Kuroko no Basuke/黒子のバスケ Fanfiction
Drabble - 31
Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi
Rating : T
Warning : AU/4years_older!Kuroko/Drama/a bit Angst
Pair : AkaKuro / AkaKise
A/N : Halloo, Minacchi.. :D
Akhirnya drabble ini bisa apdet juga #lemparinAuthor
Humn.. pertama-tama Author ini berterimakasih buat semua readers yang ngikutin cerita ini dari awal, tetapi ada berita yang author mau sampaikan buat minacchi. Cerita ini mungkin akan author tamatkan sekitar 4 cerita lagi dari sekarang. Berhubung author udah memulai ide baru buat bikin project baru di fic KnB selain RoD (Realm of Death) dan bakal campur aduk banget karena banyak multichapy bertebaran, makannya Author pikir buat menamatkan cerita ini. Semoga Minacchi mengerti ya :D
Fic kali ini adalah req dari Bona Nano, semoga suka sama ceritanya~ :D settingnya adalah Kuroko 4 tahun lebih tua dari Kuroko, dimana Akashi masih duduk di bangku SMA dan Kuroko yang udah jadi Mahasiswa.
List req drabble sampai akhir nanti.
32- from Yuna Seijuurou. 33- from Hotori Nana, 34- from Alenta93, 35(end)- from Shizuka Miyuki.
Thank You for all review, fav, alert, follow, and all silent readers, Thank you for all support.. I'm happy that you all enjoy this story :3
Arigatou ~ Author will be waiting for your review ;))
Happy Reading, all..
With Love,
Zelvaren Yuvrezla a.k.a ren-chanz
Drabble 31 - Love is Hurt
"What am i afraid is the fact that my feeling will ruined our relationship."
"Sensei, kau tidak keberatan untuk memeriksa hasil latihanku 'kan?" suara pemuda yang ada disampingnya berhasil membuyarkan lamunannya pada taman luas yang terhampar dibalik jendela transparant berukuran 150x80cm. Pemuda berhelai Teal itu menolehkan kepalanya menuju kesamping, tepat dimana pemuda berhelai Scarlet tersenyum padanya.
Kuroko Tetsuya mengangguk sambil menerima sodoran kertas yang diterimanya dari Akashi Seijuurou, sosok yang diyakini sebagai murid didiknya. "Istirahatlah dulu sejenak selagi aku memeriksa hasil latihanmu, Akashi-kun."
Namun seorang Akashi Seijuurou tidak bergerak dari tempat dimana ia duduk. Ia hanya memandang sosok guru privatnya sambil menopang dagu dengan sebelah tangan kanan-nya. Kuroko Tetsuya—yang ternyata 4 tahun lebih tua dari dirinya—seorang Mahasiswa diperguruan tinggi yang sudah menjadi guru privat untuk Akashi Seijuurou semenjak Akashi menduduki bangku SMP. Saat ini Kuroko Tetsuya adalah Mahasiswa semester 6 dan Akashi adalah seorang murid SMA kelas 3 yang sudah mendekati Ujian Akhir kelulusan. Sudah hampir 5 tahun Kuroko menekuni bidang les privat ini dikeluarga Akashi.
Kuroko melihat jawaban dari Akashi dan menydari bahwa semua jawaban yang ditulisnya itu benar. Sebenarnya ia sendiri bingung, sosok pemuda yang begitu pintar dan jenius bahkan diseluruh bidang pelajaran masih mau meminta dirinya sebagai guru privat-nya. Padahal ia yakin bahwa Akashi bisa dengan mudah lulus Ujian Akhir tanpa kesulitan apapun.
"Kuroko-sensei," Suara Akashi kini kembali terdengar. "Apakah aku bisa masuk ditempat yang sama dengan Universitas Sensei?"
Kuroko memandang wajah Akashi sejenak sebelum menggerakkan tangannya untuk membulatkan hasil jawaban Akashi. "Kau bicara apa, Akashi-kun? Dengan kemampuanmu yang seperti ini, kurasa kau tidak akan kesulitan untuk memasuki Todai. Universitasku bukanlah Universitas yang terlalu bagus dibanding dengan Todai. Bukankah lebih baik bila kau tidak menyia-nyiakan kesempatan ini?"
