Title : Tuesday
Cast : Wu Yifan / Kris, Kim Joon Myun / Suho, KrisHo Pair,
Rating : T
Genre : FLUFF (all of this part) and Romance (of course)
.
.
Third,
Tuesday!
.
.
Tuesday
.
"Maaf. Iya, dia demam sejak semalam, mungkin kau bisa menitipkan pesan, untuk lembar dokumen atau apapun, kau bisa kirim fax atau email saja, iya, terima kasih. Bye!"
Suho memencet salah satu nomor lagi yang ada di dalam handphone miliknya setelah percakapan singkat itu berakhir, sembari menunggu nada sambung, dia melihat sebuah tubuh tergeletak tak berdaya dengan balutan selimut tebal berwarna kuning lembut. Rambutnya yang berwarna coklat terlihat sangat berantakan, menyembul dibalik selimut yang menutupi hampir sampai puncak kepala.
"Kyungsoo, ini aku, Joonmyun. Maaf, aku tidak bisa masuk kerja hari ini. Bisa minta tolong agar Baekhyun menggantikanku saja? Ya, Kris sakit di rumah, dia tidak bisa masuk kantor dan aku harus menjaganya. Iya, aku mengerti. Tidak parah, dia hanya demam. Terima kasih ya Kyungsoo, aku minta tolong. Bye!"
Suho mematikan sambungan dan meletakkan telepon genggamnya di meja nakas, di samping tempat tidur mereka berdua, tempat dimana Kris saat ini tengah tertidur dengan nafas pendek-pendek dari hidungnya.
"Kriss… ayo makan lalu minum obat, jangan manja begini, aku sudah minta izin untuk tidak masuk kerja dan aku tidak mau kalau kau tidak menurut begini!"
Suho mengomel saat melihat Kris tidak mau bergerak dari hibernasi panjangnya, memang dasarnya saja si naga kepala batu ini memang susah diajak kompromi.
"Tidak mau, aku mau tidur!"
Astaga!
Suho menarik-narik selimut tebalnya, tapi Kris masih menampik. CEO dari perusahaan besar ini terlihat benar-benar manja dan childish melebihi Suho yang merengek minta gendong saat capek. Kris lebih menyebalkan, keras kepala, tidak mau kalah dan semua permintaannya harus dituruti di saat-saat begini. Seperti inilah Kris saat sakit, dan Suholah yang paling bisa meluluhkan hatinya.
"Kris!"
"Tidak! Kau selalu saja memaksaku dengan kasar, tidak mau!" Kris bersikeras bahkan saat Suho menarik sambil memukuli tubuhnya. Suho terdiam, kekasih mungil pria bertubuh tinggi itu diam, cukup lama hingga membuat Kris terdiam juga.
Uring-uringan lagi.
"Sayang…"
Barulah saat panggilan merdu itu terdengar, telinga Kris berdiri.
"Hei, ayolah, kau marah?"
Suho perlahan membalik tubuh tegap Kris yang tampak kurus. Namja bermata coklat tajam itu akhirnya mau berbalik, saat Suho membelai lengannya, menyangga kepalanya dan mendudukkan kekasihnya itu tepat di hadapannya, Kris masih terdiam.
"Tidak, aku tidak marah. Aku hanya lelah."
Dengan perlahan, Suho menyandarkan kepala Kris pada bahunya, memijat punggung dan kepalanya yang kaku. Hingga lengan Kris melingkari pinggangnya, merasa nyaman dan nafas hangat yang keluar melalui hidung mancungnya.
"Maaf, aku akan lebih lembut lagi. Ada yang sakit? Masih pusing?" tanya Suho sembari menepuk punggung dan pipi tirus pemuda yang kini mengenakan kaus oblong berwarna abu-abu dan celana panjang berwarna hitam.
Kris menggeleng.
