Kuroko no Basuke Fanfiction

Drabble - 29

Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi

Rating : T

Warning : 19th!era

Pair : AkaKuro / KiKuro

A/N : Hallo, Minna-san~ akhirnya author bisa juga buat apdetan fic ini setelah sekian lama ga bisa lanjut QAQ karena tugas yang bejibun saat kemaren jadinya author baru bisa lanjut fic sekarang TwT)

Fic kali ini adalah special req dari Haru-chan dengan plot dimana KiKuro(past) dan berlanjut ke Akakuro (present) semoga fic ini bisa sesuai harapan haru-chan ya..gomen juga baru bisa author ketik sekarang TwT)

Buat next chapie, author bakal munculin tema Seirin!Akashi sesuai req dari Just-Sky.

Buat reader-tachi, gomen juga author belum sempet bales review kalian satu persatu :'( auhor janji bakal bales review kalian nanti :D

Thank You for all review, fav, alert, follow, and all silent readers, Thank you for all support.. I'm happy that you all enjoy this story :3
Arigatou ~ Author will be waiting for your review ;))

Happy Reading, all..

With Love,

Zelvaren Yuvrezla a.k.a ren-chanz


Drabble 29 – The Choice

Kata "suka" mungkin tidak pernah terpikir dariku untuknya..

Aku tidak pernah menyukai Akashi-kun, sungguh.

Bahkan dari lubuk hatiku terdalam sekalipun, aku hanya menganggapnya ketua yang sangat kuhormati.

Saat itu aku hanya melihat sosok Kise Ryouta seorang,

Tapi—sejak kapan? Apakah sejak saat itu, perasaanku terhadap Akashi-kun berubah?

Semenjak aku mulai mengenal bagaimana sosok asli dirinya?

Perlahan demi perlahan, aku mulai menaruh perhatian padanya..

.

.

.

"Tetsuya." Suara dingin itu terdengar agak bergema dalam ruangan pada era medieval, dimana ukiran-ukiran kecil terdapat pada sekeliling dinding tempat kami berdiam. Ruangan yang berdimensi 20x18 meter dengan beberapa pilar diujung ruangan menemani pemuda bersurai Scarlet dan Baby Blue yang sedang menatap satu sama lain. "Aku ingin kau putus dengan Ryouta." Titahnya pada pemuda berhelai Baby Blue itu, membuat iris mata Pemuda berkepala Baby Blue membulat dengan sempurna ketika mendengar penggalan kata dari sang Ketua.

"A—apa maksud Akashi-kun? Kenapa aku harus berpisah dengan Kise-kun?" Kuroko Tetsuya tentu tidak setuju dengan titah Ketuanya ini. Memang, ia sangat menghargai sosok Akashi Seijuurou. Ia adalah pemimpin yang memiliki bakat yang cemerlang, bahkan di usianya yang sangat muda itu. Tetapi, apa yang menjadi urusan pribadinya tentu tidak usah melibatkan sosok Akashi didalamnya, bukan? Sekalipun ia adalah atasanmu.

"Kenapa?" iris Heteromatic itu kini menatap sosok Tetsuya dengan tatapan yang tajam. "Karena aku mencintaimu. Karena aku adalah absolut, Tetsuya. Kuperintahkan kau mengakhiri hubunganmu dengan Ryouta sekarang juga."

Marah.

Ya, Kuroko tentu sangat marah pada Ketua-nya ini. Sungguh, ia sama sekali tidak mengerti bagaimana jalan pikiran seorang Akashi Seijuurou. Ia meminta dirinya untuk putus dengan kekasih yang begitu ia sayangi karena Akashi menyukainya? Bila pada saat itu Kuroko tidak sadar bahwa ia adalah bawahan Akashi, tentu saat itu juga ia ingin meledakkan emosinya dibalik wajah datarnya itu pada sang Ketua.

Kuroko Tetsuya hanya bisa menggenggam tangannya kuat-kuat, hingga semburan putih kini terlihat jelas pada kepalan tangannya. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan emosinya. "..Baiklah, Akashi-kun." Ucapnya dengan berat hati.

Karena semua perkataan Akashi Seijuurou adalah absolut. Karena ia seorang Jendral yang bahkan melebihi kekuasaan sang Raja-nya sendiri. Sosok yang lebih mempunyai otoriter, sosok yang ditakuti oleh para masyarakat sekaligus dihargai oleh orang banyak. Sosok yang begitu diagungkan oleh Rajanya sendiri karena kekuatan dan strateginya dalam mempertahankan wilayah mereka.

Tidak ada seorangpun yang berani membantah titah dari pemuda berhelai Scarlet itu, termasuk sosok Kuroko Tetsuya.

