Title : Monday
Cast : Wu Yifan / Kris, Kim Joon Myun / Suho, KrisHo Pair,
Rating : T
Genre : FLUFF (all of this part) and Romance (of course)
.
.
Second,
Monday!
.
.
Monday
.
Ini hari Senin, dan sudah pasti, ini adalah hari kerja.
"Aku akan menjemputmu jam 6."
Suho turun dari mobil, mengambil ranselnya dan mengangguk. Dia melebarkan bibirnya sebelum kemudian hendak menutup pintu mobil jazz hitam tersebut.
"Suho!"
Pria dengan rambut hitam lembut itu batal menutup pintu, ia menoleh, mengedipkan mata sembari bertanya ada 'ada apa?' kekasihnya tersebut.
"Kiss."
Melihat Kris memelas sambil menatapnya penuh harap, Suho tertawa kecil, apalagi saat pergelangan tangannya ditahan, Suho mencondongkan tubuhnya, menempelkan bibirnya yang merah pada bibir kekasihnya, sebelum Kris keterusan, Suho memutusnya. Dia tersenyum, memberikan ciuman terakhir di pipi tirusnya sebelum dia keluar.
"Aku mencintaimu, kutunggu jam 6, jangan bekerja terlalu keras."
"Ya."
Kris mengangguk sesaat sesudahnya Suho menutup pintu mobil, membiarkan kekasihnya pergi bekerja sementara dia melajukan mobilnya menuju kantor.
.
.
Suho bekerja sebagai ahli gizi di sebuah rumah sakit pemerintah di Seoul, sementara Kris bekerja di perusahaan milik ayahnya sebagai CEO muda, perusahaan yang bergerak di bidang property dan telekomunikasi itu memang sepenuhnya milik keluarga Wu, karena Kris merupakan anak tunggal, maka dia punya tanggung jawab penuh atas perusahaan keluarganya.
"Pagi!"
Suho tersenyum, mengenakan setelan jas putihnya sembari menyapa Kyungsoo, rekannya yang bekerja di bagian yang sama dengannya, rambutnya hitam kecoklatan dengan matanya yang bulat.
"Sudah sarapan?"
Pria mungil itu mengangguk, meletakkan ranselnya dan mencuci tangan dengan antibakteri di washtafel, mengeringkannya dengan handuk yang tergantung di dinding sebelahnya.
"Kau ada lembur?" tanya Kyungsoo, sembari menuangkan teh di teko pada dua buah mug putih.
Suho menggeleng, dia membuka map dan tersenyum malu-malu "Tidak, Yifan mau menjemputku nanti malam."
Seketika Kyungsoo langsung paham, dia tersenyum sembari menyenggol sebelah lengan temannya, berniat menggoda karena Suho paling menyenangkan saat digoda atau dikerjai.
"Aku tangani pasien nomor 22 dulu, kau jaga disini ya.."
Kyungsoo mengangguk saat Suho mengambil map dan bullpen dari meja kerjanya, ke luar ruangan menyisahkan bayangannya saja yang lama-kelamaan menghilang di balik pintu.
.
.
06.00 pm
Kyungsoo menyaksikan sahabatnya sedang beres-beres sementara dirinya tengah menyeduh kopi. Kyungsoo kerja lembur hari ini, mungkin akan pulang sekitar jam 9. Sementara Suho sudah berkemas, mengenakan mantel dan menyimpan berkasnya dalam ransel.
"Kris belum menjemputmu?"
Suho menggeleng, "Aku tidak meneleponnya. Mungkin dia ada di jalan."
Namja bermata jernih itu menghela nafas sembari menutup flip cover ponselnya. Dia duduk di kursi yang berada di depan meja kerjanya sembari memainkan pensil yang ada di sana.
"Kau tidak lebih baik meneleponnya saja? Aku kasihan kau menunggu disini. Setidaknya kalau dia tidak bisa, kau bisa pulang lebih cepat dengan naik bus."
