Kuroko no Basuke Fanfiction

Drabble - 28

Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi

Rating : T

Warning : Semi-Canon/Hurt-Comfort

Pair : AkaKuro

A/N : Sebelumnya, author ingin mengucapkan.. Happy 411 days~ w)/ sebenernya mau buat fic khusus buat minggu 411/415 days.. tapi ide ga ngalir"..hiks.. QAQ #jeduk-jeduk'in kepala#

Ah iia, chapie ini adalah req dari Yuna Seijuurou. Semoga Yuna-san suka ama ceritanya ya OwO)/

Thank You for all review, fav, alert, follow, and all silent readers, Thank you for all support.. I'm happy that you all enjoy this story :3
Arigatou ~ Author will be waiting for your review ;))

Happy Reading, all..

With Love,

Zelvaren Yuvrezla a.k.a ren-chanz


"Antara aku dan dia—

Perasaan diantara kita tidak akan pernah bersatu, hingga selamanya..

.

.

Entah mulai sejak kapan perasaan ini mulai berkembang. Banyak orang yang mengatakan bahwa cinta akan bertumbuh ketika kau sering bersama dengan seseorang. Sering meluangkan waktu bersama dengan orang tersebut, sering bertemu dengannya, dan sering berbagi suka maupun duka.

Mungkin ini adalah bagaimana kisahku berkembang bersama dengan sosok yang diam-diam kucintai. Sosok Akashi Seijuurou—mantan Captain pada sekolahku dulu, Teiko, dan Captain bagi tim Rakuzan yang terletak di Kyoto pada saat ini.

Benih ini mulai muncul ketika aku mulai bertemu dengannya saat permainan basketku dengan Aomine-kun terhenti karena kedatangannya. Surai Scarlet yang tidak bisa kulupakan, lalu bagaimana ia menatapku. Entah mengapa manik Deep Crimson miliknya seolah menghipnotis diriku pada saat kejadian tersebut. Banyak kejadian yang kita alami bersama, semua, bersamaan dengan para anggota Kiseki no Sedai. Tetapi, semakin lama, aku semakin yakin bahwa aku hanya bisa memandangnya dari jauh, karena aku yakin bahwa perasaan ini tidak akan disambut olehnya.

.

.

"Hari ini adalah shift-ku bersama dengan Kuroko untuk membereskan bola basket ke gudang penyimpanan. Kalian semua segeralah pulang dan beristirahat." Akashi Seijuurou kini membubarkan latihan pada hari ini. Hari sudah menjelang sore saat mereka selesai berlatih.

"Kalau begitu, sampai besok-ssu~ Jyaa, Minaa-chii, hati-hati dijalan ya!" ceria Kise sambil bergegas untuk pergi.

"Aku duluan juga, Tetsu, Akashi." Balas Aomine selanjutnya.

"Aku mau membeli benda keburuntunganku untu esok hari-nodayo. Sampai besok." Midorima kini menyusul pergi tidak lama setelah Kise dan Aomine pergi.

"Aku lapar~ sepertinya aku akan membeli maibo dulu sebelum pulang.. hhihi.. karena katanya hari ini aka nada rasa baru, aku harus cepat kesana. Aka-chin~ Kuro-chin~ aku pulang dulu ya." Lalu tinggalah seorang Akashi Seijuurou dan Kuroko Tetsuya berdua. Memang para anggota lain sudah pulang lebih awal, dan Akashi meminta para anggota Kiseki No Sedai untuk menambah jam latihan mereka. Jadi tinggalah mereka berdua saja di ruang Gym pada saat itu.

Entah ini adalah sebuah keberuntungan, ataukah kesialan bagi Kuroko Tetsuya. Jelas-jelas ia sudah memupuk rasa cinta itu kepada Akashi Seijuurou sejak mereka pertama kali bertemu. Lalu, bagaimana bila tanpa sengaja ia melakukan kesalahan konyol didepan mata Akashi karena saking gugupnya?

"Kuroko." Sang Phantom Player kini tersentak begitu melihat Akashi kini berdiri didepannya. Saking asiknya dia dalam lamunan-nya sendiri, hingga ia tidak menyadari bahwa pemuda yang ditaksirnya itu ada dihadapannya.

"A—Ada apa, Akashi-kun?"