.

.

.

Seperti biasa, Akashi akan selalu menggelar sebuah rapat dimana pemuda beriris Heterochrome itu akan menjelaskan strategi perang selanjutnya pada bawahannya. Suasana ruangan itu tentu terlihat begitu awkward. Bagaimana tidak? Sosok Akashi Seijuurou, Kuroko Tetsuya dan Kise Ryouta kini berada diruang lingkup yang sama.

Anggota lainnya, seperti Aomine dan Midorima bahkan merasa sebuah tekanan yang cukup kuat ketika mereka berada di dalam ruangan ini, yah, terkecuali Murasakibara yang tidak memikirkan apapun kecuali snack yang ia bawa-bawa dan ia habiskan di ruang rapat itu.

Sesuai dengan titah Akashi sebelumnya, dengan berat hati Kuroko akhirnya mengakhiri hubungannya dengan Kise, meskipun ia sendiri masih menyimpan perasan pada pemuda bersurai Blonde tersebut, tetapi apa dikata bila seorang Akashi Seijuurou sudah memberinya titah seperti itu? Kise sendiri menjadi sangat down setelah kejadian tersebut, pasalnya ia sendiri tidak tahu mengapa tiba-tiba Kuroko memutuskannya, dan tidak lama setelah itu mantan kekasihnya terlihat dekat dengan ketua mereka.

"Akhirnya selesai juga! Geezz..aku tidak tahan menatap mata Akashi lama-lama seperti itu, mengerikan." Ucap Aomine sambil berjalan dilorong. Dia menggaruk kepalanya yang tampak tidak gatal. Ekor matanya kini melirik kearah pemuda Blonde yang berjalan disampingnya, tanpa bersuara apapun.

Saat ini hanya mereka berdua yang berjalan bersebelahan. Midorima dan Murasakibara telah lebih dahulu meninggalkan mereka. "Kau-sebenarnya apa kau tidak apa-apa dengan kenyataan seperti ini, Kise?"

Iris Citrine dari pemuda itu kini menoleh kearah iris Sapphire dari pemuda berkulit Tan tersebut. "Mau bagaimana lagi-ssu~ kalau lawannya Akashicchi, bahkan untuk berharap sekalipun aku tidak mempunyai peluang yang besar." Senyum Kise dengan hambar.

.

.

Saat ini, pemuda berhelai Scarlet itu terdiam didepan sebuah piano. Piano yang terletak disebuah ruangan kecil yang terdapat di mansion mereka. Mansion yang ditempati oleh para Jendral dan anggota bawahannya selama mereka menjalankan misi dari Sang Raja.

Akashi Seijuurou tersenyum kecil saat jemarinya perlahan menekan tuts piano yang sudah jarang ia sentuh kembali, ia mengingat saat-saat sewaktu ia masih kecil dulu, dimana ia dan mendiang ibunya akan saling berdampingan untuk bermain sebuah penggalan lagu.

Sebuah alunan melodi kini terdengar dengan sayup-sayup. Akashi menutup matanya secara perlahan, membiarkan dirinya terhanyut dalam irama yang sudah lama tidak dimainkan olehnya semenjak kematian ibunya. Pemuda bersurai Scarlet itu bahkan tidak menyadari saat pemuda berhelai Baby Blue melihatnya dari balik pintu, menemukan sosok Akashi Seijuurou yang sedang mengalunkan sebuah nada yang terdengar begitu menyedihkan.

Airmata perlahan muncul dari mata sebelah kirinya, jatuh menetesi tuts piano yang masih dimainkan olehnya. Mata Baby Blue milik Kuroko kini membulat dengan sempurna, namun ia tetap berdiam, bahkan berbalik sehingga ia tidak melakukan kecerobohan yang bisa membuat Akashi berhenti bermain dan menemukannya.

'Akashi-kun.. menangis?' Bahkan, sejak pertama kali ia masuk dan menjadi bawahan Akashi sekalipun, selama bertahun-tahun lamanya, belum sekalipun ia menemukan sisi Akashi yang satu ini, sisi yang terlihat begitu rapuh dibalik dirinya yang kuat.

.

.

"Kurokocchi," suara pemuda beriris Citrine itu terdengar dari arah belakang. Kuroko membalikkan badannya dan menemukan seorang Kise Ryouta sedang memberi aba-aba baginya untuk bertemu di ruang sebelah.

Kuroko mengangguk setuju, ia bergegas pergi sebelum orang lain menyadari kepergiannya. Sesampainya di ruang sebelah, dimana hanya terdapat mereka berdua saja, keduanya hanya bisa bertatapan satu sama lain sebelum Kise memecahkan keheningan.

