Disclaimer: I am not, in any way, take any profit from the story and that all creative rights to the characters belong to their original creator(s). Naruto © Masashi Kishimoto.
Jejak Bulan di Atas Air
blackpapillon
16. Jarak
.
.
"Sakura-hime. Kita sudah sampai." Sais kereta membukakan pintu, dan dengan hati-hati membangunkan Sakura yang sudah agak tertidur—karena perjalanan tadi cukup panjang dan melelahkan.
Sakura membuka matanya perlahan. "Oh, ya. Terima kasih. Ada di mana kita?" tanyanya dengan ekspresi-nyaris-seperti-orang-bego, membuat sang sais kereta menahan senyum.
"Kita sudah sampai. Desa ini bernama Niji, kalau anda ingin tahu namanya," sahut sais kereta itu. Sakura menganggukkan kepala. Ia mengguncang-guncangkan tubuh Ino dan Hinata yang terlelap—lalu turun dari kereta. Mereka kini berdiri di depan gerbang desa. Tubuh Sakura gemetar melihat pemandangan di depannya. Pemandangan yang kacau-balau, disebut kapal pecah pun tak layak. Sesosok wanita yang sudah sangat Sakura kenal menyambut mereka di gerbang.
"Sakura!" teriak Tsunade, "akhirnya kau tiba juga. Ayo, segeralah masuk—kudengar kau membawa bahan makanan dan obat-obatan. Para korban amat membutuhkannya," kata Tsunade serius.
Sakura langsung menghambur ke pelukan Tsunade. "Tsunade-shisou!" Tsunade dapat merasakan getaran dari nada suaranya, "maaf aku terlambat datang ke sini... aku sama sekali tak tahu! Aku bahkan tak menyangka keadaannya separah ini..." ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. "Bagaimana keadaan yang lain?"
Tsunade tersenyum. Ia mengelus kepala Sakura dengan lembut. "Kami terlambat untuk mengatasi semua ini, sayang sekali. Namun paling tidak banyak yang bisa kami selamatkan. Dan para prajurit baik-baik saja, kecuali..." Tsunade menahan napas—sepertinya ia berpikir untuk memberitahu Sakura atau tidak.
Jantung Sakura mencelos. Susah payah ia mengumpulkan tenaga untuk bertanya, karena rasa khawatir mulai menyusup makin kuat. "...kecuali apa, Tsunade-shisou?"
"Uchiha Sasuke luka parah," kata Tsunade akhirnya, "kau harus segera menengoknya. Baru saja ada kejadian yang benar-benar membuatnya shock—lebih baik kau segera ke sana. Dia ada di tenda unit gawat darurat." Tsunade menunjukkan sebuah tenda yang terbuat dari terpal cokelat dengan jemarinya.
Tsunade dapat melihat ekspresi Sakura yang terlihat begitu khawatir.
"Bagaimana kalau kuantar?" kata sebuah suara. Mereka berdua berbalik dan melihat Itachi.
"Itachi," ucap Tsunade saat melihat pria itu, "bukankah kau tadi sedang menunggui Sasuke? Bagaimana dia?"
"Tadi aku minta Naruto menjaganya. Kalau Sakura-hime berniat menjenguknya, aku bisa mengantar sekalian melihat keadaannya," kata Itachi menjelaskan. "Mungkin sudah saatnya dia siuman sekarang. Ayo, Sakura-hime. Kau pasti khawatir tentang dia sejak mendengar kabar penyerangan ini." Pria itu melemparkan pandangan penuh arti kepada Sakura—membuat gadis itu salah tingkah.
"...baiklah... tolong antar aku ke sana, Itachi-san."
Hinata terpaku; tak berkata apa-apa. Ia melihat sekilas papan kayu di gerbang desa yang tak sampai hangus menjadi abu; ia dapat mengeja kanji Nijigakure di sana. Desa Pelangi. Namun sama sekali tak terlihat bila keadaannya seperti ini. Desa yang carut-marut dan mayoritas berwarna hitam. Puluhan korban dijajarkan begitu saja di atas tanah; beberapa tenda darurat yang terbuat dari terpal seadanya bertuliskan unit gawat darurat. Hinata menghela napas. Ia bahkan dapat mendengar suara tangisan bayi dan anak-anak.
