Title: 'Cause I Love You

Author: LoveHyunFamily

Cast: Oh Sehun

Kim Jongin

Wu Yifan

Other

Main pair: HunKai/Sekai; w/ KrisKai

Genre: Sad/Hurt/Comfort, Drama, Romance

Rated: T/16+

Warning: Yaoi; BL; Sho-ai dan sejenisnya

Disclaimer: Cast milik orang tua, agensi dan diri mereka sendiri. Ovie cuma make namanya aja. Dan tentunya cerita murni milik dari otak Kreatif Ovie

Summary: Sehun dan Jongin itu bersahabat. Sehun mencintai Jongin. Namun apa daya jika Jongin dijodohkan dengan seorang CEO muda. Dan parahnya setelah menikah, tubuh Jongin selalu penuh memar dan itu membuat Sehun geram. Apa yang akan dilakukannya?

.

.

Happy Reading

.

"Kami pamit pulang" Jongin berdiri diikuti Kris disampingnya dan memberikan Jongin jacketnya. Yang mana Jongin tersenyum menyambut jacket itu lalu memakainya. Kembali, Sehun mendengus tidak kentara.

"Baiklah. Terimakasih sudah berkunjung ya Jonginie" Sahut nenek dengan tersenyum kecil. Membuat Jongin juga balas tersenyum.

"Sama-sama nek. Lain kali aku akan berkunjung" Mereka—Jongin dan Kris- membungkukkan badannya sedikit lalu berjalan dimana audi milik Kris yang sudah menunggu mereka di pekarangan rumah Sehun beserta neneknya itu.

Jongin melambaikan tangannya saat mobil Kris hendak melaju. Dan ia mengacungkan jempolnya saat nenek sedikit berteriak "Datanglah lagi Jongin" Setelah itu melaju lah mobil milik Kris meninggalkan yang paling muda disana dengan hati tersayat-sayat.

Didalam mobil Kris sekarang hanya terjadi keheningan yang mencekam. Dengan aura pekat dari yang sedang menyetir—Kris. Dan Jongin hanya menundukkan kepalanya takut. Ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Maka dari itu lebih baik dirinya diam dan menyiapkan diri akan apa yang dilakukan suami tercintanya itu.

BRAKK

Ugh.

Ringisan lirih keluar dari bibir penuh itu saat dirinya dilempar dengan kasar di atas kasur besarnya.

PLAK

Lalu ia memegang pipinya yang terasa—sangat- panas. Dengan mata yang memanas pula. Hampir menangis.

"APA YANG KAU LAKUKAN HAH!?" Teriakan itu memenuhi kamar hingga menggema. Membuat telinga yang tadi ditampar terasa berdengung.

Yang ditampar hanya diam masih dengan tangan mengusap pipinya yang tiba-tiba terasa perih dan menunduk menyembunyikan wajahnya yang sudah merah menahan tangis.

Selalu seperti ini.

Ia pasti akan habis ditangan orang itu jika ia tidak mematuhi perkataannya. Tidak boleh keluar, tidak boleh kemana-mana. Ia kan juga butuh keluar rumah, sekedar refreshing. Dan tadi ia nekat lari dari rumah dengan tergopoh-gopoh berlari untuk menemui sahabat tersayangnya, karena demi Tuhan, ia tiba-tiba saja rindu pada makhluk albino itu. Dan mungkin tadi Dewi Fortuna sedang berpihak padanya. Karena setelah mencoba menghubungi sahabat tersayangnya tadi, mereka langsung bertemu. Seperti mereka ditakdirkan saja.

"Kau mencoba lari dariku bocah?" tanya orang itu lagi membuat Jongin—yang ditampar- tersadar dari lamunannya.

