Disclaimer: I am not, in any way, take any profit from the story and that all creative rights to the characters belong to their original creator(s). Naruto © Masashi Kishimoto.


Jejak Bulan di Atas Air

blackpapillon


23. Bulan Purnama Lagi

.

.

.

ANGIN musim panas belum berniat bertiup di daerah utara. Di daerah dingin itu, angin masih berhembus kencang, membuat tubuh menggigil. Lebih ke daerah utara, perbatasan yang jauh ke atas, pegunungan menjulang dengan gagahnya. Sebagian puncaknya bahkan masih tertutup salju, salju abadi yang ada sepanjang tahun.

Gua bawah tanah itu pun masih sedingin biasanya. Bekas tempat perlindungan yang tertutup dengan pintu besi besar berwarna hitam. Beberapa orang mondar-mandir berjaga, berpakaian hitam, dengan ikat kepala berlambang simbol not balok. Sebagian lagi berjubah cokelat, dengan tubuh yang relatif besar-besar.

Hari ini lorong-lorong yang ada di dalam sana tidak setemaram biasanya. Namun sebaliknya; obor-obor berjajar memenuhi lorong, terang-benderang sekaligus menghangatkan. Di ujung lorong, sebuah ruangan besar penuh terisi dengan orang-orang yang sama seperti orang yang berjaga tadi; sebagian berjubah cokelat, sebagian lagi memakai ikat kepala dan berpakaian hitam.

"Angkat gelas untuk Danzou-sama!" suara –suara bergemuruh. "Angkat gelas untuk Orochimaru-sama!"

Suara itu saling susul-menyusul, disambung dengan dentingan cawan; bau sake menguar memenuhi ruangan, dua orang yang menjadi pusat pesta malam itu tampak puas. Seorang pria bertubuh besar dan berjubah cokelat, duduk bersebelahan dengan pria lain yang pernah kita kenal sebelumnya; lelaki kurus, dengan mata yang runcing dan bibir lancip, berambut hitam panjang.

"Ini malam yang menyenangkan," pria berjubah cokelat berkata, "terima kasih, Orochimaru-san, mengundang kami dalam perjamuan ini. Dan mari kita berharap agar rencana kita lancar."

Pria berambut hitam itu tersenyum tipis. "Aku pun berharap begitu, Danzou-san. Tidak—bukan berharap. namun rencana kita harus sukses."

"Aku sudah lama menantikan kesempatan seperti ini," Danzou berujar sambil mengambil sebuah penganan dan memakannya. "Aku menantikan bisa menjatuhkan Konoha dan akan menguasai kekuatan militer di seluruh benua Hi."

Orochimaru terkekeh. Ia mengambil botol sake dan menuangkannya ke cawan milik Danzou. "Minumlah lagi. Kita akan mulai mengatur kamp besok pagi. Sebagian orang kita akan turun untuk mengalihkan para tentara. Ditambah lagi, aku punya info yang lebih bagus."

"Ya? Info apa—hik—itu?" Danzou bertanya antusias, "sudah kuduga. Bekerja sama dengan orang dalam ternyata menyenangkan, karena bisa lebih tahu medan."

Senyum licik kembali muncul di bibir Orochimaru. "Mantan orang dalam, Danzou-san," ujarnya dengan suara rendah, "tapi memang, bekerja sama dengan orang dalam juga tidak boleh dilewatkan."

"Tenang saja, aku tak akan melewatkan hal-hal semacam itu." Ekspresi Danzou tampak puas. Ia menepuk bahu Orochimaru dan meminum sakenya sampai habis. Perutnya mulai buncit karena terus makan, susah payah ia bangkit berdiri. "Baiklah, Orochimaru. Aku akan bicara dengan bawahanku di sudut ruangan sana. Mari, nanti kita bicara lagi."

Orochimaru hanya menanggapinya dengan anggukan pendek. Baru saja ia hendak meminum sakenya lagi, seseorang mendekatinya. "Tuan Orochimaru," seorang pria berkacamata berbisik di antara riuh-rendah para manusia yang saling bersulang dan berbincang itu. "Apakah anda yakin bekerja sama dengan Negara Do? Anda tidak harus bekerja sama dengan Negara itu untuk mendapatkan jumlah tentara. Saya kira kemampuan orang-orang Oto sudah cukup."