Helaan nafas terdengar diruangan yang diyakini sebaagai kamar dari pemuda beriris Deep Crimson tersebut. "Padahal aku ingin bersama dengan sensei."
Mendengar jawaban dari Akashi, tangan Kuroko lalu berhenti bergerak. Pandangan matanya kini kembali melihat sosok pemuda berhelai Scarlet itu. Tidak lama, Akashi yang menyadarinya kembali tersenyum pada Kuroko.
"Akashi-kun, bolehkah aku menanyakan sesuatu?" Kuroko kini meletakkan hasil jawaban dari kertas latihan Akashi, dimana jawaban miliknya ternyata mencapai score 100.
"Ada apa, Kuroko-sensei?"
"Bukan maksudku untuk lancang menanyakannya, tetapi—hal ini terus menghantui pikiranku. Mengapa kau masih memintaku sebagai guru privat-mu, Akashi-kun? Semenjak kau memasuki SMA, prestasimu bahkan nyaris sama ketika kau memasuki SMP dulu, dan aku yakin kau tidak usah repot meminta guru privat untuk membantu prestasimu, bukan. Tapi—mengapa?" Takut-takut pandangan mata Aqua itu kini melihat kearah Akashi yang terdiam dengan mata yang agak lebar, yang kemudian berubah menjadi agak sendu sambil memandang kebawah.
"Bila kukatakan alasannya, mungkin sensei akan pergi." Balas Akashi dengan wajah yang murung.
Kuroko terdiam sejenak. "Apa karena kau mengasihani diriku, Akashi-kun? Kau tahu bahwa aku harus membanting tulang untuk membiayai hidup keluargaku. Ayahku sudah lama meninggal dan aku menjadi tulang punggung keluargaku. Bila alasan itu benar, aku tidak ingin kau memintaku menjadi gurumu hanya karena rasa seperti itu, Akashi-kun!"
"Bukan, sensei! Aku tidak—!"
"Lalu apa, Akashi-kun? Bila kau tidak mengasihani diriku, alasan apa yang sesuai? Aku tidak ingin bila salah satu hasil penghasilan kerjaku hanya sekedar membuang waktu saja denganmu!"
Akashi memincingkan matanya, ia tahu bahwa ia telah membuat Kuroko merasa tidak nyaman. Seharusnya ia menyalahkan hasil jawabannya sehingga Kuroko tidak merasa curiga padanya. Tetapi berbohong seperti itu juga bukan hal yang biasanya ia lakukan.
Apakah ia harus memberitahukan tentang perasaannya pada gurunya itu? Bahwa sebenarnya ia menyimpan perasaan pada gurunya?
"Akashi-kun—"
Tanpa memikirkan apapun lagi, Akashi kini menarik tangan milik Kuroko, mendekatkan dirinya lalu mencium lembut bibir kemerahan milik Kuroko.
"Aku menyukaimu, Sensei. Karena itu, aku—" Akashi mencoba untuk menyelesaikan perkataannya, namun apa yang dilihatnya kini sudah terpantul dengan jelas, bahwa ia tidak perlu menyelesaikan penggalan kalimat miliknya.
Kuroko melebarkan matanya, bahkan rona muka yang shock terlihat dengan jelas di wajahnya. Hal yang berikutnya terjadi adalah Kuroko dengan wajah yang agak memerah—bukan, bukan karena merona, tetapi merah karena menahan rasa amarah—kini mengambil tas dan jaket miliknya.
"Apa kau puas bermain-main denganku, Akashi-kun!?" setelah itu, Kuroko pergi meninggalkan Akashi seorang diri di kamarnya.
Akashi terpaku si spot yang sama. Keheningan menghantui tempat itu selama beberapa detik, lalu tidak lama suara tawa dapat terdengar di kamarnya. Ia tertawa kecil.
"Bukankah sudah kubilang bila kau akan pergi...sensei."
Semenjak kejadian itu, Kuroko benar-benar tidak kembali datang ke rumah Akashi. Dengan kata lain ia berhenti menjadi guru privat miliknya. Akashi mengetahuinya ketika ketua Butler dikeluarganya memberitahu bahwa Kuroko berhenti karena jam privatnya kini bentrok dengan full-time job yang ia ambil. Namun Akashi tahu bahwa Kuroko sengaja melakukan hal itu padanya. Mungkin ia merasa risih dengan pernyataan perasaannya tempo hari itu.
