The Chronicle of Master Taijutsu
Naruto © Masashi Kishimoto
Author : yusufnur321
Summary : Di kecilkan karena ia mempunyai Chakra sedikit sekali dan tidak berbakat dalam Ninjutsu, membuat ia muak dan berlatih keras untuk membuktikan kepada mereka..
Warning : Strong!Naru!, Taijutsu!Naru!, User Haki!Naru!, Typo (s), OOC,...Dll
Pair : Naru x ( nanti pasti akan datang sendiri )
Sang raja siang memunculkan dirinya dari timur Konoha, sesekali juga terdengar kicauan burung seakan menyambut dang Matahari untuk menyinari Konohagakure no Sato.
Bahkan terlihat awan-awan di langit perlahan memberi jalan sang raja siang.
Di jalan Konoha
Melangkah dengan tenang. Saat ini Naruto dengan pakaian seperti saat 'Tes' Ujian Ganin. Berjalan, iris hitamnya memandang ke depan, menghiraukan orang-orang yang berlalu lalang melewatinya.
Menghelanafas berat. 'Kapan aku mendapatkan misi keluar Desa?' batin Naruto.
Memang sudah lima hari, setelah lulus dari tes Aob-sensei. Dirinya tidak mendapatkan misi keluar Desa. Hanya misi-misi dalam Desa yang ia lakukan seperti mencabut rumput liar, membersihkan selokan, membantu bercocok tanam dan hal-hal yang membuat dirinya bosan. Bahkan dua hari lalu Naruko sudah mendapatkan misi keluar Desa yaitu ke Nami no Kuni.
Menghela nafas ke dua kalinya. Dan menundukan kepalanya. Mengingat kembali ia belum bisa menguasai teknik baru yang ada di kertas dirinya temukan, padahal untuk dirinya yang tidak menguasai Ninjutsu kan bagus.
Soal teknik baru tersebut, itu bernama Haki Bososhoku. Teknik yang dapat mengeraskan seluruh badan sekeras baja.
Awalnya, saat waktu menjalankan misi yang kedua, saat itu ia di suruh membersihkan atau bisa dibilang memindahkan barang-barang berumur tua. Kalau tidak salah orang yang mempunyai rumah itu bernama Kuro. Saat itu dengan tidak bersemangat dirinya membawa barang-barang tua itu ke gudang belakang. Tapi saat ia membawa meja berlaci dirinya tidak sengaja menyenggol sisi pintu yang mengakibatkan laci meja itu terbuka menjatuhkan selembar kertas berwarna coklat. Namun dirinya hiraukan dan melanjutkan membawa meja itu ke dalam gudang. Berjalan keluar dirinya di serang penasaran dan akhirnya mengambil selembar kertas coklat itu yang ternyata sebagian ke bawanya di makan rayap.
Namun sebelum membaca tulisan yang ada di kertas itu saat itu dirinya di panggil oleh Kuro untuk melanjutkan memindahkan barang-barang tua ke gudang lagi.
Setelah menjalankan misi itu. Dirinya pergi untuk melapor dan karena bosan dalam perjalanan dirinya membaca tulisan yang ada di kertas yang ia temukan.
Nah saat itu ia mengetahui teknik bernama Haki. Yaitu sebuah kemampuan yang terpendam dalam diri seteiap Manusia. Karena dalam kertas itu menjelaskan tentang Haki dan cara membangkitkannya. Tapi sayang di sana tertulis hanya penjelasan Haki dan macam-macam Haki. Itupun hanya satu yaitu teknik yang sedang ia pelajari empat hari lalu sampai sekarang bernama Haki Bososhoku. Karena bagaian bawahnya hilang, mungkin di makan rayap.
Dan saat di selidiki ternyata dulu yang mempunyai rumah itu adalah seorang yang terkenal pada era Perang Dunia Shinobi III dengan julukan 'Kuzan ni Domu'. Yang seminggu lalu meninggal karena usia sudah tua.
.
Tidak terasa dirinya sudah tiba di tempat biasa. Terlihat di sekitar dirinya pohon-pohon yang menjulang tinggi, melebihi tinggi dirinya. Sesekali juga pendengarannya mendengar gemerisik daun-duan yang di terpa oleh angin. Terlihat juga sungai tidak jauh dari dirinya berdiri.
Menatap ke depan. Melihat sensei-nya yang sepertinya sedang menunggu dirinya, duduk di bawah salah satu pohon tidak jauh di depannya.
"Rupanya datang juga kau, Naruto." ucap Aoba sambil berdiri dari duduknya. Menghadap muridnya dengan tangan kanan membetulkan kaca matanya yang melorot.
"Hm!"
