Kuroko no Basuke Fanfiction

Drabble - 23

Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi

Rating : T

Warning : AU

Pair : AkaKuro

A/N : Buat reader-tachi yang mungkin membaca chapie ini sebelum dirubah, author jadi menghilangkan bagian liriknya karena dapet peringatan.. umnn.. mungkin kalau ada yang mau tau darimana inspirasi cerita ini, bisa diliat diliriknya Fujita Maiko yang judulnya Suki ni Naru to Doushite.

Oh ya.. buat reader-tachi yang baca RoD (Realm Of Death) buatan author, gomen kalau lanjutan ceritanya harus di pending dulu ya (TwT) semoga aja author bisa cepet lanjutinnya OwO)9

Thank You for all review, fav, alert, follow, and all silent readers, Thank you for all support.. I'm happy that you all enjoy this story :3
Arigatou ~ Author will be waiting for your review ;))

Happy Reading, all..

With Love,

Zelvaren Yuvrezla a.k.a ren-chanz


Pagi itu, aku tidak menyangka bahwa aku bisa bertemu dengannya.

Cinta pertamaku.

Awalnya aku tidak menduga bahwa kami akan menjadi sepasang kekasih. Bagaimana tidak? Aku, sebagai penerus keluarga Akashi dituntut untuk menjadi orang yang sempurna, logikal dan irasional. Sedangkan sosok pemuda—kekasihku—adalah seorang yang sederhana, ia tidak memiliki banyak kelebihan yang mencolok kecuali hawa keberadaannya yang tipis.

Karena letak sekolahku yang jauh dari Tokyo, setiap pagi hari aku pasti akan menaiki kereta dari Kyoto. Dan setiap pemberhentian kereta pertama, aku selalu melihatnya memasuki kereta yang sama denganku. Tiap hari ia selalu berdiri di spot yang sama dengan rutinitas yang sama, membaca buku.

Tak jarang orang tiba-tiba berteriak kecil karena menemukan ia sedang duduk disana tanpa bersuara atau bergerak sedikitpun. Aku hanya menghela nafas kecil, mengapa orang-orang tidak pernah menyadari keberadaannya?

.

.

Sudah 3 bulan berlalu dan aku tidak menemukannya lagi, sosok pemuda bersurai Icy Blue dengan manik Baby Blue-nya yang selalu berdiam di depanku sambil membaca novelnya itu. Kuakui mungkin aku tertarik dengan kilatan matanya yang tampak transparat. Yah, mungkin ada suatu hal yang terjadi dengannya.

Pagi itu pandangan mataku sibuk menatap langit, menghiraukan keributan di kelas, beberapa siswa-siswi tengah sibuk menyalin tugas dari buku milik temannya. Aku hanya menghela nafas, 2 menit sebelum bel tanda masuk berbunyi.

Hari ini, Sensei datang ke kelas dengan seseorang yang berada di sebelahnya. Pemuda yang selama ini selalu berdiam di depanku saat menaiki kereta di pagi hari.

"Kuroko Tetsuya, Yoroshiku Onegaishimasu." Ucapnya sambil membungkukkan badannya.

"Nah, Kuroko-kun, kau bisa duduk di sebelah Akashi-kun. Di belakang dekat jendela, karena Akashi-kun adalah ketua kelas sekaligus ketua OSIS, kau bisa bertanya tentang sekolah ini kepadanya. Mohon bantuanmu untuk membimbing Kuroko-kun ya, Akashi-kun."

Aku mengerjapkan mataku sejenak. Yang benar saja? Pemuda yang baru kupikirkan tadi pagi malah berada didepan kelas saat ini. Sebagai murid pindahan.

"Ya, Sensei." Ucapku ketika kesadaranku kini mulai pulih.

"Akashi-kun," ucap Kuroko ketika jarak diantara kami berdua sudah semakin mendekat. "Kita berjumpa lagi."

Aku terdiam sejenak, tak lama senyum kecil menghiasi wajahku saat ini. Rupanya diam-diam ia memperhatikanku juga, 'kah?

