Title : Thursday

Cast : Wu Yifan / Kris, Kim Joon Myun / Suho, KrisHo Pair,

Rating : T

Genre : FLUFF (all of this part) and Romance (of course)

.

.

Fifth,

Thursday!

.

.

Thursday

.

.

Baru jam 6 sore dan gerimis sudah mengguyur. Suho pulang lebih awal karena dia ingin memasak untuk kekasihnya. Sudah beberapa hari ini Kris mengeluh sakit perut dan jadwal makannya berantakan karena tugas yang menumpuk. Sebagai seorang yang bekerja di bidang keperawatan dan ahli gizi, Suho tidak mau Kris sakit. Sudah 2 hari ini Kris bawa bekal rutin ke kantor karena Suho selalu tidak percaya kalau Kris tidak akan makan makanan yang aneh saat jam makan siang. Kekasihnya itu agak susah diberi tahu, apalagi menahan godaan pada makanan. Dan dia mengancam Kris tidak akan mau tidur satu ranjang lagi kalau namja jangkung itu terus-terusan mengomel dan menolak ini-itu yang dia bawakan.

"Aku masak apa ya?" namja itu mengusap rambutnya sambil memakai celemek rilakkuma dan membuka pintu kulkas. Menyebabkan hawa dingin langsung keluar membuatnya merinding.

Di kulkas besar itu hanya terisi dengan daging dan beberapa sayuran. Sementara di cabinet dapur ada beberapa jenis pasta dan sereal. Suho jadi tidak tahu dia harus masak apa. Setelah berfikir cukup lama, Suho mengeluarkan tahu, jamur dan daging ayam serta bawang Bombay. Saat dirinya hendak menarik keluar sebungkus sawi dari rak paling bawah lemari esnya, Suho terkejut mendengar suara bel dibunyikan.

Tanpa pikir panjang, dia melepas celemek, setengah berlari dan kemudian membuka pintu.

"Selamat malam…"

Seseorang membungkuk di depan saat Suho membuka pintu, dia melihat lelaki muda dengan tas di punggungnya, rambutnya hitam dan mengenakan kemeja kotak-kotak dan jaket abu-abu gelap.

"Jongin?"

"Joonmyun hyung!"

Keduanya bengong setelah saling menatap.

"Kenapa hyung disini?"

Suho mengernyit "Harusnya aku yang bertanya padamu, kenapa kau kemari?"

Jongin balas mengerutkan dahi, dia menggaruk tengkuknya sebelum membentulkan posisi tas, "Apa hyung bercanda? Aku ingin menemui kakakku. Hyung sendiri?"

"Kakak? Kakakmu?" Suho tampak berfikir sebentar sebelum dia terpekik "OMO! Kris maksudmu?"

Jongin mengangguk "Hyung kenal dia? Dia ada di rumah tidak? Eh tapi tunggu, kenapa Joonmyun hyung ada di sini?"

Suho yang masih dengan kebingungan di otaknya kemudian menyeret Jongin masuk ke dalam rumah. Mendudukkannya di kursi tamu sebelum berlari ke dapur untuk mematikan rebusan airnya. Dia kembali lagi dan menatap Jongin meminta penjelasan.

"A..aku tinggal disini," dan Suho juga tidak mengerti mengapa dia menjawab dengan suara bergetar.

"Hah? Tinggal?" Jongin berpikir sebentar sebelum dia berteriak kencang "ASTAGA KRIS HYUNG SUDAH MENIKAH?"

Lantas pria mungil itu melebarkan matanya "Ti… tidak!"

Suho menggeleng kecil, menatap sosok anak yang berusia 3 tahun lebih muda darinya ini. Sebenarnya Suho mengenal Jongin, tidak terlalu akrab, dia hanya pernah bertemu pemuda yang saat ini sedang menempuh pendidikan di sebuah universitas itu karena sebuah ketidaksengajaan. 2 kali, pertama saat Kyungsoo mengenalkan pacar barunya, dan kedua saat namja ini berobat di rumah sakit tempatnya bekerja.

.

.

Ya ya, pria dengan tinggi hampir setara dengan Kris ini memang pacar baru Kyungsoo sejak 3 bulan yang lalu. Kyungsoo memang lebih tua, dan mereka menjalin hubungan yang sepertinya agak rumit. Jongin kuliah di Cheondamdong, dia hanya menjenguk Kyungsoo si Seoul jika dia tidak sibuk dan jika dia punya waktu kosong di sela jadwal kuliahnya. Suho ingat sudah beberapa hari yang lalu Kyungsoo bilang Jongin datang menemuinya dan tinggal selama beberapa hari dengannya. Tidak lama, Kyungsoo bisa maklum karena Jongin sudah memasuki akhir semester.