Menghela nafas berat. Aoba harus tahan akan jawaban Naruto. Selama menjadi sensei nya ia tahu sifat Naruto seperti para Uchiha, walau tidak separah Uchiha. Dan juga dirinya tahu kalau Naruto menggunakan pemberat 600Kg. Walau saat itu dirinya kaget atas kegilaan Naruto murid didiknya ini yang menggunakan pemberat seberat itu.
Juga dirinya mengetahui muridnya ini menguasai teknik-teknik Taijutsu. Seperti Guy dan muridnya, Lee. Dan tidak mengetahui kalau Naruto mempunyai reginerasi seperti hal Jinchuriki.
"Baiklah, ayo ke kantor Hokage. Mungkin kali ini misi yang kau harapkan itu akan terkabul.." ujar Aob sebelum menghilang dengan shunshin.
'Hahh~.. kuharap, misi yang menantang ardenali ku!' batin Naruto, melangkah pergi. Tujuannya adalah kantor Hokage.
Tidak lama Naruto tiba di depan pintu ruang Hokage.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!"
Terdengar suara dari dalam ruangan.
Setelah dapat persetujuan Naruto dengan tenang membuka pintu di depannya. Iris hitamnya melihat banyak orang di depan Meja Hokage.
'Hyuuga!?' batin Naruto heran. Melihat orang-orang Hyuuga dari mata mereka. Bahkan pemimpin Klan Hyuuga di sini. Sekaligus dirinya menjadi perhatian pasang mata.
'Orang itu!' batin Neji. Melihat Naruto masih di ambang pintu. Dirinya semakin penasaran siapa sosok Naruto. Saat berpapasan dengan Naruto pada waktu akan menjalankan misi. Ia sudah tahu kalau sosok Naruto harus di perhatikan, kekuatannya. Dirinya tidak bodoh, menatap sosok Naruto saja ia yakin sosok Naruto itu kuat. Dan itu membuat dirinya ingin sekali melawan Naruto.
Menghiraukan seluruh pasang mata menatapnya, Naruto melangkah ke arah sisi kanan senseinya.
"Baiklah, ini anggota Tim 13 yang akan mengawal anda Hiashi-dono." ucap Hokage Sarotubi Hiruzen. Murid dari Hokage kedua yang telah wafat.
"Apa anda bercanda, Hokage-sama." ujar Hiashi sambil menatap ke arah Naruto yang tengah menatap ke depan.
"Hanya bocah dan Jounin ini yang mengawal kami?" tambah pemimpin Klan Hyuuga itu. Terdengar di telinga Naruto seperti meremehkannya. Dan itu Naruto tidak suka, kemampuannya di remehkan. Tidak peduli pemimpin Klan sekalipun ia tidak mau di remehkan.
Naruto melirik ke arah Hiashi dengan tajam. Lalu menatap kembali ke depan. Saat Hiashi akan membalasnya lirikanya. Karena dirinya masih sayang nyawa, bukan karena takut akan kemampuannya.
Iris perak Neji sedikit menyipit melihat lirikan tajam Naruto ke arah Pamannya. Baru kali ini dirinya melihat seorang Genin berani melemparkan lirikan tajam kepada Pemimpin Klan.
Hanabi pun sama seperti Neji.
'Genin yang menarik!' batin Hiashi sempat melihat lirikan tajam dari Naruto. Sedikit tertarik dirinya, karena baru kali ini ada Genin melemparkan lirikan tajam ke arahnya.
Hening
"Kalau anda tidak ma-"
"Baiklah, aku menerima Tim ini untuk mengawal kami." Hiashi cepat memotong perkataan Sandaime. Membuat Hiruzen sedikit mengangkat alis kanannya, heran.
"Baik Tim 13 aku tugaskan untuk mengawal pemimpin Klan Hyuuga dan yang lainnya. Lebih jelasnya di perjalanan akan di jelaskan dan Aoba kau ketuanya. Mengerti!" Sandaime dengan tegas.
Naruto hanya mengangguk.
"Baik. Hokage-sama!" ucap Aoba.
"Persiapkan pralatan kalian yang penting, kita berkumpul depan Gerbang Konoha." ujar Hiashi, lalu melangkah keluar ruangan di ikuti yang lainnya. Tidak lama Naruto melangkah pergi.
Beberapa menit kemudian
Di depan Gerbang Konoha. Terlihat Hiashi dengan Kimono biru tua khas bangsawannya, plus wajah tegasnya. Neji dengan pakaian (seperti waktu kecil di Canon) dengan wajah datarnya. Hanabi dengan Kimono biru muda, terlihat anggun khas Putri yang di hiasi gambar bunga-bunga Sakura.
Terlihat juga dua Jounin, sepertinya dari Klan Hyuuga. Kalau di lihat ciri iris matanya.
