Disclaimer: I am not, in any way, take any profit from the story and that all creative rights to the characters belong to their original creator(s). Naruto © Masashi Kishimoto.


Jejak Bulan di Atas Air

blackpapillon


17. Meretas Jarak

.

.

Wajah Itachi yang tadinya kalem berubah drastis dan sadis dalam waktu singkat.

"Dasar tolol, kau. Dia datang untuk menengokmu, bego. Dasar tidak sopan, mengusir orang itu begitu saja—bahkan dalam kapasitas seorang panglima pun kamu tak punya hak untuk membentaknya seperti itu!"

Itachi tersengal-sengal beberapa menit kemudian, setelah menumpahkan kemarahannya pada adiknya yang ternyata memang super bodoh itu. Aaaah, sudah lama sekali ia tidak marah-marah seperti ini. Dalam hatinya ia juga mungkin menganggap kemarahannya merupakan akumulasi stres.

Sasuke masih diam di pojok tenda. Tak berkata apa-apa, hanya diam terpekur. Mungkin baru sekarang ia memikirkan kata-kata yang tadi diucapkannya. Pada akhirnya otaknya tetap saja tak berfungsi. Sedikit menyesal juga dia sekarang.

Nahnahnah. Sekarang, apa yang harus dia lakukan?

"Aaaaah," Itachi membuyarkan lamunan Sasuke kembali dengan suara lambat, "kalau begitu, kau sama sekali tidak kelihatan ksatria, lho, Sasuke." Ia menoleh ke arah adiknya dan menyeringai dengan tatapan tajam yang langsung membuat Sasuke memalingkan wajah lagi. "Minta maaflah padanya. Bukan suatu tindakan sopan kalau kau membentaknya."

Sasuke masih saja diam.

"Kau selalu begitu. Tampak terlalu memikirkan tentang bermacam-macam hal. Sebetulnya ini hal yang biasa…" Itachi menatap Sasuke yang masih memunggunginya. "Kau khawatir dengan keberadaan Gaara. Betul, tidak?"

Masih tak ada jawaban dari sang Uchiha muda. Namun rahang pria itu mengeras.

Itachi menghela napas. "Silakan berpikir baik-baik," katanya sambil berdiri dari tempat itu, "pikirkanlah dengan kepala dingin. Tak perlu berpikir sulit sepanjang hari, mungkin kau akan menemukan ketenangan dengan mengetahui bahwa ada orang yang memerhatikanmu dengan tulus."

Pria itu beranjak keluar tenda, meninggalkan Sasuke sendirian.

Ayo, bodoh. Berpikirlah…


Sakura berjalan sendirian di antara rimbunan semak perdu. Ada sesuatu yang menusuk jauh. Bukan di tubuhnya. Namun perasaannya. Sakit sekali. Sedih sekali saat mendapatkan penolakan. Padahal Sakura ingin membantunya. Padahal Sakura ingin berkata bahwa dia sangat bersyukur mengetahui Sasuke baik-baik saja. Bahwa… ah, terlalu banyak untuk dikatakan.

Tangannya menyentuh dadanya yang terasa sakit. Sakit sekali, ngilu. Seperti ditusuk-tusuk dengan paku. Ia menelan air ludahnya berkali-kali, tubuhnya agak terhuyung. Matanya juga terasa sakit dan merah karena sejak tadi dia menahan sesuatu yang sepertinya ingin meloncat keluar dari situ.

Sakura berjalan mendekati sungai mungil yang ada di sana. Ia berjongkok, perlahan mengambil sedikit air dengan telapak tangannya, lalu dibasuhnya wajahnya. Ia melakukan hal itu berkali-kali, sampai akhirnya sedikit rambutnya yang menempel di keningnya terbasahi oleh air. Gadis itu menggigit bibir; sakit. Sakit sekali.

Hei, bodoh… kenapa kau harus menangis hanya karena hal ini? Ayolah. Itu hanya hal kecil, hal kecil!

Napas gadis itu tersengal, bulir-bulir air mata jatuh menuruni wajahnya yang sudah basah oleh air. Matanya mulai terasa pedih.

