Disclaimer: I am not, in any way, take any profit from the story and that all creative rights to the characters belong to their original creator(s). Naruto © Masashi Kishimoto.


Jejak Bulan di Atas Air

blackpapillon


24. Sebelum Menghilang

.

.

.

TENDANGAN Sasuke yang pertama menjatuhkan Gaara ke tanah dengan suara benturan keras, dan berikutnya yang terlihat hanyalah dua sosok yang bergerak cepat.

"Kalian berdua! Ini sudah malam dan kalian baru memutuskan akan berdiskusi sekarang?!" Naruto berteriak seraya melompat mundur, menghindari hujan pasir yang mendadak menutupi tempat duduk mereka semua. "Oi!"

"Ah! Anak-anak brengsek," Neji merutuk, berguling dari tempatnya berbaring. Kantuknya yang baru datang terhapus sama sekali. "Sejak kemarin sama sekali tak bicara dan kalian baru melakukan ini di waktunya istirahat. Seharusnya kalian merencanakan ini dengan lebih baik."

Entah sejak kapan, Sai sudah berpindah ke tempat yang agak jauh dan lebih aman. Dia melambaikan tangannya dari tempatnya berada, cabang pohon yang cukup tinggi. Wajahnya tak berubah ekspresi biarpun tempat mereka beristirahat tadi dalam sekejap sudah berubah menjadi porak-poranda.

"Kita tak bisa melakukan apa-apa," Sai kembali membenahi buku sketsa yang tadi harus dia selamatkan sejenak-hal pertama yang dia lakukan. "Bagaimana kalau sekarang kita menonton saja?"

"Yang benar saja! Mereka terlihat akan saling membunuh." Naruto memotong, melihat situasi sekarang. Cahaya biru berpendar, memecahkan tembok pasir. Bergantian, terus menerus, tinjuan dan hentakan mencoba meruntuhkan pertahanan masing-masing. Sasuke terlempar ke pohon dan Gaara jatuh ke tanah. Naruto berjengit. Pasti sakit, pikirnya, tanpa sadar wajahnya meringis.

Neji sudah lebih dulu berada di bagian atas, bersila seakan sedang menonton pertandingan bola; tangannya membentuk segel dengan byakugan yang aktif.

"Aku pastikan mereka tidak akan saling bunuh. Gaara bukan mata-mata dan dia membawa nama Suna. Kalau terjadi apa-apa, kita yang akan bergerak."

Ledakan pasir muncul lagi di udara. Lokasi pertarungan antara dua orang pemuda itu sudah melebar melebihi tempat menginap mereka sejak kemarin. Beberapa pohon tumbang dan pasir yang bertebaran menimbulkan debu, bercampur dengan asap dan bau hangus.

"Yah, Neji benar," Shikamaru muncul di sebelah Naruto, membawa papan dan bidak-bidak shogi yang sudah kembali dia kantongi. "Naik ke pohon, Naruto. Kau butuh tempat duduk yang bagus agar bisa melihat dengan jelas."

Semburan api melalap semak rumput yang ada di daerah itu hingga membara. Naruto kembali melompat menghindar. Sai dan Neji hanya angkat bahu.

"AGH!" Pemuda berambut pirang itu berteriak frustrasi, akhirnya mengikuti Shikamaru. Mereka melompati beberapa cabang besar, dan menemukan pohon yang cukup aman dan kuat untuk diduduki. "Aku tidak mengerti mereka sedang apa."

Shikamaru mengernyitkan dahi. "Setidaknya, itulah pikiran kami setiap melihatmu dan Sasuke, Naruto."

Naruto tidak berkomentar lagi pada akhirnya.

.

.

.


"KAU kurang cepat."

Sasuke menyimpulkan: dia tidak suka pasir.

Ia menghindar dari pasir yang meruncing di sisi kepalanya, dan melompat ke kiri; kakinya menginjak ranting-ranting kayu yang sudah nyaris jadi abu. Ia belum pernah menghadapi pasir ini secara langsung sebelumnya. Begitu berhadapan dengan pasir ini secara langsung, dia tahu katana-nya tidak akan berguna. Di kejauhan sana, ia dapat melihat Gaara berdiri, mata lurus terarah kepadanya.

"Pertahananmu banyak terbuka. Terlalu lama menyerang?"