"Hinata!" gadis itu berpaling dan melihat Tenten yang berlari-lari ke arahnya. "Kau sudah lama di sini? Aku baru saja sampai. Parah sekali," kata Tenten sambil menghampiri gadis itu. "Mana Sakura dan Ino?" tanyanya.
"Aku tak tahu Ino-chan pergi ke mana..." pandangan matanya mencari-cari ke sekeliling desa, "kalau Sakura-chan, dia sekarang sedang menuju tempat Sasuke-san dirawat," Hinata menjelaskan.
"Sasuke?" Tenten mengernyitkan dahi. "kenapa dia?"
"Ngg... aku kurang tahu," kata Hinata sambil memain-mainkan ujung jarinya, "katanya dia terluka parah..." ia kembali melihat-lihat sekeliling, seakan-akan mencari-cari sesuatu. Tenten dapat menangkap ekspresi gadis itu dan tak lama kemudian, Tenten tertawa kecil.
"Kau mencari Naruto, ya?" tanya Tenten.
"E-eh, tidak, tidak!" Hinata mundur selangkah demi selangkah, wajahnya merona merah—jika tidak boleh dibilang merah luar biasa. "A-aku memang ingin ta-tahu apakah Naruto-kun baik-baik saja... tapi aku tidak mencarinya!" protes gadis itu, yang jelas saja malah memperlihatkan isi hatinya. Sepertinya beberapa menit kemudian Hinata menyadari hal itu, dan dia langsung terkesiap, bersiap-siap lari.
Tenten tertawa. "Ah, menurutku tak apa-apa kalau kita mengkhawatirkan seseorang, Hinata... sampai kapan kau mau terus berbohong begitu?" katanya.
"Tidak, tidak, tidak!" Hinata menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia mundur lagi, sampai tak sengaja menabrak seseorang di belakangnya. "Aduh!"
Tawa Tenten terhenti. Hinata mendongakkan kepala dan melihat kakak sepupunya yang sedang membereskan puing-puing. "Hinata, berhati-hatilah. Kau datang ke sini bersama Sakura-hime?" tanya Neji, membersihkan pakaiannya dari arang yang menempel.
Hinata mengangguk. "Y-ya... hanya saja Sakura-chan sedang menengok Sasuke-san—" Hinata menghentikan kata-katanya saat kakak sepupunya itu menepuk-nepuk bagian rambutnya. "Eh... a-ada apa, Neji-nii-san?"
Neji tersenyum. "Rambutmu terkena arang dari kayu yang kupegang tadi," katanya. "Hampir semua bagian desa ini habis terbakar. Termasuk sebuah panti asuhan di dekat sini. Tapi anak-anak itu selamat, untunglah..." pria itu tiba-tiba menyadari sesuatu, "oh. Kalau mau mencari Naruto, dia ada di sebelah sana—" Neji menunjuk sebuah tenda darurat, "tapi seperti yang sudah kita duga, dia baik-baik saja." Pria itu tersenyum kecil mendengar kata-kata yang diucapkannya sendiri.
Wajah Hinata semerah kepiting rebus sekarang. Ia membungkukkan tubuhnya sekejap, lalu berbalik pergi—ke arah lain, selain tenda darurat. Neji mengernyitkan kening. Di belakangnya terdengar tawa kecil Tenten. Lelaki itu menoleh.
"Hinata-chan memang tak suka terus terang," komentar gadis itu, "tapi aku senang kau sudah lebih terbuka." Tenten tersenyum manis.
Neji merasa wajahnya memanas. "...terbuka? terima kasih, kalau begitu," katanya sambil berdehem, "...anda datang bersama Hinata?" tanyanya.
Wanita di hadapannya kembali tersenyum, mengirimkan aliran listrik aneh ke sekujur tubuh pria itu. "Kumohon, jangan panggil aku dengan sebutan 'anda'," katanya pelan, nyaris tak terdengar oleh Neji. "Aku jadi ingat kata-kataku kemarin dulu. Rasanya malu sekali."
