Kuroko no Basuke/黒子のバスケ Fanfiction

"AkaKuro!Drabble"

Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi

Warning : Failed-Humor? Gaje, Bahasa ga baku, dkk dll

A/N : Pertama-tama, gomennn buat Yuna-nee TwT setelah sekian lama akhirnya baru bisa lanjut lagi buat menuhin quest-nya. Sebenernya pas nulis chapter ini bener-bener penuh perjuangan deh, meningat diriku memang ga bisa bikin humor, tapi semoga fic ini bisa menghibur ya, walaupun mungkin agak gagal juga TvT *mojok
Buat chap depan, ch.33 bakal jadi chap request dari Alenta93. Sipp, 3 chapter lagi sebelum fic ini tamat guys. Semoga author bisa cepet apdet ya :D Makasih buat semua yang udah ngikutin, fave, follow bahkan yang udah menyempatkan diri buat ngasih review XD

Happy Reading, all..

With Love,

Zelvaren Yuvrezla a.k.a ren-chanz


Drabble 32 - Unexpected Day


Siang itu, mungkin memang siang yang terlihat sama seperti hari-hari biasanya di Teiko Chugakko. Siang yang mendung-mendung masam dengan pelajaran yang membosankan. Anak-anak sibuk mengaplod ke-humu-an guru atau teman mereka di instagram, path, facebook ataupun sosmed lainnya—yah, harap maklum, namanya juga fujoshi, ketika OTP mereka bersatu pasti bakal sumringah sambil nyengir sendiri 'kan—hayo ngaku.

Akashi tetap menyandang title kapten tersadis yang absolut, tapi jangan bilang-bilang kalau kapten kurang gizi ini ternyata diam-diam suka berebut barang cuci gudang di Department Store, bersama ibu-ibu rumah tangga pula. Kuroko si Manusia bayangan kadang suka memanfaatkan hawa tipisnya untuk melancong ke kelas-kelas sebelah, jangan bilang-bilang juga kalau manusia satu ini ternyata diam-diam nista, masa naik-turun bus ga bilang-bilang. Kise Ryouta, Model kece pujaan hati para wanita, sekilas sih bikin orang pada fangirling-an, tapi pas liat betapa 'Kuroko-maniak-nya' orang-orang langsung pada ngacir. Aomine, Ace dari tim basket Teiko yang akhir-akhir ini digosipkan patah hati dan mulai mencari cinta humu sejatinya—Whut? Iya, Humu, ga salah kok. Lalu, 2 personil lainnya yang nyaris menyeimbangkan keunikan mereka dalam grup mereka. Obsesi Midorima akan ramalan Horoskop yang nyaris saja membuatnya menyandang julukan sengklek. Gimana ga coba? Alat penggeli badan—yang diyakini sebagai Luck Item miliknya— yang ia pasang dibadannya, tombolnya sih mati, tapi namanya juga kereta pagi, 'kan banyak penumpangnya berdesak-desakan buat ngantor atau ke sekolah, trus tau-tau tombolnya nyala sendiri dan ngebuat dia ngikik kaya Hyena. Lalu yang terakhir—Murasakibara, pemuda satu ini pernah jadi sasaran dendam kesumat Akashi karena tinggi badannya. Beruntunglah bawaan Murasakibara yang agak-agak selow, ngebuat dia ga menghiraukan kata-kata si Kapten kurang tinggi dikit yang jelas-jelas iri sama tinggi badannya. Ah, lagipula mau sampai lebaran monyet juga yang ada dipikiran Murasakibara paling-paling cuma Snack dan makanan-nya.

17 April, pada tahun kedua mereka bersekolah di Teiko ternyata adalah hari yang paling bersejarah bagi mereka. Tidak ada seorangpun yang ternyata melupakan masa-masa mereka pada hari itu.

Aomine Daiki berlari engap-engapan, ia memegang ponsel ditangannya kirinya, sebelah tangannya mencoba menarik-narik celana-nya yang kelonggaran. Terkutuklah wahai Kapten Cebol—ups, Akashi maksudnya—yang berhasil membuat ia terpingkal-pingkal dan meninggalkan sabuk celananya di WC.

Ceritanya, awalnya sih Aomine tidak begitu peduli dengan permainan konyol ini. Tidak sampai ia berdiam di toilet, membuang panggilan alamnya dan mendapati ponselnya bergetar dengan terror yang diberikan oleh Akashi. Darah seolah berhenti mengalir ke kepalanya, belum semenit ketika ia menerima pesan itu, tiba-tiba ia mendengar suara Akashi yang sedang berbicara.

