Disclaimer: I am not, in any way, take any profit from the story and that all creative rights to the characters belong to their original creator(s). Naruto © Masashi Kishimoto.


Jejak Bulan di Atas Air

blackpapillon


14. Sepenggal Kisah Lama

.

.

"Kita harus cepat," kata Shikamaru sambil terus berpacu dengan kudanya, "kita sudah terlambat dari rencana yang diperkirakan." Shikamaru melirik ke arah sampingnya. ia melihat wajah masam.

"Hei, mengapa wajahmu cemberut begitu?" tanya Shikamaru, mulai kesal. Beginilah wanita. Merepotkaaaan…

Temari tak menjawab, hanya memacu kudanya lebih cepat lagi dan akhirnya menyuusul Shikamaru. Shikamaru membuang ludah dan menyusul wanita itu dengan kudanya, lalu bertanya sekali lagi, "Hei, kau ini kenapa?"

Wanita itu melirik Shikamaru dari sudut matanya. "Kau tak membiarkan aku membunuh orang itu tadi!" katanya kesal, "memangnya aku tidak bisa melakukannya?" sahutnya sambil menarik tali kekang kuda itu, membuat kecepatannya agak melambat. "Orang tadi itu mudah untuk dibunuh, dan meskipun tadi tak hanya ada satu orang yang menghalangi kita, kau tak membiarkan aku membunuh satu orang pun…"

Shikamaru mengerutkan dahi. Kentara sekali wajahnya bingung. Setahunya, wanita akan senang kalau dilindungi; mereka akan merasa dihormati. Dan ia juga tak mau membuat wanita itu terluka. Karena hal itu tentu akan membuatnya kerepotan. Prajurit lain menurutnya bisa mengurus dirinya sendiri. Itulah yang tadi dipikirkannya. Tapi, mengapa reaksi Temari sungguh berbanding terbalik?

"…kau bisa terluka," katanya—tak tahu apa yang harus dikatakan selain mengatakan kata-kata tolol yang biasanya hanya ia lihat sekilas di novel-novel romantis perempuan. Sial.

Wajah Temari yang kaku berubah sedikit merona, namun ia malah berubah makin kesal. "Apa katamu? 'terluka'? aku tak akan terluka hanya karena itu! Kau pikir, aku ikut denganmu hanya untuk pajangan? Aku ini kunoichi, tahu! Jangan remehkan aku, mengerti!" bentaknya keras.

Shikamaru menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, mendesis tak jelas dan memacu kudanya lagi. Suatu kesalahan Temari ditempatkan di dalam pasukan ini bersamanya. Menurutnya, lebih baik Temari tadi ditempatkan ke pasukan Sai saja, dan ia dapat mengikutsertakan Kankurou di pasukannya. Sayang sudah terlambat. Mengapa dia bisa memikirkan hal itu? Shikamaru tak berkata apapun lagi setelah itu, membiarkan wanita di sampingnya memacu kudanya sekencangnya. Anak buahnya tak bertanya apa-apa lagi, tapi tanpa sepengetahuannya, mereka tampak tersenyum kecil.

Reaksi wanita benar-benar bisa di luar dugaan. Ia sungguh tak mengerti!


Sasuke berhenti. Hanya dia sendirian di sini, dan tiba-tiba saja ada suara?

Pria itu sebenarnya tak mengerti. Sejak datang ke sini ia sudah merasakan perasaan yang tak seperti biasanya; aura yang tak normal. Biasanya ia begitu tenang menghadapi berbagai keadaan—meskipun ya, kadang ia suka bertindak keluar jalur, karena otaknya memang tidak sejenius Shikamaru—tapi mengapa ia begitu emosi kali ini?

Mungkin karena desa ini terbakar. Mungkin karena ia mendengar desa ini desa kecil. Mungkin karena ternyata banyak anak-anak di sini, dan dalam waktu sekejap saja manusia-manusia tak berperikemanusiaan telah merenggut nyawa keluarga anak-anak itu dengan paksa, di hadapan mereka membakar tempat tinggal mereka satu-satunya. Entahlah. Yang jelas, pembantaian massal merupakan hal yang sangat ia hindari dalam kamusnya. Juga kudeta. Juga pembunuhan. Juga anak-anak yang menderita.