"Umnn..Kurokochhi..bagaimana—dengan Akashicchi?" tanya Kise agak canggung.

Kuroko tersenyum tipis. "Akashi-kun tetap seperti biasanya, tetap dingin, meskipun aku merasa ia agak berubah akhir-akhir ini."

"Kurokocchi..apa Kurokocchi benar-benar menyukai Akashicchi?" Kise kini mendekatkan dirinya pada pemuda bersurai Baby Blue itu.

"Eh?"

"Akashicchi mendesakmu untuk menjadi kekasihnya, bukan? Kurokocchi, bagaimana bila kita pergi berdua dari tempat ini-ssu?"

"Apa maksudmu..Kise-kun? Meninggalkan tempat ini?"

Kise kini memegang tangan Kuroko secara perlahan, matanya berkilat dengan penuh harapan. "Bila kita pergi berdua, tidak ada yang bisa menghalangi hubungan kita berdua 'kan? Makannya, bukankah itu lebih baik bagi kita berdua? Kurokocchi masih menyukaiku, bukan?"

.

.

"Kemarilah, Tetsuya." Suara dingin itu memanggil sosok pemuda berhelai Baby Blue yang ada di depannya, memintanya untuk sama-sama melihat sebuah peta yang ia gelar sepanjang meja kayu berukuran besar. "Bila kita melakukan serangan dari depan, mungkin akan ada beberapa anggota yang akan kelelahan, tetapi aku sudah meminimalisir korban dengan memindahkan beberapa pasukan kita di arah samping. Bagaimana menurutmu?"

Kuroko Tetsuya terdiam sejenak. Akashi bertanya padanya tentang strategi yang telah ia susun?

"Hmn.. aku yakin pasukan kita cukup kuat, Akashi-kun. Meskipun kita berdiam dalam posisi depan pun tidak akan terjadi luka yang serius, tetapi, sesuai perkataanmu barusan, akan lebih baik bila kita meminimalkan korban yang mungkin akan terjadi." Iris Baby Blue itu kini melihat kearah peta yang telah disilangkan oleh Akashi, tanda yang ia buat sebagai target mereka.

"Begitukah? Baiklah, akan kupikirkan siapa yang akan menjadi regu yang memiliki misi penting ini." Balas Akashi sambil melihat kembali peta yang ia gelar.

Meskipun sudah beberapa bulan berlalu semenjak kejadian awal, Kuroko Tetsuya mulai menyadari sisi lain dari Ketua-nya ini. Meskipun awalnya ia memaksa dirinya untuk putus dengan Kise, namun tidak pernah sekalipun ia melakukan suatu hal yang membuat Kuroko kesal padanya. Meskipun tutur kata dan postur tubuh ketuanya ini selalu memancarkan kesan 'dingin', tetapi, bagi Kuroko Tetsuya, Akashi memiliki sisi 'hangat' dalam point-point tertentu yang tidak pernah ia sadari sebelumnya.

Misalnya, saat Murasakibara tertidur di sofa karena terlalu lelah, Akashi diam-diam memberinya selimut agar si bayi raksasa dalam grup mereka tidak sampai masuk angin. Lalu, saat Kise terluka cukup parah dan dokter masih sibuk mengurusi pasien lainnya, Akashi menyuruhnya ke ruang kerjanya, disana ia sendirilah yang mengobati luka-luka Kise. Pada saat Aomine kehilangan kunci kamarnya sendiri, diam-diam Akashi ikut membantu mencari kunci itu saat si pemuda berhelai Navy menyerah, lalu dengan kepura-puraan terjatuh didepan kamar miliknya, Akashi langsung mengembalikan kunci itu pada Aomine. Kemudian saat Midorima mengatakan bahwa benda keberuntungannya tidak dapat terbeli karena harganya yang lumayan mahal, Akashi memberikannya dengan alasan meminjamkan benda itu pada Midorima.

Kuroko sendiri? Yah—banyak hal telah dilakukan pemuda bersurai Scarlet itu bagi dirinya. Tidak hanya sekali atau dua kali, namun banyak hal yang Akashi telah lakukan baginya. Bahkan, salah satu hal terbesar saat ia meminta dirinya memutuskan Kise pun, ternyata itu demi kebaikannya juga. Kuroko baru menyadari beberapa waktu lalu, bahwa ada beberapa orang yang mengincar seseorang yang berada disekitar Kise, untungnya orang-orang itu tidak berani melukai Kise karena Aomine ada disamping pemuda Blonde itu. Aomine adalah sosok yang cukup menyeramkan untuk dilawan, ia memiliki banyak strategi dan juga stamina. Salah satu dalam list 'lawan yang tidak mau kau lawan seumur hidupmu'.

