Disclaimer: I am not, in any way, take any profit from the story and that all creative rights to the characters belong to their original creator(s). Naruto © Masashi Kishimoto.


Jejak Bulan di Atas Air

blackpapillon


18. Masih Ada

.

.

"Kau masih saja lesu begitu, Sakura? Ayolah, yang benar saja!" Ino berdiri dengan emosi memuncak—terlihat dari ekspresi wajahnya, dengan Hinata yang mengerling takut-takut di sebelahnya, ujung jemarinya meremas-remas kain kimononya.

Sakura tak berminat meladeni omongan Ino. Gadis itu menarik napas panjang, matanya menatap ikan-ikan koi yang berenang di kolam dari balkonnya. Tatapannya lesu.

Ino menatap sahabatnya itu, pasrah. "Ya sudahlah, kalau kau memang maunya begitu," katanya sembari menggeleng-gelengkan kepala. "Kalian ini benar-benar mengherankan. Lebih baik kalian segera bicara, atau..."

Sakura masih duduk bersimpuh memunggungi Ino. Rambutnya dibiarkan terurai, kepalanya bersandar ke balkon kayu. Matanya masih terpaku pada ikan koi yang berebutan makanan di dalam air, menimbulkan riak-riak kecil. Ino menarik napas panjang. "Sebaiknya kau jangan terus berdiam diri begitu. Kau bukan perempuan lemah, kan? Biasanya kau selalu semangat. Jangan jadi lesu hanya karena itu." Gadis pirang itu melembutkan nada suaranya, lalu berjalan ke arah pintu keluar. "Aku akan membantu persiapan di luar. Berkunjunglah ke sana, bisa-bisa kau dicap sebagai puteri sombong kalau tidak datang berkunjung."

Terdengar derak pintu shoji yang ditutup. Hinata masih ada di dalam ruangan. Mata beningnya menilik keadaan ruangan itu. Rapi. Kelewat rapi, malah. Balkon yang biasanya menjadi tempta favorit Sakura untuk membaca dan meneropong, tampak kosong. Hanya ada Sakura yang sedang duduk di sudut. Padahal, biasanya, di lantai balkon itu bergeletakan buku-buku astronomi dan teleskop kesayangan Sakura.

Sudah lewat dua minggu sejak hari itu. Dan dua minggu sudah Sakura tidak pergi ke lapangan barat lagi, tempat kunjungannya setiap pagi. Pun, sudah dua minggu gadis itu tidak lagi bercengkerama dengan bintang-bintang. Teleskopnya terlipat rapi di pojok ruangan, tinggal menunggu waktu sampai benda itu terselimuti debu—karena jarang dipakai.

Hinata mendekati gadis yang masih separo melamun itu, lalu duduk di sebelahnya. Mata lavendernya perlahan ikut mengamati ikan-ikan yang berenang di bawah. "Sakura-chan, bagaimana kalau kau juga ikut ke tempat renovasi bersama Ino-chan?" tanyanya hati-hati.

"...Nanti saja."

Bibir Hinata hampir-hampir mengerucut. Namun segera ditahannya. Hanya saja, kesabaran pun pasti ada batasnya. Sudah dua minggu Sakura hanya berkegiatan di dalam istana, sesekali datang ke wilayah para dayang. Padahal biasanya ia begitu bersemangat berkegiatan di luar—biarpun kimononya yang dua belas lapis itu sangat berat.

Hinata menarik napas. "Sakura-chan tahu, a-aku juga bukan orang yang pemberani." Gadis itu memilin-milin ujung kimononya, mencoba mencari kata-kata yang tepat. "Aku... aku... se-selalu sulit bicara pada orang... terutama orang yang aku... aku... aku—" wajah gadis itu sudah sangat merah bahkan sebelum ia menyelesaikan kalimatnya.

Sakura tersenyum tipis. "...sukai?"

Hinata menelan ludah dan mengangguk cepat. "Ya... begitu." Ia bergumam sendiri, tidak jelas—lalu melemparkan sedikit makanan ikan yang bungkusannya tergeletak begitu saja di lantai. "...Aku juga kadang menyesali ketidakmampuanku untuk menjawab, apalagi untuk memandang matanya."

Sakura diam. Hinata juga diam. Pandangannya menerawang jauh, tak lagi ke kolam. Tangannya tergantung bebas di balkon. "Tapi, Sakura-chan juga tahu, kan? Saat kita diperhatikan oleh orang yang kita sukai, itu... itu menyenangkan, meskipun cuma sebentar." Jemari lentik Hinata merayapi rambut pendeknya dan menyentuh perlahan hiasan rambutnya. Kulit wajahnya yang putih kembali bersemu merah saat otaknya mengingat kepingan kenangan yang tersimpan di hiasan rambut itu. Namun sesaat kemudian, di wajah cantiknya, terukir seulas senyum. "Sakura-chan, kau juga setuju, 'kan?"

"Eh... ya."

Hinata menoleh dan menatap Sakura lurus-lurus. Ia tersenyum lembut. "Mungkin, maksud Ino-chan agar kau tidak mudah menyerah, Sakura-chan." Gadis itu berkata pelan, namun dengan nada yang tegas. "Sakura-chan adalah orang yang kuat. Sakura-chan akan selalu terus berusaha. Karena itu, mengapa Sakura-chan terlihat putus asa begini?"

Sakura terpaku mendengar kata-kata-kata gadis itu. Sejurus kemudian, ia menarik napas. Sejujurnya, ia agak kaget juga mendengar kata-kata seperti itu meluncur dari seorang Hinata. "Aku tidak putus asa," kata Sakura, mencoba berkilah, "aku hanya malas."

Hinata tersenyum. "Aku... aku juga pernah merasakan apa yang juga Sakura-chan rasakan." Gadis itu berkata lirih. "Mungkin sekarang kau khawatir karena takut menerima penolakan. Karena itu kau tak mau bertemu dengan Sasuke-san, bukan?"