Orochimaru melirik pria itu tajam. Matanya agak memerah karena sudah bercangkir-cangkir sake ia habiskan. Ia terbatuk, menyeringai, dan berbisik. "Dengar, Kabuto. Aku bukannya tidak yakin karena kita hanya memiliki tiga ribu orang. Dan aku yakin strategimu serta kemampuan mereka sama dengan sepuluh ribu orang. Tapi," ia mengangkat lagi cangkirnya pada seorang pelayan yang membawa botol sake, "Jumlah prajurit shinobi yang aktif di lapangan adalah lima ribu orang; sedangkan prajurit biasa ada sepuluh ribu. Dan jumlah bantuan dari Do ada dua puluh ribu."

"Tapi Do hanya negara biasa yang tidak memiliki prajurit shinobi," Sergah Kabuto, "Jadi, maksud anda?"

Mendengar komentar Kabuto yang terkesan meragukannya, Orochimaru kembali menyeringai. "Kita membutuhkan suatu hal bernama 'jumlah', Kabuto," katanya tenang, mengisi kembali cawan sakenya. "Dan tenang saja. Aku tidak berniat menjadikan Do sebagai bagian yang penting dalam rencanaku. Aku menginginkan yang lebih besar dari itu."

Kabuto memicingkan mata. Yang lebih besar, secara literal, baginya hanya sesuatu yang kecil. Ia tak akan pernah mengerti keinginan tuannya, setidaknya sampai Tuannya itu menjelaskannya sendiri.

.

.

.

SUARA langkah kaki bergema di lorong istana. Sesosok pria yang sudah dikenal berjalan cepat menuju kantor pribadi Kaisar. Para dayang yang lewat sudah tahu siapa itu; anggota staf elit kekaisaran, Kakashi. Ia tak perlu lagi mengetuk karena petugas yang menjaga pintu sudah mempersilakan jounin berambut perak itu masuk.

Isi ruangan itu berfokus pada sebuah meja tulis dan kursi yang berlapis perak. Seorang pria paruh baya hanya menganggukkan kepala, raut wajahnya tak menunjukkan kekagetan meskipun pintu itu tertutup dengan suara keras. "Kakashi."

"Minggu ini datang lagi kiriman laporan dari Jiraiya-sama, Yang Mulia. Ia mengabarkan latihan sudah dimulai dan berjalan dengan baik." Kakashi menyerahkan sebuah gulungan tipis. "Dan mereka baik-baik saja."

"Ah, baguslah," Kaisar tersenyum. Pria tua itu tampak sedang membenahi berkas-berkas laporan. Tumpukan gulungan dan kertas-kertas bertebaran di sekitar meja. Tak ada Toshizo, penasihatnya yang setia—mungkin belum datang. Tangannya meminta Kakashi duduk di kursi di sekitar situ. "Kau belum pergi ke sana, Kakashi? Bukankah kau juga diminta Jiraiya untuk mengawasi latihan mereka?"

Kakashi menyeringai dari balik topengnya—dalam kepalanya mendadak ada sosok Jiraiya yang cengar-cengir sambil minum bersama para wanita cantik. "Saya akan datang pada akhir bulan nanti. Lagipula, saya sudah tahu pola Jiraiya-sama. Lebih dari itu, saya ada hal lain yang lebih penting. Ini soal pihak sana." Ia berkata setengah berbisik, "laporan dari para agen sudah keluar."

Pintu tertutup tanpa suara. "Aa, aku sudah dengar sedikit soal itu dari Asuma tadi malam." Suara Kaisar tiba-tiba merendah. "Yang dikatakan itu… apakah benar? Mengenai pihak sana?"

Kakashi menganggukkan kepala. "Jumlahnya tiga ribu orang. Sepertinya Orochimaru sudah mengajak partisipan dari desa-desa lain di wilayah utara. Kondisi di sana terpecah," jelasnya, "kemarin Asuma sudah mengirim pasukan ke sana untuk membarikade. Tidak terjadi kerusuhan, namun yang memihak Orichimaru semakin banyak."