Suara Gaara terdengar senang dan Sasuke tak menyukainya. Tangan pemuda berambut merah itu membentuk segel dan menyerang Sasuke lagi dengan pasir. Pasir itu bermunculan dari segala arah, dan Sasuke tak tahu suara Gaara berasal dari mana. Perih mulai bersarang di wajah Sasuke yang tadi terkena sisi batang pohon. Sasuke meringis, dan kakinya bertolak lagi, bersikap kuda-kuda.

Sebelum Sasuke mencapainya, Gaara sudah menghilang lagi. Pandangannya kabur; penglihatannya ditutupi debu berwarna kekuningan. Pasir. Pasir brengsek itu lagi, dan Sasuke meluncurkan api untuk melawannya-efeknya tidak terlalu kentara. Sasuke saat ini baru berpikir bahwa menjadi shinobi dari Kumo atau Ame mungkin bisa sedikit lebih menguntungkan.

Hujan air lebih baik daripada hujan pasir yang sekarang mengurungnya, membuatnya harus menghindar dari jarak capaian pasir itu.

"Dan kau hanya menjadi penonton dengan pasir brengsek yang jadi anak buahmu," Sasuke mendesis. "Aku tak mengerti apa yang kau maksud dengan mengukur kekuatan."

Sasuke tak terbiasa dengan serangan yang diam-diam. Hal semacam itu adalah keahlian Shikamaru, atau Sai; atau juga Neji, yang selalu menjadi poin keseimbangan untuk setiap strategi. Tugasnya dan Naruto adalah berada di depan. Pimpin tentara-tentaranya untuk menyerang sampai habis, dan bertahan langsung dari serangan di depan mata.

"Kami penduduk Suna terbiasa dengan serangan jarak jauh. Jumlah kami hanya sedikit, situasi terbatas, dan kau harus melakukan sesuatu yang efektif." bibir Gaara membentuk sebuah senyum, lagi. Sasuke membuang ludah. "Kau butuh sedikit peningkatan."

Api tidak terlalu efektif melawan pasir. Sedikit pemusatan chakra di tangan bisa membantunya membentuk chidori, namun saat ini staminanya harus mengukur dengan baik berapa yang bisa dikeluarkan. Satu serangan sudah menghancurkan struktur tanah dan hanya melukai Gaara barang sejengkal.

Sasuke tak ingin tenaganya terbuang sia-sia dan kemudian ditertawakan. Untuk perkelahian yang dimulai dari perbincangan santai... Sasuke malas membayangkan apa komentar Naruto nanti. Atau Neji.

Tapi ini bukan soal itu. Sasuke tahu bahwa sejak kemarin dia memang menahan diri untuk tidak "mengukur kekuatan", apa pun yang Gaara katakan padanya sewaktu pertama kali bertemu. Tak ada hubungannya dengan Sakura atau apa pun.

"Seharusnya kau beritahukan ini pada Shikamaru atau Neji," Sasuke menatap mata hijau itu dengan pandangan tak suka, "biarpun sepertinya mereka tidak memerlukannya."

Gaara berada di atasnya sekarang, Langit hitam menjadi latar belakang pasir yang tampak keemasan. Pemuda berambut merah itu menatap Sasuke sambil melipat tangan. Sasuke mendongak, nafasnya terengah. Hanya menghindari pasir dan sekarang tenaganya terasa terkuras. Ia merasa bodoh.

"Kalian kakak beradik Uchiha memiliki kesombongan dan keangkuhan yang sama," bibirnya tersenyum lagi, tubuhnya melayang di sekian meter di atas. "Katakan itu setelah kau berhasil menjatuhkan Orochimaru dan tak membuatmu digendong keluar seperti bayi."

Dingin menyerang sekujur tubuh. Sasuke berjengit mendengar nama itu disebut, giginya mengertak. Serangan segel api darinya membuat pasir yang menopang Gaara pecah menjadi serpihan.

"Aku tidak minta bantuanmu!" Sasuke meraung, tangannya membentuk segel lagi-serangan cahaya berwarna biru mengalahkan warna emas pasir. Gaara terpelanting dengan suara keras, namun yang pecah hanyalah pasir. Sasuke mengertakkan gigi. Yang berubah dari wajah Gaara hanyalah sedikit kening yang berkerut.

Sasuke tahu Gaara bukan orang biasa; tapi ia tak bisa menduga sampai sejauh ini.