"Lama tidak berjumpa juga, Kuroko."

.

.

Beberapa minggu berlalu semenjak kepindahan Kuroko Tetsuya. Satu hal yang kuketahui bahwa ia adalah teman pertama yang kumiliki, yang tidak takut dan senggan saat berhadapan denganku. Teman dekatku lainnya, yaitu Midorima, Murasakibara, Aomine dan Kise bahkan masih merasa canggung bila berhadapan denganku. Berbeda dengan sosok pemuda bersurai Icy Blue ini. Dan hal tersebut makin membuat perhatianku makin tertuju pada dirinya.

"Tetsuya," aku melirik kearahnya. Kuroko Tetsuya kini meletakkan bukunya dan memandang kearahku. "Apa kau ingin ikut klub basket? Bersama denganku?"

Kuroko memiringkan kepalanya. "Klub basket? Tapi—bukankah ini sudah lewat masa-masa untuk menerima anggota baru di setiap klub, Akashi-kun?"

"Tentu tidak, karena aku adalah Captain di klub tersebut. Siapapun yang berani membantah perintahku akan kumusnahkan."

Kuroko tertawa kecil. "Bahkan orangtua-mu sendiri, Akashi-kun?"

Aku menutup mataku, tersenyum oleh pernyataan milik Kuroko. "Yah, bahkan orangtuaku sendiri sekalipun." Aku tersenyum hambar, seandainya bila orangtuaku masih lengkap berada disisiku.

"Akashi-kun?" Manik Baby Blue itu kini memandangku dengan tatapan yang—khawatir? "Kenapa? Wajahmu berubah menjadi murung seperti itu."

Aku menggelengkan kepalaku secara perlahan. "Tidak, bukan apa-apa. Lalu, bagaimana? Kau berniat untuk memasuki klub basket?"

Kuroko terdiam sejenak. "Baiklah, tetapi aku tidak bisa bermain basket, Akashi-kun."

"Aku bisa mengajarimu nanti, Tetsuya."

2 hari kemudian, setelah aku membantunya membeli sepatu dan peralatan lainnya untuk bermain basket, aku megenalkan-nya pada anggota klub basket Teiko High School. Klub Basket yang kupimpin saat ini.

Dalam waktu yang cukup singkat, Kuroko kini menjadi sangat dengan dengan Aomine Daiki, Pemuda berkulit Tan, sang Ace dalam tim Teiko. Meskipun aku tahu, saat aku tengah sibuk mengurusi urusan kegiatan, pasti Daiki yang menemaninya untuk bermain basket.

Tapi, Perasaan apa ini?

Mengapa saat aku melihatnya dengan orang lain selain diriku.. Mengapa dadaku terasa sesak?

Apakah aku mencintainya? Sosok—Kuroko Tetsuya?

.

.

Hari demi hari berlalu, satu hal yang kusadari saat ini bahwa perasaanku terhadap Kuroko Tetsuya adalah sebuah perasaan yang dinamakan cinta. Memang aku belum pernah merasakan hal tersebut sebelumnya, tetapi, bisakah kau menjelaskan padaku, saat pandanganku hanya tertuju padanya di kerubunan orang saat kami semua berlatih di Gym? Saat-saat dimana aku selalu menunggu balasan dari pesannya? Meskipun itu hanya bertuliskan sebuah pesan pengingat untuk seluruh anggota klub. Saat dimana benturan antara iris Heterochrome-ku dengan iris Baby Blue-nya bertemu, dan saat itu juga aku yakin bahwa aku tidak ingin melepaskan Kuroko Tetsuya.

"Tetsuya," panggilku saat ia sedang bersama dengan Daiki.

"Tunggu sebentar, Akashi-kun. Sebentar lagi aku dan Aomine-kun akan selesai."

Dahi-ku menyerit, Aku tidak suka bila Tetsuya bersama dengan orang lain, apalagi saat ia menyuruhku untuk menunggu seperti ini.

