Disclaimer: I am not, in any way, take any profit from the story and that all creative rights to the characters belong to their original creator(s). Naruto © Masashi Kishimoto.
Jejak Bulan di Atas Air
blackpapillon
21. The Cycle of Life
.
.
SEKALI lagi, untuk kesekian kalinya di bulan ini, ruang rapat bawah tanah istana penuh dengan orang. Ruangan yang hanya digunakan untuk urusan penting itu akhir-akhir ini memang selalu dipakai. Apa itu berarti sekarang negara sedang menghadapi sesuatu yang penting? Yah, bisa dibilang begitu.
Lorong istana yang lain sudah gelap—seperti biasa mereka memilih jam yang lazimnya dipakai orang untuk bersantai atau tidur, mereka gunakan untuk mengadakan pertemuan. Meja lonjong yang ada di tengah ruangan terisi orang-orang di setiap sisinya. Air muka mereka setengah tegang, setengah lagi lega. Bagian ujung terisi oleh yang mulia Kaisar, ujung satunya Toshizo Yamanami, penasihat kekaisaran. Para menteri, dewan keamanan, dan panglima jenderal duduk di sisi-sisinya.
Dan lagi-lagi, Naruto menguap lebar tanpa berniat menutup mulutnya, membuat Neji sang maniak tata krama berjengit. "Hehe, sori, Neji, tapi aku tak tahan lagi… porsi latihan tadi agak lebih banyak dari biasa dan sekarang aku ngantuk," kata lelaki berambut pirang itu, nyengir saat melihat ekspresi Neji.
Neji hanya mendengus kesal. Mungkin mengomel dalam hati mengapa adik perempuan—oke, adik sepupu—nya yang cantik dan baik hati itu harus suka pada orang yang pecicilan seperti Naruto.
"Kau harus segera terbiasa," Sasuke berkata dari ujung meja satunya, "sepertinya mulai sekarang kita akan jadi lebih sibuk. Kita tak tahu kapan pihak pemberontak melakukan pergerakan, dan kemampuan investigasi kita terbatas." Jenderal muda itu berkata tanpa mengangkat kepala dari kertas bertuliskan agenda rapat di tangannya.
Kali ini Naruto mencibirkan mulutnya ke arah Sasuke. "Huh, tak usah dibilang pun aku mengerti, Teme. Jangan sombong kau, mentang-mentang baru sembuh dari lukamu, kau langsung saja cerewet begitu!"
Sasuke mendelik dan memberikan tatapan mautnya yang paling kejam. Dan Naruto hanya membalasnya dengan gerakan tari hula-hula. Sasuke membelalakkan matanya, seakan-akan kutukan bisa disalurkan lewat pandangan mata. Shikamaru anteng saja meminum kopinya, sementara Sai hanya menghela napas. Stres, mungkin.
"Hohohoho!" terdengar suara lelaki tua terkekeh dari ujung meja, sehingga Naruto dan Sasuke segera menghentikan acara tatap mata versus tarian hula-hula-nya. Wajah mereka memerah saat melihat Kaisar tertawa sambil memegangi perutnya. "Senang rasanya, setelah rapat-rapat serius yang sepi ini, melihat kalian berdua bertengkar lagi. Ini berarti Sasuke sudah sehat. Bukan begitu, Toshizo?" Kaisar menoleh ke arah sang penasihat setia yang duduk di sebelahnya, Toshizo Yamanami.
Ayah angkat Sasuke itu balas terkekeh. "Ya, Yang Mulia," jawabnya, "rasanya lega melihat anakku sudah sehat."
"Memang, Yang Mulia," timpal Kakashi dengan lirikan jahilnya yang khas. "Kurasa indikator kesehatan Sasuke bisa dilihat hanya dengan reaksinya saat menghadapi Naruto."
Para petinggi istana itu tertawa. "Bagus sekali kalau begitu. Aku senang melihat para panglima muda kita masih segar," ujar Kaisar pada seluruh peserta rapat, "keadaan sepertinya akan jauh lebih gawat. Aku berharap kalian bisa menjaga kesehatan dan stamina, juga kesehatan anak buah kalian. Kita tak tahu kapan pasukan akan kembali menghadapi kejadian seperti kemarin. Oleh karena itu aku memanggilmu, Jiraiya." Kaisar menoleh ke arah pria yang duduk beberapa kursi di sebelahnya, air mukanya serius.
Jiraiya mengangkat kepalanya yang sedari tadi tenggelam di dalam buku kumal jingganya—buku yang sama dengan yang suka dibaca Kakashi (Kakashi menatap ke arah Jiraiya dengan tatapan kagum). Sementara itu, Tsunade yang duduk di sebelahnya hanya bisa menatapnya jengkel. Sadar dipanggil, buru-buru lelaki setengah baya itu menutup bukunya. "Eeee.. iya, Yang Mulia—Ehem—baiklah… saya akan menjelaskan maksud dipanggilnya saya kemari."