"Sayang…"
Rasanya perut keras Kris tergelitik saat Suho memanggilnya dengan panggilan sayang. Rasanya suara lembut milik Suho membelai telinga, disertai jemari pendek kekasihnya memijat lengannya.
"Hum?"
"Ayo mandi dulu."
Hingga akhirnya namja itu menggeleng menolaknya, Kris tidak mau mandi, rasanya kepalanya berat dan seluruh tubuhnya terasa kacau dan terlepas-lepas sendinya, dia merasa dingin, tak mau menyentuh air karena itu akan membuatnya tidak nyaman. Tak habis pikir, Suho susah payah memikirkan bujukan.
"denganku. Ya?"
Aha! Tawaran menarik.
Untuk pria macam Kris, ini tawaran yang sedikit jarang.
"Aku akan mandi denganmu, kau mau?"
Mendengar hal itu, namja bertubuh tegap itu mengangguk. Suho tersenyum senang, mencium kedua pipi Kris sembari turun dari ranjang. Membantu Kris melepaskan pakaiannya dan menggiringnya ke kamar mandi.
"Kau mau bermanja padaku ya?" Suho menggodanya saat Kris melepas pakaian, menampilkan perutnya yang bidang.
Dengan tawa yang diselingi batuk itu, Kris tersenyum, menampilkan giginya yang rapi.
"Ketahuan."
.
.
"Kau sakit dan selalu aku yang kena batunya, padahal aku sudah menjagamu tapi kau selalu menyalahkanku, aku sebal."
Suho mengerucutkan bibir, mengambil sabun dan menggosok tubuh kekasihnya dengan cepat.
"Aku benar-benar sakit, bukan hanya mau manja-manjaan saja padamu. Itu poin tambahan."
Kris membela diri, menuai cibiran sang kekasih.
"Aku kesal padamu, kesal sekali!" Suho mencubit kulit Kris yang licin sembari menyibakkan air, membuat basah lantai keramik kamar mandi.
"Hei hei, sudah," Kris menarik lengan Suho, menceburkan namja ringan itu ke dalam bath tube, menempelkan dahi mereka berdua, membuat pipi mulus Suho berhias warna merah pekat, merasakan tubuh telanjang keduanya menempel, erat, tanpa penghalang.
"Kau tidak merasakan apa yang aku rasakan?"
"Ah.. kau, masih demam."
Kris mengangguk, dia menjauhkan tubuh Suho dan menatap wajah merah kekasihnya yang malu-malu. Dia menutupi tubuhnya bersamaan dengan mengalihkan pandangan, tak mau terlihat seperti submissive lagi di depan kekasihnya.
"Hei, untuk apa kau malu?"
Suho menggeleng kecil, tak mau menjawab.
"Kau berfikir aku akan 'menyerangmu' disini? Mesum!"
Kalau tadi hanya sekitar wajah, kini Suho memerah hingga leher dan telinga, sebenarnya dia tidak suka dibilang mesum, Suho bukan mesum, tapi Kris yang membuatnya berfikiran tidak baik.
"Aku sakit, lebih baik kau merawatku dengan baik sebelum aku benar-benar menyentuhmu disini, sekarang."
Sudah tidak tahan, Suho berteriak kencang. Kesal.
"YIFAN!"
.
.
Suho mencampurkan selendri dan wortel tumbuk di atas panci. Celemek bermotif rilakkuma itu tergantung di leher namja mungil yang sedang mengaduk bubur nasi dengan sendok kayu. Sementara kekasihnya itu menunggu di atas kursi di ruang makan yang menyatu dengan dapur, tubuhnya terbalut dengan sweater berwarna krem dengan celana panjang, dengan kaus kaki tebal serta rambut yang sudah tersisir rapi.
Harum bubur itu menggelitik hidung Kris yang kini mempet. Suho meletakkan mangkuk berisi bubur yang berisikan wortel, ayam, jagung dan sedikit daging. Suho tahu Kris pasti tidak mau makan nasi, jadinya Suho membuat bubur dengan isi macam-macam. Disertai dengan jus kiwi dan air putih, dengan tambahan dua bulir pil yang harus diminum.
