Kuroko no Basuke Fanfiction

Drabble - 22

Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi

Rating : T

Warning : AU/Failed!Horror/Birthday Drabble

Pair : AkaKuro

A/N : Holla, minna-san~ fic kali ini adalah fic b'day buat Tetsuya xDD *author digampar karena telat* yahh, karena author terkena wabah WB sesaat waktu mau lanjutin drabble-nya, makannya jadi pending deh publishnya. Ditambah fic kali ini agak failed juga sih :'(
Walalu gitu, semoga reader-tachi masih bisa enjoy buat bacanya ya :D
hehee~~ akhir kata, HAPPY BIRTHDAY, TETSUYA XDD

Thank You for all review, fav, alert, follow, and all silent readers, Thank you for all support and all PM.. I'm happy that you all enjoy this story :3
Arigatou ~ Author will be waiting for your review ;))

Happy Reading, all..

With Love,

Zelvaren Yuvrezla a.k.a ren-chanz


To : Kiseki no Sedai

From : Akashi Seijuurou

Subject : Vacation

_Seminggu lagi, kalian semua bersiaplah untuk pergi selama 3 hari 2 malam, kita akan menaiki pesawat. Kutunggu kalian semua jam 5 sore di bandara yang terletak tidak jauh dari rumah Tetsuya. Bila kalian semua telat, kupastikan kalian akan merasakan api neraka._

P.S : Tetsuya, aku akan menjemputmu sebelum pergi ke bandara.


Kise Ryouta, Aomine Daiki, Midorima Shintarou dan Murasaki Atsushi kini berkumpul di depan pintu masuk Bandara. Sesuai permintaan—atau titah, dari sang mantan ketua Teiko pada pesan yang dikirimnya seminggu lalu. Meskipun hujan salju pada musim dingin itu telah terhenti, tetapi hawa dingin pada akhir Januari tetap terasa menusuk kulit pada saat ini.

"Sebenarnya kenapa sih Akashicchi meminta kita semua berkumpul disini-ssu?" tanya pemuda berambut Blonde yang tengah meniup-niupkan tangannya. Ia menggenakan Coat berwarna Putih dengan sepatu boots yang senada. Jeans dan Ascot Hat berwarna serupa dengan kilatan Citrine-nya terpasang rapi di tubuhnya saat ini.

"Sudah diam saja, Kise,"Balas pemuda bersurai Navy sambil menekan tombol 'next' pada mp3player-nya. "Lagipula memang Akashi selalu begitu, 'kan? Seperti kejadian sebelum Winter Cup itu." Tidak seperti Kise yang tampaknya kedinginan, Aomine datang menggunakan sweater panjang berbentuk V-Neck, ia menggunakan celana Jeans dengan warna Biru tua dan sepatu Boots berwarna hitam.

"Tapi, tumben Aka-chin belum datang~ aku sudah menghabiskan 2 bungkus Potato Chip-ku~" Murasakibara kini mengambil bungkusan Pocky dan memakannya. Ia menggunakan Kaos lengan panjang berwarna ungu muda dengan penutup telinga berwarna putih. Black Boogy Pants melekat di kakinya, Boots berwarna putih kini yang dipakainya kini menginjak-injak pelan salju yang berada di trotoar.

"Apa mungkin ia merayakan ulangtahun Kurokocchi duluan? Biasanya 'kan Koibito akan memberikan ucapan pertama dibanding teman-temannya-ssu."

"Tapi tujuan lain kita berlibur itu untuk merayakan Suprise Party untuk Tetsu, mana mungkin Akashi membocorkannya. Akashi sendiri yang meminta kita untuk menyembunyikan pesan kedua dari Tetsu."

"Aku sih asal ada banyak makanan disana pasti ikut~" balas Murasakibara yang tidak ada sangkut pautnya dengan pembicaraan Kise dan Aomine.

"Mereka datang, nanodayo." Midorima kini angkat berbicara ketika ia melihat dari kejauhan Akashi Seijuurou menggandeng tangan Kuroko Tetsuya. Midorima membetulkan letak kacamatanya, ia menggunakan coat berwarna abu, Celana kain berwarna hitam dan boots berwarna hitam.

"Maaf, kalian semua menunggu lama." Kuroko menunduk ketika ia berkumpul bersama dengan semuanya. Syal bermotif kotak-kotak dengan warna putih-biru menghiasi lehernya. Ia menggunakan coat dan boots berwarna hitam, dengan jeans berwarna biru muda.