"Tetsuya! Cepat kemari!" Bentakku secara spontan, membuat Daiki dan Tetsuya berhenti bergerak, ia memandang satu sama lain secara bergantian dengan wajah yang keheranan.

Aku tersentak. Apa yang baru saja kulakukan barusan?

Aku menundukkan kepalaku saat itu, mengepalkan tanganku dengan erat. Tidak peduli apapun tanggapan mereka saat ini.

"Lupakan.." aku berbalik, segera melangkahkan kakiku untuk menjauhi Gym saat itu.

"Akashi-kun!" aku mendengar suaranya dari kejauhan, suaranya yang memanggilku. Tetapi, aku tidak mempedulikannya pada saat ini.

Mengapa—saat perasaan itu bertumbuh dalam hatiku, Mengapa tidak ada perasaan lain selain perasaan bahagia? Aku merasakan diriku seolah berubah menjadi sosok yang lain, diriku yang bukan diriku sendiri.

Mulai dari hari itu, semua mengatakan bahwa aku berubah.

Aku yang dulu telah pergi, tergantikan oleh sosok yang berambisi kuat, sosok yang tidak menggabungkan lagi antara perasaan dan logikal. Aku yang hanya menuntut sebuah kemenangan absolute.

.

.

"Akashi-kun," Tetsuya memanggilku saat ini untuk menemuinya, saat jam latihan basket telah berakhir, di dekat ruangan penyimpanan barang ia memintaku untuk bertemu dengannya. "Mungkin aku tidak berhak berkata seperti ini kepada Akashi-kun, tetapi kau yang saat ini telah berubah, Akashi-kun.. Kemanakah Akashi-kun yang dulu pernah kukenal?"

Aku tertawa miris. Aku yang dulu dikenalnya? Memangnya Akashi macam apa yang kau kenal saat dulu, Tetsuya?

"Kemenangan adalah segalanya, Tetsuya. Bila aku masih seperti aku yang dulu, tidak ada kemenangan yang dapat kuperoleh."

"Tetapi karena kemenangan itu juga yang membuat kita terluka seperti ini, Akashi-kun! Tidakkah kau melihat bagaimana Aomine-kun, Kise-kun, Murasakibara-kun dan Midorima-kun saat ini? Tidakkah kau melihat betapa kecewanya melihatmu menjadi sosok yang seperti ini?"

"Kau tidak mengerti, Tetsuya. Kau tidak mengerti apapun!"

"Aku tahu, Akashi-kun! Aku selalu memperhatikanmu dari jauh, aku selalu melihat dan mengamatimu, dan sekarang kau telah berubah!"

"Kenapa—kau mengamatiku?"

"Karena aku menyukai Akashi-kun."

Tidak, Tidak Tetsuya. Jangan mencintai orang sepertiku. Jangan menaruh harapanmu padaku. Aku yang sekarang telah membuang perasaanku itu jauh-jauh. Aku yang sekarang—hanya melihat bagaimana kemenangan yang absolute.

"Maaf, Tetsuya.."

Kulihat iris matanya masih tak gentar memandang iris Heterochrome milikku.

"Aku tidak bisa—mencintaimu."

Jangan cintai aku yang sekarang, Tetsuya. Kau lebih pantas dan layak berbahagia dengan orang lain. Kau sekarang dan aku yang sekarang, sudah terlalu banyak berselisih paham. Aku tidak ingin membuat hatimu terluka hanya oleh prilaku buta-ku saat ini.

Berbahagialah dengan sosok lain, Tetsuya.

Hanya itulah harapanku, permintaan dari lubuk hatiku, untuk kebahagiaanmu saat ini.

Untuk sosok yang pernah kucintai dahulu, Kuroko Tetsuya.

.

.

Hampir 3 tahun berlalu semenjak kejadian itu. Semenjak kejadian itu, aku mulai menjauhi Tetsuya. Aku tidak ingin membuatnya terikat denganku. Meskipun dalam lubuk hatiku, aku masih mencintainya. Tetapi, demi Tetsuya, aku harus melepaskannya.