Mengingatkannya pada masa lalu.

Sang Uchiha berhenti di tempat. Mematung. Ada sensasi aneh mengaliri tubuhnya, terasa membuatnya sesak. Menohok tubuhnya dalam. Dingin yang menusuk. Bukan karena udara dingin; seharusnya panas karena pengaruh udara panas dari pepohonan yang terbakar. Namun ya, ada yang aneh. Sejak tadi matanya mulai sulit untuk memfokuskan pandangan, malahan siluet-siluet aneh hitam dan putih terus membayang di matanya. Ia mengejapkan matanya beberapa kali, memastikan bahwa matanya masih normal.

"…tolong…"

Ia menoleh, melihat sekeliling, dan terpana melihat pemandangan yang ia lihat di hadapannya. Mungkinkah daerah ini belum terjamah sama sekali? Sedari tadi, para tentara dan tim medis sibuk di depan, tanpa menyadari masih ada manusia yang tertinggal di bagian belakang hutan yang terbakar? Sasuke tak dapat bergerak dari tempatnya, entah kenapa. Tubuhnya mulai gemetar. Seorang gadis kecil berambut cokelat pendek, tubuh kotor, pakaian yang koyak dan mulut berdarah, duduk di sana, di atas reruntuhan kayu dan batu yang hangus terbakar. Ia memeluk tubuh pucat penuh darah—sepertinya ibunya.

Lalu…

Siapa pria yang sedang menjambak gadis kecil itu, sekarang? Ia berdiri angkuh, di atas mereka, dengan wajah pucat dan mendesis-desis.

.

.

…mirip ular.

.

.

"Senang bertemu denganmu yang sudah dewasa, Sasuke-kun."


Sang menteri menghirup teh yang disediakan Kakashi. Kakashi masih mengontrol pergerakan para pasukan dari alat komunikasi yang ada.

"Kaulah yang selama ini menyampaikan nasihat-nasihat itu. Sejak menjadi panglima kerajaan ini, dia sudah jarang mengunjungi kami. Sejak dulu dia memang tak pernah membuka hatinya. Karena memang, kami hanya orang tua angkatnya…" pria itu menarik napas, "mereka berdua bahkan tak mau menanggalkan marga Uchiha."

"Itulah kebanggaan terhadap klan," komentar Kakashi. "Itu bagus. Jangan dihilangkan. Tapi… karena dia tak bicara pada anda, bukan berarti dia masih tetap tak mau membuka hatinya. Dia sudah mulai berubah dan kita harus berterima kasih pada seseorang untuk itu."

Sang menteri terkekeh. "Sejauh mana kau menguntit anakku?" tanyanya.

Kakashi tersenyum di balik topengnya. "Ah, Toshizo-sama, anda mungkin akan melihat perubahan yang cukup signifikan dalam diri anak itu nanti… yang penting, semoga saja dia tak akan emosi kalau melihat pasukan pembebasan di utara," kata Kakashi sambil membolak-balik buku di tangannya. "Ngomong-ngomong, Iruka baik-baik saja tidak, ya?"

Pria itu kembali terkekeh. "Ya…" kata pria tua itu. "Siapa yang sangka pemimpin dari semua ini adalah orang yang sama dengan pembantai klan Uchiha dulu…"


"Kau mengenalku?"

Bayangan berwarna hitam dan putih melesat-lesat, beterbangan di dalam kepalanya. Seakan-akan otaknya mengirimkan gelombang yang mengharuskannya membuka laci lemari yang sangat besar dan berat.

Lemari dari besi berwarna merah—dengan pegangan hitam.

Tidak, ia tak boleh membukanya.

BUKA!