Aob yang baru datang beberapa menit lalu hanya diam, menunggu murid didiknya itu yang belum datang.
"Lama sekali orang it-"
Hanabi tidak melanjutkan perkataannya, saat melihat bayangan semakin lama semakin membesar di permukaan tanah. Mendongak, melihat sosok yang di tunggu datang, walau tidak jelas karena membelakangi Matahari.
Tap!
"Maaf, menunggu lama!" Naruto yang baru tiba. Saat ini dengan pakaian berbeda. Memakai baju bersaku depan sebatas perut yang memperlihatkan perutnya yang di lapisi kaos berjaring pemberian Jiraya berwarna merah gelap, tidak di kancing, berkerah tinggi. Dengan bawahan standar Chunin. Terlihat sarung tangan hitam bolong di jari-jarinya yang membungkus tangan kirinya berplat lambang Konoha. Menambah plus tersendiri bagi para Gadis yang melihatnya.
Sepontan pipi Cuby Hanabi merona melihat penampilan Naruto.
"Baik. Semua sudah berkumpul, mari kita berangkat Hiashi-sama!" ucap Aob, yang hanya di balas anggukan.
Wuss! Wuss!
Dengan itu dua Jounin dari Klan Hyuuga meloncat pergi. Menjaga sekitar yang akan di lewati Tuannya dan yang lainnya..
Hutan, tepatnya di jalan setapak yang di kedua sisinya tumbuh seakan berjejer pohon-pohon yang menjulang tinggi. Terlihat beberapa orang sedang berjalan dan juga terlihat Matahari sudah berada di atas tepat. Yang menandakan sudah tengah hari.
Naruto berjalan dengan tenang, dengan ke waspadaan tinggi. Iris hitamnya sesekali bergerak ke dalam Hutan bagian kanan jalan setapak ini. Sudah lima jam dirinya dan yang lainnya berjalan dari Konoha. Sampai sekarang juga tidak ada tanda-tanda Bandit atau apalah yang akan menghambat perjalanannya. Mungkin, sudah di bereskan oleh kedua Jounin anggota Hyuuga itu.
Cling! Shut!
Iris hitamnya tidak sengaja menangkap silauan cahaya dari dalam Hutan. Mengerti apa yang akan terjadi. Naruto dengan cepat bergerak ke arah samping kanan Hanabi. Seraya mengambil Kunai di kantong senjatanya.
TRNK!
STAB!
Menangkis sebuah kunai yang mengincar gadis Hyuuga itu, dengan kunainya. Namun detik berikutnya matanya membulat, walau sekilas Naruto melihat sebuah kertas peledak yang di tempelkan di kunai tadi yang menyala terang, menandakan kertas peledak itu aktif.
"MENJAUH!"
Seru Naruto dengan keras. Dan dengan cepat meraup badan Hanabi lalu meloncat menjauh dari tempat berdiri.
Sepontan mendengar seruan keras Naruto, Hiashi, Neji dan Aob. Meloncat menjauh dari tempat mereka berdiri.
DUARR!
Suara ledakan yang membuat pohon yang berada di dekat kunai tadi hancur.
Naruto menatap kepulan debu efek ledakan tadi dengan siaga. Terlihat Hanabi di belakangnya juga memposisikan badannya untuk bertarung.
"Terimakasih!"
Mendengar itu Naruto melirik sejenak ke arah Hanabi kemudian memandang sekitar dengan waspada.
Insting bahanya berdering. Di iringi matanya melihat sesuatu bergerak cepat ke arahnya dari balik kepulan debu yang berukuran kecil berjumlah banyak. Naruto harus berterimakasih kepada Matahari. Karena sinarnya dirinya dapat melihat pantulan cahaya dari sesuatu benda ke arahnya dan Hanabi.
Terlihat dengan gerakan lambat, Naruto berusaha mengindari benda yang mengincarnya.
'Jarum!?' batin Naruto. Iris hitamnya melihat salah satu jarum melewati mata kananya.
STAB! STAB! STAB! STAB!
Dalam posisi berjongkok Naruto menengok ke belakang setelah menghindari semua jarum yang mengincarnya. Dirinya melihat jarum-jarum sekitar berjumlah dua puluh'an menancab di belakangnya.
Menengok ke arah Hanabi, sepertinya baik-baik saja, walau matanya menangkap beberapa luka sayatan di tangan dan pilinya. Kemudian menatap ke depan dengan tajam. Ia melihat sosok perempuan berpakaian hitam, putih berambut panjang hitam cukup cantik walau sedikit terhalang oleh debu efek ledakan tadi.
"Oh~... tidak di duga, ada putri dari anak pemimpin Klan Hyuuga. Hm... pasti harga mu mahal dan apa lagi mata Byakugan mu, pasti berharga tinggi!" ucap perempuan itu, menatap ke arah Hanabi. Terlihat dari sela-sela jari tangannya sudah di penuh dengan jarum-jarum yang mengkilap akibat terlaan sinar Matahari.