"Jangan bicara terlalu sombong," Gaara berkata dingin. "Dengan musuh kita sekarang, kau tidak akan bisa apa-apa. Berikutnya tak hanya aku yang menggendongmu seperti bayi. Tapi juga Naruto dan yang lainnya."

Sasuke menahan napas, berusaha berkonsentrasi. Matanya dibuka, dan dilihatnya tangan Gaara sudah membuat segel lagi. Terlalu cepat. Gaara melesat ke arahnya dan hantaman keras menghajar wajahnya lagi. Sasuke terbatuk, merah mengotori seragamnya yang sudah lusuh terkena debu pasir. "Bangsat-"

"Jangan terlalu banyak berpikir."

Sebuah dinding pasir muncul dari segala arah, membuat Sasuke benar-benar menghentikan gerakannya. Itachi pernah mengatakan tentang ini: Gaara adalah orang yang istimewa-bukan hanya "utusan shinobi dari Suna", tapi juga kemampuan yang tidak dimiliki orang biasa.

Mata hitam Sasuke mengobservasi sejak tadi. Pasir itu.

Adrenalin terpacu, degup jantungnya bertambah kuat, gabungan antara rasa antusias dan juga ketidaknyamanan yang meningkat. Dinding pasir membentuk kubah dan menutupi mereka, dalam sekejap mengalienasi tempat yang tadinya masih berwujud hutan itu. Benteng. Sasuke melihat ke kiri dan ke kanan, namun tak dapat melihat yang lain selain pasir.

"Kau tak butuh mengurungku dalam kegelapan. Hutan ini sudah cukup gelap." Sasuke berkomentar sarkastis, biarpun matanya tetap waspada. Ia tak mendengar apa pun di sekelilingnya selain bunyi pasir. Mereka berdesis, seperti angin yang kotor dan membuat nafasnya sesak. Ia terkungkung dinding asing.

"Kau pikir, mengapa harus Suna yang datang?" Gaara menatapnya lagi, dan kedua tangannya terentang. Bersamaan dengan itu pasir mengikuti gerakannya seperti piaraan menuruti majikan.

Seperti ular. Sasuke mendecih.

Desau pasir mengisi telinga seakan mereka adalah makhluk hidup; berkumpul dari luar, mengisi setiap jengkal udara. Suara Gaara kering tanpa nada. "Terutama kau, Uchiha-san. Sekarang, ingat-ingatlah."

"Kau-"

Kaki Sasuke terjejak kaku di tanah-atau pasir, entah. Ia tak dapat melihat hutan yang barusan saja masih tampak familier. Semua gelap, dan Sasuke tak menyukai kegelapan ini. Sasuke mengingat-ngingat. Ia tahu Naruto, Neji, Shikamaru, dan Sai ada di luar sana. Ia tahu bahwa di sini bukan tempat yang asing. Dia tidak bersama orang-orang yang asing, dan Gaara juga tidak akan melakukan apa-apa... Bukan?

Tetapi, Gaara bukan orang yang dia kenal. Pasir yang ada di sekitarnya menimbulkan sensasi mendesir; apakah itu angin dari luar, atau pergerakan pasir di dalamnya sendiri? Sasuke tidak tahu. Tangan dan kakinya terasa kaku.

Tubuhnya limbung dan ia tak dapat merasakan tangan atau kakinya sendiri. Tubuhnya tak mau mengikuti apa yang kepalanya ingin lakukan.

"Kita berhadapan sekarang untuk membahas ini." Suara Gaara terdengar lagi. Sasuke tak menemukan kalimat apa pun untuk membalas Gaara karena dia tidak tahu sama sekali situasinya.

Sejumput pasir bergerak dari dinding-dinding, dan Sasuke terkesiap. Mata dan otaknya tidak dapat memperkirakan apa lagi yang akan muncul. Pupil matanya melebar ketika perlahan pasir yang berkumpul itu membentuk sesuatu. Skak mat. Udara di sekitarnya terasa berat dan membelit. Napasnya jadi satu-satu dan memburu, seakan-akan tak tersisa lagi udara.

Ninjutsu?

Genjutsu?

Ketika menyadari penyebabnya, Sasuke terkesiap. Bukan. Ini rasa takut dari dirinya sendiri. Gemetar, Sasuke berusaha mengambil kendali atas tubuhnya. Bodoh, bodoh. Katana yang sedari tadi dipegangnya bahkan tak sanggup dia keluarkan. Kendali pihak luar terlalu kuat.

