Disclaimer: I am not, in any way, take any profit from the story and that all creative rights to the characters belong to their original creator(s). Naruto © Masashi Kishimoto.
Jejak Bulan di Atas Air
blackpapillon
22. Persiapan
.
.
NARUTO membuka matanya dengan perasaan enggan. Rasanya ia baru tidur sebentar, namun apa boleh buat, seekor burung yang sedari tadi mengetuk-ngetuk jendela kamarnya akhirnya membuat dia bangun juga. Ia menggeliat di kasurnya seperti siput, dengan malas membuka gorden dan melihat seekor elang berwarna cokelat hinggap di kusen jendelanya.
Lelaki berambut pirang itu segera mengenali hewan itu. "Hai, Naruto Junior, selamat pagi!" Sapanya riang, sambil mengenakan sarung tangannya yang terbuat dari kulit. Sejurus kemudian, burung elang itu langsung hinggap di tangannya. Di kaki hewan itu terikat sebuah gulungan kecil.
Naruto mengerutkan kening. "Oh, ada surat untukku rupanya. Pantas, tumben sekali kau datang kemari pagi-pagi," dengan sigap, Naruto melepaskan gulungan itu dari kaitannya. Lalu membacanya. Gulungan itu disegel dengan segel khusus istana, berarti pasti ini soal latihan itu, Naruto bergumam. Ia berjalan ke luar kamarnya, membuka pintu depan, menghirup udara segar dan mulai membaca.
Gulungan di tangannya tidak tebal-tebal. Pun isinya pendek saja, mengenai peserta dan petunjuk teknis latihan nanti. Sore ini, mereka akan berangkat. Di sana juga tercantum siapa-siapa saja pihak dari kerajaan yang akan ikut. Naruto mengangkat alis membaca pesertanya.
Naruto baru saja akan berteriak membangunkan seisi rumah saat bunyi cklek terdengar dari kamar di paling ujung. Sasuke keluar dari kamarnya, masih dengan wajah mengantuk. Melihat Naruto di pintu depan, ia mengernyitkan dahi. Wajar, karena tidak biasanya rekan sejawatnya itu sudah bangun pukul segini—yah, biasanya, si rambut pirang itu memang selalu bangun paling akhir. Seringnya ia baru bisa bangun setelah disiram dengan air seember—tanpa belas kasihan—oleh Neji.
"Ngapain kau, pagi-pagi begini?"
"Ah, rupanya kau sudah bangun, teme," Naruto menggoyang-goyangkan gulungan yang ada di tangannya, membuat pusat perhatian Sasuke beralih ke gulungan itu. "Aku bangun karena ini. Petunjuk teknis latihan khusus sudah keluar, dan kita akan berangkat sore ini."
"Kita 'kan tidak usah bawa apa-apa," Sasuke berkomentar sembari mengambil gulungan itu dari tangan Naruto. "Kepastiannya siapa saja yang ikut?"
Wajah Naruto berubah senang saat Sasuke menanyakan hal itu. "Kau pasti senang, deh, permintaanmu rupanya dikabulkan."
"Apa?"
Naruto cuma nyengir kuda melihat ekspresi Sasuke yang makin kebingungan. "Yang ikut dari Konoha. Selain kita, Sai, Neji, Shikamaru, dan Kakashi-sensei…" lelaki berambut pirang itu berdehem seakan yang dia katakan adalah hal super penting, "Gaara rupanya ikut juga dalam sesi latihan ini."
Sasuke hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
Naruto menyeringai melihat kelakuan sahabatnya itu. "Coba kutebak. Kau pasti senang karena akhirnya ada kesempatan untuk mengadu kekuatanmu dengannya, kan?"
"Hn."
"Kau akan mencari kesempatan untuk bertarung dengannya untuk membayar hutang kau diselamatkan waktu itu, kan?"
"Hn."
"Kau akan melakukannya biarpun si Sennin mesum atau Kakashi-sensei melarangmu, kan?"
"Hn."
"Dan kau akan bisa membuktikan bahwa kau lebih pantas untuk Sakura-chan dibandingkan dia, kan?"
"Hn—OI!"
Naruto hanya tertawa keras sambil melenggang ke dapur, sementara Sasuke, rambutnya berantakan, masih memakai pakaian tidur, di ruang depan, mengutuknya dengan wajah yang memerah.
.
.
SAKURA duduk tempatnya, menatap Ayahnya, yang duduk beberapa meter di sebelah kanannya. Lalu pandangannya beralih ke Ibunya, yang meminum tehnya dengan tenang. Pagi ini terasa aneh. Sebenarnya keadaan cuaca sih biasa-biasa saja, kecuali setelah sekian hari, mereka bertiga bisa duduk di meja makan yang sama.
Bukannya biasanya ia sarapan bersama orang tuanya setiap pagi, sih. Sakura lebih sering melewatkan sarapannya di kamar, ditemani oleh Hinata dan Ino. Sebetulnya ia ingin sekali sarapan bersama dayang-dayang lainnya di paviliun, namun apa boleh buat; para dayang sudah selesai sarapan sebelum waktu mereka bekerja sejak sebelum fajar. Hinata dan Ino pun hanya sekedar menemani saja.
"Sudah lama kita tidak sarapan bersama begini," ujar Kaisar di sela suapannya, "waktu berlalu begitu cepat dan aku sedikit menyesal mengutamakan pekerjaanku. Mungkin saja aku tak akan punya waktu untuk sarapan bersama kalian lagi."
"Jangan bicara begitu, Ayah. Paling tidak kita masih diberi kesempatan untuk sarapan bersama hari ini. Iya, kan, Bu?" Sakura tersenyum. "Lagipula Ayah 'kan mengurus negara sehingga membuat Ayah harus meninggalkan kami sebentar."
