Kuroko no Basuke Fanfiction
Drabble - 18
Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi
Rating : T
Warning : Maybe OOC, AU
Pair : AkaKuro
A/N : Minna-san, kali ini tema yang akan ren bawakan adalah seputar Seiyuu~ kalian tau kan? Seiyuu atau Voice Actor? OwO Mungkin cerita ini bakal selang-seling sama cerita TWBLAD (The World Between Light And Darkness), atau mungkin bisa salah satu diantaranya yang di apdet duluan, berhubung mood author akhir-akhir ini lagi ga stabil *sigh*
Buat reader-tachi yang mau req juga silahkan tulis aja di kotak ripiu ya~ XD
Akhir kata,
Arigatou for all review, fav, alert, follow, and all silent readers, Thank you for all support and all PM.. I'm happy that you all enjoy this story :3
Thank You ~ Author will be waiting for your review ;))
Happy Reading, all..
With Love,
Zelvaren Yuvrezla a.k.a ren-chanz
-Kuroko POV-
Setiap kali aku melihat pandangan matanya, sepasang iris Heterochrome Crimson-Yellow Gold, setiap saat itu juga muncul sebuah rasa untuk berkenalan dengan dirinya. Setiap kami bertemu, ia selalu fokus dengan naskah yang ia pegang di tangannya, tanpa mempedulikan siapapun yang berada disekitarnya, seakan dunia ini hanya miliknya seorang.
Sudah 3 bulan aku bekerja sebagai salah satu Seiyuu disini. Pertama kali aku memasuki studio Miragen, sebuah Studio yang populer di sekitar Tokyo semenjak 15 tahun lalu, Studio ini telah banyak menekuni di bidang pengisian suara untuk Film, Game, Anime, bahkan Drama CD. Awalnya aku agak ragu, namun karena Ogiwara Shigero, sahabatku sejak kecil sudah menjadi senior di bidang Seiyuu dan kebetulan dia berada di studio yang akan kumasuki, akhirnya aku bisa bernafas lega. Pada hari pertama pun ia langsung menemuiku dan mengajakku untuk berkeliling.
Beberapa minggu setelah aku mulai bekerja, aku mulai berkenalan dengan Seiyuu-Seiyuu lainnya, seperti Kise Ryota, Aomine Daiki, Midorima Shintarou, Murasakibara Atsushi, Himuro Tatsuya, dan Kagami Taiga. Tetapi, tidak sekalipun aku mengetahui sosok pemuda berambut Scarlet itu, bila diibaratkan, ia seakan menutup diri dari dunia tempat kami bekerja. Ia tidak pernah berkumpul bersama kami, bahkan setelah selesai melakukan beberapa scene, ia akan langsung pamit dan pulang.
Meskipun keinginanku untuk menyapanya sangat besar, tetapi entah mengapa aura yang dipancarkannya itu membuatku ragu bahkan untuk bertegur sapa ketika kami tidak sengaja berpapasan, yang kuyakin ia tidak menyadari kehadiranku karena ia selalu membaca naskah Role-play nya. Beberapa minggu kemudian, akhirnya kuputuskan untuk menanyakan pemuda berambut Scarlet itu ketika beberapa Seiyuu Miragen sedang berkumpul.
"Di Studio ini, masih ada seorang lagi kan?" tanyaku yang berhasil menyita perhatian Seiyuu lainnya yang sedang asik mengobrol.
"Apa yang Kurokocchi maksud itu Akashicchi-ssu?" tanya Pemuda berambut Blonde, seorang Kise Ryota yang sedang melahap Sushi yang ada di meja depannya.
"Ah~ Wajar saja bila kau tidak tahu, Tetsu" balas Aomine menambahkan "Ia belum pernah berada dalam satu project denganmu, kan? Dan dia itu.. hmm.. apa ya, Workholic?"
"Namanya Akashi Seijuurou. Beberapa kali aku pernah melakukan project yang sama dengannya" tambah Himuro Tatsuya, pemuda berambut hitam yang senada dengan pupil matanya "Dia itu tipe yang Perfeksionis dan tidak mentoleransi kegagalan, bahkan kesalahan sekecil apapun" katanya sambil meneguk secangkir Ocha hangat.