"Eh?" Neji menatap gadis itu sebentar, tak bicara apa-apa, tampak berpikir, lalu ada sesuatu yang muncul di wajahnya, segaris senyum tipis. "Tak usah dipikirkan. Seperti yang anda—eh, kau tahu, aku juga salah waktu itu," ujar Neji, "dan sekarang mungkin aku bisa lebih tenang."
"Tenang?"
Pria itu menatap Tenten. "Tapi lihat saja nanti—kalau misalnya si bodoh itu tidak sadar-sadar juga... bisa kupastikan dia akan berakhir di RSU Konoha dengan penanganan khusus." Neji merendahkan suaranya saat mengatakan itu.
Tenten tertawa kecil. Mereka berdua kemudian saling tak bicara, membiarkan angin pagi berhembus melewati desa itu, menerbangkan serpihan-serpihan kecil arang dan serbuk kayu ke udara. Rambut mereka menari—nari tertiup angin. Tenten menatap sekeliling. Orang-orang masih sibuk bekerja, membereskan keadaan desa yang mulai terlihat agak kosong. Gerimis yang turun tadi saat dini hari telah reda. Gadis itu dapat mencium harum tanah basah bercampur bau hangus yang khas; bercampur bau darah yang agak menyengat.
"Banyak orang yang mati," kata Tenten, "aku tak mengerti apa maksud mereka melakukan hal itu."
"Mereka itu sekumpulan orang sakit jiwa," komentar Neji.
Tenten tersenyum. Diperhatikannya figur pria yang berdiri tegap di sampingnya itu. Neji tampak lelah. Meskipun udara pagi terhitung dingin, namun pelipisnya mengucurkan keringat. Ada beberapa luka gores di pakaian seragam kekaisarannya. Sebagian kecil bahkan masih mengeluarkan darah.
"Kau terluka?"
Neji menoleh. "Hah, tentu saja. Dalam keadaan seperti ini—dan dengan kondisi seperti ini—sulit menghindar dari luka. Kecuali kalau kau Sai. Cih, aneh sekali dia tak mengalami luka sedikit pun."
"Aku juga ingin ikut bersama kalian," kata Tenten tiba-tiba dengan suara tertahan. "Aku ingin menjadi seorang kunoichi."
Neji menoleh—sekali lagi, memastikan apakah kupingnya tidak salah dengar. Apalagi kali ini? Kemarin minta maaf, sekarang apa? Kunoichi? Neji menghela napas berat dan dengan hati-hati meminta gadis itu untuk mengulang, "Maaf. Mungkin aku salah dengar. Kau sedang bercanda?"
Tenten malah tertawa. "Kau yang jangan bercanda, Neji-san. Aku serius. Menjadi seorang kunoichi sudah menjadi impianku sejak kecil, namun orang tuaku tidak pernah mengizinkannya."
"Tentu saja tidak, kau ini 'kan puteri perdana menteri!" Potong Neji cepat, dengan suara mengeras. Beberapa orang mulai menoleh ke arah mereka, tapi toh dia tak terlalu peduli. "Apa yang akan dikatakan orang-orang kalau begitu?"
"Neji-san, kau juga anak dari keluarga bangsawan Hyuuga. Tapi kau dapat menjadi seorang panglima," protes Tenten. "Mengapa aku tidak bisa? Mengapa aku hanya terkungkung di balik sederetan peraturan saja, sementara orang lain dapat menjadi seorang kunoichi?" gadis itu mulai mencecar Neji dengan banyak pertanyaan, kesemuanya segera memojokkan Neji.
Karena Neji tahu, satu jawaban 'karena kau puteri bangsawan' saja tidak cukup baginya. Karena itu, Neji tak menjawab apa-apa. Ia hanya menatap gadis itu dalam diam. Lalu ia berbalik dan kembali menyibukkan diri. Sekali lagi ia memerhatikan gadis itu lama, mencari-cari sesuatu yang dapat membuatnya yakin bahwa kata-kata Tenten tidak main-main.
Ah.
Gadis itu berkata jujur.
"Sasuke baik-baik saja," ujar Itachi sementara mereka berjalan menyusuri desa, "dia hanya banyak kehilangan darah, tapi tak masalah."
"Tapi dia kehilangan banyak darah, kan?" tanggap Sakura cepat, "dan dia masih tidak sadarkan diri?"