Kris—orang itu- tersenyum remeh pada keterdiaman Jongin. "Jadi benar kau mencoba lari dariku?" Jongin membelalakkan matanya. Apa yang suaminya itu bicarakan? Mana mungkin ia mencoba lari, ia hanya butuh keluar dari rumah ini untuk melihat dunia. Dan ia sangat ingin berjalan-jalan dengan suami tampannya itu. Tapi ia sendiri takut dengannya, takut jika menginginkan sesuatu maka akan dipukuli lagi.

Jongin menggelengkan kepalanya keras. Menolak apa yang sudah suami tampannya itu katakan. "Yang benar saja. Kalau begitu kau mau apa keluar tanpa minta izin huh?" Kris mendekatkan wajahnya pada Jongin yang sudah tersandar pada headboard ranjang tersebut. Menciumi aroma tubuh Jongin yang membuat Kris terasa berada dilangit ketujuh. Yang benar saja bagaimana bisa seorang lelaki miliki aroma yang sangat pekat?

"A-aku hanya ingin berjalan-jalan" jawab Jongin sekuat tenaga, menjaga lenguhannya agar tidak keluar karena sekarang suami tampannya itu sedang menjilat bagian tersensitifnya—belakang telinga.

"Lalu kenapa kau bisa berada dirumah si kerempeng itu?" Setelah kata-kata itu keluar dari mulut suami tampannya Jongin mendorong Kris dengan kuat, ia tidak terima jika sahabatnya dikatai yang tidak baik apalagi—

"Sehun tidak kerempeng!" Jongin berujar pelan namun sarat akan ketegasan. Ia tidak takut pada Kris jika suami tampannya itu sudah kelewat batas dengan menyebut sahabat terbaiknya yang tidak tidak.

"Wow. Siapa yang membela si kerempeng sekarang" Jongin memandang nanar wajah Kris yang sudah berhiaskan smirk mengerikan.

"Aku tidak membelanya Kris. Kenapa kau tidak pernah percaya padaku?" Lirih Jongin. "Kau tahu? Aku lelah seperti ini. Kris aku mencintaimu. Sangat. Tapi kenapa kau berlaku seperti ini padaku?" Kris terdiam ditempatnya—masih dengan tatapan tajamnya pada Jongin. Tak tahu harus menjawab apa. Tapi ia juga tidak tahu kenapa setiap kali Jongin melakukan sesuatu yang tidak dikehendakinya, maka ia akan berlaku kasar pada Jongin. Seperti ada hasrat tersendiri saat Jongin melanggar perintahnya. Dan jika ia sudah melampiaskan hasratnya tersebut maka ia sendiri akan merasa puas. Physco? Bisa jadi, dan tentu saja Kris tidak menyadarinya.

"Kris, apa kau mencintaiku juga?"

Kris, apa kau mencintaiku juga?

Kris, apa kau mencintaiku juga?

Wajah Kris berubah menjadi linglung, dengan tatapan kosong menatap Jongin dihadapnnya yang sedang menunduk. Entahlah, itu seperti kalimat baru bagi Kris. Karena dulu sewaktu mengucapkan janji suci hanya mengatakan 'Ya, saya bersedia' bukan mengatakan 'Ya, saya mencintainya sepenuh hati'.

Kata-kata cinta tidak pernah keluar dari bibir tebal Kris. Tidak tahu kenapa, Jongin pun tidak mengetahuinya. Jika dulu Kris tidak bersikap sangat manis padanya, ia juga tidak akan jatuh cinta pada pria berdarah China-Canada itu. Namun apa yang bisa Jongin perbuat jika ia sendiri sudah jatuh terperosok sangat dalam pada pesona seorang Wu Yifan sekalipun dia sudah berlaku jahat pada Jongin?

Tidak ada selain pasrah.

Ck. Jongin sadarlah. Masih ada yang lebih mencintaimu diluar sana.

"Kenapa dulu kau berlaku sangat manis terhadapku? Dan kenapa sekarang kau tidak pernah berlaku demikian lagi untukku? Untuk istrimu" Kris merasa geram dengan kalimat itu. Mendengarnya seperti ia manusia paling jahat didunia saja. Kembali, tatapannya menajam pada Jongin.