Getaran tubuh Sasuke makin hebat. Keringat dingin mengalir di sekujur tubuhnya. Ia mengutuk dirinya sendiri yang tak bisa bergerak sedikit pun dari tempat itu. bergeraklah sedikit saja… dia harus menolong gadis kecil itu. jika tidak…

Siluet-siluet manusia terpetakan di kepalanya, membentuk sosok-sosok yang ia kenal—sepertinya. Karena ia meragukannya. Itu siapa?

.

.

"Sasuke-kun, tetaplah bersemangat."

"Sepulang latihan, Ibu akan membuatkan makanan kesukaanmu. Ya?"

"Jangan khawatir, Ayah sebenarnya bangga padamu, Sasuke."

.

.

Jangan.

JANGAN!

Namun siluet itu terus berputar tanpa mengenal kompromi. Seakan-akan ingin mengorek semua yang ada di dalam dirinya. Ingin mengorek seluruh pintu hatinya yang lama tertutup. Menguak masa lalunya. Masa lalu yang sebenarnya sudah tak ingin dia buka lagi. masa lalu yang ingin ia lupakan, meskipun tak bisa. Namun setidaknya, ia tak ingin lagi mengingat-ingat kejadian pahit itu…

Malam akan terus datang dan menghantuimu, Sasuke-kun. Ingatlah malam saat kau hanya tinggal sendiri…

Tak ada yang menolongmu. Semua ketakutan.

"Ayah! Ibu!"

"Sasuke-kun… sayang sekali kau melihatnya."

Aku adalah takdirmu.

.

.

Mereka sudah mati. Kau hanya sendirian.

.

.

Dan tenggelam dalam lautan darah.

Sasuke memejamkan mata. Bayangan-bayangan mengerikan itu terus berputar. Tidak. Dia harus menolong gadis kecil itu. Nyawa gadis itu terancam. Dia bisa mati… tapi tidak, bayangan brengsek sialan itu terus menghampirinya. Siluet hitam dan putih yang terus menjadi semerah darah.

Pikirkan hal yang menyenangkan! Pikirkan!

Memangnya ada yang menyenangkan, eh? Kau pikir ada yang menyenangkan?

Ada. Pasti ada…

MATI SAJA KAU!

"AAAAAGH!" Sasuke berteriak sekuat tenaga. Tubuhnya terhuyung jatuh. Kepalanya berdenyut-denyut. Sedari tadi siluet merah, putih dan hitam itu selalu mendesak kepalanya, meminta otaknya keluar. Kalau bisa, sedari tadi ia ingin menangis saja. Eh? Apa katamu? Mengapa laki-laki menangis? Memangnya ada larangan untuk itu? pria ini sudah melewati masa lalu yang tragis dan kejam, jadi tak apa kalau dia menangis karena ini.

Tangis memilukan yang tenggelam tanpa air mata dan suara.

Bayangan itu bergoyang-goyang cepat. Lautan darah. Lapangan kosong. Deretan Shinobi yang menjemputnya. Lalu membawanya. Wajah kaisar berbelas-belas tahun yang lalu. Lalu wajah gadis kecil yang menatapnya takut-takut. Gadis kecil yang pertama kali ia temui di malam yang gelap, sama seperti saat ini. Gadis kecil berambut merah muda yang ingin mengajaknya bicara namun tak berani.

Siapa?

.

.

"Sakura…"


Malam masih terus berlalu. Sepasang mata hijau yang cantik bercahaya dalam kegelapan. Sakura terjaga dari tidurnya, perlahan ia bangkit dan duduk di atas futonnya. Suara gemerisik di pohon samping beranda kamarnya mengagetkannya.

Perlahan ia bangkit dan membuka shoji. Alis gadis itu terangkat saat melihat seekor burung putih menyambutnya di sana.

"Shiro-chan?" gadis itu mengulurkan tangannya, menyentuh kepala hewan yang langsung merunduk itu. "apa yang sedang kau lakukan di sini?"

Burung itu tak menjawab. Ia bersuara lemah dan langsung menghilang di balik langit malam.

"Shiro-chan!"