Ular berbentuk pasir mendesis dengan susunan yang tak beraturan, mendekat. Panas. Suara-suara lama kembali memenuhi otaknya, berbisik, tumpang tindih. Bayangan gelap dan merah darah di lantai, di jalanan, pintu-pintu yang rusak dan lapuk. Jejak-jejak yang tak terlihat. Tubuh orang-orang yang dia kenal, bersimbah darah.

Jarum-jarum yang terdiri dari pasir menghujam bahu dan lehernya tanpa ampun. Tubuh Sasuke terpelanting.

Sialan.

Sialan!

.

.

.


48 jam setelah itu, istana.

"FASE bulan akan segera berakhir," Tenten mengintip ke luar jendela. "Kau tidak melihat mereka, Sakura? Biasanya kau senang melihat mereka dari dekat."

Sakura tak menjawab. Kepalanya tenggelam dalam buku-buku tebal yang pinggirannya sudah tua dan berdebu. Halamannya tampak kekuningan. Di sisi lain bertebaran gulungan-gulungan. Gadis itu tampak tak mendengarkan komentar Tenten. Tenten melirik Ino dan gadis berambut pirang itu angkat bahu. Sakura tampak tak terganggu.

"Dia kenapa, sih?" Tenten bertanya, kepalanya mengedik ke arah Sakura. "Bukannya akhir-akhir ini kegiatannya sudah kembali normal? Seperti melihat bintang dan upacara minum teh juga. Dia kena penyakit lagi?"

"Penyakit?" Ino menyela tak paham. Setahunya kondisi kesehatan penduduk istana sedang baik, kecuali ratu. Penyakit macam apa lagi? Dayang seharusnya mendengar lebih dulu dari arahan Tsunade-shishou. Gadis berambut pirang itu menatap Tenten tak mengerti.

Tenten terkikik geli. "Penyakit cinta? Memangnya ada lagi pemuda tampan untuk diperhatikan? Sakura-chan kita ini tidak mudah berbelok arah, tahu."

"Astaga, istilahmu norak sekali! " Ino terbahak, melemparkan jepit rambutnya ke arah Tenten-yang langsung ditangkap. "Tapi tidak. Tadi pagi dia minta padaku untuk membantunya membawa banyak buku dari perpustakaan. Semacam buku-buku pemerintahan yang diberikan Kakashi-sensei tidak cukup saja!" Cetus Ino.

Sakura berhenti membaca, akhirnya menyadari obrolan Ino dan Tenten. "Padahal biasanya kalian yang menyuruhku supaya belajar lebih rajin," gadis itu menggerutu, menutup satu buku tebal dan beralih ke buku lainnya. "Biarkan aku membuat ruanganmu dan Hinata berantakan malam ini, setidaknya kalian akan menghemat waktu saat membereskan kamarku."

Gadis-gadis itu tertawa.

Malam ini, mereka: Sakura, Ino, Tenten, dan Hinata, kembali menginap bersama, mengorbankan satu bilik dayang untuk dipakai mereka berempat. Begitu selesai makan malam, keluarga kekaisaran kembali melakukan kegiatan masing-masing. Kaisar kembali rapat di ruangan lain, bersama perdana menteri. Ratu harus segera beristirahat karena kondisinya yang memburuk akhir-akhir ini. Tenten memanfaatkan rapat ini untuk datang bersama ayahnya dan menginap di istana.

Hinata yang tadi sedang sibuk menyisir rambutnya, ikut menoleh ke arah Sakura. "A-apa terjadi sesuatu, Sakura-chan...?" gadis itu bertanya hati-hati. "Apa... Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?"

Tangan Sakura berhenti di salah satu halaman. Buku teks yang dia pegang terbuka di bagian penanganan medis dalam jumlah besar. Jemarinya menelusuri teks yang dia baca. "Aku sedang berpikir apa selama ini aku benar-benar berguna." Ia bergumam, lalu kembali membaca.

"Lihat siapa yang bilang," Ino terkekeh, "kalau kau tidak berguna, berarti aku debu. Kau ini wajah negara, tahu! Jangan membuatku ingin muntah."

