Kuroko no Basuke Fanfiction

Drabble - 26

Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi

Rating : T

Warning : AU!

Pair : AkaKuro

A/N : Holaaa, Minna-san~ karena ternyata banyak banget yang penasaran ama cerita kelanjutan di pesawat itu, pas B'day Tetsuya, makannya author ngelanjutin lagi ceritanya. Salah satunya juga fic req dari Kanae Miyuchi yang ternyata req mfayumu juga pas author baca lagi O.O author ga nyadar ya ampunn..gomennn DX #duaghhh. Semoga kalian puas sama endingnya ya OwO)/

Buat Just-Sky, author sudah masukan list req-nya, arigatou~~ silahkan tunggu tanggal mainnya ya XD

Thank You for all review, fav, alert, follow, and all silent readers, Thank you for all support.. I'm happy that you all enjoy this story :3
Arigatou ~ Author will be waiting for your review ;))

Happy Reading, all..

With Love,

Zelvaren Yuvrezla a.k.a ren-chanz


Bagiku, saat-saat memori bersama Seijurou-kun adalah memori yang paling terindah dalam hidupku. Selain kenangan yang dibuat dari keluarga tentunya, satu-satunya kenangan termanisku hanyalah pada saat bersama dengannya.

Hari ini adalah hari ulangtahunku, sudah ganjil 3 tahun aku bersama dengan Seijuurou-kun.

Dan hari ini seharusnya menjadi hari yang special bagiku. Karena Seijuurou-kun akan pulang ke Tokyo, dan kami—bersama anggota Kiseki no Sedai akan menginap selama 3 hari 2 malam di pulau khusus keluarga milik Akashi.

Kukira ini adalah salah satu rencana Seijuurou untuk merayakan hari ulangtahunku, bersama anggota Kiseki no Sedai. Namun, tepat sebelum senja muncul, aku bermimpi sesuatu yang sangat buruk. Aku, Seijuurou-kun dan para anggota Kiseki no Sedai menaiki pesawat pribadi milik Seijuurou-kun seperti yang sudah dijanjikan olehnya. Tetapi, ditengah perjalanan Seijuurou-kun menghilang.

Dan aku mengetahui bahwa ada surat kabar yang mengatakan bahwa pesawat yang membawa Seijuurou-kun kembali ke Tokyo menghilang secara misterius. Tak lama setelah itu aku langsung terbangun, menelepon langsung kepada Seijuurou-kun apakah ia baik-baik saja sekarang.

Tunggu—

Ada sesuatu yang janggal bagiku. Aku terbangun tepat pada pukul 3 dan langsung menelopon-nya.

Menelepon..?

Jam 3? Bukankah—Seijuurou-kun baru akan sampai ke Tokyo pada jam—6?

- xXx -

Kuroko Tetsuya cepat-cepat membuka matanya. Memang sejak tadi ia sudah terbangun, tetapi ia masih ingin terbuai dalam dunia mimpinya. Namun, rasa ketakutan kini kembali menerjang pikirannya. Cepat-cepat ia meraih ponsel yang berada di sebelah bantalnya saat ini.

Jam 7.15

Cepat-cepat pemuda bermanik Baby Blue itu menekan tombol panggilan pada ID kekasihnya itu. Namun berapa kali ia menghubunginya, tidak ada seorangpun yang mengangkat panggilannya itu. Cepat-cepat Kuroko segera menelepon kediaman Akashi. Dan hal yang sama pun terjadi, tidak ada seorangpun yang mengangkat telepon tersebut.

Kuroko Tetsuya langsung membuang ponselnya ke kasur, ia segera berdiri dan keluar kamar, menuruni tangga dan menuju dapur.

"Ara~ Tetsuya, ada apa kau buru-buru seperti itu, sayang?"

"Okaa-san, Ohayou," jawab Kuroko dengan cepat. "Apakah ada berita tentang kecelakaan pesawat atau sebagainya? Dimana Koran hari ini, Kaa-san?"

Manik Baby Blue milik Ibunya kini memandang heran anak tunggalnya itu.

"Kaa-san dari tadi menyetel TV, tetapi tidak ada berita tentang kecelakaan pesawat, Tetsuya. Dan, ini Koran hari ini." Ucap ibunya sambil menyerahkan Koran tersebut.

"Terimakasih, Okaa-san," Kuroko langsung mengambil Koran tersebut dan membuka lembaran demi lembaran, mencari headline bila sesuatu yang dipikirkannya itu terjadi. Dengan teliti ia mencari, dan tidak menemukan apapun yang berhubungan dengan pesawat. Kuroko kini bernafas lega.

"Tetsuya? Ada apa? Kenapa mukamu pucat sekali?"

