When Bastard Falls In Love
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pair : Sasuke X Hinata
Part 3Sasuke mengais wortel-wortel yang ada di halaman rumahnya kemudian memberikannya kepada hinata. Sudah lewat satu bulan ketika dia mendapatkan kabar pain bebas dari penjara dan akan mencarinya. Sasuke rasa keadaan akan mulai membaik sekarang. Tapi dia masih tidak bisa membiarkan hinata pergi kemanapun sendirian sekarang.
Sore itu ketika sasuke sedang meneonton tv tiba-tiba seseorang memukul pintu rumahnya dengan sangat keras. Sasuke berpikir akan membunuh orang itu jika tidak memiliki alasan masuk akal untuk menggedor pintunya. Namun ketika sasuke membuka pintu itu, dia malah mendapati sasori membawa tubuh hinata yang tidak sadarkan diri. Wajahnya penuh luka. "rumah sakit disini sangat jauh, setidaknya kau harus mengendaai mobil untuk sampai disana paling cepat 30 menit" kata sasori yang mendapatkan beberapa luka di wajahnya.
Sasuke mengambil tubuh hinata dari tangan sasori dan membawanya ke mobil, "kau juga harus menerima perawatan" kata sasuke namun sasori menolak.
"aku baik-baik saja. Tapi hinata sepertinya dia menerima banyak pukulan. Kau harus segera membawanya ke rumah sakit" kata sasori. Sasuke bisa melihat rasa empati dari wajah sasori.
Alhasil, 1 rusuk patah dan beberapa lebam ditubuh hinata. "dia menerima terlalu banyak pukulan. Kau suaminya?" sasuke bisa melihat kecurigaan dokter itu terhadapnya dari matanya.
"hn, aku sedang menonton tv ketika tetanggaku menemukannya di jalan" jawab sasuke, "dia bilang dia ingin pergi ke toko grosir yang tidak jauh dari rumah untuk membeli bahan makan malam tapi aku malah mendapatkannya seperti ini."
"lalu tetanggamu…"
"aku sudah memintanya untuk ikut dengan kami tapi dia menolak. Dia pikir lukanya tidak separah hinata jadi hanya perlu obat rumah untuk memulihkanya" jawab sasuke kemudian melirik kearah hinata yang sedang berbaring di kasur rumah sakit, "aku akan membawanya kesini jika keadaannya memburuk."
Dokter itu Nampak percaya kepada sasuke kemudian meninggalkan sasuke sendirian di kamar rumah sakit bersama hinata. Sasuke hanya melihat hinata yang tidur dengan wajahnya yang penuh lebam. Sasuke yakin tidak akan ada yang terjadi pada hinata karena mereka tinggal cukup jauh dari kota tapi ternyata hal ini terjadi. Sasuke membenamkan wajahnya di kasur tak sanggup melihat hinata.
Tiba-tiba hinata membuka matanya dan mellihat sasuke yang sedang tertunduk dipinggir kasur. Dia memegang kepala sasuke dan tersenyum, "kau sudah makan malam, sasuke?" tanyanya dengan wajahnya yang hampir tidak bisa digerakkan itu.
Sasuke mengangkat wajahnya dan melihat kearah hinata, "bodoh" ucapnya namun hanya dibalas senyuman oleh hinata, "mana mungkin aku bisa makan kalau kau seperti ini?"
Sasuke mengingat senyuman hinata saat itu. Gadis itu perlahan bangun dari baringanya dan memeluk sasuke, "tidak apa… ini bukan salahmu." Pelukkannya terasa hangat bagi sasuke, sasuke bisa menitikkan air mata dibahu hinata tanpa sadar memeluk tubuh mungil itu.
"sasuke kau akan masuk kedalam?" teriak hinata dari dalam dapur, "makan malam sudah hampir siap" tambahnya.
Sasuke masuk kedalam sesuai dengan panggilan hinata dan mencium tengkuk gadis yang tengah menyiapkan makan malam untuknya itu, "terimakasih telah memasak."
Hinata tersenyum kepada sasuke, "ah~ aku harus ke kantor besok. Ada meeting. Aku harus pergi denganmu atau tidak? Aku rasa keadaannya sudah baik-baik saja" kata hinata yang memberikan semangkuk sup kepada sasuke.
Sasuke menyerutputnya dan menganggukkan kepala, "enak. Aku ikut denganmu. Aku juga harus menemui beberapa teman" jawab sasuke yang malam itu makan dengan lahapnya.