Naruto mengeratkan genggaman pada kunainnya. Menghela nafas sejenak. Menenangkan ardenalinya yang bergejolak. Karena baru kali ini dirinya akan bertarung mempertaruhkan Nyawa.
Tanla babibu Naruto melesatkan kunainya ke perempuan tidak jauh di depannya.
"Hm~.. rupanya kau ingin bermain, bocah!" Setelah menangkis kunai Naruto, sambil menjilat bibirnya dengan sensuai. Melihat penampilan Naruto yang menurutnya hot~
Shuut! Shuut! Shuut!
Perempuan itu melesatkan tiga jarum ke arah Naruto. Melihat serangannya di tangkis dengan mudah oleh Naruto, perempuan itu menghilang dengan gerakan cepat.
Naruto yang melihat lawannya menghilang di depannya. Dengan insting petarung yang selalu dirinya asah dalam setiap latihannya. Dengan cepat memutar badannya ke belakang, seraya mengangkat kaki kanannya dengan tenaga besar. Dan benar saja, lawannya muncul di hadapannya.
BRAK!
Mata perempuan itu melotot, merasakan tendangan Naruto yang kuat. Sebelum badannya terpental ke dalam hutan dengan menghantam beberapa pohon hingga roboh.
Naruto yang melihat lawannya terpental menabrak beberapa pohon hingga roboh hanya diam memposisikan badannya untuk bertarung kembali. Entah kenapa di dalam hatinya ada rasa aneh saat tendangannya menghantam dengan telak perempuan itu. Entah itu apa yang pasti dirinya suka perasaan itu.
Memiringkan kepalanya ke kanan, saat satu jarum mengincar kepalanya. Tidak lama lawannya melangkah keluar dari kepulan debu sambil memegang lehernya.
"Rupanya tenaga mu kuat juga bocah!" Setelah mengucapkan itu, perempuan tersebut berlari ke arah Naruto sesekali melesatkan jarum-jarumnya ke arah titik vital Naruto. Tapi di tangkis dengan mudah oleh Naruto.
Jarak menipis, perempuan itu menendang leher Naruto.
DRBB!
"Kau salah, bertarung melawanku dengan jarak dekat, nona!" Naruto menyeringai. Berhasil menahan tendangan itu. Ia tahu memberikan informasi dirinya. Pasti akan berakibat fatal. Tapi itu yang dirinya inginkan.
Dan dengan cepat menyapu kaki kanan perempuan itu. Seperti dugaannya. Pasti akan meloncat ke atas. Tanpa membuang ke sempatan itu Naruto dengan cepat memutarkan badannya dan dengan tenaga penuh menjejek dagu bagian bawah perempuan itu.
Wusss BRAK! BRAK!
Kedua kalinya perempuan itu terpental menabrak beberapa pohon hingga roboh.
Tidak ingin lama-lama menunggu. Naruto bergerak cepat dimana lawannya berhenti terpental. Membuat Hanabi yang dari tadi melihatnya kaget atas kecepatan Naruto miliki.
Muncul di atas lawannya yang terlihat sedang berusaha berdiri yang tidak menyadari keberadaannya. Seraya mengangkat kaki kanannya ke atas. Jarak menipis..
BUMM!
Menghantamkan tumitnya dengan keras. Menciptakan gelombang udara dengan debu dibaliknya.
Tap! Tap! Tap!
Hanabi mengalihkan pandangannya. Melihat Neji-niisan dan Ayahnya dan Jounin yang ia tahu bernama Aoba, datang.
"Dimana Naruto, Hanabi-sama!?"
Tiba-tiba terdengar suara debuman keras dari dalam hutan seolah menjawab perkataan Aob. Membuat seluruh pasang mata menatap kepulan debu yang membungbung tinggi.
Kembali ke Naruto
Debu yang mengelilinginya ia hiraukan. Saat ini iris hitamnya menatap korban pertamanya yang dalam ke adaan mengenaskan. Dengan dada remuk, karena hantaman tumitnya tepat bagian tengah-tengah dada, tentu saja payudara perempuan itu hancur. Mengakibatkan kematian seketika, apa lagi dirinya menyerang dengan tenaga Full..
Memang ada rasa kasihan, bersalah dalam hatinya. Tapi memang inilah..
Membunuh!
Atau
Di bunuh!
Karena Dunia Shinobi itu kejam. Sedikit saja ada rasa ragu di hati mu. Detik berikutnya nyawa mu sudah meninggalkan cangkangnya. Alias MATI!