Kaisar menghela napas. "Aku merasa akan terjadi sesuatu," gumamnya. "Maka dari itulah aku memanggil Jiraiya, karena merasa khawatir dengan perkembangan yang terjadi di Konoha akhir-akhir ini. Posisi pemerintah sedang melemah karena serangan yang terjadi kemarin. Kondisi rakyat secara psikologis sedang terancam."
Makanan Sakura terasa tertahan. Dampak lain dari serangan pemberontakan itu mulai terasa. Di beberapa daerah muncul demo yang menyatakan keinginan negara untuk segera menghentikan gerakan itu. Terlebih pelopor pemberontakan ini memiliki pelaku yang sama seperti bertahun-tahun yang lalu. Memang, pemberantasan dan rehabilitasi korban yang cepat sedikit mengembalikan prestise negara. Namun, kenyataan bahwa satu desa telah berhasil diberangus, tak urung membuat keberadaan pemerintah di hadapan rakyat melemah.
"Berhati-hatilah dengan kesehatanmu, Yang Mulia," Permaisuri berkata setengah menegur. "Pertemuan yang sering sepertinya membuat anda sedikit kurang segar."
"Benar, Ayah. Aku tahu Ayah mengkhawatirkan keberadaan negara, tapi Ayah juga harus menjaga kesehatan, bukan?" tambah Sakura.
Menanggapi ocehan keluarganya, Kaisar terkekeh. "Benar. Lagipula, selain negara, aku juga punya kalian untuk aku lindungi, ya. Karena kita tak tahu kapan bahaya akan datang." Ia berkata ringan, memasukkan suapan makanannya yang terakhir.
Sakura berhenti menyuapkan makanannya. "Apa keadaannya memang sudah segawat itu?"
"Antara ya dan tidak," jawab Kaisar, "lihat, kita masih bisa tenang makan pagi di suasana yang seperti ini, bukan? Namun kita tidak tahu apa yang terjadi di dalam. Kalau mau terus terang, ya, mungkin perang bisa meletus sewaktu-waktu. Dulu pencetus pemberontakan itu menghilang begitu saja. Dan sekarang kita sudah tahu sifatnya; daripada merebut kekuasaan, aku lebih suka mengatakan bahwa dia haus darah dan senang memainkan nyawa manusia."
Sakura bergidik. Mereka, penghuni istana, memang masih bisa tenang-tenang saja. Menikmati makan pagi dengan tenang dan dilayani. Pun hingga saat ini, belum ada tanda-tanda lagi kapan pihak 'mereka' akan kembali menyerang. Sementara, keberadaan mereka masih misterius. Terlebih sepertinya selain ingin mendapatkan kekuasaan atas Konoha, mereka senang bermain-main.
"Sakura, kalau begitu jangan lupa memberi salam pada mereka, ya?" suara Permaisuri memecah keheningan. Melihat ekspresi heran di wajah Sakura, ibunya tersenyum lebar. "Sore ini, mereka akan berangkat. Kau mungkin tak akan melihat mereka selama satu bulan ini, jadi siap-siap saja." Wanita setengah baya itu mengedipkan sebelah matanya saat mengatakan hal itu.
Kaisar mengangkat alis. "Ha? Siapa memangnya? Memangnya kenapa? Bukankah sore ini adalah hari keberangkatan tim yang akan berangkat ke Hutan Hitam untuk latihan khusus?" tanyanya bertubi-tubi, masih tak mengerti dengan apa yang dikatakan istrinya.
Permaisuri hanya tersenyum kecil. "Anda memang kurang peka, Yang Mulia. Padahal Sakura sudah berusia sembilan belas tahun sekarang. Dan anak gadismu ini ternyata sudah bisa jatuh cin…"
"IBU, SUDAH KUKATAKAN—"
.
.
"JADI, kau juga ikut dalam latihan khusus itu?" Sakura mengejapkan matanya. Pertanyaan itu berbalas anggukan kecil Gaara. "Mengapa? Kukira hanya para jenderal Konoha saja yang ikut."
Gaara hanya mengangkat bahu. "Aku tidak tahu. Tapi kupikir ini kesempatan yang menguntungkan, karena mendapat kesempatan untuk berlatih secara khusus… dengan shinobi terkenal Konoha, pula. Meskipun sayang hanya aku yang mendapatkan kesempatan itu."
Sakura tersenyum menanggapi. "Lalu… Fuyu-chan akan kesepian. Iya, Fuyu-chan?" pandangan gadis itu beralih ke arah seorang gadis kecil berkimono merah, yang langsung bersembunyi di balik tubuh Gaara. Melihat hal itu, Sakura berubah sungkan. "—Aduh! Maaf, aku mengatakan hal seperti itu… tidak, tidak apa-apa, Fuyu-chan."
Seperti biasanya, Sakura berjalan-jalan keliling istana untuk mengecek keadaan—sesuatu yang menjadi rutinitasnya setiap pagi, menggantikan kedua orang tuanya yang memiliki banyak kegiatan di luar. Hari ini, ia memilih untuk pergi sendirian, setelah meyakinkan Ino dan Hinata serta orang tuanya tak akan ada yang mencelakakan dirinya selama ia masih berada di dalam istana sehingga ia tak perlu ditemani.