"Kau kenapa? Wajahmu merah.. kau tidak demam, 'kan?" Akashi kini menempelkan jemarinya ke dahi milik Kuroko secara perlahan, mencoba mengecek, takut-takut keadaan pemuda Icy Blue ini sedang tidak vit.

Pemuda bersurai Icy Blue itu mengerjapkan matanya beberapa kali. Bagaimana ia tidak gugup bila saat ini mereka hanya berduaan, lalu, apa ini perasaan yang membuat jantungnya berdegup sangat kencang? Kuroko yang panik dan gugup tanpa sengaja langsung mengempis tangan milik Akashi.

Pemuda yang bersangkutan kini terdiam, melihat tangan yang ditempis oleh Kuroko dengan tatapan yang—sedih?

Menyadari tatapan itu, cepat-cepat Kuroko mengutarakan isi hatinya. "Akashi-kun, aku tidak bermaksud—" ucapan itu terhenti ketika Akashi kini menunjukkan senyum ramahnya.

"Tidak apa-apa, ayo kita segera membereskan bola-bola ini." Katanya sembari memunguti beberapa bola basket.

Dalam hati, Kuroko Tetsuya mengutuk dirinya sendiri. Mengapa ia mengempis tangan milik Akashi pada saat itu?

- xXx -

Beberapa bulan berlalu semenjak kejadian tersebut, namun, suatu hal yang janggal terjadi. Sesuatu yang membuat perasaan seorang Kuroko Tetsuya menjadi guyar.

"Apa yang kau katakan?" Kuroko kini memunjukkan pertanyaannya saat sosok Akashi masih memunggunginya. Akashi lah yang memintanya untuk membujuk Aomine Daiki, tetapi, apa katanya barusan? Merelakan bagaimana Aomine seperti itu selama ia masih berguna untuk tim?

Ketika ia berbalik, Kuroko terbelalak melihat perbedaan seorang Akashi yang berada didepannya saat ini.

"Tidak," Kuroko kini membulatkan matanya, masih tersipu dengan pandangan yang ada didepannya saat ini. "Kau siapa?"

"Tentu saja aku ini Akashi Seijuurou," sebuah senyum yang asing bagi Kuroko kini muncul di rona muka milik Akashi, bersamaan dengan ditumpangkannya tangan kanannya di depan dadanya itu, ia mentap lurus Sang Phantom yang masih terpaku. "Tetsuya."

Tidak, Akashi tidak pernah menyebut nama kecilnya sekalipun. Lalu, atmosfir apa yang tampaknya berbeda itu? Senyum ramah seorang Akashi yang dikenalnya kini telah sirnah, digantikan oleh pandangan tajam heterochrome yang tampaknya siap untuk menghancurkannya kapanpun itu.

Apa Akashi kini berubah? Seorang Akashi yang dikenal selama ini oleh Kuroko Tetsuya?

- xXx -

Semua kejadian yang berlalu kini hanya membuat kenangan yang begitu menyakitkan bagi Kuroko Tetsuya. Akashi yang selama ini dikenalnya, Akashi yang selama ini dicintainya kini telah berubah. Meskipun begitu, ia masih bertahan, karena ia tahu, mungkin suatu saat nanti, Akashi akan kembali menjadi dirinya yang dulu.

Namun, apa yang diharapkannya itu hanya tinggal sebuah harapan belaka.

Pertandingan saat melawan Meiko adalah puncak dari kesabaran seorang Kuroko Tetsuya. Hatinya kini hancur berkeping, setega itukah? Setega itukah Akashi kepadanya? Meskipun ia telah mengatakan untuk melawan Ogiwara Shigehiro bersama tim-nya dengan serius. Tapi—inikah yang didapatkan olehnya?

Perbedaan angka yang didapat oleh hasil pertaruhan anggota Kiseki no Sedai, pertaruhan siapa orang yang terbanyak mencetak angka. Manik Baby itu terbelalak melihat angka yang tertera pada saat ia menatap layar TV yang memampang pertandingan pada saat itu.

111-11.

Sekalipun kemenangan itu telah diraih, tapi mengapa dada ini terasa sakit? Mengapa rasanya begitu sakit bahkan untuk bernafas sekalipun? Apakah suatu hal seperti ini..benar-benar dinamakan sebagai kemenangan? Mematahkan hubungan antara dirinya dan Ogiwara, inikah—sebuah kemenangan?

