Sekarang sudah 11 tahun semenjak Sasuke memelihara burung gagak kesayangannya. Saat ini Sasuke sudah berusia 17 tahun, ia tumbuh menjadi remaja tampan dan pintar yang disenangi semua orang. Begitu pula dengan gagak peliharaannya yang kini sudah tumbuh semakin besar. Kebersamaan dan hubungan yang terjalin antara Sasuke dengan peliharaan burung gagaknya semakin erat. Sasuke sudah menganggap burung gagak itu bagian dari hidupnya begitu pula dengan Kuro sang burung gagak, ia selalu mengikuti dan menempel pada Sasuke. Awalnya teman-teman Sasuke sering kali memandangnya dengan aneh, bagaimana bisa sang Uchiha tampan begitu menyukai burung yang lebih sering dikenal dengan kesan kegelapan itu.
Naruto, Sasuke dan Shikamaru sedang menghabiskan waktu bersama dengan berjalan-jalan di pusat kota karena kebetulan sekolah mereka hari ini sedang libur.
"Hei Sasuke, tidak terasa sudah 11 tahun semenjak aku mengenal burung gagak mu itu. Kelihatannya kau sangat menyayanginya ya?"
"Tentu saja."
"Memangnya kau tidak risih ditatap oleh orang-orang dengan peliharaanmu yang menyeramkan dan tidak biasa itu?"
"Lebih tepatnya aku tidak peduli, lagipula Kuro tidak berbahaya kan?"
"Memang iya sih, sekarang Kurama juga sudah besar tapi aku tidak bisa membawanya kemana-mana. Tidak mungkin kan aku setiap hari membawanya jalan-jalan?"
"Iya juga, tapi sebagai majikan tetap saja kau harus memperhatikannya."
"Kalau itu juga aku tahu. Terkadang aku iri melihatmu dengan Kuro."
"Hm? Kenapa?"
"Kalian berdua manis sekali, kemana-mana selalu pergi berdua. Kuro juga sepertinya sangat patuh padamu, dia sudah seperti dibawah kendalimu saja. Kalau Kurama kadang-kadang bisa menjadi anjing yang nakal dan tidak patuh juga sih. Hei Sasuke! Beritahu caranya bagaimana supaya hewan peliharaan bisa patuh dengan majikannya? Apa kau menggunakan trik tertentu?"
"Trik tertentu? Tidak. Jika kau ingin hewan peliharaanmu patuh padamu sebenarnya sederhana saja. Kau harus konsisten memeliharanya, ajari dia jika kau ingin dia menjadi seperti yang kau mau tetapi jangan sampai membuat hewan peliharaanmu terkekang."
"Aku juga telaten dalam mengajari Kurama, tapi tetap saja dia terkadang menyebalkan. Aku kan ingin dia patuh padaku. Maksudku adalah bagaimana Kuro bisa sangat mengerti dengan apa yang sedang terjadi padamu? Bagaimana Kuro bisa memahami mu? Bagaimana kau melatihnya hingga dia bisa jadi seperti itu?"
"Mungkin karena dia adalah seekor burung gagak. Kau tahu kan burung gagak itu hewan terpintar."
"Memang iya sih, aku pernah mendengar itu dari guru biologi kita. Tapi sepintar-pintar nya hewan tetap saja dia adalah hewan yang tidak akan pernah bisa memahami jalan pikiran manusia. Tapi kurasa burung gagakmu itu berbeda."
"Berbeda? Apa maksudmu?"
"Apa kau ingat saat kita masih kecil ketika kita main di hutan untuk menangkap serangga dan kau tersesat? Kau bilang kalau Kuro lah yang membantumu menunjukkan jalan pulang. Lalu ketika kita hampir diserang kawanan perampok secara tiba-tiba Kuro datang dan memanggil kawanan burung gagak lainnya dan mengusir kawanan perampok itu. Selain itu yang benar-benar membuatku kagum dengan hewan peliharaanmu adalah ia bisa menjawab operasi hitung sederhana ketika kita disuruh membantu Iruka-sensei dalam mengajari anak sekolah dasar dengan isyarat menghentakan kakinya pada meja kayu meskipun hanya penjumlahan pengurangan pembagian dan perkalian, tapi tetap saja untuk seukuran hewan burung gagakmu jenius." jelas Shikamaru.
