Title: 'Cause I Love You

Author: LoveHyunFamily

Cast: Oh Sehun

Kim Jongin

Wu Yifan

Other

Main pair: HunKai/Sekai; w/ KrisKai

Genre: Sad/Hurt/Comfort, Drama, Romance

Rated: T/16+

Warning: Yaoi; BL; Sho-ai dan sejenisnya

Disclaimer: Cast milik orang tua, agensi dan diri mereka sendiri. Ovie cuma make namanya aja. Dan tentunya cerita murni milik dari otak Kreatif Ovie

Summary: Sehun dan Jongin itu bersahabat. Sehun mencintai Jongin. Namun apa daya jika Jongin dijodohkan dengan seorang CEO muda. Dan parahnya setelah menikah, tubuh Jongin selalu penuh memar dan itu membuat Sehun geram. Apa yang akan dilakukannya?

.

.

Happy Reading

.

Mendengar perkataan Jongin, Sehun sebenarnya membeku. Tapi, jika ini adalah kesempatannya untuk mengungkapkan perasaannya terhadap Jongin. Akan ia lakukan sekarang. Tentang Jongin menerima atau tidak, itu urusan belakang. Bisa Sehun atur jika mau.

Dengan perlahan Sehun menggenggam tangan Jongin yang berada di lututnya sendiri. Dan Jongin yang melihat itu hanya menatap Sehun dengan bingung.

"'Cause I Love You Jonginiie"

"Huh?" Jongin memiringkan kepalanya, sebelum ia tersadar makna yang dikatakan Sehun itu. "Se-hun?"

Sehun yang merasa Jongin dapat menegerti apa yang tengah diucapkannya pun segera melanjutkan ucapannya. "Aku tahu ini terlalu mengejutkan untukmu Jongin. Tapi.. tapi aku sudah menyimpan ini sangat lama. Waktu itu, aku- a..aku tidak berani mengungkapkannya padamu, aku terlalu naïf" Sehun menjeda kalimatnya dengan menarik dan menghembuskan napasnya dengan pelan.

"Sehun aku-"

"Hingga waktu kita bertemu di taman sepulang kau dari Indonesia. Kau mengatakan kau dijodohkan ayahmu, tapi kau senang senang saja. Dan kau tahu betapa hancurnya hatiku saat itu Jongin?"

"Hun—aku"

"Bahkan guci mahal pun tidak dapat menggantikan hatiku yang hancur kala itu. Nenek yang mengurusku saja sampai kewalahan dengan sikap ku yang sangat keterlaluan setelah kau menikah dengan pria bajingan itu" Jongin menunduk saat melihat kilat marah saat dirinya menyebut 'pria bajingan' yang Jongin tahu kalau itu adalah Kris. "Nenek sempat mengatakan kalau aku seperti mayat hidup kala itu" kemudian terkekeh perih. Membuat hati Jongin ikut terasa perih.

"Sampai disaat kau menelpon ku—tadi pagi- dan ternyata kita berada di daerah yang sama. Saat itu aku sudah lumayan baik dan agak mampu move on darimu. Namun nyatanya, saat aku sudah berusaha melupakanmu dengan kita yang tidak pernah berkomunikasi satu sama lain. Kau dengan tidak tahu-nya datang lagi ke kehidupanku,"

"Sehun"

"Bukannya marah, aku malah merasa kasihan padamu. Karena tadi pagi kau terlihat sangat kacau dan aku bahkan merasa marah berfikir siapa yang sudah berani-beraninya membuat Jongin-ku seperti itu" Jongin menatap Sehun dengan pandangan berkaca-kaca. "Dan saat siang setelah kau pulang, aku sempat memecahkan sebuah gelas. Pikiran ku langsung tertuju padamu entah kenapa, dan lebih buruknya nenek juga merasa apa yang kurasakan. Setelah aku meyakinkan dirimu baik-baik saja—yang sialnya gagal- aku segera menyelesaikan pekerjaanku dan melesat kerumah si bajingan yang ternyata tengah memukulimu." Mata mereka bertemu untuk sesaat. Sampai Jongin menitikkan setetes benda cair yang turun di pipinya, Sehun merengkuh Jongin yang sudah terisak didadanya.