Kaisar menganggukkan kepala, mata hijaunya beralih ke jendela yang menghadap lapangan—dari sana terlihat paviliun puterinya yang dikelilingi kolam parit dan balkon pendek. Tak ada jawaban dari pemegang kekuasaan tertinggi Konoha yang rambutnya sudah makin memutih itu. Namun Kakashi dapat melihat ketegangan tergambar persis di wajahnya.

Telegram singkat datang ke kantor Kaisar kemarin sore, mengatakan bahwa terjadi pemberontakan kecil di daerah-daerah lain di sekitar utara. Tidak ada kerusuhan, namun beberapa warganya menghilang. Entah "menghilang" atas dasar keinginan sendiri atau ditarik menjadi sandera, mereka belum tahu—karena mereka menghilang tanpa bekas.

"Tampaknya mereka bekerja sama dengan pihak Do. Beberapa kegiatan ekonomi yang rutin dilakukan pihak Do berhenti secara tiba-tiba." Kakashi berkata lagi. "Inilah yang harus kita waspadai. Do memang tidak memiliki prajurit shinobi, namun tentara mereka berjumlah dua puluh ribu. Sudah dibangun tenda di sekitar perbatasan. Yang perlu kita ketahui sekarang adalah kapan mereka akan menyerang."

"Aku belum memikirkan soal penyerangan itu, Kakashi. Tampaknya hal itu masih jauh. Tapi aku lebih mengkhawatirkan kejadian yang terjadi akhir-akhir ini."

"Maksud anda?" Kakashi mengerutkan keningnya, tampak bingung.

Pandangan sang Kaisar menerawang jauh. "Mereka sengaja menggunakan pemberontakan kecil dalam jumlah yang sering. Aku tidak akan kaget kalau akan ada kenaikan suhu di dalam rakyat kita sendiri."

Kakashi tak berkata apa-apa, hanya mengeluarkan lagi buku jingga yang selalu ada di saku bajunya. Kaisar meliriknya, mengetahui apa yang dilakukan Kakashi, namun tak melarangnya, hanya tersenyum tipis. Pria tua itu bertanya lagi, kali ini mungkin sebagai penutup, karena ia mulai membereskan bawaannya. "Bagaimana dengan Sasuke? Ada perubahan berarti?"

Mata dengan bekas luka terangkat menampakkan bola mata merah saat Kakashi menjawab dengan nada yang lurus dan jelas. "Belum ada tanda-tanda, yang mulia," ia menegakkan tubuhnya, mengikuti mata sang Kaisar yang tengah memandang keluar. Di seberang sana, lampu paviliun Sakura masih menyala—menampakkan bayangan-bayangan orang yang bergerak. "Sekarang ini, masih aman."

Sang kaisar menganggukkan kepalanya. "Aku ingin melihat langsung apa yang diberikan Jiraiya sebagai latihannya."

Senyum bermain di bibir Kakashi, dan ia balas mengangguk.

.

.

.

LANGIT masih lebar dan tanpa batas. Di setiap sudut istana, angin berhembus kuat di setiap sisi, membuat para dayang yang berkimono tebal harus terhuyung tatkala membawa nampan; kimono-kimono yang mereka pakai jauh lebih berat daripada nampan yang mereka bawa, dan sekalinya angin bertiup, mereka ikut terseret karenanya. Biarpun begitu, angin itu juga panas dan berdebu. Musim-musim ini termasuk musim yang paling tidak nyaman dalam satu tahun. Yang menyenangkan, adalah karena banyak buah-buahan segar yang disajikan dengan es untuk menghibur penghuni istana yang kepanasan.

Dari jendela kamarnya, ia tak dapat melihat langsung para tentara yang sedang berlatih. Namun ia bisa mendengar suara mereka. Bersatu padu dengan para serangga musim panas yang mulai mengisi malam, berteriak teratur berdasarkan aba-aba. Tak ada suara para panglima yang biasanya bisa ia kenali. Alih-alih suara para pemuda, ia dapat mendengar aba-aba orang yang lebih tua. Karena pemimpin yang biasa tidak ada, para jenderal yang biasanya ada di balik meja berganti memberi komando kembali menggantikan mereka.

