Title : Friday
Cast : Wu Yifan / Kris, Kim Joon Myun / Suho, KrisHo Pair,
Rating : T
Genre : FLUFF (all of this part) and Romance (of course)
.
.
Sixth,
Friday!
.
.
Friday
.
.
Kris pulang dari kantor dan melihat TV menyala di ruang tengah menayangkan program berita malam. Agak heran melihat rumah tampak sepi karena Suho biasanya akan menyambutnya saat dia pulang. Setelah melepaskan sepatu dan melonggarkan dasi, Kris memicingkan mata melihat seorang namja tergeletak dengan mulut sedikit terbuka di atas sofa lembut berwarna putih. Di tangannya tergenggam sebuah remote TV dan cangkir teh di meja kaca yang ada di depannya.
"Astaga," Kris mematikan TV sebelum melepas jas kerjanya. Menyampirkannya di sofa lain dan mengambil duduk tepat di samping Suho yang sama sekali tidak tersadar kalau dia sebenarnya sudah pulang.
"Joonmyun…"
Kris menepuk pipi tembam Suho yang mengundang lenguhan tidak nyaman. Tubuh mungil itu menggeliat.
"Kim Joonmyun, ayo bangun, jangan tidur di sofa."
Suho bergeming, dia menggeliat dan mengeluh dalam tidurnya.
Tak mendapat perhatian membuat Kris menghela nafas, dia membelai kepala Suho dan menyapukan ibu jarinya pada bibir bawah kekasihnya, entah kenapa. Sebelum Kris memutuskan untuk meletakkan kepala Suho pada bahunya, dan membawanya dalam dekapan yang nyaman, memaksa pria bertubuh mungil itu menggeliat, menyamankan posisinya.
Kris tertawa dalam hati melihat wajah tidur Suho yang lucu. Bibir merah setengah terbuka dengan rambut berantakan serta sweater tipis kebesaran di tubuhnya yang pendek. Wajahnya seperti anak kecil yang suka minta gendong sebelum tidur, kadang menggigil sendirian dan merengek pada tidurnya.
"Euh.."
Alis tebal Kris naik mendengar Suho melenguh, tak menyadari kalau dia ada dalam dekapan kekasihnya.
Kris mendekatkan wajah, menggesekkan hidung mereka berdua, menghirup wangi yang kini terasa seperti green tea. Namun melihat wajah mereka yang sangat dekat, Kris tak bisa menahan diri untuk tidak menubrukkan bibirnya pada milik Suho yang lembut seperti es krim. Manis dan membuatnya tidak bisa berhenti.
Suho tidak bangun, meskipun kekasihnya yang jangkung itu masih menciumnya, memberikan lumatan lembut di bibirnya yang merah. Baru saat Suho perlahan membuka mulutnya, dan Kris melesakkan lidahnya masuk, menyentuh apapun yang ada di dalam mulut mungil kekasihnya tersebut.
"Ugh.."
Suho menggeliat dan mengerjapkan matanya yang berat, namun saat dia merasa bibirnya tersentuh sesuatu yang lembut dan ada sesuatu bergerak dalam mulutnya juga wajah Kris yang tiba-tiba terpampang begitu besar, dia reflek mendorong tubuh Kris sambil berteriak kaget.
"YA!"
Kris tersentak, memutus tautan bibirnya tiba-tiba dan memandang Suho yang terkejut bukan main.
"KRIS!"
"Huh?"
Suho memegang kepala dan mengacak rambutnya "BAGAIMANA BISA KAU MEMASUKKAN LIDAHMU PADA MULUT ORANG YANG SEDANG TIDUR?!"
Suho berteriak nyaring layaknya serigala mengundang kawin. Dia tidak tahu Kris ini bodoh atau mesum. Yang jelas mencium seseorang yang sedang tidur itu tidak bisa Suho mengerti.
"Asal kau tahu saja Ho, aku hanya memasukkan lidahku pada mulutmu saja, bukan pada mulut orang yang sedang tidur."
Kini pria pendek itu memerah. Dia menutup permukaan wajah menggunakan kedua telapak tangannya. Malu? itu sudah jelas. Diselingi rasa manis yang masih tertinggal pada bibir dan lidahnya, Suho tak mau menunjukkan wajahnya yang merah membara.
