Part 4

Gadis itu berada di depan rumahnya tersenyum manis dan ceria. Tangannya membawa sebuah tas besar entah apa isinya. "kau bilang kau mencari sasuke?" ulang hinata kepada gadis berambut merah muda itu.

"iya" jawabnya dengan riang, "namaku Sakura Haruno. Kau tidak akan mempersilahkan aku masuk?" katanya.

"ah iya. Silahkan" kata hinata yang membuka pintu rumahnya dan membiarkan gadis itu masuk. "tunggulah sebentar. Sasuke hanya pergi ke mini market terdekat" tambha hinata. Hinata pergi ke dapur kemudian menghidangkan the hangat untuk tamunya itu.

"terimakasih" jawab sakura.

"apa tidak keberatan jika aku tinggal kau sendirian?" Tanya hinata, "aku harus menyelesaikan beberapa pekerjaan kantorku" katanya.

"tidak apa. Aku akan menunggunya disini" jawab sakura dengan suara merdunya. Hinata kembali kedalam ruang kerjanya dan berusaha menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk itu meskipun pikirannya sedang tidak focus saat ini.

"aku pulang" sasuke masuk ke rumah kemudain sakura langsung menyambutnya dengan senyuman. "a-apa yang kau lakukan disini?" katanya kaget melihat sakura berada di rumahnya.

Hinata kemudian muncul dari belakang sakura, "hai…" sapaan hinata itu bermakna banyak bagi sasuke, "aku akan menunggumu di ruang kerja." Kemudian hinata berbalik kembali kedalam ruangannya.

Sasuke menatap tajam kearah sakura dan memojokkan gadis itu, "apa yang kau lakukan disini?" katanya dengan nada kesal, "aku bilang aku akan menghubungimu jika semuanya sudah membaik."

Sakura tidak menanggapi nada bicara sasuke yang kesal terhadapnya malah sebaliknya tangannya yang nakal menjalari tubuh sasuke, "kenapa kau tidak senang aku berada disini? Kau bisa menggunakanku kapanpun kau mau jika istrimu sedan tidak ada dirumah" goda sakura yang kini tangannya sudah menyelinap kedalam celana sasuke.

000

Sasuke masuk kedalam ruang kerja hinata, "hai" sapanya yang mengecup kening hinata, "maafkan aku.. dia hanya teman yang berkunjung. Dia akan tinggal disini selama beberapa hari. Boleh kan?"

Hinata melihat kearah sasuke dan tersenyum, "hn.. tentu" jawabnya singkat.

Makan malam itu terasa canggung karena ada tiga orang dalam satu meja dimana biasanya hanya ada sasuke dan hinata di meja itu. "ini menyenangkan. Kita seperti keluarga disini" kata sakura ditengah-tengah santap makan malam mereka.

Sasuke membrikan kamar kosong di lantai dua kepada sakura sementara hinata akan tidur di kamarnya. "tidurlah disini" kata sasuke yang membantu sakura mengangkat tasnya.

Sakura memeluk sasuke dari belakang, "kau akan tidur bersamaku?" katanya dengan nada yang imut.

"tidak. Aku akan bersama hinata" katanya yang melepaskan pelukan sakura. "sampai ketemu saat sarapan" kata sasuke.

"aku hamil" kata sakura yang senang berhasil menghentikan langkah sasuke untuk menjauh darinya, "aku hamil anakmu."

Hinata mendengarnya, gadis itu mengatakannya ketika dia hendak naik kelantai dua untuk mengucapkan selamat malam kepada sakura. Hinata menunggu apa yang akan di katakana oleh sasuke namun dia sama sekali tidak bisa mendengarnya dan melihat sasuke yang sduah turun ke bawah dan bertemu dengannya di tengah tangga. "a-aku hanya ingin mengucapkan selamat malam kepada sakura" kata hinata yang berusaha menyembunyikan keterkejutannya. Hinata berjalan perlahan menuruni tangga menuju ke kamarnya. Berita yang dia dengar tadi membuatnya tidak bisa seimbang dalam menuruni tangga sehingga dia hamper jatuh jika tidak di tahan oleh sasuke.