Neji, Shikamaru, Sasuke, Sai, dan Naruto kini mengalihkan fokusnya ke arah Jiraiya. Benar-benar, mungkin begitu batin mereka, sebenarnya apa maksud Jiraiya dipanggil kembali ke Istana? Dan mengapa Jiraiya menurut? Meskipun dikenal sebagai satu dari Sannin hebat di Konoha, Jiraiya tidak semudah itu dipanggil pulang dari wilayah administratifnya di selatan dan datang kemari. Tadi Jiraiya hanya menjelaskan sekilas, dan setelah itu, melatih mereka dengan porsi sparta.
"Mungkin tadi saya sudah menjelaskan sedikit pada para jenderal muda di sana itu," Jiraiya nyengir, pura-pura tidak mendengar celetukan Naruto ("Apaan, dia kan langsung main sok jadi pelatih saja! Porsinya gila-gilaan, lagi!"). "Saya dipanggil secara khusus oleh yang mulia Kaisar, untuk memberikan pendidikan khusus pada orang-orang yang sudah dipilih—dan sebagian pesertanya adalah kalian berlima," tatapannya mengarah ke lima orang panglima muda itu.
Naruto sudah siap-siap protes, menangis kalau perlu, mendengar 'latihan khusus' itu. Jiraiya tidak peduli dan melanjutkan penjelasannya. "Latihan ini rencananya akan dilaksanakan selama satu bulan, dan tempatnya tidak jauh dari sini. meskipun tidak bisa dibilang dekat juga—tepatnya di Hutan Hitam. Selama itu, penanganan pasukan kalian akan diurus oleh Kakashi, Iruka, Asuma, Gai, dan Kurenai. Nah, bagaimana pendapat kalian?" tanyanya, mengakhiri penjelasannya.
Seperti sudah diduga, Neji langsung mengacungkan tangan. "Apa tidak apa-apa berlatih di tempat yang jauh begitu? Bukankah Yang Mulia Kaisar sendiri yang mengatakan, keadaan istana sedang terancam dan butuh pengawalan lebih? Bagaimana kalau terjadi serangan mendadak?"
Kakashi menyeringai dari balik topengnya. "Bukankah karena itu kalian butuh latihan lebih? Kami semua tahu kalian memang tangguh, namun kalian butuh latihan lagi. Dan mengenai keamanan istana, apa kalian tidak percaya pada kemampuan kami yang tua-tua ini?" Ia balik bertanya, setengah menyindir Neji yang seakan meremehkan kemampuan mereka. Neji menyadarinya, dan ia langsung berhenti bertanya.
"Tapi menurut saya Neji benar," Sasuke angkat bicara membela. "Tentu saja kami tidak bermaksud mendiskreditkan sensei, namun pengamanan lebih tentu lebih baik daripada tidak sama sekali."
Toshizo meminum tehnya sampai habis sebelum ikut dalam percakapan. "Kau benar. Tapi tenang saja, pihak istana pun tidak sekedar menyuruh kalian pergi tanpa memikirkan kemungkinan itu," ia tersenyum ke arah pria yang sedari tadi diam saja di sudut meja, "iya kan, Sai?"
Sai menghentikan lamunannya, lalu menganggukkan kepala. Teman-temannya saling berpandangan, bingung. Lelaki berkulit putih itu mengeluarkan senyumannya yang biasa. "Ya, Yang Mulia. Beberapa regu investigasi telah diturunkan kemarin-kemarin, dan sekarang mereka sedang melakukan pencarian kira-kira di mana tempat persembunyian gerakan pemberontakan itu." Ia berdiri dari kursinya, "selain itu, melihat pola kemunculan serangan, kelihatannya mereka tidak akan muncul lagi. Malah saya merasa, mereka menunggu kita yang maju lebih dulu."
"Ah," Kaisar menghela napas. "Aku tak ingin mengambil resiko dengan melibatkan warga sipil apabila pasukan kita yang lebih dulu maju. Tapi mungkin hal itu tidak bisa dihindari. Tsunade, bagaimana kabar warga yang telah dievakuasi?" ia menoleh ke arah Tsunade.
Tsunade menganggukkan kepala dan menyerahkan dua buah gulungan pada atasannya itu. "Sementara ini cukup baik. Yang harus sekarang diintensifkan adalah pemulihan kondisi psikologis anak-anak itu. Mayoritas korban yang tersisa adalah anak-anak. Sementara yang dewasa sudah disebarkan ke beberapa desa di sekitar sini," jelasnya. "Kembali ke desa yang sudah terbakar habis bukan tempat yang baik untuk melanjutkan hidup mereka."
