Kuroko no Basuke/黒子のバスケ Fanfiction

"AkaKuro!Drabble"

Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi

Warning : College!AkaKuro/5 years after 1st Winter Cup (Rakuzan win)

A/N : Hallo guys, sebelumnya gomen karena author gagal mentamatkan fic ini akhir bulan kemaren. Fic kali ini adalah request dari Hotori Nana, sekaligus lanjutan dari drabble -28, dimana Semi-Canon tapi Rakuzan memenangkan Winter cup pada saat itu. Tapi tenang saja, chapter ini gabakal hurt kaya sebelumnya :D

Sampai chapie terakhir di drabble ini guys, chapter depan bakal jadi chapter final untuk drabble ini.
Makasih buat semua yang udah ngikutin, baca, fave sama follow cerita ini. Semua review kalian menjadi moodbooster buat author ^O^

Happy Reading, all..

With Love,

Zelvaren Yuvrezla a.k.a ren-chanz


Drabble 34 - Story of Us


Hanya dengan satu kalimat, semua sudut pandang bisa berubah. Pembatas yang selama ini kita bangun dapat rubuh hanya dalam 1 hari. Hatiku masih berdetak kencang, kalimat demi kalimat terus terukir dalam pikiranku.

Apakah ini kenyataan?

Atau ini hanya sebuah ilusi? Sebuah kenyataan yang tidak pernah terwujud dan hanya terbayang dalam pikiranku saja.

Aku takut..

Takut untuk melangkah dan menggapaimu.

.

.

.

5 tahun berlalu semenjak kejadian Winter-Cup berlangsung ketika Akashi mengalahkan tim Seirin pada tingkat pertama mereka. Saat ini keduanya telah memasuki kuliah dengan tingkat semester 4. Hal yang membuat Kuroko tercengang adalah Akashi ternyata kembali ke Tokyo untuk melanjutkan studinya. Berbeda dengan Kuroko yang mengambil jurusan Bahasa, pemuda berparas tampan itu mengambil jurusan Hukum sebagai pendidikan lanjutnya.

Mereka memang jarang bertemu maupun berpapasan karena jadwal mereka yang benar-benar berbeda. Lagipula Kuroko enggan untuk sekedar bertanya pada Akashi meskipun mereka masih dalam 1 gedung yang sama. Kuroko takut, karena setiap bertemu dengannya, perasaan yang selama ini terus dipendam olehnya akan kembali mencuat ke permukaan.

5 tahun lalu pada saat mereka berpisah sebelum kepulangan Akashi menuju Kyoto, saat itu Kuroko tidak mengutarakan isi hati yang ia simpan untuk mantan captain-nya. Selama 5 tahun itu juga ia akan berpura-pura untuk berbaur dan menyembunyikan perasaan dibalik wajah datarnya. Selama mereka bermain bersama anggota Kiseki no Sedai lainnya, ia terus memupuk perasannya.

"Tetsuya, hari ini kau ada jadwal masuk jam berapa lagi?" Ogiwara Shigehiro, sahabat semasa kecilnya bertanya sambil melahap makanan terakhir-nya. Mereka berada di foodcourt kampus mereka, menunggu mata kuliah selanjutnya.

"Hmm.. jam 3 nanti, Ogiwara-kun."

"Ah~~ Sayang kita tidak sekelas, padahal aku mau belajar bersamamu, Tetsuya."

Kuroko menyeruput Vanilla Milk Shake-nya, sebelum pandangannya kembali pada pemuda bersurai Cantaloupe itu. "Apa boleh buat, Ogiwara-kun harus kerja malam, 'kan? Dengan jadwalku kau akan telat ke tempat part-time."

Ogiwara menghela nafas. "Kau benar, tapi apa kau tidak apa-apa menunggu selama itu, Tetsuya? 3 jam itu lamaaaa sekali lho." Kuroko menggeleng. "Tidak apa, Ogiwara-kun. Aku bisa meluangkan waktuku dengan pergi ke perpustakaan. Disana banyak buku menarik."