Itachi menahan senyum melihat Sakura yang terlihat begitu cemas. "Tidak apa-apa. Dia memang belum siuman, tapi pingsannya sudah berubah jadi tidur."
"Oh."
Sunyi. Mereka berjalan terus ke belakang daerah desa. Tenda darurat itu terletak jauh di belakang, di dekat hutan. "Sasuke tadi bertemu dengan lawan yang sangat kuat," terang Itachi tiba-tiba, membuat perhatian Sakura tersita. "Dan itu ada hubungannya dengan masa kecilnya. Ia seharusnya bisa menahannya, namun karena itu berkaitan dengan masa lalunya ia jadi tidak bisa."
Sakura menatap mata hitam Itachi lama. "Mengapa anda mengatakan itu padaku?" tanyanya.
Itachi tersenyum tipis, sekejap wajah pria itu mengingatkan Sakura pada wajah milik Sasuke. Ya, mereka memang benar-benar kakak-beradik. Masing-masing memiliki sifatnya sendiri, namun ada aura yang membuat mereka mirip. "Sakura-hime, aku yakin anda sekarang bisa membantu Sasuke," katanya lambat dan jelas. "Dia tak bisa dekat dengan orang tua angkatnya—hanya aku yang sering menjadi teman bicaranya. Terlebih," pria itu menarik napas lagi, "hal ini ada hubungannya dengan trauma masa kecilnya. Kuharap anda bisa membesarkan hatinya, memberikan kepercayaan pada anak itu..."
Gadis bermata hijau itu tak menjawab apa-apa. Seakan terkesima mendengar pernyataan Itachi, ia hanya diam sambil terus memperhatikan.
"Anda pasti bisa melakukan sesuatu pada si bodoh itu." Lelaki itu menyingkirkan beberapa ranting hangus dari jalan yang akan dilewati Sakura, karena sedari tadi ia melihat beberapa ranting kayu menggores kimono yang dikenakan tuan puterinya itu. "Aku tak pernah bisa bersamanya karena sibuk dengan pekerjaanku... karena itu aku membutuhkan bantuan orang lain agar dia bisa terbebas dari masa lalunya."
Mata bening Sakura menerawang menyusuri hutan. "Masa lalu... maksud anda saat kasus beberapa tahun lalu?" tanyanya. "Dan apa hubungannya kasus itu dengan kondisi Sasuke sekarang? Apakah itu... trauma?"
"Hampir benar," ujar Itachi, "tepatnya, lawan yang tadi dia hadapi adalah orang yang dulu membantai keluarga kami."
"Sepertinya kau tidak kurang sesuatu apapun."
Sai menoleh dan melihat Ino yang sedang berdiri di belakangnya. Pria itu sedang ada di pinggir sungai kecil untuk mengambil air; dan ia langsung berdiri setelah melihat gadis pirang itu. Sai tersenyum. "Lagakmu seperti baru bertemu lagi denganku setelah sekian tahun."
Ino merengut. "Dasar, kau ini memang gemar meledek," katanya sambil meninju pelan bahu Sai, "tapi kalau begitu, berarti kau baik-baik saja."
Pria berkulit pucat itu menyeringai. "Oh? Wah, aku senang nona cantik ini mau mengkhawatirkan aku." Ia tersenyum menggoda gadis pirang yang langsung memalingkan muka itu. "Kau mencari Shikamaru? Dia baru saja tiba."
"Tidak usah," kata Ino sambil menggelengkan kepalanya.
"Lho, mengapa? Kukira kau akan senang melihatnya. Dia juga sama sekali tak terluka, meskipun bajunya banyak cipratan darah karena membunuh banyak orang—" pria itu tertawa kecil, membuat Ino berjengit tentang kemungkinan kelainan psikologis Sai karena ia tertawa saat membicarakan pembunuhan. Namun sepertinya Sai menyadarinya. "Oh. Maaf."
Giliran tawa Ino yang berderai-derai. Sampai mengeluarkan air mata. Dan beberapa menit kemudian, begitu gadis itu dapat menghentikan tawanya—ia mencoba bicara di antara tawa yang masih tersisa. "Kau ini benar-benar suka bercanda. Mengherankan, padahal kau punya wajah tanpa ekspresi seperti itu..."
