Kuroko no Basuke Fanfiction

Drabble - 21

Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi

Rating : T

Warning : AU/Teiko Setting/OC

Pair : AkaKuro

A/N : fic kali ini khusus untuk blackhetalia yang udah req di chapie sebelumnya. Gomen baru bisa buat sekarang m(_ _)m dan.. semoga aja apa yang di req sesuai keinginan ya :D author agak" canggung kalau harus gunain OC soalnya.. hehe

Untuk reader-tachi, karena bulan febuari nanti author akan semi-hiatus, jadi author ga bakal bisa apdet fic sering-sering TwT
tapi sebiasa mungkin author bakal apdet kalau author lagi ga sibuk kok :D

Thank You for all review, fav, alert, follow, and all silent readers, Thank you for all support and all PM.. I'm happy that you all enjoy this story :3
Arigatou ~ Author will be waiting for your review ;))

Happy Reading, all..

With Love,

Zelvaren Yuvrezla a.k.a ren-chanz


Pada sebuah siang yang agak sore di ruang Gymnasium di Teiko saat itu, suasana yang agak mencekam terpancar dari ruangan yang dihuni oleh murid-murid yang menjabat diri sebagai First String. Pandangan mata Heterochrome kini menatap tajam iris Baby Blue, sebegitu juga sebaliknya. Sisa anggota Kiseki kini berkeringat dingin, mereka adalah saksi dari kejadian yang terjadi di ruangan tersebut pada sore hari itu.

"Sudah kubilang, Akashi-kun tidak berhak mengaturku terus seperti itu. Karena Akashi-kun selalu bilang perkataanmu itu absolute, tidak semuanya harus kupatuhi 'kan!"

"Tetsuya," Nadanya terdengar begitu berat, seakan menintimdasi. Bila anggota Kiseki lainnya yang berhadapan dengan posisi yang sama dengan Phantom Sixth Man ini, pasti mereka sudah mati saat itu juga. "Aku mengatakan hal ini sesuai dengan kemampuanmu, bila kau terus memaksakan diri kau bisa pingsan disini!"

"Aku tidak peduli. Akashi-kun tidak usah memerintahkanku seperti itu, aku tahu bagaimana kondisi tubuhku sendiri." Balas pemuda bersurai Icy Blue tersebut dengan pandangan yang serius.

"T..Tetsu.. lebih baik kau menuruti apa kata Akashi, kau juga Akashi, jangan bertengkar disaat seperti ini." Aomine Daiki, Ace dari Teiko saat itu akhirnya memberanikan diri untuk ikut berbicara.

"Aomine-kun diam saja!/Diam kau, Daiki." Ucap mereka bersamaan, spontan melihat kearah Aomine dengan tatapan yang garang. Membuat Pemuda bersurai Navy itu bungkam seribu bahasa.

"Jangan dipikirkan, Aominecchi. Sepasang kekasih yang sedang terbakar api cemburu itu sangat berbahaya-ssu." Bisik Kise pada Aomine.

"Kau tahu mengapa mereka bertengkar seperti ini-nodayo? Tidak mungkin hanya karena porsi latihan mereka jadi seribut ini." Midorima kini ikut bergabung dengan Aomine dan Kise.

"Kulihat beberapa kali Kuro-chin dan Aka-chin selalu bersama kouhai mereka~" Murasakibara kini ikut bergabung dengan maibo yang berada di mulutnya.

"Ah, mereka menjadi mentor saat penerimaan murid baru, kan?" Timpal Aomine.

Midorima mengangguk, ia membetulkan posisi kacamatanya. "Fuwa Reika dan Yukihime Miyu. Kalau tidak salah mereka ada di kelas 1-1 dan 1-3."

"Tetsuya, pergi ke Locker Room. Sekarang!" Suara itu kembali bergema, suara Akashi Seijuurou dengan nada mencekamnya.

Kuroko Tetsuya memandang Akashi dengan muka yang agak kesal, tanpa berkata apapun ia pergi meninggalkan ruangan Gym tersebut.

"Sampai kapan kalian mau bergosip seperti itu, hm? Daiki, Ryouta, Shintarou, Atsushi, kulipatkan latihan kalian 10x, sampai ada yang berani pulang sebelum latihan kalian selesai, kalian tahu apa yang akan terjadi esok hari." Katanya dengan nada yang dingin. Tak lama ia meninggalkan ruangan Gym tersebut.

