Kuroko no Basuke/黒子のバスケ Fanfiction
"AkaKuro!Drabble"
Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi
Warning : Contained MPD/Violent/Twins!AkaKuro/Seirin!Akashi
A/N : Hai guys, tumben kali ini author bisa cepet apdet XD #lemparAuthor
Chap kali ini merupakan Req dari Alenta93, yang merupakan sekuel dari Drabble!30. Maap Nacchan-srasa lama banget baru bisa dibuat ceritanya TwT
Buat chap depan, ch.34 bakal jadi chap request dari Hotori Nana. 2 chap lagi sebelum Drabble ini tamat, semoga cerita ini bisa selesai sebelum akhir bulan ya :D Makasih buat semua yang udah ngikutin, fave, follow bahkan yang udah menyempatkan diri buat ngasih review XD
Happy Reading, all..
With Love,
Zelvaren Yuvrezla a.k.a ren-chanz
Drabble 33 - Other Half
Ini adalah sebuah janji,
Janji yang kuikatkan padanya. Sebuah benang merah terhubung antara diriku dan dirinya.
Tidak sebagai kembar, tetapi sosok lain yang kupercayai adalah diriku yang lain.
Diriku, yang akan melindungi kami berdua. Diriku, yang juga akan melindungi Tetsuya.
Diriku, dan dirinya yang akan melindungi kami.
.
.
.
[Seijuurou POV]
Tahun ke 13 ketika kami terlahir, itu adalah pertama kali Tetsuya berjumpa dengan Sei—diriku yang lain. Terkadang, setelah kejadian tragis yang menimpa keluarga kami pada saat itu, aku sering mendengar sebuah suara.
13 April pada umur ke-13 kami. Aku dan Tetsuya melihatnya. Sosok ibu kami yang terbunuh didepan mata kami berdua. Pelaku pembunuhan itu mengincar harta keluarga kami. Bisa dibilang pembunuh itu begitu lihai sehingga dapat luput dari pengawasan penjaga. Tetapi—berkat pemberontakan Ibu kami, Aku dan Tetsuya selamat, meskipun nyawanya yang menjadi bayaran. Beberapa penjaga tepat datang ketika pembunuh itu berhasil membunuh ibu kami.
Tetsuya, yang saat itu mengalami depresi mulai mengalami gejala amnesia. Ia tidak mengingat kejadian apapun yang berhubungan dengan hari itu—bahkan semua kejadian tentang Ibu kami. Ayah memalsukan kematian Ibu juga didepan Tetsuya agar trauma yang diderita olehnya tidak mencuat keluar. Ia bahkan meminta media massa untuk tidak menyebarkan berita ini demi Tetsuya. Bahkan memerintahkan seluruh pelayan keluarga beserta keluarga maupun tetangga untuk tutup mulut mengenai keberadaan Ibu kami.
Hal yang Tetsuya ketahui hanyalah satu, Ibu kami meninggal ketika kami berdua masih kecil, dan itu adalah sebuah kebohongan besar. Ayah bahkan membakar seluruh foto Ibu demi mempertahankan Tetsuya. Tetapi aku yang mengingat semua itu—harus kemanakah aku membuangnya?
Alasan kuat mengapa aku menciptakan Sei adalah satu. Menjaga kewarasanku agar aku tidak menjadi gila. Anak berumur 13 tahun yang melihat kematian Ibunya didepan mata mereka sendiri. Demi Tetsuya, aku menciptakannya. Aku menciptakan diriku yang lain—Sei. Sosok yang akan menjaga diriku, dan juga menjaga adik yang akan kujaga baik-baik seumur hidupku.
Sei berbeda denganku. Tetsuya bahkan dapat menyadari ketika ia pertama kali berjumpa dengannya. Dimulai dari postur tubuh, nada, suara, intonasi bahkan kondisi fisik. Entah mengapa ketika Sei muncul, mata kiriku akan berubah warna. Itulah hal yang paling fatal untuk diketahui Tetsuya.
