa ekspresi. Gaara?

"Aku akan pergi dengan orang ini?" tanyanya nyaris tak percaya.

"Betul."


Neji menebas ranting-ranting dan dedaunan yang menghalangi pergerakan pasukannya. Istana kerajaan berada di daerah timur. Butuh waktu agak lama untuk sampai di daerah utara, di daerah perbatasan. Tak ada apapun yang menghalangi mereka sampai sejauh ini. Kecuali mungkin… cuaca. Kabut yang tebal agak menghalangi pandangan.

"Jenderal!" teriak seorang anak buahnya di belakang, "anda sudah tahu bukan, jalan yang akan kita pilih? Ada pesan dari pasukan belakang, mereka butuh petunjuk karena tak membawa cukup alat komunikasi!"

Neji menarik napas panjang.

Dasar si bodoh Naruto…

"Sebentar!" Neji balas berteriak, "berhenti di sini!"

Seketika rombongan itu berhenti. Hutan begitu gelap. Setahu Neji, hanya ini jalan pintas yang dapat menghubungkan mereka dnegan wilayah utara. Wilayah utara merupakan daerah yang terbatas penduduknya. Karena medannya juga keras, hanya sedikit yang tinggal di sana, itu pun karena pengaruh kepercayaan yang mengharuskan mereka untuk tinggal di sana.

Sekelebat bayangan hitam mengganggu pandangannya. Ada orang lain... Ia menarik napas panjang. Sudah saatnya untuk 'melihat dengan baik'. Dan ia tahu, karena alasan inilah pasukannya harus bergerak maju duluan. Ia memejamkan mata.

BYAKUGAN!

Matanya terbuka, memperlihatkan penglihatan yang tak mungkin dapat dilihat orang lain. Semua berwarna hitam dan putih. Tiga ratus enam puluh derajat. Perlahan ia mencoba berkonsentrasi, di tengah kebisingan dan kegelapan.

Satu.

Dua.

Tiga.

Empat.

Lima… tidak, empat.

Pria berambut panjang itu menjentikkan jari. Sai muncul secara tiba-tiba di sampingnya. "Sudah kuduga itu kau," kata Neji lega.

"Maaf mengagetkan," kata Sai. Ia melompat dari satu cabang ke cabang pohon lain, menyesuaikan kondisi dan kecepatan pasukan Neji yang berkuda. "Tapi hanya satu. Ya, kan? Masih ada yang lain."

"Empat puluh," desis Neji pelan. "Tolong beritahukan pada Naruto. Aku akan maju lebih dulu. Utamakan perlindungan, ingat?"

"Baiklah."

Sai bergerak mundur, membiarkan pasukan berkuda putih itu maju lebih dulu. Derap langkah kuda itu menjauh. Namun ada lagi sebarisan yang muncul. Kali ini dengan kuda-kuda yang berwarna kecokelatan. Lelaki itu menjentikkan jari. Dua puluh orang muncul dari kegelapan, dan membentuk barisan perlindungan di sekeliling pasukan berkuda cokelat itu. Di barisan terdepan, terlihat seorang pria berseragam jingga yang tampaknya merasa bersalah.

"Dasar bodoh," keluh Sai saat melihat Naruto. Ia melemparkan sebuah kotak. "Aku sudah membawa perlengkapan cadangan. Untukmu saja. Neji sudah bergerak maju duluan, jadi kami yang akan menjadi pelindung di sini."

"Oh, oke," kata Naruto lega sembari mengambil kotak itu. "Bagaimana dengan yang lain?"

Sai tersenyum datar. Diambilnya sebuah kunai dari kantung kecil di kakinya, dan melemparnya ke arah belakang. Terdengar suara berkeresakan dan detik berikutnya, seseorang jatuh dari pohon itu dengan kaki yang bengkok.

"Kunaiku beracun," kata Sai singkat, "lebih baik kita bereskan dulu keadaan di sekitar sini. Menurut Neji, ada empat puluh orang yang bersembunyi," katanya setengah berbisik.

"Untuk apa dibisikkan?" teriak Naruto ceria. "SEMUANYA, MAJU!"

Sai menarik napas. Ia tersenyum kecil melihat tingkah laku Naruto yang tampaknya malah kesenangan mengetahui jumlah musuh di sekitarnya. Dua barisan kuda bertemu dengan empat puluh bayangan orang asing seperti yang dikatakan Neji, berkelebat cepat dan melemparkan kunai serta panah. Kuda-kuda mulai meringkik panik, namun bukan Naruto namanya kalau tidak bisa mengatasi itu semua.