"Akashi Seijuurou?" ah.. jadi namanya Akashi-kun, nama yang cocok dengan kilat Scralet yang terpancar di helaian rambutnya.
"Betul sekali, Murocchi~ aku sampai keringat dingin ketika melakukan beberapa scene yang mengharuskan aku dan Akashicchi berdua-ssu" wajah Kise tiba-tiba memucat mengingat kejadian yang sepertinya menjadi kenangan terburuknya itu.
"2 orang yang kelihatannya agak dekat dengannya itu cuma si Oha-asa freak dan Sneak-freak itu" kata Aomine, Pemuda berkulit Tan dengan helaian rambut Navy.
"Kenapa Aomine-kun mengatakan seolah orang yang berada didekatnya itu freak-freak?" tanyaku sambil memiringkan kepalaku.
"Kenapa yaa~ memang kenyataannya seperti itu kok, Tetsu" kata Aomine tanpa menggubris alasan lainnya.
"Midorima itu tipe yang menganut idealisme yang mirip dengan Akashi, dia sangat mendekati perfeksionis. Kalau Atsushi, mungkin dia satu-satunya orang yang tidak pernah berkeringat dingin saat disamping Akashi. Aku yakin sekarang Ogiwara dan Taiga sedang kewalahan berada di satu tempat yang sama dengan Akashi" kata Himuro sambil tertawa kecil.
"Ngomong-ngomong kenapa Kurokocchi tiba-tiba bertanya tentang Akashicchi?" tanya Kise dengan penuh rasa ingin tahu.
"Ah, tidak. Beberapa kali aku pernah berpapasan dengannya, walalupun aku ingin menyapanya saat itu juga, entah mengapa suaraku selalu tercekat." Balasku dengan jawaban yang jujur.
"Wajar saja, orang yang kau temui itu seorang Akashi Seijuurou sih" Kata Aomine yang langsung menarik kursi yang berada di samping Kise, kemudian duduk disana sambil mencomot Sushi milik Kise. "Kalau aku, meskipun berada di satu lift dengannya juga, aku tidak tahu mau membicarakan hal apa dengannya" dan Sushi itupun kini mendarat di mulut Aomine.
"Ah! Aominecchi! Itu makananku!" kata Kise sambil protes.
"Berisik ah, kau makannya lama sih! Harusnya kau berterimakasih karena aku mempercepat jam makanmu itu" kata Aomine tanpa rasa bersalah, yang berhasil membuat Kise langsung mangut-mangut.
Kuharap suatu saat nanti aku mempunyai project yang sama dengannya.
Dan, 5 bulan kemudian, apa yang kukatakan sebelumnya pun terjadi. Saat itu, aku dan Akashi-kun, pemuda berambut Scarlet ini dipanggil ke ruang Manager.
"Begini, kalian memiliki satu project sebuah anime bersama dengan Main Character yang akan di Voice-kan oleh kalian berdua, tetapi tema kali ini adalah BL. Kalian tau kan? Istilah populer yang biasanya dianut oleh para Fujoshi, Boy's Love? Atau Yaoi?" kata Manager itu dengan blak-blak-kan.
Mataku lalu melebar mendengar pernyataannya, meskipun aku ingin berada di project yang sama dengan Akashi-kun, namun tidak dalam project seperti ini juga. Diam-diam aku melirik wajah Akashi-kun yang tampaknya tidak menunjukkan perubahan raut wajah apapun. Dengan santainya ia malah mengambil naskah dan membuka halaman nya secara acak.
Sadar dengan tatapanku, Akashi-kun lalu menutup bukunya "Namamu?" tanyanya langsung to the point.
"Kuroko Tetsuya" balasku sambil mengambil buku yang berada di depan sang Manager.
"Tetsuya, aku tidak akan mentoleransi kesalahan, kuharap kau bisa menghafal naskah ini dengan baik" katanya sambil menatapku dengan tajam "Bila tidak, kau harus menerima konsekuensinya, apapun keputusan yang akan kuberikan kelak"
Aku menelan ludahku. Aura yang dipancarkan oleh pemuda beriris Heterochrome ini memang menakutkan, dan aku mengakui hal tersebut. Pantas saja Kise-kun mengalami kenangan yang tidak ingin diingatnya ketika aku menanyakannya beberapa bulan lalu.