Sakura terpaku di balik pagar kayu. Hatinya was-was. Debar jantung tak normal menguasai dirinya. Terlebih saat melihat barisan prajurit yang berbaris teratur sepanjang pagar tembok istana yang terbentang kaku. Ia menengadahkan kepalanya. Langit berkabut tebal, menghalangi bintang-bintang untuk memamerkan keindahannya. Malam ini tak ada bulan yang terpantul di kolam itu.

Apa yang terjadi?


"Kau mengenalku, Sasuke-kun." Pria itu angkat suara, dengan desisan menakutkan yang akan membuat anak kecil manapun menangis saat mendengarnya. "Lama tak jumpa. Aku sudah lama menunggumu."

Sasuke menelan ludah. Dan mengapa sekarang aku tak dapat bicara? Bicaralah, tolol…

Bicaralah!

"Kau…" hanya itu yang dapat ia katakan. Padahal beberapa menit sudah berlalu. "Lepaskan anak itu."

Pria di hadapannya tertawa. Tawanya melengking tinggi, membuat Sasuke kembali tak bisa bicara. "Kau melakukan penawaran yang salah. Harus ada serah terima dan aku tak mau memberikan anak ini secara gratis."

"…Siapa kau?" tanya Sasuke. Tak ada jawaban. "SIAPA KAU!" teriaknya, kehabisan kata-kata.

Pria itu menyeringai. Wajahnya tampak makin pucat. "Sudah kubilang, kau mengenalku. Tapi aku tak ingin menyebutkan siapa aku sampai kau sendiri yang dapat mengenaliku."

"JANGAN BANYAK BICARA!" Sasuke menggeram. Diambilnya kunai dari seragamnya dan dilemparkannya ke arah pria itu. namun percuma, yang ada ia malah membahayakan nyawa gadis kecil yang masih menangis di tangan pria gila itu. "Kau yang menyebabkan semua ini, bukan?"

Pria itu terkekeh, membuat Sasuke naik pitam. Sekuat tenaga dikumpulkannya tenaga dan ia melompat, menerjang ke arah pria yang mirip ular itu. namun sekejap ia menghampirinya, secepat itu pula pria itu menghindar. Sungguh sial. Pria itu terus tertawa-tawa bagaikan setan, melemparkan jasad ibu sang gadis kecil ke tanah, membiarkan kepalanya menghantam batu. Gadis kecil itu menjerit dan akhirnya pingsan.

Lelaki ini gila, batin Sasuke—namun tetap tak dapat berkonsentrasi, dan hal ini mengapa mengingatkanku pada…

"Aku? Ya, aku yang menyebabkan semuanya!" pria itu tertawa. "Aku akan senang sekali kalau kau mau memberitahukan keberadaanku pada kaisar. Karena itu berarti keberadaanku diketahui, . ."

"JANGAN PANGGIL AKU DENGAN PANGGILAN ITU!" teriak Sasuke emosi, melemparkan lima bom kertas. Percuma. Pria itu menghindar dengan mudah. Sepertinya gerakan Sasuke di matanya hanya seperti gerakan yang diperlambat. Pria itu mendesis lagi, tampak senang. Dilemparkannya kunai yang tadi dilemparkan Sasuke, yang langsung menusuk bagian perut lelaki itu.

"Ukh…"

"Aku berharap banyak dengan kemampuanmu, percuma kalau hanya begini saja."

"DIAAAAAAAAM!"

Pria itu tersenyum licik. Bagus, teruslah serang aku. Dan aku akan mengarahkan seranganmu pada anak ini. Dan kau akan merasa bersalah bukan, Sasuke-kun?

.

Dan saat itulah kau akan jatuh ke tanganku.

.

Sasuke tak tahan lagi. Tangannya mulai bergerak cepat membentuk simbol-simbol tak terlihat. Cahaya mulai menyelimuti tubuhnya, membuat musuhnya berhenti menghindar dan melihat apa yang sebenarnya terjadi. Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan semua chakra yang tersisa. Dia mengakui bahwa dirinya kurang begitu pandai dalam pengelolaan chakra; dan sayangnya kini tenaganya hampir habis. Senjatanya tak ada yang berguna. Elemen apinya masih terlalu lemah. Tubuhnya lemas, ia tak peduli. Ia harus menjatuhkan pria gila itu. Susah payah dia mengumpulkan chakra di ujung tangannya, membentuk cahaya biru yang berbunyi.

