Disclaimer: I am not, in any way, take any profit from the story and that all creative rights to the characters belong to their original creator(s). Naruto © Masashi Kishimoto.


Jejak Bulan di Atas Air

blackpapillon


15. Kenangan

Kereta kuda itu bergerak tergesa-gesa melintasi jalan hutan yang sedikit berantakan—terlihat baru saja ditebas. Tentu saja, karena baru beberapa jam yang lalu para pasukan kekaisaran menebas dan membuka hutan itu secara paksa untuk memudahkan jalan masuk mereka ke utara—dibanding dengan berputar ke barat dulu. Hari baru saja menjelang pagi, namun mereka sudah bergerak ke arah lokasi penyerangan. Gerimis mengiringi mereka sepanjang perjalanan. Gerimis, pertanda musim semi berakhir dan akan segera digantikan oleh musim panas. Sakura mengintip dari balik jendela. Tadi ayahnya berkata ia dan ibunya akan menyusul setelah agak siang. Karena itu di kereta ini hanya ada Sakura, Hinata, dan Ino.

Sakura melirik Hinata yang terkantuk-kantuk di sebelahnya. Sakura agak merasa bersalah karena mengajak mereka pergi di pagi buta begini—namun Sakura tahu, Hinata pun mengkhawatirkan keadaan Neji—dan Naruto. Tadi saat ia baru terbangun, Hinata muncul di depan kamarnya dengan tergesa dan panik—memberitahukan ia baru saja mendapatkan pesan dari Neji bahwa mereka pergi menuju utara karena ada sebuah desa yang diserang. Saat itu juga Sakura langsung berlari ke pendopo istana, mengagetkan Kakashi dan Toshizo-san yang sedang berdialog setelah kembali dari ruang bawah tanah.

Mata Sakura terpejam. Untunglah Hinata mendapatkan pesan dari Neji. Kalau tidak, bisa-bisa ia terlambat tahu. Paling tidak, dengan tahu lebih awal ia juga bisa datang mengunjungi mereka dan meninjau. Karena itu dia membawa makanan dan obat-obatan juga di dalam keretanya. Semua pemimpin pasukan pergi, namun hanya dua puluh dari masing-masing pasukan yang ikut. Karena itulah Sakura begitu mengkhawatirkan mereka. Tentu saja ia tahu mereka sangat hebat; tetapi, tetap saja...

Sasuke-lah yang paling menyita pikirannya saat ini. Tadi malam mereka baru saja bertemu, namun sekarang keadaannya benar-benar sudah berbalik. Sakura bersyukur pasukan pembebasan itu tidak sampai menyerbu ke dalam istana—tapi sekarang ia mengkhawatirkan para prajurit yang pergi untuk menumpas mereka. Bagaimana keadaan Sasuke? Bagaimana keadaan Naruto? Bagaimana dengan Gaara? Apa mereka baik-baik saja? Sakura menghela napas panjang. Sasuke tak mengatakan apapun padanya tadi malam. Apa ia benar-benar tak tahu, ataukah tak ingin memberitahukannya? Begitu banyak pertanyaan dalam benaknya saat ini, sehingga ia tak sempat lagi memperhatikan pemandangan maupun teman-temannya.

"Sakura, semua akan baik-baik saja," kata Ino tiba-tiba. "Sasuke itu hebat."

"Aku tahu." Ia membetulkan mantel hijau yang dipakainya, merapat karena udara dingin berhembus ke dalam. "Tak hanya dia yang aku khawatirkan."

"Yang lain juga hebat. Mereka semua pasti selamat. Bagi mereka itu hanya hal kecil."

Sakura mendongakkan kepala. Dibalasnya ucapan Ino dengan senyum lemah. Mereka termenung lagi, masing-masing hanya memandang pemandangan apa saja yang terlihat di balik jendela—meskipun sebagian besar gelap karena mereka menembus hutan.

Tanpa Sakura sadari, Ino juga sedang merasa khawatir luar biasa.

Ino menatap Hinata yang akhirnya tertidur dengan pandangan iri. Bisa-bisanya Hinata tidur saat keadaan seperti ini. Tapi memang bisa dimengerti, karena tadi malam, Hinata sama sekali tak tidur begitu mendapat kabar dari Neji. Mereka sedang beristirahat di kamar—kebetulan ia sekamar dengan Hinata—saat murai milik Neji menerobos masuk ke kamar dan memberikan Hinata sehelai surat. Dan setahu Ino, Hinata tak lagi tidur setelah itu. Ino sendiri tak mengira itu kabar buruk, namun saat menjelang fajar, Hinata memberitahukannya apa isi surat itu dan dengan terburu-buru pergi ke kamar Sakura untuk menceritakan masalahnya.

