Kuroko no Basuke Fanfiction
Drabble - 27
Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi
Rating : T
Warning : AU/Angst
Pair : AkaKuro
A/N : Minaa-san, konbanwaaa~ :D Drabble kali ini author buat buat ngelanjutin drabble!24, dimana Tetsuya di bawa sama Sei ke dunia Wonderland. Special for Sagi Akabara, Angel Muaffi, dan semua readers yang mungkin penasaran juga sama ceritanya. Untuk pemberitahuan, chapter kali ini dan chapter depan akan mengandung unsur angst, hurt/comfort~
Buat Yuna-san, ditunggu next chapie buat req-nya ya XD
Thank You for all review, fav, alert, follow, and all silent readers, Thank you for all support.. I'm happy that you all enjoy this story :3
Arigatou ~ Author will be waiting for your review ;))
Happy Reading, all..
With Love,
Zelvaren Yuvrezla a.k.a ren-chanz
Entah sudah berapa lama semenjak Akashi Seijuurou—Sang Phantom Diva kini membawaku pada sebuah tempat baru yang berbeda dari tempatku berada di Bumi. Wonderland of Phantom' begitulah sebuatannya pada tempat ini.
Awalnya aku merasa agak canggung berada didalam dunia yang benar-benar berbeda dengan Bumi yang kupijak saat ini. Bagaimana tidak? Pemandangan yang kulihat bagaikan seorang Alice yang baru saja tiba di Wonderland miliknya. Suasana yang benar-benar tidak masuk akal, penuh dengan sihir dan makhluk-makhluk aneh yang tidak pernah ada di duniaku sebelumnya.
Pertama kali Akashi-kun membawaku adalah pergi ke Mansion tempat dimana ia tinggal. Mansion yang cukup besar untuk ditinggali seorang diri. Dan disanalah, kami berbicara banyak tentang diri kami masing-masing..
"Seperti keturunan dalam keluargamu, seluruh Phantom Diva juga memiliki keturunan dalam menjalankan misi mereka."
"Misi? Misi seperti apa yang kau maksud, Akashi-kun?"
Pemuda bersurai Scarlet itu tersenyum. "Contohnya adalah kakekmu, Tetsuya. Phantom Diva yang menolong kakekmu saat itu adalah kakek-ku. Sesuai dengan permintaan terakhir-nya untuk hidup kembali dan melepas penyakitnya. Bahkan sebelum umurnya tiba, ia sempat bermain denganmu, bukan?"
Kuroko Tetsuya mengangguk. Masa-masa bahagianya memang saat-saat bersama dengan keluarganya.
"Tapi—bagaimana dengan Chihiro-nii?"
"Mayuzumi Chihiro.." Ucapan Akashi terhenti. "Phantom Diva yang menjadi pengawasnya adalah Ayahku. Mungkin ini terdengar tidak masuk akal, tetapi keinginan Chihiro sendirilah untuk menghentikan hidupnya. Ia berharap untuk terlahir kembali di dunia yang berbeda. Ayahku lalu membawa jiwanya kemari, menciptakan dia menjadi sosok yang baru. Kau bisa bertemu dengannya nanti." Balas Akashi sambil tersenyum.
"Eh!? Chihiro-nii ada disini?"
"Ya. Karena permintaannya adalah mengalami hidup yang baru selain di Bumi."
"Lalu—Bagaimana dengan kau, Akashi-kun?"
"Permintaanku pun telah terpenuhi," balas Akashi sambil mengelus kepala Kuroko. "Karena tidak ada seorangpun Phantom Diva yang akan kembali bila permintaan mereka belum terwujud. Karena kau sudah ada disini sekarang, Tetsuya. Giliran aku memenuhi permintaanmu."
- xXx -
Beberapa bulan setelah itu, aku banyak bertemu dengan beberapa teman dari Akashi, dan aku mulai berteman baik dengan mereka ketika Akashi-kun sedang mengurusi beberapa masalah.