"Lepaskan tanganmu, aku ingin melihatmu."
Kris berdiri mendekati Suho yang mematung dengan wajah tertutup telapak tangan di dekat TV, tawa renyah muncul dari bibir tebal Kris, setelah Kris melepaskan kedua telapak Suho dan menghadap wajah malu-malu kekasihnya, Kris meredam gerutuan yang terlontar dari bibir lembutitu dengan bibirnya sendiri. Membuat Suho mematung saja dan membiarkan Kris melakukan apa saja, yang bermula hanya lumatan kecil dan hisapan pelan, hingga tangan lebar pemuda itu yang meremas pinggangnya, ciuman yang terasa basah itu berhenti saat Kris mengeluarkan lidahnya, puas berbagi hembusan nafas, hingga menguapkan kesadaran.
"Happy anniversary…"
Suho berbisik saat Kris mencium dahinya.
"Apa?"
"Kau lupa? Astaga!"
Kris mengerutkan dahi, sebelum dirinya teringat tanggal hari ini, "Astaga, aku benar-benar lupa!"
Namja pendek itu tertawa ringan, "Tidak apa, awalnya aku lupa juga. Namun saat kerja tadi, aku teringat. Aku pulang dan ingin membuat kue untuk peringatan kecil ini, tapi aku ketiduran."
"Tidak apa, aku tidak mengharapkan yang mulut-muluk padamu. Terima kasih, sudah menemaniku 3 tahun ini."
Suho menunduk, menyandarkan kepalanya di dada bidang Kris yang keras, "Ya."
"Omong-omong Suho…"
"Hum?"
"Aku mencintaimu."
Mendengar Kris yang berucap cheesy seperti ini membuat perut Suho rasanya tergelitik, "Aku tahu. Kau memang tergila-gila padaku."
Keduanya tertawa bersamaan sebelum Kris memberikan ciuman di puncak kepalanya sekali lagi.
.
.
"Kau tidak keberatan kalau kita membuatnya sekarang?" Suho bertanya dengan nada khawatir sembari mengeluarkan tepung terigu dari cabinet dapur.
Kris menggeleng, setelah memakai celemek di tubuhnya, Kris memakaikan celemek rilakkuma yang biasa digunakan Suho pada tubuh kekasihnya tersebut.
Tadi Suho berniat membuat kue kecil untuk perayaan mereka berdua, namun karena dia lelah dan tertidur di sofa, jadi semuanya batal deh. Namun, saat jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan dan Kris belum merasa terlalu malam, namja tinggi itu meminta Suho agar mereka memasak bersama. Besok libur dan tak ada salahnya tidur malam. Lagipula ini hari anniversary mereka yang ke 3 tahun, Kris ingin memberikan setidaknya sebuah moment berharga untuk dikenang.
"Kau mau membuat apa?" Suho bertanya sembari mengeluarkan telur dari kulkas.
"Apapun yang mudah dan membuatku kenyang. Aku belum makan dari tadi."
Suho mengangguk kecil "Sesuatu yang asin atau manis?"
Kali ini Kris nampak berfikir, dia menyukai sesuatu yang asin, dan Kris tahu Suho sebenarnya suka sesuatu yang manis.
"Manis dan asin."
"Kalau kau mau dua-duanya, kita bikin pancake saja. Bagaimana? Lagipula kau lapar kan?" Suho mengambil mangkuk besar dan menoleh untuk bertanya pada kekasihnya tersebut.
"Baiklah."
Hanya pancake memang. Sesederhana pancake itu, Suho mau membuat perayaan yang simple dan mengandung banyak kenangan. Lagipula Suho sudah lama tidak memasak bersama Kris, karena Kris lebih suka mericuh dan membuat dapurnya berantakan daripada membantu. Kali ini, Suho ingin mengajari kekasihnya memasak daripada nasib dapurnya berakhir buruk.
"Aku akan pecahkan telurnya, kau tuangkan tepung yang sudah aku timbang! Jangan menambahkannya sedikitpun, aku tidak mau jadi keras!" Suho mewanti-wanti Kris untuk tidak menambahkan bahan aneh ke dalam masakannya.