Haruskah ia menyerah begitu saja?
Awalnya Akashi masih mencoba untuk mendekati Kuroko, ia mencoba untuk menemuinya saat ia melakukan part-time job lain, ia mencoba untuk menemuinya di Universitas miliknya, bahkan ia mencoba untuk menemuinya di rumah miliknya. Namun nihil, semua itu sia-sia karena selalu saja ada alasan kuat mengapa Kuroko tidak ingin menemuinya.
Hari berganti Minggu dan Minggu berganti menjadi Bulan, Berbulan-bulan bahkan hingga waktu Ujian Akhir berlangsung. Seorang Akashi Seijuurou tentu tidak kesulitan ketika Ujian itu berlangsung.
Hal yang ia tahu saat ini hanya satu.
Kuroko menolak dirinya seutuhnya, makannya satu-satunya hal yang perlu ia lakukan hanyalah melupakan dirinya.
Lupakanlah semua kenangan bersama dengan Kuroko, ia bahkan tidak memberi waktu baginya untuk sekedar memberi alasan, atau bahkan menolaknya secara langsung.
Cinta pertama sekaligus Cinta yang menyakitkan baginya.
1 tahun akhirnya berlalu semenjak kejadian tersebut, dan sesuai dengan aplikasi yang diberikannya pada High School miliknya, kini ia memasuki Todai University.
Akashi memotong rambutnya ketika ia memasuki Todai, dan suatu kecelakaan terjadi sehingga sebelah matanya kini berubah warna. Pantulan irisnya kini bukanlah Deep Crimson lagi, tetapi Deep Crimson-Yellow Gold, warna Heterochrome.
Ketika Akashi menginjak semester 2, ia bertemu dengan Kise Ryouta dan menjalin hubungan dengan model tersebut. Entah ini merupakan sebuah pelampiasan atau bukan, tetapi ketika ia berada dekat dengan Kise, pantulan Kuroko selalu membayangi dirinya.
Tentunya Akashi memberitahukan hal itu pada Kise, tetapi Kise dengan senyum yang tulus berkata padanya. "Tidak apa bila Seicchi belum bisa melupakan sosok yang kau suka dimasa lalu-ssu. Ada waktu dimana kita bisa membangun kenangan baru diantara kita berdua, maka dari itu aku akan menunggu sampai Seicchi bisa melupakannya. Ayo kita buat kenangan baru bersama-ssu!"
Saat itulah Akashi mulai bimbang. Melalui ketulusan Kise, apakah ia berhak menerima kebaikan pemuda berhelai Blonde tersebut? Bahkan disaat ia masih memikirkan Kuroko, Kise dengan setia mau menunggu hingga Akashi benar-benar melupakannya. Satu hal yang pasti ia lakukan saat ini, bahwa ia harus melupakan Kuroko seutuhnya demi Kise.
"Seicchi~~ Aominecchi memberikanku rekomen film bagus, kurasa film tentang detektif, Meski aku kurang mengerti, tetapi aku yakin kau akan suka, ayo kita nonton bersama-ssu'yo!" Kise mengalungkan lengannya kesalah satu lengan milik Akashi, dimana mereka kini berjalan berdua menuju apartement milik Kise.
"Daiki? Apa karena tekadnya menjadi polisi ia jadi suka dengan berbau teka-teki?" Canda Akashi sambil tetap berjalan kedepan.
Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti ketika ia melihat sosok yang dikenalnya berjalan didepannya dengan arah yang berlawanan. Sosok itu membawa sebuah kantong plastik berisi barang belanjaan. Sosok pemuda yang mulai dilupakan Akashi dalam hidupnya.
Kuroko Tetsuya.
Rona Kuroko juga tidak kalah kagetnya dengan rona wajah Akashi, mereka sama-sama terdiam saat mereka berpapasan di jalan yang telah sepi itu.
"Akashi-kun?"
". . .sensei."