Memang wajah datar. Lalu berbalik dan melangkah pergi dari situ, untuk menemui lainnya. Menghiraukan kaki kanannya yang bersimbah darah perempuan itu.
"Kau tidak apa-apa, Naruto?" tanya Aob, saat melihat Naruto keluar dari dalam hutan. Menghiraukan celana bagian kaki kanan muridnya yang basah tidak ada darah.
"Hm. Bagaimana... apa ada yang lain!?" Naruto melangkah mendekati Senseinya.
Whuss! Tap! Tap!
"Tidak. Mereka hanya bandit biasa." ujar salah satu Jounin Hyuuga, yang baru tiba dengan rekannya.
"Tapi, kenapa para Bandit itu bisa lolos dari pengawasanmu!" Naruto bersuara. Sambil menatap keduanya sedikit memberikan tatapan meremehkan. Sekaligus membuat Neji dan Hiashi menatap tajam Naruto karena secara tidak langsung meremehkan kekuatan seorang Hyuuga.
"Baiklah kita lanjutkan perjalanan." Aob bersuara cepat, mencegah sesuatu yang tidak ia inginkan.
Dengan itu Naruto dan lainnya melanjutkan perjalanan. Dengan kedua Jounin dari Hyuuga itu bertugas kembali seperti tadi.
Malam hari
Saat ini Naruto duduk di depannya terdapat api unggun kecil, saat ini dirinya bagian berjaga. Setiap detik pendengarannya menangkap suara hewan-hewan nokturnal. Tangan kanannya memegang sebuah ranting sambil menusuk-nusuk kayu yang terbakar untuk menghilangkan kebosanannya. Matanya memandang ke depan dengan kosong menghiraukan udara malam yang dingin.
Setelah Hiashi menjelaskan tentang misi pengawal ini. Bukan mengawal saja. Karena setelah tiba di Desa kecil yang rata-rata penduduknya adalah Klan Taketori dan nama Desanya juga Desa Taketori. Dirinya dan senseinya harus menjaga pertarungan-pertarungan nanti di Desa itu.
Pertarungan? Ya... ternyata di Desa yang rata-rata dari Klan Taketori itu akan mengadakan sebuah saembara untuk merebutkan atau meminang Putri Kaguya-hime nanti yaitu Putri ketua Klan Taketori. Dari kata Hiashi-sama, umur Kaguya-hime sama seperti dirinya. Dan juga dari cerita Hiashi-sama, Kaguya-hime itu cantik dan anggun, juga bersifat lemah lembut.
Berhubung Klan Hyuuga adalah Klan yang berhubungan dengan baik dengan Taketori. Jadi Hiashi-sama mengutus Neji untuk mengikuti saembara itu. Karena dari kata Hiashi-sama syarat untuk mengikuti saembara itu adalah berumur sama atau sedikit tua dari Kaguya-hime. Sekaligus untuk mempererat hubungan dengan Klan Taketori.
Lamunan Naruto buyar saat mendengar suara langkah kaki dari belakang. Menengok ke belakang melihat Aob-sensei tengah berjalan ke arahnya.
"Istirahatlah, sekarang giliranku," ucap Aob setelah tiba dan duduk di pinggir tempat duduk Naruto.
Naruto hanya mengangguk. Lalu berdiri dan melangkah untuk tidur.
Ke esokan paginya
Tim Naruto dan Hiashi, Neji Hanabi. Melanjutkan perjalanannya. Ke Desa Taketori yang berada di dekat padang pasir Sunagakure. Termasuk kedua Jounin Hyuuga.
Di sebuah ruangan dengan penerangan yang remang-remang. Terlihat dua sosok sedang berhadapan. Satu sosok itu terlihat sedang duduk di sebuah kursi dengan meja di depannya. Satunya lagi sedang berdiri.
Ternyata benar, setelah di selidiki Klan Taketori menyimlan senjata itu, Tuan." sosok yang berdiri itu bersuara.
"Sudah ku duga." ujar sosok yang tengah duduk. Dengan tangan menyangga dagunya denfan elegan.
"Persiapkan orang-orang mu, dan tempatkan di titik-titik tertentu!" tambah sosok yang tengah duduk.
"Baik, Tuan!" balas sosok yang tengah berdiri sebelum menghilang dengan shunshin.
Setelah perjalanan satu malam. Akhirnya tiba. Saat ini Naruto dan yang lainnya di depan gerbang Desa Taketori, walau tidak sebesar pintu gerbang Konoha.