Iblis, Akashi Seijuurou memang Iblis yang salah bereinkarnasi menjadi manusia!

Hal ini bermula ketika 6 bulan lalu. Penerimaan murid baru pada sekolah Teiko sedang berlangsung. Sebagai murid yang teladan, Kepala Sekolah meminta Akashi dan Midorima untuk menjadi mentor bagi anak-anak baru. Tetapi karena Midorima tidak bisa karena sakit saat itu, Akashi meminta Kuroko untuk membantunya.

Fuwa Reika adalah siswi yang sangat pendiam, nyaris serupa dengan Kuroko. Shaggy sehabu dengan helaian Hazel dan iris Ungunya terlihat begitu simpel tetapi disisi lain terlihat begitu cantik. Sedangkan Kuroko Tetsuya bertemu dengan Yukihime Miyu, Siswi yang kehilatannya begitu sempurna. Catatan Akademisnya nyaris sempurna, seperti Akashi. Kecuali kondisi tubuhnya yang sakit-sakitan. Surai Raven dengan gaya Bob panjang, iris mata berwarna Merah dan gerak-geriknya bak putri bangsawan itu tentu membuat orang-orang tertarik dengannya.

"Kuroko-senpai," Suara itu terdengar ketika Kuroko pergi menuju lorong, tidak mempedulikan perkataan Akashi untuk menunggunya di Locker Room. Tanpa mengganti pakaiannya, ia mengambil tas dan bergegas pergi.

"Yuki-san. Konnichiwa." Balas Kuroko sambil menundukkan kepalanya.

"Konnichiwa, Kuroko-senpai." Senyum terlihat dirona wajahnya. "Kau sedang terburu-buru? Kulihat rona wajahmu menunjukkan wajah yang kesal. Apa kau habis bertengkar?"

Kuroko terdiam sejenak. "Lebih baik kita berbicara di tempat lain, Yuki-san. Aku tidak mau bertemu Akashi-kun dilorong seperti ini."

Yukihime Miyu mengangguk kecil, mengikuti Kuroko keluar sekolah Teiko. Mereka berhenti disebuah taman yang menjual Ice Cream.

"Jadi, Kuroko-senpai bertengkar dengan Akashi-senpai?" tanyanya sambil menjilat Ice Cream rasa Moccha-nya.

Kuroko mengangguk sambil melahap Ice Cream Vanilla-nya. Ia tahu bila ia pergi ke Maji Burger atau sekitarnya, Akashi pasti akan pergi kesana untuk menyusulnya.

Yukihimime terkekeh kecil. "Tidak masalah bila sepasang kekasih saling bertengkar kok, Kuroko-senpai. Pertengkaran itu bisa membuat kita semakin dekat pasangan kita, atau," Pandangan mata Crimson-nya menatap iris Baby Blue milik Kuroko. "Kuroko-senpai bisa memilihku bila kau sudah merasa tidak cocok dengan Akashi-senpai."

Mata Kuroko melebar. "Apa maksud Yuki-san, Yuki-san.."

"Aku menyukaimu, Kuroko-senpai." Yukihime berkata terus terang. Ia begitu terus terang menyatakan apa yang ada dipikirannya, sama dengan sosok yang amat dikenalnya, sosok Akashi Seijuurou.

Hubungan mereka memang sudah berjalan semenjak tahun lalu. Entah mulai kapan, Akashi menjadi berubah, ia menjadi lebih over protektif, lebih mengekang dan memonopoli diri Kuroko hanya untuk dirinya. Hal itu bersamaan dengan iris matanya yang berubah menjadi Heterochrome bila Kuroko tidak salah mengingatnya.

"Yuki-san, aku senang menerima perasaanmu, tetapi aku tidak bisa memutuskan Akashi-kun begitu saja."

"Aku tahu." Balasnya sambil tersenyum. "Bila Akashi-senpai berbuat macam-macam, aku akan merebutmu dari tangannya!" katanya dengan antusias. "Nah, karena hari sudah sangat sore, aku akan pulang duluan, hati-hati dijalan, Kuroko-senpai, dan ingat perkataanku tadi ya!" katanya sambil melambai-lambaikan tangannya.

Kuroko Tetsuya tersenyum kecil. Untuk sesaat ia menghabiskan Ice Cream-nya sambil membayangkan wajah marah Akashi esok hari. Yah, sekali-kali Akashi memang harus dibegitukan, jawab Kuroko simpel dalam pikirannya.