Ia menggigit bibir lagi. Susah payah mencoba menahan air mata yang bukannya berhenti malah makin banyak turun. Ia menenggelamkan kepalanya ke pangkuannya sendiri, suara isakan mulai muncul dari gadis itu.

Ketika ia mengangkat kepala, seseorang muncul dari balik bayangan pepohonan yang hangus. Ia mengenal orang itu…

"Gaara-san?"


Hari sudah agak siang, matahari makin meninggi. Tanpa perlu menunggu lagi mulai banyak kereta milik pemerintah yang muncul di depan gerbang desa, membawa bantuan makanan, pakaian dan obat-obatan. Sebuah kereta paling besar muncul membawa Kaisar dan pengawal-pengawal elitnya; jajaran menteri dan Kakashi serta Maito Guy yang mengawal mereka. Suasana makin ramai. Tsunade menyambut mereka di pintu masuk.

"Selamat datang. Seperti anda lihat, penanganan medis kami sudah hampir selesai. Mohon maaf apabila masih berantakan."

"Ya, ya." Kaisar bergerak capat mendekati para korban yang sudah ditangani, dan ia mendesah lega setelah melihatnya. "Terima kasih banyak, Tsunade. Kau melakukannya dengan baik," ujarnya.

Tsunade tersenyum bangga. "Ini semua berkat bantuan dari seluruh prajurit—meskipun banyak juga warga sipil yang tewas karena kami terlambat."

Kening Kaisar berkerut. "Mengapa?"

Kakashi segera menyela. "Musuh menghalangi gerak pasukan untuk masuk ke dalam sementara mereka membakar desa ini," jelasnya. "Pasukan keKaisaran terus dihalangi dalam perjalanan."

Wajah Kaisar tua itu agak murung. "Begitu… sayang sekali. Lalu bagaimana dengan korban anak-anak? Tentu banyak yang menjadi yatim piatu…"

"Begitulah," tanggap Tsunade, "tambahan lagi ada sebuah panti asuhan di sini. Apa yang akan kita lakukan, Kaisar? Membuat pengungsian di sini tentu saja akan membuat kita kerepotan mengawasi, tambahan lagi daerah ini masih terlalu riskan. Mereka juga pasti mengalami trauma. Kasihan mereka bila dibiarkan terus di sini," kata Tsunade, "namun menempatkan mereka di daerah lain juga sulit. Kita tak memiliki banyak ruang di wilayah lain."

Sang Kaisar tertawa geli. "Untuk apa susah-susah mencari tempat? Tsunade, istana cukup luas untuk menampung mereka semua."

Tsunade membelalakkan mata. "Anda bilang, ISTANA?"

"Betul. Kuharap kau tak salah dengar karena masih muda," ia tertawa terkekeh, menyusuri deretan korban dan mengelus kepala anak-anak terluka yang masih tidur itu penuh kasih. "Aku memberi perintah untuk membawa semua pengungsi ini ke istana. Ada paviliun tak terpakai di belakang, itu bisa dibersihkan. Letaknya dekat dengan mes para prajurit."

Tsunade melongo mendengar kata-kata Kaisar yang tanpa tanggung-tanggung langsung memerintah semudah itu. Namun beberapa detik kemudian ia tersenyum dan menganggukkan kepalanya, memberi persetujuan dengan membungkuk hormat. Sungguh, rasa hormatnya tak berkurang pada pria ini, sekalipun rambutnya sudah banyak yang memutih dan menipis. Tindakan spontannya membuatnya merasa bahwa masih ada banyak orang baik di dunia ini.

"Baik. Akan segera saya koordinasikan."

"Ngomong-ngomong, mana putriku? Tadi dia datang ke sini duluan, 'kan?" ia menoleh pada Kakashi, "Kakashi. Kau tahu di mana dia?"

Kakashi yang baru saja mulai akan membaca buku lagi menoleh, "Ha? Tidak, tidak, Yang Mulia. Mungkin dia sedang berada bersama Uchiha Sasuke sekarang—UPS—maksudku, tadi dia bersama Hyuuga Hinata dan Yamanaka Ino."