Awalnya, kupikir aku dapat mempercayainya. Sei, satu-satunya pegangan yang kupercayai. Tetapi dugaanku salah. Ia tidak sebaik yang kukira. 2 tahun setelah kemunculannya, pada saat umur kami ganjil 15 tahun, aku terbangun dengan kesadaran yang terpaksa. Melihat Tetsuya menangis dengan kondisi setengah berbusana. Tanganku memegang kedua lengannya, tepat diatasnya. Aku tercekat, baru menyadari apa yang baru saja Sei hendak lakukan pada adik kembarku.
Mulai dari sanalah, aku mulai berhenti mempercayainya. Aku mulai berhenti berbicara dengannya. Aku mulai berhenti untuk bergantung padanya.
Aku mulai berhenti—menganggap eksistensinya ada.
.
.
.
Multiple Personality Disorder, Split Personality, Alter Ego—atau apapun mereka semua menyebutnya. Banyak opini yang tersebar, berbagai alasan sebagai penyebab utama penderita Mental disorder ini; Hypnotized, Traumatic, Abused, Pressure, dan hal lainnya.
Awalnya aku tidak menyadarinya. Terkadang kesadaranku hilang, dan hal kusadari ketika aku terbangun hanya satu. Aku tidak berada ditempat yang sama, mengerjakan hal yang sama seperti sebelum aku hilang kesadaran. 1 tahun , 1 tahun setelah Tetsuya mengenal Sei, akhirnya aku mengerti. Tanpa sengaja aku telah menciptakan dirinya, diriku yang lain. Cukup lama waktu yang kuperlukan sampai akhirnya aku benar-benar mengerti bahwa terdapat sosok lain didalam tubuhku.
Sebuah tempat pelarian diriku agar aku dapat menjaga kewarasanku. Agar aku dapat bertahan dari semua tekanan dan kegelapan yang menyelimutiku. Sei tercipta karena aku menginginkannya. Bahkan perasaan yang kubuang jauh-jauh dari pemikiranku ikut terserta dalam pribadi miliknya. Sosok yang mencintai Tetsuya—tidak sebagai bentuk cinta Agape, melainkan bentuk cinta Eros. Menginginkannya bukan sebagai sosok adik, melainkan hubungan yang melebihi ikatan saudara.
oOo oOo oOo
Tetsuya bertingkah aneh akhir-akhir ini. Ia enggan mengatakannya secara langsung, tetapi sorot matanya berkata banyak padaku. Aku tahu sesuatu pasti menggangu pikiran Tetsuya, dan hal yang membuatku kesal adalah bagaimana dia terus merahasiakannya dariku. Ketika ia menyembunyikan satu hal, ia tidak akan menatap mataku. Itu adalah kebiasaan yang bahkan tidak ia sadari.
"Tetsuya, Bagaimana bila akhiri ini semua?" Mataku memandang lekat pantulan Aqua miliknya, ia memiringkan kepalanya, tampak tidak mengerti—atau pura-pura tidak mengerti apa yang hendak aku bicarakan padanya.
"Apa maksudmu, Seijuurou-kun?" tanyanya dengan polos.
"Aku tahu, Tetsuya. Akhir-akhir ini kau menyembunyikan sesuatu dariku 'kan? Apa yang kau sembunyikan, Tetsuya?" Saat ini kami berada dibelakang pekarangan sekolah, tempat yang cukup sepi untuk dikunjungi oleh murid-murid lainnya.
Tetsuya memalingkan wajahnya, ia mulai mengigit bibir bagian bawahnya. Hal yang selalu ia lakukan ketika ia mulai panik. "Aku tidak mengerti apa maksudmu, Seijuurou-kun. Tidak ada hal yang ku sembunyikan darimu."
BRAKK
Aku memukul tembok disebelahnya, cukup keras sehingga membuat ia terkejut akan tindakanku yang tiba-tiba itu. "Tetsuya, kau berbohong padaku."