- xXx -

"Surat apa ini, Tetsuya?"

Pandangan mata Baby Blue itu hampa, seolah badan yang terisi oleh jiwa yang telah lama hilang. "Aku mengundurkan diri tadi tim basket, Akashi-kun."

Pandangan mata Heterochrome itu memandang lurus sosok yang berada didepannya saat ini.

"Begitu, 'kah?" ucapnya sambil mengambil surat pengunduran diri itu. Ruang kelas milik Akashi ketika jam telah berakhir adalah tempat yang Kuroko pilih untuk menyerahkan surat itu kepadanya.

"Akashi-kun." Iris Baby Blue kini menatap manik Heterochrome yang berada didepannya. Kuroko diam, tetapi matanya seolah berbicara pada Akashi. Apakah ia akan benar-benar membiarkannya pergi begitu saja? Apakah ia tidak ingin menahan kepergiannya?

"Bila itu memang keputusanmu untuk keluar, aku tidak akan memaksamu tetap berada di tim ini. Karena aku tidak membutuhkan sebuah pion yang tidak berguna."

Pion?

Jadi—bagi seorang Akashi Seijuurou, inilah arti eksistensinya? Sebuah pion? Alat yang digunakannya untuk mencapai kemenangan?

Tangan Kuroko terkepal, mukanya mendadak menjadi merah, merah karena menahan emosinya.

"Permisi." Tanpa memandang wajah Akashi, Kuroko langsung memacu langkahnya. Ia bahkan tidak peduli bila suaranya bergetar saat mengucapkan kata-kata barusan, meninggalkan seorang Akashi Seijuurou seorang diri di ruangan itu.

Beberapa menit Akashi berdiam diri dalam ruangan yang sepi itu. Angin yang mengalir dari tepi-tepi jendela kini menyerbu perasannya saat ini.

"Tck!" Akashi Seijuurou kini memukulkan tangannya ke tembok yang berada disekitarnya. Beberapa detik ia terdiam di posisi seperti itu. Pandangan matanya kini melihat surat pengunduran diri yang diberikan oleh Kuroko Tetsuya.

"Kenapa—aku tidak bisa menahannya.."

- xXx -

Terakhir kalinya sosok Kuroko Tetsuya melihat teman-teman seperjuangannya di tim basket terdahulunya adalah pada saat upacara kelulusan. Namun, setelah upacara itu berakhir, bagai sosok bayangan, Kuroko Tetsuya langsung menghilang dari tempat itu bagaikan hilir angin yang berlalu.

Semenjak kejadian itu, ia tidak pernah mendengar kabar apapun dari salah satu anggota Kiseki No Sedai. Bahkan sosok Akashi yang masih cintintainya itu secara diam-diam.

Seirin, adalah High School yang dipilih olehnya untuk melanjutkan jenjang pendidikan dan juga memulai tim basket yang baru, demi ambisinya, yaitu menyadarkan para anggota Kiseki no Sedai.

Meski Seirin bukan tim yang begitu kuat, tetapi kemunculan sosok Kagami Taiga yang merupakan sosok Light baru bagi Kuroko menjadikan tim Seirin mampu bertahan hingga saat ini.

Para anggota Kiseki no Sedai kini telah bertemu dengannya.

Kise Ryouta, Midorima Shintarou, Aomine Daiki, Murasakibara Atsushi.. hingga saat ini, ditempat ini saat kejuaraan Winter Cup berlangsung. Sosok Pemuda bersurai Scarlet itu menyita perhatian Kuroko sepenuhnya, Akashi Seijuurou. Tetapi, berbeda dengan sebelumnya, kini antara dirinya dan Akashi tidak lebih dari sekedar musuh yang bertemu dalam satu lapangan.

Lagi-lagi, Kuroko dikejutkan oleh tingkah laku sang Captain Rakuzan ini dengan memperkenalkan sosok Mayuzumi Chihiro—pemuda bersurai keabuan yang menyandang title sebagai New Phantom Sixth Man.

Kemampuan yang sama—atau bahkan lebih dibanding dengan dirinya.

Hal yang ia berikan pada Kuroko dulu, kini ia berikan juga pada sosok yang kini berada didepannya. Sosok yang menjadi 'pengganti' bagi dirinya.