Seharusnya sekarang sudah saatnya para tentara itu beristirahat. Selain latihan bersama, masih ada shift patroli dan latihan pasukan, serta kerja bakti membersihkan dojo untuk para tentara-tentara itu. Bulan mulai merangkak naik mengisi langit: sudah saatnya mereka beristirahat, seharusnya. Namun suara mereka masih ramai membelah malam. Sakura dulu pernah menganggap mereka semua berisik dan mengadu kepada Ayahnya mengapa harus ada tentara di wilayah istana; namun sekarang, dengan keadaan negara yang seperti ini, Sakura jadi merasa aman.

Baru sekali kemarin ia mengunjungi tempat konflik sendiri—dalam waktu yang begitu dekat dari waktu kejadian. Ketika datang pun, ia merasa ketakutan dan hanya bisa melihat saja.

"Sakura-hime? Jangan melamun. Sudah halaman berapa sekarang?"

Sakura terhenyak dari lamunannya, dan tersenyum masam. Halaman yang terbuka di atas meja tidak berubah sejak puluhan menit yang lalu. Malam ini adalah jadwal belajar, dan Sakura duduk berhadap-hadapan dengan Hatake Kakashi, buku-buku cetakan lama tersebar di antara mereka.

"Kakashi-sensei," Sakura mencondongkan tubuhnya di atas meja, menatap Kakashi yang wajahnya tak terlihat karena tertutup masker dan buku berwarna jingga. "Kau sedang mengajariku atau apa, sih?"

Buku itu tak pernah bisa Sakura baca sekali pun ia sudah melihat Kakashi membawa buku itu selama bertahun-tahun. Bagaimana tidak, Kakashi adalah salah satu orang yang bertanggung jawab dalam pendidikannya selama ini: sudah sejak usia delapan tahun orang yang ada di hadapannya ini mengajarinya pelajaran sekolah. Ada bermacam-macam guru, ada bermacam pelajaran, dan Kakashi mengajarkan pemerintahan—seharusnya.

"Sedang mengajarimu, tentu," mata Kakashi tidak berpindah dari buku jingga yang setia menemaninya, "bukankah buku-buku yang kuberikan padamu itu berguna?"

Namun Kakashi tidak memberikan teori, omongan, atau apa pun. Setiap kali yang ia berikan hanyalah buku-buku lama dari perpustakaan—yang Sakura yakini berasal dari sudut berdebu yang belum tentu dibersihkan para dayang. Mereka ditulis dalam kanji-kanji lama. Sakura bisa membacanya, namun semua berisi hal-hal yang hampir sama, atau mungkin terlalu puitis hingga Sakura tak mengerti.

"Bosaaan, bosan," Sakura mengedikkan kepalanya, membuka-buka buku itu dengan harapan bahwa akan ada topik yang menarik. "Buku-buku ini datang dari puluhan tahun, bahkan ratusan tahun yang lalu. Apakah mereka masih berlaku di masa kini?"

"Tentu saja, Sakura-Hime. Anda mungkin bicara begitu karena sekarang masih muda, dan merasa ini tidak relevan. Namun anda tidak akan tahu apa yang akan terjadi bila sudah tiba saatnya anda memegang pemerintahan nanti. Anda harus memiliki banyak ilmu…" Kakashi berkata dengan suara formal, membuat Sakura berjengit, namun lelaki itu melanjutkan. "Itu kalau aku adalah dayang tua, tapi sebenarnya aku juga tak mengerti."

Kalau saja masker hitam yang menutup wajah Kakashi itu transparan, Sakura bersumpah bisa melihat Kakashi tertawa. Sakura merengut. "Lalu mengapa kau yang harus mengajarkan ini padaku? Padahal kau sendiri juga tidak mengerti."

"Bercanda. Aku tentu saja mengerti." ("bohong," Sakura menyela—) "Tapi sudah bukan saatnya aku membaca itu."