"Tenang saja, Tetsuya, jam terbang kita masih lama kok." Balas pemuda bersurai Scarlet dengan santai. Syal berwarna hitam-merah melilit dengan rapi di lehernya. Ia menggunakan leather jacket berwarna hitam. Jeans merah tua melekat dikakinya dengan sepatu boots berwarna hazel. "Kalian semua tidak menunggu lama 'kan?"

Melihat aura men-intimidasi yang berasal dari mantan ketuanya, semua langsung mengangguk setuju, tidak ingin mengeluarkan teriakan hati mereka bahwa mereka telah menunggu kurang lebih sejam disana.

"Sebenarnya kita mau kemana, Aka-chin~?" Murasakibara angkat bicara, sambil mengunyah Pocky dengan perlahan.

"Kita akan pergi ke pulau pribadi-ku," jawab Akashi "Nah, bila semua sudah berkumpul, lebih baik kita pergi sekarang."

"Eh? Tapi kita harus menunggu jadwal penerbangan dulu 'kan?" tanya Aomine sambil menatap iris Heterochrome milik Akashi.

"Kita akan pergi memakan pesawat pribadiku juga, bila cuacanya mendukung, kita bisa pergi sekarang juga."

"Whoa.. keluarga Akashicchi itu benar-benar hebat-ssu."

"Aka-chin~ apa di pesawat nanti aku bisa makan?"

"Tentu saja, , karena semua telah berkumpul, bagaimana bila kita pergi sekarang juga?"

Dengan anggukan setuju para anggota Kiseki no Sedai, akhirnya mereka bergegas untuk menaiki pesawat tersebut. Ukurannya memang tidak sebesar dan seluas pesawat pada umumnya, tetapi pesawat tersebut cukup untuk menampung kurang lebih 50 orang didalamnya. Semuanya kini menaiki pesawat tersebut. Namun, sesaat langkah kaki pemuda bersurai Icy Blue itu terhenti.

"Ada apa, Tetsuya?" Tanya pemuda bermanik Heterochrome tersebut, bingung karena langkah kekasihnya terhenti secara tiba-tiba.

Kuroko menggelengkah kepalanya perlahan.

"Tidak apa-apa, Seijuurou-kun. Hanya, aku merasakan sebuah deja-vu." Kuroko sempat terdiam sejenak, kakinya kembali melangkah untuk memasuki pesawat tersebut.

Setibanya mereka semua di dalam pesawat, mereka bebas untuk duduk dimanapun mereka inginkan, maklum, karena ini adalah pesawat pribadi, tentunya mereka tidak usah mempermasalahkan tentang nomor duduk.

Kuroko mengambil tempat duduk yang dekat dengan jendela. Akashi duduk disebelahnya. Aomine berada di depan mereka, Murasakibara dibelakang sisi kanan, disisi kirinya Midorima, sedangkan Kise sendiri di sebrang sisi Akashi dan Kuroko.

"Indahnya.." ceplos Kuroko secara jujur saat melihat pemandangan malam hari dari pesawat, melihat kearah perkotaan yang dilintasinya. Kilatan lampu berwarna putih, kuning dan kebiruan menghiasi tempat tersebut.

"Tetsuya," Akashi berbisik kecil kepadanya. "Apa kau bahagia selama ini bersama denganku?"

DEG

Perahan Kuroko mengalihkan pandangannya dari tepi jendela, ia menatap lekat manik Heterochrome yang masih menatapnya.

"Tentu saja, Seijuurou-kun," senyum Kuroko kini tampak. "Meskipun Seijuurou-kun kadang keras kepala dan selalu memaksakan kehendak untuk mencapai sesuatu, tapi, aku bahagia memilikimu sebagai kekasihku. Selama 3 tahun aku merasakan bagaimana arti itu cinta darimu, dan selama itu juga aku bahagia saat bersama denganmu. Apalagi kau sering membuatku terkejut dengan prilakumu, termasuk saat kau datang dan memberiku kejutan sebelum kita berangkat kesini."

Kuroko tambah bingung ketika Akashi malah menundukkan kepalanya.

Mata Kuroko melebar saat ia menatap wajah Akashi yang tersenyum dengan rapuh.

"Aku mencintaimu, Tetsuya. Selamanya."

Lalu saat itu lampu di pesawat itu padam.

SIINGGG~

"A—Apa yang terjadi-ssu!?" Kise yang kaget langsung berlari untuk mendekati Aomine.

"Aku juga tidak tahu, Kise. Kenapa lampunya tiba-tiba padam sih?" Balas Aomine ketika Kise langsung terjun memeluknya.