"SERANG!"

.

.


"Di sini Hatake Kakashi." Terdengar suara Kakashi, "kau sudah sampai, Sasuke?"

Sasuke membetulkan alat komunikasi yang menempel di telinganya. "Sedikit lagi. kami melewati jalur yang berbeda dengan yang ditempuh Neji. Ada kabar dari utara, Kakashi-sensei?"

"Wah, senangnya kau masih mau memanggilku sensei."

"Jangan banyak basa-basi," potong Sasuke kesal, sambil terus memacu kuda hitamnya. "Kau ini pusat informasi, jadi tolong beritahukan aku bagaimana kabar dari utara sekarang."

"Kantor gubernur masih bisa dipertahankan. Iruka sudah berada di sana, tapi dia mengutamakan pertahanan di kantor gubernur."

"MENGAPA?!" nada suara Sasuke menggelegar, membuat pasukannya berhenti di tempat. Apa yang membuat pemimpin mereka naik darah, kira-kira? "Seharusnya utamakan dulu perlindungan terhadap wanita dan anak-anak! Bukankah kaisar meminta kami untuk…"

"Kalau kantor gubernur jatuh lebih dulu, pasukan pembebasan bisa dipastikan akan merangsek ke pusat, ke istana ini," jelas Kakashi, menahan amarah pria yang sepertinya mulai mendidih itu. "Untuk itulah kami menyuruh kalian bergerak cepat. Tim medis sudah pergi sejak tadi, dan mereka sedang melakukan pertolongan utama."

"…" tak ada jawaban yang keluar dari bibir Sasuke. Ia mengertakkan gigi, lalu kembali memacu kudanya, sembari mendengarkan ocehan Kakashi yang terdengar sayup-sayup. Gaara mengikuti di belakangnya. Membuatnya makin sebal saja.

"Dengar, Sasuke," kata Kakashi, "Aku tak tahu apa yang akan kau hadapi di sana, namun pastikan untuk menahan emosimu. Utamakan perlindungan, itu pasti. Jangan terbawa emosi dahulu. Dan jangan egois. Aku tahu kau pernah kehilangan orang-orang yang penting bagimu, karena itu pikirkanlah. Saat ini kau juga punya seseorang yang harus kau lindungi di istana, bukan?"

"Apanya…"

"Ada keluarga kerajaan yang harus kau lindungi."

KLIK. Hubungan terputus. Sasuke mendengus.

Kata-kata terakhir Kakashi benar-benar membuatnya terombang-ambing. Karena kata-kata jounin berambut keperakan itu bisa berarti dua makna, bukan? Tentu saja ia tak mau istana diserang. Yang benar saja. Kalau begitu, sekarang ia harus pergi secepat mungkin, dan melindungi penduduk yang ada di sana.

"Gaara, kau dan aku akan maju lebih dulu ke sana. Utamakan kecepatan."

"Oh, aku senang kau akhirnya dapat mengambil keputusan."

.

.


Ruangan bawah tanah di istana itu lengang. Hanya ada Kakashi yang sedang berayun-ayun di kursi, sembari sesekali menekan tombol-tombol aneh di hadapannya. Satu tangan kanannya memegang buku kecil bersampul kuning, berlabel Icha-Icha Paradise.

"Kau masih ada di sini?" tanya seseorang saat pintu itu terbuka.

Kakashi menghentikan kegiatannya, lalu berdiri dan membungkuk hormat. "Selamat datang, pak menteri. Aku senang anda berkunjung."

Pria tua yang disebut pak menteri itu berdehem canggung. "Sepertinya kau baru saja mengadakan hubungan dengan Sasuke?"

"Begitulah, pak," jawab Kakashi. "Sepertinya dia mengkhawatirkan kondisi masyarakat di sana. Rupanya anda berhasil mendidiknya menjadi orang yang masih peduli pada orang lain."

Pria itu tersenyum. Wajah tuanya tampak mulai redup dimakan usia. Bertahun-tahun ia merawat Sasuke sejak pertama kali ia menerima anak itu dari kaisar sebagai anak angkat. Dan ia sudah menganggap Sasuke seperti anaknya sendiri. Begitupun Itachi, meskipun Itachi tidak secara langsung diasuhnya.