Selama ini, istan dikontrol oleh Sakura, sementara Kaisar menangani soal pemerintahan, dan Permaisuri ikut andil dalam berbagai kegiatan kewanitaan, dengan skala nasional. Dan seperti biasanya pula, ia mampir ke paviliun di mana Gaara, Kankurou, dan Temari tinggal. Seperti kemarin-kemarin, saat ia tiba, Gaara sedang bersama Fuyu di depan paviliunnya. Pada awalnya Tsunade berniat membawa gadis kecil berusia sepuluh tahun itu ke tempat pemulihan psikologis anak-anak seperti yang lainnya, namun karena Fuyu tidak mau lepas dari Gaara, akhirnya tabib utama istana itu mengizinkan Fuyu berada dalam pengawasan Gaara, dengan syarat setiap minggu harus memberikan laporan khusus. Dan Gaara sepertinya tampak tak keberatan dengan soal itu.
Gaara menatap lembut gadis kecil berambut pendek itu, mengusap rambutnya perlahan. "Aku sudah bilang, aku akan baik-baik saja," ia berkata pelan dan jelas. "Kau akan berada dalam pengawasan kak Temari dan kak Kankurou. Ya, kan?"
Fuyu nampak termangu. Namun tangannya tak mau melepas genggaman tangan Gaara. Gaara menghela napas panjang, mengalihkan perhatiannya ke arah Sakura. "Dia masih belum mau bicara."
Sakura mengangkat alis. "Begitukah? Kukira kalau denganmu, ia mau bicara."
"Tidak. Padahal sudah sebulan berlalu. Tsunade-san sudah mencoba mengadakan terapi wicara, namun tidak berhasil. Ia berkata penyebab Fuyu tidak mau bicara adalah masalah psikis dan sama sekali tidak terkait pada fisisnya… jadi kita hanya bisa bersabar." Gaara menjelaskan, mata hijaunya menatap gadis kecil berambut cokelat itu. Lalu pandangannya beralih pada Sakura yang duduk di sebelahnya. "Anda sendiri, bagaimana?"
"Eh?"
Lelaki berambut merah itu tak dapat menyembunyikan ekspresi gelinya kali ini. "Uchiha-san akan berangkat hari ini, apa Anda sudah menemuinya? Malah aneh Anda menemui saya lebih dulu."
Wajah Sakura merah padam. "Bahkan kau juga mengatakan hal yang sama seperti apa yang dikatakan teman-temanku? Aduuuuh!" keluhnya memukul pelan bahu Gaara, dalam usaha menyembunyikan rasa malunya, "…memangnya, apa salahnya kalau aku menemuimu lebih dulu? Tidak ada skala prioritas dalam soal teman-temanku."
Gaara menyeringai. "Kalau soal teman, anda benar," sahutnya melanjutkan godaannya, "tapi yang ini, bukan 'teman'… jadi…"
"Sudah cukup, Gaara-san!" potong Sakura cepat, "—tidak terjadi apa-apa, kok—"
Seringai cowok itu makin lebar. "Sakura-san," Sakura terkesiap mendengar Gaara memanggilnya dengan nama, "Kau tahu, ekspresimu selalu tergambar jelas di wajahmu."
Wajah Sakura merengut mendengar kalimat itu keluar dari bibir pria yang ada di sebelahnya, wajahnya masih terasa panas. "Aku tahu." Sakura akhirnya mengakui kekalahannya, "tapi… dia belum mengatakan apa-apa. Aku jadi merasa canggung dan tidak tahu harus berbuat apa."
"Lalu, bagaimana dengan dirimu sendiri?" pertanyaan itu memancing Sakura.
"Um, aku…" Sakura menunda kalimatnya sejenak, menggigit bibirnya, tampak ragu. Lalu ia merasakan wajahnya bersemu merah lagi. "Aku… aku menyukainya. Kau tahu, kan," ia melemparkan ekspresi 'kenapa-kau-tanyakan-lagi-soal-itu' ke arah Gaara. "Sebetulnya… aku tahu, aku tidak berhak bertanya padanya sekarang, 'kami' seperti apa… sedangkan keadaan negara sedang tidak jelas begini. Dan sekarang aku sedang kesal pada diriku sendiri karena berpikir seperti anak kecil begitu."
Gaara diam saja, melihat tangannya dimain-mainkan oleh Fuyu. Tangannya dibuat terkatup, lalu terbuka, terkatup, lalu terbuka lagi; jemari kecil anak itu bertautan dengannya, lalu terlepas, lalu bertaut lagi. Gaara tak menanggapi Sakura, hanya membiarkan gadis itu mengatakan apa yang ada di pikirannya.
"…aku tidak pantas menanyakan hal itu di saat seperti ini, kan? Lagipula, maksudku, aku tidak begitu yakin… apakah dia bersikap seperti itu karena aku ini adalah orang yang harus dia lindungi secara pekerjaan, ataukah… Ah, aku tidak tahu." Sakura memain-mainkan ujung kimononya resah. Ya, tidak pantas bila ia bertanya seperti itu, kan? Lagipula teman-teman, bahkan Ibunya, sudah berkata supaya yakin pada perasaannya sendiri. Dan kini, ia merasa menjadi begitu menuntut, karena keresahan itu tidak juga hilang dari kepalanya.
"Kalau begitu, pastikan saja sendiri," kata Gaara sambil menarik Fuyu ke pangkuannya, membuat Sakura tersadar dari lamunannya.
"Eh—apa maksudmu—"
Bibir Gaara membentuk satu senyuman tipis. "Wanita sering pusing gara-gara pikirannya sendiri, sedangkan pria lebih senang langsung bertindak daripada bingung. Tapi kurasa… Uchiha terlalu perhitungan." Pria itu menahan tawa kecil yang tiba-tiba saja ingin keluar. "Daripada susah-susah, lebih baik pastikan saja sendiri. Iya, kan?"