"Apa yang dijelaskan Shikamaru tadi benar sekali, dia bukan hewan biasa. Dia pintar dalam mencari jawaban dari suatu masalah tapi masih ada satu hal yang membuatku heran."
"Apa?"
"Ketika kita berdua pergi ke Ichiraku Ramen dan kau berjanji akan mentraktirku tapi ternyata kau lupa membawa uang lalu secara mengejutkan Kuro datang menghampiri kita dan mengantarkan uang padamu yang ada di cengkraman kakinya. Yang jadi pertanyaan adalah bagaimana Kuro bisa tahu kalau kita akan pergi ke Ichiraku Ramen? Bagaimana dia bisa tahu kalau kau meninggalkan dompetmu di rumah sementara saat itu kau bilang di rumah tidak ada siapa-siapa."
Sontak Sasuke terhenyak dan menghentikan langkahnya.
Ucapan Naruto tadi benar, bagaimana hewan peliharaannya bisa tahu apa yang sedang terjadi padanya? Terlebih lagi hewan peliharaannya sudah tahu apa yang akan Sasuke alami nanti. Bagaimana ia bisa mengabaikan hal itu selama ini? Sasuke hanya berpikir burung gagak yang sudah dipeliharanya bertahun-tahun memang pintar, tapi setelah mendengarkan penjelasan dari Naruto dan Shikamaru ia sadar bahwa hewan peliharaannya lebih dari pintar, ia punya kemampuan tertentu.
"Sasuke?"
"Hn?"
"Apa selama ini kau mengajari Kuro? Kalau benar kau hebat sekali bisa mengajari hewan sampai jenius begitu."
"Aku tidak pernah mengajarinya. Aku hanya melakukan apa yang biasa majikan lakukan pada hewan peliharaannya."
Sekarang yang ada dipikiran Sasuke adalah...
Bagaimana bisa?
Bagaimana bisa Kuro sejenius itu?
Padahal selama ini Sasuke tidak pernah mengajarinya hal spesifik. Ia hanya membiarkan Kuro tumbuh dengan sendirinya, ia hanya melakukan apa yang biasa majikan lakukan pada hewan peliharaannya. Sasuke merasa bodoh karena tidak pernah meneliti dan mengamati lebih lanjut tentang hewan peliharaannya itu. Atau mungkin Sasuke hanya terlalu naif menganggap burung gagak itu terlalu biasa?
"Hei, Sasuke!"
"Hm?"
"Jangan jalan sambil melamun nanti kau jatuh."
"Kalau dipikir-pikir kok ada ya hewan sejenius Kuro, atau jangan-jangan..."
"Jangan-jangan apa Naruto?" kata Shikamaru penasaran.
"Jangan-jangan..."
Sasuke menatap intens pada Naruto menggambarkan ia juga penasaran dengan temannya si kuning jabrik.
"Jangan-jangan sebenarnya Kuro adalah jelmaan manusia."
"Hah?!" kata Sasuke dan Shikamaru bersamaan.
"Bisa jadi kan?"
"Kau ini yang benar saja? Mana mungkin seperti itu, sepertinya kau terlalu banyak membaca cerita mistis ya?"
"Hmm mungkin saja sih, akhir-akhir aku suka baca cerita novel tentang manusia yang berubah jadi hewan."
"Dasar Naruto, itu kan hanya fiksi. Tidak mungkin jadi kenyataan."
"Hahaha iya juga sih."
"Sepertinya kita terlarut dalam diskusi yang tidak masuk akal ini, aku dan Naruto sangat kagum dengan hewan peliharaanmu itu sampai berpikir yang bukan-bukan."
"Hehe iya itu benar. Oh iya ngomong-ngomong sekarang Kuro ada dimana, Sasuke? Tumben sekarang ia tidak menempel di pundakmu."
"Aku biarkan dia keluar dan terbang bebas. Jika matahari sudah tenggelam biasanya dia akan kembali ke rumah."
"Oh begitu."
Ketiga pemuda itu sudah berjalan cukup jauh sambil berbicara panjang, mereka bertiga memutuskan untuk membeli minuman di warung terdekat.
...
"Kami duluan ya!"
"Iya."
Naruto dan Shikamaru pulang ke arah yang sama sedangkan Sasuke ke arah yang berlawanan.
"Tadaima!"
"Okaeri, Sasuke. Kau dari mana?"