"Baik, terima kasih, Tsunade," Kaisar menganggukkan kepalanya mengerti. "Ngomong-ngomong, setelah ini, tolong juga persiapkan tim medis untuk para prajurit. Mereka harus bersiap-siap. Dan optimalisasikan rumah sakit-rumah sakit yang berada di daerah rawan. Kita harus bersegera," ia memberikan instruksi. "Nah, kembali ke soal pelatihan… Jiraiya, kau tadi bilang para panglima ini adalah sebagian dari yang akan mengikuti latihan. Ada lagi yang akan mengikuti program training ini?"
"Betul, Yang Mulia. Saya bermaksud mengajak satu orang dari Suna untuk ikut dalam training ini." Ia menoleh ke arah Sasuke, Naruto, dan yang lainnya. "Aku tahu ada tiga perwakilan Suna yang ikut dalam latihan kemiliteran kalian. Tapi aku hanya ingin satu orang saja. Dan," ia menjentik-jentikkan jarinya, membuat Sasuke dan Naruto penasaran, "aku ingin kalian yang merekomendasikannya. Selama latihan bersama mereka, kalian tentu bisa menilai bagaimana kemampuan mereka, dan kiranya kalian bisa merekomendasikan." Mata pria tua itu berkilat penuh arti.
Naruto angkat bahu, Shikamaru menguap, sementara Neji dan Sai saling berpandangan.
"Gaara," kata Sasuke angkat bicara, "Sabaku no Gaara."
RUANGAN itu lebih hening daripada sebelumnya. Kertas-kertas telah dibereskan. Hanya tinggal Kaisar, Toshizo, Jiraiya dan Kakashi—satu orang yang agak ganjil berada di antara kalangan tua. Namun memang begitulah Kakashi.
"Tadi itu pilihan yang menarik." Jiraiya menghirup tehnya puas, "Aku juga sebenarnya cukup memperhatikan anak bernama Gaara itu sejak pertama kali mendengar keberadaannya di Suna. Kudengar dia melewati sebuah ritual khusus sehingga memiliki kekuatan yang ganjil itu."
"Pasir itu, maksud anda?" Kakashi memastikan, yang dibalas dengan anggukan Jiraiya. "Saya tak mengerti. Apa maksud anda dengan ritual khusus?"
"Heh, Kakashi, makanya kubilang, kau harus lebih sering memperhatikan keadaan di sekitarmu," kata Jiraiya setengah menyindir. "Aku datang ke Suna bersamaan dengan kelahiran anak itu, kira-kira delapan belas tahun yang lalu. Ia memang dipersiapkan untuk menjadi ninja besar di sana. Kau tahu pasir yang selalu ada di sekitarnya itu?" Ia menggerak-gerakkan tangannya, mencoba menjelaskan debu pasir yang selalu mengelilingi Gaara.
Toshizo menganggukkan kepalanya mengerti. "Pasir itu adalah pelindungnya sejak kecil, bukan? Untuk menghindari dia dari hal-hal yang tak diinginkan, karena daripada mempercayai manusia, benda mati lebih bisa diprogram dan terpercaya."
"Ah, soal itu aku juga pernah mendengarnya," Kakashi menanggapi. "Ia juga bisa mengendalikan pasir dengan chakra-nya. Kemampuan itu menarik, menjadi pelindung sekaligus penyerang. Aku penasaran mencoba kekuatannya secara langsung. Bagaimana menurut anda, Kaisar?" lelaki berambut perak itu meminta pendapat Kaisar yang sedari tadi diam saja, memandang malam musim panas yang lembap dan tak berangin.
"Aku?" Kaisar tersenyum penuh arti. "Daripada pelindung pasir itu, aku lebih tertarik tentang reaksi Sasuke-kun. Kurasa pendapatnya yang paling kuat tentang mengajak Gaara-kun dalam training. Kurasa ini akibat pertemuan mereka waktu penyerangan Nijigakure kemarin itu. Apa kau juga berpikir begitu, Toshizo?" Kaisar mengedikkan kepanya ke arah Toshizo, yang hanya dibalas senyum.
"Mungkin, Yang Mulia," Toshizo tersenyum penuh arti. "Anda tahu bukan beberapa kejadian semenjak perwakilan Suna itu datang ke sini? Kurasa ini waktunya bagi Sasuke—dan juga Gaara—untuk menguji kemampuan mereka. Aku mohon bantuanmu, Jiraiya." Ia mengalihkan pandangannya pada Jiraiya.
Jiraiya membusungkan dadanya. "Jangan khawatir, aku akan pastikan kemampuan mereka akan bertambah—dan tetap hidup, tentu saja. Ha ha ha ha!" tawanya membahana mengisi ruangan. "Dan Kakashi. Aku minta kau datang untuk mengecek pada saat training seminggu sekali. Kau mengerti?"
"Ya, saya mengerti." Pandangan Kakashi menerawang ke luar jendela. "Latihan khusus ini akhirnya datang lagi. Tak kusangka kita menghadapi situasi seperti ini lagi, dengan musuh yang sama."