000
Siang itu sasuke berada di café gaara sendirian menatap keluar jendela ketika hinata datang dari belakang dan memeluknya. "hai" kecupnya di pipi sasuke, hinata duduk di depan sasuke dan menaruh tasnya di sampingnya. "mengejutkan menemukanmu disini. Aku mencarimu di kantor tapi orang kantor bilang kau keluar beberapa saat yang lalu kemudian aku memutuskan untuk berada di café ini kemudian menghubungimu sampai aku melihatmu dari seberang sana."
Sasuke tersenyum mendengar itu, "seberang? Apa yang kau lakukan diseberang sana?" Tanya sasuke yang menyedot iced espresso di depannya.
Hinata menatap keluar jendela dan melihat toko di seberang café, "hanya mampir. Aku sering berada disana. Melihat peliharaan. Aku tinggal di apartemen sebelumnya jadi aku tidak bisa membawa anjing atau kucing."
Sasuke hanya menganggukkan kepalanya selama hinata bercerita mengenai dirinya. "lalu, apa yang kau lakukan disini?" Tanya hinata membuayarkan lamunan sasuke.
"tidak ada" jawab sasuke, "aku biasa menghabiskan waktu seharian disini dengan melamun dan berbicara dengan gaara" tambahnya. Pesanan hinata datang dan gadis itu meminum ice chocolate nya. "kau selalu berada disini?" Tanya sasuke.
Hianta menelan ice chocolate yang ada di mulutnya, "kadang. Aku biasa kesini untuk mendapatkan inspirasi." Mereka berdua terdiam. Sasuke menatap keluar jendela dengan iced espresso di tangannya dan hinata yang menatap sasuke. "kau tahu. Ini pertama kalinya kita berbicara berhadapan dengan santai. Kau selalu berusaha menghindariku ketika dirumah dan menjagaku dari kejauhan seperti pengawal."
Sasuke hanya tersenyum mendengar hal itu. "ingin jalan-jalan?" usul hinata, "ada tempat bermain di dekat sini. Aku melihat brosusrnya tadi. Kau ingin kesana atau…"
Sasuke menatap hinata dan tersenyum, "kau ingin kesana?"
Hinata membuka kedua tangannya, "kenapa tidak."
"bagaimana kalau orang-orang itu datang?"
"aku pergi bersamamu" kata hinata, "sejauh ini aku merasa nyaman dan aman kalau kau ada di sisiku. Lagi pula aku sudah sembuh."
Sasuke dan hinata memutuskan untuk bermain-main sebentar di taman bermain itu. Sasuke tidak membiarkan hinata pergi jauh darinya. Taman bermain itu penuh dengan wahana menyenangkan dan banyak orang berada disana. Kebanyakan dari mereka adalah pasangan yang sedang menikmati malam bersama. Bergandengan tangan, saling merangkul bahkan beberapa dari mereka tidak malu untuk bertukar ciuman di depan umum.
Buk! Seseroang menabrak hinata dari belakang dan membuatnya hamper jatuh jika sasuke tidak menangkapnya. "kau ini, lemah sekali" kata sasuke yang menangkap hinata.
Wajah hinata berubah menjadi merah, "aku tidak tahu jika ada orang itu" elak hinata. Dirinya cepat-cepat melepaskan diri dari tangan sasuke.
Sasuke tersenyum melihat tingkah hinata kemudian menarik tangan hinata dan menggenggamnya, "jangan melepaskan tanganmu dariku" katanya yang membuat hinata tertegun. Mereka berjalan berdampingan dengan menggenggam tangan satu sama lain. Membeli kue kapas, balon bahkan memakan makanan kecil disana. Mereka seperti pasangan lain yang sedang berkencan di taman hiburan itu. Mereka berdua sangat menikmati 'kencan' mereka di taman hiburan itu bahkan mereka menari ketika acara puncak dimulai. Hinata sangat senang berada disana bergitu juga sasuke.
Tanpa terasa malam semakin larut dan acara di taman hiburan itu hampir selesai. Sasuke melirik jam di tangannya yang menunjukkan pukul 1 dini hari. "kita harus keluar dari sini. Sudah larut sekali" kataya kepada hinata yang masih terpukau pada kembang api yang dinyalakan diatasnya.
"oh.. baiklah" jawab hinata yang mendengar sasuke. Mereka berdua berjalan menuju mobil yang terparkir di belakang taman hiburan.