Mendengar ucapan Kyungsoo, Suho akhirnya memilih untuk menyerah. Dia membuka lagi flip cover poselnya yang berwarna putih sembari mencari nomor ponsel kekasihnya. Dia berdiri, meletakkan ransel kemudian menuju jendela, memandang jalanan kota seoul yang masih ramai.
Raut wajah gelisah Suho terlihat membuat Kyungsoo sedikit khawatir. Sudah berkali-kali Suho memencet nomor dan menempelkan ponselnya ke telinga. Sembari mendesah kecil, menggigit bibirnya dan berjalan lalu-lalang tak tentu arah.
"Kenapa?"
Suho menggeleng sebagai bentuk jawaban atas pertanyaan Kyungsoo.
"Mungkin ada sedikit masalah disana. Kau mau pulang duluan? Aku bisa memesankan taksi untukmu kalau kau tidak mau naik bus. Jongin juga bisa mengantarmu."
Lagi-lagi hanya gelengan kuat. Entah mengapa Suho merasa dia harus menunggu, kalau itu benar-benar sebuah hambatan ringan, Kris pasti akan datang sebentar lagi.
"Aku akan menunggu Kris sambil menemanimu lembur saja. Tidak apa-apa," hanya itu yang diucapkan Suho seraya tersenyum dan meletakkan ponselnya di atas meja. Dia mengambil mug dan mengisinya dengan teh panas.
Tidak seperti senyuman di bibir tipisnya, suasana hati Suho saat ini sedang gelisah. Dia benci perasaan dimana dia menjadi berfikir macam-macam dan melenceng ke segala arah. Sesekali dia menempelkan telapaknya pada permuakaan mug yang hangat sambil mencuri pandang pada ponselnya yang masih tak menunjukkan tanda-tanda mau berdering atau setidaknya bergetar saja.
"Tidak apa?" Kyungsoo bertanya penuh keraguan sembari meletakkan tangannya di pundak sempit Suho dan menatapnya penuh rasa bersalah.
"Tidak masalah. Aku bisa membantumu."
Kyungsoo menghela nafas panjang, mengangguk. Dia sendiri kasihan melihat Suho yang masih sering menatap ponsel dan jendela besar yang menampakkan pemandangan jalanan. Dia tahu Suho tengah gelisah dan khawatir. Mungkin juga marah karena Kris tidak menepati janjinya, atau mungkin juga lelah karena sedari tadi dia menangani banyak pasien.
Dan rasanya kalau-kalau Kris datang nanti ingin sekali dia meninju hidung mancung pemuda tinggi itu. Kyungsoo punya pacar, dia tahu bagaimana rasa lelahnya ketika menunggu seorang kekasih yang sudah berjanji. Itu menyebalkan. Dan ujung-ujungnya saat itu Jongin terpaksa mendapat plester luka di pelipisnya karena Kyungsoo memukulnya gara-gara menunggunya 2 jam di sebuah kafe di Seoul. Dan dia sendiri tahu Suho bukan tipe orang yang akan meninju pacarnya sendiri, Suho tipe orang yang lebih suka memendamnya sendirian daripada menimbulkan masalah.
"Kalau kau lelah, jangan memaksakan diri. Aku yakin Kris pasti belum menjemputmu sampai sekarang karena dia sedang mengurusi sesuatu."
Kyungsoo mengusap kepala Suho yang tergeletak tak berdaya di meja, dia tahu Suho lelah. Dan sekarang jam sudah menunjukkan lebih dari pukul 8 malam.
"Iya. tidak apa-apa."
Entahlah, sesudah ucapan itu, Suho menutup matanya, mendengkur halus di meja dengan tangan kanan menggenggam ponsel dan kepala yang telungkup di atas meja berwarna putih itu.
.
.
Seorang pria terlihat berlari dengan menggunakan setelan mantel hitam panjang dan celana hitam, rambut agak berantakan. Sesekali dia berhenti dan melihat jam tangan.
08.45 pm.
Shit.