Jiraiya terdiam. Pikirannya menerawang ke masa lalu. Belasan tahun lalu, saat ia melatih beberapa prajurit penting Konoha untuk persiapan perang. Sama seperti sekarang. "Minato tentu bangga melihat anaknya turut menjadi yang terdepan dalam membela negara," ujarnya perlahan. "Begitu juga dengan Fugaku. Kita akan selalu mengingat mereka, bukan begitu?"
Kakashi tersenyum sendu di balik topengnya, sekilas pikirannya memperlihatkan sesosok pria gagah berambut pirang dan bermata biru yang dulu menjadi gurunya saat berlatih.
"Saya yakin mereka semua akan memberikan yang terbaik." Kakashi tersenyum tipis saat mengatakannya. Matanya melirik jam sekilas. "Ah, sudah larut, Yang Mulia. Lebih baik anda segera beristirahat. Bagaimana kalau kita sudahi perbincangan ini?"
"Betul juga," Kaisar terkekeh, "badanku sudah agak tua dan banyaknya masalah akhir-akhir ini membuat tubuhku melemah. Yah, resiko menangani negara." Lelaki tua itu kembali tertawa renyah. "Nah, aku pergi dulu kalau begitu. Toshizo, Jiraiya, dan Kakashi, kalian juga beristirahatlah. Seperti yang tadi sudah dikatakan, kita tak tahu apa yang akan terjadi. Suasana terlihat biasa saja namun juga genting. Bersiaplah untuk kemungkinan terburuk—perang lagi."
Orang-orang kepercayaan Kaisar itu mengangguk. Segera setelah Kaisar berlalu, Jiraiya dan Toshizo pun pamit pulang. "Aku tinggal di sini sebentar, Toshizo-sama," kata Kakashi cepat.
Toshizo mengerutkan kening. "Lho, mengapa? Tidak jalan bersama?"
Kakashi tersenyum. "Ada beberapa yang harus dibereskan dulu di ruangan ini. Silakan pulang lebih dulu."
"Baiklah," Jiraiya keluar dari ruangan itu sambil menepuk bahu Kakashi. Sampaikan pada para peserta training itu, besok sore mereka akan berangkat."
Kakashi mengangguk sebelum akhirnya ruangan itu pun sunyi.
SEPERTINYA rapat penting itu baru saja berakhir," gumam Ino, saat melihat bayangan orang-orang yang bubar di ujung koridor istana. Lampu-lampu terlihat hendak dimatikan. Ia melipat sprei, lalu menyiapkan tempat tidur Sakura. "Akhir-akhir ini rapat itu makin sering saja. Aku jadi khawatir."
Hinata menghentikan pekerjaannya, lalu melongok sebentar ke luar jendela. "Tadi… tadi aku sempat bertemu Neji-niisan saat mengambil teh ke dapur tenggara. Katanya akan ada latihan khusus untuk para panglima kerajaan."
Tatapan Ino menerawang. "Dulu sewaktu kita kecil juga sempat ada cerita seperti ini, kan? Ingat tidak Sakura, Hinata?" Ia menoleh ke arah teman-temannya. "Waktu pemberontakan yang pertama, Kakek Jiraiya juga datang untuk melatih Kakashi-sensei, Iruka-sensei, Gai-sensei… dulu mereka masih panglima kerajaan."
"Ya," Sakura menutup bukunya, lalu membereskan tumpukan buku yang berserakan di sekitarnya. "Sebelumnya juga—Cuma saat itu kita masih bayi. Aku bahkan belum lahir. Panglima waktu itu adalah ayah Naruto… Sasuke… generasi yang sebelumnya. Paman Minato, Fugaku, Hiashi, dan lainnya."
Sakura menatap ujung koridor istana yang sekarang sudah gelap. Langit bermandikan cahaya bulan sabit malam ini, membentuk refleksi di kolam depan kamarnya. "Memikirkan hal itu membuatku takut. Dulu perang melawan Suna, lalu pemberontakan yang pertama, dan sekarang gerakan pemberontakan itu ada lagi… semoga setelah ini benar-benar berakhir. Aku tak mau ada lagi orang yang mati…"
Wajah Hinata tampak sedih. Sakura setengah berbisik saat mengatakannya. Sewaktu kecil ia belum terlalu memikirkan masalah seperti ini. Selain karena ia masih kecil, juga karena ia tidak berminat dan lebih suka bermain di kamar. Namun seiring dengan bertambahnya usianya, ia juga makin mengerti dengan banyak hal. Terlebih tragedi yang langsung ia lihat dengan mata kepalanya sendiri, membuat ia bertekad—saat tiba saatnya nanti ia ikut serta dalam pemerintahan, ia tidak akan membiarkan terjadi kekerasan lagi. "Semoga saja."