Jongin sendiri tidak tahu kalau Suho pacaran dengan Kris. Karena Kyungsoo memang tidak pernah bercerita sebelumnya.

"Tunggu… bukannya Kris anak tunggal?" Suho bertanya dengan anda heran. Itu karena Kris tidak pernah becerita kalau dia punya adik atau semacamnya. Lagipula, dari awal Kris memang mangaku kalau dia anak tunggal.

"Hehe, dia bukan kakak kandungku hyung, dia kakak sepupuku. Anak dari kakak ayahku, ayahku menikah dengan orang Korea, sementara ayah Kris hyung menikah dengan orang Kanada. Jadinya kami terpisah jauh. Tapi behubung Tuan Wu punya perusahaan di Korea, makanya Kris hyung jadinya bekerja di Korea juga."

Suho mengangguk kecil, "Kau masih dengan Kyungsoo kan?"

Lelaki itu mengangguk "Dua hari ini aku menginap di apartemennya dan aku bilang kalau aku ingin menemui kakakku, besok pagi aku akan kembali ke Cheondamdong, kuliahku dimulai lusa depan."

"Aku tidak tahu kalau Kris punya adik sepupu, kalian tidak terlalu mirip."

Jongin tertawa keras, mendapati sifat polos kekasih kakaknya tersebut.

"Hyung hari ini aku menginap di sini ya? Aku kangen Kris hyung. Lagipula, aku kasihan merepotkan Kyungsoo terus. Dia jadi tidur berdua denganku padahal ranjangnya kecil."

Suho mengangguk kecil, "Sebentar lagi Kris pasti pulang, aku mau masak dulu. Oh ya, letakkan saja barang-baramu."

"Terima kasih," Jongin meletakkan tasnya di sofa ruang keluarga dan mengikuti Suho yang sudah ada di dapur, mengenakan celemek rilakkuma dan mengupasi lobak.

"Hyung, perlu ku bantu tidak?"

Suho tersenyum dan menggeleng, sejauh ini, Suho berpandangan kalau Jongin adalah pria yang lucu dan menyenangkan. Dia sering membuatnya tertawa sambil melontarkan cerita-cerita menarik.

"Tidak ah, kau kan tamu. Duduk saja kalau mau mengobrol sementara aku memasak makan malam. Kau belum makan kan?"

Jongin menggeleng "Hehe, terima kasih hyung. Kau baik sekali ya, bisa betah dengan Kris hyung?"

"Huh?"

"Yaah.. Kris hyung kan orangnya menyebalkan. Datar juga orangnya, pintar sih pintar tapi cuek banget. Kan Jongin orangnya cerewet hyung, kalau ngobrol sama dia pasti Jongin dicuekin."

Suho tertawa sembari memasukkan potongan kol dan sawi ke atas panci yang sudah diisi air.

"Benarkah?"

Jongin mengangguk, dia yang ikut membantu Suho dengan memotong bawang mendadak mengeraskan ketukan pisau dengan talenan yang dia pakai.

"Tidak, Kris selama ini baik. Dia romantis kok, menyebalkan kadang-kadang sih, tapi sejauh ini dia sangat perhatian padaku."

Namja yang saat ini berhenti memotong bawang itu menoleh menatap Suho yang mengaduk sup, entah mengapa dia melihat guratan merah di kedua pipi tembam kekasih kakaknya tersebut.

"Benarkah? Memang di rumah Kris hyung orang yang seperti apa? Awas saja kalau dia menyebalkan hanya padaku!"

"Err… seperti apa ya?" Suho berfikir sejenak sembari mengambil bawang dari tangan Jongin dan menumisnya di penggorengan "Kris ya seperti Kris saja. Mesum sih kadang, tapi dia baik. Perhatian."

Jongin tertawa kecil, baralih dari bawang ke arah wortel, membantu memotongnya menjadi bentuk dadu.

"Hyung… aku boleh bertanya sesuatu tidak?"

Entah kenapa Suho malah mengerutkan dari, mendengar suara Jongin yang memelan.

"Apa?"