"Begini Okaa-san," Kuroko kini meletakkan korannya, menatap wajah Ibunya. "Hari ini aku bermimpi buruk. Seijuurou-kun kecelakaan pesawat dan menghilang, Kaa-san."

Ibunya kini melembutkan ekspresinya, ia mendekati anaknya sambil memeluknya dengan lembut.

"Sayang, itu hanya mimpi, jangan menjadi paranoid seperti itu dong. Sei-kun baik-baik saja kok, 45 menit lalu ia menelepon kemari, ia bilang ia baru sampai dan akan beristirahat dulu sebentar. Karena ia tidak ingin membangunkanmu, makannya ia menelepon kemari."

"B—Benarkah, Okaa-san?"

"Kenapa Okaa-san harus berbohong padamu, Tetsuya?" Senyum Ibunya lembut sambil melepaskan pelukannya. "Karena hari ini anak Kaa-san sedang berulangtahun, kau harus ceria dong."

"Ah—"

"Otanjoubi wa Omedetou, Tetsuya." senyum Ibunya sambil mengelus kepalanya.

Pemuda bersurai Icy Blue itu langsung memeluk kembali Ibunya sebentar.

"Arigatou, Okaa-san."

"Nah, karena hari ini adalah hari special untukmu, Kaa-san akan membuatkan Vanilla Hot Milk ya."

Wajah yang senang tidak dapat terhindar dari rona muka Kuroko Tetsuya saat ini. Ketika Ibunya mulai mengeluarkan Vanilla Milk dari kulkas, ia kembali berbicara.

"Kaa-san, aku ingin mengucapkan terimakasih untuk Kaa-san."

"Hmm? Kenapa, Tetsuya?"

"Karena—Kaa-san sudah membiarkan aku dan Seijuurou-kun bersama, meskipun akhirnya Kaa-san berpisah dengan Tou-san karena masalah ini. Tapi, mengetahui Kaa-san tetap menerimaku apa adanya membuatku sangat bahagia memiliki Kaa-san seperti Okaa-san."

Pandangan Ibunya kembali melembut.

"Kau bicara apa, Tetsuya. Tentu saja aku akan membelamu, karena kau adalah anak Kaa-san. Apapun yang terjadi, dengan siapa kau berhubungan, asalkan orang itu bisa membahagiakanmu, Kaa-san pasti menerimanya. Jangan seperti Kaa-san yang salah memilih pasangan. Lagipula, Kaa-san berpisah dengan Tou-san karena Okaa-san merasa sudah tidak cocok dengannya, bukan karenamu, Tetsuya."

Kuroko tersenyum simpul. Meskipun ia tahu mungkin 1/3nya tentu adalah masalah yang timbul darinya.

"Sudah, cepat sarapan, dan bersiap-siap. Nanti siang Sei-kun akan menjemputmu kemari, Tetsuya."

Pemuda bersurai Icy Blue itu kembali menundukkan kepalanya, ia tersenyum lembut. Ia beruntung mempunyai sosok seorang Ibu yang sangat menyanyanginya.

- xXx -

Sesuai yang dikatakan oleh Ibunya, pada siang hari, bel berbunyi di kediaman Kuroko.

"Kaa-san, biar aku yang membukakan pintu!" teriak Pemuda bermanik Baby Blue tersebut sambil menuruni tangga dengan cepat.

Entah mengapa, jantung pemuda bersurai Icy Blue itu berdetak dengan cepat. Dengan segera ia membuka pintu utama di kediaman Kuroko. Saat itu juga, ia menemukan sosok yang amat dikenal olehnya. Pemuda bersurai Scarlet dengan pantulan Heterochrome-nya memandang dengan lembut sosoknya ketika ia keluar.

"Seijuurou-kun?"

"Tetsuya." tuturnya sambil tersenyum.

Seketika itu juga Tetsuya langsung memeluk tubuh Akashi Seijuurou dengan erat. Selama beberapa detik mereka berdiam dalam posisi seperti ini. Tiba-tiba sebuah kekehan kecil terdengar di telinga Kuroko.

"Kau kenapa, Tetsuya? Hari ini kau tampak Clinging sekali. Meskipun aku tidak keberatan sih." Lanjutnya masih setengah tertawa kecil.

Cepat-cepat Kuroko menarik tubuhnya untuk memandang pemuda didepannya ini. Tangan Akashi masih melingkar di pinggang milik Kuroko.

"Karena aku bermimpi buruk hari ini," tuturnya sambil mengembungkan pipinya. Namun, tak lama wajahnya berubah menjadi khawatir. "Kau Seijuurou-kan? Kau masih hidup sekarang, kau tidak akan menghilang dan tidak akan pergi kemanapun 'kan?" ucapnya sambil menyentuh pipi milik Akashi.