Bagaimana dengan gadis kecil itu?

Ah, sudahlah.

"CHIDORI!"


"Sudah ada pasukan lagi yang datang?" tanya Tsunade saat Shizune memberikan botol air kelima. Tugas Tsunade masih belum selesai. Yang ada korban malah berjajar makin banyak. Neji dan Naruto telah memerintahkan beberapa anak buahnya untuk membantu mengobati para korban—mereka yang memiliki keahlian medis. Meskipun hanya bisa mengobati korban yang lukanya tidak terlalu berat, Tsunade sudah merasa pekerjaannya sedikit ringan kali ini.

"Pasukan Sai baru saja tiba, dan mereka menyebar ke arah kantor gubernur. Gubernur berhasil diselamatkan dan sedang dievakuasi ke desa terdekat di arah barat laut dari desa ini," kata Shizune. "Ada bantuan darurat dari Suna—mereka akan segera tiba."

Tsunade mengejapkan matanya. "Pasukan bantuan dari Suna? Sejak kapan ada perintah begitu?" tanya Tsunade agak kasar—karena dia sudah stres dan lelah menghadapi korban yang terluka sedari tadi. Kurenai telah mendirikan tenda-tenda darurat seadanya untuk membuat tempat berteduh bagi mereka, namun jeritan rasa sakit mereka tentu saja tak dapat hilang begitu saja meskipun telah diletakkan di tenda darurat dan diobati dengan jutsu medis.

"Baru saja saya mendapatkan info itu," Shizune menggoyang-goyangkan gulungan di tangannya. Tsunade dapat segera tahu itu adalah gulungan rahasia yang harus dibuka segelnya dengan jutsu tertentu agar dapat dibaca. "Mereka adalah…"

"Aku," kata seseorang tiba-tiba, "dan beberapa orang lainnya." Kata orang itu. Tsunade terperanjat. Ia dan Shizune berdiri sigap dan berbalik. Namun napas lega segera muncul dari wanita itu saat tahu siapa yang ada di sana.

"Syukurlah," kata Tsunade lega. "Tapi aku tak menyangka kau bisa datang ke sini."

Lelaki itu tersenyum tipis. "Omong-omong, di mana Sasuke?"

Tsunade mengedikkan bahu sambil menunjuk deretan korban di sampingnya. "Aku tak tahu. Sedari tadi aku sibuk mengobati mereka. Siapa saja yang datang dari Suna? Hanya kalian bertiga?" tanya Tsunade saat melihat siapa yang datang itu. Itachi, Kiba, dan Shino. "Ini sih sama saja dengan pasukan bantuan dari Konoha. Kukira pihak Suna-lah yang akan memberikan bantuan," ucapnya setengah menyindir.

"Gaara, Kankurou, dan Temari sedari tadi juga berhubungan denganku," kata Itachi menjelaskan, "begitu juga sudah cukup. Kalau kita menerima begitu saja bantuan dari Suna dalam jumlah besar, kurasa harga diri kita juga akan rusak."

"Kau masih belum berubah," kata Tsunade, tersenyum menatap lelaki itu. "Tapi kuingatkan, harga diri berbeda dengan nyawa."

"Aku mengerti," kata Itachi. Ia melihat sekeliling dan melihat seorang pria erambut pirang berlari-lari mendekatinya penuh rasa ingin tahu. Ia melambaikan tangannya ke arah Tsunade. "Baiklah, lanjutkan saja pekerjaan anda, Tsunade-sama. Aku segera kembali."

"Itachi-niisan, kau datang?" teriak Naruto saat mendapati kakak Sasuke itu berdiri di dekat gerbang. Naruto mendekati pria itu. "Ngapain kau disini, eh, eh?"

"Jangan bodoh. Tentu saja aku datang untuk membantu kalian," kata Itachi. "Kau lihat Sasuke?"