Namun Sasuke terlalu menutup diri. Ia dan istrinya memang sudah menduga hal ini akan terjadi sebagai akibat dari trauma yang dialami anak itu, namun itu terus berlanjut hingga dewasa. Sasuke bahkan jarang mengunjunginya, apalagi sejak ia diangkat menjadi pimpinan pasukan kerajaan. Padahal mereka sama-sama tinggal di kompleks istana.

Tetapi, pria itu tetap mempercayai Sasuke.

Sekalipun Sasuke tetap memakai marga Uchiha, Sasuke adalah anaknya…


"Urus yang di sebelah sana!" teriakan Tsunade mencoba memecah keributan yang terjadi di sana. Keadaan ini lebih dari yang ia perkirakan. Bahkan senior semacam dia pun harus berhati-hati. Entah sudah berapa orang yang ia tebas dengan senjatanya. Pasukan Neji baru saja tiba, dan ia bersyukur karena cukup terbantu dengan kehadiran mereka. Karena dnegan kehadiran Neji, ia dapat lebih berkonsentrasi dengan pengobatan. "Shizune, berikan aku air!"

Shizune tergopoh-gopoh memberikan botol berisi air, yang langsung diminum habis oleh wanita itu. Peluh mulai muncul di kening Tsunade. Berkali-kali ia mengeluarkan gelombang chakra dari tangannya, mengalirkan aliran penyembuhan ke bagian tubuh yang terluka. Kurenai membantu sebisanya. Karena latar belakang wanita itu bukan dari dunia medis, ia berkeliling mencari orang-orang yang butuh pertolongan.

"Sial!" teriak Tsunade, "mengapa tidak habis-habis juga?!"

Kuda-kuda meringkik, menambah keributan di sana. Neji berpacu dengan kudanya, mengangkut anak-anak dan wanita yang masih tertinggal di sekitar rumah-rumah mereka yang terbakar.

"Sudah habis?" teriak Neji. "Masih ada korban yang tersisa? Setelah mengevakuasi korban di rumah yang terbakar, lanjutkan dengan rumah-rumah yang tak terbakar! Cepat!" ia memberi tanda dengan tangannya, menunjukkan arah pada anak-anak buahnya. Sudah waktunya untuk memakai byakugan lagi. dipasangnya segel di tangan, namun…

DUAAAAARRRR

Terdengar ledakan hebat dari daerah belakang. Semuanya terbengong-bengong. Evakuasi korban mendadak berhenti. Tsunade yang sejak tadi terlihat paling sibuk pun menghentikan kegiatannya. Hutan yang tadinya gelap itu berubah bercahaya, berpendar-pendar menerangi seluruh desa yang sedang berada dalam kekacauan total.

"Neji-san!" terdengar teriakan dari seorang pria berpakaian hijau. Neji mengenali orang itu.

"Rock Lee!" teriak Neji heran. "Sedang apa kau di sini? Kau 'kan pengawas wilayah barat!"

"Aku ke sini dengan Iruka-sensei! Ayo, segera pergi ke daerah yang terbakar itu! di sana ada sebuah panti asuhan!"

Sial…

"SELURUHNYA, MAJU KE SANA! JANGAN TERLAMBAT!"


"Huh," keluh Shikamaru, "hebat juga kalian, menghadang pasukanku di perjalanan."

Pasukan Shikamaru-lah yang berangkat paing akhir. Bersama Temari, tentunya. Dan saat ini pasukannya dihadang oleh barisan yang sama sepertinya, menunggang kuda kelabu. Ada sekitar lima puluh orang. Membuat pria itu berpikir, apa yang kira-kira sedang terjadi dengan teman-temannya sekarang. Apakah mereka juga dihadang oleh pasukan-pasukan ini?

"Kaliankah yang disebut dengan 'pasukan pembebasan'?" tanya Temari pada pasukan yang menghalangi jalan mereka itu.

"Apa? Kami tak pernah memiliki nama. Masyarakatlah yang memberi kami nama itu. tapi kami senang kalau kami disebut seperti itu. ya, 'kan, teman-teman?" pria yang berdiri paling depan itu berkata sinis, membuat teman-temannya tertawa terbahak-bahak. Pria besar itu mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya. Sebuah pedang yang amat besar, nyaris seperti kapak. Hanya saja kapak ini ukurannya luar biasa. Diacungkannya benda itu pada Temari.

"Wanita lebih dulu, itu aturannya."