"Aku tahu-aku tahu. Ayolah sayang, aku tidak bodoh-bodoh amat dalam memasak," Kris mengerucutkan bibir saat dia merasa Suho tidak terlalu percaya padanya.
"Oh ya? Lalu siapa yang membakar serbet dan menggosongkan panciku saat menggoreng nugget minggu lalu huh?"
Dan yah, itu Kris.
"Siapa yang menumpahkan teh dan juga siapa yang membiarkan apelku ada di luar kulkas dan semuanya jadi busuk?"
Itu ulah Kris juga.
"Lupa kalau memanggang kue hingga jadi hitam dan keras seperti batu?"
Kris lagi.
"Yang mematahkan sumpit, sendok kayu dan menggosongkan ayam, membuat kita tidak jadi makan malam, membakar tisu dapur dan…umph…"
Kris membungkam bibir cerewet kekasihnya dan menggigitnya. Mengundang tatapan protes dari Suho.
"Dan rupanya kekasihku ini perlu diam sebentar," Kris berucap setelah melepaskan ciuamnnya. Menyisahkan Suho yang mematung.
"Iiih…." Suho memukul kepala Kris dengan tangannya yang mengepal. Sebal.
Suho menuangkan air, minyak sayur dan susu serta gula bubuk di atas mangkuk besar itu dan mulai mengocoknya. Kris sendiri kagum dengan kemampuan Suho yang menurutnya bisa apa saja di urusan dapur itu. Mulai dari makanan yang mudah hingga kue-kue yang susah dibuat.
"Ambilkan aku mangkuk lagi.."
Kris mengangguk dan mengambil mangkuk yang ukurannya sama besar. Setelah adonan berwarna krem pucat itu tercampur rata, Suho mulai membagi dua adonannya.
"Eh, kenapa dibagi dua?"
"Katanya kau mau asin dan manis kan? Kalau yang manis, aku memberinya vanilla. Yang asin tidak usah," Suho menuangkan bubuk vanilla dan mengaduknya lagi.
Sementara Kris yang takut mengacaukan Suho yang sedang serius, dirinya hanya membersihkan dan mencuci peralatan bekas pakai.
Suho menyisihkan dua mangkuk adonan pancake itu untuk didiamkan selama beberapa menit. Karena adonan akan lebih enak dan empuk kalau didiamkan dulu sebelum di goreng di atas pan.
Sembari menunggu, Suho membereskan sisa tepung dan bahan lainnya. Sesekali dia melirik Kris yang mencuci perlatan bekas pakai, bibir tipis itu menyunggingkan senyuman nakal. Diraupnya sejumput tepung terigu, sebelum dia meloncat, mengacak-acak rambut halus Kris dengan tangannya yang terlumur tepung.
"YA!"
Suho tertawa melihat Kris yang kini bagian atasnya menjadi putih seperti tertutup salju. Namja tinggi itu mengelap tangan, mambalasnya dengan menaburkannya di sekitar kepala Suho.
"Kris, sudah!"
"Kau yang memulainya."
Awalnya rambut, hingga akhirnya wajah, bahu, celemek dan celana panjang keduanya bertabur tepung terigu.
"Sudaaah…" Suho mengiba saat Kris masih menahan tubuhnya dan mencolekkan tepung pipinya yang chubby.
"Kau mau aku berhenti?"
Suho mengangguk, perutnya lelah tertawa dan kesal dengan wajahnya yang berantakan.
"Ayo berfoto dulu!"
Kali ini namja mungil itu menggeleng kecil, "Tidak mau, mukaku jelek, huwee.."
"Siapa suruh memulainya. Ayolah, kau tidak jelek, kau manis."
Dan berkat bujukan Kris, Suho akhirnya mau berfoto. Beberapa gambar mereka hasilkan dan Suho memukuli Kris karena saat melihat hasilnya, wajahnya benar-benar terlihat mengerikan.
"Ayo mandi dulu… aku tidak mau makan pancake sambil kotor begini," Suho merengek kecil sembari menggoyang-goyangkan lengan Kris.
"Baiklah-baiklah, jangan manja begitu aku jadi ingin memakanmu juga!"