Mengerti bagaimana kebiasaan pemuda satu ini dalam membaca, akhirnya Ogiwara hanya mengangguk setuju. "Kalau begitu kita berpisah disini, Tetsuya," pandangannya kini mengarah pada jam tangan yang dikenakannya. Jam sudah menunjukkan pukul 12.50 dan kelas Ogiwara selanjutnya akan dimulai pukul 13.00. "Sampai besok, Tetsuya!"

Setelah sahabatnya itu pergi, tidak lama Kuroko juga mulai melangkah meninggalkan foodcourt, ia memang jarang makan siang, biasanya ia hanya meminum segelas Milk Shake kesukaannya, hal itu cukup menjelaskan mengapa tubuh Kuroko sangat ringan untuk ukuran tubuh laki-laki.

Ketika ia berjalan di lorong, tiba-tiba kasat mata-nya menemukan sosok Akashi Seijuurou yang tengah berjalan sambil berbincang dengan—entahlah, mungkin teman yang sejurusan dengannya. Mereka sama-sama membawa buku tebal bertuliskan "LAW". Wajah serius keduanya tampak begitu jelas dimata Kuroko, ia yakin pemuda yang dikenalnya itu sedang membicarakan hal yang serius dengan temannya.

Kuroko segera mengambil tikungan, mengambil arah lain supaya mereka tidak berpapasan. Untuk sesaat ia berhenti ditempat itu, senyum kecut kini timbul di wajahnya. "Mengapa aku melarikan diri seperti ini?"

Jawabannya sudah pasti, bukan? Karena kau takut untuk bertemu dengannya.

.

.

Kuroko hampir meluangkan 2 jam pertama dengan terus membaca. Hanya dengan membaca ia dapat luput dari segala pemikiran yang terus berputar dikepalanya. Hanya dengan membaca, ia akan melupakan 3 jam yang sedang ditunggunya.

"Tetsuya?" Panggilan itu menyita perhatiannya, nafasnya serasa berhenti untuk menghirup oksigen disekitarnya. Ia mengenal—sangat mengenal pemilik suara ini. Perlahan ia menengokkan kepalanya, menuju dimana suara itu berasal. "Akashi-kun?"

"Ah, kau sedang membaca disini? Masih ada kelas?" tanyanya sambil duduk tepat didepannya, membawa beberapa tumpuk buku tebal yang mungkin menjadi referensi baginya.

Kuroko mengangguk. "Jam 3 aku ada kelas, Akashi-kun. Aku menunggu sambil membaca disini."

Akashi tersenyum tipis, ia memandang tumpukan buku yang ia bawa. "Aku juga ada kelas jam 3 nanti, sampai jam berapa kau selesai, Tetsuya?"

"Hmm.. mungkin jam 5, Akashi-kun." Kuroko mulai memperhatikan sosok pemuda yang berada didepannya, meskipun ia sudah melihatnya sewaktu ia memutar arah, tetapi melihatnya lebih dekat sungguh tidak baik bagi dirinya. Rambut Akashi kini kembali memanjang, hampir serupa dengan model rambutnya ketika mereka masih sama-sama di Teiko. Akashi menggunakan Kemeja merah lengan pendek dengan Vest berwarna hitam dan celana Jeans berwarna senada dengan Vest-nya. Ia memakai sebuah kacamata, benda yang membuatnya tampak seperti orang lain.

"Kebetulan sekali. Aku juga pulang jam 5, bagaimana bila kita pulang bersama, Tetsuya?"

Kuroko panik, apa yang harus ia lakukan selanjutnya? Haruskah ia menerima ajakannya, atau—

"Maaf, Akashi-kun, tapi aku harus membeli makanan Nigou ke Pet Shop ketika pulang nanti." Kuroko mencoba untuk mencari alasan baginya untuk melarikan diri dari tatapan Heterochrome pemuda didepannya.