'ah! Ah! Ah!' sebuah suara terdengar oleh hinata dan sasuke dari kejauhan. Hinata sontak langsung merapatkan diri kearah sasuke. "maaf tapi aku tidak tahu suara apa itu" bisik hinata yang menyembunyikan diri dibelakang sasuke.
Sasuke menghela nafas panjang, "kau itu bodoh atau polos?" katanya kemudian berjalan menuju mobil mereka. Suara itu semakin lama semakin kencang terdengar, "sh*t" sasuke membuka pintu mobil untuk hinata kemudian cepat-cepat berlari ke tempat kemudinya.
Sasuke melajukan mobilnya agar cepat-cepat sampai ke rumah mereka namun ternyata bensin di mobil tidak cukup untuk membawa mereka sampai kerumah. Sasuke mencari beberapa tempat peristirahatan yang mungkin saja tertangkap di gps ponselnya. "kenapa?" Tanya hinata yang terbangun dari mobilnya.
"maafkan kau tapi sepertinya kita kehabisan bensin. Jadi aku akan mencari tempat peristirahatan di sekitar sini dan mencari apakah mereka menjual bensin disana" jelas sasuke, "kau tidak apa-apa?" tanyanya menatap hinata.
Hinata menganggukkan kepalanya, "hn.. aku baik-baik saja." Mereka keluar dari tol kemudian mencari tempat pengisian bensin di sekitar mereka. "sepertinya semuanya sudah tutup. Uhm, maafkan aku kita jadi masih berada di luar selarut ini" kata hinata.
"sshh… tidak apa-apa. Aku akan menemukannya satu" kata sasuke untuk menenangkan hinata, "ada orang di depan aku akan bertanya padanya. Kau tunggu disini, jangan mendekatkan wajahmu ke kaca" tambahnya yang melepas seatbelt dan bertanya pada orang paruh baya di pinggir jalan itu.
Tak lama kemudian sasuke kembali, "bagaimana?"
Sasuke menutup pintu dan kembali memasang seatbeltnya, "nihil. Semuanya tutup" katnaya kemudian melajukan mobilnya, "kau.. tidak apa kan tidak tidur di rumah? Ada hotel di dekat sini dan mereka memiliki tempat pengisian bensin yang buka pagi-pagi sekali. Aku ingin kau tidur disana daripada kau harus tidur dimobil." Sasuke melajukan kembali mobilnya dan mereka sampai di hotel yang dimaksud.
Penjaga hotel itu langsung memberikan satu kunci kepada sasuke dan hinata, "satu kamar di lantai 3. Kalian bisa mendapat ketenangan disana" kata penjaga hotel tersebut.
"aku ingin 2 kamar" kata sasuke menyerahkan kembali kunci tersebut.
"tidak ada. Penuh. Terima atau keluar dari sini?" kata penjaga hotel. Hinata kemudian memegang lengan sasuke dan mengisyaratkan untuk mengambil kunci itu.
Kamar hotel itu tidak terlalu mewah tapi tetap nyaman bagi hinata. "aku akan mandi" katanya yang mengambil handuk bersih yang ada di lemari. Sasuke bisa mendengar air yang mengucur kemudian membayangkan tubuh hinata yang tanpa busana dibasahi dengan air.
"crap!" eluh sasuke berusaha menghilangkan pikiran aneh yang tiba-tiba datang di kepalanya. Semaksimal mungkin sasuke berusaha tapi tetap saja tubuhnya secara otomatis bereaksi. Sasuke membuka semua pakaiannya dan berjalan menuju kamar mandi.
"ah?" hinata kaget mendengar pintu kamar mandi dibuka oleh seseorang, "sasuke? Apa itu kau?" sosok itu masuk kedalam kamar mandi dan mencium bibir hinata. Tangan kekarnya merapatkan tubuh mereka berdua hingga tidak ada jarak. "ngghh.. sasukeh" lenguh hinata ketika tangan kekar itu memijat halus kedua dadanya dan benda tumpul itu menusuk-nusuk perutnya.
Sasuke menurunkan kecupannya dari bibir, leher, tengkuk kemudian dada hinata yang D cup itu dan memainkannya dengan lidah nakalnya. Sementara tangannya sudah menjalar ke tubuh hinata bagian bawah. "aku akan membuatmu mengerang seperti singa yang sedang mastr*bas*" bisik sasuke ditelinga hinata.