"Tapi…" Sakura masih memain-mainkan ujung kimononya ragu, "tapi…"
Gaara berpikir sebentar. "Kami—eh, dia—akan pergi sore ini, lho. Kau sudah mendengarnya, kan. Aku baru saja mendapatkan infonya dari burung kurir istana. Akan ada prosesi protokoler kecil sebelum pergi ke sana di lapangan depan istana, dan setelah itu kami akan pergi selama satu bulan. Karena keadaan sedang tidak stabil, belum tentu keadaan nanti akan setenang sekarang. Kau yakin?"
Sakura menunduk, kedua kakinya yang terbungkus tabi dan geta menggesek-gesek tanah. Tak ada yang yakin keadaan nanti akan setenang sekarang. Itu benar. Dan kalau kesempatan itu lewat…
"Kau yakin?" tanya Sakura sangsi.
Gaara menghela napas. Tangannya terulur, menepuk pelan kepala Sakura—membuat Sakura merengut, merasa diperlakukan seperti anak kecil. Melihat ekspresi seperti itu, Gaara hanya menyeringai. "Kau juga mirip seperti Uchiha, Sakura-san. Coba katakan saja dan kau akan merasa lega, kau mengerti?" ia menyeringai lagi melihat ekspresi Sakura yang tampak lucu. Ia menoleh ke salah satu sudut lapangan barat yang ada di hadapan mereka. "Lihat, latihan rutin para prajurit akan dimulai. Aku juga harus segera bersiap-siap."
"Oh, baiklah, baiklah. Ngomong-ngomong, aku juga harus segera ke sana." Sakura mengeluh saat tahu percakapan singkatnya dengan Gaara harus berakhir. "Euh, dan… Gaara-san," ia menoleh ke arah Gaara untuk terakhir kalinya sebelum ia pergi meninggalkan tempat itu. "Sebentar saja kau sudah agak berubah, apa ini akibat Fuyu ada di sisimu?"
Sekali lagi, Gaara hanya menjawabnya dengan senyuman tipis.
.
.
SUASANA lapangan barat lebih ramai hari ini. Sepertinya para panglima jenderal ingin memanfaatkan waktunya dengan baik sebelum pergi untuk training selama sebulan itu. Lapangan penuh dengan para prajurit shinobi berseragam Konoha, dengan tanda khas yang menandakan di pasukan mana mereka berada. Koor tentara yang meneriakkan jurusnya dan bunyi denting senjata terdengar dimana-mana. Semuanya sibuk berlatih, dan sesekali menghentikan kegiatannya, memberi salam pada Sakura yang lewat di sekitar mereka.
Sakura berjalan melewati kumpulan itu sambil sesekali menutup telinga, karena keadaannya benar-benar ribut dari biasa. Hampir seluruh anggota pasukan ada di sana hari itu—kecuali pasukan yang dipimpin Neji, karena pasukan Neji sedang mendapat giliran patroli keliling ibukota hari ini.
"Hinata! Ino!" Sakura berteriak kaget saat melihat kedua dayang itu berdiri di halaman dojo. "Kukira kalian tidak akan datang karena aku tidak minta ditemani, tapi ternyata kalian juga datang… ah!" mata hijau gadis itu membulat saat menyadari sesuatu. "Kalian ada perlukah?"
Ino dan Hinata berpandangan. Tampak salah tingkah, bahkan Hinata buru-buru pamit dari sana. "Ah—kami hanya menunggumu, Sakura. Kau bilang 'kan kau mau pergi sendirian, sedangkan ini juga sudah jadi jadwal kami setiap hari, jadi kami menyusul saja ke sini…" Ino menjelaskan dengan agak terburu-buru. "Ngomong-ngomong, kau baru dari mana, sih? Kok terlambat?"
Sakura tertawa kecil. "Aku tadi ke tempat Gaara-san, sekalian mengecek keadaan Fuyu-chan. Tahunya agak sedikit kelamaan, ya? Maaf. Lagipula aku tak menyangka kalian akan menyusul ke sini," ujarnya. Ia melongok ke dalam dojo, dan tersenyum lebar saat melihat Sai.
"Rupanya kita bertemu lebih pagi dari jadwal, ya, Sakura-hime," Sai menyapanya saat keluar dari dojo. "Kukira anda tak akan datang karena nanti sore kita akan bertemu dalam acara protokoler."
Gadis berambut merah muda itu tersenyum manis menanggapi. "Tentu saja tidak, Sai. Memangnya tidak boleh aku datang ke sini? Ini 'kan sama saja menemui teman. Nanti sore memang kita semua akan bertemu lagi, tapi pasti situasinya akan kaku dan menyebalkan."
Sai tertawa kecil. "Memang, sih… eh, apa anda kemari untuk mencari Sasuke-san?" mendengar pertanyaan itu, Sakura merasa wajahnya merona. Sai tidak menunggu gadis itu menjawab dan menyambung, "pagi ini Sasuke-san belum datang… dia sedang ada keperluan di kantor. Mungkin agak siang nanti."
"A-aaa… aku tidak mencarinya, kok! Kalau begitu, aku mau ke tempat Naruto dulu, ya! Sampai nanti!"
Sakura melambaikan tangannya sambil berlalu dari tempat itu. Sementara Ino melirik Sai yang hanya senyum-senyum saja melihat tuan puteri mereka tergopoh-gopoh pergi.
"Apa yang kau katakan?"
Cowok berkulit putih itu menoleh dengan gaya tak tahu apa-apa. "Tidak, kok. Aku bilang kalau mereka harus saling berpamitan di acara resmi kekaisaran saja, kasihan, 'kan…" ia menoleh lagi, lalu kembali melakukan kegiatannya pagi itu, membersihkan senjata-senjatanya.