"Oh." Kaisar tua itu mengangguk mengerti, lalu melanjutkan lagi peninjauannya tanpa memerhatikan bahwa di belakangnya sodokan Guy tepat mengenai rusuk Kakashi. ("Aduh!"—"Jangan ganggu keindahan masa muda mereka, bodoh!")


"Anda sedang apa, Sakura-hime?" Gaara mendekati gadis itu dengan hati-hati. Ia berjongkok di sebelahnya, menatap mata hijau Sakura yang basah. "Jangan sendirian di tempat ini. Ini sudah masuk hutan."

Sakura mengangguk sambil tersenyum. Aneh sekali. Mendadak nada suara Gaara terdengar akrab di telinganya. Ia menggosok matanya yang basah dengan tangan cepat-cepat. "Ya. Terima kasih, Gaara-san. Kau sendiri? Apa yang sedang kau lakukan?"

Gaara menunjuk sebuah tenda mungil dengan jemarinya yang putih. "aku diminta oleh Tsunade-san untuk merawat anak itu," jelasnya, "anak yang diselamatkan Sasuke."

Mata Sakura melebar. "Sasuke?"

Pria berambut merah di hadapannya tersenyum tipis, "Ya. Anda mau melihatnya? Dia baru saja siuman."


"Yo, Itachi, tak kusangka kau masih hidup." Kakashi melambaikan tangannya ke arah Itachi yang baru saja datang mendekati mereka. "Kau lihat Iruka?"

Wajah Itachi berubah ganjil saat mendengar omongan Kakashi. "Dasar kau. Iruka, Iruka terus," komentarnya cepat, "lebih dari itu, aku mau minta bantuanmu."

"Bantuaaaaaan?" Nada suara Kakashi terkesan dilambat-lambatkan dan terdengar menyebalkan, "Heeeee, seorang Uchiha meminta bantuan padaku, ini menarik. Ada apa?" tanyanya lebih lanjut, sembari menghindar dari tonjokan kesal Itachi.

Beberapa menit kemudian, Itachi sudah menjelaskan duduk masalah yang sebenarnya. Kakashi manggut-manggut mengerti, diikuti dengan decakan Guy ("Gejolak masa muda!") dan beberapa tanggapan pendek. Kakashi tertawa kecil, mengangguk mengerti dan ia akan datang mengunjungi Sasuke setelah ini. Kakashi lalu memberi salam pada Kaisar dan meninggalkan kerumunan itu. Itachi baru saja akan berbalik pergi ketika sebuah suara berat menghentikannya.

"Itachi, apa yang terjadi?"

"…Ah." Itachi berdehem begitu melihat sosok tua itu. Ia membungkukkan tubuhnya memberi salam. "Ayah, lama tidak berjumpa."

Toshizo tersenyum penuh wibawa. "Kudengar, Sasuke luka parah. Dia baik-baik saja?"

"Ya, dia baik-baik saja," jelas Itachi, "hanya saja ada sedikit masalah."

"Masalah?"


"Gaara-niisan…" terdengar suara gadis kecil begitu Sakura memasuki tenda itu. Beberapa orang ada di dalam. Hanya ada tiga pasien di dalamnya, dan semua anak kecil. Sakura melihat anak yang tadi memanggil Gaara. Gaara sudah duduk di sebelah anak itu.

Sakura tersenyum kecil melihat gadis kecil yang langsung tampak gugup itu. Ia segera bersembunyi di balik punggung tegap Gaara. Ia tampak gemetar. Tangannya yang terluka gores mencengkeram ujung pakaian Gaara erat-erat. Gaara yang menyadari hal itu langsung mengusap rambut kecokelatan anak itu lembut.

"Tak apa-apa, dia bukan orang jahat." Gaara menoleh ke arah Sakura yang tampak salah tingkah. "Ah, maaf."