Sebodo deh dia bicara dengan siapa, Aomine ga peduli, yang penting ia harus keluar dari tempat itu dan jangan sampai Akashi menemukannya. Ia langsung meloncat keluar melalui jendela lain yang terhubung dengan toilet tempat dia berdiam, jalan yang berbeda dengan jalan yang Akashi lewati. Setengah berlari, ia meletakkan ponsel itu disisi telinganya, berharap orang yang di panggil olehnya menjawab panggilannya. "Ayo angkat teleponmu, Kise!" ucapnya tidak sabaran sambil awas melihat kiri-kanan lorong tersebut.

Diawali dengan permainan iseng yang Kise usulkan dan berakhir menjadi seperti ini. Apalagi sosok Akashi yang siap meneror mereka dengan tulisan yang ia kirim di grup 'Generation on Miracle' itu. Kata yang ditulisnya memang tidak banyak—jelaslah, Akashi mana sudi nulis panjang-panjang kalau bukan sama kecengannya—tapi kata-kata itu cukup membuat anggota lain kembang kempis, entah mangap-mangap karena syok liat isi tulisannya atau syok liat emotikon di message yang dikirimnya. Maklum, Kapten mereka 'kan irit kata, sekali lagi mana mau dia ngasih emotikon kalau bukan ke kecengannya.

Tapi soal kecengan, anggota Kiseki no Sedai ternyata ga ada yang tau kalau kapten beke satu itu ternyata udah jadian sama Kuroko. Mereka cuma tau kalau Akashi itu JOMES—alias JOMblo ngenES—yang suka ngambek ga jelas karena ga laku-laku, itu cikal bakal dia diomongin CEDIS—alias CEbol saDIS— juga sama anggota lainnya. Sayangnya mereka pada ga tau kalau Akashi udah punya pacar, lumayan menyelamatkan kadar oksigen dari yang bakal megap-megap mungkin?

Ah, kembali ke cerita utama, jadi inilah yang ditulis oleh sang Kapten Akashi Seijuurou itu..

'Siapapun yang kutemukan, bersiaplah karena besok akan menjadi hari yang paling menarik dalam sejarah Teiko te-hee _(:3 . )/ 3 ' _send by Akashi Seijuurou to group

oOo oOo oOo

Sebenarnya kejadian naas ini hanya bermula dari perkataan Kise menjelang latihan Basket 4 jam lalu. Kise yang hari itu memang sedang terkena sial beruntun tidak menyadari kalau Akashi ternyata berdiam dekat dengan mereka. Entah karena Kise mengira itu Kuroko—bisa dibilang karena tinggi mereka kurang lebih mirip—atau hawa tipis Kuroko mulai tertular pada Akashi. Apapun itu alasannya, Kise benar-benar sial saat itu.

"Ne, ne~ Minacchiii~~" Suara cempreng Kise bergema kembali. "Rasanya aku tidak berminat untuk latihan basket hari ini. Akashicchi pasti menambah menu latihanku gara-gara nilai test-ku jelek-ssu. Padahal daripada mengurusi nilai test-ku 'kan lebih mending dia mengurusi tinggi badannya,"

Aomine, Midorima dan Murasakibara memandang kearah Kise dengan horror, dibelakang Kise ternyata telah hadir penampakan bernama Akashi Seijuurou. "Lagipula kenapa Akashicchi suka bertampang jutek mirip sama cewe yang PMS sih? Pantes aja sampai sekarang ga laku-laku-ssu." Cieee—Kise cari mati.

CKRES CKRES

Kise—yang sebelah telinga-nya dipasang Earphone sepertinya agak tuli sampai ga menyadari bunyi legendaris itu dibelakangnya—atau karena oyb malah sibuk sama dunianya sendiri kali ya?

Aomine dan Midorima cuma bisa matung ditempat begitu liat aura pekat muncul dibelakang tubuh Akashi dan guntingnya. Murasakibara sih mulai ngembil emilannya, selama itu ga menyangkut makanan-nya sebodo deh sama nasib malang Kise.

"Nah~ Bagaimana bila kita bermain petak-umpet-ssu? Pasti menarik~~" Wajah Kise berseri-seri, namun cengirannya perlahan redup ketika benda legendaris Akashi kini menempel di lehernya. "Oh, ide yang bagus Ryouta~ Bagaimana bila kita bermain selesai berlatih, hmm~?" Tanya Akashi sambil tersenyum manis. Begitu manis sampai membuat anggota reguler berkeringat dingin melihatnya.

Itulah yang sebenarnya terjadi, selesai menjalankan latihan mengerikan yang diberikan Akashi, anggota Reguler kini menjadi sukarelawan—baca: dipaksa—oleh Sang Kapten. Hari memang sudah gelap, tapi dengan obrolan Akashi dan petugas keamanan, mereka mendapat izin untuk memakai sekolah itu sampai menjelang tengah malam.