Setelah langkah kakinya yang panjang berbelok menuju koridor kanan, dia menaiki lift, sampai di lantai 4 dan secepatnya berlari menuju sebuah ruangan yang letaknya paling ujung. Pemuda yang berstatus sebagai kekasih Suho itu langsung membuka pintu, dengan nafas terengah, menyapu pandangannya menuju seluruh ruangan yang masih terang benderang.
"Suho?"
Kyungsoo yang mendengar suara pintu terbuka langsung melatakkan meja dada miliknya sembari menoleh.
"Kris!"
"Suho? Mana Suho?"
Pria bermata bulat itu ingin sekali menonjok pemuda tinggi di hadapannya, menendangnya sekalian kalau bisa.
"Kau itu bodoh? Dia menunggumu."
Kris meyapukan pandangannya, kali ini dia menemukan seseorang yang tengah tertidur di meja dengan dengkuran halusnya yang terdengar. Sesekali menggeliatkan tubuhnya tidak nyaman karena tertidur sambil duduk.
"Mian. Aku akan membawanya pulang dan menjelaskannya di rumah saja."
Kyungsoo tak berkutik saat Kris memakai ransel milik Suho dan mengambil ponsel itu dari tangan mungil kekasihnya.
"Dia sepertinya lelah. Dan sekedar informasi, dia belum makan malam."
Namja bertubuh tegap itu mengangguk paham setelah menghela nafas panjang. Diangkatnya tubuh tertidur Suho sembari mengelus kepalanya. Kris mengusap pipi pacarnya itu sebelum berpamitan pada Kyungsoo.
"Apa kau bisa membawanya turun? Aku akan mengantarmu kalau perlu."
Kyunsoo terlihat khawatir saat Kris membawa tubuh sahabatnya dengan gendongan bridal style, dia juga paham dengan kondisi Kris yang tampak berantakan. Sepertinya dia habis mengerjakan sesuatu yang menguras tenaga dan otaknya.
"Terima kasih, minta tolong antarkan aku sampai mobil ya. aku mungkin tidak akan bisa memencet tombol lift dan membuka pintu mobil kalau begini."
Kyungsoo mengangguk, mereka berdua berjalan bersama. Masih dengan Suho yang tertidur pulas di gendongan Kris.
.
.
"Aku kembali dulu."
Namja berjas putih yang tubuhnya sependek Suho itu membungkuk berpamitan setelah Kris sudah meletakkan tubuh ringan Suho di kursi yang ada di samping supir.
"Maaf merepotkanmu. Menganggumu di saat jam lemburmu begini," Kris gantian meminta maaf pada sahabat dekat Suho ini sebelum Kyungsoo membalasnya dengan anggukan singkat.
"Tidak masalah. Aku pergi dulu ya."
Kyungsoo kembali dan Kris berbalik, membuka pintu mobil dan memakaikan Suho sabuk pengaman, dia mengusap poni lembut kekasihnya saat dia merasa Suho menggeliat dalam tidur.
"Mianhe," hanya itu yang Kris gumamkan saat dia mencium puncak kepala kekasihnya sebelum menutup pintu mobil, bernajak ke kursi sopir dan menyalakan mesin, membawa kuda besi itu berjalan kembali menuju rumah yang hanya memakan waktu 15 menit dari rumah sakit.
Selama perjalanan, Suho hanya tidur, tenang tak bergerak. Hanya sesekali dia menggeliat dan mendengkur halus, menyamankan posisinya.
Kris tersenyum penuh penyesalan, dia mempercepat laju mobilnya, berharap segera sampai di rumah.
.
.
Kris membuka pintu pagar, memasukkan mobil ke garasi sebelum mematikan mesin mobil. Udara malam menghembus. Kris turun, menyandang ransel milik Suho dan bersiap menggendong tubuh mungil itu, namun saat Kris bersiap membuka pintu, dia melihat sepasang mata mengerjap, berat. Iris hitam yang tenang itu berkedip sebelum dia menangkap wajah Kris yang berada tepat di depannya.