Sakura menatap anak itu, yang berangsur-angsur mulai tampak tenang. Beberapa saat kemudian, cengkeramannya melonggar, lalu gadis itu pun tertidur. Gaara menatap anak itu dengan tatap lega. "Syukurlah, akhirnya dia tidur juga. Saat siuman tadi, dia benar-benar tampak trauma. Hanya saja dia belum bisa bicara banyak…"

"A-anu, siapa anak itu?" tanya Sakura. "Dia juga salah satu korban?"

Gaara mengangguk. "Namanya Asahina Fuyu," jelasnya pada Sakura, "Sasuke-lah yang menyelamatkannya."

Sakura termenung. Cukup lama ia diam. Mendengar nama Sasuke, membuatnya teringat kejadian tadi. "Ah," ia menatap anak itu lagi, yang sedang tertidur dengan damai. "Tapi kau-lah yang membawa mereka kemari, Gaara-san," katanya lirih, "terima kasih banyak."

"Eh… ya, begitulah," kata Gaara agak canggung, "namun tetap saja, yang menemukannya pertama kali adalah Sasuke. Kalau dia tak menemukannya, mungkin anak ini sudah mati. Ibunya dibunuh di depan matanya, dia pasti sangat terluka. Aku sama sekali tak melakukan apa-apa. Hanya keadaan yang membuatku dapat melakukan hal itu."

Sakura tertawa kecil. "Kau ternyata gemar merendah," komentarnya geli. "Tak apa-apa, kok. Aku juga berterima kasih karena Sasuke selamat."

"Apa dia sudah siuman?" tanya Gaara.

"Ya," kata Sakura sambil menganggukkan kepala. "Tapi dia tak mau bertemu denganku."

Gaara menegakkan posisi duduknya dan menatap Sakura dengan pandangan setengah-tak-percaya. "Apa?"

Sakura tersenyum kecut. "Dia mengatakannya jelas-jelas tadi. Entahlah. Padahal sebelumnya Naruto dan Itachi-san ada di sana. Sepertinya dia hanya tak mau bertemu denganku saja…" katanya lesu. "Padahal, kau sangat khawatir mngenai keadaannya. Yah, syukurlah dia baik-baik saja… tapi…"

Gaara menatap gadis yang sekarang sedang tertunduk lesu itu, lalu mengambilkan air minum dan memberikannya pada Sakura. Sakura menggumamkan terima kasih dan mereka berdua kembali terdiam. Gaara tak mencoba mencari topik pembicaraan, karena dia merasa tak ada yang perlu dibicarakan—sepertinya Sakura hanya butuh sedikit ketenangan setelah tadi—ehm—diusir keluar oleh Sasuke.

Sedikitnya, Gaara cukup mengerti apa yang dirasakan Sasuke sekarang. Terlebih karena Sasuke termasuk manusia yang harga dirinya tinggi sehingga membuatnya sedikit angkuh. Kejadian tadi tentu merupakan pukulan hebat baginya. Padahal itu sebenarnya wajar, bukan? Apalagi yang Sasuke temui tadi adalah lawan yang kuat dan orang yang sama dengan pembantai keluarga Uchiha dulu.

"Ano, Gaara-san… apa kau tahu tentang musuh yang dihadapi Sasuke tadi?" tanya Sakura tiba-tiba.

Gaara tersadar dari lamunannya. "Eh, ya?"

"Lawan Sasuke." Sakura mengulang ucapannya.

Gaara menarik napas panjang sebelum mulai bicara. "Orochimaru, ya… saat aku datang ke sana, aku memang tidak melihatnya. Namun kondisi Sasuke memang sudah terlihat berbeda. Luka-luka yang ada di tubuhnya pun sebetulnya dapat dihindarinya dengan mudah… dan kondisinya aneh."

"Aneh?"

"Dia bukannya tak ingin bertemu dengan anda. Malah mungkin yang terjadi adalah hal sebaliknya. Sakura-hime, anda harus segera menemuinya," kata Gaara cepat. "Saat ini dia membutuhkan orang yang dapat diajak bicara. Dan anda adalah salah satunya."

Sakura menatap Gaara tak mengerti. "Apa maksudnya? Jelas-jelas tadi dia mengusirku, Gaara-san…"

"Tidak," potong Gaara, "anda harus bicara padanya. Kalau tidak di sini, mungkin nanti saat sudah ada di istana. Percayalah padaku."