.

.

.

Aomine tetap menunggu Kise untuk mengangkat telp-nya. Setelah 5 menit, akhirnya pemuda cantik itu membalas panggilan cowo dekil ini. "Aominecchi?"

"Oi Kise, dimana kau?"

"Aku ada di lantai 3, Aominecchi. WC perempuan-ssu."

"Oke, aku kesa—" Aomine berhenti. Memproses dulu perkataan Kise selama 5 detik.

KRIK. KRIK. KRIK. KRIK.

Hah? WC perempuan? Telinganya ga mengalami gangguan 'kan? Rasanya baru kemarin dia membersihkan telinganya. Oh, demi Zeus, apa yang Kise lakukan di WC perempuan? Itu WC perempuan!

Wajah Aomine mulai keriputan sambil memegang ponselnya dengan gemetar. "Kise, aku tidak menyangka ternyata kau—"

"E—ehhh? Aominecchi jangan salah sangka-ssu!" Teriak Kise sambil berbisik. "Kurasa WC perempuan tempat yang pas untuk bersembunyi dari Akashicchi, aku tidak mau tertangkap dan jadi bulan-bulanan besok-ssu."

"Ide bagus, sebentar aku kesana!"

.

.

.

"Tetsuya, kenapa kau senyum-senyum sendiri?" Akashi mengengok kebelakang ketika bunyi pesan terkirim dari ponselnya. Akashi memang meminta Kuroko untuk mengirimkan pesan ke grup, namun cengiran Kuroko itu berhasil menyita perhatiannya. Pemuda satu itu memang minim ekspresi, sekalinya nyegir justru ngebuat Akashi shock sampai dikira kekasihnya itu kerasukan.

"Hanya iseng, Seijuurou-kun~" Pemuda berhelai Baby Blue itu menggulum senyum, memegang tangan milik Akashi.

Mereka berdua ada di lab Biologi. Akashi ternyata meninggalkan catatan miliknya di ruang itu tanpa sengaja, sepertinya terjatuh saat ia sedang terburu-buru. Kuroko—yang tidak ambil bagian dalam acara petak-umpet ini mengekor dibelakang Akashi. Anggota lain tentu tidak mengetahui bahwa Kuroko bersama dengannya. Lagian siapa sih yang mau cari mati dan tertangkap—apalagi dengan pesan provokasi yang Kuroko kirim tadi melalui ponsel Akashi. Eh? Tunggu—Jadi yang ngirim pesan di grup itu ternyata Kuroko? 'Kan? dibilang juga Kuroko diam-diam nista~

.

.

.

Hari sudah makin malam, dan Midorima mulai mengutuk Akashi dalam hatinya, mencari-cari boneka voddoo di tasnya—tapi ia segera mengurungkan niatnya, karena bila ia masuk Neraka, ia pasti bertemu dengan Akashi yang akan menyiksanya berlipat-lipat ganda karena membuatnya mati semasa ia masih beke. Dengan sedih dan senyum pasrah dimukanya, Midorima kembali memasukan boneka terkutuk itu kedalam tasnya. Jam sudah menunjukkan pukul 8 dan ia masih berdiam diri di ruang kesehatan, bersembunyi dibalik lemari. Midorima masih memaki-maki kapten cebol itu—yang membuatnya harus mengikuti permainan bodoh ini. Padahal dia 'kan mau cepat pulang dan menonton drama kesukaannya. Eh? Diam-diam Midorima suka nonton drama toh..

Ia makin menggerutu, sampai sebuah suara tiba-tiba terdengar dari tempat itu.

KRIIIIEEETTTTT~~~~

Midorima mulai keringet dingin. Rasanya mendadak suhu disekitarnya berubah kaya di kutub utara. Ia menelan ludahnya. 'Su—Suara apa itu-nodayo?' tanyanya dalam hatinya. Namun ia tidak berani untuk melihat keluar.

KRIIIIETTTTTT~~ KRIIIIETTTT~~

Suara itu makin dekat. Terkutuknya lantai kayu ruang kesehatan yang sudah lapuk ini! Terkutuklah manusia yang mengusulkan permainan ini, terlebih terkutuklah kapten cebol yang memaksanya untuk memainkan permainan ini!

Midorima mulai komat-kamit membacakan mantra—takut-takut ternyata ada penampakan di ruang yang dia tempati.

DEG DEG DEG DEG

Suara itu makin dekat dan dekat. Midorima sudah bersumpah kalau dia meninggal nanti, dia akan menghantui Akashi.