Anehnya—bahkan Ino sendiri heran—saat ini yang ia pikirkan keselamatannya bukanlah Shikamaru. Tentu saja dia khawatir; tapi ia bisa lega soal dia. Yang ia khawatirkan malah Sai. Entahlah, mungkin karena pembicaraan mereka yang belum selesai waktu itu. Atau mungkin...

Atau mungkin...


"ASTAGA!" Tsunade tergopoh mendekati rombongan kecil yang baru saja keluar dari hutan itu. "Apa-apaan ini? Bagaimana bisa jadi begini? Turunkan, turunkan! Baringkan dia di tempat yang aman! Shizune, tolong cek tanda-tanda vitalnya!" kata Tsunade, segera memberi perintah. Shizune dengan sigap langsung melaksanakan permintaan Tsunade.

"Detak jantung meninggi. Tekanan darah tidak stabil... kelihatannya dia kehilangan banyak darah," kata Shizune cepat setelah memeriksa Sasuke.

Tsunade yang tadinya sedang menangani korban lain segera beralih ke arah Sasuke. "Tangani dia," perintahnya pada salah seorang anak buah Neji yang duduk di sampingnya. Ia memeriksa Sasuke dan luka tusuknya yang menganga di bagian perut lelaki itu. "Mengapa bisa jadi begini?" tanya Tsunade.

Gaara dan Itachi sama-sama mengedikkan bahu. Namun Itachi angkat bicara. "Sepertinya karena lelaki itu. Gaara hanya membuat jutsu sederhana untuk menghilangkan kesadaran Sasuke—dan saat itu tubuhnya sudah sangat lemah."

Tsunade mengertakkan gigi. "Lelaki itu?"

"Kau tahu siapa yang kumaksud," kata Itachi cepat, dengan suara yang mengecil—seakan-akan tak ingin terdengar oleh orang lain selain mereka berdua. Tsunade mengernyitkan kening, namun sebentar kemudian mengerti.

"Dasar kakek sial," komentar Tsunade, "melakukan hal semacam ini hanya untuk mendapatkan kekuasaan atas Konoha. Benar-benar ekstrem, rendahan dan tidak ada kerjaan. Seharusnya dengan kekuatan sebesar itu, bila ia bekerja di lingkungan istana, ia bisa saja sudah menjadi panglima militer tertinggi," kata wanita itu cepat. Ia mengonsentrasikan diri, lalu mengalirkan chakra ke tubuh Sasuke yang mulai melemah. Aliran chakra-nya kebiru-biruan.

"Bagaimana?" tanya Itachi memastikan.

"Cukup gawat, tapi bisa kutangani. Kalian bisa tenang dan mengurusi yang lain," jelas Tsunade akhirnya setelah memeriksa tubuh Sasuke. "Bagaiman akalau sekarang kuperiksa keadaan kalian? Itachi, kulihat tanganmu terluka."

Itachi mundur selangkah. "Tidak, urus saja si bodoh itu. Aku bisa obati sendiri. Dan aku baru saja dapat info, rombongan kekaisaran sedang menuju ke sini."

"Howa? Kaisar? Pagi-pagi sekali!" celetuk Naruto tiba-tiba, "mengapa mereka datang pagi-pagi sekali? Apakah bersama jajaran menteri dan yang lainnya?" tanyanya penasaran.

"Bukan," Itachi menggelengkan kepala, "Kereta yang akan datang membawa Sakura-Hime, Yamanaka Ino, dan Hyuuga Hinata. Mereka juga menginformasikan bahwa mereka membawa sedikit bahan makanan dan obat-obatan—berikutnya akan menyusul. Putri perdana menteri juga hampir tiba."

Naruto mengejapkan matanya yang berwarna biru cemerlang itu dengan tatapan hampir tak percaya. "Sakura-chan, Ino-chan, Tenten-chan, dan Hinata-chan!" serunya keras, membuat beberapa orang di sekitarnya menoleh. "Waaaah, baik sekali mereka! Aku akan senang bertemu mereka pagi ini... ah, Hinata-chan akan memasak tidak, ya? Kuharap mereka akan di sini dalam waktu yang lama..." ujarnya.