Tak mau mengundang kemesuman kekasihnya, Suho merengut, menendang kaki Kris dan berlari lebih dulu ke kamar mandi.
.
.
Suho mengoleskan sedikit mentega pada pan dan menuangkan adonan pancake ke atasnya. Sementara Kris hanya berdiri di sampingnya kadang mencium aroma shampoo beri yang keluar dari rambut lembut kekasihnya itu.
Kris sendiri tak mau memasak adonan itu, dia takut kalau malah mengacau. Dan biarkan Suho saja yang mengambil alih. Akhirnya, di atas meja makan terdapat 2 piring saji dengan tumpukan pancake. Di piring berwarna biru, ada beberapa tumpuk pancake manis dan pancake asin di piring berwarna merah jambu.
"Setelah ini apa?"
"Aku akan membuatkanmu isian dan topping. Kalau ini tidak habis, kita bisa menyimpannya di kulkas dan menghangatkannya besok untuk sarapan."
Suho meletakkan banyak isian, sementara Suho sibuk, Kris hanya mengambil foto, mengabadikan setiap moment dan membuat berbagai video aneh di dapur yang membuat Suho tertawa-tawa. Namja mungil itu menyiapkan mulai dari selada, tomat, keju dan daging asap serta sosis untuk isian pancake asin, dilengkapi saus mayonnaise dan saus tomat, juga buah-buahan dan whipped cream untuk pancake manis, ada selai coklat juga dan madu, beri-berian, cream cheese dan lain-lainnya.
"Wah, kau benar-benar hebat," Kris menatap meja makan yang kini ramai dengan berbagai hidangan.
"Terima kasih."
Kris mencium pelipis Suho dan mengambil gambar. Entah kenapa, hanya dengan makanan kecil seperti ini, Kris merasa sangat bahagia. Suho juga, entah mengapa, tanpa alasan yang jelas, tubuhnya menghangat begitu Kris mencium pelipisnya penuh kasih sayang. Pipinya memerah, padahal mereka sudah sering berciuman.
"Aku boleh makan?" Kris mengambil piring dan mengedipkan matanya, tak sabar.
Baru setelah Suho mengangguk, Kris bersorak.
Namja tinggi itu menumpuk pancake asin, keju, daging asap dan selada, mengoleskan mayonnaise dan saus, menumpuknya dengan pancake lagi hingga telihat tinggi.
"Tunggu!"
Suho mencegah Kris saat namja itu hendak memotongnya, dia beralih menuju rak dapur, mengambil sebuah lilin yang kurus, menancapkannya dan menyalakan api di atasnya.
"Let's make a wish…"
Kris mengambil kamera, memotretnya. Sebelum dia juga mengarahkan lensa kameranya pada wajah Suho yang matanya terpejam.
"Apa yang kau harapkan?" Kris bertanya.
"Banyak hal."
Kris melakukan hal yang sama dengan Suho, memohon sesuatu.
"Kalau kau? Apa yang kau harapkan?" Suho bertanya balik.
"Kau."
Namja mungil itu mengerutkan dahi, "Aku?"
Kris mengangguk sementara Suho tersenyum kecil, meletakkan kedua telapak tangannya yang lembut ke kedua belah pipi tirus Kris.
"Hei, kau harus mengharapkan sesuatu yang lebih besar lagi…"
Suho masih tersenyum, dan kini mencium bibir kekasihnya sebentar sebelum menyambung ucapannya yang terputus.
"…kau sudah mendapatkanku dari dulu."
Dan saat Suho berucap seperti itu, Kris tersadar kalau itu benar. Dia sudah mendapatkan Suho sejak lama, sejak saat Kris mengungkapkan perasaannya, sejak Suho mengangguk setuju, sejak title kekasih di dapatkan Suho. Kris memang tahu dia sudah mendapatkan namja mungil itu sejak awal. Jiwa dan raga.
"Kau benar, kalau begitu, apa yang harus aku harapkan?"
Suho angkat bahu, "Menurutmu?"
Saat sesuatu tiba-tiba terlintas di benak Kris, namja itu menutup matanya, berbisik dalam hati. Berdoa. Sesuatu hal sederhana yang bisa dia minta pada Tuhan. Dan saat lilin itu ditiup hingga menghasilkan asap, Kris mencabut lilinnya, menggantinya dengan garpu, menusuk pancake dan kejunya, menyodorkan ke mulut kecil Suho yang tertutup.