"Kebetulan sekali, Tetsuya," Akashi tersenyum. "Kau ingat sepupuku yang pernah kubawa ketika kita bermain basket bersama? Ia menginap selama beberapa hari di apartement-ku dan kucingnya kehabisan makanan, mungkin kita bisa pergi kesana bersama." Kena kau, Kuroko. Tidak ada jalan lain bila kondisinya sudah seperti ini.

Kuroko terdiam sesaat. "Kalau begitu—dimana kita bertemu, Akashi-kun?"

"Gedung Ekonomi, berada ditengah-tengah Gedung Sastra dan Gedung Hukum, 'kan? Akan kuberitahu bila aku sudah keluar."

Kuroko mengangguk.

"Gawat.." Akashi melihat jarum jam yang tepat menunjukkan pukul 14.55. "Kita harus pergi sekarang, Tetsuya, atau kita akan telat memasuki kelas."

Pemuda bersurai Teal itu tercengang, entah mengapa waktu terasa menjadi begitu cepat ketika mereka bersama. Padahal ia yakin pemuda bersurai Scarlet itu baru tiba bersamanya beberapa puluh menit lalu.

.

.

.

Hal yang membuatku ragu adalah ketika bertemu denganmu.

Aku takut untuk melangkah kedepan,

Aku takut ketika perasaan yang selama ini kupendam tidak tertahan lagi.

Aku takut ketika emosiku akan melampaui logikaku.

Dimana aku akan menghancurkan batas hubungan diantara kita berdua dan tidak akan ada lagi jalan yang sama seperti dulu.

Bukan berarti aku tidak memikirkannya, bila seandainya ilusiku menjadi kenyataan dan semua perasaan ini terbalas, masih ada hal lain yang kutakuti.

Bersama denganmu mungkin akan menjadi sebuah mimpi yang begitu indah, tetapi bagaimana anggapan orang lain? Bagaimana dengan masyarakat sekitar kita? Bagaimana dengan reaksi orangtua kita?

Sebenarnya aku tidak peduli bila kau tetap berada disampingku dan terus menuntunku, kita akan menjalani semua ini berdua, bersama.

Tetapi bagaimana bila saat itu tiba? Saat dimana kau akan membuangku? Saat dimana kau akan hilang minat atau bahkan membenciku?

Meskipun aku tahu—mengapa? Mengapa kakiku terus melangkah untuk menemuinya?

.

.

.

Setelah mereka selesai membeli makanan untuk hewan peliharaan mereka, Akashi membawa Kuroko untuk pergi makan bersama. Awalnya Kuroko merasa minder dengan perbedaan mereka, Akashi pergi menggunakan mobil Sport dengan setelan pakaian yang rapi, sedangkan Kuroko sendiri hanya berlapis T-Shirt dengan celana Cargo Pants dan tas selempangan yang sederhana.

Namun perkataan Akashi tetaplah mutlak dimata seorang Kuroko meskipun mereka sudah tidak memiliki hubungan seperti captain dan anggota tim basket seperti saat mereka masih di Teiko. Setelah beberapa jam mereka luangkan dengan menyantap makan malam diiringi dengan beberapa topik obrolan, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang.

Akashi meminta Kuroko untuk ikut bersamanya, ia ingin mengantar pemuda bersurai Teal itu hingga sampai kerumahnya. Awalnya Kuroko hendak menolaknya karena sudah malam, tetapi Akashi memaksanya untuk ikut bersamanya. Lagipula jalanan ditengah malam tampak begitu berbahaya untuk Kuroko. Mungkin hawa keberadaannya masih setipis dulu dan orang lain tidak akan menyadari ketika ia lewat sekalipun, tetapi Akashi tetap merasa khawatir padanya.

"Akashi-kun?"

"Ya, Tetsuya?"

"Umm..apa kau tidak salah jalan? Tampaknya jalan ini tidak menuju—" Kuroko dengan takut-takut mulai bertanya, tentu saja, jalan yang mereka lewati bukanlah jalan menuju rumahnya.