Tatapan Hinata kembali mengarah pada Sakura, yang sekarang tampak menggigit bibirnya, kemudian menganggukkan kepalanya perlahan. "Ini bodoh, Tapi... ya, aku khawatir." Sakura menggigit bibirnya lagi, menenggelamkan kepalanya ke dalam pangkuan. "Meskipun aku juga berpikir, itu mungkin salah paham... tapi..." Sakura berbisik pelan, amat pelan, nada suaranya terdengar bergetar.

Ya, dia bukannya tak mau. Dia bukan malas. Tetapi dia takut. Dia tak ingin merasa sakit lagi. Dia tak ingin ditolak lagi. Terlebih, dia tak ingin diusir lagi oleh pria itu. Padahal mereka sudah cukup dekat. Padahal, Sakura mengira, dia sudah cukup mengetahui apa sisi lain dari seorang Uchiha Sasuke. Padahal, Sakura menyangka, pandangan Sasuke terhadapnya sudah berubah.

Tapi... ternyata tidak. Bahkan, kini gadis itu merasa, di antara mereka berdua, terdapat jurang pemisah yang amat, amat dalam.

"Nah, kau sudah bilang, itu mungkin salah paham," kata Hinata mencoba menyemangati, "sekarang, cobalah buktikan. Ah... iya. Untuk besok malam, kami para dayang juga sudah menyiapkan acara spesial. Para prajurit diundang. Ini acara khusus yang dibuat para dayang untuk meramaikan kedatangan para korban dari Nijigakure nanti."

Sakura kembali diam. Hinata tersenyum lembut, perlahan tangannya terulur dan menggenggam tangan sahabatnya. "Datang, ya?"

...


Selama dua minggu, para prajurit kekaisaran mengadakan proyek besar. Di sisi lain lapangan barat, terdapat bangunan besar memanjang yang sudah kotor dan lapuk. Dulu, bangunan itu digunakan saat keluarga kaisar mengadakan acara kesenian untuk lingkungan dalam istana, namun karena dinilai tidak efisien, praktis bangunan itu pun ditinggalkan. Sejak beberapa tahun lalu, pertunjukan kesenian diadakan di pendopo istana, dan pada hari-hari tertentu, dibuka untuk umum.

Penghancuran Nijigakure kemarin telah memberikan pukulan hebat bagi para warganya. Terlebih karena di sana banyak terdapat anak asuh. Oleh karena itu, kaisar memerintahkan agar bangunan itu direhabilitasi. Setiap hari, para prajurit terlihat bekerja keras membetulkan bangunan itu agar layak dipakai sebagai tempat penampungan para pengungsi, terutama anak-anak yang menjadi yatim piatu. Karena kerja sama yang baik, dalam waktu dua minggu saja bangunan itu sudah hampir selesai dibenarkan.

Sebetulnya, sudah seharusnya Sakura datang dan berkunjung untuk meninjau pekerjaan itu, namun gadis itu menolak dan memilih untuk berkegiatan di dalam istana saja. Terpaksa Kakashi dan Toshizo—ayah angkat Sasuke—yang menggantikan gadis itu meninjau. Ego anak muda, katanya sambil terkekeh.

"...dan dia itu benar-benar payah! Itu yang namanya perempuan lemah. Seharusnya laki-laki itu juga bertanggung jawab! Jangan seenaknya tahu-tahu berkata seperti itu, dong!"

Terdengar suara melengking dari lapangan barat. Siapa itu? Oh, tentu saja dia Ino. Siapa lagi yang akan bicara seberisik itu, kalau bukan dia? Dan sekarang, gadis pirang itu sedang duduk di atas bangku kayu, wajahnya emosi dan bicara dengan nada berapi-api.

Pria di sebelahnya—yang sedang sibuk menggergaji kayu—menoleh.

"Lalu, mengapa aku harus mendengarkan semua itu?"

Ino merengut. "Jangan buat mood-ku jadi tambah jelek, dong, Sai!" semburnya pada pria itu—yang dengan kalemnya kembali menggergaji kayu. "Bukannya menanggapi, malah berkata sinis begitu!"

Sai menatap Ino sinis, lalu sejurus kemudian ekspresi wajahnya kembali ke senyuman-tanpa-dosa yang selalu dipamerkannya. Membuat Ino tambah dongkol saja. "Memang, maksudku kau jangan sinis begitu... tapi, kalau ini 'kan, sama saja!" gadis itu kembali menggerundel.

Terdengar tawa kecil dari pria itu, membuatnya menghentikan pekerjaannya. Ia tersenyum. "Ah... jadi, apa yang tuan puteri inginkan? Tanggapan pendek? Tanggapan panjang? Atau, konseling?" godanya.

Ino merengut lagi, lalu membalikkan tubuhnya memunggungi Sai. Sai hanya tersenyum simpul, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya—kali ini ditambahi siulan kecil. Ino hanya mencibir. Huh, rupanya salah ia bercerita pada Sai.

Eh, lagipula... mengapa ia harus bercerita pada Sai? Sebetulnya yang lain juga bisa. Dibandingkan dengan Sai, akan lebih mudah kalau ia bercerita pada Hinata. Ah, tapi Hinata sedang bicara dengan Sakura. Kalau Tenten? Mana mungkin, Tenten tidak berada di sini. Ia sedang berada di rumahnya.

Lalu... bagaimana dengan Naruto? Kalau dipikir-pikir, ia jauh lebih dekat dengan Naruto daripada Sai, 'kan? Tapi mengapa?

Ino menggelengkan kepalanya cepat-cepat. Ini pasti hanya kekacauan pikiran saja. Eh... pasti ini karena... karena...

Karena apa?