Suho berdiri, memilih mengelayutkan lengannya di leher Kris dan duduk di pangkuan pacarnya, masih dengan mulut mengunyah pancake, Suho tersenyum dan gantian menusukkan kue itu bersama dengan daging asap.
"Enak."
Dengan senyuman kecil Suho menjawabnya, "Aku tahu kalau jadinya akan enak."
"Masih ada banyak, besok kita bisa makan lagi kalau kau menyimpannya."
Kris menyarankan. Melihat adonan pancake yang belum tergoreng itu yang tidak akan habis jika mereka makan sekaligus malam ini.
"Iya. aku tahu."
Sementara Kris masih makan, Suho menumpuk pancake dengan krim, buah stroberi dan anggur serta coklat, Suho menyukai semua hal manis, jadi dia menumpuknya semua jadi satu dan memakannya sekaligus.
"Kau bisa gendut kalau makan manis terus."
Suho menggeleng, sebanyak apapun dia makan, Suho tidak pernah jadi gendut. Lagipula dia juga tak pernah beramasalah dengan porsi makannya.
"Atau sakit gigi?"
Lagi-lagi namja mungil di pangkuan Kris itu menggeleng.
Kris meletakkan tangannya di rahang bawah Suho, mengusap ibu jarinya pada permukaan bibir yang lembut itu membuatnya terbuka. Menampilkan gigi Suho yang putih seperti susu. Sembari membersihkan krim dan coklat yang menempel, Kris tertawa pelan melihat Suho memejamkan matanya.
"Buka matamu, kau kira aku mau apa?"
Iris gelap itu terbuka dan mengerjap. Kris menjauhkan ibu jarinya dan menyesapnya perlahan. Merasakan manis.
"Sudah tiga tahun kita bersama, maafkan aku kalau kadang tidak bisa menjagamu dengan baik, Suho."
Suho mengangguk dan membalas ucapannya "Maaf juga kalau aku masih sering merepotkanmu, marah-marah dan tidak bisa menjagamu dan diriku sendiri. Membuat khawatir dan kekanakan. Aku… akan berusaha lebih baik lagi."
Ucapan itu membuat kedunya menghangat entah kenapa, rasanya lega dan semua perasaan yang ada di dalam hati membuatnya nyaman.
"Aku… sangat mencintaimu."
Kali ini Suho tidak protes saat Kris mengucapkan kalimat cheesy seperti ini. karena Suho tahu Kris tidak sedang menggombal atau merebut perhatiannya, Kris tidak sedang bermanja padanya tapi namja jangkung itu sedang mengungkapkan perasaannya. Dari hati.
"Aku.. juga."
Jawaban itu berakhir dengan Kris yang meletakkan lengannya ke pinggang Suho, mendekatkan wajah, saling meminta. Hingga jemari mungil Suho yang lentik meremas lengan bajunya, Kris mengerti apa yang kekasihnya inginkan. Suho menghembuskan nafas, saat Kris memaksa wajah menunduknya agar mendongak. Irisnya yang gelap bertemu pandang dengan iris coklat Kris yang menyala, menghipnotisnya perlahan. Hingga saat bibir mereka bertemu, Suho tidak bisa untuk tidak menutup matanya. Karena saat-saat seperti itu yang membuat Suho tidak bisa menahan diri. Menutup mata adalah jalan terbaik.
Kris melakukannya dengan lembut, menimbulkan rasa nyaman hingga Suho tak mau melepaskan tautannya. Sampai-sampai remasan pada kausnya mengerat, membuat buku-buku jari Suho memutih. Kris membelai pipi kekasihnya, rambut, dan poninya, beralih pada tengkuk, punggung dan pinggang, menyalurkan rasa hangat pada tubuh Suho yang masih betah di pangkuan.