"Makan ya…"
Kris yang sebelumnya meletakkan kepala di atas meja hanya mengangguk tak berdaya, namun dia sama sekali tak mau menyentuh mangkuknya. Sementara Suho melepas celemeknya, dia memandang sedih Kris yang tak bersemangat dan terbatuk-batuk. Merasakan dingin, namun suhu tubuhnya panas, tidak nyaman dan sesekali dia mengusak-usah hidungnya yang gatal akibat flu.
"Aku akan menyuapimu."
Suho mengambil sendok dan duduk tepat di sebelah kekasihnya yang langsung menyandarkan kepala di pundak sempit Suho.
"Kenapa bisa sampai sakit? Aku tidak mengerti jalan pikiranmu Kris. Apa banyak masalah akhir-akhir ini?"
Kris menggeleng kecil, "Hanya beberapa masalah di bagian eksternal, tapi mungkin aku terlalu banyak bekerja lembur."
Suho mengangguk-angguk, menyuapkan sesendok bubur dengan perlahan.
"Maaf merepotkanmu, juga aku yang bertingkah seperti anak kecil."
Dengan lembut, pria mungil itu menggeleng, "Aku paham, memang saat sakit terkadang kita ingin banyak orang memanjakan kita. Aku tahu perasaan itu, karena aku sering bermanja padamu."
"Merasa lebih baik?"
Pertanyaan itu Suho lontarkan setelah semua yang Suho sajikan kandas. Termasuk dua bulir obat dan air putih yang sebelumnya Kris bersikeras tidak mau meminumnya.
"Iya. Terima kasih."
"Mau tidur?"
Kris mengangguk.
"Baiklah," dengan tangan mungil itu, Suho menuntun jalan kekasihnya. Membawa mereka berdua pada tempat tidur yang belum sempat dirapikan tadi.
.
.
"Tidurlah denganku!" Suho melebarkan mata saat Kris menarik sebelah lengannya agar mau tidur di sampingnya. Setelah mengantar Kris agar tidur di ranjang sembari merapikannya, Suho juga meletakkan secangkir teh di meja nakas agar saat Kris terbangun dia tidak kerepotan mencari minum. Namun, sepertinya putra tunggal keluarga Wu ini punya kehendak lain.
"Aku mencuci mangkuk dulu…"
"Tidak perlu" Kris memotong ucapan Suho dengan sebelah tangan masih menggenggam lengan Suho yang kecil dan putih.
"Yifan?"
"Aku, sedang tidak mau sendirian."
Mengerti, Suho menyibak selimut, menaikkan sebelah kakinya hingga ikut merebahkan diri di ranjang mereka berdua. Tubuh mungil itu langsung tertarik, berada dalam dekapan hangat milik Kris diserta ciuman di puncak kepalanya yang lembut.
"Kalau kau tertular, maafkan aku."
Suho mengangguk dan tersenyum, dia menepuk-nepuk punggung lebar Kris sambil bergumam "Tidak apa-apa, kalau itu bisa menyembuhkanmu aku tidak keberatan kalau tertular."
"Omong-omong, kau masuk kerja besok?"
Kris bertanya pada kekasihnya, menatap matanya yang lembut serupa rawa-rawa dengan mata elang tajamnya.
"Tidak, aku tidak ada tugas besok, besok ada giliran magang, Kyungsoo yang akan mengurusnya."
"Oh.."
Bibir tipis Suho melebar saat dirasa Kris makin merapatkan tubuhnya, mengaitkan kaki sembari memberikan dekapan erat.
"My poor little dragon…"
Suara kekehan kecil dari bibir Suho terdengar, Kris tak bisa menjawab bahkan saat Suho memainkan helaian rambutnya, merasa aura sangar kekasihnya sudah pergi. Berganti dengan sifat manja dan malu-malu menyebalkan.
