I Miss U, Kim Jongin
.
.
This FF just for 'KHS'. Haha..
Bahasa Tidak baku, Sho-ai (Boyslove) content, Typo bertebaran, Gak suka Gak usah baca dear!
Bisa disambungin sama chap sebelumnya, bisa juga nggak. Terserah deh -_-
.
.
Sehun memandang layar ponselnya kesal. Ini sudah jam tujuh. Katanya Jongin akan melakukan video call via Line. Tapi apa? Anak itu kemana sih? Batin Sehun gusar.
Ia sudah jungkir balik tukar posisi di sofa depanTV.
Inginnya menangis, tapi buat apa. Jongin memang keterlaluan. Sampai aku lagi yang menelponnya lihat saja.
Karena tak kunjung mendapati notif dari ponselnya, ia berjalan menuju dapur. Mengambil biskuit dan susu coklat di kulkas. Rencananya ia mau nonton saja. Huh, Jongin menyebalkaaann... Teriak batinnya.
.
.
Satu menit yg lalu, Jongin menghubunginya via Line, dg video call tentu saja. sebenarnya Jongin tak ingin, Sehun memaksa sih. Dia jadinya harus mengaktifkan 4G nya kan? Mahal tahu. Ya, demi Sehun lah.
"Hey ... Jongin, Hitam, pesek... kenapa kau selalu telat menghubungiku,hah? Kau bermain dg gadis cantik di sana, eh? Awas saja.. kalau berani, akan kubunuh dia." Gertak Sehun sebal.
Jongin hanya tersenyum-senyum, Sehun memang agak pencemburu dan.. possesive.
"Tidak, Baby Hunnie, kau kan jauh lebih cantik dan manis dibanding mereka. Aku tadi, sibuk menjaga keponakannku. Dia sangat lucu. Rasanya, menyenangkan. Aku bahkan sudah melupakan Monggu, Jangah dan Janggu. Gara-gara dia."
Lelaki berkulit tan itu bercerita tanpa rasa bersalah, senyuman selalu tersungging di bibirnya. Sementara Sehun menunjukkan pose mau muntah yang tidak di sadari Jongin.
Astaga..
"Ohh... sekarang kau beralih jadi Baby Sitter Noona-mu, begitu?"
"Ya.. Tidak juga, aku hanya menikmati pekerjaanku. Sudah makan sayang?"
Sehun mempoutkan bibirnya sebal. Menikmati pekerjaan katanya? Cihh... sejak kapan Kim Jongin menyukai anak kecil. Damn...
"Ya sudah... Nikmati saja pekerjaanmu mengurus Baby sana. Jangan pedulikan siapapun lagi. FYI, Kim Jongdae akan menggorokmu jika dua hari lagi kau tidak kembali ke kantor. Jadi, sebaiknya kau segera hubungi dia. Bye."
Tap.. Layar menghilang, Wajah Sehun tidak lagi muncul di layar ponsel Jongin. Jongin menggoyang-goyangkan ponselnya. Tadi, jaringan tidak tiba-tiba hilangkan?
Aaa... Anak itu pasti marah karena aku mengabaikannya.
Jongin hanya menggelengkan kepalanya.
"Jongin, keponakannmu ingin jalan-jalan, dia menangis sekarang." Terdengar teriakan sang eomma dari dapur.
"Iya, Eomma." Jongin beranjak dari kasurnya, dan menuju sang keponakan tercinta.
Maaf ya Sehunna, aku mengabaikanmu. Ini hari terakhir kok. Batin Jongin. Kemudian, mengambil jaket dan kunci mobil yang di letakkan di nakas.
.
.
Sehari setelahnya Jongin benar-benar kembali ke apartemennya dan bekerja di kantor. Kemarin itu dia baru mengunjungi rumah eommanya karena mendapat cuti satu minggu. Sekalian, ingin mengunjungi penduduk baru keluarga besarnya. Siapa lagi kalau bukan sang keponakan yang menurutnya sangat lucu dan menggemaskan.
Oh ya, ngomong-ngomong tentang kembali, ia ingat ia harus mengunjungi Sehun. kekasih nya itu jika tidak di temuinya selama beberapa hari saja, akan bolak-balik menelpon dan berpuluh-puluh mengirim sms. Kadang membuat Jongin kesal. Tapi, bagaimanapun ia akan tetap meladeninya, begitu kan cara Sehun memberi perhatian padanya.
Dan hal buruknya, seharian kemarin Satu pesan pun bahkan tidak Jongin dapat dari Sehun. Ya dia tahu, anak itu pasti marah karena di abaikan. Selama seminggu di sana Jongin hanya tiga kali menelpon, dan dua kali video call, membalas pesannya saja saat akan tidur. Berbanding terbalik jika seandainya ia keluar kota karena urusan pekerjaan, sesibuk apapun dalam sehari pasti akan ia usahakan menelpon/video call sekali, dan sebanyak mungkin mengirim pesan pada malam hari.