"Daripada itu, Sakura," Ino mengingatkan. "Sepertinya para panglima tidak akan berlatih di istana, jadi mereka tidak akan melindungi istana selama beberapa hari. Kira-kira berapa lama, ya? Bukankah akan berbahaya jika Kaisar tidak dijaga secara maksimal?"
"Mengenai hal itu juga masih belum jelas, kan," Sakura menanggapi, "mungkin baru akan diinformasikan besok. Selain itu, kalaupun mereka tidak ada, pasti ada yang menggantikan. Kakashi-sensei dan yang lainnya juga hebat."
Ino menatap Sakura seakan-akan ada yang terlupa, membuat Sakura heran. Sejurus kemudian ia nyengir lebar, kali ini merasa puas seperti baru mendapatkan bahan buruan. "Ne, Sakura, kau lupa satu hal."
Sakura, kelihatannya masih belum mengerti, mengerutkan kening. "Apa?"
"Kalau latihan khusus dimulai, berarti pacarmu itu pergi juga, dong? Apa tidak akan kangen?" tanya Ino dengan gaya sok polos. Di sudut kamar, Hinata yang mendengarnya menjatuhkan sprei yang baru saja akan ia masukkan ke lemari, dan menahan tawanya sampai terbungkuk.
Sakura melotot mengerikan—meskipun wajahnya merah padam. "Kau ngomong apa, Ino!" Gadis itu tersengal-sengal mengumpulkan kata-katanya, kesulitan memilih kata apa yang hendak diucapkan. Entah karena marah atau juga karena malu. "Aku tidak punya pacar, mengerti?"
"Ah, iya, yaaaaa~" Ino, masih dengan gaya menyebalkannya—melirik ke arah paviliun para panglima jenderal, yang dari situ hanya terlihat lampunya saja—lirikannya sinis. "Kan, cowok banci itu masih juga belum mengatakannya secara tegas kepadamu. Ah, dasar cowok bodoh… nanti Sakura diambil orang, tahu rasa. Huh!" Ia menjulurkan lidahnya sebal, meskipun ia tahu yang jadi objek ejekannya tidak akan melihatnya.
Hinata, kali ini sudah berhasil menahan tawanya, hanya tersenyum geli. "Em…menurutku mungkin Sasuke-san juga melihat keadaan, Ino-chan," katanya menimpali. "Lagipula, sekarang 'kan keadaannya sedang tidak mendukung untuk memikirkan hal-hal seperti…," Hinata tak melanjutkan perkataannya, "seperti…" telunjuknya berputar-putar, ragu. Dan ujung-ujungnya wajah gadis itu juga jadi sama merahnya dengan Hinata.
Ino mencibir dan mencondongkan tubuhnya ke arah Hinata, "Aah, kau juga sama saja sih, Hinata. Dasar! Maksudku… yah, memang sih, sekarang situasinya sedang sedikit tegang, tapi kelihatannya hubungan kalian mereka kembali lagi seperti kemarin dulu. Padahal aku sudah senang kemarin ada kemajuan yang cukup berarti!" ia berkacak pinggang, menoleh ke arah Sakura, yang wajahnya masih merah padam.
"Uh… habisnya, mungkin karena kami jarang bertemu juga, rasanya aneh… lagipula, mungkin benar juga katamu, Ino," gadis itu membetulkan rambutnya canggung. "Mungkin karena saat ini hubungan kami bisa dibilang… tidak jelas…"
Yah, setelah kejadian kemarin—siapapun yang melihat, atau mendengar—atau bahkan mungkin hampir seluruh prajurit tahu di antara Sakura dan panglima jenderal yang kaku itu tidak hanya sekedar saling mengenal saja. Sakura sebenarnya sudah memikirkan yang macam-macam saat Sasuke bersamanya di Dojo tadi siang, namun ia juga tidak berani berharap. Lagipula, benar kata Hinata, pikirnya, saat ini bukan waktunya untuk memikirkan hal-hal seperti itu. Urusan kenegaraan jauh lebih penting.
"Dan… Sakura-chan, kurasa kau tak perlu cemas," suara Hinata membuyarkan lamunannya. Gadis bermata lavender itu tersenyum, lalu menyentuh punggung Sakura lembut. "Sasuke-san memang bukan orang yang selalu mengungkapkan jujur apa yang ada di hatinya. Tapi kau dapat merasakannya, kan?"
Wajah Sakura memerah lagi. Sementara Ino masih mengomel di belakangnya ("meskipun bisa dirasakan, tapi lelaki itu harus berani! Iya, kan!"). Yah, dia memang sudah tahu kalau Sasuke begitu. Sulit untuk mengatakan apa yang ingin dikatakan. Namun ia juga tahu, Sasuke melakukannya dengan caranya sendiri. Dan tiba-tiba saja ia merasa terlalu banyak menuntut—serta berharap.