Sudah hampir satu bulan sejak para jenderal muda itu bertolak ke hutan Hitam—Kuro no Mori, begitulah namanya. Seharusnya, sebentar lagi mereka pulang. Tapi sepertinya ada yang memutuskan bahwa mereka harus menjalani waktu latihan yang lebih panjang daripada biasanya. Selama itu, tidak ada kejadian yang cukup berarti. Berada di dalam Istana seperti ini, terkadang, lebih sering membuatnya terkunci dari berita. Ia hanya mendengar ini dan itu terjadi. Tugas perempuan di Istana, seperti selama ini terjadi, adalah mengawasi Istana; dan hanya itu saja. Sakura menghembuskan nafasnya sebal, menatap Kakashi yang sepertinya tidak terganggu dengan Sakura yang jelas-jelas merasa bosan.

"Keluar dari sini dan melihat langsung akan lebih mengena dibandingkan membaca tumpukan buku-buku semacam ini," Sakura memutuskan untuk menutup buku-buku itu akhirnya—merapikannya di sudut meja. "Kata sensei, kemarin-kemarin aku terlalu sering mampir ke paviliun tempat anak-anak itu, dan gantinya aku harus belajar. Tapi sekarang sensei malah sibuk membaca buku sendiri!"

Mata hijau Sakura memandang pemandangan di luar jendela. Pemandangan yang sama, kalau tidak bisa dibilang, monoton. Berada di istana seperti ini menjemukan, makin terasa ketika orang-orang yang biasa ia perhatikan menghilang. Sakura buru-buru menghapuskan pikiran itu dari kepalanya—sekarang seharusnya ia belajar, belajar. Tapi—

"Itu pertanyaan bagus," Kakashi terkekeh, akhirnya meletakkan bukunya di atas meja. "Kau pikir, seharusnya bagaimana? Apa kau sudah melakukan hal yang lebih baik?"

Setidaknya, Sakura senang karena akhirnya ia mendapatkan perhatian Kakashi—sudah cukup ia menghabiskan pelajaran demi pelajaran dengan membaca buku tua. "Kemarin aku datang ke wilayah konflik, di Nijigakure," terangnya langsung, memberikan contoh. "Kurasa itu lebih baik daripada menghabiskan waktu dengan membaca buku-buku tua seperti ini!"

"Mungkin. Tapi kau lupa bahwa kemarin kau langsung datang beberapa jam setelah kejadian—sebenarnya yang kamu lakukan malah membahayakan orang lain." Kakashi tersenyum, seandainya Sakura bisa melihatnya—dan Sakura merasa matanya membulat. "Kau pernah memikirkan soal itu, Sakura-Hime?"

Panggilan yang seharusnya terdengar biasa itu terasa seperti meruncing, dan Sakura mendelik. Mata hijaunya menatap Kakashi namun ia tak berkata apa-apa. Waktu itu terjadi kebakaran di desa. Dan ia datang untuk menolong, membawa bala bantuan. Setidaknya itulah yang ada di pikirannya. Kereta kudanya membawa banyak bahan makanan dan obat-obatan.

Tapi kedatangannya menyusahkan? Sakura ingat pagi hari ketika ia mendesak ayah angkat Sasuke untuk membuka gerbang, membiarkannya pergi karena dia ingin menolong... Wajah Sakura merah padam, entah karena marah, entah karena malu.

"Orang perlu berpikir dahulu sebelum mengambil keputusan, Sakura. Pikirkanlah obrolan kita ini baik-baik." Kakashi tersenyum, biarpun wajahnya tidak jelas terlihat. "Pelajaran hari ini bisa kita selesaikan di sini, bukan begitu?"

Kakashi pamit dari ruangan itu, seperti biasa, menundukkan tubuhnya memberi salam. Salam seorang bawahan kepada Yang Mulia Penguasanya, seperti apa yang selalu terjadi. Namun Sakura tidak bisa melihat itu di depan matanya sehingga ia memalingkan wajah tatkala Kakashi melakukannya.