"Oh, ya?" Sai memalingkan kepala, membetulkan seragamnya yang agak koyak. "Aku cuma bicara biasa, kok."
Ino tersenyum manis, rambutnya yang pirang berkilap ditimpa sinar matahari pagi beterbangan tertiup angin. "Sudahlah, jangan menyangkal. Biarkan aku mengobrol hari ini—dan mungkin aku tak akan begitu sedih hari ini."
"Sedih?" Sai mengerutkan kening, "Karena?"
Ino hanya kembali tersenyum.
Tak sedikit pun ia berniat bercerita bahwa tadi ia baru saja melihat kedatangan Shikamaru di gerbang dan langsung pergi ke sini begitu melihat pria itu bersama dengan Temari. Entah, ada sesuatu yang mengatakan bahwa Sai pasti akan tahu itu.
Meskipun kau susah payah membuat prasangka bahwa mereka hanya rekan kerja, namun menerima kenyataan bahwa pria yang kau sukai terlihat begitu memerhatikan wanita lain—dan ia nyaris menganggapmu angin lalu—sungguh merupakan kenyataan yang menyakitkan.
"Ayolah, Sai! Buat aku tertawa lagi, dong!"
"Tertawa apanya? Aku bukan pelawak!"
Uchiha Sasuke telah sepenuhnya terjaga beberapa menit yang lalu. "...di mana ini?" katanya pelan, lalu berjengit melihat Naruto ada di sebelahnya, "dan ngapain kau di sini?"
"Hei, brengsek, sudah bangun? Lama sekali. Dan mengingat tadi itu kata-kata pertamamu, sungguh menyedihkan aku yang berbaik hati menungguimu dicela begitu. Kau sudah diobati oleh Tsunade-baachan, tadi Gaara yang membawamu, kau tahu tidak?" Naruto langsung memberondong Sasuke dengan banyak pertanyaan, membuat Sasuke mendengus.
"Jangan terlalu banyak bicara, kepalaku pusing. Dan sekarang: jelaskan. Pelan. Pelan." Sasuke menarik napas dan mengatakannya dengan intonasi lambat dan jelas. Naruto nyengir kuda.
"Hehehe, maaf," katanya sambil menggaruk-garuk kepala, "aku senang kau sudah siuman. Tadi kau dibawa oleh Gaara. Kalau tidak dibawa, kau pasti sudah sekarat karena diapa-apakan oleh lawanmu di pertarungan. Oh, dan anak kecil itu baik-baik saja, ia ada bersama Gaara sekarang."
Sasuke memalingkan wajahnya. Ia mendengus pelan. Ia membenci dirinya sendiri. Bagaimana mungkin? Ia diselamatkan oleh Gaara. Dan Gaara juga menyelamatkan nyawa anak kecil itu. Ia jadi merasa seperti orang bodoh. Ya, dasar orang bodoh! Padahal tadi ialah yang berniat menyelamatkan anak kecil itu. Bersikap sok ksatria. Dan malahan dia yang dipukul jatuh.
Pria itu berguling lagi, memikirkan apa saja yang sudah ia lakukan lagi. Napasnya terasa agak sesak, tangannya menelusuri bagian perutnya dan menemukan perban. Sakit. Ia bahkan tadi tak melakukan apa-apa. Gaara yang menolongnya.
Menolongnya.
Perlu diulang sekali lagi? Tidak, tidak perlu. Ia sudah cukup sakit hati. Ini lebih parah daripada diejek oleh Naruto. Mengingat kejadian sebelum ia pingsan membuatnya ingin ditelan bumi; saat ia melawan Gaara dan menyerangnya dengan kekuatan pas-pasan—tak berpikir panjang.
"...Lemah."
"Eh?" Naruto memiringkan kepalanya, mencoba mencerna apa yang baru saja dikatakan Sasuke.
"Kubilang, aku lemah."