Sakit—hati kecil Kuroko Tetsuya bahkan masih berdenyut ketika seseorang memanggil nama 'Akashi' didepannya. Ya, Kuroko masih memendam perasaan itu terhadap Akashi. Perasaan yang masih melekat dengan kuat meskipun hatinya telah beberapa kali disakiti oleh orang yang dicintainya itu.

Puncak dari semua jerih payah Kuroko Tetsuya kini terhapus oleh kekalahan bagi tim Seirin. Ternyata untuk mengalahkan tim Rakuzan— dimana Captain dari Generation of Miracle, bersama dengan 3 Uncrowned Kings, ditambah dengan sosok Mayuzumi Chihiro— bagi tim Seirin adalah hal yang mustahil untuk saat ini. Sekeras apapun mereka berusaha, kekalahan Seirin terungkap ketika Buzzer Beat dilakukan oleh Akashi pada detik-detik sebelum berakhirnya pertandingan.

Wajah kekecewaan dari Tim Seirin tidak bisa terbendung lagi. Peluh kini sudah bercampur dengan tangisan kekalahan. Meski begitu, semua penonton yang berada disana memberi tepuk tangan yang begitu meriah bagi kedua tim ini. Mereka telah bertanding dengan begitu hebat, hingga hati dari setiap penonton tersentuh oleh kerja keras mereka. Baik Seirin, maupun Rakuzan.

Kuroko Tetsuya kini terdiam di bangku ruang ganti, handuk kecil berada diatas kepalanya. Meski keringat masih keluar tanpa hentinya, Pemuda Baby Blue ini hanya terdiam tanpa bergerak sedikitpun.

"Woy! Kuroko!" teriakan Kagami Taiga kini membuyarkan lamunan seorang Kuroko Tetsuya. Ia memukul kecil kepala Kuroko. "Sampai kapan kau mau bengong seperti itu, hah?"

"Kagami-kun..?"

"Cepat susul dia."

"Eh? Apa maksudmu dengan—"

"Ada satu hal yang ingin kau bicarakan, bukan? Pada Akashi Seijuurou."

DEG

"Cepat susul dan utarakan isi hatimu, sebelum kau menyesal karena tidak memberitahukan isi hatimu."

Benar apa kata Kagami saat ini. Meskipun tim Seirin kini kalah dari Rakuzan, tetapi, didalam hatinya, Kuroko sendiri telah menemukan sebuah kemenangan yang dicarinya. Kemenangan dimana ia bisa mengembalikan semua anggota Kiseki no Sedai—termasuk Akashi didalamnya. Itulah kemenangan bagi sosok Kuroko Tetsuya saat ini.

Tanpa mempedulikan seragam yang masih dipakainya saat bertanding, Kuroko langsung memacu langkahnya keluar. Mungkin ia harus berterimakasih pada Kagami nanti.

Meski stamina-nya sudah terkuras habis, entah mengapa kakinya masih kuat membawa dirinya untuk pergi ke ruang ganti milik Rakuzan. Tetapi Kuroko menemukan ruangan itu telah kosong—apa mungkin mereka telah pergi?

Manik Baby Blue itu kembali berlari untuk keluar dari gedung dimana mereka bertanding. Hingga ia menemukan tim Rakuzan sedang berjalan untuk memasuki bus mereka.

"Akashi-kun!" Teriakan Kuroko agak terengah ketika ia memanggil nama mantan Captain-nya itu.

Tetapi Akashi mendengarnya. Ia menghadap kebelakang dan menemukan sosok Kuroko Tetsuya yang terengah. Akashi tersenyum simpul, dari kejauhan ia seolah memberi gerakan pada rekan-nya untuk pergi duluan.

Ketika anggota Rakuzan lainnya kembali melangkahkan kakinya, Sosok Akashi Seijuurou menghampiri dirinya. Entah mengapa Akashi kini membawanya ke tempat yang lebih sepi.

"Kau memiliki tim yang kuat, Tetsuya."

"Eh?" Manik Baby Blue tersebut kini menatap sosok Pemuda bersurai Scarlet yang ternyata membuka pembicaraan duluan. "Akashi-kun.."