"Namaku Akashi Seijuurou" katanya tanpa mengulurkan tangannya. "Manager, kapan kita akan memulai project ini?" tanyanya tanpa mengubris balasanku.
"Mungkin lusa, atau 3 hari lagi" kata Manager sambil membuka beberapa dokumen untuk menyesuaikan jadwal.
"Baiklah kalau begitu. Beritahu saja kapan kita akan memulai project ini. Kuharap kau bisa menyesuaikan dengan aturan mainku, Tetsuya" katanya sambil memasukan beberapa Naskah tersebut ke dalam tas-nya "Kalau begitu aku permisi" katanya pamit lalu pergi meninggalkanku dengan Manager.
"Kau kaget ya, Kuroko-san? Ah.. ini pertama kalinya kau mendapat Project yang sama dengan Akashi-san ya? Kuharap kau bisa bekerjasama dengannya" katanya sambil menyerahkan beberapa naskah kepadaku.
Ya, Kuharap aku bisa bekerjasama dengan baik dengan Akashi-kun.
"Tetsuya~" Suara Ogiwara dapat terdengar ketika aku keluar dari ruang Manager "Katanya kau akan melakukan project yang sama dengan Akashi ya?" tanyanya dengan wajah yang khawatir.
Aku lalu mengangguk kecil "Sepertinya informasi itu cepat menyebar ya, Ogiwara-kun" kataku sambil tersenyum kecil "Projectku kali ini—"
"BL?" tanyanya sambil melihat wajahku, lalu aku membulatkan mataku, darimana Oriwara-kun tahu?
"Ah, aku tidak sengaja pernah membicarakan project baru dengan Manager, dan ia bilang Putri Direktur Studio Miragen menyukai suaramu dan suara Akashi, makannya ia ingin memuaskan insting Fujoshi-nya?" katanya sambil tertawa getir.
"Dengan kata lain, aku dan Akashi-kun itu korban dari Putri Direktur?" tanyaku dengan wajah yang suram.
Ogiwara lalu tertawa dan menepuk pundakku "Ayo, semangat, Tetsuya! Jarang-jarang lho putri Direktur meminta langsung, apalagi kemampuannya dalam menganalisa pangsa pasar itu tidak bisa dipandang sebelah mata! Aku yakin kau dan Akashi akan membombastis dunia Fujoshi kelak!" katanya sambil tertawa lepas.
"Kau ini sebeneranya sedang memujiku atau mengejekku, Ogiwara-kun?" tanyaku dengan suara yang kecil, yang nyaris tidak terdengar olehnya.
"Kau bilang apa, Tetsuya?" katanya dengan senyum lebar di mukanya.
"Tidak, tak apa-apa" kataku tersenyum kecil "Kau masih ada jadwal, kan? Cepatlah menuju ruang rekaman sebelum yang lainnya protes"
Ogiwara-kun lalu melihat jam tangannya, dan begitu terkejutnya ketika ia melihat jam berapa sekarang "Gawat! Bisa-bisa aku diberi benda kesialan terus oleh Midorima! Aku duluan ya, Tetsuya! Hati-hati kalau mau pulang!" katanya sambil berlari ke koridor.
Aku tersenyum kecil sambil melambaikan tangan kearah Ogiwara. Sepulangnya dari Studio ini, aku harus mulai menghayati Character yang akan kubawakan nanti, aku tidak boleh membuat Akashi-kun kecewa.
Lalu, hari dimana perekaman pertama pun dimulai, dan semua berjalan dengan lancar, sangat baik bila boleh kukatakan.
"Kerja bagus untuk hari ini, Tetsuya" kata Akashi-kun sambil menyerahkan botol air minum yang ia pegang sedari tadi. Memang naskahku lebih panjang karena aku harus menambahkan beberapa kata dalam penutupan, lagipula karena aku mendapat role sebagai Uke, jatah suaraku akan terdengar lebih banyak dibanding Akashi-kun.
"Domo" kataku sambil mengambil botol air minum yang ia bawakan. Aku mencoba untuk membukanya, namun beberapa kali tutup botol itu tidak mau terbuka. Akashi-kun yang melihatku berusaha keras membuka tutup botol malah tersenyum sinis, ia kemudian mengambil botol tersebut dan membukakannya untukku.