"Aku mencintaimu suamiku. Kenapa kau—"

PLAKK

.

PRANG

Sehun terkaget saat gelas yang sedang dicucinya terjatuh dan pecah seketika. Membuat nenek yang sedang mengangkat jemuran dibelakang lari dengan tergopoh-gopoh menghampiri cucu semata wayangnya.

"Sehun. Ada apa?" Tanya sang nenek. Dengan napas yang sedikit tersenggal.

"Ah. Tidak apa nek. Aku hanya melamun" Nenek Sehun tidak menjawab, memandang cucunya tersebut dengan lekat.

"Nenek merasakan sesuatu tentang Jongin"

DEG

Sehun melebarkan kelopak matanya. Kenapa neneknya bisa merasakan demikian? Yang sialnya, ia juga merasakan apa yang tengah dirasakan neneknya pada Jongin. Jantung Sehun berpacu, ada apa dengan Jongin? Sesuatu tentang Jongin?

Jangan-jangan—

"Nek. Bolehkan setelah ini aku kerumah Jongin?" Tanya Sehun langsung pada neneknya yang masih terdiam disana.

"Iya. Kerumah Jongin. Ini perasaan nenek saja atau apa—Ya Tuhan semoga Jongin tidak apa-apa" Neneknya mengatupkan tangan didepan dada. Berdoa agar Jongin dilindungi Tuhan.

Sehun tersenyum pada neneknya dan dengan secepat yang ia bisa, ia menyelesaikan pekerjaannya yang sebelumnya membereskan pecahan gelas tadi.

.

.

Dijalan, Sehun menggerutu tidak jelas. Jongin belum juga mengiriminya pesan. Pesan dimana ia akan memberi tahu alamat rumahnya. Perasaannya semakin tidak enak akan Jongin. Tak pernah dirasakan kegundahan seperti ini sebulan belakangan. Dan setelah pertemuannya dengan Jongin beberapa jam lalu, itu seperti membuat ikatan keduanya semakin menguat. Sehun tidak tahu perasaan seperti ini apa juga tengah dirasakan Jongin direlung hatinya—memikirkan satu sama lain. Sehun terkekeh perih, tidak mungkin Jongin tengah memikirkannya, sedangkan ia sendiri sudah memiliki suami yang mana ia sangat mencintainya.

Mengingat Jongin yang sangat mencintai Kris, Sehun menggertakkan giginya. Ia sangat geram pada Jongin yang lembek—bukan, bukan bermaksud mengatai- coba bila ia sedang diperlakukan Kis dengan tidak baik itu ia melawan. Jangan diam saja. Sehun mendesah lirih, cinta memang membutakan semuanya. Dan ia sadar itu. Karena dulu ia juga mengalaminya—dimana ia yang seperti mayat hidup karena tidak bisa move on dari Jongin.

Sehun mendesah lagi saat melihat layar ponselnya. Tidak ada pesan dari Jongin.

"Bagaimana kau bisa tahu aku disini Kris?"

"Kau lupa? Kau mengaktifkan GPS mu sayang"

Tiba-tiba percakapan Jongin beserta Kris melintas di kepalanya. GPS Jongin aktif!

Sehun menepuk jidatnya pelan. Kenapa ia sampai tidak memikirkan itu. Dengan cepat Sehun membuka screenlock nya dan melacak dimana Jongin berada. Setelah beberapa detik mencari, Sehun mengembangkan senyumannya. Jongin ditemukan. Ternyata rumah Jongin hanya lima blok dari Sehun berdiri sekarang. Ia hanya butuh naik bus.

.

.