Tangan Akashi kini memegang tangan milik Kuroko. Ia tersenyum kecil, meraih tangan itu sebelum meletakannya di depan dadanya. Akashi kini menutup matanya. "Kau bisa merasakan bukan? Detak jantungku saat ini. Aku disini, Tetsuya."

"Kau tidak akan pergi kemanapun, 'kan, Seijuurou-kun?"

"Aku disini." Ucap Akashi sambil kembali memeluk Kuroko dalam dekapannya.

"Ehmm.." suara lain kini muncul dibelakang mereka berdua. "Tetsuya, Sei-kun, Kaa-san sih tidak mempermasalahkan kalau kalian mau ber-romantis-ria didepan, tapi, kasian Sei-kun yang baru datang, pasti lelah 'kan?"

"Ah!" Kuroko Tetsuya kini menarik kembali tubuhnya. "Maaf, Seijuurou-kun, aku—" Jari Akashi kini menempel di muka bibir pemuda bersurai Icy Blue tersebut, menandakan untuk tidak melanjutkan kembali perkataannya.

"Tidak apa, kok, Okaa-san." Balas Akashi dengan lembut. "Lagipula karena sudah lama tidak bertemu dengan Tetsuya, aku sangat ingin memeluknya."

Ibu Kuroko kini tertawa kecil. "Baiklah, baiklah.. ayo masuk, kalian berdua~ dasar sepasang lovebird yang tidak bisa terpisahkan ya."

Sontak, muka Kuroko kini merona.

"Ngomong-ngomong, Seijuurou-kun," Ucap Tetsuya sambil memasuki rumahnya. "Bukankah penerbanganmu dari jam 10-jam 6? Mengapa sewaktu aku meneleponmu pada jam 3, kau bisa mengangkatnya?"

Saat itu juga, langkah kaki milik Akashi terhenti.

"Seijuurou-kun?"

"Ada—yang ingin kubicarakan denganmu nanti, Tetsuya, berdua."

"Tetsuya, Sei-kun, kalian berdua keatas dulu saja, Okaa-san akan menyiapkan kue dan minuman." Teriak Ibunya dari arah dapur.

Kuroko Tetsuya kini menelan ludahnya. Kenapa suasana mereka berdua saat ini berubah menjadi mencekam seperti ini? Seolah—seolah apa yang dimimpikannya mungkin akan menjadi kenyataan. Dimana saat mereka berdua berbicara, Seorang Akashi Seijuurou akan kembali menghilang dihadapannya.

- xXx -

"Alasan mengapa aku bisa mengangkat teleponmu saat itu karena—" ucapan Akashi terhenti. Ia memandang Kuroko Tetsuya yang kini memeluknya dengan erat.

"—karena ini."

"Eh?"

Akashi Seijuurou kini mengeluarkan sebuah box kecil dari sakunya.

"Memang perjalanan pulang ditempuh selama 8 jam, tetapi aku memang meminta untuk berhenti di sebuah pulau untuk mengambil ini."

Akashi kini membuka Box tersebut.

Sepasang cincin dengan ukiran 'Seijuurou & Tetsuya' kini tersimpan dalam box tersebut.

"S—Seijuurou-kun? Ini.."

"Ini adalah hadiah ulangtahunmu, Tetsuya. Cincin sebelum kita menikah nanti, kuharap kau bisa menjaganya dengan baik."

Jujur, Seorang Kuroko Tetsuya bahkan tidak bisa mengira apa yang akan diperbuat oleh kekasihnya ini. Begitu banyak kejadian-kejadian yang tidak terduga saat ia bersama dengan Akashi Seijuurou.

Tangan Akashi kini memakai salah satu cincinnya, setelah itu dia meraih lengan kanan milik Kuroko.

"Otanjoubi wa Omedetou, Tetsuya." Senyumnya sembari memakaikan cincin tersebut ke jari manisnya, kemudian mengecupnya dengan lembut.

"B—Bagaimana ini, Seijuurou-kun.."

"Apa apa, Tetsuya?" sebelah alis milik Akashi kini terangkat.

"Jantungku.. berdegup sangat cepat." Ucapnya dengan muka yang merona, ia menutup mukanya dengan kedua tangannya.

"Tetsuya," bisik Akashi disebelah telinga milik Kuroko. "Biar kutunjukkan hal yang bisa membuat jantungmu bertedak lebih cepat lagi." Ucapnya sambil menurunkan kedua tangan milik Kuroko, tidak lama ia langsung mengecup pipi pemuda bersurai Icy Blue dengan lembut.

~Owari~