Karena Sai-lah yang menyadari pertama kali, bahwa dia menyukai Shikamaru?

Ino terlonjak kaget saat menyadari mata hitam Sai yang sudah menatapnya sedari tadi. Keningnya berkerut. "Ada apa?"

Gadis itu segera menggeleng. Wajahnya panas. Ada sekilas rona merah di wajahnya, saat ia berusaha menjawab pertanyaan singkat pria itu. "Tidak... tidak apa-apa."

...


"Kukira kau pergi keluar, ternyata kau ada di sini."

Sakura terkesiap dan membalikkan tubuhnya. Saat ia melihat ke belakangnya, ia melihat seorang wanita dengan kimono merah yang menjuntai. Wanita itu tersenyum lembut, pandangan mata hijaunya teduh. Meskipun semburat putih sudah tampak di rambutnya, kecantikannya tetaplah tidak memudar. Wajah yang sangat tidak asing—tapi suatu kejadian yang langka karena orang itu ada dan masuk ke dalam kamarnya. Tanpa pemberitahuan lebih dulu—apalagi tanpa pengawalan dari para dayang.

"Ibu? Mengapa ada di sini?"

Wanita itu tersenyum. "Memangnya tidak boleh?" tanpa diminta, ia mengambil dua gelas dan teko berisi teh dari meja di dekat jendela, lalu membawanya ke balkon. Sakura tak memprotes apapun, hanya memerhatikan ibunya melakukan hal-hal seperti merapikan meja, meletakkan gelas dan teko di atasnya, lalu menuang teh panas—dan meletakkan sekotak kue di piring-piring kecil yang diambilnya dari lemari di atas meja tempat tadi diletakkan teh dan gelas-gelas.

Sakura mengernyitkan kening. "Dari mana kue itu?"

"Kiriman. Dari para dayang—untukmu," kata ibunya kalem, sambil menepuk-nepuk bantal duduk. "Tadi aku berkunjung ke sana, dan mereka memberikan ini sekaligus mendoakanmu supaya kau sehat-sehat saja. Sayang kalau tidak dimakan, bukan? Jadi, ayo kemarilah. Lagipula, sudah lama kita tidak bicara."

Sakura tak berkata apa-apa, tapi dia menurut. Ia bangkit dari tempat duduknya sedari tadi—lagipula, dia sudah agak kesemutan—dan duduk di atas bantal duduk yang sudah disediakan ibunya. Wanita di hadapannya mengangkat gelas dan memutarnya, lalu meminumnya dalam tiga kali teguk. Tetap dengan adat upacara minum teh.

"Hmmm, daifuku yang mereka beli ini enak. Ini pasti dari Daikokuya-shoutengai. Mereka selalu tahu apa yang enak, ya?" Dia tertawa sendiri mendengar komentarnya. "Mengapa kau tidak pergi ke sana, Sakura? Mereka pasti merindukanmu."

Sakura menggeleng. "Tidak, Ibu. Aku... sedang tidak enak badan."

"Tidak enak badan?" ibunya mengangkat alis, "kau cuma tampak lemas saja. Ini bukan masalah kau tidak enak badan, kan?" mata wanita itu menyipit curiga. "Apa ada masalah dengan teman-temanmu? Jangan coba-coba berbohong pada ibu. Walaupun kita jarang bertemu, tapi kau tampak berbeda."

Sakura menundukkan kepala. Ya, memang. Biarpun mereka jarang bertemu—karena masing-masing sibuk dengan kegiatannya—tapi, ternyata insting ibunya masih tajam. "Bukan masalah dengan teman-teman dayang, ibu. Tapi ya... memang ada sedikit masalah."

"Lalu?" ibunya menuang lagi teh ke dalam gelasnya, lalu menghirupnya lama-lama. "Mengapa kau tampak ragu-ragu begitu?"

Sakura menggigit bibir. "Bagaimana kalau ada teman ibu yang marah saat ibu bermaksud baik?"

"Hmmm?" sang permaisuri berhenti menggigit daifuku-nya yang kedua, "maksudmu, berselisih paham?"

"Tidak... aku tidak tahu," kata Sakura lesu. "Karena kelihatannya dia marah sekali waktu itu. Aku takut... dia tak mau menerimaku lagi."

Diam sekejap. Tak ada suara. Masing-masing tampak berpikir. Hanya ada angin yang berhembus masuk ke dalam ruangan, mengiringi sore yang mulai menjelang. Sisa-sisa kelopak Sakura yang masih ada di pohonnya, luruh terbawa angin. Meninggalkan jejak-jejak berwarna merah jambu di udara. Terdengar suara teh yang dihirup.

"Kalau memang kalian berteman baik, pastilah itu hanya sekedar berselisih paham." Ibunya meneguk habis tehnya dan mulai mengisi gelasnya lagi, "karena itu, apabila mencoba bicara sekali lagi, pasti kalian akan dapat saling mengerti. Harus ada salah satu yang mau mengalah."

Perlahan, Sakura mengangkat kepalanya. "Mengapa Ibu bisa yakin seperti itu? Bagaimana kalau dia memang marah pada Ibu?"

Ibunya angkat bahu. "Kalau marah, minta maaf saja. Mudah, kan?" katanya ringan, sambil menggigit kuenya dan mengunyahnya dengan penuh kenikmatan. "Karena apabila kalian memang benar berteman, atau saling percaya—pasti kalian akan dpaat saling bicara kembali. Ah, tentu saja—jangan dengan kepala panas. Karena itu..." wanita itu menghela napas sebentar, lalu menatap gadisnya dan mengedipkan sebelah matanya. "Berjalan-jalanlah dulu sebentar, lalu cobalah bicara kembali dengannya. Pasti semua akan baik-baik saja."