"Err… Joonmyun hyung dan Kris hyung sudah pernah melakukan… errr… 'itu' belum?"

Dan memang Suho saja yang terlalu polos untuk mengerti, dia malah memasang wajah bingung "Apa?"

"Hubungan… em.. yaah… begaimana bilangnya ya?" Jongin tampak menggaruk tengkuknya lagi.

Sementara Suho masih menanti ucapan Jongin dengan wajah bingung.

"Mm… bercinta? Yah itu, semacam itu maksudku!"

Mendadak wajah putih yang tadi pucat itu tampak memerah. Dikarenakan suhu panas dari nyala api kompor dan malu yang membuat darah berkumpul di sekitar pipi bahkan merambat hingga telinga mungilnya.

"K… kenapa kau bertanya begitu?"

Jongin terkekeh kecil mendapati Suho yang mendadak canggung, "Tidak apa-apa kok hyung, aku hanya ingin tahu. Penasaran bisa dibilang."

Akhirnya, demi menjawab pertanyaan aneh adik sepupu Kris ini, Suho mengangguk samar.

"Astaga! Sungguh?"

Kepala itu bergerak lagi, mengangguk.

"Berapa kali?"

Dan perbincangan seperti ini membuat Jongin semakin bersemangat untuk bertanya lagi. Menggoda Suho rupanya seru juga.

"Em.. er… ti..tidak tahu, aku tidak pernah menghitungnya."

Dan jawaban itu membuat Jongin menganga lebar. Kalau Suho sampai tidak tahu dan tidak menghitung, itu pasti sudah sering.

"Astaga hyung! Sudah berapa lama kalian pacaran?"

Suho bingung, kenapa arah pembicaraannya jadi samapai ke sini sih?

"Mungkin… em… 2 tahun, lebih. Yah, begitulah."

"Pantas saja!"

Jemari lentik itu memasukkan daging ke dalam penggorengan dan membiarkan Jongin dengan pikirannya sendiri.

"Hyung hyung!"

Suho menoleh, sembari menuangkan ayam asam manis di atas piring saji, Jongin kembali berbisik lagi, membuat Suho was-was dengan apa yang akan ditanyakan bocah berkulit tan ini.

"Rasanya seperti apa sih?"

Dan ini yang membuat Suho sukses memerah seperti lampu merah perempatan jalan. Begaimana dia memberi tahu bocah ini tentang rasanya? Dasar gila!

"YA! Kau sedang apa disini?"

Suara bass muncul membuat Suho dan Jongin mengalihkan pandangannya, melihat seorang berjas abu-abu yang tersampir di tangannya itu berdiri tak jauh dari mereka. Jongin menarik kursi, berlari menghambur memeluk tubuh tinggi kakaknya.

"Bocah! Kau sedang apa disini?"

"Hehe, aku kangen padamu hyung!"

Kris mengerutkan kening "Tapi aku tidak! astaga, kalau kau mau datang, kau harusnya bilang padaku dulu, Suho pasti terkejut."

Suho tersenyum, masih dengan wajah memerah yang belum hilang dari pipinya.

"Aku menginap sehari ini hyung, besok aku pulang ke Cheondamdong!"

Kris menaikkan telinga "Dasar! Kau jangan merepotkanku. Awas ya! Lagipula kenapa kau kesini? Kuliah sudah beres? Kapan kau mau menyelesaikan tugasmu kalau kau main-main terus di Seoul?"

"Hyung!" Jongin merajuk kesal pada kakaknya "Aku kesini bukan bermain, aku juga menyelesaikan tugas…"

Kris melonggarkan dasi, menyampirkan jas.

"…sambil bermain," Jongin tertawa tanpa rasa bersalah membuat Kris menghela nafas dan tersenyum kecil melihat Suho di depannya. Masih dengan celemek dan sendok kayu di tangan kirinya.

"Sepupumu lucu."

Kris mendecak, "Dia hanya bocah nakal yang suka merepotkan kakaknya. Omong-omong, kau pulang lebih awal?"

Suho mengangguk, tersenyum "Selamat datang. Kau pasti lelah."

Seolah tak peduli dengan adik sepupunya yang mematung di kursi meja makan, namja tinggi yang baru pulang kerja itu menarik pinggang kekasihnya mendekat, mendaratkan ciuman di bibir kekasihnya cukup lama membuat Suho yang sedikit canggung itu menggeliat, takut menimbulkan desahan. Hingga saat Kris melumatnya sebentar, Suho memukul lengannya, memaksa tautan itu terputus dan berakhir dengan Suho yang makin merasa malu saat Kris berbisik di telinganya.