"Tidak, Tetsuya. Tujuan kita selanjutnya memang bukan kerumahmu. Aku janji akan mengantarmu benar-benar ketika kita pulang dari sini."

Kuroko mengangguk kecil. Ia tidak berbicara banyak dan hanya melihat pemandangan melalui kaca mobil. Jalan yang biasanya ia lewati dengan berjalan kaki tampak begitu berbeda ketika saat ini ia melihatnya dibalik pantulan kaca. Ia tahu jalan ini, satu-satunya rute yang dipakainya untuk pergi menuju lapangan basket. Dimana dulu ia sering bermain bersama anggota Kiseki no Sedai lainnya.

Akashi menghentikan mobilnya dekat dengan lapangan basket itu. Ia turun dari mobilnya, meminta Kuroko untuk ikut turun dengannya. Dari bagasi mobilnya, ia mengeluarkan sebuah bola basket. Lapangan pada malam itu sudah benar-benar sepi, tidak ada seorangpun yang masih berdiam disana. Untungnya Kuroko sudah menelepon rumahnya bahwa ia akan pulang terlambat, setidaknya orangtuanya tidak akan khawatir. Akashi sendiri hidup di sebuah apartement, karena alasan tertentu ia menolak untuk pulang kembali kerumahnya di Tokyo. Makannya ia bisa dengan bebas pergi dan pulang sesuka hatinya, berbeda dengan masa lalunya, dimana ia harus dikekang dengan sebuah aturan.

"Tetsuya, sebenarnya ada hal yang ingin kubicarakan padamu."

DEG

Entah mengapa kaki Kuroko serasa terpaku setelah Akashi mengeluarkan penggalan kalimat tersebut.

"Ada hal yang selama bertahun-tahun ini kusembunyikan darimu, dan aku tidak tahu apakah kau juga mengalami hal yang sama denganku atau tidak. Ah, tapi kurasa hanya aku yang merasakannya."

Kuroko menelan ludahnya. Apa ini? Apa yang ingin Akashi bicarakan padanya?

"Mengenai hal apakah, Akashi-kun?"

Pandangan Heterochrome itu memandang bola basket lekat, mendekatkannya hingga bola itu tepat berada di jajaran dadanya. "Kau ingat 5 tahun lalu, saat kau datang menemuiku?"

Kuroko mengangguk.

"Saat itu, sebenarnya aku ingin memberitahumu bahwa aku menyukaimu, Tetsuya," Akashi tersenyum tipis. "Tetapi aku tahu apa yang kukatakan padamu mungkin akan menjadi penghancur bagi hubungan kita berdua. Aku terlalu banyak menyakitimu dimasa lalu, maka dari itu, aku tidak berani untuk mengutarakan perasaan ini padamu. Tetapi, setelah 5 tahun berlalu, aku mencoba untuk membuang perasaan ini jauh-jauh. Aku berniat untuk menghilangkan perasaan ini padamu, tetapi kenyataan memang pahit. Semakin aku ingin melupakanmu, saat itu juga semakin sering aku memikirkan keberadaanmu, Tetsuya. Mungkin ini terdengar egois, tapi Tetsu—" Akashi berhenti ketika ia melihat Kuroko yang mulai mengeluarkan airmata, ia tidak bersuara atau bahkan bergerak barang seinci-pun, tetapi airmata mengalir dimatanya.

"Tetsuya? Kau baik-baik saja?" Panik, Akashi kini berlari mendekati Kuroko, membuang bola basket itu begitu saja.

"Licik.."

"Eh?"

"Kau licik, Akashi-kun. Kau mengambil kalimat yang selama ini kupendam untuk kusampaikan padamu." Melihat semakin deras airmata yang turun, Akashi kini menarik pemuda itu dalam pelukannya. "Aku takut.. Aku takut bila kusampaikan perasaanku Akashi-kun akan membenciku, aku takut hubungan diantara kita berdua akan berubah."