Tak apa-apa, bukan? Untuk sekarang, setidaknya itu sudah cukup.
"Sepertinya sedang terjadi obrolan antar gadis di sini, ya?" tiba-tiba terdengar sura pintu bergeser. Ketiga gadis itu terlonjak kaget dan langsung menoleh ke arah darimana suara itu berasal. Dan mengetahui siapa yang datang, membuat wajah ketiganya makin kaget lagi.
"Yang mulia Permaisuri!"
KAKASHI menarik napas dalam-dalam. Ruangan itu kosong sekarang, hanya ada dia sendirian. Ia membuka satu-satunya jendela yang ada di sana. Udara malam berhembus memasuki ruangan. Hari-hari di musim panas memang aneh; siang hari terasa begitu terik, sementara di malam hari cuaca langsung jatuh dan membuat orang kedinginan, namun tetap lembap dan lengket. Kakashi melirik meja yang tadi digunakan tempat rapat. Masih ada teh dan beberapa penganan yang tersisa. Ia menarik sebuah kursi, lalu duduk sambil memandang langit yang berhiaskan bulan sabit. Pikirannya melayang entah ke mana.
Di antara potongan-potongan pikirannya, ada ingatan tentang masa lalu. Saat yang menerima latihan khusus ini bukan Sasuke dan teman-temannya, melainkan dia. Kakashi dan rakan-rekan sejawatnya, semua menerima latihan khusus yang juga diberikan Jiraiya—dalam rangka pecahnya pemberontakan yang pertama.
Lalu perang itu meletus. Memang tidak terjadi di seluruh negara, hanya di daerah barat. Pihak pemberontak berusaha mengorek rahasia keluarga Kaisar—menyebabkan Keluarga Uchiha, salah satu keluarga yang dipercayai untuk hal-hal rahasia kekaisaran, dibantai habis. Termasuk rekan sejawatnya.
Sahabatnya.
Kakashi menarik napas lagi. Saat ini keadaan pun hampir sama seperti waktu itu, batinnya, membuat ia mengira-ngira, apalagi yang akan terjadi. Apakah mungkin, perang akan kembali pecah di Konoha—seperti dulu?
Tidak. Jangan sampai. Ia menggelengkan kepalanya. Terlalu banyak nyawa yang harus dikorbankan hanya demi kekuasaan. Yang pasti ia tak akan membiarkan pencetus gerakan pemberontakan yang hanya haus kekuasaan dan kekuatan merebut tampuk pemerintahan Konoha. Kehidupan harus terus berlanjut. Dan pergantian generasi itu akan menimbulkan korban, pasti—tapi tidak harus dengan perang, bukan?
Kami semua-lah yang akan melindungi negara, seperti yang dulu sering kau katakan padaku dengan gembira dan bangga…
Mataya sekilas menangkap plakat peringatan bagi para prajurit pemberontakan pertama yang diletakkan tengah ruangan itu.
Ya kan, Obito?
"AH, menyenangkan sekali jadi anak muda,"
Permaisuri tersenyum penuh arti, memperhatikan ekspresi anak tunggalnya yang salah tingkah. Wajah Sakura merona merah, tidak tahu harus membantah apa. Sepertinya Ibunya memang mendengar sebagian percakapannya tadi. Ino dan Hinata sudah kembali ke paviliun mereka, setelah menyiapkan kue dan teh untuk Ibu Sakura.
"Sudahlah, Ibu… jangan memandangku terus seperti itu!" Sakura merengut, tampak tak nyaman dengan cara Ibunya memandangnya.
Permaisuri tertawa lagi melihat reaksi anaknya. "Aku juga jadi ingat waktu pertama kali bertemu dengan ayahmu di istana… rasanya berdebar-debar, tapi lima menit kemudian suasana berubah jadi menyebalkan karena dia ketus sekali!" wanita setengah baya berambut merah muda itu mengibaskan rambutnya kesal mengingat masa itu.
Giliran Sakura yang tertawa. "Ibu juga mengalami masa-masa seperti itu?"
"Tentu saja, mengapa tidak?" Ibunya berkacak pinggang, separo-bangga. "Waktu itu memang masa perang saudara Konoha yang kedua, dan pemerintahan tidak begitu bagus. Tapi tak akan ada yang bisa menghalangi wanita untuk mendapatkan cinta!" ia berkata dengan semangat sambil setengah menggebrak meja, membuat Sakura mundur selangkah karena kaget.
"Tapi ceritanya agak berbeda, sih. Karena zaman kacau waktu itu, ayahmu yang putera mahkota diminta segera menikah dan punya anak untuk mengamankan keturunan kekaisaran. Dan aku adalah anak gadis yang dipilih oleh mereka. Kami dijodohkan—tidak seperti kau yang sekarang kami bebaskan."