"Sehun.. Maaf"

"Dan kupikir ini waktu yang baik—walaupun tidak tepat- untuk mengungkapkan perasaanku yang sudah kusimpan selama bertahun tahun ini." Sehun melepaskan pelukannya dan menatap dalam manik Jongin yang basah. Menangkup kedua sisi wajah Jongin dengan telapak tangannya yang besar.

"Kau tahu. Kau itu sangat baik. Kau sangat perhatian dan juga ramah. Dan kau tahu apa yang sangat kusukai darimu?" Jongin tetap diam memandang Sehun masih dengan mata basahnya. "Sifat mu yang hangat dan penuh kasih sayang, aku sangat menyukai dirimu yang satu itu Jongin. Jadi jangan salahkan aku jika aku jatuh cinta padamu karena semua sikap dan sifatmu selama ini baik terhadapku ataupun orang lain"

"Sehun…" Oh tidak, Jongin ingin menangis lagi rasanya. Ia sudah lama tidak seperti ini. Sebulan hidup bersama Kris membuat dirinya menjadi tertutup; karena dirinya yang tidak pernah berkomunikasi dengan orang luar.

"Aku mencintaimu Jongin, dan apa kau mau menerimaku? Aku akan melakukan apapun untukmu, dan segenap jiwaku aku akan melindungimu dari bahaya apapun." Sehun mengangkat tangan Jongin hingga batas dada. Dan Jongin yang memandang Sehun masih dengan mata basahnya. Bahkan meneteskan kembali air matanya.

"S-Sehun…"

"Jika kau mau menerimaku, aku berjanji akan membuatmu bahagia. Dan kuharap kau mau hidup sederhana denganku"

"S-Sehun…"

"Aku berjanji Jongin, aku berjanji. Dan ini juga permintaan nenek untuk aku menikahimu, dan aku sangat senang saat nenek berbicara seperti itu. Tapi nenek mengatakannya dengan sedih karena dia juga tahu kalau kau sudah menikah dengan Kris tadi siang. Jadi, maukah kau menerimaku Jongin? Sebagai kekasih, sahabat, orang yang berguna bagimu. Kita akan saling berbagi cerita dan cinta. Serta, jadi ibu dari anak-anak kita kelak?"

Hening beberapa saat hanya terdengar isakan kecil dari Jongin—karena menarik narik ingusnya yang turun dari hidungnya hingga—

BRUKK

Jongin menubruk Sehun dengan keras dan memeluknya erat. Ia meraung disana, meraung bahwa ia merasa bahagia kalau ia senang dengan penuturan Sehun, sahabat tersayangnya, oh tidak coret. Sahabat tercintanya.

"S-Sehun… hiks.. A-aku" Sehun mengusap punggung Jongin dan menenggelamkan wajahnya di surai coklat lembut milik Jongin. Ia hanya diam, untuk menyuruh Jongin melanjutkan kata-kata yang akan membuatnya senang—ataupun sakit.

"Aku menerimamu Sehun. Aku menerimamu" ucap Jongin teredam dada Sehun yang cukup bidang. Sehun yang mendengarnya tidak dapat menahan senyumannya, ia berharap ia tidak salah dengar.

Jongin mendongak, "Aku akan menerimamu sebagai kekasih, sahabat. Kau orang yang berguna bagiku. Kita akan saling berbagi cerita dan cinta. Dan…" Sehun melihat pipi Jongin yang merona hebat, "Aku akan jadi ibu dari anak-anak kita kelak" ucap Jongin final dengan senyuman terkembang di bibir penuhnya yang sangat menggoda Sehun tersebut.

"Aku berharap ucapanmu ini bukan mimpi Jongin" jawab Sehun yang menatap Jongin tanpa berkedip.

"Aku tidak bercanda Sehun" kemudian sebelah tangannya terangkat.

"Awww.. Sakit" ringis Sehun saat Jongin mencubit pipinya dengan cukup keras. "Hehe,, bukan mimpi" Sehun cengengesan diiringi dengan setetes air mata bahagianya yang jatuh. "Aku berjanji tidak akan melepaskanmu Jongin, dan tidak akan memberikanmu kepada siapapun. Aku mencintaimu"

"Aku juga mencintaimu"

Dan entah siapa yang memulai, mereka melakukan penyatuan bibir. Saling melumat dan menyesap, menyalurkan betapa besar cinta mereka yang sebenarnya. Terdengar klise, memang. Tapi disini, Jongin berusaha untuk mencintai pemuda dihadapannya yang sudah menjadi sahabat serta menyatakan cintanya dengan tulus tersebut. Lumatan demi lumatan mereka lakukan hingga mereka tidak sadar kalau di ambang pintu ada sepasang suami istri yang mendengar semua pembicaraan anak serta teman Jongin yang juga sudah mereka anggap anak tersebut.