"Jangan bercanda," desis Temari sambil menarik kipasnya, "NINPOU, KAMAITA—"

Tangan Shikamaru menghalangi wanita itu untuk bergerak. "Hei, apa yang kau lakukan? Jangan halangi aku!" teriak Temari gemas.

Namun Shikamaru tak peduli. Baginya, bertindak tak gegabah adalah yang paling penting. Shikamaru melihat sekelilingnya. Hutan itu gelap. Tak ada sinar sedikitpun yang masuk. Dan inilah poin kelemahannya. Sial. Sungguh sial. Dan pertarungan kali ini sepertinya akan menjadi pertarungan yang merepotkan. Dipasangnya alat komunikasinya, mencari gelombang rekan-rekannya.

"Sai. Di sini Shikamaru. Bagaimana kondisimu?"

"Buruk. Kami tak bisa membantu kalian. Pasukan Naruto sudah maju, tapi sepertinya kami terkepung. Bagaimana di sana?"

KLIK. Hubungan diputus. "Sama saja." Bisik Shikamaru. Ia meguap panjang, "Oke, jangan buang waktu. Kita lawan saja kelompok ini, bereskan secepatnya. Namun tetap beri petunjuk pada pasukan lain."

"BANYAK BICARA!" geram pria bengis itu, dan langsung melompat ke arah Temari. Temari mundur selangkah dan menyiapkan kipasnya. Bersamaan dengan itu, pasukan berkuda itu tercerai-berai, mengepung kelompok yang menyebut dirinya 'pasukan pembebasan' itu. Shikamaru memberi tanda dengan tangannya dan kepungan itu bergerak dengan tombak dan kunai di tangan.

.

.

"Aku tak terkalahkan."

.

.

Sayang sekali… aku bukanlah pemimpinnya. Jadi percuma saja membunuhku.

"Dan sayangnya, aku tak peduli."

CLEBB


Sasuke terkesima melihat pemandangan di depannya. Bisa dibilang, takjub. Kobaran api menyala-nyala, menghasilkan asap hitam yang membubung tinggi ke langit. Langit kehitaman bercampur kabut asap yang menyesakkan hidung dan mata. Manusia berlari-lari, beberapa dapat ia kenal. Mengingatkannya pada kisah-kisah epik yang dia dengar dari fragmen-fragmen masa lalu.

"Apa yang kau lakukan? Anak-anak buahmu sudah turun," tegur Gaara di sampingnya. Sasuke terkesiap. Bergegas ia turun dari kuda hitamnya, lalu menalikan kuda itu di dekat gerbang desa yang kini nyaris tak berbentuk.

"Sasuke!" teriak Naruto dari jauh, "Shikamaru dan Sai belum datang! tenaga kita terbatas, jadi kau harus cepat ke sana!"

"Aku mendengarnya, bodoh!" teriak Sasuke stres, "Bagaimana keadaan sejauh ini?"

Naruto berlari-lari mendekati Sasuke dengan napas terengah. "Mereka memang ingin membuat kita terlambat sehingga menghadang setiap pasukan di tengah jalan," keluh Naruto, "desa ini sudah terbakar saat kami datang. Mereka menghalangi kita agar semakin banyak korban yang tak tertolong."

"Ukh…" Sasuke menggeram emosi. Seperti ini jadinya… daerah utara yang terkenal dingin pun bisa menjadi sepanas ini. Emosinya naik. Ia mengerti rencana mereka sekarang. Beberapa pasukan lawan yang ia lewati tadi memang mudah. Terlalu mudah. Karena sasaran mereka memang bukan untuk mengalahkan, tetapi untuk mengulur waktu. Agar mereka dapat memusnahkan desa kecil ini…

Pria itu berlari ke arah dalam desa. Yang lain sibuk di bagian depan, kalau begitu dia akan mencari ke bagian dalam. Siapa tahu masih ada yang tertinggal. Kakinya terus berlari ke arah utara jauh, menghindari hutan yang terbakar. Sudah sepi. Keributan di luar masih ada yang terdengar, namun mulai sayup-sayup. Apa ia masuk terlalu jauh?

"…tolong…"

Eh?


To Be Continued


Terima kasih sudah membaca.

Blackpapillon

p.s. OC yang muncul? Jelas, ayah angkat Sasuke. Juga mas-mas penjahat yang langsung ditusuk Shikamaru. Masih belum ketahuan namanya, nih.