Naruto merasa mulutnya menganga. LuarBiasaLuarBiasaLuarBiasaLUARBiasa... Sasuke bilang apa tadi? Ia bilang bahwa dia lemah? Yeaaaay, ini berarti dia—Naruto-lah yang menang atas pertarungan tak jelas ini! Naruto hampir saja membuka mulut dan tertawa terbahak serta mengatakan ia akan mentraktir Sasuke makan di Ichiraku setelah ini kalau saja ia tak mendengar kalimat Sasuke selanjutnya.
"Aku bahkan tak bisa melakukan apa-apa tadi. Aku payah sekali," desis Sasuke. Ia semakin kesal saat memikirkan bahwa Gaara-lah yang tadi menyelamatkannya. Perlawanannya yang begitu bodoh pada Gaara... semua itu membuat kepalanya semakin sakit.
"Seharusnya tadi aku mati saja." Sasuke bergumam, entah pada dirinya sendiri—entah pada Naruto yang mendengarnya. Naruto mengejapkan mata.
Lemah.
Lemah.
Lemah!
"Oi, Teme?" sayup-sayup ia mendengar suara Naruto, memastikan dia masih mendengarkan. "Kau tampak gelisah, tenanglah... Sakura-chan sudah tiba, dia akan segera menengokmu." Pria bermata biru itu mencoba menghibur, namun yang terjadi malah kebalikannya.
Sasuke memejamkan mata. Lebih parah. Ia tak ingin dilihat oleh Sakura dalam keadaan begini. Ia tak mau bertemu gadis itu dalam keadaan terluka, setelah melakukan tindakan bodoh dan tak menghasilkan apa-apa. "Aku tak ingin bertemu dengannya saat ini. Keluar dan biarkan aku sendiri."
"Hei, tunggu... Sasuke, kau kenapa? Jangan segalau itu, ayolah," bujuk Naruto, namun Sasuke sudah bangkit dari tempatnya berbaring dan melemparkan bantalnya ke arah Naruto. "Hei!" teriak Naruto sambil mengelak, "apa-apaan, sih!"
"KELUAR!" teriak Sasuke sekuat tenaga, "DAN AKU TAK INGIN BERTEMU DENGAN SAKURA, BODOH!" bagaimana mungkin si bodoh ini malah berpikir dia harus menemui Sakura? Tidak, itu malah akan membuatnya makin jatuh!
"Tunggu, tunggu, tunggu—" Naruto kembali menghindar dari lemparan gelas (yang langsung tewas tak berdaya di atas lantai terpal) "bukannya kau ingin bertemu Sakura-chan? Dia sangat khawatir padamu, pasti—dia akan lega kalau melihat bahwa kau baik-baik saja..." Naruto mencoba membujuk Sasuke sekali lagi.
Apa, lega? Karena baik-baik saja? Ya, tapi dengan bantuan orang lain. Dan orang itu Gaara pula... memalukan!
"AKU TAK INGIN BERTEMU DENGAN SAKURA SEKARANG!" suara Sasuke menggelegar, "KATAKAN ITU PADANYA!"
Naruto mundur selangkah. Bersamaan dengan dengan itu terpal yang menjadi pintu tenda terbuka lebar, memperlihatkan sosok gadis berambut merah jambu yang didampingi Itachi—tangan Itachi memegang dua buah bantal: satu yang dilempar Naruto tadi (diambil saat hendak masuk), satu yang dilempar Sasuke. Mereka berempat terdiam. Sunyi. Naruto memandang Sakura dan Itachi dengan perasaan bersalah.
"Sepertinya aku tak usah mengatakannya, dia sudah mendengarnya sendiri." Hanya itu yang dapat dikatakan Naruto, dan ia langsung berjingkat pergi.
Sakura menatap nanar, lalu membungkukkan tubuhnya cepat-cepat. "Maaf mengganggu, sampai nanti."
Dan dengan kata-kata itu, Sakura tergesa keluar dari tempat itu. Sasuke tak berkata apa-apa. Ia berbalik dan tak menoleh lagi ke arah mereka. Sekalipun ia tadi melihat wajah Sakura sekilas. Dan ia tahu wajah Sakura saat itu benar-benar memucat.
Mata gadis itu sembab.
Hei, sekarang kau merasa sedikit bersalah, tidak?
Sasuke?
Hei, Sasuke?
To Be Continued
Terima kasih sudah membaca.
Blackpapillon