Tetsuya menunduk sejenak, ia mengepalkan kedua tangannya erat-erat. "Seijuurou-kun, bisakah kau menghentikan semua ini?" Suaranya agak bergetar, diam-diam iris Aqua itu kembali memandangku. Dan aku terdiam, baru kali ini Tetsuya menatapku dengan pandangan yang seperti ini.
"Tidak semua yang menjadi urusanku adalah urusanmu juga, Seijuurou-kun! Aku bisa mengatasi masalahku sendiri tanpa ikut campur darimu, dan hentikanlah sifat possesif-mu itu, aku lelah! Aku bisa menjaga diriku sendiri!" Setelah itu Tetsuya pergi berlari, meninggalkanku seorang diri mematung ditempat itu.
16 tahun kami bersama, dan baru kali ini aku melihatnya seperti ini.
…Aku sudah membuatnya marah? Tapi apa aku salah bila aku mengkhawatirkannya? Apa aku salah ingin menjaga satu-satunya keluargaku yang berharga? Apa aku—salah?
.
.
.
Setelah cukup lama berdiam diri ditempat itu, aku memutuskan untuk pergi ke Gym. Kurasa Coach akan memarahiku ketika aku sampai disana. Apa boleh buat, hampir 30 menit aku telat untuk melakukan pemanasan. Tetapi aku tidak peduli, aku mulai melangkah menuju Gymnasium. Aku sudah menyiapkan mentalku bila Tetsuya tidak mau berbicara denganku kelak ketika kami bermain basket.
Tetapi, hal yang membuatku terkejut adalah keberadaan Tetsuya yang tidak ada dalam lapangan tersebut.
"Akashi-san? Apa kau melihat Akashi-kun, tampaknya ia belum datang, padahal aku sudah memastikan dengan mengabsenya berulang kali." Aida Riko—Coach tim Seirin mendekatiku. Entah mengapa hal pertama yang ia sampaikan bukanlah memarahiku karena keterlambatanku masuk ke club, tetapi tentang Tetsuya.
"Coach, seharusnya Tetsuya sudah datang kemari 30 menit lalu." Aku terdiam, mendadak perasaan tidak nyaman menjulur dalam perasaanku. Tanpa aba-aba, kakiku berlari, meninggalkan Coach yang memanggilku dari belakang sana.
Seijuurou-kun! Seijuurou-kun!
Panggilan itu yang membawaku terus berlari, aku tidak tahu kemana langkah kaki ini membawaku. Tetapi yang kutahu bahwa badanku bergerak sendiri mengikuti sumber suara tersebut.
Kakiku terhenti ketika aku tiba di gedung lama yang sudah tidak dipakai lagi. Bangunan tua yang dikabarkan akan dirubuhkan untuk direnovasi ulang. Kepala sekolah telah memberitakan peraturan untuk menjauhi gedung itu, karena kondisi gedung yang agak membahayakan.
Tanpa sadar aku terus melangkah, menghiraukan peringatan yang kuingat tentang gedung lama ini. Lalu, tidak jauh dari sana, aku melihatnya. Tetsuya berada ditengah gedung tersebut. Ia menduduki kursi yang entah berasal dari mana, dengan mulut dan tangan yang terikat.
Tetsuya tampak menyadari kehadiranku, ia mulai berteriak, tetapi aku tidak mengerti apa yang dikatakannya karena mulutnya tertutup oleh sebuah kain.
"Mhnggghhh! Mhhhnggghh!" Tetsuya mulai memberontak ketika ia melihatku berlari kearahnya. Namun aku menyadari ada suatu hal yang tidak beres dengannya. Ia memandangku dengan tatapan yang ketakutan, seolah sesuatu akan menimpaku.
Cepat-cepat aku menengok kebelakang ketika aku menemukan 2 orang hendak memukulku. Beruntunglah badanku dengan reflek menghindari serangan itu. Aku terpaku sejenak, memandang 2 orang yang menyerangku ternyata adalah salah satu murid dari sekolah ini. Tetapi mengapa mereka mengincar Tetsuya? Mengapa mereka hendak memukulku?