"Saranghae."

Suho tak menjawab dan hanya menunduk dengan pipi semburat warna crimson. Kris berjalan melewati Jongin, menepuk kepalanya dan mengundang protes dari adiknya tersebut sebelum berlalu ke kamar untuk berganti baju.

"Kini aku tahu kenapa kau tidak pernah menghitungnya hyung! Pasti sudah sangat sering."

.

.

Suho tersenyum kecil dan melepas celemekknya. Menata semua hidangan di meja dan mulai membuat minuman.

"Kau mau minum apa?" tanya Suho menawarkan.

"Susu!"

Jongin memang suka minum susu, selain karena dia punya ambisi untuk menyaingi tubuh tinggi mejulang kakaknya, Kyungsoo juga sering menggodanya kalau minum susu bisa jadi lebih keren. Aneh sih, tapi Jongin percaya saja. Toh minum susu rasanya enak. Dia jadi tidak cepat terlihat tua.

"Kris hyung selalu pulang jam segini ya?"

Suho meletakkan segelas susu di depan Jongin dan mengambil duduk "Tidak juga, hari ini dia ada meeting jadinya pulang agak larut. Akhir-akhir ini dia sibuk."

"Ooh… em hyung, kenapa bisa pacaran dengan kakakku?"

Untuk pertanyaan yang ini, Suho tidak terlalu canggung untuk menjawab "Entahlah, aku tidak tahu alasannya. Kalau suka, maka ya sudah suka, begitu. Aku hanya merasa cocok dengannya, Kris membantuku banyak hal dan menjagaku dengan baik. Apalagi semenjak orang tuaku meninggal, Kris menjadi semakin perhatian."

Jongin mengangguk kecil sembari melihat ke arah meja makan, ada spaghetti saus daging dan keju, sup dan ayam asam manis, disertai anggur dan beberapa bulir stroberi di dalam mangkuk kaca.

"Kalau Yifan sendiri, menurutmu dia seperti apa?"

Giliran Suho yang pertanya, Jongin menjawabnya dengan tangan menyangga pipinya.

"Hyung orangnya menyebalkan, tapi perhatian. Dia sangat sayang pada Tuan dan Nyonya Wu dan keluarga besarnya, sampai dia sudah menganggapku seperti adik dan membantuku sebagai tutor belajar untuk mendapatkan beasiswa saat kuliah. Kris hyung, ketika aku SMA dia yang selalu mengambil raporku karena orang tuaku bekerja di Jepang. Kadang dia seperti ayah, dan kakak di saat yang bersamaan."

Suho tak bisa menahan senyumnya mendengar cerita Jongin.

"Memangnya dulu dia seperti apa? Hmm… aku tidak terlalu tahu banyak tentang masa lalunya," Suho memaksa Jongin bercerita lebih banyak sembari mendekatkan bangkunya. Takut naga itu keluar dan memergoki mereka berdua sedang membicarakan dirinya.

"Hmm kalau dulunya sih, Kris hyung anaknya cool. Agak nakal sih, pernah juga dia di skors seminggu penuh gara-gara berantem dengan geng sekolah lain. Tuan Wu sampai marah-marah. Kadang dia selalu bersikap sok jagoan waktu SMA, dia tidak pernah punya pacar, tapi disukai banyak orang, saat valentine maka aku yang akan makan semua coklatnya, hehe. Tapi dia jadi pendiam sejak Tuan Wu mulai ketahuan punya penyakit jantung. Karena Kris hyung jadi anak satu-satunya, waktu kuliah dia belajar ilmu manajemen bisnis dan jadinya melanjutkan perusahaan keluarga deh."

Suho terkikik saat Jongin menceritakan masa lalu kekasihnya tersebut, banyak yang dia tidak tahu, dan ingin dia ketahui lebih banyak lagi. Namun semuanya batal saat namja itu keluar dari kamar, menuju dapur dan mengambil duduk.

"Dosamu bertambah banyak kalau kau terus menyebarkan aib kakakmu sendiri Jongin! Kau cerita macam-macam pada Joonmyun ya?"

Suho tertawa dan Jongin mengerucutkan bibirnya "Apasih hyung! Aku tidak menceritakan aibmu, hyung sendiri yang suka mengumbar aib diri sendiri."