.
.
Jongin memasukkan password pada apartemen Sehun. ia tahu jika ia menekan bel, anak itu tidak akan membukanya.
Jongin meletakkan bawaannya terlebih dahulu. Kemudian mengangkatnya kembali dan meletakkan nya di sofa ruang tamu. Ia mencari Sehun sampai ke dapur, kamar dan ruangan-ruangan lain yang memungkinkan.
"Sehun-ah... Kau dimana? Sehun.. Oh Sehun.."
Ia sudah berputar-putar ruangan beberapa kali namun tak mendapati keberadaan namja pale skin itu.
Jongin putuskan untuk menungguinya sambil menata barang bawaannya. Di plastik putih besar yang di bawanya ia keluarkan Sushi dan beberapa cup Bubble Tea. Ia menyusunnya di meja makan. Sehun itu sangat suka Sushi lebih dari makanan apapun, dan sangat menyukai minuman berbubble hingga ia rela tak memiliki pulsa hanya karena memenuhi nafsunya akan minuman manis itu.
Senyuman terkembang di bibir Jongin, tatakan terakhir 'Fried chicken' khusus untuknya. Ia melihat jam, kemudian mencoba menghubungi Sehun. ia mendengar dering sayup-sayup di sana. Sehun meninggalkan ponselnya.
Astaga, anak itu ceroboh sekali. Jongin menjadi agak khawatir.
Sehun sudah dewasa, ya ya ya dia tidak akan jadi korban penculikan kan?
.
Beberapa jam kemudian terdengar bunyi pintu terbuka, Jongin yang tengah menonton TV mengalihkan pandangannya pada sosok Sehun yang melewatinya begitu saja.
Jongin hanya bersmirk ria. Anak ini..
"Hey,, sayang, kau tidak melihat kehadiran pangeran yang kau rindukan ya?" Godanya.
Saat akan membuka pintu kamarnya yang berjarak satu langkah lagi ia menoleh. "Hah... siapa yang merindukan siapa? Sana pulang saja kerumah ibumu."
Jongin berjalan menuju Sehun. "Kau marah padaku ya? Maaf.. dan Maaf. Kau darimana saja, sayang?" Bisik Jongin di telinga Sehun. lelaki berkulit Tan itu dengan cepat menangkap bahu Sehun dan memeluknya dari samping, menyandarkan tangannya yang berat pada bahu sempit Sehun.
"Isshh... Kau mengabaikanku terus selama di sana, Tahu!" Sehun berteriak tidak suka.
"Ya, a,aku tahu. Aku minta maaf ya? ayo ke belakang aku membawa Sushi dan buble tea tadi. Kau lapar dan hauskan? Melihat penampilanmu kau baru dari Gym ya Hun.?"
Sehun hanya mengangguk, ya Jongin harusnya tahulah. Sehun itu termasuk namja yang rajin keluar masuk Gym setiap akhir pekan . ya meski sekarang senin, ia bosan di rumah sendirian tidak melakukan apapun.
.
Jongin menyuapkan beberapa potong sushi yang tidak mau Sehun habiskan lagi. Menurut pengakuan sehun ia sudah kenyang, tapi Jongin memaksa. Menurut sepenglihatannya Sehun semakin terlihat seperti lidi saat ia tinggal selama seminggu.
"Lihat..baru ku tinggal seminggu saja kau sudah sekurus ini. Kau ini, perhatikanlah makanmu, nanti kau sakit." Nasihat Jongin.
Sehun hanya diam, "Sudah.. Jongin aku mau mandi. Kalau masih mau main tunggu di ruang Tv sana."
Sehun pun memasuki kamarnya dan meninggalkan Jongin yg bergegas membereskan bekas makan mereka.
.
.
"Kenapa kau tertawa-tawa tadi?" Tanya Sehun begitu keluar dari kamarnya.
Merasa ditanya ia menoleh, "Tidak, tadi kakakku melakukan video call katanya anaknya merindukanku." Ucap Jongin masih dg kekehannya yg membuat sehun illfeel.
"Ya..Ya.. Eh kau tidak terganggukan? Sini.. sini.. kau tidak merindukanku ya?" Goda Jongin, menarik lengan Sehun, membuatnya kehilangan keseimbangan dan menimpa sebagian paha Jongin. Jongin pun memeluknya erat. Mencurahkan rindunya. Jongin menciumi rambut Sehun yang menguarkan harumnya segar. Sehun hanya pasrah saja.