"Teme? Tidak, aku tidak tahu," kata Naruto sembari menggelengkan kepalanya. "Kulihat tadi ia berlari ke arah hutan sana, tapi…"

Tatapan mata Itachi berubah. "Apa?"

"Eh?" Naruto menatap Itachi, tak mengerti saat melihat perubahan di wajah lelaki itu. "Ada apa, Itachi-niisan?"

"Naruto, kau ikut denganku. Sekarang."


Sebuah gelombang cahaya besar melewati deretan pepohonan yang langsung runtuh dan hangus. Pria itu menyeringai. Inilah saat yang ia tunggu-tunggu. Gadis kecil yang sudah pingsan itu dia pakai untuk menutupi dirinya sendiri. Saat itulah Sasuke baru menyadari apa yang akan dilakukan lelaki itu. Tidak. Dia akan melakukan hal yang sama seperti pria itu. Dia akan melakukan perbuatan keji. Dan hina.

Terkutuk!

Tidak…

Sekejap Sasuke memejamkan mata. Dan dalam waktu itu pula, jutaan partikel berwarna kekuningan menghalangi jalan jutsu-nya. Membentuk suatu dinding tebal antara Sasuke dan pria itu. Dinding padat yang besar dan berisi. Dinding dari…

.

.

…pasir.

"Sepertinya aku tidak terlambat," kata sosok yang berdiri di depannya. "Jaga emosimu atau kau akan membunuh anak itu."

Sasuke perlahan membuka mata. Ia melihat sekeliling. Lelaki gila itu menghilang. Hanya gema tawa melengkingnya yang tersisa. Gaara berdiri di hadapannya dengan dinding pasir aneh yang terhubung dengan tangannya. Satu tangannya lagi menggendong gadis kecil itu. Sasuke membelalakkan mata. Meskipun sebenarnya mungkin sekarang matanya telat tertutup rapat dari segala situasi yang sekarang terjadi dan kemungkinannya. Pria itu sudah menghilang. Tepat pada saat dia akan membunuhnya. Tepat saat dia mau membunuh pembunuh ORANGTUAnya!

Pembunuh orangtuanya…

"KAAAAAU!" teriak Sasuke marah, tenaganya mendadak kembali. Ia mengambil kunai dari balik pakaiannya, mengayun-ayunkannya secara sembarangan ke pria berambut merah yang serta-merta menghindar dengan tenang itu. Namun Sasuke terus menyerangnya dengan ganas. "JANGAN HALANGI AKU, BRENGSEK! JANGAN HALANGI AKU!"

"Sudah terlambat, dia sudah pergi," kata Gaara sambil mundur menghindar, meletakkan gadis kecil malang itu di bantalan yang ia buat dari pasirnya. "Kubilang, jangan emosi. Kau tak akan bisa membunuh lelaki itu, yang ada kau akan membunuh anak itu." ia menunjuk anak malang yang masih terbaring tak sadarkan diri.

"KAU TAK TAHU APA YANG TELAH TERJADI!" Bentak Sasuke tak peduli, melayangkan bola-bola api ke arah Gaara. Gaara sama sekali tak berekspresi apapun. "KAU TAK TAHU APA YANG TELAH IA LAKUKAN!"

Gaara menatap Sasuke dalam diam. Tak ada jawaban, tak ada komentar. Justru itulah yang membuat emosi Sasuke makin meninggi. Entah kenapa, dia sendiri juga merasa tak bisa mengendalikan emosinya hari ini. Gaara dapat merasakan orang-orang yang mulai mendekat ke arah mereka. Sedari tadi ia hanya menghindar dan terus menghindar. Ia melihat langit. Fajar telah menjelang.

"Aku memang tidak tahu."

"KARENA ITU JANGAN HALANGI AKU, SIALAN!" teriak Sasuke lagi, melompat menyerang Gaara, namun yang disambutnya hanya udara ksoosng. Emosi tinggi membuatnya kesulitan berpikir; ia hanya berpikir untuk memukul dan memukul jatuh saja.