Namun, dari lorong belakang tiba-tiba terdengar sebuah suara—tidak, lebih tepatnya sebuah nyanyian.

"Happy Birthday to you~ Happy Birthday to you~"

"Ah! Mungkin ini bagian dari kejutan untuk Kuro-chin~ ayo kita nyanyi juga~" ajak si pemuda bersurai ungu itu.

Segerumulan suara dari arah belakang kini ikut bernyanyi lagu "Happy Birthday" tersebut, ditambah anggota Kiseki yang ikut bernyanyi.

Sebuah troli yang biasanya digunakan untuk membawa makanan dan minuman kini perlahan keluar dari arah dapur. Sebuah Kue dengan beberapa lilin berada di atasnya. Namun, melihat pemandangan itu, semua hanya bisa terdiam.

Troli itu berjalan dengan sendiri menuju lorong.

Troli yang berasal dari arah dapur, tanpa ada seorangpun yang mendorongnya.

"K..Kenapa tidak ada seorangpun yang mendorongnya-ssu.." Kise menalan ludahnya melihat kejadian tersebut.

"K..Kuroko?" Midorima kini melihat kedepan, memastikan Kuroko saat itu. Namun muka Horror saat ini terpasang di wajah Kuroko.

"Tetsu, ada apa!?" Aomine kini melihat kearah Kuroko.

"S—Seijuurou-kun.."

"Kemana, Aka-chin?"

Seketika itu juga, lampu tersebut kembali menyala. Namun, sesuatu yang berbeda tampak pada tempat tersebut.

"K—kenapa tempat ini menjadi sangat dingin-nodayo."

"Tetsu? Ada apa dengan Akashi?"

"Seijuurou-kun..menghilang."

Jawaban anggota ke-6 Kiseki no Sedai itu berhasil membuat semua terdiam.

"Hilang? Apa maksud Kuro-chin dengan 'hilang'?" Murasakibara kini ikut bertanya.

DUAGHHH!

Suara itu terdengar begitu keras. Suara yang berasal dari atas.

"A..Apa yang terjadi-ssu!? Kita harus bertanya pada—" lalu, satu hal yang Kise Ryouta sadari saat itu, satu-satunya pemuda yang baru menyadari keganjilan di tempat tersebut, bahwa tidak ada seorangpun yang berada disana.

"Kemana Onee-san yang tadi mengantarkanku makanan yaaa.." Murasakibara kini ikut menengokkkan kepalanya kearah kiri dan kanan.

"I..Ini aneh-ssu! Kalian juga berpikir begitu 'kan? Kenapa troli itu berjalan sendiri!? Kenapa tiba-tiba ruangan ini menjadi sepi dan dingin seperti ini-ssu!?"

"Kise, tenang!"

Belum sempat Aomine melanjutkan pembicaraannya lagi, troli itu kembali berjalan kedepan, dengan sendiri.

"Happy Birthday to you~ Happy Birthday to you~ Happy Birthday to dear Tetsuya~"

Suara itu berhasil membuat Kuroko membuka matanya lebar.

Sebenarnya apa yang terjadi saat ini. Kemana kah Akashi Seijuurou dan pelayan keluarga Akashi lainnya?

"Lari! Semua lari-ssu!" Kise berteriak histeris saat garpu kini keluar dari tempat tersebut, melayang bersamaan dengan beberapa pisau.

Tanpa mendengar aba-aba apapun lagi, semua langsung berlari menuju lorong depan. Mereka mendobrak ruang penerbangan, tempat dimana seharusnya pilot berada disana.

Kembali, mereka dikejutkan dengan pesawat tanpa pilot didalamnya.

"Apa ini maksudnya, hoi?" Aomine kini memandang teman-temannya dengan tatapan yang tidak percaya. "Kenapa tidak ada yang mengendarai pesawat ini?"

"Pesawat ini.. melakukan penerbangan otomatis dari Autopilot." Balas Midorima.

"Apa!? Jadi kita semua akan mati disini-ssu!?" panik Kise.

DUAGH! DUAGHH!

Suara itu kembali terdegar lagi, kali ini suara itu berasal dari pintu tempat mereka berdiam, pintu masuk yang menghubungkan daerah ruang penerbangan dengan ruangan penumpang.

"A..Aominecchi..aku takut.."

Bohong bila Aomine dan yang lainnya tidak takut pada saat ini. Meskipun mereka diam, tetapi, saat ini semuanya seakan berteriak dalam hati karena ketakutan yang baru saja menerjang diri mereka.

Hingga mata Kuroko kini terarah kesebuah Koran.