"Hey.. Sehunna jangan ngambek lagi." Jongin mendekatkan dahi mereka, Hidung mereka sampai bersentuhan.
"Kau menyebalkan." Ucap Sehun sambil mendorong kepala Jongin dengan dahinya yang bersentuhan dengan dahi Jongin.
"Menyebalkan bagaimana? Jadi kau marah padaku atau pada keponakanku?"
Sehun menggeleng, "Uhm.. padamu." Ia mengalihkan duduknya menghadap Tv.
"Keponakanku sangat menggemaskan, kalau kau melihatnya kau juga akan menyukainya. Serius, kapan-kapan mungkin aku perlu mempertemukannmu dengannya."Ujar Jongin. Tangannya tidak lepas dari punggung Sehun. mengusap-usapnya pelan.
"Lihat fotonya."
"Hah..? Ahh.. di ponsel satu lagi sayang,," Jawab Jongin setelah membolak-balik galeri nya.
"Jongin.. Mana janjimu?"
"Apa?"
"Kau ini.. kalau kau melupakannya aku benar-benar akan menendang bokongmu dan mengusirmu dari sini."
Jongin berpikir sebentar, ia berjalan ke depan.
"Maksudmu ini.." Jongin mengambil sesuatu dari kamar tamu Sehun.
Itu.. sebuah boneka Rillakuma raksasa.
"Woah..." Sehun terpana. Jongin tersenyum lima jari.
Sehun memeluk boneka itu erat-erat.
Jongin yang sedang berdiri mengambil ponselnya di saku depan.
"Sehun.. ! Lihat sini!" Jongin memfoto Sehun dg kamera ponselnya.
Sehun berpose memeluk sambil tersenyum manis.
Ahh.. bagaimana aku bisa menyelingkuhimu. Ckc..
..
"Kapan kau beli?"
"Dua hari lalu, saat jalan-jalan di kotaku."
"Jongin, terima kasih."
"Hanya itu?" Jongin mengeluarkan ekspressi tak percayanya , kemudian menyodorkan pipi nya.
"Hah? A.. Kau mau meminta ciuman begitu?" Ujar Sehun sengit.
"Auww..." Jongin menjerit menahan sakit.
Sehun itu kejam sekali,
Bukan dicium malah di tampar, ahh sakit..
"Ini kan sbg permintaan maafmu." Tunjuk Sehun pada bonekanya.
Ya.. ya.. ya.. meminta pada Sehun itu berarti harus memberi dulu.
"Cup."
Jongin mencuri ciuman singkat di bibir Sehun.
Sehun memberinya tatapan mematikan.
"Aku merindukanmu sungguh... Boleh cium lagi ya sayang?" Tanya Jongin retoris.
Chup.. Chup.. Chup.. Chup.. Chup..
Jongin mencium Sehun bertubi-tubi. Di pipi, mata, hidung, dan cukup menguras nafsu ? Di bibir tipis Sehun. ahh ini yg paling ingin sekali ia kecup.
"Ehmpp... Jongin hentikan.. wajahku basah gara-gara salivamu. Dasar mesum!" Sehun mendorong tubuh Jongin yang mulai menggerayang ke area lain.
Jongin melepaskan ciumannya, tapi sebelah tangannya tetap memeluk sehun.
"Kau itu, kalau aku yang rindu padamu, sibuk mengacuhkanku, tapi kalau kau yg rindu... Jangan seperti itu lagi." Ujar Sehun sengit.
Jongin mengelap sudut bibir Sehun yang masih tersisa lelehan saliva.
"Iya.. iya.. kalau kau rindu aku, peluk saja boneka itu. Itu Jongin yg lain, yg slalu menemanimu. Kau juga boleh memukulnya kalau kau kesal padaku. Tapi, jangan membuangnya ya? karena aku butuh kamu, ok!" Jongin berkata sambil menatap lurus ke depan. Ahh... sudah .. sudah akhiri, Sehun bakal salting, kalau sudah mendengar Jongin bicara cheesy seperti ini. Ugh mengerikan.
Sehun pun melepaskan dekapannya pada boneka besarnya dan dengan agresif memeluk Jongin di sampingnya.
"Iya .. iya.. sudah.. aku hanya mengerjaimu tadi marahnya. Jangan bicara seperti itu lagi. menyeramkan tahu."
Jongin mencium leher sehun yang terekspos di matanya.
"Iya,, iya Baby Hunnie."
.Fin.
A/n : jangan pada ngadu muntah ya abis baca FF ini. karakternya ooc bgt gengg. Maklumin ye, dibuat sejam doang, ide spontanitas..
Ayoo.. ayoo.. cek kehadirannya, siapa yg udh baca Fic adul.. ini..
moga makin bertebaran KaiHun yeech... Bye,,