Maaf. Terdengar sederhana bagi gadis itu. Sakura tersenyum mendengar kata-kata ibunya. Padahal yang dikatakan teman-temannya nyaris sama dengan apa yang dikatakan ibunya. Jangan menyerah begitu saja. Tapi, kata-kata ibunya-lah yang paling menggugahnya. "Mengerti, kan?" ibunya menatap anak gadisnya, memastikan anaknya itu mengerti.

Ya. Masih bisa kalau ingin mencoba.

Sakura mengangguk, senyuman manis terukir di wajahnya. "Ya. Aku akan mencoba."

"Bagus!" Ibunya tersenyum senang, "ngomong-ngomong, lelaki mana yang membuatmu sampai sepusing ini?"

Sakura nyaris saja menyemburkan teh yang baru saja diminumnya.

...


Kalau dilihat dari depan, bangunan itu memang masih terlihat kotor. Namun, di belakangnya, para prajurit sudah hampir menyelesaikan tugasnya, merapikan bagian dalam bangunan. Tinggal dirapikan sedikit dan dibersihkan bagian luarnya, maka selesailah sudah. Menurut jadwal, besok adalah hari di mana para penduduk Nijigakure yang desanya dihancurkan akan dipindahkan ke tempat ini. Di dlaam bangunan itu sudah diberi sekat-sekat kayu dan beberapa kamar mandi.

"Aa, Hinata-chan, Hinata-chan!" teriak seseorang dari ujung ruangan. "Sebelah sini, sebelah sini!"

Yang dipanggil tergopoh-gipih membawa nampan berisi teh dan makanan kecil. Setelah membujuk Sakura, memang sudah giliran Hinata untuk membawakan makanan kecil untuk para prajurit yang sedang bekerja. Meskipun tadi Hinata sudah membujuk Sakura sedemikian rupa, tetap saja gadis itu berkeras untuk tetap diam di dalam kamarnya. Hinata memilih untuk tidak memaksa. Ia berjalan cepat-cepat, hampir saja jatuh karena tersandung tumpukan tatami yang belum dipasang—untung saja tidak (terima kasih, Neji-nii-san—"), dan akhirnya dia sampai di sumber suara.

"Hehe, maaf ya, memanggilmu—padahal kau mau mengantarkan itu," pria itu nyengir melihat gadis bermata lavender itu. Peluh mengalir di keningnya. Ikat kepalanya bergantung secara tidak wajar di telinganya, dan tiga kancing depan seragam keprajuritannya terbuka, mengekspos otot dadanya. Satu tangannya memegang serutan kayu—dan di sampingnya, bekas serutan tampak menggunung. "Tapi, aku boleh minta, ya?" tanyanya. Hinata mengangguk, dan tanpa perlu dikomando lagi, Naruto menenggak isinya sampai habis.

...Dan mungkin, adegan tadi tampak kelewat seksi bagi Hinata, karena wajah gadis manis itu langsung memerah bagaikan udang rebus. Sebetulnya, dalam hati ia memarahi dirinya sendiri. Betapa tidak. Tadi ia baru saja menyemangati Sakura, tapi untuk soal dirinya sendiri, dia langsung ciut. Karena itu, sekuat tenaga ia mencoba memulai pembicaraan. "...Ano... kelihatannya kau haus sekali, ya, Na-Naruto-kun?"

"Eh?" Naruto mengangkat kepalanya, dan kembali tersenyum lebar, "Jelas saja! Seharusnya aku protes, mengapa pemimpin pasukan seperti aku harus mengerjakan tugas tukang seperti—"

"Tentu saja." Naruto nyaris terlonjak mendengar suara dingin Neji—yang mendadak muncul di belakangnya. "Aku yang minta pada kaisar untuk membantu. Untuk soal ini, pangkat tak ada hubungannya, tahu!" Pria itu beralih ke arah Hinata. "Ngomong-ngomong, Hinata, kau sendirian saja?" tanyanya.

Hinata mengangguk. "Mmmm... Ino-chan ada di depan. Sedangkan Sakura-chan... tadi aku sudah membujuknya keluar, tapi aku tak tahu dia keluar atau tidak... eh... bagaimana keadaan Sasuke-san? Dia sehat?"

"Ah, dia masih ada di dalam rumah," celetuk Naruto, "enak sekali dia. Dia masih dalam masa pemulihan. Tapi sepertinya, sejak saat itu, dia memang jadi lebih sedikit bicara. Maksudku, memang dia irit bicara, sih... tapi akhir-akhir ini jadi tambah parah saja." Naruto mengehembuskan napas panjang. "Semoga saja mereka segera meluruskan masalah itu. Aku yakin, mereka berdua cuma salah paham. Yah, Sasuke 'kan memang kadang begitu... padahal sepertinya, diam-diam dia menyesal," ujarnya.

Neji mencibir. "Tak biasanya kamu bersikap bijaksana, Naruto?" dan detik berikutnya, dia menghindar dari tonjokan Naruto dengan mudah—ujung-ujungnya, Naruto yang mengomel-ngomel sendiri. Tak dipedulikannya omelan lelaki itu ("Dasar brengsek, picik, culas—"), dan pandangannya kembali pada Hinata. "Ehem—bagaimana... eh... kalau Tenten-sama, bagaimana? Maksudku, dia tidak kemari?"

Bola mata Hinata membulat. "Eh? Tidak, dia tidak kemari. Mungkin dia baru datang saat perayaan besok."

"Oh." Neji menghembuskan napas panjang, mengundang perhatian dari adik sepupunya. Sadar diperhatikan, Neji segera menjauh dari tempat itu.

Hinata hanya tersenyum dalam hati. Ah. Ternyata.

...