"Tadi habis berjalan-jalan di pusat kota dengan Naruto dan Shikamaru."
"Oh... Kau belum makan siang kan? Di meja makan ada nasi dan sup tomat yang baru ibu buatkan. Sesudah makan bisa bantu Ibu?"
"Bantu apa?"
"Gudang di lantai 2 berantakan sekali sepertinya Ayahmu lupa membereskannya, sesudah makan tolong rapikan dan tata ulang dus-dus sesuai ukurannya. Hari ini Ibu mau ke rumah Paman Obito ada keperluan."
"Baiklah."
"Ibu pergi dulu."
"Ya hati-hati."
Sasuke duduk di kursi meja makan dan mulai menyantap makan siangnya hari ini. Meskipun hanya nasi dan sup tomat bagi Sasuke itu adalah dua jenis makanan kesukaannya.
Sesudah 15 menit menghabiskan makanannya lalu ia mencuci peralatan makan yang digunakannya tadi. Lalu ia ingat perintah Ibu nya yang menyuruhnya untuk membereskan gudang di lantai 2.
Sasuke menuju lantai 2 tempat dimana kamar dan gudang berada. Gudang rumah berada di ujung lorong yang letaknya agak jauh dari kamar Sasuke.
Sasuke membuka pintu gudang itu, debu dan sarang laba-laba adalah 2 hal yang menyambutnya ketika ia masuk ke ruangan itu. Dilihatnya keadaan sekitar memang gudang ini berantakan, barang-barang yang tidak terpakai masih terseimpan disini. Sasuke mulai menyusun barang satu persatu berdasarkan ukurannya, kemudian dilanjutkan dengan dus-dus yang masih tersimpan tak beraturan. Sasuke mulai menyusunnya.
Sambil merapikan gudang, Sasuke melihat-lihat barang apa saja yang tersimpan di gudang itu dengan harapan ia menemukan barang yang masih bisa dipakai. Sasuke juga mulai membuka dus-dus itu.
Sasuke POV
Sekarang aku sedang membereskan gudang di lantai 2, gudang adalah ruangan yang sangat jarang aku masuki. Melihat keadaan sekitar yang berantakan membuatku ingin merapikan gudang ini. Sambil merapikan gudang aku melihat-lihat barang yang tersimpan disini dan membuka dus-dus yang berserakan.
"Sepatu yang bagus. Kurasa ini milik Ayah, meskipun agak sobek di bagian bawah tapi kurasa aku bisa memodifikasinya."
Selama aku membereskan gudang, aku menemukan berbagai macam barang mulai dari sepatu, baju sampai alat-alat elektronik yang belum dibuang. Lalu aku merapikan dus sesuai dengan urutan besarnya. Ketika hampir selesai aku menemukan dus berukuran sedang yang tersimpan di pojok gudang. Aku hampir lupa menyusunnya.
Dus berukuran sedang ini sudah sangat usang dan kotor, banyak sekali debu yang menempel. Tapi kenapa dus ini sampai disimpan di pojok dan di lakban segala? Aku sukses dibuat penasaran dengan dus ini. Aku pun membuka lakban yang merekat di dus ini dan membuka isinya. Ternyata isinya adalah...
Sepatu bayi
Baju bayi
Mainan anak-anak
Mungkin barang-barang ini dipakai ketika aku masih bayi. Aku melihat-lihat lebih dalam isi dus nya tapi aku sedikit terkejut ketika mendapati sebuah foto anak kecil. Aku tatap foto itu dengan seksama. Anak kecil berusia sekitar 5 tahun, rambut dan matanya berwarna hitam dengan ekspresi senyum manisnya. Apa ini aku? Ah bukan! Kata Ibu ketika aku masih kecil rambutku memang sudah berbentuk raven seperti ini. Tapi anak di foto ini rambutnya lurus kebawah.
Kenapa Ayah dan Ibu menyembunyikan barang-barang ini?
Lalu siapa anak yang ada di foto ini? Setahuku, aku tidak punya saudara seperti dia.
Ketika aku membalikkan foto ini terdapat sebuah tulisan.
.
.
.
Uchiha Itachi.
.
.
.
To be continued
A/N : Arrghh! Apa ini?! Terlalu pendek T_T Maaf baru bisa segini.
Makasih yang udah baca ff ini, review berupa kritik dan saran yang membangun akan sangat dihargai.
Byee~