"hati-hati" kata lelaki itu yang membantu hinata berdiri. Sasuke mengantarkan hinata sampai ke kamar dan duduk di pinggir ranjang. Mereka saling menunjukkan punggung dan tidak berkata satu patah katapun. Dalam kesunyian mereka berdua malam menjadi sangat sunyi, jangkrik-jangkrik bernyanyi memanggil hujan dan beberapa kendaraan masih lalu lalang di depan rumah mereka.

000

Pagi itu hinata melihat sakura dan sasuke berada di halaman rumah mereka mengambil hasil sayuran yang sasuke tanam. Sebelumnya hinata berpikir kalau sasuke tidak akan menerima sakura dan akan lebih memilihnya namun pikirannya ternyata salah. Sasuke yang biasanya berusaha mengggugurkan kandungan setiap wanita yang dihamilinya namun perilaku itu berbeda pada sakura. Jadi, hinata berpikir kalau sakura adalah seseoran gyang special bagi sasuke.

"kau akan pergi kemana, hinata?" Tanya sasori yang muncul di hadapan hinata. "aku memanggilmu sejak keluar rumah, tapi sepertinya ada sesuatu yang mengganggu di pikiranmu sampai kau tidak bisa mendengar panggilanku."

"ah.. maafkan aku" jawab hinata tanpa emosi di wajahnya. "aku akan memebeli beberapa bahan makanan dan beberapa cemilan."

Sasori merasakan sesuatu yang mengganggu hinata dan ingin mencoba mengoreknya, "bukankah kemarin sasuke baru saja membeli bahan makanan?" Tanya sasori berusaha mengorek secara perlahan-lahan.

Hinata mengambil keranjang belanjaan yang terletak di pintu masuk mini market, "sudah habis. Aku harus membelinya lagi" jawab hinata yang masih tidak memiliki emosi di wajahnya.

Sasori berhenti berjalan dan mengambil troli kemudian menyusul hinata. "akan aku temani" katanya mengambil keranjang yang ada di tangan hinata, "apa ini mengenai gadis yang baru datang ke rumahmu?"

"bukan. Dia …"

Sasori melihat kesedihan yang mendalam ketika dia menyinggung hal itu, "aku tidak akan bertanya lagi. Kau ingin memasak apa? Akan aku bantu."

000

"ngh… permainanmu semakin mengagumkan, sasuke" kata sakura yang tidur diatas dada sasuke, "kau.. tidak bisakah kau pindah dari rumah ini?"

Sasuke menyalakan rokoknya, "tidak. Kau ingin aku memberi makan apa? Aku tidak memiliki pekerjaan sekarang" jawab sasuke yang memakai celananya, "berpakaianlah. Hinata akan segera pulang, aku tidak ingin dia melihat kita begini."

Sakura hanya melihat sasuke yang keluar dari kamarnya. Untuk memastikan, sasuke belum benar-benar lepas dari dirinya. Lelaki itu masih mau jika diminta 'bermain' dengannya dan hal itu membuat sakur sedikit lega. Perempuan bernama hinata itu sejak awal selalu membuatnya gelisah, gelisah akan mengambil sasuke dari sisinya. Pekerjaannya yang lama tidak berjalan lancer karena satu hal dan sasuke yang tidak mengetahui itu masih mau 'memakainya' untuk kesenangan meski yang lain sudah membuang sakura.

Sakura turun ke lantai 1 sesaat setelah dia selesai berpakaian dan melihat sasuke berdiari di jendela depan melihat sesuatu. "apa yang kau.."

Tiba-tiba sasuke langsung berlari ke depan tv dan menonton acara tv yang dia nyalakan. Berusaha tertawa meskipun itu bukan acara komedi. Kemudian sakura melihat hinata masuk dengan membawa belanjaan bersama sasori, sakura dan sasori sudah berkenalan kemarin ketika sasori mengambil kelincinya yang masuk ke pekarangan rumah hinata dan sasuke.

"aku pulang" kata hinata diikuti oleh sasori di belakangnya. Belanjaan yang di bawa hinata cukup banyak, sakura berpendapat kalau hinata akan membuat sesuatu yang berbeda untuk mereka makan hari ini.