Mata elang itu melotot tajam mengintimidasi bocah berambut hitam itu. Membuat Jongin beralih menatap kekasih kakaknya, melancarkan puppy eyes yang bisa membuat Suho tersenyum dan menyuruh Kris berhenti mengusili Jongin.

Kris melongo, bahkan saat makan melihat kedua orang di depannya ini bercanda membuatnya heran. Dasar setan kecil kurang ajar. Tidak cukup dia merecoki rumahnya bahkan juga merebut perhatian kekasihnya tersebut.

Perlahan makan ayam tidak lagi menarik bagi Kris. pandangannya hanya tertuju pada Jongin yang terlihat memang sedang berusaha menggodanya dengan terus mengaja Suho bercerita dan bercanda. Hingga tertawa-tawa, kekasih mungilnya itu juga tak sadar kalau Kris menatapnya dengan tatapan membunuh.

"YA! Kenapa kalian malah asik sendiri sih?"

Kris menyemprot kedua manusia di depannya dengan kesal dan Jongin hanya terkekeh ringan.

"Hyung jangan cemburu dong!"

Bocah kurang ajar, kenapa juga Kyungsoo mau dengan bocah ingusan yang hobi menjahili orang ini.

Dan makan malam itu diisi dengan gerutuan Kris dan pertengkaran kecil dua kakak beradik itu, membuat Suho kebingungan. Pada siapa dia harus memihak.

.

.

"Kau tidur disini tidak masalah kan?" Kris membuka sebuah kamar di dekat kamar tidur utama, kamar yang berukuran sedang dengan dominasi warna krem dan coklat. Tidak sebesar kamar Kris dan Suho, namun cukup luas.

Jongin mengangguk, sembari meletakkan tasnya, bocah itu tersenyum senang dan membungkuk berterima kasih.

"Aku hanya akan bermalam hari ini kok," ujarnya.

"Ya ya, cepatlah pulang dan jangan mampir-mampir lagi disini!" Kris mendengus sebal sementara Suho menyikut perut kekasihnya dengan keras.

"Tidak apa Jongin, kau bisa kembali lain kali. Istirahatlah, besok kau pulang, pastikan kau tidak lelah," Suho tersenyum dan membiarkan Jongin beristirahat.

Namja itu menutup pintu, detik berikutnya terdegar suara tubuh yang ambruk di atas kasur. Sudah dipastikan Jongin terlelap disana.

Kini menyisahkan Suho yang membersihkan dapur dan bekas makan malam mereka dan Kris yang berlalu menuju kamar.

Sekitar 20 menit kemudian Suho mengelap tangannya, memutuskan kembali ke kamar dan menengok keadaan Kris. Dia tahu kekasihnya itu kesal karena dia lebih memperhatikan adik sepupunya, membuat Suho sedikit merasa bersalah dan merasa geli sendiri karena lagi-lagi pacarnya itu bersifat kekanakan karena hal yang tidak penting.

"Kris?"

Bruak!

Tubuh mungilnya tertarik mengundang pekikan terkejut, saat ditahannya tubuh ringan Suho hingga terlentang di ranjang, namja itu membulatkan matanya bahkan tak bisa sekedar berkata apa-apa, bibirnya terbungkam dengan bibir tebal kekasihnya tersebut. Dia tak bisa melakukan apapun, Kris terus mendesaknya, melumat kasar bibirnya hingga menimbulkan bunyi kecipakan saliva. Suho melenguh, tak tahan, menggeliat kecil, menutup matanya, menyampirkan lengannya di leher Kris dan tak meminta untuk berhenti.

Baru saat gerakan itu melemah, Suho membukan mata, melihat tubuh kekasihnya yang berantakan dengan perlahan bibir mereka berdua terlepas, menyisahkan deru nafas tak beraturan.

"Kau… kenapa?"

Kris menggeleng, membantu Suho duduk di atas ranjang sementara Kris berdiri dengan bibirnya yang membengkak di dapan tubuh kekasihnya. Menginjakan kakinya yang jenjang di atas ubin.

"Aku hanya tak tahan denganmu."

Suho memerah lagi, "Huh?"

"Kau tahu kan, aku tidak bisa menyentuhmu di depan Jongin. Dia masih kecil!"

Seketika pria bertubuh mungil itu paham, "Tapi kau menciumku saat pulang tadi!"