Sakura memang sudah banyak diceritakan soal ini, namun setiap kali mendengarnya, selalu ada detail yang belum diceritakan, sehingga ia masih saja tertarik. "Ibu bilang berdebar, padahal kenyataannya Ibu kan dijodohkan. Kalau aku sih, sama sekali tidak terpikirkan untuk mendapatkan suami dengan cara seperti itu…" komentarnya sambil meminum tehnya.
"Orang selalu bilang begitu, bahwa dijodohkan itu tidak baik, melanggar hak wanita, dan sebagainya. Begitu pula yang aku pikirkan dulu," jelas Ibunya, pikirannya menerawang. Mungkin memikirkan lagi seperti apa kehidupannya sewaktu masih muda dulu. "Tapi kalau dipikir-pikir, itu bagus juga. Awalnya kami tidak cocok, sih—" wanita itu tertawa lepas. "Tapi coba lihat sekarang. Bagaimana menurutmu?"
Sakura balas tertawa. "Iya, sih. Kalian tampak baik-baik saja—meskipun kalian jarang punya waktu untuk bersama anak, sih." Ia nyengir, membuat permaisuri berjengit mendengar sindiran Sakura ("ah, jangan berkata kejam begitu, dong!")
"Ayo kemari, Sakura," Permaisuri tersenyum, menepuk-nepukkan tangannya ke pangkuannya. "Sudah lama sekali aku tidak menyentuh rambutmu. Ayo, sini."
Sakura tertegun. "Ada apa, Ibu? Tidak biasanya… lagipula itu dulu saat aku masih kecil, kan?" tanyanya heran.
"Memangnya kalau sudah besar tidak boleh, ya?" Permaisuri mengerucutkan bibirnya, memasang wajah sedih. "Jadi, kau sudah tidak sayang lagi pada Ibu, ya… memang, aku ini Ibu yang sibuk, tidak bisa mendidik anak…"
Ekspresi Ibunya itu berbalas tawa kecil. "Tentu saja aku mau!" Sakura tersenyum lebar dan merebahkan diri di pangkuan Ibunya. "Aku juga kangen masa-masa seperti ini."
Ibu Sakura tersenyum lembut. Jemarinya menyisiri rambut Sakura penuh sayang. Sakura merasa matanya ingin terpejam. Memang, waktunya bertemu dengan orang tua sangatlah sedikit—ia memaklumi itu, bahkan sudah beberapa hari ini ia tidak bertemu Kaisar, ayahnya sendiri. Pun baru malam ini ia berbicara panjang lagi dengan ibunya. Namun ia juga bahagia, karena biarpun mereka jarang bertemu, orang tuanya selalu berusaha memanfaatkan waktu itu dengan baik.
Sakura terkantuk-kantuk. Nyaman sekali disisiri oleh Ibunya, biarpun hanya dengan jari, tidak seperti yang dayang-dayang lakukan setiap hari. Namun rasanya lebih nyaman. "Yang penting dalam berhubungan dengan seseorang adalah saling mengerti, bukan? Seperti yang aku katakan kemarin." Permaisuri berkata pelan-pelan, sementara Sakura perlahan mulai memejamkan matanya.
"Lalu, bagaimana caranya Ibu bisa hidup dengan orang yang bahkan baru Ibu kenal sedikit saja waktu itu?" tanya Sakura.
"Sudah kubilang, kan? Rasanya kesal, tapi juga berdebar-debar. Usiaku baru saja enam belas tahun waktu itu, bahkan lebih muda daripada kamu sekarang." Permaisuri tertawa kecil. "Hidup bersama orang lain berarti juga berbagi. Kau mengetahui bagaimana kebiasaan baik dan buruknya, tabiat, dan bagaimana cara menghadapinya. Memang pasti awalnya terjadi banyak masalah, namun bila kita memutuskan untuk berbagi… maka semua akan terasa mudah. Termasuk soal ini," kata Permaisuri sambil memegangi perutnya.
"Ibu." Mata Sakura perlahan terbuka, pandangannya samar-samar. Dari jendela hanya terlihat bayangan pohon yang hitam. "Apa cinta itu bisa dibuat?"
"Kurasa bisa." Ibu Sakura tersenyum. "Hidup bersama, akan membuat kita mau tak mau terus memperhatikan, mengalami segalanya bersama. Dan memang, kala sudah setua ini, seperti aku—" ia menunjuk dirinya sendiri, "bukan cinta namanya. Tapi rasa sayang. Rasa lengkap bila sudah bersama suami atau istri, dan anakmu. Karena kau sudah terbiasa berbagi hidup dengan mereka."
Sakura tersenyum menanggapi. "Aku harap aku juga nanti bisa hidup bersama dengan orang yang seperti itu, Ibu."
"Dengan Sasuke, maksudmu?" sambar Ibunya langsung. Sakura, begitu mendengar nama itu keluar dari mulut Ibunya, langsung sibuk terbatuk, mengundang tawa kecil dari permaisuri.