Berjalan tenang di belakang rombongannya, dengan kedua tangannya di masukan ke saku celana, Plus wajah netralnya. Naruto juga melihat rombongan orang-orang yang masuk ke dalam Desa Taketori yang berpakaian khas bangsawan dan sesekali juga dirinya melihat tatapan gajam dari laki-laki seumurannya. Sepertinya yang akan ikut saembara itu. Mungkin menurut mereka dirinya akan ikut berpartisipasi , jadi memandang dirinya dengan tajam. Sesekali juga dirinya melihat putri-putri dari rombongan itu yang mayoritasnya adalah Orang-Orang Klan besar. Melihat dirinya dengan pipi merona.
Memandang sekitar. Setelah masuk ke dalam Desa Taketori, firinya melihat stuktur bangunan yang biasa ia lihat. Dan dirinya melihat orang-orang menawarkan sesuatu seperti barang, makanan dan lain-lain kepada setiap rombongan yang melewati depannya. Memandang ke depan dirinya melihat sebuah bangunan besar, tapi banyak lubang ventalasi. Membuat dirinya bersepekulasi kalau itu adalah sebuah arena petarungan.
Masih melangkah mengikuti rombongannya.
Dalam hutan dekat Desa Taketori bagian barat. Saat ini Naruto dan Aob sedang berhadapan.
"Karena saembara di laksanakan Tiga hari nanti, jadi kau dapat waktu luang. Nah~.. waktu luang mu latihlah Taijutsu mu!" ujar Aob kepada Naruto.
"Hm. Jadi begitu baiklah." ujar Narito, "untuk apa ini, sensei!?" lanjut Naruto. Saat Aob memberikan selembar kertas persegi berukuran kecil.
"Aku jelaskan. Berhubung, kau mempunyai Chakra yang sedikit dari Shinobi lainnya. Mungkin kau akan mengendalikan Chakra mu dengan sempurna!"
"Nah~.. Aku akan mempelajarimu perubahan jenis Chakra!" lanjut Aob sambil membetulkan kaca matanya yang melorot.
"Perubahan jenis Chakra ...seperti Ninja yang menggunakan jurus Api, berarti orang itu mempunyai jenis Chakra Katon. Apa benar Sensei!" ucap Naruto mengingat saat pelatihannya dengan Jiraya yang menjelaskan tentang perubahan Jenis Chakra.
"Dari mana kau tau!?" Aob memandang Naruto dengan heran. Karena setau dirinya saat di Akademi tidak mempelajari ini.
"Ada seorang kake-kake memberitahukan itu kepadaku." balas Naruto cepat.
"Baiklah. Aku jelaskan manfaat perubahan jenis Chakra ini untuk mu. Karena kau hanya bisa Taijutsu saja. Jadi kau dapat memperkuat teknik Taijutsu mu dengan Chakra mu, hingga mematikan dari biasannya!" jelas Aob dengan serius.
Naruto hanya mengangguk mengerti. "Kalau Aob-sensei, jenis Chakra apa?"
"Aku mempunyai jenis Chakra Katon. Baiklah, alirkan Chakra mu ke kertas itu. Kalau menjadi basah, berarti Suiton. Kalau mengkerut itu Raiton. Kalau menjadi tanah berarti itu Doton. Lalu kalau terbelah menjadi dua itu Fuuton dan kalau terbakar itu Katon!" Aob panjang lebar.
Dengan itu Naruto mengalirkan Chakranya ke lembaran kertas persegi kecil itu.
Setengah Jam kemudian
Naruto akhirnya mengetahui kalau Chakra adalah jenis Petir atau Raiton. Setelah melihat kalau lembaran kertas itu mengkerut.
Dengan keras Naruto berlatih mengendalikan Chakranya yang sedikit itu. Sesekali juga setiap kali latiannya dalam hutan pinggir Desa Taketori. Dirinya melatih Haki Bososhokunya. Yang kemarin sore kemapuan itu bangkit. Setelah enam hari ia pelajarai..
Awalnya. Saat dirinya bisa menggunakan Haki Bososhoku itu ia senang dan dirinya berterimakasih kepada akar pohon yang menyandungnya. Karena saat dirinya berjalan-jalan di dalam Hutan jauh dari pinggir Desa Taketori. Dirinya tersandung oleh akar dan entah ke sialan atau kebetulan atau apa.. sebuah jurang berbatu, walau tidak juram. Namjn dapat membuat badan remuk kalau tubuh menggelinding ke dasar jurang itu. Nah saat itu ia tidak sengaja membangkitkan Teknik itu karena saat itu dirinya terpelanting ke jurang akibat menyandung sebuah akar. Dan saat itu dirinya lebih bersemangat berlatih untuk menyempurnakan Haki nya.
Bahkan dirinya tidak segan-segan mengelilingi Desa Taketori pada tengah Malam sebanyak stamina yang ia punya, karena saking senangnya. Dan itu ia berakhir dengan tepar di tengah jalan sisi Desa Taketori.