"Kris, jangan Kris… Hiks"

"Diam dan nikmatilah sayang. Kau pasti juga akan ketagihan setelah ini"

"T-tidak… Aku tidak mau Kris"

Jongin meronta dibawah kukungan Kris yang mana mereka sudah sama-sama bertelanjang dada. Kris dengan beringas merobek kaos yang dugunakan Jongin sebelumnya. Membuat Jongin terisak dibawahnya karena Kris memperlakukannya dengan kasar. Mereka tidak pernah melakukan ini sebelumnya, dan Kris tidak pernah menyentuhnya. Ini pertama bagi Jongin.

Ekspektasi Jongin mengenai bercinta dengan Kris terlalu tinggi. Ia memikirkan kalau ia bercinta dengan Kris bakal romantis, panas, penuh gairah dan cinta. Namun ternyata tidak, relalitanya sekarang. Kris dengan kasar menghisap serta menggigit leher Jongin layaknya vampire yang sedang kehausan. Jongin merasa sakit pada bagian lehernya, ia berpikir bahwa lehernya sudah berdarah.

"Hiks"

Sekali lagi, isakan keluar dari bibir indah Jongin. Ia lelaki, tapi kenapa tubuhnya sangat lemah dibawah Kris? Jongin merutuki dirinya yang sangat lembek ini. Ia bisa saja melawan. Ia bisa saja berteriak dengan nyaring hingga salah satu maid mereka mendengar mungkin. Tapi Jongin tidak mampu berteriak, berbicara saja rasanya susah sekali. Dan ia berpikir kalau ia berteriak, maka akan ketahuan kelakuan bejat suami tampannya ini. Dan Jongin tidak mau itu terjadi. Membuat nama Kris tercemar karena berusaha menyetubuhinya dengan kasar? Oh tidak, Jongin tidak sejahat itu.

Ck. Jongin, kau terlalu bertele-tele. Sekarang kau tengah dalam bahaya. Dan kau tidak ingin berteriak minta tolong? Kenapa tidak ingin berteriak minta tolong? Cinta? Cih, persetan dengan cintamu pada Kris Jongin. Bagaimanapun kau cintanya terhadap orang itu, ia tidak akan membalas dan tidak akan pernah.

Karena ia seorang physco!

"Kris. Akh!" Jongin memekik kala tangan Kris dengan keras meremas miliknya yang masih terbalut celana jeans itu.

"Kau suka hm?" Kris terkekeh diakhir kalimatnya dan semakin meremas milik Jongin.

"Kris. Kumohon hiks… Jangan seperti ini" Kembali, Jongin terisak. Membuat Kris semakin melebarkan seringainya. Dia merasa bertenaga mendengar isakan Jongin.

"Lalu kau mau bagaimana hm?" Kris merendahkan tubuhnya dan menjilat daun telinga Jongin dengan sensual. Sedangkan Jongin mati matian menjaga agar desahannya tidak keluar. Kemudian tangan Kris terulur untuk membuka ikat pinggang Jongin. Jongin yang tersadarpun membelalakkan matanya.

Tidak, bukan ini yang dia mau. Dia tidak mungkin melakukannya bersama Kris dikala orang itu sedang dikuasai sakit jiwanya. Jongin tidak menyangka kalau Kris memiliki kelainan seperti ini. Ia mengira Kris orang yang baik dan juga setia. Penuh cinta tentunya. Tapi ternyata tidak, kenyataan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan Jongin. Kris sakit jiwa, dan Jongin menyesal karena sudah memilih Kris sebagai pendamping hidupnya.

Sehun benar, seharusnya ia melaporkan pada orang tuanya tentang kasus ini. Tapi ia juga tidak bisa melakukannya, karena ia mencintai Kris. Sadarlah Kim Jongin!

Tangan Kris mencoba melorotkan celana Jongin, namun Jongin dengan keras menahan pantatnya di kasur agar celana itu tidak bisa ditarik. Membuat Kris menggeram marah.

PLAKK

Sekali lagi, wajah Jongin ditampar dengan keras. Hingga yang tadinya hanya lebam, sekarang sudut bibirnya mengeluarkan darah.