"Ah, Arigatou, Akashi-kun" kataku sambil memandang kearahnya. Ternyata Akashi-kun baik juga, dibalik tembok pembatas yang ia berikan kepada orang luar.
Dan perekaman hari ini pun selesai, kemudian kami sudah bersiap-siap untuk pulang, yang tentunya Akashi-kun telah meluncur duluan dari studio ketika scene berakhir. Aku membuka lokerku. Diluar telah hujan lebat, untungnya firasatku untuk membawa payung itu tepat.
Ketika aku berjalan menuju pintu utama, aku menemukan Akashi-kun yang tampaknya menunggu hujan berhenti. Ia telah menggunakan mantel tebal berwarna Hazel, kulihat beberapa kali ia melirik jam tangannya dengan gelisah. Apa ia sedang terburu-buru?
"Akashi-kun" Sapaku, yang membuat pemuda berambut Scarlet ini menatap kearahku "Kau lupa membawa payung?"
"Hari ini aku terlalu terburu-buru pergi, makanya aku meninggalkan payungku di apartement" katanya sambil menghela nafas.
"Kalau kau tidak keberatan kita bisa pergi bersama" kataku menawarkan "Lagipula kau terlihat sedang terburu-buru"
Mungkin, bila dalam keadaan biasa Akashi-kun akan menolak tawaran tersebut. Namun yang membuatku kaget, ia menerimanya.
"Kau tidak apa-apa?"
Aku mengangguk "Tentu saja, lagipula aku tidak ada keperluan lain kok" kataku sambil tersenyum.
"Baiklah, kalau begitu biar aku yang memegang payungnya" katanya sambil mengambil alih payung yang akan kubuka.
Kami berjalan selama 15 menit-an, jarak antara Studio dan Apartement Akashi-kun memang tidak terlalu jauh. Saat ia membuka kunci Apartement-nya dan mendengar suara benda pecah didalamnya, dengan segera ia langsung masuk kedalam, tanpa membuka sepatunya yang basah itu. Dari dalam aku bisa mendengarnya setengah berteriak. Lalu aku segera memasuki Apartement-nya dan menutup pintu depan, membuka sepatuku dengan segera dan memasuki ruang tengah.
Saat itu, aku melihat seorang Akashi Seijuurou tengah menggendong seorang gadis kecil yang memiliki surai rambut yang sama dengannya, warna Scralet yang menyala.
"Tetsuya, maaf, bisakah kau mengambilkan obat yang berada di laci sebelahmu itu? "
Tanpa bertanya apapun, aku langsung mengambil obat yang Akashi-kun maksud dan menyerahkannya kepadanya. Setelah memberikan obat pada gadis kecil itu dan membiarkannya tidur di kasur, akhirnya Akashi-kun bernafas lega. Kami lalu berbicara di ruang tengah, kulihat tidak ada orang lain yang berada disini selain gadis kecil itu dan Akashi-kun.
"Tubuh fisik adikku sangat lemah, ia sering terkena penyakit" katanya sambil menyerahkan segelas susu hangat padaku "Semenjak kepindahanku ke Tokyo, aku disini bersama dengannya, sedangkan orangtua kami berada di Kyoto, mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing." Katanya dengan nada yang dingin, seolah menyalahkan orangtua mereka yang tidak memiliki waktu untuk mengurus adiknya itu.
Ah, jadi alasan mengapa Akashi-kun selalu pulang lebih cepat itu karena adiknya? Ternyata Akashi-kun adalah sosok kakak yang perhatian.
Beberapa jam berlalu dan aku meluangkan waktuku untuk mengobrol dengan Akashi-kun, aku bisa merasakan hubungan kami mulai dekat semenjak kejadian itu. Di Studio pun, beberapa kali aku terlihat berjalan bersama Akashi-kun, sesekali sambil membahas tentang Naskah yang akan kami lakukan di scene berikutnya. Pemandangan ini pun menyita banyak perhatian dari Seiyuu lainnya yang berada disana.
"Midorima-kun" Suatu hari, diam-diam aku menemui Midorima, saat itu aku sedang mengalami kesulitan, dan ingin mendiskusikannya dengannya.