Neji yang sedang membereskan kayu-kayu bekas rumah yang hangus terbakar mendelik. "Dan mengapa kau malah memikirkan itu?"

"Heeeeh!" Naruto terlonjak saat melihat Neji di sampingnya—tiba-tiba lelaki itu berkeringat dingin. "E-eeeeh, Neji! Oke, oke, aku tidak berpikir soal itu, kok! Hanya saja, memang katanya masakan Hinata-chan sangat enak, ya? Yaaaa? Makanya aku penasaran ingin mencobanya," jelasnya agak terbata.

"Silakan saja, aku tak pernah melarang orang lain kalau ingin melakukan hal itu," kata Neji. "Dan masakannya memang lezat." Neji merasakan ekspresi wajahnya berubah aneh saat ia mengatakan hal itu.

Naruto menyipitkan mata. "Lalu, mengapa kau tadi tampak marah?" tanyanya penasaran.

Wajah Neji berubah bengis lagi. "Karena justru hal itu yang kau pikirkan, bodoh!" bentaknya keras, dan ia langsung kembali bekerja, membuat Naruto garuk-garuk kepala tak mengerti—dan mulai bekerja lagi, membereskan desa yang porak-poranda. Tsunade hanya tersenyum sendiri melihat kelakuan para jenderal muda itu, lalu kembali menyibukkan diri dengan penanganan Sasuke. Sai yang melihat Neji lalu mendekatinya, dan menepuk bahu pria itu.

"Kau sebetulnya tak marah kalau memang Naruto ingin mencicipi masakannya, ya, kan?" kata Sai setengah berbisik, bibirnya menyunggingkan senyum. "Kurasa kau tak rela kalau Naruto hanya memikirkan makannnya saja dan bukan orangnya—padahal kau sudah memberikan kesempatan pada Naruto-kun."

Neji tak menjawab apa-apa—dan bagi Sai, itu berarti ya.

"Sepertinya aku benar," kata Sai penuh kemenangan, "Tenang saja, Neji-san, Naruto hanya butuh waktu untuk segera menyadarinya. Meskipun kau tak tega juga membiarkan adikmu itu begitu terus, sih..." katanya agak menahan tawa. Neji tersenyum masam.

"Kau ini seakan-akan tahu segalanya, sedangkan kau sendiri tak dapat dimengerti oleh orang-orang," komentar Neji sambil kembali bekerja, "tapi kau memang benar."

.

Sai tersenyum mendengarnya. "Kau orang kedua yang berkata begitu padaku."

.


"Dia sehat?"

Itachi menoleh dari tempat duduknya di dalam tenda darurat dan melihat sosok Naruto. "Sebentar lagi mungkin akan siuman. Lebih baik kau tenang saja dan kembalilah menangani desa ini," katanya pada lelaki itu, "desa ini benar-benar habis. Tak heran kalau Sasuke jadi naik pitam."

Naruto menatap Sasuke yang masih terbaring. Kesadarannya belum kembali. Namun sebagian besar perutnya telah dibebat oleh perban. Perban itu masih memperlihatkan noda-noda darah yang merembes. Menandakan lukanya amat dalam. Naruto agak berjengit saat membayangkan hal itu. Ia sama sekali tak mengetahui kejadian sebenarnya. Belum lagi Gaara yang hanya diam saja. Membuatnya jadi penasaran. Mengapa? Ya, karena dia ingin tahu! Memangnya harus ada alasan untuk itu?

"Itachi-niisan," kata Naruto sampai suaranya hampir terdengar sebagai bisikan, "apa yang sebenarnya terjadi?"

"Ah," Itachi menatap Naruto dengan pandangan aneh, "sepertinya kau sangat mengkhawatirkan si bodoh ini. Bukankah kau senang kalau dia kalah dari Gaara—karena sifat sombongnya akhirnya runtuh juga? Yah, mungkin dia akan merasa harga dirinya tercoreng setelah dia siuman dan tahu dia dibawa ke sini oleh Gaara... " katanya agak terkekeh.

"Bukan itu, tahu," Naruto mendengus, "tentu saja aku senang akhirnya dia kalah oleh sesama prajurit... tapi aku kesal karena bukan aku yang melakukannya," kata Naruto, agak merengut. "Apa sih yang sebenarnya terjadi?"

Sunyi sebentar.

"Aku juga kurang begitu tahu, karena aku tak ada saat kejadian itu."