'Kurokocchi masih menyukaiku, bukan?' Perkataan itu tiba-tiba terbesit dalam benak seorang Kuroko Tetsuya. Bila Kise menanyakan hal itu beberapa minggu setelah mereka putus, jawabannya mungkin 'ya'. Namun, sekarang, setelah ia jauh mengenal Akashi lebih jauh, setelah seberapa besar hal yang ia berikan pada anggota lainnya, terlebih dirinya. Entahlah, Kuroko sendiri kebingungan dengan perasaannya saat ini.

"Tetsuya." Suara itu kembali membuyarkan lamunan dari Kuroko.

"A—ada apa, Akashi-kun?" tanya pemuda beriris Baby Blue ketika kesadarannya kini kembali.

Akashi mengerjabkan matanya sesaat, bingung karena jarang sekali ia menemukan sosok Kuroko Tetsuya melamun seperti itu. "Ayo makan malam bersama. Malam ini kutunggu kau dilorong."

"Ah.. baiklah, Akashi-kun.. aku—" Kuroko hendak berjalan mendekati Akashi ketika keseimbangannya menjadi oleng. Dengan cepat Akashi kini menangkap sosok pemuda yang nyaris jatuh itu, mendekapnya dalam pelukannya. "A—Akashi-kun?"

Akashi tersenyum kecil. "Kau, ternyata kau sekecil ini, Tetsuya."

Tanpa sadar, Kuroko langsung mengembungkan pipinya. "Kau juga 'kan kecil, Akashi-kun!" ceplos Kuroko dengan nada yang kesal. Kuroko paling kesal bila seseorang sudah mengusik tinggi badannya.

"Ya, aku kecil, Tetsuya," balas Akashi sambil memeluk Kuroko lebih erat. "Makannya aku ingin lebih cepat besar supaya aku bisa melindungimu."

Semburan rona kemerahan kini muncul di pipi pemuda yang dijuluki Phantom Sixth Man ini. Bagaimana tidak? Bila Kise yang mengucapkannya mungkin itu sudah terdengar biasa dengan imejnya yang kadang suka menggombal. Tapi, ini Akashi, seorang Akashi Seijuurou yang tegas, terlihat arogan dan berdarah dingin itu mengucapkannya dengan nada yang begitu tulus.

'Haruskah..aku meninggalkan Akashi-kun?'

.

.

.

Kuroko Tetsuya menatap luar jendela dengan tatapan yang kosong. Sudah beberapa hari ini ia kurang beristirahat. Bagaimana tidak? Jelaslah pikirannya sedang kacau akhir-akhir ini. Semua, tentang perasaannya sendiri, terlebih ketika Akashi mengatakan hal-hal yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat , bagaimana dengan Kise? Sosok yang ia pernah cintai dulu?

"Oi, Tetsu!" teriakan Aomine kini membuat Kuroko tersadar kembali.

"Aomine-kun? Ada apa?" wajah Kuroko kini terlihat merona. Ia berjalan agak sempoyongan ketika mendekati pemuda bersurai Navy itu.

Aomine menaikkan sebelah alisnya ketika melihat sesuatu hal yang tidak beres dengan salah satu temannya ini "Kau—kau tidak apa-apa kan, Tetsu?"

"Tidak apa-apa kok.. Aomine—" Sebelum Kuroko menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba dirinya langsung terjauh. Kesadarannya tiba-tiba menjadi hilang, dan ia hanya bisa melihat kegelapan.

- xXx xXx xXx -

"Ah? Kau sudah bangun, Tetsuya?" suara pemuda beriris Heterochrome itu terdengar dengan jelas ketika Kuroko membuka kedua matanya.

"Akashi-kun? Ini—"

"Kamarku, kau pingsan begitu saja saat Daiki memanggilmu. Kau agak demam, Tetsuya." Akashi kini mendekat untuk mengecek suhu tubuh milik Kuroko. "Bila kau memang sakit, lebih baik kau mengatakannya lebih awal, itu akan lebih baik daripada kau tumbang saat kita sedang menjalankan misi, Tetsuya." Akashi kini berjalan ke dekat sebuah meja yang terletak tidak jauh dari tempat mereka berdiam.

"Maaf..aku hanya kurang tidur saja, Akashi-kun."

Akashi kini datang dengan membawa sebuah nampan, dimana terdapat sebuah sup hangat dan segelas susu yang masih panas. "Makanlah, setelah itu kau harus minum obat kemudian beristirahat. Tenang saja, kau bisa tidur dengan tenang disini, tidak ada yang berani mengganggu kamarku."