Mereka diam lagi. Sakura masih bingung dengan ucapan Gaara tadi. Bukannya ia tak ingin percaya. Malah, itulah yang ia inginkan. Namun kenyataannya tidak seperti itu, 'kan? Ia takut. Takut kalau ditolak seperti tadi. Sakura memang tahu lawan yang tadi ditemui Sasuke adalah orang yang juga membantai keluarga Sasuke bertahun-tahun lalu, namun ia tak tahu apa-apa lagi selain itu. Hatinya dilanada rasa khawatir bahwa mungkin ia akan mengatakan hal yang salah dan hanya membuat Sasuke makin marah.

Tapi…

"Mengapa kau tahu?"

Sakura mendongakkan kepala, dan melihat wajah Gaara yang melunak. "Tenang saja."


Sasuke tak tidur lagi setelah itu. Beberapa pertugas kesehatan menawarinya makanan, namun ia menolak dan hanya meminta air minum. Di luar masih ramai. Sasuke ingin bangun untuk membantu, tetapi tubuhnya terasa sakit saat ia akan bangkit berdiri sehingga ia membatalkan niatnya. Ia hanya duduk di dalam tenda itu, setengah melamun.

Sakura menangis.

Sial. Apa dia terlalu payah sebagai pria sehingga perempuan pun dia buat menangis? Sepertinya, dalam hal ini, Naruto atau bahkan Sai jauh lebih baik. Sasuke tahu bahwa tadi Sakura datang karena khawatir. Sasuke tahu bahwa Sakura...

Tapi mengapa dia melakukan hal seperti itu? Ah, baru sekarang ia menyadari apa yang telah ia lakukan. Payah. Sungguh, ia payah sekali. Dan yang lebih parah, ia tak tahu bagaimana caranya untuk meminta maaf. Kata maaf sama sekali tak ada di kamusnya sampai beberapa saat yang lalu. Dan sekarang gadis itu menghilang, sama sekali tak datang lagi ke sini. Ke mana dia?

Terdengar suara gemerisik dari bagian luar tenda. Sasuke terkesiap. Beberapa saat kemudian seseorang muncul dari balik pintu. Sasuke agak kecewa saat melihat siapa yang datang. Bukan orang yang ia harapkan ada di sini sekarang.

"Otou-sama..."

Pria tua itu tersenyum mendengar ucapan Sasuke. Sasuke memberi salam canggung. Tampak terlalu formal untuk hubungan antara anak dan ayah. Tanpa diminta, Toshizo duduk di sisi Sasuke tanpa bicara apa-apa. Hanya senyum yang muncul dari wajahnya. Tampaknya dia tak berminat bicara sebelum Sasuke angkat bicara. Sedangkan Sasuke kebingungan mencari topik yang cocok untuk memulai perbincangan.

Antara orangtua dan anak yang jarang bertemu seharusnya banyak yang dapat diceritakan. Namun hal itu tak berlaku bagi Sasuke dan ayah angkatnya. Hubungan mereka formal, sesuai dengan jabatan yang masing-masing mereka pegang di Istana. Hubungan mereka terbatas pada lingkup pekerjaan saja. Bukannya Toshizo tak mau bersikap lebih lembut pada Sasuke. Tepatnya, dia selalu mencoba. Namun pintu Sasuke tampaknya amat sulit dibuka.

Dan kali ini, pria itu bermaksud untuk mencoba membuka pintunya sekali lagi.

"Bagaimana keadaanmu?" tanya Toshizo akhirnya. "Tsunade sepertinya sudah melakukan yang terbaik untuk menanganimu."

"Cukup baik," Sasuke mencoba lagi duduk, namun rasa sakit kembali menyerang sekujur tubuhnya. Karena itu ia kembali berbaring. "...kapan Ayah datang?"

"Baru saja," jawab Toshizo sambil mmbetulkan posisi duduknya. "Beberapa saat setelah kereta kuda Sakura-hime sampai di sini." Toshizo melihat wajah Sasuke berubah saat mendengar nama itu. "Kau sudah bertemu dengannya?"