"Sakura-hime," Ino mengetuk pintu tak lama kemudian, "sudah tiba waktunya tidur. Apa anda perlu dibantu berganti pakaian?"

Sakura tak menjawab sampai akhirnya ketukan dan pertanyaan itu menghilang.

Apa yang ia tahu, dan apa yang tidak ia tahu?

Air di kolam yang ada di luar jendelanya beriak, menimbulkan pola-pola melingkar. Mungkin ikan koi yang ada di dalam sana sedang berpesta karena cahaya bulan malam ini begitu indah. Sakura kembali mencoba berkonsentrasi pada bukunya—matanya menangkap teleskop yang tak tergunakan di pojok balkon, dan ia memandang langit lagi sebelum kembali ke bukunya. Bulan tampak begitu besar, bercahaya kekuningan. Dari kejauhan masih dapat ia dengar suara para tentara, sayup-sayup.

Suara Sasuke tidak terdengar.

.

.

.

"KEMANA si petapa mesum itu? Pasti dia meninggalkan kita. Pasti sekarang dia sedang enak-enakan di tempat judi bersama wanita cantik!" Naruto berkata—lebih tepatnya berteriak. Suaranya menggema di tengah hutan yang gelap, dan teman-temannya yang sudah terbiasa, hanya menengok sebentar untuk kemudian melanjutkan kembali pekerjaannya.

Sudah hampir satu bulan, kalau Naruto tidak salah hitung. Fase bulan sudah hampir selesai, dan sekarang bulan purnama menggantung di atas kepala mereka. Dua minggu pertama, Jiraiya masih mengawasi mereka berlatih secara intensif; lalu Kakashi datang, dan setelah itu Jiraiya tidak datang lagi. Lokasi latihan mereka saat ini berada di tengah hutan dan sebagian pepohonan sudah hancur terkena amukan kemarahan Naruto yang tidak sabaran. (Kau harusnya berpikir sedikit karena tidak ada pemilik chakra berelemen kayu di antara kita, kata Sai.)

"Hei, memangnya kalian tidak sebal? Sudah seminggu ini, lho," Naruto berkacak pinggang, sementara Neji dan Sai sibuk memasang api unggun untuk malam itu. "Dan kita tidak pernah berlatih lebih daripada latihan dasar. Aku tak paham apa yang membuat orang-orang tua itu membawa kita ke sini."

"Karena biasanya dia memang begitu," Neji melemparkan lagi ranting agar api unggunnya makin besar, tak mempedulikan Naruto yang sedang protes pada ketidak adilan nasib mereka. "Bukannya kau sudah biasa?"

Naruto berjengit, wajahnya tidak puas. Dari semua orang, yang paling tidak senang dengan keadaan ini adalah Naruto. Sebagai orang yang pernah mengalami pengajaran dari Jiraiya secara personal, tentu saja dia tidak akan puas. Semua rutinitas latihan sudah sering dijalankan dan hafal di luar kepala. Jiraiya meminta mereka mengulang-ulang tanpa ada perubahan.

Shikamaru duduk di pojokan lain, bermain shogi sendirian. Selain Naruto, nampaknya tidak ada yang terganggu dengan itu. Biarpun tidak ada pelatih, mereka tetap berlatih seperti biasa. Sai malah bilang kalau apa yang mereka jalani ini sama seperti kamp sewaktu masih menjadi tentara kelas rendah dulu. Kontan saja Naruto protes karena seharusnya mereka yang berpangkat tinggi tidak lagi menjalani hal seperti itu.

"Memang biasa," Naruto mengertakkan gigi, "tapi aku tak menemukan apa gunanya membawa kita ke sini sementara situasi negara sedang gawat. Jangan-jangan musuh sedang mengatur rencana untuk menyerbu ketika kita tidak ada."

"Anggap saja kita sedang santai," Neji berkata sambil membenahi tempatnya. Ia menemukan batu yang cukup datar untuk dijadikan tempat tidur, dan langsung membaringkan tubuhnya. Baginya, situasi ini seperti cuti. Sejak kemarin dia sudah berubah profesi dari seorang jenderal menjadi koki grup berkemah: membersihkan ikan, membakar daging rusa, menguliti ular. "Aku cukup menikmati liburan ini. Tidak ada tentara yang harus diawasi, dan kita bisa menikmati jadwal sesukanya."

