chap 2 : The World inside that Painting

Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi

Ib © Kaoru

Warning :

typo, OOC, gaje, dll


"aku di mana?" gumamku pada diriku sendiri, melihat keadaan sekitarku, ah ada tangga. sebaiknya aku menaikinya.

Aku kembali ke gallery tadi, mungkin pintunya sudah terbuka?. Sebaiknya aku mengecek seluruh gallery ini, dan Akashi, kemana perginya anak itu? Apa dia meninggalkanku setelah bangun? Lalu mana perkataannya tentang melindungiku?, dasar! Semua laki laki memang seperti itu!. Aku mendengus kesal, berusaha menenangkan diriku yang dari tadi berjalan dengan kaki gemetar.

"pintunya terkunci, bagaimana ini?"

"[name]!" Suara itu terdengar dan menggema di seluruh gallery, suara yang baru saja ku temui dan langsung ku kenal, Suara seseorang bersurai merah, siapa lagi kalau bukan Akashi Seijuuro.

"aku di sini!" jawabku, suaraku ikut menggema dan memantul.

Suara derap kaki, tunggu. Akashi tidak sendiri, ada orang lain bersamanya, aku memasang kuda kuda, siap siap menendang siapa saja yang ada bersama pemuda bersurai merah itu. Aku memicingkan dan menajamkan pendengaranku, samar samar terdengar suara.

"siapa gadis ini Akashi-kun?"

"dia juga terkunci di gallery ini, jadi lebih baik jika kita bersama di keadaan ini, Kuroko"

Akashi membawa dua bunga mawar, yang satu merah seperti rambutnya dan yang satu putih. Diberikannya bunga mawar putih itu padaku, katanya jangan sampai hilang dan rusak.

"kenapa?"

"tiap kelopak mawar itu adalah nyawamu, kau kehilangan satu kelopak, satu mawarmu akan hilang" hah? Memang ini game? Ah, sudahlah, lebih baik aku melihat orang yang bersama Akashi.

Temannya? Aku memperbaiki posturku tepat sebelum mereka sampai, laki laki berambut biru muda dan lebih pendek dari Akashi dan setara dengan tinggiku. Mukanya imut seperti muka anak anak, irisnya lebih gelap dari rambutnya, memegang sebuah bunga? Biru muda yang senada dengan rambutnya.

"[name], ini mantan rekanku di klub basket, Kuroko Tetsuya"

"[Full name] Yoroshiku" aku membungkuk sedikit.

"pintunya masih terkunci?"

Aku mengangguk, wajahku berubah masam, lama lama terkurung di sini menyebabkan kepalaku sakit, aku ingin pulang dengan cepat, lagi lagi sesuatu menepuk dan mengelus kepalaku, lebih tepatnya tangan Akashi, si empunya sedang tersenyum lembut.

"kalau begitu sebaiknya kita ke tempat tadi, mungkin di sana kita menemukan jalan keluar lain" Kuroko mengeluarkan kunci biru lalu memberikannya padaku.

"mungkin ini bisa membuka salah satu kunci di dalam ruangan itu, karena kami sudah mengetesnya di sini" sambungnya.


"terbuka!" panggilku pada mereka, kami sedang berada di sebuah ruangan di sisi kiri tangga turun di ruangan yang tak diketahui namanya, hanya ada sebuah buku agenda, dan sebuah pintu yang terkunci. Yang baru saja ku buka.

Isinya adalah ruangan bercat hijau lumut dengan beberapa lukisan serangga sebuah tiang dan sebuah pintu, di tiang ada secarik kertas yang bertuliskan, beware of the edges. Artinya hati hati terhadap pinggiran, aku tidak mengerti apa maksudnya.

"kau harus berjalan di tengah, tidak boleh di pinggir"

Suara akashi mengejutkanku, suaranya terdengar dekat, tepatnya di samping telingaku, aku yang terkejut langsung memundurkan badanku, melupakan tembok di belakangku.

Thud! *bunyi membentur*

"a-aduh... Akashi-san tolong jangan mengagetkanku, lihat apa hasilnya" aku mengusap kepalaku, mencoba menghilangkan rasa sakitnya. Aku kembali memfokuskan pada lorong di depanku, berjalan dengan pelan kedepan, tentu saja dengan berjalan di tengah.

Sebuah tangan menembus dinding di ikuti oleh desiran, tidak begitu menakutkan. Aku berjalan dengan santai, saat aku hendak melangkah satuu kali lagi, tangan itu menampakkan dirinya di depanku, baiklah itu cukup membuatku kaget. Lalu aku melihat lihat apa yang ada di sisi ini, buku diary, sebuah lukisan semut dan sebuah pintu, yang terkunci.

"lukisan ini kenapa ada di sini?" aku memperhatikan lukisan itu, eh? Sedikit bengkok? Mungkin bisa di cabut?, aku mencoba mencabutnya. Ah, benar bisa di cabut, tapi untuk apa? Lebih baik aku kembali lagi ke sisi selatan.