Tiba-tiba sasuke menoleh kearah sasori dan hinata berdua, "kenapa kau ada disini?" katanya pada sasori. Sakura bisa melihat raut marah di wajah sasuke. Kemudian sasuke mengambil belanjaan yang ada di tangan sasori dan mengikuti hinata ke dapur.

"hai sakura" sapa saori sambil tersenyum, "kau akan kebawah? Kenapa melamun disitu?"

Sasori membuyarkan lamunan sakura, "oh hai" katanya sambil tersenyum. Sakura tahu sasuke menyukai hinata, belum bisa disimpulkan tetapi sasuke berperilaku berbeda dengan hinata saat ini.

"aku akan mengajarkan hinata membuatkan pasta" kata sasori yang sudah berada di dapur "sasuke sebaiknya kau duduk saja di meja makan dan menungu masakan kami selesai" tambahnya yang mengambil apron yang digantungkan di dekat kulkas dan memberikannya kepada hinata.

"APA?!" sasuke marah.

Sasori menatap sasuke dengan tajam, "kau bisa memasak? Lebih baik kau menjadi pencicip saja" katanya yang membuat sasuke semakin kesal.

Kemudian sasuke duduk di meja makan dan hinata memberikan yogurt untuk dimakan oleh sasuke. "aku membelinya untukmu. Aku akan memasak, tunggu ya" katanya dengna lembut.

"haruskah kau terus membawa sasori ke rumah ini?" kata sasuke yang mulai memakan yogurt nya. "sasori, apa kau sudah memberikan makan pada kelincimu?"

"sudah" jawab sasori yang sedang memotong beberapa bahan, "aku sudah memberinya makan ketika aku melihat hinata keluar rumah."

Pemandangan itu menjelaskan kepada sakura berapa banyak yang terjadi dalam rumah tangga ini. Hinata bukan seseorang yang bisa dia singkirkan begitu saja dan sasuke lebih banyak terkena jaring hinata di bandingkan yang dia pikir.

"aku akan ke kantor besok" kata hinata yang sudah mulai menyelesaikan masakannya satu per satu. "pagi-pagi."

"aku akan mengantarmu" kata sasuke yang membuat sakura terhenyak, "bangunkan aku jika kau sudah siap." Sakura bisa melihat sasuke yang berbeda saat ini, sasuke yang bercinta dengannya beberapa waktu lalu dan sasuke yang duduk di meja makan bersamanya saat ini seperti dua orang yang berbeda.

000

"aku akan menemui lagi disini" kata hinata yang memberikan salam perpisahan pagi itu kepada sakura di stasiun kereta. Pagi-pagi sekali ketika hinata akan pergi ke kantor tiba-tiba sakura ignin ikut serta, katanya ada beberapa urusan yang harus dia urus disini. Hinata kemudian memutuskan untuk membawa mobilnya sendiri tanpa di dampingi oleh sasuke. Sesampainya di kota, sakura minta diturunkan di stasiun terdekat kemudian hinata pergi ke kantornya sendirian.

Sasuke membiarkan hinata pergi sendirian karena dia pikir suasana sudah membaik. Orang-orang pain tidak akan lagi mengejar hinata, tapi dia tidak pernah tahu bahwa seseorang selalu mengintai pergerakannya.

Siang itu hinata baru saja keluar dari ruang meeting ketika melihat sasuke berada di kantornya sedang memunggunginya menatap keluar jendela. "kejutan. Kenapa kau disini?" Tanya hinata yang menaruh dokumennya diatas meja dan terkejut ketika melihat wajah sasuke yang penuh luka ketika membalikkan badan menghadap hinata. "apa yang terjadi dengan wajahmu? Ada lagi yang terluka?" Tanya hinata yang langsung memeriksa wajah sasuke.

Sasuke memegang tangan lembut hinata yang menyentuh wajahnya dan mencium bibirnya. Sasuke tidak bekata apa-apa dan hanya memeluk tubuh mungil hinata dan gadis itu membiarkannya untuk beberapa saat.

