Disclaimer: I am not, in any way, take any profit from the story and that all creative rights to the characters belong to their original creator(s). Naruto © Masashi Kishimoto.


Jejak Bulan di Atas Air

blackpapillon


Side Story: Sehabis Hujan

.

.

"Sakura-chan, lihat, lihat! Ayo Kemari!"

Suara riang anak kecil membelah birunya langit luas, berpadu dengan harum tanah basah setelah semalaman tersiram hujan. Anak itu menanggalkan sepatunya dan dengan segera membiarkan kaki telanjangnya melompat-lompat di atas rumput lembab. Air yang seperti serpihan-serphan kristal beterbangan di sekitarnya, membuat wajah anak lelaki itu makin cerah. "Ayo!"

Ino yang berdiri di pinggir lapangan itu mulai mengomel. "Mana bisa, Naruto. Bisa-bisa Sakura-chan dimarahi yang mulia kalau ketahuan bermain-main di tanah becek seperti ini!" teriaknya dari jarak beberapa meter, melompat mundur saat percikan air mengenai iromuji-nya.

Sakura yang ada di sebelahnya cuma tersenyum kecil sambil mengangkat bahu. Begitu pula Hinata.

Naruto nyengir. Beberapa saat kemudian ia berhenti melompat dan berdiri di hadapan tiga gadis cilik itu. Sakura di tengah; tampak kerepotan dengan junihitoe yang dipakainya. Ia diapit Ino yang masih berkacak pinggang, dan di sisi satunya ada Hinata dengan kepala yang agak menunduk.

"Aaaaaah, payah! Ternyata, seorang puteri juga tidak ada apa-apanya, ya, heeeeemmmm?" goda Naruto sambil mendekat ke arah Sakura. Sakura merengut kesal.

"Aku bisa!" terdengar nada protes dari Sakura, yang langsung membuka tiga lapis pertama dari kimononya, melepas tabi dan geta. Beberapa saat kemudian ia telah mengikuti Naruto—berlari ke lapangan rumput basah itu dengan bertelanjang kaki.

Hinata dan Ino tak bisa berkata apa-apa, mereka hanya membelalakkan mata sambil memberi tanda dengan menggoyang-goyangkan kedua tangannya. Namun Sakura menggeleng.

"Tak apa-apa!" teriaknya saat Ino dan Hinata memintanya kembali. "Ini 'kan masih pagi."

"Tapi, bagaimana kalau Ibu Dayang lewat? Ini 'kan jalur yang biasa dilewati kalau mereka mau menjemur pakaian...!" teriak Ino dari pinggir, masih berusaha mencegah, "nanti kami juga dimarahi! Hinata, lakukan sesuatu!" Ino menoleh cepat ke arah Hinata, namun sepertinya ia juga tak bisa berbuat apa-apa.

Hinata hanya tersenyum. Dalam hati, ia tak setuju kalau Naruto harus menghentikan permainannya, namun ia juga tak mau dimarahi. Ia menyukai Naruto yang berlari lepas, melompat dengan bebas. Ia sama sekali tak takut dimarahi meskipun setahunya Naruto selalu tertangkap dan dimarahi para dayang. Sudah setahun sejak Naruto datang ke istana ini, dan rasanya sejak itu keadaan istana selalu ramai.

"Sudahlah, kalau dimarahi ya dimarahi saja!" teriak Naruto dari seberang, dan bersiap mengejar Sakura yang langsung lari kabur. Kaki-kaki telanjang bergerak cepat menginjak rumput basah yang licin. Hanya butuh waktu beberapa menit sampai tangan mungil Naruto berhasil menggapai ujung kimono Sakura, yang biarpun sudah dibuka beberapa lapis masih membuat gadis itu kerepotan. Tarikan kecil dari Naruto segera menggoyahkan keseimbangan Sakura dan membuatnya—

"WAAAAAA!"

gedebuk, tergelincir.

"Tuh, 'kan, apa kubilang!" keluh Ino dengan nada sok tua, lalu ikut melepas geta dan ikut bergabung bersama mereka. "Sakura, kau tidak apa-apa?" Ino menoleh ke arah Naruto dengan tatapan kejam, "kau ini apa-apaan, sih!"

Naruto menoleh ke arah lain, seolah-olah tak memerhatikan Ino yang sedang bicara. Bibirnya berkerut. "Kau tak bilang apa-apa, kok!" protesnya.

Mata Ino berkilat mendengar ucapan Naruto—pokoknya, dia tak mau kalah. "Sudah diam, lebih baik hentikan permainan konyol ini dan..."

BRUK! Sebelum Ino menyelesaikan kalimatnya, sepasang tangan mungil menariknya hingga membentur tanah. "Aduh!" teriaknya kesakitan, dan matanya membelalak saat melihat Sakura, mata hijaunya bercahaya nakal.

"Ino-chan kena!"