Sebenarnya mereka belum berangkat kepengadilan untuk menuntut Kris, saat dijalan, ibunya Jongin melupakan sesuatu hingga mereka harus kembali ke kediaman mewah mereka. Hingga, mereka mendengar semua pembicaraan kedua makhluk yang sangat mereka sayangi tersebut saling mengungkapkan perasaannya dengan tulus. Dan mereka tidak bisa menahan senyumannya, mereka rasa mereka sudah menemukan—calon- suami yang baik untuk putra tunggal mereka—Kim Jongin, yang sebentar lagi akan menjadi Oh Jongin.

.

'Cause I Love You

.

"Jongin, panggil Sehun dan suruh dia dating mala mini bersama neneknya" Jongin menatap ayahnya yang berada disebelah ibunya. Saat ini mereka tengah menikmati sarapan dengan hikmat, namun ketika ayahnya berbicara seperti itu membuat kening Jongin mengkerut, tumben ayahnya menyuruh Sehun datang, bersama neneknya lagi.

"Emangnya ada ap—"

"Panggil dan suruh saja dia datang malam ini bersama neneknya. Oh, ayah bisa mengirimkan supir kesana untuk menjemput keduanya. Kau tinggal menyuruh mereka siap-siap saja" Jongin mengangguk ragu untuk jawabannya.

.

.

.

Sehun menjejakkan kakinya di kediaman mewah sahabat—pacar-tercintanya—kalau Jongin sudah bisa dibilang pacar. Ia bingung saat pacarnya itu meneleponnya tadi siang—untung lagi tidak adajadwal kuliah- dan menyuruhnya untuk datang kerumahnya dengan dijemput seorang supir pribadi keluarga Kim tersebut. Ia disuruh datang bersama neneknya. Ia memakai pakaian semi formal—kemeja biru malam dengan hiasan samar dibagian pinggangnya, dipadukan jeans hitam yang sangat cocok dengan kaki kurus nan kuatnya. Dan neneknya sendiri memakai dress putih dibawah lutut, membuat neneknya terlihat cantik walaupun umurnya sudah lewat setengah abad. "Selamat malam paman" Sehun membungkuk hormat saat ia melihat ayah Jongin yang duduk di ruang tengah.

"Ah, tidak usah formal begitu Sehun-ah, ayo silakan masuk. Mari nek" suruh ayahnya Jongin. Sehun hanya tersenyum kikuk menanggapinya.

"Umm.. Kami dipanggil kesini ada apa ya paman?" Tanya Sehun pelan dan sopan saat neneknya sudah diajak ibu Jongin entah kemana.

"Err.. bagaimana ya mengatakannya" Sehun mengerutkan kening bingung saat ayahnya Jongin terlihat bingung juga. "Tunggu sebentar, JONGIN!" Ayahnya Jongin berteriak sambil mengadahkan kepalanya kearah kamar Jongin yang dilantai dua, Sehun saja sampai hendak menutup telinganya, namun karena itu tidak sopan jadinya ia hanya menahan dengungan ditelinganya. Lalu tak lama terdengar sahutan yang Sehun yakin sekali itu suara pacar cantiknya—eh- menyahut teriakan ayahnya tadi.

"Tunggu Jongin sebentar" Sehun hanya mengangguk dan tak lama terdengar derap langkah yang semakin dekat dengan dirinya dan juga paman Kim. "Nah Jongin, Sehun, tunggu sebentar ayah masuk dulu" kemudian ayah Jongin atau paman Kim melesat entah kemana tanpa menunggu jawaban dari kedua insan yang memandangnya bingung.

"Sebenarnya ada apa Jongin?" Tanya Sehun pelan karena Jongin juga duduk disampingnya yang entah kebetulan atau apa, Jongin juga memakai kemeja berwarna biru malam. Oh, jodoh memang.

"Aku juga tidak tahu" Jongin mengedikkan bahunya. "Tiba-tiba tadi pagi ayah menyuruhku untuk datang mala mini. Hanya itu" sambung Jongin lagi dengan matanya yang was was karena tidak ada tanda-tanda orang atau siapapun yang mendekat.