"orang-orang itu berada dirumah" kata sasuke sambil melepaskan pelukkannya, "aku tidak ingin kau kembali kesana. Kita harus pindah" tambah sasuke. ".. dan aku ingin hanya kita berdua" tambahnya lagi.

"apa?" hinata Nampak marah dengan hal itu, "kau akan membiarkan sakura sendirian? Sasuke, kita paling tidak harus membawanya" tambah hinata "dia sama bahayanya dengan aku dan kau."

"tapi kamu adalah prioritasku" kata sasuke mencoba mejelaskan kepada hinata, "sakura mampu bertahan meskipun tidak ada aku disampingnya. Tapi aku benar-benar harus melindungimu."

Hinata menyentuh wajah sasuke, "dengarkan aku. Bukan aku yang kini menjadi prioritasmu tapi sakura. Sasuke dia sedang mengandung dan kau tahu itu" kata hinata, "dia lebih membutuhkanmu disampingnya dibandingkan denganku."

"yeah, hinata akan baik-baik saja"seseorang tiba-tiba masuk kedalam kantor hinata dan mengganggu mereka berdua, "aku yang akan melindunginya." Seseorang bertubuh tinggi dengan rambut kuning berdiri di depan pintu dan di belakangnya ada sasori.

"sasori" kata sasuke tidak percaya apa yang sedang dia lihat.

Hinata membalikkan badannya dan terkejut, "n-naruto?" sasuke meyadari hinata mengenali orang itu dan dia memiliki perasaan yang tidak menyenangkan terhadap laki-laki itu.

Naruto tersenyum kepada hinata, "hai. Senang bertemu denganmu. Aku kecewa kalau aku terlalu lama datang sehingga kau telah menjadi istri orang lain. Kau tetap menawan, hinata" naruto mencium pipi hinata di depan sasuke. Naruto menatap sasuke dengan mata tajamnya, "hai tuan Uchiha. Kami akan membutuhkanmu untuk investigasi dan keterangan lebih lanjut" katanya yang melihat serius kearah sasuke.

000

"siapa dia?" tanya sasuke ketika hinata berusaha mengobati luka-luka di wajahnya. "kalian nampak saling mengenal. Apa dia seseorang yang tidak aku kenal sebelum kita.."

"dia naruto uzumaki" jawab hinata memotong pembicaraan sasuke. Tangannya dengan terampil mengolesi obat ke luka di wajah sasuke, "dia seseorang yang aku kenal sebelum kau dan aku menikah. Dia pergi untuk waktu yang lama, aku menunggunya sampai aku harus menikah denganmu. Dia orang yang baik jadi kau tidak perlu khawatir dengan dia."

Sasuke menatap sendu kearah hinata, "kau pasti angat menyukainya" kata sasuke yang membuat hinata berhenti mengolesi obat di wajahnya, "aku melihat emosi yang berbeda ketika kau membicarakannya."

"tentu" jawab hinata, "sama seperti kamu yang memiliki sakura. Sudah selesai. Biarkan obatnya mengering" kata hinata sambil tersenyum.

Naruto datang mendekati mereka, "persiapkan dirimu lusa, sasuke. Kita akan memulainya" kata naruto, "dan hinata.. sasori akan menjagamu selama kami melakukan ini" tambahnya.

"terimakasih, naruto" jawab hinata dengan lembut. Sasuke merasa tubuhnya tidak enak saat itu.

"ngomong-ngomogn bisakah kau memberikan kami tempat berdua?" kata sasuke kepada naruto, "ada yang harus aku bicarakan dengan hinata tanpa gangguan" tambahnya.

"tentu. Kami sudah menyiapkan tempat kalian tidur" katanya, "sasori akan mengantar kalian berdua kemudian paginya dia akan menjemputmu, sasuke."

"ok." Sasuke melirik kearah hinata dengan penuh pemikiran di kepalanya. Sore itu sasori mengantarkan mereka ke sbuah hotel berbintang yang masih dimiliki oleh Uchiha Group. Hotel ini dijamin aman untuk mereka tinggali Karen aterdapat keamanan super ketat di dalamnya.