Terlebih lagi, salah satu diantara mereka membawa sebuah puing kayu—yang kuyakini berasal dari bangunan tua ini.
Aku menghela nafas panjang, memandang mereka dengan tatapan yang tajam. "Apa maksud kalian memperlakukan Tetsuya seperti itu?"
"Ck.. diam kau! Kau yang selalu menjadi bintang Seirin tidak tahu apa-apa!"
Aku mengerutkan dahiku, mulai mengerti apa yang mereka maksud. "Huh.. Karena iri kalian lalu berbuat hal seperti ini? Daripada membuat hal konyol seperti ini, bagaimana bila kalian membuat diri kalian lebih berguna?"
Tampaknya perkataanku telah menyulut emosi keduanya. Kedua orang itu menerjangku dengan membabi buta, tetapi dengan mudah aku dapat menghindarinya. Tidak percuma Ayah menyuruhku untuk mempelajari ilmu bela diri.
Dengan mudah aku dapat menghindari bahkan menjatuhkan mereka berdua. Namun, hal yang tidak kusangka terjadi. Seseorang bersiul seolah menyita perhatianku, aku melihat kebelakang, dimana salah seorang—sepertinya rekan mereka 1 lagi tengah menyodorkan sebuah pisau tepat dileher Tetsuya.
"Hmnnghhh!" Tetsuya memberontak, tetapi sosok itu tidak segan untuk menyakiti Tetsuya. Ia makin mendekatkan pisau itu sehingga darah mengalir dari permukaan kulit Tetsuya.
"Hentikan!" Aku berteriak dari jauh, memandang murid itu dengan amarah yang terpendam. "Kalau kau berani menyakiti Tetsuya lagi—"
"Apa? Kau akan membunuhku? Khuhuhuhu!" Tawa histeris itu mulai terdengar, setelah ia berhenti, ia kembali melihatku. "Tuan muda, kuperingatkan kau agar tidak gegabah atau adikmu yang manis iniiii.." Ia sedikit melonggarkan pisaunya, lalu membuat sebuah gerakan horizontal dengan pisaunya tepat didepan leher Tetsuya, namun tidak mengenainya. Sebuah ancaman agar aku tidak bertindak macam-macam bila Tetsuya ingin selamat.
Aku terdiam ditempat menutup mataku. Hingga kurasakan sebuah hantaman kayu mengenai kepalaku. Cukup keras hingga membuatku terjatuh dengan darah yang mengalir.
"Hmnhghhhhhhh!" Kulihat mata Tetsuya mulai berkaca-kaca. Oh tidak, jangan menangis saat ini, Tetsuya.
Kedua orang yang tadi kukalahkan dengan mudah kini mendekatiku, mulai memukul dan menendang badanku dengan kasar. Aku meringis kesakitan, bukan hanya kepala, bahkan seluruh tubuhku kini terasa sakit. Apa aku akan meninggal disini? Tidak bisakah aku menolong Tetsuya?
Pandanganku semakin kabur, dan aku dapat melihat dengan jelas Tetsuya menangis sambil memberontak dari tempat ia berdiam.
Seijuurou, selemah itukah dirimu?
Siapa?
Selemah itukah harapanmu untuk menolong Tetsuya? Kau menyanyanginya, bukan?
Ya, aku menyanyangi adikku, bahkan melebihi nyawaku.
Kalau begitu mengapa kau berdiam disini, tidak berbuat apapun, sedangkan adikmu berada disana menangisi dirimu? Kau tahu, mungkin Tetsuya akan menjadi korban penindasan selanjutnya setelah kau tidak sadarkan diri. Apa kau rela membiarkan mereka menyentuh Tetsuya? Hmm?
Sei—kau kah itu?
Kau tahu siapa diriku, Seijuurou.
Tolong—selamatkan Tetsuya.
Dan setelah itu kesadaranku menghilang. Semua menjadi gelap dan aku tidak dapat mengingat apapun lagi.