"Hah! Jangan melawan bocah!" teriak Kris diwajah Jongin yang sudah penuh lebam. Jongin kembali menangis, ia tidak pernah diberi perlakuan seperti ini. Semua orang mencintainya karena Jongin memiliki kepribadian yang sangat baik. Dan sayangnya, kali ini suami tercintanya lah yang berlaku demikian. Jongin tak tahu, kenapa Kris tiba-tiba berubah seperti ini. Dulu, saat mereka masih mencoba lebih dekat satu sama lain, Kris sangat baik padanya, bahkan sikapnya jauh lebih manis. Namun setelah pernikahan mereka diusia delapan hari, Kris berubah. Berubah sama sekali, Jongin tidak mengenal Kris pada waktu itu, karena pas Kris pulang dari perusahaannya, ia langsung ditampar, dipukuli habis-habisan. Sebagian maid dirumah juga sudah berusaha menjauhkan Kris dari Jongin. Tapi yang mereka dapatkan adalah tamparan dari Kris. Mereka sama bingungnya dengan Jongin. Ada apa dengan tuan besar mereka.

"Sehun..." entah kenapa Jongin melirihkan nama Sehun sekarang. Hanya sahabatnya itu yang sangat perhatian padanya. Tapi apa Sehun masih perhatian padanya setelah kejadian tadi siang? Jongin kembali memeteskan air matanya mengingat itu.

"Kau memanggil si kerempeng itu? Hah dia tidak akan datang sayang. Lagipula, untuk apa kau memanggilnya? Minta tolong?" Ucap Kris sarkastik. Membuat Jongin kembali geram dibalik tangisnya.

BRAKK

"SUDAH KUBILANG SEHUN TIDAK KEREMPENG DASAR PSIKOPAT!" Teriak Jongin mendarah daging. Ia sudah tidak sanggup. Ia tidak mau lagi mencintai Kris. Ia tidak suka Kris dan ia benci Kris sekarang. Ia hanya mencintai orang yang mencintainya dan tentunya tidak menyangkut-pautkan tentang rekannya didalam rumah tangganya, apalagi menjelek-jelekkannya. Jongin tidak suka itu.

Jongin mendorong Kris hingga ia terjungkal diatas kasur. Matanya semakin berkilat marah memandang Jongin. Tanpa membuang waktu, Jongin berlari meninggalkan Kris, yang sebelumnya memperbaiki keadaannya dengan cepat.

"YAK! KEMBALI KAU KIM JONGIN!" Teriak Kris membahana. Jongin tidak peduli, ia ingin kerumah ibunya sekarang juga dan melaporkan ini padanya agar ia bisa cerai dari Kris si psikopat itu.

"T-tuan Jongin. Anda ingin kemana?" Tanya salah satu maid dengan hati-hati saat Jongin menuruni tangga.

GREBB

"T-tuan..." cicit maid nya saat Jongin menggenggam pergelangannya kuat.

"Kau. Apa kau punya uang?" Selama Jongin menjadi istri Kris pun ia tidak pernah diberi nafkah. Dan Jongin baru sadar yang itu.

"A-ada t-tuan. Tuan ingin kemana?"

"KIM JONGIN! JANGAN LARI KAU!" Jongin merasakan tangan maid nya itu bergetar hebat saat mendengar teriakan Kris.

"Ayo ikut aku" Jongin menarik tangan maid itu dengan berlari menuju luar. Dan sang maid hanya bisa mengikutinya, untung saja dia tidak pakai heels. Karena biasanya mereka pakai heels.

Saat dihalaman rumah mereka-ralat- rumah si psikopat yang luas itu—

BRUKK

Kali ini siapa lagi, bodyguard Kris kah, batin Jongin geram.

Ia segera mendongak "APA YANG KAU—"

.

.

Sehun sampai dikediaman Jongin dan memandang rumah itu dengan takjub. Kemudian senyum getir menyapa wajah tampannya. "Pantas saja Jongin mencintai Kris. Dia kaya" lirih Sehun.