Pandangan Sakura sayu menatap lapangan barat dari kejauhan. Matahari sudah hampir kembali ke peraduannya. Meskipun tadi ia sudah berniat untuk mencoba lagi, namun ternyata tetap saja sulit. Rasanya malas untuk melangkahkan kaki ke sana. Dilihatnya sekilas, pembangunan rupanya hampir selesai. Kalau begitu, mungkin malam ini para dayang akan sangat sibuk mempersiapkan acara perayaan untuk menyambut para pengungsi itu. Acara ini sebetulnya diusulkan oleh para dayang. Dan mendengar kata "perayaan", siapapun pasti langsung setuju, karena itu berarti mereka bisa sejenak melupakan pekerjaan.

Para jenderal juga pasti akan datang. Para duta dari Suna juga...

"Selamat sore, Sakura-hime."

"Ah, selamat sore." Sakura menjawab tanpa sadar, karena sedari tadi ia sedang melihat burung-burung yang sedang asyik makan di lapangan. Ia menoleh dan melihat Gaara—dengan gadis kecil yang menempel di dekatnya, tangannya mencengkram ujung pakaian Gaara. "—Gaara-san... dan... Fuyu-chan?" tebaknya setelah mencoba mengingat-ingat, siapa nama gadis kecil itu. Ya, gadis yang kemarin dulu ditolong oleh Sasuke.

Fuyu, begitu nama gadis itu—langsung mundur selangkah. Bersembunyi di balik tubuh Gaara. Gaara menunduk dan mendorong gadis itu kembali ke depan. "Tidak apa-apa. Kau sudah pernah bertemu dengannya, kan? Tak apa-apa."

Fuyu menatap Sakura dengan mata besarnya yang cokelat. Lalu maju selangkah. Mundur lagi. Sakura tersenyum melihat polah gadis itu. "Tak apa-apa, kalau kau memang merasa aman bersama Gaara," ucap gadis itu lembut. Ia beralih pada Gaara. "Mengapa Fuyu-chan ada di sini, Gaara-san? Bukankah yang lain masih ada di desa? Apa kau membawanya lebih dulu?"

Gaara mengangguk. "Ya. Aku sudah meminta izin terlebih dahulu pada Kaisar. Karena kondisi anak ini paling buruk... dan dia tak mau lepas dariku."

Sakura tertawa kecil. "Gaara dan anak kecil... kelihatannya kurang pas, ya?"

"Oh, ya?" Gaara menjawab sekenanya sembari memalingkan kepala, membuat Sakura kembali tersenyum geli. "Ah. Aku lupa. Apa anda sudah bertemu dengan Sasuke-san, Sakura-hime?" tanyanya, mengalihkan pembicaraan.

"Eh? Ya? Apa?"

"Sasuke." Gaara menatap gadis itu. "Apa anda sudah bertemu dengannya?"

Sakura menggeleng. "Tidak... belum. Kupikir kau-lah yang mungkin sudah bertemu dengannya."

Gaara angkat bahu. "Tidak. Katanya dia masih belum boleh bekerja karena masih dalam masa pemulihan. Namun sepertinya di saat perayaan besok dia bisa datang. Aku ingin mempertemukan anak ini dengannya," ujar Gaara.

"Oh."

"...Mengapa kau tidak langsung menemuinya saja?"

Sunyi. Gelengan kepala lagi.

"Tadinya... aku keluar karena ingin menemuinya, tapi tidak usah. Nanti saja, saat perayaan."

"Sayang sekali," kata Gaara. "Kudengar dari Naruto dan yang lainnya... sepertinya dia juga sudah memikirkan banyak hal. Kalau kau memang memutuskan untuk seperti itu, Sakura-hime..." pandangannya lurus ke arah Sakura, "bicaralah padanya. Tak akan apa-apa."

Dan dengan kata-kata itu, Gaara pun pergi menjauh. Membuat Sakura tersadar dari pikirannya yang sedari tadi mengambang. Cepat dipanggilnya Gaara yang sudah berjalan menjauh. "Gaara-san!" panggilnya cepat.

Gaara menoleh. "Ya?"

"...mengapa... kau seakan-akan... membantuku?"

Pria berambut merah itu menyeringai. "Karena kalau dia terus begitu, aku tak akan bisa bertarung dengannya."

Mendengar jawaban itu, Sakura tersenyum.

...


Hari berlalu dengan cepat. Dan hari ini, bangunan itu pun siap ditempati. Puluhan kereta kuda diberangkatkan untuk menjemput warga Nijigakure. Selama bangunan penampungan untuk mereka dibangun, pengawalan para korban diserahkan pada satuan pengamanan Lee-Kiba-dan Shino yang dipanggil kembali dari Suna, serta pasukan milik Iruka. Karena itu, acara ini juga sekaligus untuk menymbut mereka.

Awalnya kaisar sama sekali tak memiliki rencana khusus untuk mengadakan perayaan seperti ini. Tapi, rupanya ada beberapa dayang senior yang menyampaikan ide itu pada kaisar. Menurut para dayang itu, hal ini akan membantu memulihkan kondisi psikologis para korban. Kaisar pun menyetujuinya, dan persiapan sudah dilakukan sejak kemarin sore—terutama urusan makanan. Pintu dapur istana terbuka lebar, memperlihatkan dayang-dayang yang keluar-masuk membawa nampan-nampan besar berisi makanan dan minuman.

"Ngapain kau di situ, Naruto?"

Naruto terlonjak dari jendela. Ia menghentikan kegiatannya melihat persiapan perayaan tersebut dan menoleh. Ada Shikamaru. "Acara akan dimulai pukul delapan malam, sebaiknya kau segera bersiap-siap kalau tak mau kehabisan makanan."

"Ha? Oh, ya." Naruto bangkit dan membetulkan bajunya yang belum diganti. Diperhatikannya Shikamaru dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Aneh sekali. Kau sudah siap saat aku belum siap... biasanya kau yang paling malas mendatangi acara-acara seperti ini, ya kan, Shikamaru?" Naruto mengedipkan sebelah matanya, dan kembali menatap Shikamaru bagai melihat hewan yang kabur dari pasar malam. Shikamaru mendengus.