.
.
[Normal POV]
Seijuurou tiba-tiba menganyunkan kakinya, membuat kedua orang yang memukulnya terjatuh. Ia segera mengambil puing kayu yang terlempar dekatnya dan melemparkannya pada orang yang berada dekat dengan Tetsuya. Tindakan-nya yang tiba-tiba membuat orang itu tidak berkutik dan terkena hantaman kayu. Seijuurou dengan cepat bangkit berdiri, mengambil pisau yang terlempar dari tangan pemuda yang kini terjatuh kebelakang.
"Kakak-kakak, mau bermain denganku?" Ia tersenyum dengan dingin. Pantulan Heterochrome kini memandang kearahnya dengan tatapan yang merendahkan.
Pemuda itu segera berdiri dan mengambil tongkat kayu yang dilemparkan padanya, berusaha untuk menjadikan Tetsuya tawanan lagi.
"Kak, kau tahu bagaimana rasanya mendapat pisau dimatamu, hmn? Bidikan panahku selalu tepat mengenai sasaran, dan bila kuayunkan sekali pisau ini. Aku yakin kau akan mengalami kebutaan karena aku akan menghancurkan sebelah bola matamu. Mau bertaruh?" ucapnya dengan nada yang dingin, senyum dingin terpancar dari mulutnya.
"Omong kosong!" Dan ketika ia hendak memukul Tetsuya. Pisau itu tanpa segan melayang tepat pada mata kanan-nya. Membuat ia histeris dan berteriak karena rasa sakit yang dideritanya. Ternyata Akashi Seijuurou sungguh-sungguh. Kedua orang yang telah memukulnya habis-habisan hanya bisa mematung dengan ketakutan. Orang yang dihadapannya ini sungguh-sungguh. Bila ia berkata mereka akan mati, mungkin mereka akan benar-benar mati saat itu juga. Menghiraukan rekan-nya yang tertinggal, keduanya langsung melarikan diri.
Seijuurou terkekeh kecil, ia melangkah maju mendekati pemuda yang masih histeris itu.
Tetsuya sendiri masih dalam keadaan shock, masih tidak percaya dengan apa yang baru saja kakak kembarnya lakukan. Ia tahu sorot mata, intonasi dan suara itu memang bukan Seijuurou. Itu Sei.
"Kak~ masih mau bermain denganku?" Seijuurou mulai berjongkok disamping pemuda itu. "Bila kucabut pisau ini, akan bagaimana ya rasanya?"
Pemuda itu makin histeris ketika melihat Seijuurou tersenyum sinis padanya, darah yang mengalir dikepala, bahkan luka memar ditubuhnya seolah dihiraukan oleh pemuda bermanik Heterochrome itu. "Naahh~~ ayo kita cabut." Dan tanpa rasa iba Seijuurou mencabutnya, membuat pemuda itu berteriak sekeras mungkin.
Seijuurou kini menatapnya dengan serius. "Dengarkan perkataanku," Ia kemudian menusukkan pisau itu dilantai kayu, tepat disebelah kepala sang pemuda. "Bila kau berani mengusik kami sekali lagi, aku tidak akan segan-segan menghabisimu."
Setelah mendengar ultimatum dari Seijuurou, pemuda itu pingsan dan tidak sadarkan diri. Seijuurou sendiri mendekat kearah Tetsuya dan melepaskan ikatan yang mengikatnya.
Tetsuya masih menangis. "Jangan menangis, Tetsuya." Tangan Seijuurou memegang pipinya, menghapus air mata yang masih turun.
"S—Sei..Sei-kun.. Seijuurou-kun.. Seijuurou-kun..demi diriku…" Seijuurou langsung memeluknya erat, menenangkan sang adik sambil mengelus punggungnya.
"Hush..tidak apa, sekarang sudah tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja, Tetsuya.. semua akan—" dan setelah itu, Seijuurou roboh.
"Sei!? Sei-kun!?"
.
.
.