Ketika Kuroko hendak keluar taman, pandangan matanya melebar. Ia melihat sosok yang ia pikirkan dalam pikirannya kini sedang berjalan bersama seseorang. Fuwa Reika. Kuroko langsung berbalik ke tembok terdekat yang berada disekitarnya. Diam-diam ia melirik dibalik tembok itu lagi. Tidak salah lagi, itu memang Akashi dan Fuwa.

Kesal karena pemandangan yang berada didepannya, Kuroko kini membalikkan arah dan pergi dari tempat tersebut. Ia tidak peduli bila ia harus memutar balik kearah rumahnya, daripada ia bertemu dengan kedua orang yang tidak ingin ia temui saat ini.

Malam harinya, Kuroko akhirnya sampai di rumah, hujan turun pada saat itu dan membuatnya basah kuyup.

"Okaa-san, Tadaima."

"Tetsuya, ya ampun, kau basah kuyup seperti ini, cepatlah mandi, sayang, kau bisa sakit." Balas Ibunya dari arah dapur, ia langsung mengambil tas anaknya. Untung saja tas itu berbahan Waterproof, jadi buku-buku yang didalamnya selamat.

Kuroko mengangguk kecil.

Setelah ia mandi dan makan, rasanya kepalanya begitu pening.

"Sayang, kau demam." Ibunya menatap Kuroko dengan wajah yang khawatir. "Okaa-san akan menyiapkan obat, kau berbaringlah dikamar."

Setelah itu, Kuroko pergi ke kamarnya, ia berbaring di ranjangnya. Namun sebelum itu, ia mengambil Handphone yang berada di tasnya, meletakkannya di samping bantalnya. Tak lama setelah itu, Ibu Kuroko masuk, menyuruhnya meminum obat dan beristirahat.

"Okaa-san," panggil Kuroko sebelum ibunya keluar dari kamarnya.

"Ada apa, sayang?"

"Mengapa..dadaku terasa sakit ketika melihat Akashi-kun bersama wanita lain."

Ibunya tersenyum kecil. Ia memang sudah mengetahu hubungan keduanya. Akashi langsung kerumah Kuroko saat ia menyatakan perasaannya, meminta persetujuan orangtuanya tentang hubungan mereka. Kuroko memang hanya tinggal bersama Nenek dan Ibunya, Ayahnya telah lama meninggal, dan Ibu Kuroko-lah yang menjadi tulang punggung keluarga.

"Itu karena kau cemburu, sayang. Ketika kau menjalin hubungan dengan seseorang, dan ketika orang tersebut tidak bersama denganmu, perasaan itu akan muncul disetiap orang. Karena kau takut kehilangan orang yang kau sayangi, makannya hatimu terasa sakit." Balas ibunya sambil tersenyum. "Nah, sekarang tidurlah, bila esok hari panas-mu belum menurun kau harus berdiam dirumah ya." Ibunya mengecup lembut dahi Kuroko, sebelum ia keluar. "Oyasumi, Tetsuya."

Kuroko berguling dengan malas. Kepalanya memang pening, tetapi rasanya ia tidak ingin tidur saat itu. Diam-diam ia mengambil ponsel yang disembunyikannya di samping bantalnya. Matanya melebar ketika melihat 29 Miss Call dan 16 Message di Ponselnya saat itu.

Pasti Akashi.

Ia mengecek satu-satu, memang Akashi lah yang meneleponnya sebanyak 29 kali itu. Ponselnya memang Kuroko masukan dalam mode "Silent" sehingga tidak satupun panggilannya yang terdengar.

Sekarang Kuroko membuka pesan yang ada di ponselnya. 15 dari Akashi dan ia mengabaikan semuanya. Lalu, 1 dari Kise? Kuroko kini membuka pesan tersebut.

Terkutuklah ia karena membuka pesan tersebut. Kepalanya makin terasa sakit, begitu pula dengan hatinya. Kise mengirimkan gambar Akashi dengan Fuwa, dimana Akashi terlihat sedang memeluknya.

Dibawahnya tertulis ;

-Kurokocchi! Aku tidak percaya bahwa Akashicchi menjalin hubungan dengan Fuwacchi. Ini tidak benar 'kan? Anak-anak dari club lain menyebarkan foto ini-ssu!-

Mata Kuroko menjadi gelap, ia membuang ponselnya ke sebelah bantalnya, tidak membalas pesan tersebut.