"Jangan bilang begitu, Ino," Sakura tersenyum masam. Ino menyadari perubahan wajah Sakura, dan kening gadis itu mengernyit bertanya-tanya. Sakura menjatuhkan kepalanya di atas meja, wajahnya merah padam. "Kalian sekarang menjadi dayang untuk menempati posisi penting internal istana nantinya, kan. Dan kalian juga mempelajari banyak hal."

"Lalu intinya adalah?" Ino menyela, melirik tumpukan buku dan gulungan yang berserakan. "Kau mempelajari seribu lebih banyak buku daripada aku. Pelajaran-pelajaran yang kau dapatkan dari Kakashi-sensei, kan?"

Sakura menggeleng, namun tidak menjawab. Membiarkan saja pikirannya untuk dirinya sendiri. Tidak praktikal. Ucapan Sasuke waktu itu jadi terasa seperti sebuah kebohongan. Mungkin sudah lebih baik dari dulu, namun apakah dengan keadaan yang sekarang, itu sudah cukup?

Sakura menghela napas panjang.

"Oh! Hinata! Ada sesuatu yang mengetuk-ngetuk jendela," Tenten tiba-tiba menyela.

Sakura menoleh ke arah yang ditunjuk Tenten, sementara Hinata bergegas ke jendela. Benar saja. Begitu membuka jendela, seekor elang yang ada di luar langsung menyerbu masuk, kepakan sayapnya berbunyi nyaring. Gadis-gadis yang ada di ruangan itu berteriak otomatis, menghindar dari kebisingan. Sesaat kemudian, elang itu hinggap di satu pojok, di atas lemari.

"Ini elang milik pasukan kerajaan. Ngapain dia di sini?" Ino berinisiatif mendekat, menenangkan elang itu. Matanya menangkap cincin penanda yang membalut kaki kiri si elang. Gadis itu memekik. "Ada suratnya! Aku ingat ini, ini punya Naruto."

"Na-naruto-kun? Ta-tapi ini kamar ki-kita..." Ucapan Hinata tiga kali lipat lebih terbata dari biasa, dan dia tidak berani mendekat. Ino dan Tenten berpandangan, lalu tertawa. Sakura ikut terkikik geli dari balik bukunya.

Ino sudah melepaskan surat yang terikat dan melemparkannya ke arah Hinata, mata berbinar dan senyumannya makin lebar. Malah terkesan jahil, sementara Hinata semakin salah tingkah. "Nih, kamu yang duluan baca! Siapa tahu isinya tidak boleh kami baca." Gadis itu tertawa lebar.

"Itu dari Naruto? Bukankah mereka masih berlatih di Kuro no Mori?" Sakura menyela sementara Hinata sibuk berkuat dengan simpul tali dan lipatan kertas. Tenten harus membantu gadis itu membuka ikatan suratnya karena tangannya terlalu panik untuk melepaskan sendiri. "Apa latihan mereka sudah usai?"

"I-ini dari Neji-niisan," Hinata berujar, ekspresi wajahnya nampak lega. "Dia meminjam elang milik Naruto-kun... Tampaknya..."

"Eh, kok begitu?" Ino manyun, langsung kecewa. "Buat apa kakakmu yang kaku itu meminjam elang pada Naruto?"

"A-aku tidak tahu," Hinata mencicit, langsung meneruskan bacaannya kembali. "Dia menanyakan kabar istana, lalu..."

"Mungkin ada jurus rahasia yang sedang diajarkan Jiraiya-sama pada mereka!" Tenten menyela dengan berapi-api. "Tuh kan, menyenangkan sekali mereka, mendapatkan banyak pengajaran baru. Sedangkan aku, mendapat pelatihan dasar tentara juga tidak."

"Tentu saja karena kamu bukan tentara, Tenten-sama," Ino mencubit lengan Tenten hingga gadis berambut panjang itu mengaduh. Ino mengangkat alis. "Dasar kalian, anak-anak bangsawan yang tidak pernah puas! Aku sudah cukup senang bila memiliki banyak tentara untuk melindungiku."

Tenten menjulurkan lidah. "Nara Shikamaru-kun? Atau Sai-kun, jadi yang terdepan untuk melindungi Yang Mulia Ino?"

Detik berikutnya sebuah bantal sukses menghantam wajah Tenten.