Aob yang melihat semangat latihan Naruto. Dibuat menganga. Dirinya baru kali ini melihat orang dapat mengimbangi Guy dan muridnya Lee dalam latihan Gila mereka.
Dan dalam latihannya Naruto juga tidak mengetahui. Kalau setiap latihannya selalu di awasi oleh tiga orang di tempat berbeda.
Pagi di Desa Taketori
Dalam sebuah Apartemen
Kringg...Kringgg...Krrin- Chk!
Naruto bangun dari tidurnya. Saat mendengar tidak asing baginya. Berjalan dengan Nyawa masih setengah setelah mematikan jam Weker yang berbunyi itu. Membuka kamar mandi yang berada di dalam Apartemen yang di tempatinya.
Beberapa menit kemudian Naruto keluar dari dalam kamar mandi, setelah membersihkan seluruh badannya dan sekaligus menyagarkan badannya.
Tidak lama Naruto keluar dari Apartemennya. Dengan pakaian khasnya. Lalu melangkah pergi ke tempat ia berlatih.
Dalam sebuah kamar. Dari dinding dan isi kamar, semua terlihat berkelas tinggi. Saat ini sang putri Pemimpin Klan Taketori dengan tergesa-gesa memakai gaun polos. Setelah memakainya. Dirinya langsung keluar dengan santai, tidak seperti tadi yang tidak mencerminkan seorang Putri selama ini orang bicarakan.
Menyambar sebuah jubah coklat kusamnya yang berada di balik pintu kamarnya. Sebelum melangkah keluar. Tujuannya saat ini melihat Ninja yang ia tahu bernama Naruto. Sekaligus yang sudah menarik perhatiannya dari tiga hari lalu sampai saat ini.
Tidak lama dirinya dan satu pengawal laki-laki kepercayaannya tiba di tempat dimana dirinya bisa melihat pemuda itu lakukan. Saat ini mereka berdua dibalik dua pohon besar saling berdempetan dengan bagian bawahnya di tumbuhi semak belukar yang menyembunyikan tubuh mereka.
"Hahh~... terlambat!" Lesu Kaguya. Melihat pemuda yang selalu berlatih di sekitar ini tidak ada. Terlihat jelas raut kecewa di wajah cantiknya yang di bingkai surai putih lembutnya. Walau begitu dimana mata pengawalnya, saat ini Hime nya dalam mode Imut..
"Jangan kawatir Hime-sama. Mungkin dia sudah berangkat ke arena."
"Dan doakan saja, dia untuk memenangkan saembara ini, dan pasti akan meminang Hime-sama!" lanjut pengawal itu mencoba menghibur Tuan putrinya. Memang saat Hime nya tertarik kepada pemuda itu dirinya kaget. Soalnya sudah banyak dari berbagai pewaris Klan dari Klan-Klan elit melamarnya, namun di tolak dengan halus oleh Kaguya-hime. Karena alasan tidak tertarik atau tidak mencintainya.
Kaguya hanya mengangguk.
"Bai-" Pengawal itu tidak melanjutkan perkataannya. Saat merasakan sesuatu tajam dan dingin menempel di kulit lehernya. Dan sekaligus membuat dirinya kaget.
"Siapa kalian!" Datar Naruto yang tengah mengunci pergerakan pengawal berambut coklat itu. Dengan menempelkan sisi tajam kunai di leher pengawal itu.
Sontak hal itu, membuat Kaguya menjadi kaget dengan melangkah mundur satu kali. Iris peraknya menatap takut Naruto yang ternyata pemuda yang menarik perhatiannya.
"Tenang anak muda, kami bukan penyusup atau apa!" ucap pengawal itu. Terdengar tenang, walau di hatinya saat ini dalam ketakutan. Karena lehernya di tempelkan dengan... ia yakin itu pasti benda tajam.
"B-benar, kamj bukan siapa-siapa. Kumohon lepaskan dia!"
Naruto mengalihkan pandangannya ke arah Kaguya. Mendengar suara merdu dan lembut yang di keluarkan Kaguya.
"Aku kan sudah. Siapa kalian?" tanya Naruto lagi. Masih menempelkan kunainya di leher pengawal itu. Dirinya tidak menyangka ada orang yang mematai di tempat latihannya. Terlihat jelas saat dirinya melihat gerak-gerik kedua orang ini. Seperti mamatainya.
"Baiklah, anak muda. Aku Muku pengawal kepercayaan Kaguya-hime. Jadi jauhkan benda tajam ini dari leherku!"
"Huh... aku seorang Ninja. Tidak semudah itu aku percaya perkataan mu." ucap Naruto cepat.
"Baiklah kalau kau tidak percaya, memang aku Kaguya Putri pemimpin Klan Taketori!" Kaguya sambil melepaskan jubah coklatnya yang memperlihatkan badannya yang di balut gaun putih polos.