Aomine Daiki, Kise Ryouta, Midorima Shintarou, dan Murasaki Atsushi. Sejauh ini, merekalah yang paling dekat dengan Akashi dibanding yang lain. Beberapa kali Aomine sering membawaku untuk bermain menggunakan bola sihir. Bila di bumi, mungkin aturan mainnya hampir mirip dengan bermain basket. Kise Ryouta adalah sosok yang paling rebut diantara semuanya, tetapi ia sangat bersahabat, ia banyak bercerita tentang berbagai macam, bahkan hingga gossip tidak penting. Midorima Shintarou, aku belajar banyak berburu darinya, kemampuan akurasinya sangat tinggi. Meskipun kadang-kadang Akashi akan memarahiku karena kecerobohanku, bayangkan saja tiba-tiba aku terjatuh ditengah hutan karena tersangkut akar tanaman. Lalu, Murasakibara Atsushi, meskipun kadang kami suka berselisih paham, tetapi aku banyak belajar memasak darinya.
Semua berjalan dengan baik-baik saja, hidupku makin terasa bahagia ketika menemukan sosok Chihiro-nii, mungkin agak berbeda dengan penampilannya di Bumi, karena ia memiliki sepasang telinga menyerupai Elf.
Rasa cintaku pada Akashi-kun juga perlahan tumbuh. Ia begitu memperhatikanku, memahamiku, menerima aku apa adanya. Akashi-kun juga tidak pernah memaksaku, meskipun ia harus menahan dirinya karena rasa cintanya yang ia pendam selama beberapa tahun itu. Tetapi, ia tetap sabar menanti benih ini untuk semakin berkembang.
Ya, aku mulai menyukainya, aku mulai mencintai sosok Akashi Seijuurou.
Sama seperti perasaannya terhadapku, kini perasanku terhadapnya pun sama.
Hingga suatu hari aku tidak sengaja mendengar pembicaraan Akashi-kun dengan yang lainnya.
"Akashicchi.. aku tidak bermaksud untuk mengusik hal ini, tapi—kau tahu kalau Kurokocchi adalah manusia, dan manusia tidak akan bisa bertahan lama seperti kita yang hidup lebih dari ratusan tahun."
"Kami memang senang ketika Tetsu datang kemari, ada banyak hal yang bisa kita bagikan dan ia bagikan pada kita semua, tetapi—bila saat itu tiba, bisakah kau menanggung rasa sakit itu, Akashi?" Aomine kini ikut berbicara.
Aku mempererat genggaman tanganku.
Aku melupakan satu hal. Aku adalah manusia di dunia fantasi ini. Dan hidup manusia tidak bertahan lama. Beberapa tahun telah aku lewatkan, tubuhku kini menjadi semakin tinggi, meskipun tidak melebihi tinggi dari Akashi-kun. Rambutku kini sudah mulai agak memanjang, dan paras mukaku kini sudah tampak lebih dewasa.
Tetapi, Akashi-kun masih tetap sama.
Kise-kun, Aomine-kun, Midorima-kun, dan Murasakibara-kun..semua tetap sama.
Hanya aku—yang berbeda.
- xXx -
"Seijuurou-kun, Bagaimana—bila aku menghilang?"
Kulihat Seijuurou-kun menghentikan tangannya yang sedaritadi sibuk untuk menulis sesuatu. Ia memandang wajahku dengan muka seriusnya. "Kenapa kau bertanya seperti itu, Tetsuya?"
Perasaan cemas kini timbul dalam hatiku. Apakah aku akan terus berpura-pura menyembunyikan fakta ini? Suatu hari—saat itu akan tiba. Hari dimana aku akan meninggalkannya.
"Kau tahu, bahwa aku adalah manusia, Seijuurou-kun. Aku terus tumbuh, pertumbuhanku memang lebih cepat dari kalian. Dan suatu hari nanti, aku—" Aku menutup mataku. Suatu hari nanti, aku akan pergi meninggalkannya.