"A-ada sesuatu yang terjadi antara Sasuke-san dan Gaara-kun, sehingga latihannya harus lebih lama... Mereka sedikit berlebihan dalam bertarung. Saat ini sedang dalam pemulihan." Hinata berkata setelah menekuni suratnya, membuat kegiatan itu terhenti. Semua pandangan langsung menuju ke arah Sakura. "Tapi tidak dijelaskan... Sepertinya tidak apa-apa. Neji nii-san tidak memberitahukan ada sesuatu yang berbahaya..."

"Apa mereka menghancurkan sesuatu?" Ino bertanya, yang dijawab Hinata dengan angkatan bahu. Ino menyisiri rambutnya dengan jari, melirik Sakura. "Mengingat hubungan mereka sejak kemarin memang tidak terlalu baik, mungkin mereka harus dihukum secara khusus... Menurutmu bagaimana, Sakura?"

Sakura tak bisa menjawab. "Entah...lah? Aku juga tidak mendapat kabar apa pun dari mereka."

"Tak dapat kabar? Benarkah?" Ino membelalakkan mata tak percaya. Sakura menggeleng lagi mendengar komentar Ino itu. Ino berkacak pinggang, berkomentar soal 'si Uchiha bodoh itu masih juga tidak belajar' atau semacamnya. Sakura tak mendengarnya karena sibuk dengan pikirannya sendiri.

Tak ada kabar yang sampai ke jendelanya. Cerita tentang latihan hanya ia dengar dari para menteri dan Ayahnya. Sakura tak ingin bilang kalau ia menunggu Shiro muncul di balkon kamarnya; namun paling tidak sekarang ada surat Neji yang mengabarkan apa yang terjadi di sana.

Namun Sakura juga tak bisa tidak berpikir, apa lagi yang terjadi di sana?

"Tapi latihan itu sangat dianggap sebagai sesuatu yang penting. Jarang sekali kan para jenderal meninggalkan pos mereka di istana selama ini," sambung Tenten. "Biasanya bergiliran. Sekarang semuanya pergi. Sejak kedatangan Suna itu, banyak hal yang terjadi... Apa selanjutnya akan ada..."

Kata-kata itu menggantung begitu saja, dan mereka berempat memilih untuk tidak melanjutkan omongannya. Masing-masing kembali melanjutkan kegiatannya; dan Hinata melipat kembali kertas itu dengan rapi, menjadi origami berbentuk bunga. Ia mengambil lagi lembar lainnya, kertas yang tadi tidak dia tunjukkan pada teman-temannya. Separuh sembunyi-sembunyi, ia melipat kertas itu menjadi bentuk kupu-kupu.

Hinata tersenyum diam-diam dengan wajah memerah; tangannya melipat kertas yang bertuliskan ucapan pendek dengan huruf yang super berantakan.

'Terima kasih untuk jimatnya, Hinata-chan. Di sini tidak ada ramen, tendanya sempit dan kami bau karena sering kotor lagi biarpun sudah mandi! Tapi aku merasa lebih baik karena jimat pemberianmu ini wangi sekali.

Naruto.'

.

.

.


48 jam sebelum surat itu sampai ke tangan Hinata dan yang lainnya, Kuro no Mori-Hutan Hitam, yang seharusnya menjadi salah satu tempat paling gelap di daerah perbatasan Konoha, bercahaya terang seperti kembang api besar yang meledak secara bersamaan. Semua hewan yang ada di daerah itu menyingkir; tanah bergetar dan selain itu yang ada hanyalah sunyi.

Sasuke melancarkan chidori terakhir dengan sisa chakra-nya, memecahkan dinding pasir itu dengan efektif. Semua jadi debu, membuyarkan dinding pasir itu sampai habis. Tangan kanannya menimbulkan sensasi terbakar. Sasuke jatuh ke tanah, kalau dia bisa menyebut itu tanah-karena seakan-akan segala yang dia lakukan sia-sia.

Punggungnya tak bisa lagi merasakan rasa sakit tatkala menghantam tanah. Hanya tinggal suara-suara yang terngiang di telinganya, berulang dan berulang, sejak dia berhadapan dengan pasir yang mendesis itu.

Sasuke-kun,

Jadilah kuat.

Sasuke berpikir tentang suara yang menjijikkan, yang muncul dari masa lalu berkabut. Langkah kakinya yang kecil dan wajah pucat yang menatapnya seperti ular pembunuh. Ular itu tidak membelitnya, namun mendekatinya dan menyuruhnya untuk membuka mata. Tidak, dia tidak mau. Sekuat tenaga dipejamkannya mata, namun bayangannya itu menembus jarak pandangnya.