"Ada apa, Kuroko?" tanyanya sambil membetulkan posisi kacamatanya.
"Bisa tolong bantu aku membahas scene ini?" kataku sambil menunjukkannya kearahnya.
"Apa yang kau bicarakan, nanodayo? Bukannya seharusnya kau berdiskusi dengan—" dan ucapan Midorima-kun pun terhenti ketika melihat deretan huruf yang kutunjukkan padanya.
"Aku dengar dari Manager kau pernah mengisi role Uke juga sebelumnya, Midorima-kun. Jadi, bagaimana aku harus bersuara erotik ketika sedang berciuman dengan sang Seme?" kataku dengan wajah datar.
Kulihat Midorima pun langsung diam tidak bergeming.
Setelah berdiskusi dengan Midorima-kun, tetap saja aku tidak bisa membayangkan bagaimana suara yang harus aku keluarkan di scene yang menjadi problemku itu. Aku menghela nafas, kupikir Akashi-kun akan marah padaku.
Akhirnya, scene yang kutakutkan itu muncul, 2x aku melakukan kesalahan dan Akashi-kun masih bisa mentoleransinya, namun ketika ke-3 kalinya, aku bisa merasakan Akashi-kun berdesis kecil. Manager menyuruhku untuk menskip adegan itu, karena belum menemukan suara yang pas untuk mengisi adegan itu.
Beberapa hari berlalu, dan setiap ada waktu luang, kami mencoba untuk mengulang scene itu kembali, dan hasilnya tetap sama. Kulihat wajah Akashi terlihat sangat menakutkan. Ia lalu meminta kami untuk berbicara berdua di luar kamar rekaman.
"Tetsuya, kau masih ingat tentang ucapanku ketika pertama kali aku menyetujui Naskah ini?" katanya dengan suara dingin.
Aku mengangguk kecil, tidak berani menatap wajahnya yang terlihat garang pada saat ini.
"Kalau kau tidak bisa melewati scene ini, lebih baik kau berhenti saja, kau hanya akan mengecewakanku lebih jauh kelak" dan nafasku tercekat. Akashi-kun memintaku untuk..berhenti?
"Bila kau masih mau melanjutkannya, kuharap kau bisa menyelesaikan scene ini dengan tidak mengulang kesalahan yang sama" dan Akashi-kun langsung pergi meninggalkanku sendiri.
- xXx -
"Ne, Kuro-chin~ kenapa kau melamun terus?" Murasakibara Atsushi kini bertanya padaku yang tergeletak di ruang tengah, tempat biasa para Seiyuu berkumpul.
"Kau masih belum bisa menyelesaikan scene itu, nanodayo?" tanya Midorima-kun sambil membawa Kerosuke-nya.
Aku mengangguk kecil "Akashi-kun sangat menakutkan.." kataku dengan nada yang lemas "Bagaimana caraku supaya bisa mengeluarkan suara erotik" kataku sambil menghela nafas.
"Hmm~" Murasakibara lalu mengunyah Pocky rasa Green Tea yang sudah dari tadi ia buka "Bukankah pengalaman langsung akan lebih terasa dibandingkan bertanya pada orang lain, Kuro-chin~ ?"
"Pengalaman langsung? Tapi aku tidak memiliki Pacar atau siapapun yang bisa kuajak berciuman, Murasakibara-kun" kataku lagi-lagi menghela nafas.
Kulihat Midorima-kun nyaris menjatuhkan Kerosuke-nya "Kau ini jujur sekali, nanodayo"
Setelah mengobrol dan bertukar pikiran dengan Midorima-kun dan Murasakibara-kun, akhirnya aku pulang ke Apartementku. Esok harinya, Akashi-kun menolak untuk melanjutkan scene hingga aku berhasil melewati scene itu. Dengan terpaksa, latihan pun dibubarkan. Kulihat Akashi-kun menjauhiku, ia bahkan tidak menggubrisku saat aku memanggil namanya. Mungkin beginilah rasanya ketika kau bekerja sama dengan seorang Akashi Seijuurou, Pemuda yang sama sekali tidak mentoleransi kesalahan.
Pandanganku kosong, aku berpikir keras, darimana aku bisa mendapat pengalaman seperti itu? Dan tanpa aku sadari, tiba-tiba seseorang menarik tanganku.