"Aku curiga"

"Hm?" Jongin memandang Sehun sambil meminum minuman yang ada dimeja, yang ia yakini kalau itu gelas ayahnya.

"Jangan-jangan kita ingin dinikahkan"

UHUKK

"Aduhh.. Pelan pelan sayangku" Sehun menepuk-nepuk punggung Jongin, cukup kasihan karena ia melihat air yang diminum Jongin sedikit keluar lewat hidung. Oh pasti sakit sekali. "Maaf, maafkan aku" ucap Sehun lagi.

"Kau juga… uhukk.. Kalau bicara jangan yang aneh aneh" Dan Jongin bisa menguasai dirinya, walaupun wajahnya merah padam, entah malu atau efek tersedak.

"Ya, kan siapa tahu. Hehe" Sehun cengengesan, membuat Jongin mendengus tidak kentara. "Tapi—"

"SEHUN! JONGIN! AYO MAKAN MALAM!" Terdengar teriakan ibu Jongin dari arah dapur. Lalu Jongin membisikkan 'maafkan ibuku' pada Sehun sebelum mereka bangkit menuju ruang makan.

.

.

.

"Sehun. Jongin" Semua orang yang sedang hikmat makan tersebut menolehkan kepalanya kearah sang kepala keluarga Kim. "Kuharap kalian tidak terkejut mendengar ini" Sehun serta Jongin tidak ada yang membuka mulut untuk bersuara. Menunggu sang kepala keluarga tersebut melanjutkan kalimatnya.

"Tempo hari aku mendengar pembicaraan kalian" Sehun dan Jongin menahan napas serentak.

"Pembicaraan yang mana?" Tanya Jongin hati-hati.

"Waktu ka—"

"Waktu Sehun mengungkapkan perasaannya pada Jongin, lalu kalian—" ibunya Jongin menaruh kedua ujung jarinya untuk bersentuhan—kode orang ciuman- sontak membuat Jongin membulatkan matanya serta wajah yang memerah padam, Sehun pun tak jauh seperti Jongin. Hahh,, malu sekali 'kan kalian yang tengah meng-iya iyakan kekasihmu ternyata tertangkap basah oleh orang tua kekasihmu itu?

"Ma—maaf paman, bi, aku.. aku—"

"Tidak ada yang perlu dijelaskan Sehun, kami mendukung hubungan kalian kok" ungkap ayah Jongin tersenyum, begitupun dengan ibu Jongin—beliau tersenyum sangat lebar- dan neneknya yang menatap Sehun tidak percaya—terkejut.

"Bu—"

"Kalian akan melaksanakan janji suci minggu depan"

What the hell, secepat itu?

.

'Cause I Love You

.

Terlihat siluet sepasang suami istri—suami- tengah berpelukan erat ditengah deburan ombak yang sangat memanjakan mata—karena sebentar lagi matahari terbenam. Yang lebih tinggi memeluk yang mungil dengan erat dari belakang seakan jika pelukan itu dilepas, yang mungil akan berlari meninggalkannya. Sinar oranye yang dikeluarkan oleh sang surya yang hendak kembali keperadabannya itu menambah kesan yang romantic untuk kedua pasangan yang baru saja menikah tersebut.

"Aku tidak menyangka kita akan berakhir seperti ini Jongin" Yang tinggi berucap ditengah-tengah tenangnya deburan ombak yang saling bersahutan, membuat yang lebih mungil tersenyum dan semakin melesakkan tubuhnya pada dada yang ber-status suami itu dengan nyaman, sangat pas untuk melindunginya.

"Aku juga Sehun" jawabnya yang bibirnya tidak pernah meninggalkan senyumannya yang sangat manis itu.

Yang tinggi melesakkan wajahnya pada kepala yang ber-status istri, menciumi helaiannya yang berbau apel, sangat menenangkan dan juga memanjakan hidung. (misi iklan shampoo #plak)

"Kira-kira Kris bagaimana ya Sehun?" yang mungil—Jongin- membuka mulut bertanya pada sang suami tentang mantan suami yang sudah menyakitinya dahulu. Ia hanya ingin tahu bagaimana Kris sekarang, itu saja tidak lebih.

Sehun menghela napas. "Kata ibu dia sudah di rawat dirumah sakit yang ada di Seoul, entahlah aku juga tidak tahu dimana. Kenapa? Kau mengkhawatirkannya?"