Gaara menarik napas. "Aku memang ingin membandingkan kekuatan kita, tapi caranya bukan begini. Saat ini kau terlalu labil dan lemah." Gaara mengulurkan tangannya yang dingin, membuat beberapa segel.

"AKU BUKAN ORANG LEMAH!" teriak Sasuke frustrasi. Ia menghela napas, bersiap menghembuskan sesuatu. "KATON, GOUGAKYUU—"

Sasuke terjatuh. Kesadarannya menghilang, pandangannya gelap. Gaara melihat rekannya itu dan gadis kecil yang tadi bergantian. Dinding pasir yang tadi menghalanginya runtuh, membentuk semacam tandu yang terbuat dari pasir. Ia menatap sayu dua tubuh itu, lalu membawa mereka keluar dari hutan.

"Apa yang akan dikatakan Sakura-hime kalau dia tahu kau bersikap seperti tadi… Sasuke?"

Ia berbisik tanpa mengharap jawaban.


Bersamaan dengan itu, beberapa orang menyeruak masuk hutan, Naruto ada di paling depan, dengan wajah yang khawatir. "Temeeee!" teriaknya sambil berlari mendekati mereka, "Hei, Gaara, kau apakan dia? Dia tak apa-apa?" tanyanya cepat begitu melihat Sasuke yang terkapar. Apalagi saat melihat bagian abdomen Sasuke yang basah kuyup oleh darah.

Gaara menganggukkan kepalanya cepat. "Ya, tidak apa-apa. Lebih baik sekarang kita bawa dia ke para ninja medis."

Itachi yang berdiri di belakang Naruto memburu ke arah mereka. Gaara menatap pria itu. "Adikmu tak apa-apa," katanya pendek.

"Syukurlah," kata lelaki itu, "aku takut kalau-kalau terlambat saat tahu siapa yang menyerang ke utara. Terima kasih kau sudah mendahuluiku, Gaara. Kau tidak menghantamnya terlalu keras, 'kan?" tanya Itachi sambil membetulkan ikat kepalanya. Ada segurat rasa khawatir tersirat di wajahnya.

Gaara mengangguk. "Dia baik-baik saja."

Naruto yang sedari tadi memperhatikan dialog mereka termenung—tampak tak mengerti. "Heeeee, Gaara, Itachi-nii," ia menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, "aku sama sekali tak mengerti ke mana arah pembicaraan kalian. Sebetulnya kalian ini membicarakan apa?" tanya Naruto. "Rasanya aku jadi agak tersingkir."

Itachi menyeringai melihat ekspresi Naruto. "Kalau kau ingin tahu, bisa saja," kata pria itu sambil berjalan keluar hutan, "akan kuceritakan saat si bodoh ini sudah diobati," katanya sembari mengedikkan bahu ke arah Sasuke yang pingsan. Ia menatap langit. Matahari hampir terbit dan keributan telah berakhir.

Tapi, ini barulah awal… ya, kan? Orochimaru.


"Mengapa paman Toshizo dan Kakashi-sensei tidak memberitahukannya padaku?" kata Sakura kesal, "seharusnya kalian bangunkan saja aku! Bagaimana mungkin aku tidak tahu kalau ada penyerangan terhadap wilayah utara?"

Ino dan Hinata tak berani mendekati puteri mereka itu. tensi Sakura sedang terlalu tinggi untuk didekati. Kakashi dan Toshizo Yamanami—sang menteri—sedang mencoba memberikan pengertian pada gadis yang sedang marah itu.

"Kaisar pasti punya alasan untuk tidak memberitahukannya pada anda langsung, Sakura-hime," jelas Kakashi pelan-pelan, "permaisuri pun sama seperti anda, baru tahu pagi ini."

"Maksudmu, perempuan seperti aku dan ibu tidak punya hak untuk langsung tahu?" Sakura berhenti mondar-mandir di ruangan itu, "aku khawatir dengan keadaan para penduduk di sana dan juga punya hal lain yang harus aku khawatirkan... paling tidak, paman Toshizo memberitahu aku," keluh Sakura. Gadis itu terdiam, menundukkan kepala. Bagaimana mungkin ia tak tahu kalau Sasuke juga pergi ke wilayah utara? Seharusnya ia langsung bertanya saat ia melihat barisan tentara yang menjaga istana tadi malam. Dan sekarang, bagaimana keadaan Sasuke?