[Seijuurou POV]
Aku tidak pernah menyukaimu, Sei. Kau adalah sosok yang kukagumi sekaligus kutakuti.
Aku takut ketika kau mendekati Tetsuya.
Aku takut..kau akan merebutnya dariku. Maka dari itu aku menyudutkan keberadaanmu. Aku menganggapmu tidak pernah ada dalam hidupku. Aku membuangmu.
Tetapi kau masih tetap berdiam dalam hatiku. Kau tetap ada bersamaku. Kau tidak pergi meninggalkanku bahkan ketika aku berusaha keras menghilangkan eksistensimu.
Aku memang tidak memaafkanmu atas apa yang nyaris kau perbuat pada Tetsuya. Tetapi, pada akhirnya kau berhenti sebelum sempat melakukannya. Kadang masih terus terpikir dalam benak pikiranku. Kau bisa saja melakukannya pada Tetsuya, tetapi kau lebih memilih untuk bertukar denganku saat itu. Kau..sebenarnya menjaga hubunganku dengan Tetsuya juga, bukan? Agar Tetsuya tidak takut pada tubuhku.
Hal yang kutakuti sebenarnya bukanlah dirimu, tetapi diriku sendiri.
Keegoisan diriku sendiri.
Maka dari itu, bila kau memaafkanku..Maukah kau sekali lagi melindungi diriku dan Tetsuya….
… Sei?
oOo oOo oOo
"Seijuurou-kun?" Suara itu membangunkanku, suara yang begitu familiar. Aku melihat sebuah kamar, kamar yang berbeda dari kamar yang biasa kutempati. Putih. Aku yakin ini rumah sakit.
Kedua tanganku kini terhubung oleh 2 selang yang berbeda. Sebelah oleh selang infus, dan sebelah lagi oleh selang darah. Kepalaku terlilit oleh perban, begitu pula dengan beberapa bagian dari tubuhku.
"Tetsuya?"
"Oh! Syukurlah kau sudah sadarkan diri!" Tetsuya tiba-tiba memelukku. "Kupikir..kupikir kau akan pergi, Seijuurou-kun. Hampir 3 hari kau tidak sadarkan diri!"
3 hari? Selama itukah?
"Ini.."
"Ini dirumah sakit. Kau kehilangan banyak darah ketika kami berhasil membawamu kerumah sakit," Tetsuya mulai menjauh, kini matanya memandang kearahku. "Maafkan aku, Seijuurou-kun."
Aku menggelengkan kepalaku perlahan. "Aku senang kau selamat," aku melihat kearah tanganku, dimana sebuah perban melekat dengan rapi. "Sei—menyelamatkan kita berdua, bukan?"
"Seijuurou-kun..kau tahu?"
Aku hanya bisa tersenyum kecil. "Aku hanya merasa bahwa ia muncul disaat itu."
"T—Tenang saja! Ia tidak melakukan apapun padaku, Seijuurou-kun.. Sei-kun—"
"Ya, aku tahu, Tetsuya."
"Eh?"
Aku menutup mataku perlahan, tersenyum tipis. "Aku tahu bahwa ia tidak akan menyakiti kita berdua."
Untuk pertama kalinya setelah 1 tahun berlalu, aku dapat melihatnya. Sorot mata Tetsuya yang menatapku dengan tatapan yang lega.
Ah, selama ini aku terus mengkhawatirkan dirimu 'kah, Tetsuya?
Mataku terlalu buta untuk melihat kenyataan dan hatiku terlalu keras untuk menerima kebenaran. Ternyata selama ini Tetsuya terus mengkhawatirkan keadaanku. Ada saat dimana ia terus menatapku dengan tatapan yang tidak dapat kudefinisikan.
"Tetsuya."
"Ya, Seijuurou-kun?"
"Terimakasih."
"Untuk..apa?"
"Untuk semuanya." Senyumku kemudian padanya.
Kau juga, Sei. Terimakasih telah berada disisiku selama ini, menjagaku dan Tetsuya selama ini.
Terimakasih.
~Owari~