"Seperti biasa, kau memang cepat memperhatikan orang lain." Ino menghela napas, lalu mengambil tempat duduk di sebelah Sai. "Mudah-mudahan Hinata juga dapat memberikan salamnya dengan benar hari ini, mumpung Neji sedang tidak ada untuk patroli. Iya, kan?" gadis berambut pirang itu terkikik geli membayangkan Hinata yang setengah mati cemas tadi malam. Neji pasti sedih kalau tahu yang dicemaskan Hinata bukan dia, tapi Naruto.
"Ahahaha… betul, semoga saja begitu, ya?" Sai tertawa kecil, membuat matanya menyipit. Tanpa sadar, bibir Ino menyunggingkan senyum tipis melihatnya. "Tenang saja. Tampaknya Neji-san juga memanfaatkan kesempatan patrolinya dengan baik."
"Maksudmu?" Ino mengernyitkan kening, tak mengerti.
Pertanyaan itu hanya berbalaskan senyum tipis, membuat Ino kesal namun juga membuat pipinya merona merah muda. Sungguh, Ino tak tahan kalau Sai mulai bersikap seperti ini. Lelaki itu memang menyebalkan. Agak sedikit lebih menyebalkan daripada Shikamaru, malah. Kalau reaksi Shikamaru masih bisa ditebak—sehingga ia bisa memperkirakan kapan ia harus memukulnya—reaksi Sai benar-benar tak bisa diperkirakan. Seringnya, lelaki itu hanya tersenyum, tersenyum, dan tersenyum saja.
Namun senyuman itu, Ino tahu—jarang sekali yang benar-benar "senyum". Tak pernah Ino memperhatikan seorang Sai sampai beberapa bulan yang lalu, dan gadis itu kini dapat melihat dengan jelas betapa lelaki itu jarang sekali tersenyum dari dalam hatinya.
Sai, menyadari diperhatikan seperti itu, menghentikan kegiatannya. Balas menatap mata pirus wanita di sampingnya. "Ada apa?"
Ino tersadar dari lamunannya dan langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak… tidak, kok. Aku hanya kesal, kau suka menggantungkan kalimatmu begitu!" cetusnya cepat mengalihkan pembicaraan.
Sai tertawa geli. Tangannya menepuk pelan rambut Ino yang panjang dan berwarna pirang. "Kau juga, mengapa masih di sini? Kau belum menemui Shikamaru-san, bukan? Mengobrol saja barang sebentar. Kalian 'kan tidak akan bertemu sampai sebulan nanti?"
Tubuh Ino terasa kaku. Kebingungan menguasai tubuhnya. Ia mencari-cari sosok yang tadi disebutkan—Shikamaru—di sekeliling lapangan. Sudah beberapa minggu ini sesi latihan Shikamaru bertambah. Tepatnya sih, karena Temari selalu penasaran mengajaknya latih tanding (dan rekor saat ini, Temari masih selalu jadi pemenangnya, sehingga Temari tidak puas apakah Shikamaru memang kalah atau sengaja mengalah).
Memang, kan? Sampai saat ini, mungkin hanya Sai yang tahu siapa yang sebenarnya ia sukai. Ia mati-matian menyembunyikannya. Bahkan Sakura, Hinata dan Tenten pun tidak mengetahuinya. Bukannya ia tidak ingin memberitahukannya. Hanya saja…
"Nanti saja, ah!" Ino memasang wajah ketusnya yang biasa, "aku lebih kasihan padamu, yang tidak punya orang yang akan melepasmu nanti sore!"
Pria berambut hitam itu tersenyum simpatik. "Oh? Jadi? Kau datang ke sini untuk melepas kepergianku? Oh, senangnya aku…" tangannya kembali menepuk kepala Ino seakan-akan yang ia ajak bicara adalah anak kecil saja. "Nah, terima kasih, Nona; aku akan baik-baik saja, jangan khawatir. Oke?"
"…bodoh! Siapa yang mengkhawatirkan kamu!"
"Lho? Jadi apa, dong?"
.
.
"HAI, Sakura-chaaan!"
Sakura bergegas menghampiri asal suara itu. Naruto tampak cerah pagi ini. Senyumnya terkembang lebar sampai sepertinya ingin menyaingi mentari pagi. Para anggota pasukannya sedang berlatih fisik—terbagi menjadi beberapa kelompok, mereka berlari keliling lapangan yang memang sangat besar itu.
"Ini hari terakhir, 'kan?" Sakura menepuk bahu lelaki itu, "sehabis ini kalian akan pergi selama sebulan, sih. Hm, pasti kami semua juga kesepian. Soalnya, lapangan barat tidak akan seberisik biasanya."
"Hahaha! Kalau berisik senjata sih tetap, toh penghuni lapangan hanya akan berkurang enam orang saja. Selama kami pergi, Kakashi-sensei, Iruka-sensei, Asuma-sensei, dan yang lainnya akan menggantikan kami mengawasi latihan rutin para prajurit—eh! Sakura-chan, kau sih memang suka begitu. Bilang saja kau akan kesepian karena Sasuke teme akan pergi selama satu bulan, iya kaaaaan?" Naruto melirik jahil Sakura, yang langsung merengut.
"Uh, entah sudah berapa orang yang mengatakan itu padaku hari ini!" Sakura mengerucutkan bibirnya sambil merutuk kesal, "padahal aku juga kan datang untuk bertemu teman-teman dan melakukan tugasku setiap pagi. Memangnya kalian tidak suka kalau aku kunjungi, ya? Huh!" gadis itu memasang wajah lucu, membuat Naruto tertawa.
"Heee, Sakura-chan. Jangan kira aku tidak mengenalmu, dong. Kalau kau bilang begitu, justru kau sedang menghindar untuk ditanya hal yang lain, betul 'kan?" Naruto menggoda gadis itu, dan kalimat itu mampu membuat Sakura mengaku kalah.