Kakashi tersenyum di balik topengnya. "Siapa yang kau khawatirkan?"

Sakura menatap Kakashi. Wajahnya memerah, membuat Kakashi terkekeh. Lelaki tua yang ada di sampingnya pun begitu. Pria itu perlahan mendekati Sakura, menepuk bahunya pelan. "Sakura-hime, anda tak perlu mengkhawatirkan anakku."

"Mengapa tidak?" suara Sakura hanya terdengar sebagai bisikan.

"Karena dia anakku."

.

.

Lelaki tua itu tersenyum bijak, memperlihatkan urat-urat tua yang mulai termakan usia. Meski begitu, lelaki itu tetap berwibawa. Tak kalah dari kaisar. Karena itu pula ia menjadi salah satu penasihat Kaisar yang paling terpercaya. Dan Kaisar pun mempercayakan pengasuhan Sasuke kepadanya.

"Mari, kita pergi ke sana sekarang. Aku baru saja menerima kabar, keributan telah berakhir."

Sakura mengangguk. Ia menatap Ino dan Hinata, yang langsung mengangguk mengerti. Tak hanya Sakura yang merasa khawatir. Ada orang lain yang mereka khawatirkan. Hinata juga. Meskipun sedari tadi ia diam saja, namun ia terus berpikir tentang keselamatan Neji. Dan juga Naruto.

"Tenten-sama akan segera menyusul, setelah anda semua pergi," kata Kakashi. Ia menjentikkan jari dan sebarisan pengawal menghampiri mereka. "Pergilah dan beritahukan aku bagaimana keadaan di sana. Aku juga akan segera ke sana."

Sakura mengangguk. "Ya. Terima kasih, Kakashi-sensei."

.

.

Guy muncul dari balik ruangan. "Sudah saatnya kita juga pergi. Mereka sudah menunggu. Anda juga ikut, Toshizo-sama?"

Toshizo tersenyum, "Ya."

Guy tersenyum melihat Sakura yang menjauh. Ia menatap gadis-gadis itu sambil berkacak pinggang. "Masa muda memang harus dipupuk dengan hal yang seperti ini. Diisi dengan tindakan heroik, yang akan membangkitkan semangat. Tapi kekuatan cinta pun akan terus ada. Inilah kekuatan masa muda! Ya, kan, Kakashi?"

Kakashi menghela napas panjang. "Ya, terserah kau."

"Hei, Kakashi! Tunggu dulu!"


To Be Continued


Author's answer for Aria-san (dan juga keterangan untuk pembaca lain)

Teknologi wireless digunakan juga di sini, meskipun setting istana dsb. adalah zaman dulu. Tapi ini juga ada di anime 'kan? Campuran antara dunia modern dan tradisional, seperti yang sudah saya terangkan di chapter-chapter awal… dan karena wireless mahal, hanya dapat digunakan dalam kondisi-super darurat seperti sekarang. Jumlahnya juga terbatas, hanya diberikan pada petinggi-petinggi militer. Apakah fungsi burung pengantar pesan? Tentu saja untuk mengantarkan gulungan rahasia. Wireless di sini pengembangannya masih terbatas dan mudah disadap—bayangkan mungkin ini bertenaga uap seperti di anime Sakura Taisen, karena itu burung-burung digunakan untuk mengirim gulungan rahasia dengan cara ala ninja; harus dibuka dengan jutsu tertentu—tergantung dari mana tempat mereka berasal. Inilah yang membuat gulungan menjadi 'rahasia'. Tentu saja burung-burung itu juga sangat terlatih. Dan juga untuk menambah romantisme… -disepak- ehehe, terima kasih atas koreksinya… hal ini sudah saya pikirkan dengan setengah matang, kok :)

Terima kasih sudah membaca.

Blackpapillon