Naruto memandang Itachi tak mengerti. "Apa? Maksudmu, saat kejadian tadi? Ya, memang tak ada siapa-siapa lagi selain Gaara, Sasuke, dan anak kecil itu, kan?" tanyanya, tiba-tiba teringat pada gadis kecil tadi. "Oh, ya, di mana anak itu?"

Itachi menggelengkan kepala. "Bukan kejadian tadi. Tapi mengenai kejadian belasan tahun lalu."

"Belasan tahun lalu?"

Lelaki berambut hitam legam itu menatap sosok adiknya yang tertidur. Napasnya yang tadi naik-turun mulai teratur. Ia menghela napas. Berat baginya untuk menceritakan kembali hari itu, membuka tabir masa lalu. Biarpun ia tak ada di situ, tapi dia merasakan akibatnya. Kedua orangtuanya—bahkan seluruh keluarganya direnggut secara tragis.

Ia waktu itu tak ada di sana, dan ia sangat menyesalinya karena setelah itu Sasuke mengalami trauma lama. Mungkin sampai sekarang, karena kelihatannya adiknya itu masih tertutup. Pribadi Itachi yang tumbuh di lingkungan Suna membuatnya harus luwes dan dapat bergaul dengan siapa saja—karena sejak awal dia memang dipersiapkan sebagai penghubung Suna dengan Konoha. Lain halnya dengan Sasuke. Anak itu hidup dalam impitan bayang-bayang dirinya, 'Itachi yang hebat' atau entahlah namanya itu. Meskipun begitu, Itachi tahu adiknya selalu berusaha dengan baik. Dan kehilangan seluruh keluarga merupakan pukulan hebat baginya.

Itachi menatap wajah Naruto yang masih mengharap jawaban. Ia tak pernah bisa berada di sisi Sasuke terus-menerus, dia tahu. Karena dia sendiri sibuk dengan pekerjaannya. Namun ia selalu memastikan Sasuke baik-baik saja—setidaknya ia tahu Sasuke memiliki teman-teman yang mengkhawatirkannya bila terjadi sesuatu pada anak itu. Misalnya Naruto.

Lelaki itu menarik napas lagi. "Ah... aku tak akan mengatakannya padamu. Akan kubiarkan Sasuke mengatakannya sendiri," katanya berahasia, sambil meminum teh di gelas yang sedari tadi dipegangnya. Membuat Naruto yang sedari tadi berharap jawaban lugas dari Itachi, merengut lagi.

"Apa kau bilang? Huh, dasar pelit!"

Itachi tersenyum tipis, "karena yang mengalaminya langsung adalah Sasuke, jadi tentu aku tak dapat menceritakannya dengan tepat," kata lelaki itu memberi pengertian, "lagipula, kalau Sasuke percaya padamu, dia pasti akan menceritakannya sendiri."

"Huh," bibir Naruto masih mengerut, "kurasa untuk soal ini, Sakura-chan akan tahu lebih dulu. Akhir-akhir ini mereka dekat, kami teman-temannya pun tidak dipedulikan lagi," gerutu Naruto agak kesal. Bukannya dia tak setuju, tentu saja dia senang-senang saja—tapi yah, rasanya dia agak merasa kehilangan.

"Sakura-chan? Maksudmu, Sakura-hime?" tanya Itachi, mencoba memastikan, alisnya terangkat. "Dekat bagaimana?"

"Yaaaa. Sayang sekali kau tidak ada di Konoha selama sebulan ini dan hanya datang sebentar saja waktu itu, Itachi-niisan, karena mereka berdua jadi dekat akhir-akhir ini, entah karena apa—" Naruto tampak berpikir sebentar, keningnya berkerut. "—yang jelas, dia jadi lebih sabaaaar!"

Hampir saja Itachi tertawa kalau saja tidak segera ditahannya. "Itu bagus, bukan? Syukurlah. Sakura-hime orangnya memang selalu memikirkan orang lain—mungkin dia tertular," jawabnya asal, "memangnya apa masalahnya denganmu?"

"Habis, kami jadi tidak bisa menentukan siapa yang paling hebat di antara kami, kan! Malah Gaara yang menerobos duluan!" protes Naruto lagi.

"Sudahlah, aku malas memikirkan perseteruan kalian yang sedari dulu tak ada habisnya," kata Itachi sambil mengibas-ngibaskan lengannya. "dan daripada kau terus berkata berputar-putar seperti itu, bilang saja kalau kau khawatir dengan keadaan Sasuke. Mengapa harus mengatakan hal berbelit-belit untuk sesuatu yang sebenarnya mudah untuk dikatakan?" ujar lelaki itu, kembali menahan senyum.