"Belum."

Toshizo tak berniat mengorek keadaan yang sebenarnya pada Sasuke. Karena itu ia membiarkan saja anaknya itu berbohong. Toshizo menarik napas dalam-dalam. "Semestinya Sakura-hime datang ke sini terlebih dahulu," katanya sambil tersenyum, "tadi pagi aku dimarahi oleh beliau."

Dimarahi? Sepertinya cukup aneh karena sosok ayah angkatnya itu adalah salah satu sosok yang paling disegani oleh Sakura. Ya, dia tahu tu persis. Karena itu, kalau terjadi hal seperti itu, berarti itu hal luar biasa.

"Mengapa?"

"Dia bilang, dia seharusnya diberitahu lebih awal. Begitu tahu dia langsung pergi dengan membawa ransum makanan dan obat-obatan. Oh ya, dia sangat, sangat memerhatikanmu."

"..."

"Kalau dia menemuimu dan tahu kalau kau sudah siuman, dia pasti sangat senang. Oh, kau harus memperlakukan dia dengan baik, ya!"

Sudah terlambat...

Toshizo melihat Sasuke yang diam saja, lalu tersenyum tipis. Ah, dia jadi ingin tahu apa yang sedang dipikirkan oleh putranya. Ekspresi Sasuke begitu sulit ditebak, namun kali ini Toshizo tahu Sasuke sedang berpikir keras. "Sasuke, kalau kau ingin melakukan sesuatu—" bibirnya terkatup lagi, tampak memilih kata-kata. Sasuke tersadar dari lamunannya, dan kini menatap ayahnya dengan perhatian penuh.

"Aku sudah melakukan kesalahan," Sasuke menarik napas. "Sudah terlambat kalau Ayah ingin menyarankan sesuatu."

Toshizo tersenyum mendengarnya. Ah, sepertinya anaknya itu sudah agak lebih dewasa.

"Kalau begitu, minta maaflah."


"Yo."

Lagi-lagi.

Kakashi muncul dengan suara PUF kecil, dan menyeringai di balik topengnya melihat wajah Sasuke yang masam. "Sepertinya kau tidak senang aku ada di sini, eh? Memangnya siapa yang kau harapkan?" ledeknya.

"Diam kau."

"Ooooh, ganasnyaaaa," kata Kakashi lagi, membuat Sasuke berguling ke arah berlawanan. Kakashi terkekeh dan duduk di sebelahnya, namun Sasuke tak juga bergeming. "Sudah baikan?" tanyanya.

"Seperti yang kau lihat." Sasuke melirik Kakashi dari sudut matanya, mengutuk dalam hati mengapa malahan Kakashi yang muncul di sini. Masih lebih baik kedatangan Naruto daripada Kakashi—setidaknya, begitulah anggapannya, karena kalau Kakashi yang datang, pasti pegawai elit kekaisaran itu akan memberondongnya dengan ejekan tanpa henti. Melihat wajah Kakashi yang menyeringai begitu masuk ke dalam sudah cukup menyebalkan baginya, jadi, tolong jangan menambah lagi kekesalannya.

Heh, kau tidak sedang kesal dengan Kakashi atau orang lain. Kau sedang kesal pada dirimu sendiri.

Huh, mungkin kau benar.

Seratus untukku.

Tentu saja kau benar, bodoh. Karena kau juga diriku sendiri.

"Aku sudah hafal dengan sifat burukmu. Kau gemar menumpahkan kemarahan pada orang yang sebetulnya tak bersalah." Kakashi merasakan tatapan kesal dari bawahannya itu dan dia tertawa lagi. "Jangan kesal begitu. Apa yang kukatakan itu benar, bukan?"

"Hmmm."