Sial.

Jadilah kuat.

Sasuke membenci suara itu, sangat benci. Seharusnya dia tidak mengenal suara itu-namun suara itu terpatri di dalam telinga dan kepalanya, seperti darah, mengalir diam-diam dan muncul di waktu yang tidak disangka-sangka. Ia tak ingin membuka mata.

Kakinya memendek dan semua dinding di sekitarnya jadi tinggi. Ia bahkan tak mau menyebut namanya, nama pria menjijikkan yang berdiri di atas lautan darah-darah yang sama yang mengalir di sekujur tubuhnya, mengatakan bahwa dia tak bisa.

Apa memang ini yang harus dia lihat, selamanya? Ular yang mendesis di hadapannya begitu besar, berkali-kali berubah menjadi bayangan orang-orang yang dia kenal, yang kemudian hancur dan menghilang.

Ular itu pucat, kata-katanya dingin dan Sasuke menghentakkan kaki dan mencoba lari, namun tidak bisa. Ingat yang lain. Ingat yang lain. Ini tidak nyata. Tapi saat ini nyata, di imajinasinya, di kakinya yang sulit bergerak dan gemetar tubuh yang tak hilang, dalam kepalanya yang tak mengenal batas antara dunia mimpi dan dunia nyata.

Jadilah kuat dan datanglah kepadaku.

Dia hanya sendiri.

Gelap.

Panas.

Gelap.

Ada yang lain selain gelap; Sasuke ingin meyakini. Ia berusaha mengingat yang lain: kakaknya, orangtua angkatnya. Kemudian pada sebulan ke belakang, ketika ia berjalan di taman istana pada siang hari, menemui gadis berambut panjang yang warnanya bukan hitam; namun merah muda.

Mata hijaunya tidak datar dan sedingin es, namun hijau dan bercahaya. Gadis itu terang dan tersenyum; air di bawah balkonnya dingin dan tubuh gadis itu begitu ringan saat Sasuke menggendongnya turun, pipinya yang memerah dan-

"Katakan itu setelah kau berhasil menjatuhkan Orochimaru dan tak membuatmu digendong keluar seperti bayi."

Pandangannya gelap, kesadarannya hilang. Tubuhnya berkeringat dingin dan yang terakhir dia dengar sebelum kesadarannya menghilang adalah teriakan Naruto, samar-samar, dari kejauhan. Dia begitu membenci Gaara, tatapan dingin, mata hijau yang tak berekspresi dan tak familier seperti mata lain yang dia kenal.

"Karena itu, pulanglah dan jangan membuat kami menunggu."

.

.

.

(Aku masih lemah,

Sakura.)

.

.

.


"KAMU belum tidur, Sakura?"

Tenten mengucek matanya untuk melihat lebih jelas. Pikiran pertama gadis itu adalah pukul berapa sekarang, namun ia tak dapat melihat jam kayu yang ada karena kamar itu gelap. Cahaya bulan sudah tidak lagi dapat terlihat dari jendela. Satu-satunya penerangan adalah lampu yang ada di sudut ruangan, tempat di mana Sakura masih sibuk membaca buku-bukunya.

"Oh, maafkan aku," Sakura bergegas membereskan buku-bukunya, menumpuknya di satu sisi. "Baiklah. Kita tidur sekarang."

"Buku apa yang kamu baca?" Tenten bertanya curiga, membukakan selimut di sebelahnya dan menyediakan tempat untuk Sakura. Di sudut lain, Ino dan Hinata sudah tidur di kasurnya masing-masing. Sebagai orang yang bukan penduduk asli kamar, Tenten dan Sakura harus berdesakan di satu futon.

Sakura terdiam sejenak. "Banyak... Kurasa... Ada banyak hal yang harus kita persiapkan di saat-saat seperti ini."

"Tidurlah, sudah malam. Besok masih banyak waktu," Ujar Tenten, separuh menegur.

"Apa kau merasa-"

Tenten memandang mata hijau Sakura yang tampak masih ragu untuk menutup buku-bukunya. "Paling tidak kita masih diberikan kesempatan untuk beristirahat malam ini, Sakura. Kalau terjadi sesuatu, mungkin kita tidak akan bisa lagi tidur dengan tenang."