"Mungkin—selama ini aku tidak pernah menyadarinya. Tetapi, dengan apa yang kau lakukan selama pertandingan tadi mengingatkanku bahwa kemenangan bukanlah segalanya. Terimakasih, karena kau sudah menyadarkanku." Manik tajam Heterochrome yang sedaritadi dilihatnya selama pertandingan kini sirnah, digantikan oleh tatapan lembut seorang Akashi yang dicintainya dulu.

Tanpa ia sadari, tetesan airmata kini turun membasahi matanya.

"T—Tetsuya?"

Mungkin ini adalah saat yang tepat, dimana ia akan mengutarakan apa yang selama ini berada di hatinya.

"Aku—aku..selama ini.. selama ini aku berharap agar Akashi-kun kembali. Aku merindukan masa-masa kita semua, anggota Kiseki no Sedai bisa bermain basket bersama lagi, dengan senyuman dan perasaan menyukai basket." Kuroko kini menundukkan kepalanya, membiarkan airmatanya menghujani lantai Gym saat itu.

"Hey, Tetsuya," Panggilan lembut Akashi kini mengalihkan pandangan Kuroko. Manik buram Baby Blue itu kini menatap manik Heterochrome didepannya. "Ayo kita bermain basket lagi, bersama anggota Kiseki no Sedai lainnya." Akashi kini mengepalkan tangannya kedepan, menyikutkan tangannya hingga membentuk sudut 90 derajat. Kuroko Tetsuya tersenyum dibalik tangisannya. Ia ikut melakukan gerakan yang sama, sehingga kedua kepalan mereka kini saling bersentuhan.

"Ayo, kita bermain basket bersama kembali."

Kuroko kini menghapus jejak-jejak airmata yang turun membasahi pipinya.

"Apa—ada hal lain yang ingin kau sampaikan?" Tanya Akashi secara tiba-tiba.

Spontan Kuroko langsung menggelengkan kepalanya.

"Tidak, Bagaimana dengan Akashi-kun?"

Bohong. Kau masih memendam perasaan cinta itu pada Akashi, bukan?

"Aku..sebenarnya.." Ucapan pemuda bersurai Scarlet itu terhenti. Kini manik Heterochrome-nya memandang manik Baby Blue yang tampaknya kebingungan. "Ah, tidak, bukan apa-apa." Lanjutnya sambil tersenyum.

'Sebenarnya aku mencintaimu.' Ungkapan kata yang tidak bisa Akashi ucapkan pada saat itu.

"Kalau begitu, aku pergi dulu menyusul yang lainnya." Senyum kecut kini menghiasi rona muka milik Akashi.

"Baiklah, hati-hati, Akashi-kun."

Saat hilir angin berhembus, dimana sang Captain yang cintainya kini mulai melangkah maju, Kuroko Tetsuya hanya bisa terdiam sambil menutup matanya. Ia tidak memiliki keberanian yang cukup untuk mengutarakan 'perasaan' lain yang dipendam selama ini olehnya.

Begitu pula dengan sosok Akashi Seijuurou.

Meskipun ia telah memendam perasaan yang sama, tetapi ia juga tidak bisa mengutarakan isi hatinya kepada Kuroko. Ia terlalu banyak menyakitinya dimasa lalu. Dan mungkin—bila ia mengutarakan isi hatinya itu pada pemuda bersurai Icy Blue itu, ia takut bahwa hubungan mereka akan hancur.

Lebih baik untuk menahan perasaan ini dibandingkan kehilanganmu.

"Tetsuya." Akashi kini berbalik kebelakang.

"Ada apa, Akashi-kun?"

Senyum kini terhias diwajah milik Akashi. "Hati-hati bila kau pulang nanti."

Kuroko mengangguk kecil. "Kau juga, Akashi-kun."

Lalu, setelah mereka mengucapkan kat itu, masing-masing diantara mereka saling membalikkan badan mereka dan berjalan saling menjauhi tempat tersebut.

.

.

Aku dan dirinya, perasaan yang tidak akan pernah bisa tersampaikan.

Perasaan yang cukup kukenang dalam hatiku seorang diri.

Mungkin, satu-satunya kebahagiaan bagiku adalah melihatmu bisa bersama dengan oranglain,
selama kau bahagia, itu tidak akan menjadi masalah bagiku.

..tapi,

Apakah itu memang kebahagiaan yang kucari?"

.

.

~Owari~