"Sayang?"
Suho melepaskan pelukannya membuat Kris bertanya dengan heran. Namun saat tangan mungil itu menangkup kedua belah pipinya, Kris baru sadar, apa yang selanjutnya Suho akan perbuat.
"Kau bisa tertular, jangan menciumku."
Seakan tak peduli, bibir merah muda itu menempel sempurna pada permukaan bibir tebal Kris, sangat panjang dan entah mengapa membuat keduanya merasa ada di sebuah titik diamana kenyamanan itu timbul. Diselingi hisapan kecil dari bibir mungilnya, tangan lebar Kris kini giliran mengusap-usap tulang pipi kekasihnya.
"Eung…"
Kris menaikkan sebelah alis saat dia merasa Suho menahan pergelangan tangannya, disaat Kris hendak mengakhiri ciuman yang terasa ringan itu, Suho menahannya, merengek pelan, tanda dia tidak mau itu berakhir. Hingga 2 menit kemudian, Kris menggigit perlahan bibir bawah Suho, memandang iris hitam gelapnya dengan lembut, sebelum memutus tautan mereka.
"Siapa yang sekarang manja hum?"
Guratan merah tipis perlahan muncul di kedua belah pipi tembam Suho. Dia menyadari, Kris kini yang malah memanjakannya, dengan senyuman kecil, Kris menggoda Suho dengan mengusakkan hidung mancung keduanya.
"Maaf," Suho mengeratkan genggaman tangannya pada kaus milik Kris dan hendak menyembunyikan wajahnya yang memerah.
"Hei hei, jangan minta maaf. Ayolah, aku tidak melarangmu untuk meminta ciuman seperti tadi. Tapi aku hanya tidak mau kau tertular, makanya, aku tidak melakukannya lama-lama."
Mendengar penjelasan singkat pria tinggi ini, Suho mengangguk mengerti.
"Kajja. Tidur!"
Kedua tubuh itu bergelung di atas ranjang, berselimut tebal dengan perasaan nyaman karena saling berbagi kehangatan dari tubuh masing-masing. Diselingi ucapan sayang dari keduanya, entah mengapa Kris merasa obat seperti ini yang Suho berikan jauh lebih ampuh daripada bulir-bulir pil dan kapsul yang harus dia minum.
"Kalau begini aku jadi ingin sakit terus-terusan."
Suho memukul manja kepala kekasihnya saat dia mendengar Kris menggumamkan hal aneh.
"Aku yang repot!"
"Tapi kau senang merawatku!" Kris menampik ucapan Suho dengan malah menggoda makhluk mungil berjari lentik di dalam dekapannya ini.
"Uh.."
"Aku hanya perlu menggeleng ataupun mengatakan tidak dan merengek seperti anak kecil, maka kau akan menurutiku. Begitu saja."
Suho menggeram kecil, begitu lucu karena iris hitam berkilatnya bergetar. Antara marah dan malu. seperti setiap harinya, Suho yang selalu merengek pada Kris.
"Ish!"
Secepatnya, Suho menahan pergelangan tangan Kris, merambat naik dan mensejajarkan wajah mereka berdua, menangkup pipi dan tanpa aba-aba, Suho langsung menangkupkan bibirnya pada bibir tebal kekasihnya. Secara cepat, tidak sabar.
"He..hei!"
Suho melepas lumatannya dan memandang wajah sang kekasih dengan bibir bawahnya yang maju.
"Aku ingin kau cepat sembuh, ayo tularkan flumu padaku. Dasar naga menyebalkan!"
Mendengar hal itu, Kris menaikkan sebelah alis, "hei kau curang! Kembalikan!"