Hinata melingkarkan tangannya di leher sasuke dan diangkatnya tubuh hinata. Perlahan-lahan sasuke memasukkan tongkat tumpulnya kedalam rumah kecil hinata yang sangat rapat itu. Beberapa kali hinata mengerang karena sasuke yang mengubah tempo gerakkannya hingga sampai akhirnya mereka mencapai klimaks bersama. "ngggghhhh!" lenguh sasuke yang memajukan tubuhnya ketika mengeluarkan cairan itu didalam tubuh hinata. Diturunkannya tubuh hinata kedalam bathtub dan sasuke yang mengatur nafasnya. Tadi itu, permainan yang cukup lama yang pernah sasuke lakukan.
Tangan hinata meraih wajah sasuke, "wanna join?" bisiknya. Tanpa ragu sasuke masuk kedalam bathtub dan mereka bersantai di dalam air hangat itu bersama.
000
"hai" sapa sasuke ketika melihat hinata keluar dari hotel, "kau siap kembali ke rumah? Aku sudah memnuhi mobilnya dengan bensin" tambahnya.
Hinata tersenyum dan memeluk tubuh sasuke pagi itu, "hn" katanya sambil tersenyum. Sasuke merasakan kecanggungan dari apa yang mereka lakukan pagi itu tapi kemarin malam benar-benar sesuatu yang baru bagi sasuke.
Hinata masuk kedalam mobil diikuti oleh sasuke. Mereka menelusuri jalanan sampai akhirnya dirumah mereka. Sasori terlihat berdiri di depan rumah mereka dan menyambut mereka ketika mereka memarkirkan mobil. "oh syukurlah kalian baik-baik saja" katanya.
"ada apa?" Tanya hinata yang melihat beberapa kaca pecah di lantai 2, "sesuatu terjadi?"
Sasori menaikkan bahunya, "entahlah harus mengatakan apa tapi seseroang melempar ruamahmu dengan batu yang cukup besar" jelas sasori menunjukkan batu ditangannya, "aku senang kau berada di luar rumah ketika itu terjadi."
"nampaknya itu adalah kamarmu, hinata" kata sasuke yang baru bergabung dengan sasori dan hinata, "kita bisa tidur bersama kalau kau mau" katanya kemudian melirik kearah sasori.
Hinata mengambil beberapa bahan makanan di kulkas, "mengerikan sekali melihatnya" kata hinata yang mulai memotong beberapa sayuran. Sasuke berjaan mendekatinya dan memeluknya dari belakang, "kau akan menggangguku memasak. Kau tidak lapar?"
Sasuke menggigit kecil bahu hinata, "aku lapar" tangannya menyalip kebalik apron hinata kemudian diangkatnya tubuh hinata dan dibawanya ke kamar lantai satu dan kembali pakaian mereka berserakan di lantai.
000
"bagaimana itu bisa terjadi?" shikamaru berbincang dengan gaara siang itu, "kau melihatnya sendiri?"
Gaara menganggukkan kepalanya dengan yakin, "hn. Mereka berbicara disini sore itu. Pegawaiku bilang mereka menyebutkan soal taman hiburan di dekat sini" jelas gaara, "tidakkah dia banyak berubah?"
"wow" kata shikamaru, "aku tidak tahu kalau gadis itu bisa merubah sasuke. Lalu, bagaimana dengan'nya'?"
Gaara menaikkan bahunya, "entahlah. Tapi aku yakin sasuke tidak akan melupakannya. Gadis itu hanya mengambil keuntungan darinya. Aku harap sasuke berpikir jernih karena mungkin saja dia akan mencari sasuke."
000
Langit terlihat sangat jingga di komplek itu. "kami mendapatkan ini" gadis berambut kuning itu melemparkan beberapa foto sasuke dan hinata saat berada di taman hiburan, "bukankah dia pasanganmu?"
Gadis berambut merah muda itu tersenyum, "jadi.. dia sudah bisa menerima gadis itu? Lelaki brengsek. Dia yang mengatakan kalau akan mengirimiku uang tapi sampai saat ini tidak ada seperserpun uang yang masuk. aku akan menemuinya" katanya dengan seringai licik di bibirnya.
"bagaimana kau akan memperdayanya, rubah?"
Gadis itu mengusap-usap perutnya, "aku akan menggunakannya" katanya dengan licik. Senyuman jahat di bibirnya menandakan kalau dia memiliki sebuah rencana yang telah tersusun dengan baik di kepalanya dan dia memiliki sebuah senjata yang mematikan untuk mendapatkan lelaki itu kembali.