Naruto yang melihat itu hanya diam tidak bereaksi. Karena memang dirinya belum pernah melihat langsung. Dari Hiashi, dia hanya memberitahukan sifat dan penampilan yang anggun. Tidak dengan ciri-cirinya.
Di lihat lagi raut polos gadis bersurai putih ini sepertinya tidak berbohong. Menghela nafas..
"Baiklah, aku percaya kepada kalian." ucap Naruto seraya melepaskan kunciannya dan menjauhkan kunainya dari leher pengawal itu.
.
Dalam hutan dekat Desa Taketori. Terlihat tiga orang sedang membicarakan sesuatu. Dua orang lainnya sedang berdiri dan satu orang lagi sedang duduk di atas sebuah batang pohon yang tumbang.
"APA! aku kira kau mengikuti saembara ini mengingat kaj selalu berlatih di tempat ini." Ujar pengawal Putri Kaguya kaget. Setelah mendengar penjelasan dari Naruto. Kalau dia tidak ikut saembara. Tapi hanya menjaga agar saembara itu menjadi lancar.
"Hm. Kau kira apa?" Naruto menengok ke arah Muku lalu kembali menatap ke depan dimana pepohonan lah ia lihat.
DUAR! DUAR! DUAR!
Terdengar suara kembang api dari arah timur tepatnya di dalam Desa Taketori. Menandakan saembara itu akan di mulai.
Naruto berdiri dari duduknya dan melangkah pergi. Menghentikan langkahnya.
"Aku tidak janji, akan membantu mu dari saembara itu. Lagi pula peserta saembara itu banyak orang-orang tampan dan juga kuat. Tidak sepertiku... " ucap Naruto lalu kembali melanjutkan langkahnya.
"Hikz...Hikz..Hikz... Hikz!"
"Ayo. Kaguya-hime, kita ke arena. Dan doakan saja tidak ada yang mengalahkan dia." ucap Muku. Mencoba menghibur. Walau ia tahu perkataannya bohong. Karena dari ramalan pendahulunya kalau suatu saat nanti akan ada orang yang dapat menggunakan senjata itu, sekaligus pemimpin Klan Taketori akan menikahkan dengan Putrinya, Kaguya-hime. Karena inti saembara ini bukan hanya untuk meminang putrinya saja. Tapi di balik itu pemimpin Klan Taketori sedang mencari orang yang dapat menggunakan senjata itu.
"Inti rencana ini, curi senjata itu. Kalian mengerti!" sosok pria berkimono biru pudar polos itu mengakhiri penjelasannya kepada tiga sosok di depannya.
"Baik!" setelah itu, ketiga sosok itu menghilang dengan shunshin.
Saat ini Naruto dan Aoba dan kedua Jounin dari Hyuuga berdiri tegak di belakang pemimpin Klan Hyuuga dan Hanabi. Saat ini mereka berdua sedang duduk di sebuah kursi khusus di samping kursi Pemimpin Klan Taketori. Neji saat ini dia duduk di kursi peserta.
Dari tempat berdirinya Naruto dapat melihat para pemimpin Klan terkenal yang membawa putra, putri mereka. Memandang ke depan tepatnya tempat arena pertarungan saembara ini, menurut dirinya cukul luas. Ia juga melihat penduduk Desa Taketori yang sedang duduk di kursi yang tersedia. Untuk menonton pertarungan saembara ini. Pendengarannya juga mendengar hiruk para penduduk Desa Taketori yang berada di dalam bagian Arena ini.
'Banyak juga Shinobi yang ikut saembara ini!' batin Naruto melihat ke bangku peserta saembara ini.
.
Pertarungan demi pertarungan telah berlalu. Dan semua itu di kalahkan oleh petarung dari Klan Taketori, bernama Kujo.
Masih dalam posisinya, Naruto melihat peserta saembara selanjutnya yang memakai kimono biru laut, berambut putih, tentu saja bermuka tampan dari Klan Yuki yang dirinya dengar dapat menggunakan Kekegenkai Elemen Es dengan mahir. Bernama Hiorin Yuki.
Tengah Arena
"Jadi lawanku selanjutnya, pewaris Klan Yuki ya! Menarik!"
"Ayo tunjukan kemampuan dan tekadmu, untuk meminang Kaguya-hime!" lanjut Kujo memasang kuda-kuda bertarung Klan Taketori. Menatap tajam Hiorin di depannya dengan iris Hitam Onixy.
"HAJIME!"
Dengan itu Kujo berlari cepat ke arah Hiorin. Begitupun Hiorin berlari sangat cepat ke arah Kujo dengan tangan kanannya menggenggam erat gagang Pedangnya.
•
•
•
•
~_To. Be. Continued_~
Next Capter 5!