"Uh… Ibu, mengapa langsung nama itu yang disebut, sih?" kata Sakura sewot, wajahnya merah padam. Duh! Beberapa minggu yang lalu, Ibunya tahu yang ia tanyakan bukan soal teman, tapi soal orang yang dia sukai. Dan sekarang lebih parah, Ibunya bisa menebak dengan tepat. Uuuh…
Ibu Sakura tertawa lagi. "Ah, jadi benar, ya? Memang sudah kuduga, lho," kata Ibunya penuh kemenangan, "lagipula, memangnya kenapa kau tak mau mengatakan tentang dia pada Ibu? Kau saja bercerita pada teman-temanmu, kan?" komentar Ibunya sambil mengejapkan mata, pura-pura tak percaya.
"Habis… aku kan malu," gumam Sakura pelan, "lagipula… yah, hubungan kami… tidak jelas… begitulah. Kadang jadi khawatir juga, kan, Bu?"
Permaisuri hanya tersenyum. "Ibu 'kan sering bertemu Sasuke juga, Sakura. Terlebih dalam acara-acara protokoler istana. Tapi… menurut Ibu sih, tenang saja," ujarnya. "Kau mungkin memang tidak mendengarnya, namun kau merasakannya, bukan?"
Ah, kata-kata Ibu sama seperti Hinata. Senyum manis terbentuk di bibir Sakura kali ini.
"Lagipula," lanjut Ibunya, "anak itu kan pendiam dan tidak macam-macam… jadi kurasa dia tidak punya kecenderungan selingkuh. Bagaimana menurutmu?"
"IBU!"
.
.
Tiga puluh menit kemudian, kepalanya terkulai di pangkuan Ibunya, lambat laun merasa makin mengantuk. Tangannya perlahan menyentuh perut Ibunya. Ia merasakan ada yang berbeda di sana. Operasi telah membuat bekas luka seperti parut di sana.
Bertahun-tahun yang lalu, saat melahirkan Sakura, penanganan medis istana terlambat karena Konoha baru saja pulih dari perang dengan Suna. Rahim permaisuri harus diangkat, menyebabkan ia tiak bisa melahirkan anak lagi. Untunglah, konstitusi Konoha tidak semata-mata hanya memperbolehkan lelaki untuk menjadi Kaisar. Wanita juga bisa menjadi kepala negara di Konoha.
"Ibu," bisiknya pelan, "ini… apakah sakit?"
"Pernah sakit." Permaisuri tersenyum, membelai lembut kepala anaknya. "Sekarang sudah tak sakit lagi."
Satu kalimat terakhir sebelum Sakura tertidur. "Maaf ya, Bu…" ia bergumam pelan, pelan sekali. "Karena melahirkan aku, Ibu jadi tidak bisa punya anak lagi…"
Beberapa saat kemudian, bunyi nafas halus terdengar dari Sakura, menandakan ia telah tertidur. Permaisuri terdiam sesaat, tangannya masih mengusap rambut Sakura. Wanita itu menunduk, diciumnya kening Sakura penuh sayang. "Aku tak pernah menyesal, Sakura," katanya lembut, "karena aku sempat melahirkan dan membesarkanmu."
Malam beranjak larut. Istana tampak damai dan sunyi. Satu hari lagi di musim panas akan terlewati. Dari kejauhan terdengar suara jangkrik dan burung malam. Di setiap sudut istana, terjadi perubahan. Lampu kamar Sakura telah dimatikan, gadis itu tertidur pulas di pangkuan Ibunya. Kakashi belum keluar dari ruang rapat biarpun rapat sudah lama berakhir. Kaisar telah kembali ke peraduannya, namun sepertinya tidak berniat untuk tidur. Hinata dan Ino kembali ke paviliun para dayang. Para panglima kembali ke paviliun mereka. Semua membawa pikiran dan pendapat masing-masing. Suasana belum tentu akan sedamai ini nantinya. Tak ada yang tahu kapan pihak musuh akan menyerang. Namun, paling tidak, sampai saat ini semua masih ada dan baik-baik saja.
to be continued
AN Your reviews! Aaaaaaa, your reviews are (one of) my greatest gift! Kalian ngasih saya semangat lagi, sumpah. Senang rasanya melihat review dari cerita ini mampir di inbox saya. Saya baca semuanya, sungguh! Thanks for Uchiha Cesa, popoChi-moChi , Angelove, Michi-chuu, Risle-coe, Dilia Shiraishi, Je-jess, .chiichii-chaan., Ella-cHan as NaGi-sAn , Kuroneko Hime-un , Micon, Kichan, Hyuuga Nala, Pluie, Karupin . 69, Smiley, Miyu201, widiii nateriver walker, dan semua yang telah membaca cerita ini, much thanks!
Terima kasih sudah membaca.
blackpapillon