Sudah berlalu menit-menit yang terasa lembut dan ringan itu, Kris melepaskan ciumannya, meraih oksigen dan membiarkan Suho menetralkan nafasnya, hingga detik berikutnya keduanya memulai lagi, rasanya lebih kasar, dan terkesan sedikit berantakan. Suho mengeluarkan desahannya yang halus, meminta lagi, memindahkan lengannya hingga melingkari leher jenjang kekasihnya. Meremas rambutnya, dengan wajah memerah karena dia menyadari Kris merapatkan tubuh mereka berdua dengan menarik pinggangnya mendekat.
Kini keduanya mulai ada di luar kontrol, namja jangkung itu melumat bibir kekasihnya, melesakkan lidah, menyapu apapun yang ada di dalam rongga mulut Suho yang kecil, gerakannya menikung, cepat, hingga Suho tak kuasa menahan rengekannya. Suho menggerakkan bibirnya pada bibir atas Kris, membalas lumatan kekasihnya yang cepat hingga nafasnya memburu.
"Unghh… mphh…"
Suho sadar dia mendesah saat Kris menghisap bibir bawahnya kuat, dan kini rasanya kedua belah daging lembut itu memerah, bengkak. Pria bermarga Wu itu tak peduli, bahkan saat Suho mendesahkan namanya pada sela-sela ciuman yang kini semakin terasa panas itu dia tetap melakukan apapun yang dia mau. Menggigit, menjilatinya, berbagi deru nafas dan saliva, memainkan lidah dan mengecap rasa manis yang timbul karenanya.
"Eungh… Krish…" Suho tak tahu mengapa dia malah mengeluarkan suara seperti itu. Namun yang jelas, desahan Suho membuat Kris malah tidak bisa menghentikannya. Apalagi namja mungil itu memanggil namanya dalam desahan yang menurutnya errr… seksi.
Kepala mereka bergerak ke kanan dan kiri, dan semakin dalam ciumannya, semakin Suho tak dapat mengikuti alur kekasihnya, semakin sulit ia membalas, dan semakin mudah juga ia mendesah di bawah kendali CEO muda itu.
Tak peduli jam yang sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam, tak peduli bahwa malam yang tadinya cerah kini mulai menurunkan hujan ringan. Tak mau peduli dengan kue mereka yang masih tersisa di meja dan kini mulai mendingin. Keduanya tak mau berhenti, menimbulkan decakan basah yang membuat ciuman itu semakin tak terkendali, saliva menetes, wajah memerah, deru nafas yang tidak beraturan dan remasan tangan yang menguat.
Ciuman panjang itu terlepas sesaat setelah Kris menggumamkan kalimat sayang di sela-sela ciumannya. Membuat Suho tersipu lebih-lebih saat Kris menjilat sudut bibirnya, menyapukannya pada permukaan bibir merahnya yang kini nampak lebih merah.
"Sudah?" Kris bertanya.
Meskipun Suho tak bilang kalau dirinya menginginkan sebuah ciuman, namun Kris tahu, sebetulnya tadi Suho meminta namja jangkung itu menciumnya, hanya dengan isyarat karena mulutnya terlalu malu untuk bicara.
Suho mengangguk kecil. Sudah cukup untuknya, ciuman yang sangat panjang dan terasa sangat intens itu sudah membuatnya berfikiran yang tidak-tidak. matanya yang jernih menangkap wajah Kris yang entah mengapa terlihat sangat tampan meskipun dengan rambut berantakan akibat dia remas tadi. Meskipun dengan sisa liur di ujung bibirnya yang nampak membengkak.
"Tapi aku ingin lagi…" Kris menggantung ucapnnya, dan Suho menatapnya dengan pandangan heran.
"Huh?"
"…sesuatu yang lebih manis."
Entah mengapa Suho diam dan tak bisa berkata cerewet seperti biasa saat Kris menyapukan selai coklat di atas bibir bawahnya sebelum menghisapnya kuat. Menyesap manis coklat yang bercampur dengan manis bibir tipisnya tersebut.
"Umphh.."
Suho mematung, masih dengan mata terbuka saat Kris menjilat apapun di atas bibirnya, mengecapnya untuk yang terakhir di sesi kedua ciuman mereka.
"Sudah cukup?"
"…"
"Aku tanya kau masih mau lagi atau tidak?" Kris mengulang pertanyaannya sementara kini Suho akhirnya bisa bersuara.