"Bukan apa-apa. Aku hanya merasa... lebih baik bersiap-siap lebih awal."

"Heeee," hanya itu komentar Naruto, tapi jelas, kata-katanya sama sekali tidak menyiratkan bahwa dia percaya. Namun lelaki itu memilih tidak bertanya lagi dan segera berlari ke kamar untuk mengganti pakaiannya. Dilihatnya pintu kamar Sasuke sedikit terbuka. Niat ganti pakaian pun terlupakan sudah—matanya mengintip ke dalam. Hanya ada Sasuke yang sedang duduk melihat jendela.

"Oi, Teme!" panggil Naruto. "Mengapa kau malah jadi seperti Shikamaru begitu? Kau mau ikut ke perayaan, bukan?"

"Tidak. Untuk apa?"

"Tentu saja bersenang-senang!" teriak Naruto dari balik pintu. Dengan sekali sentak ia membuka pintu kamar itu dan duduk seenaknya di kursi samping Sasuke, membuat Sasuke berjengit. Tapi ya sudahlah. "Kau sudah lama tidak keluar, lho. Seperti kakek-kakek saja. Kau juga sudah cukup sehat untuk keluar malam ini, 'kan?"

Sasuke memalingkan wajah ke arah jendela yang menampakkan pemandangan pohon Sakura yang sudah hampir meranggas. Namun mata biru Naruto terus mengikuti mata hitamnya, membuatnya agak jengah. "Minggir."

"Jangan bohong. Kau juga pasti mau pergi ke sana, kan?" bujuk Naruto sekali lagi. "Ayolah. Setelah tugas kemarin, ini saatnya kita kembali beristirahat. Oh, juga..."

"Juga apa?" tanya Sasuke, kesal mendengar kata-kata Naruto yang sedari tadi seakan-akan digantung dengan sengaja.

"...Karena kau yang salah, sebaiknya kau minta maaf."

...


"Lihat, Sakura. Kau cantik sekali!" Tenten memuji gadis itu tulus saat melihat sosok sahabatnya di depan cermin. "Kita keluar bersama-sama, ya?"

Sakura tersenyum. "Terima kasih sudah mau datang, ya, Tenten," katanya sembari memegangi rambutnya—yang baru saja dirapikan oleh Tenten. "Kalau tidak ada kau, aku tidak tahu harus bagaimana."

"Hmmm?" Tenten tersenyum penuh arti. Diambilnya sbeuah hiasan rambut dari laci, dan dipasangkannya hiasan rambut itu ke rambut sahabatnya. Hiasan bunga Wisteria yang merah itu amat pantas bersanding dengan rambut Sakura yang warnanya pucat. Kimono merah mudanya juga cocok disandingkan dengan hiasan rambut itu. Pantas untuk dipakai di malam hari. "Kau pasti bisa membereskan semuanya, Sakura. Tenanglah. Jangan terlalu khawatir," katanya sembari menyisiri rambut Sakura yang sudah agak panjang itu, dan membentuknya menjadi sanggulan kecil.

"Apa benar begitu?"

Tenten kembali tersenyum lembut, menenangkan sahabatnya. "Ya, ya-ya-ya. Tak akan ada yang tahu kalau kita belum mencoba."

Sakura mengangguk pelan dan berdiri. Di luar, sudah terdengar keramaian dari orang-orang yang sudah ada di tempat perayaan. Bunyi kuda bersahut-sahutan dengan anak-anak yang bersorak riang menyambut acara itu. Terdengar menyenangkan. Mereka berdua keluar dan disambut oleh dayang-dayangnya.

"Mari," kata Hinata, "Paduka Kaisar sudah menunggu di depan. Setelah ada sedikit sambutan, acara akan dimulai."

Ino mendekati Sakura, dan menyikutnya. "Bagaimana? Otakmu sudah sehat?" ejeknya.

Sakura hanya tertawa kecil. "Ya, ya, aku sudah waras. Dan berhenti memanggilku sakit otak, Ino-babi."

Ino tertawa mengejek.

Di tengah lapangan barat, tempat di mana biasanya para prajurit itu berlatih, kini ada semacam tungku besar. Tapi tidak, tungku itu bukan untuk dibakar—melainkan diisi dengan kembang api saja. Ada ketakutan kalau dipasang api besar, mereka malah akan kembali mengingat bencana itu. Karena itu, di sana diletakkan kembang api, itu pun yang berwarna-warni—sehingga tidak mengingatkan mereka pada api.

Sebagai penerangan, lilin-lilin mungil diletakkan di mana-mana, berwarna merah dan ungu. Lilin-lilin itu diletakkan beralaskan mangkuk berisi air yang berbau harum. Cahayanya temaram sehingga tidak membahayakan. Ada juga lampion-lampion yang bergelantungan dengan warna-warna semarak. Kaisar berdiri di tangga batu, bersebelahan dengan permaisurinya. Setelah sedikit sambutan, acara itu pun dimulailah. Sepertinya tak terlihat lagi ekspresi kesusahan dalam benak anak-anak yang ada di sana. Mereka semua tertawa, bergembira, dan berlarian.

Sakura menoleh ke sekelilingnya. Ia tersenyum saat melihat Temari—dengan tambahan Shikamaru yang entah kenapa bisa berada di situ. "Hai, kalian," sapanya, "kalian menikmati pesta ini?"

"Hei!" Temari menjawab riang. "Ya, begitulah. Senang juga, karena baru saja kemarin pesta, sekarang sudah ada perayaan lagi. Tidak semewah kemarin,sih—" dia tertawa. "Tapi tak apa-apa. Menyenangkan dan menghilangkan capek."