"sepertinya kau menemukan Midorima, Kuroko" Kuroko mengangguk, di sampingnya seorang pria berambut hijau lumut tengah menatapku tajam, warna rambutnya sangat pas dengan warna cat ruangan ini sampai sampai aku terkelabui saat pertama kali melihatnya, apa dia mengecatnya?

"Akashi, Kuroko, siapa gadis ini nanodayo?, bukan berati aku peduli" aku memutar mataku, selain memiliki rambut yang 'wah' dia juga tsundere. Akashi melirikku sejenak, dan ku balas dengan tatapan kurang suka, aku merasa seolah harga diriku di injak injak.

"dia [full name], gadis ini juga terkunci di tempat ini"

"Midorima Shintaro, nandoyao"

"[Full name]" balasku cuek dengan nada kurang suka, aku kurang suka dengan sikapnya.

"kenapa kau bisa bertemu dengan orang ini Kuroko-san?" sambungku mengalihkan perhatianku kepada pemuda bersuari biru langit, entah mengapa dia adalah orang yang paling kurasa nyaman untuk sekarang

"aku menemukannya saat sedang menjelajahi pintu di sebelah kanan, aku melihat Midorima-kun sedang berjongkok di depan sebuah lubang, benar benar aneh"

"lucky itemku jatuh nodayo!" lucky item?, maksudnya benda aneh yang di bawa orang untuk keberuntungan dan di sarankan oleh siaran radio apa?, aho-osa? Entahlah.

"lalu [name], untuk apa lukisan itu?" aku memutar otak, untuk apa lukisan ini? Aku sendiri juga tidak tau, aku hanya mengambilnya berdasarkan insting hewan ku.

"pakai untuk menyebrang nanodayo"

"tidak bisa, nanti patah"

"kalau hanya kau pasti bisa"


"kalau begitu aku pergi, jangan marah padaku jika aku meninggalkan kalian"

"oi!"

Aku hanya tersenyum sambil perlahan berjalan di atas canvas ini, berusaha tidak merobek lukisannya, di depanku hanya sisi ruangan yang kosong, hanya terdapat pintu, aku membukanya, tidak terkunci.

"aku akan memeriksa ruangan di sini!" teriakku lalu melewati pintu, sebelum mereka sempat menjawab, aku memasuki ruangan yang isinya hanya patung, dan lukisan. Judulnya Epiolouge, ah maksudnya epiologi lukisan kupu kupu itu ya?, sayang sekali akhirnya di makan laba laba.

"di sini tidak ada apa apa lagi..."

*cing!*

"apa ini?" aku mengangkat kakiku yang menginjak sesuatu yang keras, sebuah kunci berwarna hijau. Mungkin untuk kunci yang di rungan itu? Sebaiknya aku mengetesnya, hm? Suara apa ini? Seperti sebuah desisan. Aku mengangkat wajahku, mataku membelalak.

Patung berbaju merah itu mengangkat tangannya, bersiap siap mencakarku dengan cakarnya yang panjang, dan aku berhasil menghindar. Sejak kapan patung bisa bergerak?!. aku berlari ke arah pintu, membuka dengan cara membantingnya dengan keras, mengagetkan 3 mahkluk di seberang sana.

"k-kau! Jangan kagetkan- whua!" si hijau lumut yang ingin memakiku, terhenti melihat mahkluk yang mengerjarku, aku berlari melewati canvas dengan tergesa gesa, tidak memperdulikan sobekan yang kutimbulkan. Setelah melihatku melewati 'jembatan' yang mereka buat, mereka menarikku dengan cepat dari ruangan itu.

Prang!(?) Chtes!(?) Cuarp!(?) Duer!(?) Boom!(?)

Suara keramik yang pacah menghiasi telinga kami, pasti mahkluk itu terjatuh ke dalam lubang tak berujung itu, aku mengatur nafasku sesudah berlari tadi, karena aku bukanlah orang yang pandai dalam olahraga. Aku memberikan kunci itu pada Akashi.

"m-mungkin kunci ini bisa membuka pintu yang terkunci di sebelah sana" suara dan badanku bergetar, aku bukanlah orang yang penakut. Tapi siapa juga yang mau di kejar patung tak berkepala yang mempunyai cakar yang panjang? Jawabannya tidak ada.

"kau tidak apa apa? Bukan berarti aku peduli, hanya saja kalau begini terus kau akan menjadi hambatan nodayo!" aku hanya memandang datar Midorima yang sedang mengalihkan pandangannya dan menaikan kacamatanya, yang tidak melorot.

"ya.. aku tidak apa apa, hanya sedikit kaget. Ukh, ayo kita keluar dari sini aku sudah mulai muak"


"terbuka" aku hanya mengangguk pada Akashi, menyandarkan kepala pada punggung orang yang (dipaksa) menggendongku, Midorima. Siapa sangka dia akan sangat jinak pada Akashi?.

Kami masuk ke ruangan kuning dengan sepasang mata kucing, di mulut ikan itu ada sebuah lobang yang berbentuk ikan, dan 2 pintu di sisi kanan dan kiri ruangan ini.

Yap itu chap 2 nya... semoga kalian suka, tolong kritik dan saran, serta Reviewnya~

Cheers

Rovi Chan