"Ada yang bisa saya lakukan nak?" Sehun tersentak saat mendengar suara itu. Seorang pria baya dengan kemeja biru malamnya, satpam..

"Ah, apa Jongin ada didalam? Aku ingin bertemu dengannya" Jawab Sehun yang sebelumnya membungkuk.

"Tuan Jongin ada didalam. Kalau boleh tau anda siapanya tuan Jongin? Bukannya lancang, hanya saja selama ini tidak ada yang mengunjungi tuan Jongin" satpam tersebut berucap sembari membuka pagarnya.

"Umm.. Aku sahabatnya paman. Kami baru bertemu lagi dan baru mengetahui alamatnya yang baru" Sehun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sembari tersenyum malu pada satpam yang bername tag Lee Kangin tersebut.

"Oh, baiklah. Selamat datang dikediaman Wu" ucap satpam itu lagi, kali ini ditambah pose menunduknya. Membuat Sehun terkekeh.

"Terima kasih paman" dan satpam itu membalas dengan senyuman sambil menutup kembali pagarnya. Sehun langsung saja berjalan menuju rumah dimana tempat sahabatnya bernaung. Agak bingung juga mengingat ucapan paman tadi. Tidak ada yang pernah mengunjungi Jongin? Sehun memiringkan kepalanya sedikit lalu tak lama lebih memilih mengangkat bahunya. Tidak peduli.

"—JANGAN LARI KAU!" Saat Sehun sudah hampir sampai di terasnya, ia mendengar teriakan samar-samar. Mengerutkan kening bingung, Sehun berjalan cepat kearah rumah itu sebelum ia melihat siluet yang sangat dikenalnya keluar dari rumah mewah itu dengan kepala menunduk dan seorang wanita. Tapi Sehun tau kalau wanita itu hanya maid—dilihat dari pakaiannya.

Itu Jong—

BRUKK

—In

"APA YANG KAU—" Tenggorokan Jongin tercekat saat melihat siapa yang tengah dihadapannya kini. Ia—mereka- terdiam, mengamati wajah satu sama lain. Jongin yang terpaku melihat Sehun dihadapannya, dan Sehun terpaku pada wajah Jongin yang lebamnya semakin parah dari yang tadi siang. Tangannya langsung terkepal dikedua sisi badannya, jadi ini firasat nya tadi. Ternyata tidak salah.

"Jongin/JONGIN!"

Dua orang memanggil nama yang sama dengan nada yang berbeda. Sehun memanggil Jongin dengan amarah yang ditahan dan suaranya terdengar berat. Sedangkan Kris berteriak senyaring-nyaringnya saat keluar dari pintu utama.

"T-tuan..." Cicit maid yang tangannya masih dipegang erat oleh Jongin mampu menyadarkannya dari keterpakuan.

"Sehun..." Lirih Jongin.

"K—"

"Well, well, well. Lihat siapa yang datang" Sehun yang baru membuka mulut langsung dipotong oleh Kris dibelakang sana. "Jongin sayang, kau tidak ingin mengajaknya masuk hm?" Sehun sudah tidak sabar. Mendengar kata-kata yang terasa menggelikan itu membuat amarahnya semakin terasa di ubun-ubun.

"Mati kau setelah ini" geram Sehun dengan melangkah gusar kearah Kris, jangan lupakan tangan yang terkepal kuat.

GREBB

"APA LAGI JONGIN!" Sehun tidak dalam masa tenang saat ini. Baru beberapa langkah dan tangannya sudah dicekal dengan orang yang sudah Sehun ketahui. Siapa lagi kalau bukan Jongin. Dan buat apa Jongin menahannya? Supaya tidak memukul Kris brengsek itu?