Kise yang menyadari reaksi dari Akashi kini memandang kearah Kuroko dengan tatapan yang tajam. "Maaf sensei, tetapi Seicchi sudah menjadi milikku sekarang. Kuharap sensei tidak mengusik hubungan kami berdua." Deklarasi Kise dengan tatapan yang tidak suka.
Kuroko yang mengerti apa ucapan Kise hanya bisa tersenyum pilu. "Ah, begitukah.. Aku tidak bermaksud menganggu kalian, maaf kalau sudah membuat suasana menjadi tidak nyaman. Kalau begitu aku pergi dulu." Balas Kuroko sambil kembali melangkah dan melewati mereka berdua.
"Oh ya.. Akashi-kun, mungkin aku telat mengatakannya, tetapi selamat atas kelulusanmu." Setelah itulah Kuroko benar-benar pergi dari tempat tersebut tanpa memandang kembali sosok Akashi maupun Kise.
Akashi yang sedaritadi menggepalkan tangannya hanya bisa terdiam sambil menahan emosinya, bahkan setelah sosok Kuroko pergi.
"Apa maksudnya itu.. tiba-tiba datang begitu saja dan bersikap baik seperti itu?" Kerutan kini muncul didahi milik pemuda berhelai Scarlet. Akashi hanya bisa menatap muka jalan sambil mencoba untuk menahan emosinya.
"Seicchi.."
.
.
.
Beberapa bulan setelah hari dimana ia bertemu dengan Kuroko, Hari itu, hari yang sama sekali tidak pernah terbayangkan oleh Akashi dalam hidupnya, bahwa ia telah mengetahui suatu rahasia terbesar yang selama ini terus tertutupi dari dirinya. Ia tidak sengaja melewati ruangan kerja Ayahnya dan mendengar suatu hal. Memang ia tidak suka mencuri dengar pembiacaraan, tetapi ketika nama 'Kuroko' keluar, entah mengapa tubuhnya langsung berhenti untuk bergerak.
"Seijuurou tidak curiga dengan rencana kita, bukan?"
"Sepertinya tidak, Tuan Besar. Kurasa Kuroko Tetsuya juga telah menjalankan misinya dengan baik."
"Lalu, apa dia menerima uang yang kutawarkan?"
"Tidak, Tuan Besar. Kuroko Tetsuya menolak uang itu, dia bilang bahwa ia akan pergi dan menjauhi Tuan muda Seijuurou."
Akashi melebarkan matanya setelah mendengar pembicaraan antara Ayahnya dan ketua Butler dikeluarganya itu.
"Apa—maksud Ayah? Apa hubungannya dengan Kuroko-sensei?" Akashi kini melangkahkan kakinya keruangan kerja Ayahnya.
"Seijuurou! Sejak kapan kau—"
"Ayah! Apa yang Ayah katakan pada Kuroko-sensei!?"
.
.
Akashi Seijuurou terdiam dikamarnya saat ini. Bagaimana ia harus bertemu dengan Kuroko Tetsuya kelak? Ia baru mengetahui bahwa apa yang terjadi tahun lalu itu ternyata adalah sebuah sandiwara yang sengaja Kuroko lakukan padanya.
Baik Ayah maupun Ketua Butler dikeluarganya telah menyadari bahwa Kuroko Tetsuya ternyata menyukai Akashi, makannya Ayahnya meminta Kuroko untuk menjauhi dirinya. Bahkan Ayahnya menawarkan sejumlah uang dengan digit yang lumayan besar, tetapi Kuroko menolaknya.
Semua itu menjelaskan ketika ia bertemu dengan sosok Kuroko saat berpapasan dengan Kise dan dirinya. Kuroko, yang ternyata menyimpan rasa yang sama seperti dirinya. Kuroko, sosok yang selama ini sudah tertanam dalam dirinya bahwa ia telah menghancurkan hatinya berkeping itu, ternyata sama-sama menyimpan perasaan yang sama dengannya.
Makannya, sorot mata dan wajahnya yang sedih itu—
Bagaimanakah perasaannya pada saat itu? Ketika mengetahui dirinya dan Kise kini sudah bersama?