Pekikan melengking terdengar disertai deritan ranjang yang bergetar karena tubuh atletis Kris mendempet Suho hingga ke dinding, mengurungnya disana, menahan semua gerakan tubuhnya. Setalah semua itu terjadi dengan cepat, terdengar suara tawa yang renyah dari pria kecil yang ditindih. Kris ambruk, tak mampu menahan pusing yang melanda dan Suho yang merasa menang.
"Dasar… curang…"
Gumaman itu terdengar setelah Kris menyerah saat mendesak tubuh kekasihnya.
"Aku tidak curang."
Kris tak punya pilihan lain selain menyumpal mulut cerewet kekasihnya dengan bibirnya sendiri. Membuat Suho tiba-tiba memejamkan mata, meletakkan kedua lengannya di depan dada bidang Kris dan menyambut ciuman manis itu dengan senang hati.
"Aku lelah."
Lumatan itu berhenti saat Kris mengeluh lelah dalam sela-sela ciumannya, membuat Suho menarik diri, menaikkan selimut yang sebelumnya melorot hingga lutut keduanya, membawanya menyelimuti hingga menutup mulut dan hidung keduanya.
"Aku sudah bilang padamu tadi, ayo tidur!"
Keduanya berakhir di atas ranjang dengan posisi saling berhimpit, dengan belaian di kepala dan pipi tirus namja keras kepala itu, Kris jatuh tertidur dengan mudah, memaksa Suho ikut tertidur juga, menyembunyikan kepalanya pada dada bidang Kris, menyalurkan kehangatan dan kasih sayangnya dari sana.
Entah mengapa, rasanya menyenangkan.
.
.
Suho membuka matanya yang berat dan mengedipkannya. Dia menyibak selimut dan tak mendapati Kris ada di sampingnya.
"Yifan?"
Sesosok pria dengan pakaian formal masuk ke dalam kamarnya. Mengenakan pakaian setelan jas dan kemeja putih serta celana panjang.
"Sarapanmu ada di meja."
"Huh?" Suho hanya mengedip tidak mengerti sementara Kris menarik pergelangan tangannya, mencium kening dan pelipisnya.
"Aku sudah sehat, terima kasih sudah menjagaku semalam."
"Kau benar sudah sehat?" Suho bertanya dengan nada khawatir yang tersendat di tenggorokannya.
Kris mengangguk kecil, mencium bibir kekasihnya sembari mengambil tas.
"Aku akan pulang cepat!"
Namja mungil itu mengangguk kecil. Membiarkan kekasihnya pergi bekerja. Setelah itu, kaki jenjang itu turun dari ranjang, menginjak ubin yang dingin membuatnya menggigil dengan hanya baju piama tipis yang melekat pada tubuhnya yang kecil.
Dia melihat meja makan, terkejut mendapati sepiring roti panggang dengan selai coklat serta segelas susu dengan beberapa potongan stroberi di mangkuk kecil sebelahnya. Dengan siraman madu dan kacang almond yang segar.
"Dasar!" Suho bergumam saat melihat note kecil di sebelah hidangan makanannya. Perlahan pipinya memerah, panas. Melihat kalimat yang tertulis disana, tak bisa menyembunyikan wajah merahnya yang nampak jelas. Tak peduli sakit ataupun sehat, kris akan tetap jadi Kris yang seperti ini.
.
Eat Me PLEASE!
Thanks for caring me all day and night.
Now, I feel better.
I will repay you tonight.
With some HOT Session until sunrise come.
Ps : I Love You, Joonmyun
.
.
Tuesday
END
.
.
I'm sick. Okay. Feel uncomfortable and well, I miss all my reader now TT_TT
Karena efek flu aku tak bisa berkonsentrasi menulisnya. Aku tak tahu ini bagus atau tidak tapi ini yang aku ingin tuliskan. And for Wednesday, Ssst! I'm already write it. I'll post it as soon as possible. Hehe..
So, enjoy!
.
.
#RAEYOOKANGENKALIAN
#ASTAGA!
#BYE!