"Bicaramu macam brosur wisata dari Kumo," Sasuke mendesis. Neji hanya angkat bahu.

"Tidak ada Naruto yang akan mendekati Hinata-sama-mu, dan kau bisa mengawasinya di sini," Shikamaru berkata sambil menguap, membuat Neji mendelik dan Naruto bertanya "apa?" karena tidak mendengar. Mereka memutuskan tidak melanjutkan percakapan itu.

"Tidak ada wanita yang bisa mengalahkanmu, dan kau bisa merasa berkuasa di dalam pertandingan shogi-mu sendirian," Sai menyambung tanpa melirik Shikamaru. Shikamaru melempar satu bidak shogi ke arah Sai, yang menghindar dengan mudah.

Gaara meminum air panasnya dengan raut wajah tenang.

"Kalian bicara dengan santai seperti itu, lalu tahu-tahu besok akan ada serangan. Kalian tak tahu apa yang akan terjadi." Naruto menyela. Ia mencoba melihat ke arah jauh, ke arah di mana (seharusnya) negara Konoha berada. Namun nihil, tak terlihat apa pun selain gelap. Yang terdengar hanyalah suara burung malam dan api unggun yang membakar kayu sedikit demi sedikit.

"Jangan bilang begitu," Sasuke memotong. "Itu terdengar seperti sebuah doa."

Ia duduk di satu sisi, menghadap api unggun. Tangannya sibuk memijat bahu dan lehernya yang terasa penat. Naruto dan Neji benar-benar menghabiskan tenaganya hari ini; sparring dengan mereka sepanjang hari cukup menuai oleh-oleh memar dan lebam yang lumayan.

"Benar," Gaara ikut menyahut,akhirnya buka suara setelah beberapa lama. "Lebih baik lakukan latihan dengan yang semestinya, terutama bagi yang merasa masih lemah."

Sasuke mendelik. "Kau bicara tentang seseorang?"

Sejak pertama kali datang, memang Gaara yang paling sedikit bicara. Dapat dimaklumi karena dia satu-satunya yang bukan berasal dari Konoha. Percakapannya praktikal dan serba guna. Latihannya lebih banyak dilakukan dengan Sai, atau Neji, yang memang tidak ambil pusing.

Sasuke lebih banyak berlatih dengan Naruto, sebagai partner latihan yang sudah terbiasa. Secara umum, Sasuke dan Gaara jarang berkomunikasi; dan untuk malam ini, adalah yang pertama obrolan mereka selain "tolong ambilkan kayu itu" atau "di mana sungai terdekat".

Dan bagi yang lain, pastinya, itu bukan hal yang terlalu baik.

"Apa kau merasa sebagai orang yang aku bicarakan?" Gaara tersenyum tipis, bibirnya membentuk kurva tipis. "Aku hanya bicara soal kelemahan, Uchiha-san. Orang yang jatuh paling awal dan gagal menyelamatkan."

"Oh." Sasuke mengambil ranting-ranting kecil yang berada di dekat kakinya, melemparnya ke api unggun. Api yang awalnya meredup itu kembali membara. Pandangannya lurus ke arah api.

"Tapi kalau kau ingin aku bicara tentang kamu, Uchiha-san," Gaara melanjutkan, membuat Sasuke meliriknya lagi, "maka ya, kamu adalah yang paling lemah di antara kita semua. Setidaknya aku bisa menilainya."

Alis Sasuke berkerut, mengamati. Kedua tangannya mengepal dan ranting yang ia pegang untuk api unggun patah dengan suara tek pelan. Suara Gaara tidak disukainya; itu mengingatkan dia pada insiden beberapa bulan lalu, di kala api yang besar meluluhlantakkan sebuah desa, di kala ia melihat sosok yang bahkan ia tak bisa mengingat wajahnya-mengingat sedikit saja membuatnya ingin muntah.

