Konnichiwa! Ogenkidesuka, readers? \(^_^)/ Seminggu sudah berlalu setelah season 1 dari Akhir Penantian(?) berakhir.. Gimana? Mengecewakan? Biasa saja? Atau excited menunggu kelanjutannya? Hehe..
Sesuai janji author, mulai hari ini author akan kembali memposting Akhir Penantian(?) S2 sebagai kelanjutannya. Gimana? Penasaran kan sama S2 yang udah sempet dispoiler sedikit pas akhir season 1 kemarin? *pede*
Author minta maaf karena di season 1 ternyata perpindahan scenenya membingungkan, tapi kali ini udah diperjelas kok hehe :D Author melakukan beberapa perbaikan di season ini dan sedikit mengubah gaya penulisan, semoga perbaikannya cukup memuaskan readers dalam menikmati ff ini. Kalau ada yang keberatan atau mau ngasih saran, author sangat terbuka kokk. Silakan review atau PM author langsung, hehe *ngarep*
Oke, kali ini sedikit tentang ceritanya. Nantikan juga bagaimana kelanjutan Ran yang mulai menghubungkan Shinichi dengan identitas Conan yang sempat dibiarkan menggantung di season kemarin.
Season ini akan menjadi season yang cukup panjang karena jumlah chapter yang lebih banyak dibanding kemarin, dengan pairing tetap ShinShi ;;) Tapi di sini, perlu perjuangan buat ShinShi agar bisa menggapai takdir mereka. Chapter pertama ini mungkin sedikit pendek, jadi hari ini author akan posting 2 chapter sekaligus, gimana? Seneng kaan? Ahahahaha :D
Author juga ingin memberi catatan tentang jenis percakapan di season ini:
"Shinichi," itu artinya kalimat yang diucapkan tokoh
"Shinichi," itu artinya kalimat yang diucapkan dalam hati si tokoh
Oke, tanpa berlama-lama lagi, author persembahkan Akhir Penantian(?) S2. Please RnR. Enjoy it!
Warning: OOC, typo, ceritanya gaje
I don't own Detective Conan
All characters belong to © Gosho, Aoyama
CaseClosed/Detective Conan (Fanfiction) Series
AKHIR PENANTIAN(?) S2
CHAPTER 1
Redemption
"Baiklah, boleh saya tahu nama dan keperluan Anda?" petugas itu menyodorkan daftar seperti buku tamu kepada Shiho dan sebuah bolpoin seraya membuat panggilan telepon ke Divisi Kejahatan Kekerasan tempat Inspektur Megure bertugas.
Shiho mendorong daftar itu kemudian menjawab, "Sampaikan kepada Inspektur, aku Shiho Miyano dan aku datang untuk menyerahkan diri."
Petugas itu terkejut mendengarnya dan menanyakan kembali kepada Shiho, "Maaf, bisa Anda ulangi keperluan Anda?"
"Kubilang, aku Shiho Miyano. Inspektur Megure mencariku sebagai salah satu anggota komplotan penjahat yang sedang ia selidiki," jawab Shiho tegas.
Inspector Megure's POV
Telepon yang ada di sampingku berdering. "Sial, setelah aku dibuat pusing dengan bertambahnya wanita ini dalam daftar tersangka kini telepon ini lagi," umpatku dalam hati. Aku mengangkat telepon itu dan mendengar suara petugas front office.
"Inspektur, di bawah ada orang yang mencarimu," katanya.
"Siapa?" tanyaku kesal
"Se-seorang wanita blasteran. Dia sedikit aneh, dia bilang ingin menyerahkan diri kepada Anda,"
"Haah? Siapa?" Aku mulai kesal dengan hal ini, menambah pusingku saja.
"Ia mengaku sebagai Nona Shiho Miyano, saat ini aku sudah meminta dua orang petugas mengamankannya,"
Aku merasa tidak asing dengan namanya dan kulihat kertas di atas mejaku. Sebuah daftar pencarian orang yang baru selesai dicetak lengkap dengan foto seorang wanita blasteran berambut pirang dan sebuah nama: SHERRY a.k.a. SHIHO MIYANO. Aku terkejut dan naluri kepolisianku kembali bekerja.
"APA?! Di mana dia sekarang?" teriakku yang mengagetkan Sato dan Shiratori.
"Dia masih di bawah, apa perlu dibawa ke ruangan Anda?"