'Akashi-kun tidak pernah meminta apapun dariku, meskipun ia berlaku begitu baik padaku..'

"Kalau kau butuh sesuatu, kau bisa memanggilku. Aku akan ada diruang sebelah,"

'Meskipun ia meminta diriku menjadi kekasihnya dengan paksa, namun tidak ada satu tindakan pun yang menyakitkanku.'

"Semoga kau cepat sembuh, Tetsuya." Ucapnya kemudian mengecup dahi Kuroko dengan lembut.

'Apakah aku tega meninggalkan Akashi-kun?'

Seketika itu juga, tangan Kuroko langsung memegang ujung baju milik Akashi. Iris Heterochrome Akashi kini membulat ketika ia menyadari ujung bajunya tertahan oleh lengan dari Kuroko.

"Akashi-kun, aku tidak suka berdiam seorang diri. Maukah kau menemaniku sampai aku tertidur?"

Untuk sesaat, Akashi kini tersenyum kecil. Ia mendekatkan dirinya menuju kasur yang Kuroko diami. "Bila itu permintaanmu, Tetsuya. Tidurlah, aku akan menemanimu hingga kau terlelap."

"Terimakasih, Akashi-kun."

Akashi kini mendekat kembali dan mengunci jarak diantara mereka berdua. Akashi mengecup bibir Kuroko dengan lembut. "Aku mencintaimu, Tetsuya."

'Manakah yang kau lebih cintai saat ini, Tetsuya? Kise ataukah..Akashi?'

"Aku juga mencintaimu, Akashi-kun."

.

.

.

"Maaf, Kise-kun. Aku—aku tidak bisa pergi berdua denganmu meninggalkan tempat ini." Kuroko kini menundukkan kepalanya.

"Karena Akashicchi 'kah?" Kise tersenyum hambar, ia menatap mantan kekasihnya itu dengan tatapan yang sedih.

Meski merasa tidak enak, Kuroko tetap mengangguk, menandakan bahwa apa yang dipikirkan oleh pemuda berhelai Blonde itu benar. Setelah mendengar helaan nafas yang panjang, akhirnya Kise kembali membuka mulutnya.

"Apa boleh buat, lawanku Akashicchi sih~" Kise kini mendekatkan dirinya kemudian menepuk punggung milik Kuroko. "Semoga kau bahagia bersama Akashicchi –ssu~"

Kuroko kini tersenyum, sebelum ia meninggalkan ruangan dimana mereka berjumpa. "Terimakasih, Kise-kun." Kemudian Kuroko pergi keluar, meninggalkan sosok Kise yang masih berada di ruangan itu seorang diri. Namun, hal yang mengejutkan baginya adalah ketika Kuroko pergi ke luar, ia menemukan sosok Aomine tengah bersandar di sebuah tembok tepat didepan pintu yang baru saja ia lalui.

"Aomine-kun?"

"Si bodoh itu, pasti akan berbuat macam-macam bila tidak kuawasi."

Kuroko kini menundukkan kepalanya perlahan. "Aomine-kun, tolong jaga Kise-kun ya."

"Tanpa kau minta pun, aku akan melakukannya, Tetsu." Senyum lebar milik Aomine kini melebar, tak lama setelah itu Aomine kini melangkahkan dirinya untuk memasuki ruangan yang baru saja Kuroko masuki itu.

.

.

.

"Akashi-kun—ah, tidak.. Seijuurou-kun."

"Tetsuya?" alis Akashi kini terangkat sebelah ketika menemukan sosok Kuroko datang menemuinya di ruangan tempat ia mengalunkan sebuah melodi yang berasal dari piano. Bukan, bukan karena ia menginterupsi dirinya ketika sedang bermain, tetapi nama. Nama yang barusan ia panggil untuk dirinya.

"Kau panggil aku apa tadi, Tetsuya?" tanyanya lagi untuk memastikan.

"Seijuurou-kun." Senyum Kuroko sambil berjalan mendekati Akashi.

Untuk sesaat Akashi benar-benar terdiam. Ia tidak salah dengar bahwa pemuda berhelai Baby Blue itu memang memanggil nama depannya.

"Kau siap untuk misi selanjutnya, Tetsuya?" Namun, bukanlah seorang Akashi bila ia tidak dengan cepat kembali pada kesadarannya, meskipun nama panggilan yang diberikan Kuroko benar-benar membuatnya terkejut.

"Tentu, Seijuurou-kun. Aku akan terus bersamamu."

~Owari~