Setelah lulus dari Teiko High School, akhirnya kami memutuskan untuk memilih jalur yang berbeda. Aku melanjutkan studiku di Universitas di Kyoto, sedangkan Tetsuya melanjutkan studinya di Tokyo.

Daun Momiji tiba-tiba jatuh saat aku berjalan di tepi trotoar. Untuk sesaat aku mencium aroma Vanilla dari café terdekat. Vanilla, sungguh mengingatkanku pada sosok Kuroko Tetsuya. Pemuda bermanik Baby Blue yang sering membeli Vanilla Milk Shake ketika pulang dari latihan.

Aku membayangkan bagaimana sosoknya saat itu.

Ah, apakah kini ia melanjutkan studinya untuk menjadi seorang guru? Ia pernah bercerita bahwa ia senang bersama dengan anak kecil, dan ia ingin menjadi guru taman kanak-kanak kelak.

Bagaiamanakah rupanya saat ini? Apakah tinggimu sekarang masih tetap sama? Ataukah kau menjadi tinggi sedikit? Bagaimana potongan rambutmu saat ini?

Begitu banyak pertanyaan yang terlintas di benakku saat ini.

Kuroko Tetsuya.

Saat kupercepat langkahku untuk kembali ke apartement-ku, saat itu juga iris mataku berjumpa dengan iris mata Baby Blue yang hampir saja kulupakan warna-nya itu.

"A—Akashi-kun?"

"Tetsuya?"

.

.

Aku melihatnya, sosok yang selama ini selalu menjadi kenangan di lubuk hatiku. Sosok yang sampai saat ini masih terus berkecipung dalam relung-relung ingatanku. Pemuda bersurai Icy Blue yang selalu memasang wajah datar, cinta pertamaku yang dengan bodohnya kutolak, Kuroko Tetsuya.

Harusnya aku mulai melupakannya, harusnya aku mulai bisa melepaskannya.

Seharusnya sekarang aku sudah bisa baik-baik tanpa dirinya.. tapi—Mengapa?

Mengapa dada ini terasa sakit saat melihat sosoknya bersama dengan pria lain? Pria bersurai Maroon dengan belahan alis yang aneh itu?

Tanpa kusadari aku langsung melangkah, kutarik lengan milik Tetsuya dan membawanya pergi. Aku tidak mempedulikan temannya yang kini meneriaki kami berdua.

Hingga akhirnya kami tiba di sebuah tempat yang sepi.

Nafas kami tersengal, tidak ada yang memulai pembicaraan terlebih dahulu, hingga tiba-tiba kurasakan kedua lengan milik Kuroko memelukku.

"T—Tetsuya?"

"Akhirnya..akhirnya aku menemukanmu, Akashi-kun. Meskipun Akashi-kun menolakku sekalipun, aku akan terus berada disisi Akashi-kun, meskipun perasaan ini belum sampai ke perasaan Akashi-kun, tapi aku yakin, suatu hari nanti perasaanku akan tersampaikan di dalam hatimu. Maka dari itu, jangan buat aku berhenti bertarung untukmu, Akashi-kun."

Tunggu.. apa itu artinya, Tetsuya masih mencintaiku? Hingga saat ini? Meski 3 tahun telah berlalu?

Aku terkekeh kecil. "Aku kalah, Tetsuya."

"Eh? Apa maksud Aka—"

Saat itu juga, aku mencium bibirnya yang lembut itu. Kudekatkan tubuhku untuk memeluknya, mendekapnya dengan kedua lenganku. Hal yang pernah kusia-siakan pada sebelumnya untuk memilikinya.

"Aku mencintaimu, Tetsuya. Begitu dalamnya cintaku padamu sehingga aku yakin, bahwa aku bisa hancur kapanpun."

Tetsuya kini tertawa kecil.

"Itu sangat tidak sepertimu, Akashi-kun."

.

.

~Owari~