"Suho?"
"Kris? Aku dimana? Kau sudah pulang?"
Kris tak mempedulikan pertanyaan kekasih mungilnya itu. Dia hanya meraih lengan kecil Suho dan menggendongnya. Seperti koala sembari menutup pintu mobil dan menguncinya. Dia membawa Suho dalam gendongannya menuju rumah.
"Kris, aku bisa jalan," Suho berbisik tepat di telinga Kris saat pemuda itu tetap membawanya dalam gendongan.
"Maaf."
Iris coklat Kris perlahan tersirat penuh rasa bersalah. Dia mengelus punggung Suho yang sempit sembari mendesah pelan, panjang.
"Huh?"
"Terlambat menjemputmu, sudah membuatmu menungguku, tidak menepati janji, tidak menjagamu dengan baik dan membiarkanmu bekerja larut dan kelelahan. Maaf."
Suho kini yang merasa bersalah saat mendengar Kris berkata seperti itu, dilingkarkannya kedua lengannya ke leher Kris dan menundukkan kepalanya dalam-dalam, hingga hidung mungilnya menyentuh leher jenjang pemuda tinggi itu.
"Tidak perlu. Aku memang kesal awalnya, tapi aku yakin kau pasti punya alasan untuk itu."
Ransel hitam itu Kris letakkan di dekat meja sebelum dia mendudukkan Suho ke atas ranjang yang empuk, menyebabkan bantal berjatuhan ke lantai.
"Maaf, pegawaiku tiba-tiba kecelakaan tadi. Aku sangat terkejut hingga aku lupa membawa ponselku, keadaannya buruk, entahlah, aku sangat ketakutan. Aku juga lupa kalau aku harus menjemputmu. Aku tahu kau marah, maafkan aku!"
Suho mengangguk mengerti, dia melepaskan mantel hitam Kris dan berdiri, melepas jaketnya sendiri, dia meraih sebelah tangan Kris dan mendorongnya ke tempat tidur, hingga kekasihnya jatuh terduduk di sana.
"Tidak apa, aku tidak marah."
Senyuman kecil di bibir merah muda Suho entah mengapa membuat Kris merasa lega.
"Maafkan aku," karena Kris sudah tidak tahu lagi apa yang harusnya dia katakan, sedari tadi dia hanya menggumamkan kata maaf yang berulang-ulang.
Suho menahan kedua lengan berotot Kris, mencondongkan tubuhnya mencium bibir kekasihnya itu dengan cepat. Entahlah, itu membuat Kris tidak bisa berkata-kata lagi. Suho hanya bisa melakukan ini untuk membuat Kris berhenti bicara dan mengembalikan moodnya. Namja mungil itu tersenyum begitu merasa Kris membalas ciuamnnya, menahan tengkuknya, menggigit dan membelai semua dengan lidahnya. Ini baru Yifan yang normal, yang tidak bisa menolak apapun yang Suho berikan dari bibir manis namja yang usianya terpaut 1 tahun darinya itu.
"Sudah. Jangan bicara maaf lagi. Aku mengerti, dan aku tidak marah padamu."
Sembari melepaskan dasi yang melilit leher pemuda itu, Kris tersenyum kecil, mengusapkan telapak tangannya pada poni kekasihnya sambil memainkan helaian-helaian halus itu.
"Mau makan? Aku akan buatkan makan malam untukmu. Kyungsoo bilang padaku kalau kau belum makan," Kris menawarkan diri, sembari melingkarkan lengannya pada pinggang ramping Suho.
"Tidak. Aku sedang tidak lapar."
Mendengar Suho tidak mau makan, Kris hanya mengangguk, dia tak mau memaksa Suho makan, karena dia tahu kalau dirinya tak akan bisa memaksa Suho untuk ini. Lagipula, Kris masih merasa bersalah, jadi dia lebih memilih untuk mengalah dan menuruti permintaan Suho saja.
"Baiklah, ada yang mau kau lakukan?"