Koran hari ini yang tidak sempat dibacanya. Sebuah Headline kini tertulis dengan jelas.

-KECELAKAAN MISTERIUS, PESAWAT PRIBADI KEDIAMAN AKASHI MENGHILANG DITENGAH LAUT-

DEG

"Tidak mungkin.." Kuroko kini menatap lekat-lekat Koran tersebut. "Ini pesawat yang kau naiki 3 hari lalu, 'kan? Seijuurou-kun? Kau bilang kau akan merayakan ulangtahunku hari ini, tadi sore..tadi sore kau menjemputku 'kan?"

Sisa anggota Kiseki kini ikut terbelalak. Mereka memang tidak membaca Koran maupun melihat siaran berita di TV pagi ini. Aomine yang terlalu malas tidak mungkin melihat acara seperti berita. Sedangkan Kise yang mendapat tugas sampai pagi, sesampainya dirumah langsung tidur, lalu jam 3 ia bangun untuk bersiap-siap. Murasakibara sendiri terlalu sibuk sepanjang hari di depan dapurnya. Sedangkan Midorima sibuk mencari Luck Item-nya diluar selama sehari ini.

Tidak ada seorangpun yang mendengar berita ini. Termasuk seorang Kuroko Tetsuya.

Tanpa aba-aba, pesawat tersebut kini menukik tajam, menuju kebawah, kearah laut.

"K-Kita jatuh!"

Suasana di tempat itu semakin kacau. Keributan di daerah pintu, ditambah suara dari atas pesawat tersebut, lalu anggota Kiseki yang tambah panik membuat suasan makin parah.

Hingga, pesawat itu membentur—atau lebih tepatnya menyelam kearah laut..

Dan semua menjadi gelap.

.

.

.

Mata Kuroko terbuka lebar, ia terengah-engah. Nafasnya tidak beraturan. Dengan segera ia melihat pemandangan disekitarnya. Ini kamarnya, kamar miliknya. Dengan segera ia mengambil ponselnya, segera menelepon seseorang dari kontak di ponselnya.

TUTTT~ TUTTT~

Seijuurou-kun..kumohon…

TUTT~~

KLIK

"Tetsuya? Ada apa kau meneleponku selarut ini? Bukankah kau udah bilang akan tidur?"

"Seijuurou-kun.. Syukurlah.. kau..masih hidup 'kan?"

"Kenapa denganmu, Tetsuya? dan, ya, tentu saja aku masih hidup."

"A—Aku bermimpi buruk."

Kuroko kini menceritakan mimpi yang baru saja dialaminya.

Dari seberang sana Akashi kini tertawa kecil.

"Itu hanya mimpi, Tetsuya."

"Tapi—rasanya begitu nyata, Seijuurou-kun."

"Nanti sore, aku akan menjemputmu, kita akan pergi bersama anggota Kiseki lainnya. Kau tidak usah khawatir, Tetsuya."

"Umn.. baiklah kalau begitu. Kita akan bertemu lagi nanti 'kan? Seijuurou-kun."

"Tentu saja. Sekarang, tidur lagi. Kau akan sibuk hari ini."

"Ah, Seijuurou-kun.."

"Ya?"

"Aku mencintaimu."

"Aku juga mencintaimu. Lalu, Otanjoubi wa Omedetou, Kuroko Tetsuya. Karena aku takut membangunkanmu bila aku meneleponmu, jadi sekalian kukatakan saja disini."

Kuroko tersenyum kecil.

"Terimakasih, Seijuurou-kun."

"… Oyasuminasai, Tetsuya."

"Oyasumi."

Lalu, sambungan telepon mereka pun terputus.

Kuroko kembali membenamkan kembali tubuhnya ke atas kasurnya. Saat itu jam menunjukkan pukul 3 pada pagi hari. Tanpa berpikir panjang, Pemuda bersurai Icy Blue tersebut kembali memejamkan matanya.

'Hanya mimpi 'kan?' batinnya dalam hatinya. 'Aku harus cepat tidur, hari ini pasti akan menjadi hari yang melelahkan.'

Namun, seorang Kuroko Tetsuya tidak menyadari sebuah keganjilan yang terjadi saat ia menelepon kekasihnya itu. Sebelum tidur, ia berkata bahwa ia akan berangkat pada pukul 10 malam, dengan jarak penempuhan jam selama 8 jam. Dengan kata lain, Akashi baru menyalakan ponselnya pada jam 6 pagi hari. Bukankah, selama berada di pesawat, alat perangkat elektronik harus dimatikan?

~Owari~