"Untuk apa aku peduli dengan si teme ini, dia peduli padaku pun tidak pernah—"suara Naruto dihentikan oleh Itachi yang memberi isyarat telunjuk di atas bibirnya.

"Sssssh, nanti dia terbangun," kata Itachi cepat-cepat sebelum volume suara Naruto meninggi lagi, "kalau kau mau menunggui dia di sini, tunggulah. Sebentar lagi Sakura-hime dan yang lainnya akan ke sini, aku yakin Sakura-hime akan langsung ingin melihat keadaannya. Dan Naruto," Itachi menatap wajah Naruto yang masih merengut, "daripada mengusik gadis yang dekat dengan Sasuke saat ini, lebih baik kau juga melihat dirimu sendiri."

"JANGAN BERISIK, DEH!" teriak Naruto sambil melemparkan bantal entah dari mana—pokoknya, benda itulah yang terjangkau dengan tangannya. Dia lemparkan kuat-kuat dan Itachi juga dengan sigap mengelak sambil langsung kabur. Segaris tipis senyum terpahat di wajah Itachi, sementara ia pergi keluar tenda darurat dan berjalan ke arah gerbang desa itu.

"Ssssssshhhhtt!" kata Itachi sambil terus ngeloyor pergi, "dan sejak kapan aku jadi kakakmu, hah?"

Naruto tertawa lagi.

Syukurlah kau memiliki teman-teman yang baik, Sasuke...

Paling tidak, ia percaya adiknya akan baik-baik saja walaupun tak ada dia di situ. Oh, dan satu lagi; rasanya akhirnya dia menemukan gadis yang berhasil mencuri perhatian adiknya itu...


"Hei, teme. Ayo cepat bangun, jangan lemah begitu," Naruto mengetuk-ngetukkan jari-jarinya ke terpal tipis yang mengalasi tenda itu, berharap rivalnya itu akan bangun. Tapi yang terdengar dari Sasuke hanya dengkuran halus. "Cih." Ia kembali mendongak, dan melamun lagi.

Naruto menatap langit-langit tenda yang berupa terpal seadanya, membentang di atas kepalanya dengan jarak hanya sekitar beberapa inci saja. Ia harus merunduk untuk memasuki tenda itu. Ia beralih ke arah Sasuke yang masih tidur. Tarikan nafasnya teratur dan halus, pertanda kondisinya sudah membaik. Terus terang, dia cukup—kalau tidak bisa dibilang sangat—panik melihat keadaan Sasuke tadi. Benar-benar parah, darah berceceran dimana-mana. Untunglah sekarang dia baik-baik saja. Pikirannya mulai terbang, membayangkan wajah Sakura yang pasti lega saat tahu Sasuke selamat.

Tadi dia tidak mau mengakuinya, tapi toh dalam hati kecilnya ia mengakui perasaan lega yang menyusup ke dalam hatinya saat tahu rivalnya itu baik-baik saja. Mereka memang selalu bertengkar, bahkan sampai kepada hal-hal yang tidak penting—tapi hal itu jugalah yang menjadi sbeuah kebiasaan favoritnya. Di luar itu semua, Naruto menganggap keberadaan Sasuke sebagai sesuatu yang cukup mewarnai hari-harinya.

Sesuatu yang disebut... apa tadi? Oh, ya. Sahabat.

Dia tak tahu apakah Sasuke juga menganggapnya sama seperti itu; namun bagi Naruto sendiri, empat teman-temannya sesama pemimpin pasukan sudah ia anggap sebagai satu keluarga bersamanya, karena ia sendiri tak punya keluarga. Ia dirawat oleh keluarga kekaisaran; dan dengan otomatis ia menjadi kawan bermain Sakura sejak kecil. Karena itu jugalah, ia memanggil yang lainnya dengan sebutan –chan—termasuk Sakura—dan juga ia memang tak menyukai adat protokoler kuno istana di mana ia harus memanggil dengan embel-embel jabatan. Kecuali dalam kesempatan-kesempatan tertentu pastinya.

"Cepatlah bangun, teme," desisnya pelan, "ada yang mengkhawatirkanmu di istana kaisar. Kau pasti sudah tahu siapa, kan?" ia tersenyum kecil.