"AWAS! KUROKO!" Katanya langsung memelukku, menjauhkanku dari tangga yang nyaris ku langkahi, bila ia tidak menarikku, kurasa aku sudah berguling-guling di tangga tersebut.
"Kagami-kun? Malam"
"Malam,Malam katamu! Kau nyaris jatuh, tahu!" katanya setengah berteriak.
"Ah..maaf Kagami-kun. Pikiranku..sedang kacau" kataku sambil menundukkan kepalaku.
Kagami-kun lalu melihat kearahku, ia menghela nafas kemudian memelukku "Kau tahu? Ada saat dimana mungkin kau membutuhkan waktu untuk tidak memikirkan apapun" katanya langsung mengusap kepalaku "Tenangkan pikiranmu, Kuroko. Kau Seiyuu yang berbakat, dan aku tahu itu"
Aku tersenyum kecil "Sepertinya aku memang butuh waktu. Terimakasih, Kagami-kun" kataku langsung berdiri "dan terimakasih atas masukannya"
Kagami –kun lalu menggaruk kepalanya, membuang mukanya yang terlihat agak merona?
"Kau tahu? Mungkin sesekali kau bisa berhenti mengejar sosok seseorang dan melihat ke sekitarmu"
"Apa maksud Kagami-kun?" tanyaku sambil memiringkan kepalaku.
"Tidak, bukan apa-apa, pulang sana!" katanya sambil menepuk pundakku "Istirahat yang cukup"
Lalu aku tersenyum "Sekali lagi terimakasih, Kagami-kun" kataku sambil menunduk.
-Normal POV-
Ketika Kuroko pergi, dibalik tembok tempat kejadian Kuroko dan Kagami bertemu, sepasang mata Heterochrome diam dan mengepalkan jemarinya, ia sudah berada disana semenjak Kagami memeluk Kuroko, namun ia lebih memilih untuk berdiam ditempat ia berada saat ini.
- xXx -
Kuroko Tetsuya menghentikan langkahnya ketika ia berada di depan sebuah Club Malam. Beberapa kali ia hendak pergi dari tempat itu, namun beberapa kali juga ia tidak bisa memalingkan arahnya.
'Bila disini, kurasa aku bisa memiliki pengalaman dan menyelesaikan scene-ku' katanya sambil menunduk 'Demi scene' Akhirnya Kuroko memutuskan keputusan yang bulat. Ia berjalan mendekati pintu masuk, sebelum sebuah tangan kini menariknya dengan paksa, kemudian membawanya ke sebuah gang kecil yang tak jauh dari sana.
Sosok itu, Pemuda berambut Scarlet membawa Kuroko lalu menyudutkannya di tembok "Apa yang kau lakukan disini, Tetsuya!?" Tanyanya dengan wajah yang memerah, bukan karena ia malu, tetapi karena amarah yang telah memuncak ke wajahnya itu. "Bagaimana bila aku tidak sengaja lewat kesini juga!"
Kuroko terdiam ketakutan, badannya agak gemetar ketika Akashi tiba-tiba berteriak didepannya seperti itu. "Jawab aku, Tetsuya!"
Dengan gemetar akhirnya Kuroko membuka mulutnya "A..aku pikir.. bila aku pergi kesini..aku bisa menyelesaikan scene itu, Akashi-kun. Aku benar-benar buta dengan suara apa yang harus kukeluarkan" katanya sambil menutup kedua matanya rapat.
Kuroko lalu mendengar Akashi menghela nafas. Ia sudah menyiapkan mentalnya bila Akashi menyemprotnya lebih tajam, tapi hal yang selanjutnya terjadi membuat mata Kuroko melebar. Akashi menariknya dalam pelukannya.
"Maaf.. aku memaksamu padahal kau benar-benar buta soal hal ini"
"Harusnya aku yang meminta maaf, Akashi-kun. Karena ketidak profesionalanku, project kita jadi menggantung seperti ini"
"Kalau begitu.. biarkan aku mengajarimu"
Belum sempat Kuroko memproses perkataan Akashi, kini bibirnya langsung terkunci oleh bibir Akashi "Nghh..A..Akashi-kun.."