Kakashi terkekeh melihat ekspresi Sasuke. Ia tak berniat memperpanjang obrolan. Dibiarkannya Sasuke berpikir, sementara ia mengeluarkan buku kumal berwarna jingga dari dalam sakunya dan mulai membaca. Sasuke sesaat tampak aneh, karena biasanya Kakashi senang memberondongnya dengan banyak pertanyaan tak penting—namun kali ini, mantan gurunya itu memilih diam. Saat ayahnya tadi melakukannya, bagi Sasuke itu sudah biasa. Namun saat Kakashi yang melakukannya, dunia terasa terbalik. Ungkapan berlebihan.

"Aku bertemu Orochimaru," kata Sasuke akhirnya, lambat-lambat.

Kakashi tak terkejut mendengarnya. Ia sudah mendengarnya lebih dahulu dari Itachi tadi. "O, ya?" katanya, pura-pura tidak tahu. "Lalu, apa yang kau lakukan? Kau berhasil membuatnya terluka, paling tidak?"

"Tidak." Sasuke mengepalkan tinju di balik kepalan tangannya yang terbalut perban tipis. "Aku… tak dapat melakukan apa-apa. Bahkan menyelamatkan gadis kecil itu… pada akhirnya, Gaara yang menyelamatkannya." pikirannya melayang kembali ke saat anak kecil itu melihat ibunya mati di depan matanya. Mengerikan. Bagi anak kecil, itu pasti sangat mengerikan. Karena dulu ia juga pernah mengalaminya.

"Kau menyelamatkannya pertama," kata Kakashi menghibur. "Kalau kau tidak menyadari kehadirannya, mungkin anak kecil itu juga sudah mati. Berbesar hatilah."

Sasuke menatap Kakashi dengan pandangan heran. "Mengapa kau seakan-akan menghiburku? Tak biasanya kau begini… Kakashi-sensei."

"Oh," Kakashi menyeringai di balik topengnya. "Sudah lama kau tak memanggilku dengan nama itu."

"Bukan itu yang aku tanyakan."

Wajah Kakashi yang tertutup topeng selalu tampak poker face setiap kali orang melihatnya. Betapapun kita mencoba menyelami wajahnya, sulit melihat ekspresi wajahnya yang sebenarnya karena kita hanya dapat melihat sebagian kecil daripada wajahnya. Begitu juga, sikapnya setiap saat selalu sulit ditebak. Sasuke tak pernah bisa menebak apakah dia sedang merasa sedih, senang, atau apa.

"Kau terlalu tertahan pada hasil, Sasuke," Kakashi menepuk pelan bahu Sasuke yang tak terluka, "dan karena itu, kau merasa khawatir akan tanggapan seseorang terhadapmu. Bodoh sekali."

Sasuke tampak agak kesal. "Apanya?"

"Ha, bahkan kau sendiri tak sadar!" katanya dengan lagak seakan-akan ia baru menemukan harta karun—membuat Sasuke semakin kesal sekaligus penasaran. "Sasuke, aku tahu seperti apa masa kecilmu dan aku tahu kau menyimpan dendam pada orang itu…" Ia menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan kalimatnya. Ia berhenti sejenak, melihat ekspresi Sasuke. Tak ada protes.

Pandangan Kakashi melunak. Ia meletakkan tangannya di atas bahu Sasuke, sementara ia melanjutkan bicaranya. "Tapi, bukan karena dendam kau membuat orang lain juga terluka. Apalagi kalau orang itu berarti bagimu."

"Berarti apa?"

"Jangan bodoh. Terserah kalau kau tak mau mengakuinya, kuserahkan jawabannya padamu sendiri." Kakashi bangkit dari duduknya, lalu menepuk-nepuk bagian belakang celananya yang berdebu. "Kurasa aku sudah cukup bicara padamu. Hanya saja... sesekali, kau harus berhenti memikirkan dendam atau kekuatanmu, atau membandingkan kekuatanmu sendiri dengan orang lain. Sesekali kau harus melepaskan itu semua dan melihat sekelilingmu."

"Apa maksudmu? Jangan sok bijak begitu. Kau seperti ayahku saja."

Kakashi terkekeh melihat ekspresi Sasuke yang tampak bodoh sebelum akhirnya keluar dari tempat itu. "Kau tahu sendiri."


To Be Continued


Terima kasih sudah membaca.

Blackpapillon