"Eum… sudah,"
Wajahnya memerah dengan deru nafas yang mulai teratur. Kepalanya tertunduk, malu. Kalau biasanya Suho akan mengomel dan cerewet dikala Kris menggodanya, maka kali ini dia hanya bisa diam, tak tahu harus mengucapkan apa setelah ciuman panjang tadi berakhir. Menghabiskan separuh kesadaran dalam isi otaknya.
"Ayo kita bereskan ini, kemudian tidur. Sepertinya matamu sudah berat."
Kris mengangkat Suho dan membuatnya berdiri.
Menggandeng pergelangan tangannya dan tersenyum kecil, mencubit hidung mungil Suho dengan gemas sebelum dia tertawa ringan, membuat Suho terispu tanpa sebab, hingga memukulkan tangannya ke lengan Kris, menyembunyikan wajahnya. Yang Kris lakukan setelah Suho tak mau menampakkan wajahnya hanyalah sebuah usahakan lembut, di kepalanya, membuatnya tersenyum.
.
.
Suho baru saja selesai menggosok gigi saat Kris mengambilkan pakaian ganti untuknya. Piama itu begitu nyaman hingga rasanya Suho ingin segera jatuh tertidur di ranjangnya. Namun dirinya mengurungkan niat, Suho masih ingin menunggu Kris yang masih ada di kamar mandi sambil menyelubungi dirinya menggunakan selimut tebal.
"Belum tidur?"
Suara berat Kris mengagetkan Suho yang tengah melamun. Dia menggeleng kecil dan tersenyum saat Kris mengambil duduk tempat di sampingnya. Sampai Kris menariknya mendekat, membawanya dalam pangkuan, namun tepat menyelubungi tubuh mereka dengan selimut.
"Omong-omong Suho, ada yang ingin aku tanyakan."
"yY?"
Keduanya diam sebelum Suho memekik terkejut dikarenakan Kris membawanya berdiri, menggendongnya di depan seperti biasa.
"Apa yang kau harapkan tadi?"
"Kenapa ingin tahu?" Suho balik tanya membuat Kris menatap tajam matanya.
"Hei, memangnya aku tidak boleh tahu?"
Suho tertawa kecil.
"Hum…. Aku tadi berharap agar bisa bahagia bersamamu, selamanya."
Mata elang Kris sedikit melebar menujukkan raut terkejut.
"Kenapa?"
Kris menggeleng sebelum tersenyum kecil, mengusap sebelah pipi tembam Suho "sepertinya Tuhan paling tahu apa yang kita inginkan."
Suho tak mengerti daan diam saja saat Kris malah mencium bibirnya yang masih bengkak membuat tubuhnya menengang tiba-tiba.
"Umh… kenapa memangnya?"
Pipi Suho memerah, matanya terpejam dan tersenyum disela ciumannya yang ringan saat Kris bergumam di jeda tautan bibir keduanya.
"Karena aku juga meminta hal yang sama…"
.
.
.
Friday
END
.
.
Jeng jeng.
Besok Rae udah balik lagiii…. TT_TT ke Asrama dan kegiatan bejibun menanti dengan indah. Waks.
Bukan tanpa alasan Rae bikin di episode Friday ini temanya adalah Krisho yang anniversary. Hehe, itu karena Rae ingan hari jumat adalah hari dimana Rae pertama kali jatuh cinta sama ini couple. Karena Rae sangat suka hari jumat, maka Rae membuatnya full of sugar (manis maksutnya).
Oh yah. Karena chap depan adalah Saturday dimana itu hari terakhir dari Day by Day series ini, maka Rae akan membuatnya lebih dan lebih sweet lagi. Hayo yang punya gula darah tinggi! Hati-hati diabetes! Hehe. Karena enggak akan bikin nc, mungkin akan nyerempet dikit, atau kissingnya akan lebih banyak, dan lebih hot #APASIH #RAEJADIMESUMASTAGA.
Oke, tolong berikan komentar dan dukungan kalian. Karena setiap kata yang masuk di kotak review merupakan kebahagiaan tersendiri untuk Rae. Dan Rae sangat menghargainya /bow/
Terima kasih!
See ya!
.
.
.
SungRaeYoo – siauthortukangbaper :3