"Persiapkan dirimu, Tetsuya" kata Akashi ketika ia melepas ciuman mereka, membiarkan lidahnya menjilat sisa saliva yang tertinggal di mulutnya.
Wajah Kuroko lalu memerah, merah padam. Ketika Akashi kembali menciumnya, ketika itu juga muncul perasaan aneh dalam dirinya, ia menggerang kecil, mengeluarkan suara yang ia sendiri tidak pernah ketahui.
Akashi lalu melepaskan ciumannya "Sekarang kau tahu bagaimana melengkapi scene itu, Tetsuya" katanya sambil tersenyum sinis. "Sebelumnya, biarkan aku memakanmu lebih jauh"
- xXx -
Keesokan harinya, Kuroko kini berjalan bersama dengan Akashi memasuki ruangan Manager-nya.
"Manager, aku ingin mencoba lagi scene dimana sang Uke berciuman dengan Seme-nya" kata Kuroko dengan tegas. Akashi berada disebelahnya.
"Kau yakin, Kuroko-san? Jangan memaksakan diri"
"Manager" kata Akashi menjawab perkataannya "Kurasa Tetsuya sudah siap melakukan scene itu, dan aku jamin itu" katanya sambil tersenyum tipis.
Mendengar perkataan Akashi dan melihat keseriusan Kuroko, akhirnya sang Manager pun menyetujui untuk mengulang scene itu, lalu, Voilla, Kuroko Tetsuya dapat melewatinya dengan sangat baik.
Sesaat setelah mereka keluar dari ruang rekaman, Akashi lalu menggandeng tangan Kuroko. Kuroko yang menyadari tangannya digandeng tidak bisa menahan rona di wajahnya. Akhirnya mereka pun berjalan menuju lorong.
-xXx xXx -
-Omake-
"Ne! Ne! Minnacchi~~!" Kise yang berlarian memasuki ruang tengah berhasil menyita semua warga Seiyuu yang berada disana, nafasnya tersengal-sengal.
"Kau ini kenapa, Kise? Seperti habis melihat hantu!" kata Aomine sambil mengecilkan suara TV.
"Apa ada sesuatu yang membuatmu begitu tergesah-gesah, Kise?" tanya Himuro yang kini sedang dipeluk dari belakang oleh Murasakibara, sedangkan orang bersangkutan masih asik mengunyah Keripik Kentang di mulutnya.
"Tadi—tadi aku lihat—"
"Atur dulu nafasmu sebelum berbicara, nanodayo"
Akhirnya, setelah Kise agak tenang, ia mulai membuka mulutnya lagi "Tadi aku melihat Akashicchi dan Kurokocchi—" sebelum Kise menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba aura gelap muncul dari belakang Kise. Semua sudah menelan ludahnya.
"Ah, Akashi, Tetsuya~" sapa Ogiwara sambil tersenyum lebar.
"Ada apa denganku dan Tetsuya, Ryota?"
Kise lalu menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Aka-chin~ tumben sekali kau mau datang ke ruang tengah~" kata Murasakibara sambil menempelkan dagunya ke kepala Himuro.
"Aku menemani Tetsuya mengambil barang yang tertinggal"
"Ohh.." dan semua tidak bisa berkata apapun lagi, atau lebih tepatnya mereka lebih memilih untuk tidak berkata apapun. Kuroko lalu mengambil tas kecil yang berada di meja dan melilitkannya di tubuhnya.
"Sudah?" tanya Akashi
Kuroko lalu mengangguk kecil "Aku dan Akashi-kun pulang dulu ya" kata Kuroko sambil tersenyum.
"Otsukare~" jawab mereka bersamaan
Lalu, saat mereka hendak keluar, Akashi kembali mengaitkan jemarinya ke jemari Kuroko, yang berhasil membuat semua orang yang berada disana membelalak, tentunya selain Kise yang hendak memberitahu mereka namun terpotong oleh orang yang bersangkutan.
Ogiwara lalu menepuk pundak seorang Kagami Taiga yang tampaknya langsung patah hati itu.
"Akashicchi bahkan lebih memilih untuk menunjukkannya kepada kami daripada menyebar lewat gossip-ssu" katanya sambil menghela nafas "Akashicchi sekali ya~"
~Owari~