Suho menggeleng, mereka berdua melepaskan diri dari pelukan sebelum akhirnya Suho memandang mata coklat terang Kris dengan tatapan memohon.
"Kris!"
"Ya?"
Tubuh mungil itu meloncat tinggi dengan kedua lengan yang menghambur pada tubuh atletis Kris dengan cepat. Memekik, membuat Kris seketika terkejut.
"Gendong!"
Secepatnya, Kris membawa tubuh ringan Suho dalam gendongan koalanya. Namja mungil itu langsung menyandarkan kepalanya ke bahu Kris seraya meletakkan tangannya di pundak kekasihnya yang lebar.
"Lain kali…" Suho menganggantung ucapannya, dengan perlahan, dia menghembuskan nafas.
"…jangan biarkan aku menunggumu lagi."
Kris tersenyum, mengangguk sambil membawa Suho berjalan-jalan di dalam kamarnya, membuat hawa mengantuk di sekitar Suho.
"Jangan… memikirkan pekerjaan terlalu keras, aku tidak suka melihat dahimu berkerut dan wajahmu tampak begitu kelelahan."
Suho makin merapatkan tubuhnya saat Kris membawanya ke dekat jendela. Hingga bibir merah Suho menyentuh perpotongan leher jenjang Kris.
Lenguhan kecil Suho berikan sebelum dia menggeliat dalam gendongan kekasihnya yang masih belum menurunkan badannya. Saat melihat namja mungil itu bermata berat, Kris segera mengusap rambut dan wajahnya, membelai pipinya yang tembam seperti bakpao, mengelus punggungnya seperti anak kecil, membuatnya nyaman.
Kris memaksa wajah lembut Suho menghadapnya, sebelum dia memberikan hisapan panjang di seluruh permukaan bibir merah kekasihnya tersebut.
"Eungh…"
Mata hitam legam itu terbuka, sebelum akhirnya terpejam lagi. Pipinya memerah saat Kris menelusupkan lidahnya, membelai apapun yang bisa dia jangkau dan mulai melumat lembut bibir merahnya yang bengkak. Entah mengapa, Suho merasa ciuman Kris ini membuatnya mengantuk.
Bahkan saat mereka berdua jatuh ke tempat tidur, Suho tak bisa melepaskan pelukannya dari namja yang masih sibuk pada bibir merahnya tersebut. Enggan lepas, dan terus menimbulkan desahan yang halus dan pelan.
"Jangan sekarang."
Suho menahan kedua pergelangan tangan Kris saat pemuda itu membuka kancing-kancing kemejanya.
"Huh?"
"Aku lelah, ayo tidur saja," Suho menggeleng dan memohon membuat Kris tidak berani bertindak lebih jauh lagi.
Akhirnya namja tinggi itu melepas kemeja dan celana panjang kekasihnya, memakaikannya piama tidur sebelum dirinya sendiri juga berganti baju.
Keduanya menarik selimut, saat Kris menyembunyikan Suho dalam pelukannya setelah memberikan sebuah jilatan di bibir dan wajah. Keduanya mengaitkan kaki, saling memeluk, meminta kehangatan yang lebih hingga namja berwajah lembut itu bergumam pelan, di antara pelukan kekasihnya yang hangat.
"Lain kali… jangan biarkan aku, gelisah karenamu lagi!"
.
.
Monday,
END
.
.
.
Okay, now I'm bring Monday for you all.
Sorry if this too late T_T
Untuk chapter setelah ini, Rae akan membawakan Tuesday. Dan sedikit informasi, ini ide dapat waktu Rae nungguin cowok 2 jam dan ternyata dia enggak dateng. LOL. #INICERITANYACURHAT.
Rae udah nonton call me baby, dan well like always, kotakkotak dimana-mana. Main kamera, cuma ngedance, terus pathcode buat apa? -_-
Udah, sekarang Rae masih baper.
#RAEBAPERLAGI
#BABAY
.
.
SungRaeYooBaper