Memang seharusnya aku tidak membukanya.

Aku tidak peduli lagi, terserah Akashi-kun mau berbuat apapun juga, aku sudah tidak peduli.

Keesokan harinya, kepala Kuroko makin terasa sakit. Ia terpaksa tidak masuk saat itu dan berdiam di rumah. Neneknya datang ke kamar Kuroko dan menaruh makanan dan obat di meja kamarnya, mengatakan bahwa Kuroko harus banyak beristirahat. Sedangkan ibunya meminta maaf karena ia tidak bisa mengurus Kuroko, ia harus bersiap-siap untuk bekerja.

Hari itu, Kuroko hanya tertidur. Ia tidak memikirkan bagaimana Akashi ataupun teman-temannya saat ini. Yang ia pikirkan hanyalah bagaimana menghilangkan rasa pusing yang terus bersemayam di kepalanya.

Sore harinya, ketika ia terbangun, ia mendengar suara gaduh yang berasal dari kamarnya.

"Ah, Kurokocchi sudah sadar-ssu!"

"Oi, Tetsu. Maaf, kau terbangun karena suara bising makhluk satu ini ya." Tunjuknya pada Kise.

"Apa katamu, Aominecchi!?"

"Kalian ini, bisakah berhenti sebentar saja dari pertengkarang kalian? Kita sedang menengok Kuroko yang sakit-nodayo!"

"Kuro-chin kenapa bisa sakit? Aku bawakan Kue untukmu, tetapi karena Kuro-chin sakit lebih baik aku memakan setengahnya mungkin?" Murasakibara melihat kearah Box kue yang dibawanya.

"Kalau begitu sih, buat apa kau beli untuknya, Murasakibara." Balas Aomine menghela nafas.

"Diam." Satu kata, perkataan absolute dari Sang Captain berhasil membuat suasana di kamar Kuroko menjadi hening.

Kuroko menghela nafas kecil, sudah cukup ia dihujani rasa cemburu, sekarang orang yang menyebabkannya malah berada didepannya.

"Kenapa kalian semua ada disini?" tanya Kuroko tenpa basa-basi.

"Karena kau tidak masuk hari ini, Tetsuya." Balas Akashi sambil memandang iris matanya. "Dan mengapa tidak satupun panggilan maupun pesanku kau balas kemarin?"

"Pulsaku habis." Balas Kuroko dengan malas, tidak mau memikirkan hal yang rumit-rumit saat ini.

Anggota Kiseki kini dilibatkan kembali dengan pancaran aura yang tida enak dari Akashi dan Kuroko. Kise menyikut Aomine pelan, mengisyaratkan bahwa mereka harus pulang sebelum mereka menjadi pelampiasan amukan sang Captain. Midorima pun setuju setelah melihat reaksi Aomine.

"T..Tetsu, Akashi, kita semua pulang dulu deh." Lagi-lagi, Aomine yang ditumbalkan untuk berbicara duluan.

"Cepat sembuh-nodayo."

"Sampai nanti di sekolah-ssu."

"Baiklah, hati-hati semuanya, terimakasih sudah datang berkunjung." Balas Kuroko, tetapi pandangannya kini masih melihat iris Heterochrome didepannya dengan tajam.

"Murasakicchi, ayo pergi-ssu!"

"Ehh~~ tapi kuenya.."

Murasakibara langsung diseret oleh Kise dan Aomine, kemudian ruangan tersebut hanya menyisakan Kuroko dan Akashi berdua.

Muka Kuroko masih memerah akibat panas tubuhnya, kepalanya masih pening.

"Lalu, bagaimana hubunganmu dengan Fuwa-san? Berjalan baik 'kah?"

Akashi mengerutkan dahinya. "Apa yang kau maksud, Tetsuya?"

"Kau, bersama Fuwa Reika saat pulang kemarin, dan juga," Kuroko kini membuka ponselnya, memberikan foto dimana Akashi sedang memeluk Fuwa. "Apa sangkalanmu sekarang, Akashi Seijuurou?"

Akashi terdiam sejenak, sebelum ia menghela nafas kecil.