000

Sasuke baru saja selesai mandi ketika hinata sedang membaca beberapa majalah di pinggir kasur. Tidak langsung memakai pakaiannya, sasuke tidur di pangkuan hinata dan menarik tangan hinata agar melingkari lehernya. "aku ingin seperti ini sebentar" katanya. Hinata tidak mempermasalahkan hal itu dan membiarkan sasuke terbaring di pangkuannya.

Jam menunjukkan pukul 11 malam dan hinata melihat sasuke masih tertidur dipangkuanya. Dengan perlahan-lahan dia memindahkan kepala sasuke dari pahanya dan menggantikannya dengan bantal yang empuk sementara hinata membasuh tubuhnya dengan air hangat. Badannya terasa segar malam itu sekaligus bergairah. Mengguyur tubuhnya dengan air hangat mengingatkannya pada malam pertama kali sasuke menyentuh tubuhnya. "agh" tanpa sadar hinata mengeluarkan desahan karena mengingat betapa nikmatnya malam itu.

Sasuke sudah mengubah posisi tidurnya ketika hinata keluar dari kamar mandi. Kemudian hinata menutupi tubuh telanjang sasuke dengan selimut hingga ke dada, "kau seharusnya memakai pakaian dulu sebelum tidur" kata hinata sambil menatap sasuke.

Tangan sasuke kemudian meraih hinata dan membuatnya terduduk di pinggir kasur, "aku menunggumu hingga tertidur. Kau lama sekali" katanya yang membuka ikatan handuk hinata. Dicumbunya leher hinata dari belakang dan perlahan-lahan sasuke membuka handuk yang menutupi tubuh hinata, "aku mendengar desahanmu tadi. Sangat menggoda" goda sasuke yang memijat pinggul hinata.

Hinata tidak memiliki sesuatu untuk dikatakan selain nafasnya yang memburu cepat. Nafas berat sasuke terdengar di telinganya dan menyentuh kulitnya yang sensitive. Hinata menggiring tangan sasuke untuk menyentuh daerah kewanitaannya dan membiarkan sasuke melakukan apapun kepada tubuhnya.

Sasuke mengangkat tubuh hinata hingga berada di bawah tubuhnya. "aku akan menguasaimu malam ini" bisik sasuke di telinga hinata kemudian dia langsung melakukan aksinya. Hinata menerima semua yang dilakukan sasuke terhadap dirinya. Tubuhnya terasa melayang dan sentuhan sasuke pada setiap inci tubuhnya sangat membuatnya nyaman.

Sasuke melakukanya dengan tempo pelan-cepat-pelan-cepat. Tubuh hinata yang bergoyang dibawahnya hanya membuat sasuke semakin bergairah dan permainan itu semakin lama.

000

"apa kau tidak apa-apa harus mendengar ini,Naruto?" kata sasori di sisi lain kamar sasuke dan hinata, "nampaknya mereka sedang menikmati waktu mereka sendiri. Lalu kau dan hinata…"

"lanjutkan saja pekerjaanmu,sasori" kata naruto yang menatap keluar jendela dengan pikirannya sendiri. Ini kali pertama dia bertemu hinata setelah beberapa tahun dan ketika dia tiba disini, dia langsung mendapatkan laporan mengenai Sasuke Uchiha yang tengah menjadi incaran Pain gembong narkoba yang selama ini dia awasi dengan ketat dan telah melarikan diri dari penjara dengan jaminan oleh orang yang masih misterius. Sialnya lagi, sasuke memiliki beberapa keluarga yang harus mereka jaga keselamatannya diantaranya adalah Itachi Uchiha, Sabaku Gaara dan Shikamaru Nara kemudian yang membuat naruto terguncang adalah Hinata Hyuuga termasuk di dalamnya. Naruto mendapatkan laporan lebih lanjut bahwa sasuke dan hinata telah resmi menjadi sepasang suami isteri beberapa waktu yang lalu. Hinata yang seharusnya mendampinginya saat ini malah berada di pelukkan lelaki lain yang harus dia lindungi.