Tapi bagaimana dengan Kise? Bagaimana dengan sosok pemuda yang sudah menghiasi perasaan dihatinya itu? Apakah ia akan dengan begitu saja mencampakkan Kise? Tidak, ia tidak bisa. Kise sudah ada lama dan memberi sebuah harapan dan kebahagiaan baru, menggantikan sebuah akar pahit yang selama ini ternyata adalah delusi dari perasaannya.
.
.
.
Bukan berarti Akashi tidak meceritakan hal itu pada Kise. Akashi langsung memberitahu pemuda itu dan berkata bahwa ia akan tetap berada bersama Kise, sesuai dengan janjinya dulu bahwa Kise lah orang yang akan menutupi akar pahitnya.
Awalnya Kise begitu senang dan menutup mata akan kenyataan bahwa Akashi masih tetap memikirkan sosok Kuroko Tetsuya. Apalagi setelah mengetahui semua kenyataan itu, sudah jelas bahwa perasaan Kise hanya akan bertepuk sebelah tangan. Tetapi Kise menolak hal itu, ia menerima kenyataan palsu, kenyataan yang merupakan kebohongan bagi dirinya.
Benteng yang kuat, dinding yang kokoh ia ciptakan agar sosok Akashi tetap berada disampingnya.
Namun, kenyataan memang tidak bisa dibohongi. Semakin lama ia berada bersama dengan Akashi, ia tahu bahwa hati pemuda ini tidaklah berada bersama dengannya. Ia tahu bahwa diam-diam Akashi memikirkan sosok Kuroko Tetsuya.
Maka dari itu, ia menyerah. Ia bertekad akan menyerahkan Akashi bila Kuroko akan sungguh-sungguh terhadap perasaan Akashi. Maka dari itu, ada satu hal yang harus ia lakukan sebelum keputusan akhir itu benar-benar bulat dalam pikirannya.
"Seicchi, ikut aku-ssu." Kise Ryouta menarik lengan milik Akashi, kemudian membawanya kepinggiran sebuah toko yang agak sepi. "Tunggu aku disini dan jangan pergi kemanapun-ssu."
Awalnya Akashi ingin protes dengan tindakan Kise yang tiba-tiba dan seenaknya itu. Tetapi setelah melihat rona wajah Kise, akhirnya Akashi hanya bisa menurut saja.
Beberapa menit berlalu semenjak Kise meninggalkannya. Tiba-tiba suara Kise terdengar tidak jauh dari tempat ia berdiri, namun begitu jelas bahwa sebuah tembok menjadi pembatas diantara mereka. Suara lain kini menjawab pertanyaannya, suara yang begitu ia kenal. Kuroko Tetsuya.
"Pertama-tama aku ingin meminta maaf karena telah menganggumu, Kuroko-san. Tetapi ada hal yang ingin kupastikan."
"Kau sosok yang tempo hari berada bersama Akashi-kun, bukan?"
"Ya, aku kekasihnya. Namaku Kise Ryouta-ssu." Kise memandang sosok Kuroko yang agak lebih pendek darinya, meskipun dari segi umur tentu saja Kuroko lebih tua darinya.
Kuroko tersenyum tipis ketika mendengar nama 'kekasih' keluar dari mulut Kise. "Apa keperluan apa sehingga kau datang menemuiku, Kise-kun?"
Kise telah memutuskannya, dengan keteguhan hatinya yang sudah matang ia memandang sosok Kuroko. "Apakah benar Akashi-san memintamu untuk menjauhi Seicchi? Apakah benar bila kau menyimpan rasa suka pada Seicchi? Tolong jelaskanlah hal itu, Kuroko-san."
Akashi yang mendengar dari jauh dengan sempurna membulatkan matanya. Apa ini? Apa tujuan Kise yang sebenarnya membawanya kemari?
Kuroko pun sempat terkejut dengan pertanyaan Kise. Namun ia menjawabnya tidak lama kemudian. "Bila kau bertanya tentang perasaanku terhadap Akashi-kun, bahkan hingga pertama kali aku bertemu dengannya, hingga saat ini diriku yang berdiri dihadapanmu, perasaan itu tetaplah sama, Kise-kun. Memang benar Akashi-san menyuruhku untuk menjauhi Akashi-kun, hubungan diantara kami berdua pasti ditentang. Bukan karena kami sama-sama sosok pria, karena aku tahu Akashi-san menerimamu sebagai kekasih dari Akashi-kun. Tetapi karena status keluargaku, dimana status keluarga Akashi bukanlah status yang hampir sepadan dengan diriku."