"Aku mencarimu setelah kau tidak muncul di Locker Room, saat ditangga aku bertubrukan dengan Fuwa, dan aku nyaris membuatnya terjatuh dari tangga, makannya aku menarik tangannya. Tapi yang terlihat malah diriku yang memeluknya, dan aku tidak tahu darimana foto itu terambil. Sebagai ganti membuat mukanya menjadi pucat, aku menawarkannya untuk pulang bersama."

Keduanya terdiam saat itu.

"Sekarang terserah kau, mana yang lebih kau percayai, Tetsuya."

Kuroko menundukkan kepalanya, ia meremas tangannya sebelum melempar bantalnya ke muka Akashi.

"Tetsuya..?" Mata Akashi terbelalak melihat sikap Kuroko yang melemparnya dengan bantal tersebut.

"Selalu saja begini, Akashi-kun selalu saja seperti ini! Aku benci saat Akashi-kun betingkah laku seenaknya, dengan arogannya mengekangku, tapi, tapi.." Kuroko kini menjatuhkan dirinya dalam pelukan Akashi, memukul dada milik Akashi secara perlahan. "Mengapa semakin jauh, semakin aku ingin melupakanmu, kau selalu muncul dan kembali mengikatku!"

Akashi tersenyum kecil, ia mengelus lembut punggung pemuda yang sedang terisak dalam pelukannya.

"Itu karena kau adalah milikku, Tetsuya." Balasnya sambil memegang dagu Kuroko.

Tak lama setelah itu Akasi mendekatkan dirinya untuk mencium bibir lembut pemuda yang tengah sakit tersebut.

"Kau tahu, saat seseorang demam kau bisa tertular bila kau menciumnya." Jawab Kuroko datar dengan wajah memerah.

Akashi tertawa kecil. "Aku tidak peduli, Tetsuya."

- xXx -

"Lalu, Yuki-san menyatakan perasannya padaku, ia mengatakan bahwa ia akan merebutku bila Akashi-kun berani macam-macam denganku." Ucap Kuroko sambil bersandar di kasurnya.

Akashi berduduk sila dibawah meja bundar yang berada tidak jauh dari kasur milik Kuroko, ia meminum Ocha yang telah Nenek Kuroko sediakan.

"Hmnn, sepertinya benar dugaanku, Yukihime memang menyukaimu semenjak ia bertemu denganmu pertama kali, Tetsuya. Begitu juga dengan Fuwa."

Kuroko mengangkat alisnya. "Fuwa-san juga? Kenapa kau tahu, Akashi-kun? Dia tidak berkata apapun tentang perasaannya padamu, 'kan?"

Akashi tertawa kecil.

"Aku tahu pandangan orang yang sedang jatuh cinta, Tetsuya." Balasnya sambil tersenyum kecil.

"Lalu, bagaimana?"

"Bagaimana apa?" balas Akashi pura-pura tidak tahu.

Kuroko memutar matanya dengan malas.

"Bagaimana bila ia menyatakan perasaannya padamu."

Akashi tertawa kecil. "Kau pikir apa yang akan kulakukan, Tetsuya? Menerimanya?"

Kuroko terdiam sejenak. "Habisnya Akashi-kun dan Fuwa-san terlihat begitu cocok."

"Kau juga dengan Yukihime. Sayangnya aku tidak ingin melepaskanmu, Tetsuya." Akashi mendekati Kuroko, mengecup dahinya dengan lembut. "Kau milikku, tidak akan pernah kubiarkan orang lain merebutmu."

"Akashi-kun, kau mengeluarkan aura yang menakutkan." Balas Kuroko sambil menatap Akashi.

"Tentu saja karena Yukihime menggelarkan deklarasi perang terhadapku, Tetsuya. Aku tahu pandangannya setiap kali berjumpa denganku di lorong, seolah berkata 'akan-kurebut-kuroko-senpai. Begitu?"

Kuroko kini tertawa. "Itu hanya Hipotesa-mu saja, Akashi-kun."

"Serius, Tetsuya. Siswi mana yang berani memelototiku sepanjang lorong kelas dan menghujani tatapan tajam selama rapat ketua club, huh?"

Kuroko menghela nafas.

"Kupikir kalian berdua bisa menjadi lawan yang sama-sama tangguh."

"Apapun yang ia lakukan, aku tidak akan membiarkannya merebutmu, Tetsuya."

"Iya, iya~ selamat berjuang, Akashi-kun." Balas Kuroko sambil menarik selimutnya, malas mendengar ocehan kekasihnya dengan ambisi barunya untuk merebut hatinya.

~Owari~