Darah Ino mendidih sekaligus ingin tertawa di saat yang bersamaan. Dari sudut matanya ia melihat Hinata yang sedang sekuat tenaga menahan tawa. Ino serta-merta bangkit dan mengejar Sakura dan Naruto yang sudah kabur sambil tertawa-tawa.

"Awas, kaliaaaaaaaaaaaan!"

Detik berikutnya, ancaman pun terlupakan. Tiga anak kecil saling berkejaran di atas rumput lembab. Licin, terpeleset, jatuh, lalu bangkit lagi. Hanya Hinata yang berdiri di sisi, menatap mereka dengan harap-harap cemas, sesekali melihat ke area kerja para dayang yang tak jauh dari situ.

Mata kelabunya yang indah berpaling lagi ke arah teman-temannya. Lebih spesifik, ke arah satu-satunya bocah lelaki seusianya yang berlari riang sembari memamerkan gigi depannya yang tanggal satu—baru minggu kemarin. Namun tak masalah. Bibir Hinata mengulum senyum saat Naruto melompat tinggi dan segera terjatuh karena kehilangan keseimbangan. Sakura- Ino, dan Naruto beberapa kali melambai mengajaknya ikut, namun ia menggeleng. Harus ada yang berjaga, katanya, dan gadis itu kembali berdiri saja mengamati.

Hinata sudah senang hanya melihat saja. Tapi ini rahasia, ya. Ada sosok yang diam-diam diperhatikannya lebih daripada kedua sahabatnya yang lain. Tentu tak perlu sulit untuk melihatnya, karena keberadaan Naruto sendiri sudah menonjol. Baru setahun tinggal di istana dan sudah membuat onar entah berapa ratus kali di istana.

Namun ia senang memerhatikan anak itu. Bahwa Naruto memiliki kekuatan yang tidak ia miliki. Naruto pemberani, setia kawan, dan terus terang. Hinata kagum padanya, menyukai cara Naruto mengelak dari hukuman dayang pengasuh dan keberaniannya—bahkan untuk mencuri ramen dari dapur istana. Sesuatu yang tak bisa ia lakukan.

Ah, bahkan hanya untuk ikut bermain di sini...

"Hinata-chan!"

Hinata mendongakkan kepalanya, terkejut mendengar suara yang memanggilnya. Ia melihat Naruto—tersenyum lebar, dengan cengirannya yang biasa, beberapa inci di hadapannya. Wajah Hinata seketika memerah, menyadari sedari tadi anak itu telah ada di dekatnya.

"...Y-ya? Ada apa, Naruto-kun?" tanyanya dengan suara terbata.

Naruto nyengir. "Jangan hanya diam saja di pinggir, dong," ajaknya sambil mengejapkan mata jenaka, "ayo, ikut main!"

Hinata diam, lalu menggeleng halus. "Tidak, tidak... biar aku saja yang berjaga di sini, Naruto-kun. Jadi aku bisa melihat kalau ada dayang senior yang datang..."

Ekspresi Naruto berubah masam. Namun beberapa saat kemudian ia tersenyum lagi. Naruto berjingkat, lalu mengambil sesuatu yang ada di dekat kakinya. Sebuah rumpun tanaman liar. Didekatkannya ke wajah Hinata.

"Lihat, Hinata. Lihat," katanya sambil menyentuh rumput liar itu. Hinata mengejapkan mata saat melihat rumput itu perlahan menutup. Ia mendongakkan kepala. Ditatapnya Naruto yang kembali tersenyum lebar. "lucu, 'kan? Tanaman ini namanya Puteri Malu," jelasnya.

Hinata menatap Naruto tak mengerti. "Pu-puteri Malu..."

"Mirip seperti Hinata-chan."

Hinata menunduk lagi. "Begitu...?"

"Ahahaha, tak apa-apa, Hinata-chan!" Naruto tertawa lebar saat melihat wajah Hinata yang berubah. "Setiap orang memiliki sifat sendiri-sendiri. Tak usah dipaksakan, bukan? Namun aku ingin hari ini kau juga ikut bermain bersama kami," jelasnya, "rasanya tak enak kalau membiarkanmu mengawasi saja. Ayo, Hinata-chan! Sekali ini saja, ikut, ya?" tanyanya merayu.

'Tidak, Naruto-kun. Aku..."

"A-yo!" Naruto merajuk lagi. "Tak apa-apa! Ayo main!" katanya sambil menarik tangan Hinata ke arah lapangan. Naruto mengedipkan mata. "Kalau ada yang memarahi, kita kabur kagi saja, yuk!"

Hinata tersenyum melihat ekspresi Naruto, lalu mengangguk gembira. Ia mengambil langkah, melepaskan geta-nya, dan berlari mengikuti teman-temannya. Kakinya bergerak cepat, terkena rumput yang seperti menggelitiki kakinya. Rasanya bebas sekali. Udara pagi begitu segar. Matahari bersinar cerah, menghangatkan pagi anak-anak itu.

.

.

Sekali-sekali tidak apa, 'kan?


fin


Terima kasih sudah membaca.

Blackpapillon