Pintu lemari itu terbuka dengan paksa, membuat pemuda hijau itu mangap dengan tidak kobe-nya. Sosok Titan yang memandang mukanya dengan seram. Wajahnya putih, tinggi dan besar. Ia menggunakan baju putih dengan bercak-bercak merah. Namun saking takutnya, Midorima ternyata ga sadar kalau sosok itu ternyata Murasakibara.

Dari hipotesa sih, si mahkluk jangkung ini pasti lapar karena ga ada cemilan lagi. Murasakibara sih sebodo sama permainan petak umpet ini, dia cuma memikirkan perutnya aja. Karena lapar, Murasakibara pergi ke dapur dan mencoba buat masak, ternyata Murasakibara jatuh dan mukanya terpoles sama tepung yang ada didepannya itu. Selai strawberry yang ada diatas meja juga ikut jatuh dan membuat cipratan ke bajunya. Sekilas mirip darah karena sama-sama merah, tapi yah~ mananya juga Manusia lagi khilaf, buat mikir lurus aja kayanya susah. "Midoooochinn~~?" Murasakibara bingung sendiri pas liat Midorima udah k-o sambil keluar busa dimulutnya. Tidak lama Midorima jatuh dan berciuman mesra dengan si lantai kayu yang lapuk.

.

.

.

Tiba-tiba sebuah pesan masuk ke ponsel milik Kuroko. Membuat pemuda Baby Blue itu kembali nyegir ga jelas. Akashi mulai keringet dingin lagi. Kenapa tiba-tiba kekasihnya ini nyegir ga jelas kaya gitu coba? Padahal waktu pergi keluar bersamanya Akashi bahkan sulit ngebedain Kuroko sama tembok, abis sama-sama datar sih..

"Tetsuya?" Akashi menaikkan sebelah alisnya, memandang Kuroko yang sibuk memandang ponselnya.

Kuroko tidak lama memasukan ponselnya lagi ke kantong, lalu menengok kearah Akashi. "Ya, Seijuurou-kun?" tanyanya sambil tersenyum manis.

Melihat senyum manis itu, beribu pertanyaan yang ada di benak Akashi kini sirnah, meninggalkan wajah Akashi yang tersenyum padanya. "Ayo, pulang. Hari ini kau menginap dirumahku."

"Eh?" Kuroko terkejut. "Bagaimana dengan permainan ini, Akashi-kun?"

Akashi menaikan bahunya. "Seharian disekolah tidak akan membuat mereka meninggal, Tetsuya."

Kuroko tertawa kecil, sebelum ia mengaitkan tangannya di tangan milik Akashi. Lalu keduanya beranjang pergi dari sekolah tersebut, meninggalkan ke-4 temannya yang masih terjebak disana.

.

.

.

Keesokan harinya..

"KYYYAAAAAAA!"

Teiko Chugakko kini digemparkan oleh teriakan para fujoshi—yang ternyata hampir seluruh penghuni sekolah itu ternyata adalah murid-murid yang agak menyimpang. Nah, gimana ga? Ketika mereka memasuki WC perempuan dan menemukan Aomine yang tidur sambil memeluk Kise dengan setengah celananya yang terbuka—kelonggaran gara-gara ga ada sabuk sebenernya. Mereka bukan teriak karena ada cowo WC perempuan, tapi mereka malah ambil ponsel buat jepret-jepret si 2 cowo yang agaknya kebluk sampai ga denger teriakan para penghuni sekolah itu.

Bahkan tidak kurang dari 5 menit, foto mereka kini sudah beredar di media masa. Bertuliskan 'SI DEKIL AOMINE MENDAPAT PACAR KECE MODEL!' atau sejenisnya. Bahkan ada yang menuliskan status facebook-nya 'Akhirnya Aomine menemukan cinta humu sejatinya. Selamat bro! Terbukti pria ga laku kaya Aomine juga bisa dapet pacar lho!' Sejak saat itu keduanya menjadi headline news di jejaring media social. Bahkan Aomine dan Kise sendiri bingung kenapa tiba-tiba banyak orang yang memberi selamat pada mereka ketika mereka keluar dari WC itu. Padahal Aomine tidak sengaja memeluk Kise karena kedinginan.

Midorima sendiri masih tertidur di ruang kesehatan, setidaknya Murasakibara sudah memindahkan pria hijau itu ke kasur. Pria jangkung itu sendiri langsung pulang ketika ia selesai mengirim pesan pada Kuroko kemarin malam, isinya tentang foto Midorima yang terkapar karena shock.

Oh, ternyata itu yang membuat Kuroko senyum mesem ga jelas gitu~

~Owari~