"Ya maksudku, aku 'kan ingin bertemu kalian juga…" Sakura merengut lagi, namun gagal menyembunyikan rona merah di pipinya. "Eh, tapi tadi Sai bilang, dia sedang ada keperluan di kantor istana, ya?"
"Iya, makanya dia tidak hadir di sini sekarang. Setelah ini kami juga ada briefing lagi, jadi mungkin kalian baru benar-benar bertemu nanti sore saat prosesi." Naruto nyengir melihat raut kecewa gadis itu. "O ya, aku titip ucapan terima kasihku untuk Hinata-chan, boleh tidak? Aku takut dia tidak datang ke acara sore nanti."
Sakura mengejapkan mata. "Memangnya ada apa?"
"Errr, sebenarnya…" Naruto merogoh kantung baju dan mengeluarkan sebuah kantung kain kecil sebesar telapak tangan. Sekali lihat saja Sakura tahu itu kantung sulaman tangan, dan agak gembung. Ada aroma khas yang menyeruak begitu kantung itu dikeluarkan; aroma bunga-bunga yang dikeringkan. "Tadi dia datang kemari dan memberiku ini. Aku belum sempat bilang terima kasih, tapi dia sudah buru-buru pergi."
Rasa penasaran Sakura pudar, digantikan senyuman lebar. "Ooooh, jadi tadi Hinata kemari untuk memberimu ini!" Ia melirik Naruto, yang ekspresinya terlihat aneh sekaligus lucu. "Itu bunga kering, ya? Jimat keberuntungan? Kau beruntung, Naruto!"
"Aa, tadi juga dia berkata begitu," Naruto menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, "aku tidak begitu mengerti barang-barang kesukaan anak perempuan, tapi mendapatkan hadiah itu menyenangkan! Rasanya ada yang selalu mendoakan aku nanti," cowok itu nyengir lebar, sambil melempar-lempar benda itu ke udara. "Tadi Hinata-chan pergi begitu saja, makanya aku ingin berterima kasih."
"Nanti aku tanyakan dulu saja apakah dia datang, kalau memang tidak datang, nanti aku akan sampaikan. Lebih baik kau sampaikan sendiri saja kalau bisa, oke?" kata Sakura akhirnya. Naruto mengacungkan jempolnya tanda setuju.
Sakura tersenyum melihat wajah riang Naruto. Naruto memang selalu ceria; kapan saja dan dimana saja. Apapun yang terjadi, bahkan mungkin perang sekalipun—ia selalu bisa menemukan cara untuk semangat dan ceria. Sayangnya, gara-gara itu juga mungkin dia jadi kurang peka, Sakura menatap Naruto yang masih melempar-lemparkan benda itu ke udara. Iya, kan? Kalau Hinata, mana bisa melakukan hal seperti itu dianggap biasa saja?
"Hei, Naruto! Itu kan pemberian, jangan dilempar asal begitu, dong!"
.
.
SIANG ini panas terik. Latihan sudah berakhir, asrama para panglima jenderal itu tampak lengang. Sai, Neji, dan Shikamaru ada keperluan. Hanya Naruto yang ada di ruangan itu sambil memakan cup ramen kesukaannya. Beberapa saat kemudian, terdengar suara pagar dibuka, dan Naruto melihat Sasuke yang datang.
"Kau baru kembali, teme?" Naruto menyapa cowok itu, "Dari mana kau? Akhirnya kau sama sekali tidak mengawasi pasukanmu latihan, ya. Untung tadi Sai menggantikanmu, berterima kasihlah padanya."
"Aa," Sasuke tergesa melepas sepatunya dan masuk ke dalam. "Setelah menyelesaikan urusan di kantor aku mampir sebentar ke rumah orang tuaku." Ia duduk di kursi ruang depan, diam agak lama—sepertinya hendak mengatakan sesuatu, namun ditahannya.
"Euh, Naruto…" kata-katanya kembali tertahan, "apa tadi pihak istana melakukan kunjungan seperti biasanya?"
Mata Naruto melebar, lalu ekspresinya berganti menjadi cengiran. "Eeeeh, teme, dasar kalian sama saja, sulit mengatakan langsung. Kau tanya saja apa Sakura-chan tadi datang, begitu. Repot amat sih kalian, aku sampai bingung mau menjawab apa saat kau bilang 'pihak istana'… cih." Ia nyengir lagi melihat raut wajah Sasuke.
"Jangan banyak bicara, katakan saja."
"Hahaha! Oke, baiklah. Tadi dia datang seperti biasa, kok. Katanya, ia ingin mengobrol dengan kita, daripada nanti harus bicara dengan gaya protokoler, lebih baik mengobrol seperti ini. Tapi, sayangnya kau tidak ada." Naruto berkacak pinggang seakan-akan Sasuke sudah melakukan sebuah kesalahan. "Tadi kelihatannya dia ingin bicara denganmu."
Sasuke melirik jam yang bertengger di dinding. Pukul satu siang. "Prosesi mulai pukul tiga sore, bukan?" Naruto menganggukkan kepalanya.
Mendapat respon itu, Sasuke bangkit dari kursinya, memakai lagi sepatu yang baru saja dilepasnya, dan kembali keluar. "Hei, hei, mau kemana kau, teme? Kau 'kan baru saja duduk!"
"Aku keluar sebentar," ujar Sasuke sambil menutup pintu, "hanya tiga puluh menit."
Dan dalam sekejap ruangan itu pun kembali sepi. Naruto hanya geleng-geleng kepala.
.
.
"BAIKLAH, Yang Mulia Puteri, kami permisi dulu. Mohon memberitahu bila akan pergi ke pendopo," empat orang dayang membungkukkan tubuhnya pamit, lalu menutup pintu geser kamar Sakura.