"Tidak— aku hanya— aku.. Ya, aku mengkhawatirkannya Sehun" Jongin menundukkan kepalanya, merasa bersalah. Ia mengkhawatirkan Kris sementara mereka tengah menikmati bulan madu, ugh, betapa bodohnya Jongin. "Maafkan aku" ucapnya lirih.

Sehun membalikkan tubuh Jongin hingga mereka berhadapan. "Hey, tidak perlu meminta maaf. Itu wajar karena Kris mantan suamimu" Jongin menatap Sehun.

"Sehun.."

"Tidak salah, kau hanya mengkhawatirkannya kan?" Jongin mengangguk ragu, dan Sehun merengkuhnya hingga Jongin tenggelam dalam pelukannya yang hangat. Sangat nyaman sampai sampai Jongin memejamkan matanya menikmati hangat tubuh suaminya itu. "Setelah pulang dari sini, kau ingin kita menjenguk Kris?"

Jongin melepaskan pelukannya dan menatap Sehun dalam. "Benarkah? Tapi,apa kau tidak marah?" cicitnya memandang Sehun takut takut.

Sehun terkekeh, "Untuk apa aku marah hm?"

"Kau 'kan benci terhadap Kris?"

"Aku benci karena ia sudah menyakitimu saat itu, tapi setelah tahu kalau ia memiliki kelainan jiwa. Aku bisa apa? Mungkin memang pada dasarnya dia seperti itu" jawab Sehun sambil tersenyum kecil pada Jongin.

"Tapi dia dulu tidak seperti itu loh Hun"

"Sudahlah, kenapa kita membahas Kris sekarang?" kemudian Jongin menatap Sehun dengan pandangan bersalah. "Oh,ayolah sayang. Jangan pandang aku seperti itu" Sehun mendekatkan wajahnya hingga ia dapat menggapai wajah Jongin dan mengecup bibir seksi itu dengan lembut. Dan Jongin memasang wajah terkejut karena Sehun terlalu tiba-tiba.

"Aaah.. Sehun, kau membuatku terkejut tahu" Jongin menubrukkan tubuhnya ke tubuh Sehun, dan melesakkan wajahnya pada dada Sehun. Karena demi apapun! Wajahnya merah oh dewa Neptunus.

"Wow, betapa manjanya beruangku sekarang. Kau perlu dihukum karena sudah berani manja pada singa jantan sayang"

Dan setelah itu terdengar pekikan Jongin karena Sehun mengangkatnya dengan tidak romantis, lihat saja cara mengangkat tubuhnya bak karung beras itu. Membuat Jongin memberontak dikukungan tangan yang tidak terlalu kekar itu.

Dan selanjutnya terjadilah pergelumulan panas disalah satu kamar hotel yang ada di pantai tersebut. Dengan Jongin mendesahkan nama Sehun serta desahandan juga geraman yang menandakan kalau mereka sangat menikmati permainan yang dibuat Sehun. Hingga Jongin kelelahan.

Baik, kita bisa meninggalkan mereka yang masih dengan urusannya itu.

.

.

END

.

Ovie tahu ini kek dipaksain banget yekan. Ovie juga—ah, gatau gimana bilangnya. Ovie itu ga pandai buat nulis bagian akhir cerita. Jadinya ya gini.

Semoga suka aja ya dengan happy end nya HunKai yang sudah kawin kkk~

Yang ngakak Kris sekali gampar langsung pingsan ya Ovie juga ngakak. Kan dia memang dasar payah dasar lemah /ala killerbee/plak/ dia kan hebatnya pas ada antek-antek doing wkwk.

Big Thanks To:

Afranabilacantik; Mizukami Sakura-chan; steffany. elfxoticbaby; Kim Kai Jong; kim. jongin; Wiwitdyas1; ismi. ryeosomnia; Jiji Park; ulfah. cuittybeams; tokisaki; sayakanoicinoe; cute; sarah261; ariska; Hun94Kai88; and ALL SIDERS

Akhir kata, Ovie sangat berterima kasih pada semua yang sudah mengikuti cerita ini sampai tamat. Ovie terharu dengan View pembaca yang—masya Allah- lebih dari reviewers/?. Tapi gapapa lah. Dan Ovie sangat berterima kasih samakalian yang sudah nyempetin review sama ff abal ini.

EXO-L Jjang!

Selamat bertemu di ff abal Ovie selanjutnya~ 3 3