"Lalu kenapa kau memilih untuk pergi, Kuroko-san? Bila kau menyukai Akashi-kun, kau bisa pergi dengannya meskipun hubungan kalian berdua ditolak, kan?" tanya Kise kemudian.
Namun Kuroko memandang Kise dengan pandangan yang sedih. "Karena aku tidak ingin merusak masa depan Akashi-kun, Kise-san. Ia pemuda yang pintar dan jenius, aku tahu bagaimana prestasinya di sekolah maupun diluar sekolah. Aku tidak ingin semua impian dan cita-citanya hancur ketika ia bertemu dengan diriku."
"Jadi itu alasan mengapa kau menjauhinya?"
Kuroko mengangguk kecil.
"Seicchi, kau mendengarnya 'kan?" Kise bertanya dengan suara yang agak keras, cukup untuk membuat Akashi bahkan Kuroko sama-sama terkejut.
Tidak lama kemudian, sosok Akashi kini muncul dari belakang tembok. "Sensei.. kau tahu bahwa aku sudah membuang cita-citaku ketika hari dimana kau meninggalkanku."
"Akashi-kun..kau.."
"Bukan, Kuroko-san. Ini hanyalah tindakan egoisku-ssu. Aku tahu bagaimana Seiichi,dan hanya ini yang bisa kuberikan padanya untuk terakhir kali. Kebahagiaanya."
"Ryouta."
"Dengan ini aku sudah memutuskannya. Aku ingin kita berpisah, Seicchi."
"Apa yang kau katakan, Ryouta!? Kenapa mendadak—"
Kise kini melihat kearah Kuroko. "Aku tahu kau masih menyukai Kuroko-san bahkan hingga hari ini, dan kau mendengar apa kata Kuroko-san, bukan? Bahwa sampai hari ini ia masih menyukaimu? Maka dari itu, aku ingin berhenti menjadi pembatas bagi kalian berdua. Bersamalah, aku tahu kalian saling menyakiti bila kalian sudah mengetahui semua kenyataan ini. Bila Akashi-san tidak menerimamu, buatlah ia menerimamu, Kuroko-san. Bila kalian tidak bisa membuat mereka menyetujuinya, carilah cara lain. Kumohon, demi kebahagiaanku juga, kalian harus bersama-ssu." Senyum Kise sambil meneteskan airmatanya.
"Bodoh, Mengapa kau berbuat sejauh ini hanya untuk diriku, Ryouta?" Akashi kini memeluk sosok Kise dengan lembut. "Seicchi, kau harus bahagia bersama dengan Kuroko-san...hikss.." suara tangis kini terdengar dari sosok Kise.
"Lalu, Kuroko-san!" Mendengar namanya dipanggil, Kuroko kini kembali memandang sosok Kise yang masih terpeluk oleh Akashi. "Mulai saat ini, aku serahkan Seicchi padamu, bila kau sampai melukai perasaannya lagi, aku tidak akan segan untuk merebutnya kembali-ssu!"
Kuroko tersenyum kecil sebelum mengangguk. "Aku mengerti, Kise-kun. Aku berjanji akan membahagiakan Akashi-kun."
Setelah itu, akhirnya Kise pergi dan meninggalkan keduanya di tempat yang sepi itu.
"Kuroko-sensei..ah, bukan, Tetsuya." Panggil Akashi pada sosok pemuda Teal tersebut. Ia baru menyadari bahwa sosok yang dicintainya ternyata sedikit lebih pendek darinya.
"Ada apa, Seijuurou-kun?"
Tanpa perkataan apapun lagi, keduanya kini saling mendekat dan mendekap satu sama lain.
"Apa kau punya rencana bila Akashi-san tidak menyetujui hubungan kita berdua, Seijuurou-kun?"
Akashi menutup matanya sejenak. Merasakan kehangatan yang selama ini ia pikir mustahil dirasakan olehnya. "Bagaimana bila kubawa kau kawin lari, Tetsuya?"
_Owari_