Sakura juga tertawa mendengarnya. "Yaaa, ini 'kan tidak direncanakan. Bersenang-senanglah." Ia mengangguk memberi salam, dan bermaksud berbalik pergi saat panggilan Shikamaru mengagetkannya.

"Oi. Sakura-hime."

"Ya?" Sakura menghentikan langkahnya dan menoleh. "Ada apa?"

Shikamaru memalingkan wajah. "Aku ada di sini karena dipaksa oleh dia, lho." Katanya seakan-akan mengklarifikasi sesuatu—dan langsung ditanggapi dengan pukulan keras di bahu oleh Temari. Sakura tertawa geli mendengarnya.

"Rupanya mereka jadi dekat?" sejak kapan?" tanya Tenten yang muncul dari sisi lain lapangan, membawa gelas berisi minuman dan memberikan satu pada Sakura. Sakura angkat bahu.

"Entah. Kudengar saat pergi tugas kemarin, mereka ditempatkan dalam satu pasukan. Lagipula mereka kontras sekali, kan. Sepertinya Shikamaru tak bisa melawan Temari."

"Oh, ya?" Tenten mengernyitkan kening. "Waktu itu, pernah kulihat mereka berlatih tanding. Dan yang kalah tentu saja Temari. Mengapa kau bilang Shikamaru tak bisa melawan Temari?"

Sakura kembali tertawa. "Yaaah, ada hal lain yang tak bisa dilawan Shikamaru—mungkin." Pandangannya beralih ke sudut lain lapangan. "Ah! Naruto, halo!"

"HAAGUHA-CHYAAAAN!" terdengar teriakan tertahan dari Naruto—yang penuh dengan mitarashi dango. Detik berikutnya, Neji memukul kepala Naruto.

"Habiskan dulu makananmu."

"Uuugh! Nejiii, sialan kau," gerutu Naruto sambil menelan habis makanannya. "Hai, Sakura-chan, Tenten-chan! Kalian sudah makan?"

Sakura tertawa, begitu pula Tenten. "Sampai kapan pun kau memang selalu memikirkan makanan." Tenten tertawa geli. "Oh ya, kalian lihat Hinata dan Ino? Sepertinya mereka sibuk sekali, ya."

"Tidak. Kami tidak melihat mereka," jawab Neji—karena Naruto sedang sibuk makan. "Lagipula malam ini yang paling banyak bekerja pasti para dayang, bukan?"

"Oh, ya," Tenten menganggukkan kepala, "semoga saja mereka sempat untuk ikut dalam sesi dansa nanti. Pasti menyenangkan—meskipun akan banyak yang berpasang-pasangan. Ya, sendiri pun tak apalah."

Neji tertawa kecil. "Apa maksud kata 'meskipun' itu?"

"Eeeeh? A-apa? Tidak, aku tidak kesal karena sendirian, kok... ah!" Tenten menutup mulutnya dengan tangan, tiba-tiba merasa bodoh. Sepertinya dia mengulangi lagi keadian waktu itu. Uuuh, dia benar-benar bodoh! "Eng... apa Sasuke-san datang?" tanyanya mengalihkan pembicaraan. "Sakura kelihatannya mencarinya."

Mata Neji menyipit. "Tidak tahu. Sejak tadi dia diam saja di dalam kamar. Tadi Naruto sudah membujuknya, namun aku tidak tahu apakah dia akan keluar atau tidak,"ujarnya.

Tenten menatap langit dengan murung. Sekalipun itu bukan masalahnya, melainkan urusan Sakura, sahabatnya, namun tetap saja ia ikut memikirkannya. "Sayang sekali, ya. Padahal musiknya sudah dimulai. Sayang kalau dia tak ikut di dalam keramaian ini."

Neji tersenyum tipis. "Ya. Musiknya sudah dimulai. Mau ikut?"

Gadis di hadapannya menatap Neji tak mengerti. "Ikut? Ikut apa?"

"Ah." Seringai Neji makin lebar. "Tentu saja dansa."

...


Langit malam menampakkan bintang-bintang yang berkelip tanpa dikotori awan. Kembang api pun dinyalakan, mengundang decak kagum dari para penonton. Para pemain musik menabuh alat musiknya menimbulkan irama yang khas. Iramanya mulanya cepat, lalu berangsur-angsur melambat. Giliran dayang-dayang yang sudah capek bekerja, turun ke tengah lapangan bersama pasangan mereka yang kebanyakan adalah para prajurit—berdansa mengelilingi lilin-lilin yang dipasang di situ.

Sakura melihat sekelilingnya. Di sekelilingnya hanya ada pasangan-pasangan. Gadis itu tersenyum, menikmati pemandangan itu. Agak kaget juga ia melihat Tenten yang sedang bersama Neji. Tapi melihatnya saja sudah menyenangkan.

((In the night sky, they twinkle

The far stars of gold

The same color as the small bird

that looked up in my dream last night))

Pandangan gadis itu sendu.

"Sakura-hime." Sakura menoleh dan melihat Gaara. "Anda sendirian saja?"

Sakura menoleh. "Ah... Gaara-san. Begitulah."

Gaara berjalan mendekati gadis itu, sehingga mereka berdiri bersebelahan. Di sekeliling mereka, puluhan, ratusan—manusia bergerak mengikuti irama musik. Baik berpasangan maupun hanya sendirian. Iramanya lambat, namun anak-anak tidak memedulikan itu dan terus menari dengan setengah melompat-lompat. Sakura tertawa melihat pemandangan itu.

"Dia tidak datang?"

Sunyi.

"Sepertinya begitu."

"Sayang sekali."

"Mungkin dia ingin beristirahat saja di kamarnya."

Sunyi.

Pandangan mereka berdua bertemu.