Sasuke menelan ludah, menahan segala sensasi yang bercampur di perutnya. Jijik, cemas, marah, dan sesuatu yang memuncak. Ia bisa mengidentifikasi mereka; tapi memutuskan untuk merasakan rasa marahnya saja. Lain tidak. (Karena perasaan lain begitu melelahkan.)

"Kau menilai berdasarkan kacamatamu sebagai seorang pendatang?" Sasuke bertanya tajam.

Uchiha Sasuke merasakan ujung-ujung jarinya mengeras. Hutan di malam hari sangatlah gelap; tak terlihat apa pun, bahkan juga ekspresi wajah teman-teman yang ada di sekitarmu. Malam semakin beranjak ke pertengahan. Seharusnya udaranya semakin dingin, tetapi Sasuke merasa darahnya menggelegak panas.

Shikamaru menghela napas panjang, tak bersuara, namun berhenti memainkan shoginya. Neji memejamkan mata namun telinganya mendengar jelas. Sai mengeluarkan buku sketsanya.

"Oi, kalian, sudah malam. Waktunya tidur, oke-" Naruto sempat memanggil, namun nihil. Gaara sudah angkat bicara dan Sasuke kini sudah berdiri, menatap pemuda berambut merah itu dengan pandangan yang sama sekali tidak bisa dibilang menyenangkan, setiap kata yang keluar dari Gaara langsung masuk ke telinganya.

"Kamu bahkan tidak bisa melakukan apa pun, tidak juga menjaga Tuan Puteri," Gaara mengangkat kepalanya, akhirnya matanya bersirobok dengan Sasuke. Mata hijau yang datar bertemu dengan mata hitam yang berkilap, merahnya api unggun menari-nari di bola matanya.

Gaara tersenyum dengan senyuman yang ganjil.

"Yang membawamu keluar dari tempat itu adalah aku. Akan jadi seperti apa kau, Sasuke-kun?"

Sasuke mengertakkan gigi. "Jangan panggil aku dengan panggilan itu."

Pemuda itu melompat dan menerjang Gaara—biarpun di belakangnya teman-temannya sudah berteriak mencegah.

Di atas langit, bulan bercahaya begitu terang.

.

.

.


To be Continued


AN Waktu pertama bikin cerita ini, saya masih sekolah. Menulis karakter Sasuke yang berusia dua puluh dan Sakura yang sembilan belas—bagi saya itu merupakan dunia yang tidak tersentuh karena saya belum mencapai usia yang sama seperti mereka.

Sekarang usia saya sudah lebih tua dari mereka. cerita ini berkembang seperti usia saya—gaya menulis saya mungkin sudah (agak) berubah, mungkin juga masih sama—pembacalah yang menilai apakah saya mengalami kemajuan atau tidak, dan cerita ini adalah semacam 'saksi' untuk itu. Soal plot, yah, nggak bisa serta-merta saya ubah biarpun saya sebetulnya kepingin rombak tok, tapi mungkin akan ada perbedaan.

Begitu juga pembaca. Terima kasih ya untuk pembaca setia cerita-cerita saya—yang nggak bisa saya sebutkan satu per satu. Terima kasih untuk semua masukan dan pesan-pesan dan semuanya. Mohon maaf atas keterlambatan yang amat sangat. Mungkin kalian semua perlu baca ulang saking lamanya saya nggak memperbarui cerita ini. Mungkin ngambek nggak mau baca lagi daripada harus nunggu sekian tahun lagi (…)

Ada yang menyuruh segera update, ada juga yang marah-marah sampai meminta saya menghapus cerita ini saja kalau tidak dilanjutkan. Memang, saya bisa mengerti kekesalan itu berasal dari mana; dan untuk itu, saya mohon maaf.

Tapi saya tidak ingin menghapus, karena saya masih ingin melanjutkan, for as long as it will take, saya ingin menamatkan cerita ini, yang jadi fanfic multichapter pertama saya di FNI. It's short, it's unrefined, but I want to continue. This story is like my own baby, or precisely, my own steps as a baby.

Terima kasih sudah membaca.

blackpapillon