Tak ada siapapun kecuali Sakura di ruangan itu. Ia menarik napas dalam-dalam, perlahan mengambil serbet kain, fukusa dan chakin—dengan lembut melap cawan-cawan keramik dan memanaskan air. Kadang, bila ia harus menunggu sesuatu tanpa mengerjakan apapun, ia sering membuat teh sendiri di kamarnya. Teh selalu baik di hari panas maupun dingin. Usucha tentu akan melegakan tenggorokan, dan proses pembuatan teh itu sendiri bisa membuatnya tenang. Beberapa penganan menemani acara minum tehnya hari ini.
Ia mengenakan dua lapis pakaian hari ini—sebuah siksaan baginya karena siang ini cukup panas. Apa boleh buat, ada acara resmi yang harus ia hadiri nanti sore, dan ia tak bisa mengenakan kimono tipis yang biasanya ia kenakan untuk hari-hari musim panas.
Masabodohlah dengan hari panas! Sekarang yang Sakura pikirkan adalah Hinata. Hinata memang pendiam, tapi gadis itu teliti dan telaten. Dan Sakura harus mengakui, ia agak iri dengan Hinata. Gadis itu pendiam, tapi bisa mengeluarkan keberanian seperti itu—yang paling penting, gadis itu bahkan sempat membuatkan sesuatu untuk Naruto (meskipun sepertinya Naruto belum menganggap itu sebagai pemberian yang super-berarti).
Rasa iri itu berganti menjadi rasa kasihan terhadap diri sendiri. Sedangkan aku, apa? Uuuuhhh…
Tapi, dia ingin bertemu, sih…
Jemarinya mengangkat natsume dengan lembut, menuang teh. Mungkin tidak ya, ada waktu untuk mengobrol, sebentaaaar saja? Tadi pagi Sasuke tidak ada, lalu siang ini kemungkinan dia masih ada urusan, dan Sakura tahu acara nanti sore tidak akan menyempatkan dia untuk mengobrol dengan bebas. Selain acaranya resmi, er… ada orang tuanya. Dan rasanya tidak mengenakkan saja.
Rasanya bodoh. Apa hanya ia saja yang berpikir begini? Apa Sasuke juga pernah berpikir seperti itu? Ah, lelaki itu terlalu sulit ditebak—
"Sepertinya kau kepanasan."
Sakura terlonjak saking kagetnya—lamunannya buyar seketika. Dan rasa kagetnya belum selesai sampai di situ. Pintu menuju balkon kamarnya ia buka lebar-lebar, dan tebakan suaranya benar. Sasuke berdiri di seberang kamarnya, dengan seringainya yang biasa.
"A—Sasuke! Bukankah kau ada urusan?" Sakura bertanya langsung, masih kaget dengan kedatangan tiba-tiba Sasuke. "Kata Naruto, urusanmu belum tentu selesai sampai nanti sore!"
"Aa. Tadinya begitu, tapi ternyata aku hanya diminta menandatangani beberapa berkas. Bahkan aku masih sempat berkunjung ke rumah orangtua angkatku. Aku mampir saja ke sini sebentar—uh… karena…" nada suaranya tertahan di tenggorokan. Namun Sakura belum berkomentar, tahu pria itu masih belum menyelesaikan kalimatnya. "…tadi pagi kita belum sempat bertemu."
Sakura tak dapat menyembunyikan perasaannya. Wajahnya kali ini lebih merah dibanding sewaktu teman-temannya bertanya tadi. Namun kemudian gadis itu tertawa. "Aku senang kau berkata begitu."
"Jangan minta aku berkata dua kali."
Sakura tertawa lagi.
"Berhati-hatilah. Aku tahu ini belum medan pertarungan yang sebenarnya, tapi… yah, kuharap kalian semua bisa pulang dengan selamat," kata gadis itu, "aku hanya ingin mengatakan hal itu, sebetulnya… uh, dan aku sama sekali tidak punya apapun untuk diberikan padamu, uh," ucap Sakura, separo mengeluh. Sejenak gadis itu beralih ke mejanya, menuangkan teh ke cawan lain. "Ngomong-ngomong, kau mau Usucha?"
Sasuke tersenyum tipis sambil menggeleng. "Memangnya kau harus memberikan apa? Aku tidak minta apa-apa, kan?"
Gadis itu mengerucutkan bibirnya. "Ah, tadinya aku ingin membuatkanmu ikat kepala, atau jimat keberuntungan, atau apalah… tapi ternyata bahkan teh pun kau tidak mau. Yah, tapi kamu juga tidak mau apa-apa, sih. Ya sudah!"
Sasuke susah payah menahan ekspresinya agar tidak tersenyum geli melihat wajah gadis di hadapannya. Serius atau tidak, ia harus mengakui, ekspresi Sakura selalu membuatnya ingin tersenyum. Masalahnya, kalau teman-temannya tahu soal itu, ia pasti diejek habis-habisan. Apalagi oleh Naruto.
Namun tak urung senyum tipis muncul juga dari wajahnya. "Jadi, aku boleh minta sesuatu?"
"…" Sakura terdiam sejenak, melirik Sasuke dengan pandangan sangsi. "Memangnya apa yang bisa aku lakukan di saat waktunya sudah mepet begini?"