((In the night sky, it sparkles

The distant moon of silver

The same color as the wild rose

that was blooming in my dream last night))

Tangan putih yang tertutup kimono panjang menyambut uluran tangan lelaki berambut merah itu. Tidak, dia tak tahu. Bahkan Sakura tak menyadari, mengapa dia menerima uluran tangannya. Mereka bergerak perlahan, mengikuti irama musik. Tak ada yang memerhatikan mereka. Tak ada. Sampai akhirnya Gaara merasakan sentakan dari pakaiannya, dan ia melihat Fuyu.

"Ah, Fuyu-chan. Kau ingin bersama Gaara-nii-san, ya?" sapa Sakura pada gadis itu. Fuyu mengangguk dalam diam, kembali menyembunyikan tubuhnya di balik pakaian Gaara. Sakura tersenyum.

"Maaf. Sepertinya aku harus pergi." Pria berambut merah itu menunduk dan berkata pada gadis kecil di dekatnya. "Baiklah, baiklah. Kita pergi."

"Aku tak apa-apa, Gaara-san. Selamat bersenang-senang," katanya sambil melambaikan tangan. Gaara menganggukkan kepala, lalu melangkah pergi menjauhi Sakura. Sakura menarik napas panjang sebelum berkata lagi, "Terima kasih karena sudah menemaniku sebentar."

Gaara hanya menyeringai sebelum pergi dari tempat itu. "Sama-sama." Ia melemparkan pandangan ke arah lain dan tersenyum tipis pada seseorang-entah-di mana. Lalu, dia memegangi tangan Fuyu dan mengajaknya menari mengikuti irama. Sakura tersenyum melihatnya. Di matanya, Gaara sekarang terlihat sebagai orang baik. Sangat baik. Ia ingat, dulu, saat pertama kali bertemu dengan Gaara, ia merasa ketakutan. Namun sekarang, rasa takut itu sirna.

((In the sleepless night,

I sing this song alone

Together with the blowing wind,

I fly riding on my thoughts))

Sakura melihat sekelilingnya. Lalu kakinya bergerak mengikuti irama, sendirian. Ya. Malam ini ternyata dia memang harus sendirian saja. Matanya menyapu langit yang begitu bersih saat itu, penuh bintang. Ia mulai merasa sedikit menyesal karena sempat melupakan langit malam itu kemarin-kemarin. Baru kali ini dia kembali menyadari, betapa indahnya langit malam.

Kukira... dalam acara seperti ini, dia akan datang.

Tapi tidak.

Dia mencoba membantah. Tapi ya, itulah kenyataannya. Dia hanya sendirian, sendirian. Dari tempatnya berdiri, ia melihat semuanya bersama-sama. Tampak bahagia. Ya, dia senang berada bersama dengan orang-orang. Namun... semua itu agak terasa menyakitkan. Karena ada orang yang ingin ia temui, namun dia tidak ada.

Sakura memejamkan mata, menundukkan kepala. Padahal jarak mereka sebetulnya begitu dekat. Ia tak perlu pergi jauh untuk mencapai tempatnya. Tapi mengapa terasa jauh?

Dia tidak akan datang, tidak, tidak, tidak, tidak akan datang...

Satu rengkuhan dari belakang, memeluknya begitu erat, hingga gadis itu dapat mendengar napas orang itu di telinganya.

...dia datang.

"Kau datang."

Tak ada jawaban dari pria itu. Sakura menggigit bibir. Detak jantungnya berpacu begitu cepat. Tubuhnya gemetar. Sebentuk kristal mencair di sudut mata hijaunya, membentuk jejak-jejak aliran kecil. "Kukira kau tak akan datang." Sakura berkata lagi, terbata. "Sasuke—"

Pelukan itu makin erat, seakan ketakutan gadisnya akan lari kapan saja. Lelaki itu memejamkan matanya, bernapas dalam bahu gadis itu. "...aku yang salah." Terdengar suara tertahan dari bibir lelaki itu.

Perlahan tangan Sakura menyentuh lengan yang memeluknya. Gadis itu tersenyum dalam diam. Sasuke mengangkat kepalanya. Ditatapnya wajah Sakura. Tak ada kemarahan. Pedih. Setelah apa yang telah dia katakan pada gadis itu kemarin. Itu salahnya.

"Maaf."

Sakura berputar mendengarnya, menatap pria di hadapannya itu lama.

"Sudah lama aku tidak mendengar suaramu."

((In the gentle night,

I sing this song alone

Let me sing with you tomorrow

Riding the wings of dreams))

Tangan mereka bertautan, saling menggenggam. Di atas mereka, langit malam melukis bulan dengan indahnya.

Aku merindukanmu.

Aku ingin menatapmu.

Aku mencintaimu.

Aku mencintaimu—

To Be Continued


AN TERIMA KASIH TERIMA KASIH TERIMA KASIH untuk SEMUA yang telah mendukung dan menagih saya (terima kasih, KusH1naHeRoine) untuk melanjutkan cerita ini. Ya, ini saya datang. Setelah sebulan tidak melanjutkan cerita ini. Ceritanya masih bersambung. Bagaimana? Get the point, minna? Senangkah dengan gombalan saya kali ini? Ini adalah bonus karena lama menunggu. Hehehe. Semoga adegan-adegannya tidak membuat kalian mual, ya. Maafkan, yang tidak suka SasuSaku.

Sampai kapan cerita ini akan berlanjut? Oh, masih panjang. Tapi, Sakura dan Sasuke sudah selesai. Berikutnya, tinggal 'membereskan' pairing yang lain dan memasukkan konflik terakhir. Sudah lama Orochimaru tak muncul. Jiraiya juga mungkin akan muncul. Silakan ditunggu, ya. Flame, saran, kritik, pesan, dan kesan, saya tunggu lewat review.

Potongan lagu di atas adalah terjemahan dari insert song Cardcaptor Sakura, Yoru no Uta. Sengaja tidak dipasang versi Jepangnya agar tidak kepanjangan.

Terima kasih sudah membaca.

Blackpapillon