"DEMI TUHAN JONGIN, DIA TELAH MENYAKITIMU! APA YANG ADA DI OTAKMU HUH!" Kembali Sehun berteriak dihadapan wajah lebam Jongin saat sahabat tercintanya itu tidak melepaskan genggamannya pada lengannya. Sebenarnya dia bukan marah pada Jongin. Ia hanya marah pada sifat Jongin yang terlalu baik, biasanya ia yang suka dengan kebaikan sahabat tercintanya itu, kali ini tidak. Karena—yang benar saja- Jongin itu bodoh atau apa sampai tidak melawan saat dipukuli.

"Jangan. Jangan pukul dia Sehun" Jongin tahu, pasti sahabat tersayangnya itu sedang ingin menghabisi Kris sekarang juga. Dan ia tidak mau itu terjadi. "Cukup tinggalkan saja dia disini Hun-ah"

DEG

Lama sekali Sehun sudah tidak mendengar panggilan itu. Dan ia merindukannya.

"Kita kerumah orang tua ku, sekarang" Sehun masih terdiam setelah Jongin berujar demikian dengan lirih. Melupakan sosok Kris yang tengah menyilangkan tangannya di depan dada dan jangan lupakan senyum orang gilanya itu.

"Waahh.. Dramatis sekali. Kalian memang Drama Queen" Setelah kalimat itu selesai, terdengar tepuk tangan dari orang gila. Membuat Sehun kembali geram. Ia melepaskan genggaman Jongin dan berjalan mendekat kearah Kris yang kembali ke pose awalnya—tangan menyilang didada- mengabaikan Jongin yang berteriak pilu dibelakangnya. Ia tak peduli, yang penting ia membalas semua perlakuan orang gila itu dengan apa yang sudah dilakukannya pada sahabat tercintanya.

Semakin Sehun dekat, semakin senyuman diwajah orang gila itu tambah lebar. Sehun menyeringai, orang gila itu tersenyum sangat lebar, tidak sadar dengan kematian yang akan menjemputnya batin Sehun seperti orang kesetanan. Semakin dekat dan dekat, Sehun sudah mengangkat sebelah tangannya diudara dan ia sudah memprediksi apa yang akan terjadi berikutnya karena melihat wajah Kris yang terlihat santai-santai saja, berbanding terbalik dengan Sehun yang sangat dikuasai amarah. Ini tidak bagus, karena—

BUGH

Tidak. Mata Jongin memanas melihat pemandangan didepannya. Ia tak percaya, hingga ia jatuh berlutut sembari meneriakkan nama sahabatnya dengan pilu

"SEHUN!"

TBC

Hai~ ada yang menantikan ff ini? Panjang kan chap ini? Hehe..

Ovie bilang masalah terkuak semua, well tidak sepenuhnya sebenarnya. Baru tiga perempat /plak/

Bisa kalian tebak apa yang terjadi? Hayo hayooo~

Dan buat yang nanya kenapa Kris suka mukulin Kai. Yaaa.. Kris itu memang orang gilaa~ haha. Terserah kalian mau nyebutnya physco ataupun bdsm. Yang pasti Kris disini gak normal. Maafkan Ovie karena menjadikan chara Kris disini begitu ya, maaf juga buat fans nya Kris. Ini tuntutan peran, yekan Kris? (K: Terserah lu aja Vie) Ehehe iyadeh iyaa.. Mangap atuhh.

Kalian ngerti aja kan tuh sama bahasa-bahasanya Ovie? Ini no edit ya, jadi maklumin kkk~

Big Thanks To:

KaiNieris; NunaaBaozie; Kimoy; asmayae; sayakanoicinoe; steffany.elfxoticsbaby; .9; cute; cheonsarang614; afranabilacantik; jungdongah; Mizukami Sakura-chan; Maharani; maharani; Wiwitdyas1; Kim Kai Jong; dan para SIDERS sekalian. (Maaf kalau salah nulisin namanya, sering juga kalau post lost word—mian)

Oya, kalau bisa panggil Ovie aja yah, gausah author/thor atau apalah. Ovie 99L kok. Biar akrab aja gitu hehe.

Akhir kata, salam ExoluXion~

EXO-L Jjang!