"Hanya kecupan," Kris mengelak, meletakkan kedua tangannya di pinggang.

Suho mengerutkan dahi, menggoda "Kau melumatnya tadi!" mulut kecilnya yang cerewet itu protes tidak terima. Siapa juga yang sudah membuat bibirnya bengkak sejak tadi kalau bukan Kris yang susah menahan diri.

"Iya iya, aku tahu aku kelepasan."

Dan semburat merah di pipi tirus Kris membuat Suho tertawa ringan. Suho paling tahu apa kelemahan Kris, dan apa yang membuatnya susah menahan diri. Pacaran selama lebih dari 2 tahun ini membuatnyan tahu dan paham, apa yang paling bisa membuat Kris merasa tergoda.

Baru saat Suho hendak bertanya apakah Kris cemburu padanya atau tidak, tubuh mungilnya itu sudah didempet duluan. Diciumnya lagi bibirnya yang merah dan bengkak, tak peduli tatapan terkejut Suho, telapak tangan Kris yang lebar malah dengan santainya menyusup ke balik kaus merah muda kekasihnya, meraba pinggang, dan mendesak bibirnya lagi, menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri, menyusupkan lidah, menggigit, dan melumatnya tidak sabaran, diselingi hisapan kuat membuat Suho kuwalahan membalasnya. Sepertinya dia tidak salah menyebut Kris mesum seperti yang dia ceritakan pada Jongin.

"Ungh.. mph.."

Suho tak bisa mengontrolnya lagi, desahan keluar dari bibirnya, halus, dan ringan. Kris mendengarnya samar dan tak sengaja tertangkap telinganya. Tubuh ringan Suho menggeliat, menahan tubuh tinggi besar Kris yang bergesekan dengannya. Tak peduli bagaimanapun, Suho paling mudah menyerah saat Kris menyeretnya agar make out. Membuatnya semakin tak berdaya lebih-lebih saat Kris membelai tulang pipinya, meminta akses lebih lebar.

"Mmphh… engh…"

Lidah panjang Kris keluar dari mulut Suho yang terbuka, dengan erangan nafas memburu dan desahan yang masih tertinggal. Kris menghapus sisa liur yang tersebar, membelai bibir Suho yang membengkak akibat ulahnya menggunakan ibu jari dan mengakhirnya dengan kecupan lembut.

"Ke…kenapa denganmu?"

Mungkin Suho heran karena Kris tiba-tiba menciumnya seliar tadi. Dia meraba rambut Kris dan menempelkan dahi keduanya.

"Aku… kesal."

"Apanya?"

Kris memejamkan mata dan menikmati belaian lembut jemari kekasihnya pada pipi dan pelipisnya.

"Kau begitu memperhatikan Jongin padahal aku sedang stress di kantor."

Alasan itu membuat Suho tersenyum dan akhirnya tertawa kecil, sebelum akhirnya dia memberikan kecupan-kecupan ringan di bibir Kris.

"Berhentilah… menjadi… pencemburu..."

"Aku tidak cemburu!"

Suho mencubit pinggang Kris keras hingga lelaki tinggi itu mengaduh, "Bohong!" semburnya hingga Kris akhirnya terpaksa menyerah sebelum dia mendapat cubitan lain yang membuat kulitnya memerah.

"Kris…"

"Apa?"

Namja tinggi itu terlentang di atas kasur sementara Suho menjatuhkan diri di atasnya, menempelkan kepalanya pada dada bidang Kris dan membuat tubuh mereka berdua menempel, dengan lengan Kris yang berotot melingkari pinggang Suho.

"Tapi Jongin bertanya padaku…"

"Memang apa yang dia tanyakan?"

Suho mendesis kecil, sebelum dia melanjutkan ucapannya dengan menyembunyikan wajah manisnya pada perpotongan leher jenjang Kris.

"Sudah berapa kali aku bercinta denganmu."

Dan kali ini, mata tajam Kris membulat cepat.

"Huh? Lalu apa jawabanmu?"

"Aku…aku tidak pernah menghitungnya! La..lagipula, pertanyaan aneh seperti itu mana mungkin aku bisa menjawabnya dengan benar!"

Kris merasakan suara Suho bergetar di lehernya membuatnya terkekeh.

"Aku juga tidak tahu, kita melakukannya terlalu sering sih."

Dan bisa dipastikan wajah Suho memerah sekarang.