Sakura menghela napas. "Kau benar."

Di atas futonnya, Tenten sudah bersila, mengamati Sakura yang sekarang sedang menumpuk buku-buku yang tersisa. "Kalau Neji-san bilang tidak ada masalah berarti, maka tidak ada masalah," gadis itu menghibur, "mereka hanya berlatih untuk meningkatkan kemampuan. Tenang saja."

Ada sesuatu yang hangat mengisi perasaan Sakura mendengar kata-kata Tenten. Gadis itu tersenyum. "Tenten sangat mempercayai kata-kata Neji-san, ya..." ia tertawa kecil melihat Tenten yang langsung panik dengan wajah sedikit merah, "tapi aku juga akan percaya. Sekarang semua akan baik-baik saja."

Mereka tak suka mengatakan perang sebagai penjelasan dari firasat-firasat dan pertanda yang muncul akhir-akhir ini. Sakura tak menemukan padanan kata yang lebih baik. Ucapan Kakashi kemarin mengingatkannya bahwa selama ini dia hanyalah pengikut yang seakan-akan memiliki pengikut; bergerak tanpa perhitungan dan harus selalu dilindungi.

Yang terlihat dari situ hanyalah siluet taman, semak-semaknya tampak rimbun mengisi pemandangan. Cahaya kecil bermunculan dari lampu-lampu taman yang hanya segelintir. Langit kelabu tak menampakkan bintang. Hanya samar-samar saja, bila Sakura memperhatikan, baru tampak sedikit cahaya bulan, yang beruntung karena tidak tertutup awan yang bergulung.

Sakura masih menyempatkan diri melihat ke luar jendela hingga beberapa saat kemudian.

(Bagaimana kabarmu?)

.

.

.


to be continued


AN Penting: baca semua kritik dan saran, tapi jangan sampai kehilangan alur cerita yang sudah dibuat. Alur cerita buatanmu juga sudah oke kok ;) (Setelah sekian lama saya gatel banget liat plot fic ini dan pengen bongkar, tapi mari kita lanjutkan karena kebodohan masa lalu is kinda endearing, after all). Saya juga merasa makin bego dalam mengatur alur, tapi yang penting... I write! That's all that matters! *digetok*

Sasuke VS Gaara. Ide ini diberikan sama pembaca (sudah lupa persisnya siapa), dan sebagai anak yang polos dan mengikuti reader, saya masukkan begitu saja. Lalu saya bingung dan itu yang bikin saya stuck. Setelah sekian tahun, saya menemukan sambungannya sih. A nice idea indeed. Tapi mikirnya bertaun-taun. Ngga sih, itu mah saya aja yang lebay.

Thank you for all your lovely reviews. Banyak juga yang ternyata masih ingat sama fic ini, dan membaca cerita kalian di kotak review membuat saya senang. Ada yang kangen. Ada yang dulu sekolah lalu sekarang sudah kerja, ada juga yang teringat karena dulu baca ini pas baru kenal ffn. Hey, nice to meet you again. I feel honored by all of you. Really. Rasanya seneng banget sekaligus malu.

Karena kesibukan lainnya, saya memilih untuk tidak membalas review satu per satu dan menjawab pertanyaan sekaligus di sini saja: menurut hemat saya lebih efektif.

Untuk Micon, saya ingat kamu yang baca runtuuut sejak dulu dan ngirim saya PM juga. Hehehe. Terima kasih banyak masih baca.

Juga untuk kalian semua yang sudah kirim review di chapter kemarin: mantika mochi, Shita, alexaryan55, mc-kyan, Eunike Yuen, nara chan, Kazama Sakura, killa, pinktomato, SHL7810, Summer Soo, Eysha CherryBlossom, Chiikuro, LuchyThia, .5 , hanazono yuri, Egha714, Rere Aozora, Anka-Chan, Cherrymerald, Hanum Pramesti, BaekhyunSaranghaeHeni, Kirei Apple, dan guest yang tidak mencantumkan nickname. Juga untuk Ambu, Vera, Dilia, de-el-el yang share via fb, mengingatkan saya kalo ini fic emang udah seabad ga diupdate. HUHAHAHAHA. (kenapa malah sombong) (ah dasar author penuh dosa)

Trus kenapa ya author's notes saya panjang terus. Norak banget sih... Maap.

Terima kasih sudah membaca.

blackpapillon