"Tetsuya," Seijuurou-kun kini berdiri dari tempatnya berdiam. Ia kini duduk disampingku, memelukku dengan lembut. "Kau tidak usah mengkhawatirkan bila saat itu tiba. Aku akan baik-baik saja."
Seijuurou-kun kini melepas pelukannya. Ia menyentuh kedua pipiku dengan lembut.
"Makannya, selagi kau masih ada disini, aku ingin menghabiskan waktuku bersamamu, membuat banyak kenangan bersamamu, Tetsuya. Hingga saat kau pergi kelak—"
Airmata kini menggenang di pelupuk mataku. Membayangkan Seijuurou-kun yang hidup sendiri tanpa diriku. Ia sudah terlalu banyak berkorban demi diriku, dan bila saat itu tiba, Apakah aku bisa memaafkan diriku sendiri? Memaafkan bahwa kenyataan bahwa aku akan pergi meninggalkannya seorang diri?
"Hey, jangan menangis." Ucapnya dengan lembut sambil menghapus airmataku. "Tetsuya, kita buat banyak kenangan bahagia bersama." Seketika itu juga, Seijuurou-kun langsung mengecup lembut bibirku. Mendorong tubuhku perlahan dan mengklaim bahwa aku adalah miliknya.
- xXx -
Tubuhku mulai melemah, entah sudah berapa puluh tahun aku menghabiskan hidupku disini. Aku, yang semakin menua, tubuhku kini tidak sekuat dulu lagi. Kulit keriput kini sudah menghiasi tubuhku.
"Tetsuya, kau masih terbangun?" Ah, suara itu, suara orang yang paling kucintai seumur hidupku.
Akashi Seijuurou.
Ia mendekat kearahku yang tengah terbaring di kamar yang dekat dengan jendela.
Tubuhnya kini semakin tinggi, rambutnya belakangnya kini semakin memanjang, hingga melebihi bahunya, sedangkan rambut bagian depannya ia biarkan tetap pendek seperti dulu. Perbedaannya, sekarang aku yang sudah mencapai masa kristisku, dan melihat dirinya saat ini, ia seolah baru bertumbuh 5 tahun saja.
"Seijuurou-kun.. Apakah kau bahagia?"
Seijuurou-kun kini mendekat, mendekap kedua tanganku. Tatapan itu, tatapan sedih yang tidak ingin kulihat.
"Tentu saja, Tetsuya. Kau adalah satu-satunya bagiku."
Aku tersenyum. "Terimakasih, Seijuurou-kun. Kau sudah member banyak kebahagiaan untukku, kau sudah memberikan banyak memori indah bersamaku sepanjang hidupku ini."
"Tetsuya?"
Pandanganku kini semakin buram. Apakah ajalku kini telah tiba?
"Terimakasih..terimakasih..Seijuurou-kun.."
Kumohon, berikanlah aku kesempatan untuk member kata terakhirku padanya.
"Aku mencintaimu, Seijuurou-kun. Tersenyumlah seperti kau yang dulu, kau yang aku cintai."
Dan saat itu juga semua menjadi gelap.
.
.
[Normal POV]
Tangan dingin milik Kuroko kini dipegang erat oleh Akashi.
"Bagaimana," ucapannya terhenti saat airmata kini turun membasahi wajah Kuroko yang sudah tertidur selamanya itu. "Bagaimana aku bisa tersenyum sama seperti dulu, Tetsuya?"
Tangan milik Akashi kini menyentuh pipi milik Kuroko.
"Bagaimana kau bisa mengembalikan senyum yang kau cintai itu bila kau sudah tidak berada disisiku, Tetsuya? Hey, Tetsuya.."
Akashi kini mengepalkan tangannya dengan erat.
Malam itu, ditemani oleh pantulan sinar rembulan, Kuroko Tetsuya telah mengakhiri masa hidupnya. Ia telah dipanggil pulang, pergi meninggalkan seorang Akashi Seijuurou seorang diri.
.
.
.
"May You Rest In Piece, My Beloved..Tetsuya."
~Owari~