"Kau yang memaksaku!" omel lelaki mungil itu dengan kesal.

Namja bermarga Wu itu mencibir, "Kau yang menggodaku. Dan siapa juga yang meminta lagi akhirnya?"

Bingo!

Suho diam tak bisa menimpali ucapan kekasihnya lagi.

Sampai akhirnya Kris bangun dari tidurnya, dengan tetap membawa Suho di pelukan. Dia mengusap rambut lembut Suho sebelum namja mungil itu sadar apa yang kekasihnya ini lakukan.

"Kris?"

Kancing bajunya perlahan terbuka, menampilkan perutnya yang putih, namja itu semakin kaget karena kancing celana dan resletingnya juga dibuka.

"Apa yang kau lakukan?! YA!"

Kris mendecak, lalu melucuti pakaian Suho sebelum menatapnya dengan tatapan tajam, mesum seperti biasa.

"Menurutmu?"

"Make love?" suho bertanya takut-takut.

Suara kekehan muncul, Kris berdiri, membuka lemari dan mengambil sepasang piama tidur. Memakaikannya di tubuh mungil Suho dengan hati-hati.

"Sekarang siapa yang mengajakku bercinta?"

Suho memerah, dia membiarkan Kris memakaikan baju dan celana piama bermotif domba itu. Tak berkomentar, karena dia tahu percuma saja beradu debat dengan kekasihnya.

"Tidak, aku tidak akan bercinta denganmu malam ini, jangan menggodaku oke?"

"Kenapa tidak?" bodohnya lelaki mungil itu malah bertanya begitu.

Kris mendekat, menarik Suho ke dalam pelukan setelah mematikan lampu. Keduanya jatuh di atas ranjang dan Suho masih penasaran dengan jawabannya. Keduanya berbagi ciuman dan lumatan di bibir lembut mereka, cukup lama dan masih sekasar tadi, membuat suara kecipakan itu terdengar, desahan lembut dan decakan.

"Mph… Krish…"

"Ssstt…."

Suho menatapnya penuh pertanyaan, saat Kris menggigit lembut bibir bawahnya, menyuruhnya diam.

Beberapa saat setelah keheningan di antara keduanya, sebuah jawaban yang Kris berikan di telinga Suho membuat pipi bakpao itu memerah. Mengetahui jawaban Kris yang membuatnya merasa malu. keduanya berhenti mengecap bibir pasangannya dan berganti dengan Suho bergelung manja di tubuh atletis Kris. Berbisik sebaris kalimat sayang dan selamat tidur sebelum terlelap.

.

"Karena aku tidak mau membagi suara desahanmu dengan Jongin malam ini."

.

.

.

Thursday,

END

.

.

Huff. Hey, I'm back with my Thursday. Ahaha, Rae seneng banget karena akhirnya bisa dapat ide setelah liat posternya Jongin di kamar temennya Rae. Well, terima kasih ide-idenya dan semangatnya. Serta doa-doanya juga. Banyak yang bilang 'Astaga Joonie manja banget di Wednesday kemarin', wkwk, emang sengaja sih, Rae suka Suho yang imut-imut manja gitu soalnya mukanya unyu. Nah, kan Kris mukanya kayak om-om mesum, jadinya Rae suka sekali perpaduan antara 2 orang ini /

Oh ya, entah kebetulan atau tidak, banyak yang menyadari kalau Rae suka menonjolkan adegan kissing keduanya. Hehe, itu karena Rae enggak bisa bikin nc, atau yang rate m semacam itu, Rae suka adegan kissing yang manis tapi mesum-mesum gimana gitu /ADUHKETAHUANMESUMDEH/ karena Rae masih nyandang title 'AUTHOR DIBAWAH UMUR' hehe, belum usia 17 tahun tapi bikin rate m kan agak gimana gitu /TAPIPENGEN/ jadinya cuma bisa dapet kissingnya aja, lagian bikin adegan gituan udah gemeter sendiri /DUAR/.

Untuk Friday, tunggu ya! mungkin enggak akan lama-lama, kalau kalian masih menyempatkan memberikan saran dan komentarnya. Terima kasih banyak dari hati mendalam.

SEE YA!

.

.

#RAEBELUM17TAHUN

#RAEUDAHSEMBUH

#SAYANGKALIAN

#SAYANGKRISHO

.

.

BABAY!

SUNGRAEYOO ^^V

/DEEPBOW/