Tanpa berkata apa-apa, Sasuke melepaskan sepatunya, kaki telanjangnya menyentuh air kolam yang dingin—membuat Sakura mundur selangkah—pikirannya tiba-tiba melayang ke peristiwa seperti ini, beberapa bulan yang lalu. Dan juga, ini siang hari—bukan malam. Gadis itu celingak-celinguk. "Tunggu, Sasuke—apa yang kau lakukan? Kalau ada penjaga lewat…"
"Apanya? Mereka sedang tidak ada di sekitar sini. Lagipula, aku melakukan hal ini bukan karena ingin menculik anak orang, jadi tenang saja." Sasuke berkata ringan. Ia melompat, dan akhirnya duduk di cabang pohon terdekat yang mencapai beranda. Namun ia tidak turun ke beranda, hanya duduk di sana saja.
"Tapi, Sasuke—"
Pria itu membungkukkan tubuhnya, sehingga pandangan mereka sejajar. Jemarinya terulur mencapai Sakura—gadis itu tidak mundur kali ini.
"Yang sepantasnya memikirkan keselamatanmu dan juga penghuni istana lainnya adalah kami yang pergi." Sakura terdiam, merasakan Sasuke mengusap lembut rambut panjangnya. "Aku tahu ribuan prajurit masih akan berjaga di sini, dan orang-orang hebat seperti Kakashi-sensei dan yang lainnya masih ada di sini, tapi…"
"Karena itu, pulanglah tepat waktu, oke?" Sakura tertawa kecil, "jangan buat aku—dan kami semua—menunggu."
Mendengar kalimat pendek itu, Sasuke menyunggingkan senyum—benar-benar senyum kali ini, bukan hanya garis tipis yang sering saja Sakura akan berkomentar, lelaki itu mendekat, mencium keningnya.
Sakura nyaris lupa berkedip.
Sasuke menegakkan tubuhnya, melompat turun, sekejap kembali lagi ke seberang beranda. Ia menyeringai melihat ekspresi gadis itu.
"…Aku pergi dulu."
.
.
Siang ini udaranya memang panas sekali.
To be continued
Disclaimer Naruto © Masashi Kishimoto
Saya minta maaf kalau saya suka lupa balas review, suka lambat balasnya… dan terima kasih saya untuk yang sudah mereview chapter kemarin: Kichan, Ella-cHan as NaGi-sAn, .chiichii-chaan., Risle-coe, aya-na rifa'i, Fusae LeeBumYeHyun Deguchi, Angelove, popoChi-moChi, evey charen, Micon, Je-jess, Karupin.69, Mugiwara piratez, kakkoii-chan, Uchiha Cesa, Hyuuga Nala, dan mitoia-tan gery toya toya. /digebuk
Nah, waktunya balas pertanyaan yang bermunculan di review. Sekaligus aja ya.
Banyak yang komentar tentang penggambaran Ibu Sakura di chapter kemarin. Ya, sebenarnya saya juga baru dapat ilham 'riwayat hidup' Permaisuri, yaa baru pas bongkar ulang plot. Jadi punten, agak 'ekspres' nyeritanya. Tapi saya seneng banyak yang suka, kyaa :) makanya, yang diperantauan, cepatlah mudik, mamamu merindukanmu /shot.
Terima kasih untuk yang mengomentari mengenai deskripsi. Jujur, saya sebenernya udah kayak nyerita pakai mulut kalau nulis cerita ini. Saya kan cerewet, makanya panjang-panjang, haha.. dan meningkatkan resiko typo juga. Saya akhir-akhir ini selalu berusaha mengedit dulu, tetap saja ada typo yang kelewatan, maaf ya :) Untung, biarpun panjang masih ada yang baca :lol: Then, tentang karakterisasi… ya memang begitulah. Saya menulis fanfic ini dengan setting super AU, kolosal, dan berbelit-belit. Butuh semacam pengingat supaya pembaca tetap merasakan mereka sedang membaca fanfic Naruto. Jadi… ya, maklum kalau ada Naruto yang nari hula-hula 8D
Neji memang belum dieksplor lebih jauh lagi, ya. Padahal Neji/Tenten adalah pair favorit saya setelah Sasuke/Sakura, hehehe. Jadi yang nagih hint pair lain, sabar aja yua. Chapter kemaren juga diisi dengan ke-galauan Kakashi. Nah, di sini masa lalunya juga sedikit diceritakan. Sumpah ya, saya jadi stres sendiri, dulu bikin fic ini keknya gampang, rupanya banyak banget yang harus diceritakan (iye, siapa suruh bikin setting kolosal. Repot repot luh!).
Seperti yang saya bilang kemaren, chapter depan akan lebih muchos machos alias cowok melulu. Masih pusing bikin arc 'latihan khusus'nya, nih. Saya suka sekali menggambarkan bonds antar lelaki, misalnya persahabatan Naruto dan Sasuke, juga hubungan Sasuke dan Gaara yang sedikit berbau rivalry. Cuma tetep aja, tiap mau bikin adegan pertarungan, mati kutu, hehehe.
Semoga saya bisa tetap menyeimbangkan plot konflik dengan plot romance. Mereka saling melengkapi, bukan. Karena konflik, muncullah romance. Latihan khusus ini mungkin juga arc-nya tidak akan terlalu lama. Masih banyak konflik, bow… ketebak lah ya, nantinya pasti ada perang. Kapan mulai muncul, itu belum pasti. Scene Sakura yang diselamatkan Sasuke? Hmmm, heroik sekali, ya… tapi saya ga berani ngasih spoiler dulu deh ^^
Sayang sekali gengsinya Sasuke dan Sakura masih gede, beraninya kalo duaan aja! Haha, sabar, semua butuh proses, kan? Kalo tiba-tiba saya nulis Sasuke membawakan mawar merah, itu namanya saya sakit jiwa. Doakan saja semoga saya tetap menulis dengan lancar sampai fic ini tamat, juga proyek yang lain tamat, ya. Silakan sampaikan komentar, kritik, dan sarannya di review :)
Terima kasih sudah membaca.
blackpapillon