"Ya, aku tahu." Akashi tersenyum kecil, mengelus pundak pemuda yang jauh lebih mungil dari dirinya.

"Aku takut ketika hubungan kita diketahui oleh orang banyak, mereka akan menolak kita, Akashi-kun. Aku takut bagaimana tanggapan oranglain atau bahkan orangtua kita."

Akashi tidak membalas setiap jawaban dari Kuroko, karena ia tahu betul apa yang dipikirkan pemuda itu. Pertanyaan-pertanyaan itu juga yang selalu muncul dalam benak pikirannya.

"Aku juga takut bila ayahmu tidak setuju, Akashi-kun. Dengan sifatmu yang seperti ini aku yakin kau akan menentangnya, tetapi bagaimana dengan masa depanmu nanti? Bagaimana dengan perusahaan yang mungkin akan diberikan padamu? Dengan adanya kau bersama denganku tentu akan menjadi sebuah kontradiksi terselubung, aku takut bila itu akan mempengaruhi masa depanmu."

"Ya, Tetsuya. Aku tahu, aku juga telah memikirkan semuanya itu." Akashi menyentuh dagu pemuda yang masih menangis itu, mengecup setiap airmata yang kini turun membasahi pipinya. "Bila kau memiliki perasaan yang sama, dengan segala penderitaan dan masa-masa sulit yang mungkin akan kita hadapi. Bila kau terus berada disisiku sampai akhir, aku yakin aku pasti bisa melewati semuanya, Tetsuya. Selama ada kau yang akan menopangku, selama itu juga aku akan bertahan. Tetapi bila saat itu juga kau ragu atau bimbang, saat itu juga kita berdua akan hancur."

Tangan Akashi kini membelai helaian Teal milik Tetsuya. "Maka dari itu, berjalanlah disisiku. Melewati semuanya bersama, saling bergandeng tangan dalam mengahadapi setiap masalah yang mungkin akan kita hadapi. Maukah kau bersama denganku, Tetsuya?"

Kuroko mengangguk, tanpa aba-aba apapun ia langsung memeluk Akashi. "Ya, Akashi-kun. Kita akan jalani semua ini berdua. Aku berjanji padamu bahwa aku akan selalu bersamamu, apapun yang terjadi."

Senyum tulus kini timbul dirona wajah milik Akashi.

"Kalau begitu kita mulai dari hal yang sederhana, Tetsuya. Coba panggil nama kecilku?"

"Eh?" Pernyataan Akashi sudah cukup membuatnya shock, sekarang dia meminta untuk memanggil nama kecilnya? "Akashi-kun, aku bisa mati karena malu."

Tawa kecil kini terdengar dari sosok Akashi, ia kembali memeluk Kuroko. "Ahhh..aku tidak menyangka akan menungkapkan perasaanku padamu, Tetsuya. Tidak apa, kita akan menjalaninya secara perlahan, ok?" Akashi kini mundur beberapa langkah kemudian mengecup pipi milik Kuroko. "Aku akan menunggumu sampai kau bisa memanggil nama kecilku, Tetsuya."

Karena sampai dimana hari itu tiba,

Saat dimana kita berdua akan mengikat janji untuk selalu bersama, apapun hal yang terjadi.

Karena keberadaanmu menjadi penyokongku, menjadi semangat hidupku.

Selama kau berada bersamaku, saat itu juga aku akan menjadi kuat.

Karena setiap manusia tidak dapat menanggung semua penderitaan dalam hatinya seorang diri.

Ia akan mencari seseorang yang dengan senyum dan pelukan hangat menunggu kita untuk menceritakan keluh kesah kita.

Aku berharap bila semua ini bukanlah sebuah ilusi belaka.

Selama tangan kita masih saling berpautan, selama kau masih berada disisiku.

Aku akan menjadi kuat.

Demi diriku dan juga demi kita berdua.

~Owari~