Naruto kembali mencoba mengingat-ingat masa lalu. Masa kecil dilewatkannya dengan bermain bersama Sakura dan dayang-dayang pendampingnya yang waktu itu masih kecil. Mereka bermain di lapangan barat, mengikuti Kakashi-sensei yang waktu itu masih menjadi prajurit biasa, pergi patroli—tanpa sepengetahuan Kakashi, tentunya—dan berakhir dengan mereka diseret ke dalam istana oleh Kakashi. Jelas saja ketahuan. Yang pergi keluar seringkali hanya Sakura, dia dan Ino saja; karena Hinata adalah gadis kecil penurut yang selalu diam di dalam istana—meskipun dia tak memberitahukan kepergian mereka pada penjaga (tapi akhirnya toh ketahuan juga).

Lalu ia tumbuh besar, bertemu dengan seorang Uchiha Sasuke dalam lingkungan itu. Oh, dan pertengkaran mereka sudah dimulai semenjak pertemuan pertama. Dari sudut matanya ia dapat melihat wajah Sakura yang mengintip malu-malu di balik pintu kertas; dan ia langsung menyadari perasaan gadis itu. Dengan wajah polosnya, Naruto berhasil mendesak Sakura untuk menceritakan perasaannya pada Sasuke (di bagian ini ia tertawa lagi). Sekarang Sakura mungkin merasa bahwa lebih enak bercerita pada teman-teman wanitanya dibanding dia, jadi Naruto juga tak terlalu memikirkan hal itu; toh mereka masih cukup dekat sampai sekarang.

Menjadi seorang prajurit bersama Sasuke... diajari oleh Kakashi, yang menjadi pembimbing mereka selama awal mula mereka menjadi prajurit... (penuh siksaan konyol—"derita seribu tahun!") melewati ujian-ujian sampai akhirnya bisa menjadi pemimpin pasukan... bertemu dengan Hyuuga Neji yang entah mengapa selalu melirik kejam padanya... Sai yang perhatian-tapi-misterius... dan Shikamaru, sang jenius yang sepertinya tak tersentuh olehnya.

Semua itu telah melupakan kesedihannya—yang kadang-kadang muncul—saat ia memikirkan keluarganya yang entah berada di mana. Sudah sejak lama ia mengklaim bahwa istana adalah keluarganya. Ia menyayangi mereka semua, sekesal apapun dia pada mereka. Namun bagi Sasuke itu mungkin sulit, pikir Naruto lagi—mengingat-ingat hubungan Sasuke yang kurang akrab dengan ayah angkatnya.

Membayangkan Sakura yang pasti sekarang sedang panik saat mengetahui penyerangan tadi, ia jadi berpikir lagi; seperti kata Itachi, adakah gadis yang sekarang juga sedang mengkhawatirkannya?

Pikirannya kembali melayang ke masa kecil, saat ia akan menyelinap keluar mengikuti rombongan Kakashi—si tukang patroli, ada gadis kecil yang selalu bertanya dengan pelan dan hati-hati, bertanya apakah ia akan baik-baik saja, apakah ia tak takut dihukum, apakah ia akan pulang tepat waktu tanpa harus ketahuan oleh penjaga istana. Yang mengintip dari balik tembok tempat peristirahatan para dayang saat ia dihukum tak mendapat makan siang karena membawa Sakura menyusup keluar dari istana.

Ia melihat gadis kecil dalam bayangannya—yang memvisualisasikan gadis bermata kelabu, yang selalu tersenyum malu-malu.

"N-naruto-kun, berhati-hatilah, aku akan menunggu di sini sampai matahari terbenam."

"Naruto-kun..., a-apakah kau tak takut dihukum lagi o-oleh Kakashi-sensei?"

"N-naruto-kun. Aku tak bisa ikut, aku akan berjaga di sini..."

Semua bermuara pada sebuah nama, Hyuuga Hinata.

(Oh, dia jadi ingat kalau gadis itu pandai memasak)

Naruto tersenyum lagi, matanya nyaris terpejam—hampir saja ia terbawa dalam tidur kalau saja ia tak mendengar suara gemerisik selimut dari orang yang terbaring di sebelahnya. Dalam sekejap matanya terbuka lagi, lalu melihat siapa yang menimbulkan bunyi itu. Mata hitam milik rekannya terbuka perlahan, tatapan matanya lemah.

"...Teme...!"


To Be Continued


Terima kasih sudah membaca.

Blackpapillon