"aku akan pergi mencari angin di luar. Kau tetaplah siaga" kata naruto kepada sasori. Mereka harus siaga 24 jam selama pain belum tertangkap. Penjahat itu akan segera mereka tangkap dengan sasuke sebagai pemancingnya karena pain memiliki dendam dengan sasuke yang harus terbalaskan.

Sejauh pengetahuan naruto, sasuke adalah playboy licik yang suka mempermainkan perempuan. Adik pain salah satunya. Sasuke menghamili adiknya dan menyuruhnya menggugurkannya kemudian adiknya meninggal dalam proses aborsi itu. Tak lama berselang, sasuke membuat bangkrut usaha casinonya dan membuatnya sebagai tersangka narkoba. Ketika diberikan surat perintah untuk menangkap pain, naruto bahkan ragu mana yang harus dia lindungi dan mana yang harus dia penjarakan Karena sesungguhnya naruto merasa kasihan kepada Pain dengan semua yang menimpanya. Naruto menghentikan langkahnya, tapi kejadian itu benar-benar membangunkan monster yang ada dalam diri pain. Dia yang tadinya tidak terjun terlalu dalam pada dunia hitam kini berada di dasar dunia itu hingga tidak ada seorang pun yang mampu menolongnya.

000

Jam menunjukkan pukul 3 pagi. "jadi, kau akan menikah dengan naruto sebelum bertemu denganku?" kata sasuke pagi itu, "sayang sekali justru aku yang mendapatkanmu."

Hinata tidak menjawab perkataan sasuke dan hanya memeluknya. "kau bisa menikah dengannya setelah ini" tambah sasuke sambil mencium kening hinata.

Mata hinata agak berair ketka mendengar hal itu, "hn.. aku akan senang menikahinya" katanya kemudian disesali olehnya. Sasuke hanya tersenyum mendengar hal itu dari hinata. Cahaya bulan masih menyinari tubuh telanjang mereka dari jendela. Menjadi saksi atas gelora bercinta pada diri mereka. Hinata terbangun dan duduk dipangkuan sasuke menghadap wajah tampan sasuke malam itu, "kau.. pernahkah kau mencintaiku meski hanya sedetik?" tanyanya sambil menyentuh wajah sasuke. Luka wiajahnya masih belum hilang namun berangsur-angsur pulih.

Sasuke menarik pinggang hinata dan menyentuhkan hidung mereka berdua bersama, "tidak pernah. Tidak pernah sama sekali" jawabnya kemudian mencium bibir hinata dengan dalam dan menarik lagi tubuh mungil itu sampai tidak ada jarak diantara tubuh mereka.

000

Naruto kembali ke kamar hotelnya dan mendapati sasori terbaring lemas di sofa. "ada apa ini?" tanyanya bingung melihat sasori yang terbaring lemah dan tisu berceceran kemana-mana.

Sasori berusaha melihat kearah naruto berdiri, "aku tidak sanggup lagi. Merkea melakukannya lagi dan lagi. Tidak ada habisnya" jawab sasori.

Naruto melihat kearah layar tv yang menampilkan gambar sasuke dan hinata yang tengah saling bertatapan dan berbicara saut sama lain. "aku hanya menyuruhmu memperhatikan mereka tpai bukan berarti terbawa suasana oleh mereka" kata naruto yang kini duduk di depan layar sementara sasori sudah berada jauh di alam mimpinya. Naruto menatap wajah hinata yang dia perbesar. Meskipun berusaha untuk tidak terbawa suasana tapi hatinya masih belum bisa dibohongi, dia menginginkan hinata berada di sisinya sekarang bukan bersama lelaki itu.

Pagi menjelasng, mereka semua berkumpul dia ruangan khusus di café Gaara untuk membicarakan strategi yang akan mereka pakai untuk melawan pain. "naruto bisa aku berbicara denganmu setelah sarapan?" kata hinata pagi itu. Naruto hanya menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan hinata. Kemudian sasuke masuk kedalam ruang makan dan menicum pipi hinata. Naruto bisa melihat hinata yang sedikit tidak nyaman dengan hal itu namun sauske seperti sengaja menunjukkannya di depan naruto.