"Bawa dia segera ke ruang interogasi, aku menunggunya di sana!"
"Ada apa, Inspektur?" tanya Shiratori.
"Kita ke ruang interogasi sekarang. Sato, kau juga ikut. Aku akan jelaskan sambil kita berjalan."
Aku memerintahkan Shiratori untuk tetap tinggal di ruangan sebelah dan Sato ikut bersamaku. "Selamat sore, nona Miyano," kataku memasuki ruangan itu. Wanita yang duduk dengan tenang di depan meja itu menatapku dan Sato. Baru pertama kali aku menemuinya, tapi entah kenapa aku tidak merasa asing. Wajahnya sedingin di foto itu, tetapi usianya... Masih sangat muda kelihatannya. Kenapa dia menghabiskan waktunya untuk menjadi anggota kawanan itu, pikirku.
- End of Inspektur Megure's POV
Jodie menghentikan mobilnya di depan rumah Hakase. Ia bergegas turun bersama James dan memencet bel rumah itu. Tak lama, Hakase keluar dengan bingung.
"Ah Jodie-san, ada apa?" tanya Hakase.
"Apa Shiho ada di dalam?" tanya James.
"Eh, tidak, dia pergi beberapa jam yang lalu."
"Ke mana dia pergi dan kapan dia kembali, Hakase?" tanya Jodie.
"Sebenarnya dia pesan untuk tidak memberitahukan kepada siapa-siapa, tapi aku khawatir..," jawab Hakase.
"Katakan saja Hakase, kami 'kan bisa dipercaya," Jodie tersenyum.
"Dia bilang akan ke Hokkaido menemui seseorang dan tidak pulang untuk beberapa waktu. Tapi memang sedikit aneh sih, hmm. Ada apa sebenarnya, Jodie-san?" terlihat kecemasan di wajah Hakase.
"Ah, tidak ada apa-apa... Hanya saja dia belum menghubungiku seperti yang kuminta, nanti tolong sampaikan lagi padanya ya," Jodie berkilah dan langsung menarik James pergi untuk menghindari pertanyaan lebih lanjut dari Hakase.
"Kita terlambat ya?" tanya James. Jodie tidak menjawab pertanyaan bosnya itu. "Menurutmu apa dia benar sudah lari ke Hokkaido?" tanya James lagi. Jodie memutar keras pikirannya, Jodie tidak percaya bahwa anak itu sudah lari. Bahkan terakhir kali mereka menawarkan untuk menghapus data tentangnya dari file organisasi itu, ia menolak. Apakah itu hanya bagian dari rencananya?
"Aku tidak begitu yakin," James kembali mengeluarkan pernyataan yang kini membuat Jodie terkejut. "Eh?" tanya Jodie dengan wajah bingung.
"Kupikir dia tidak sedang lari...," jelas James lagi. Jodie membiarkan James melanjutkan pernyataannya. "... Apakah kau terpikir kalau dia akan menyerahkan diri saat Kepolisian Jepang mulai mencarinya? Kalau dia tidak mau melibatkan lebih banyak orang lain lagi, itu jalan terbaik."
"Jadi, menurutmu...?" tanya Jodie. "Hubungi Inspektur Megure, tanyakan kepadanya seolah kita hendak membantu pencarian anggota kawanan itu," jelas James.
xxx
Jodie terkejut setelah mendengar Inspektur Megure mengatakan bahwa mereka sedang menginterogasi Shiho Miyano. Mereka pun melaju cepat menuju kantor MPD. Setibanya di sana, mereka mendapati ruang interogasi sudah kosong.
"Inspektur, ke mana kau membawa dia?" tanya Jodie.
"Kami sudah mendapat pengakuannya, hanya saja dia masih bungkam tentang anggota yang lain. Dia selalu mengaku tidak tahu. Saat ini kami menahannya di basement," jelas Inspektur Megure.
"Kau gila? Kau menggabungkannya dengan anggota kawanan itu yang lain? Kau menggabungkannya dengan Vermouth?" kekesalan Jodie memuncak.
"Tenang dulu, Jodie-san. Kami punya ruang tahanan yang cukup banyak di basement. Kami menahan mereka semua secara terpisah. Lagipula, ada apa? Kenapa kau begitu peduli?"
"Ia adalah salah satu informan kami, Inspektur. Ia mengkhianati organisasi itu dan membantu kami meruntuhkan mereka," jelas James.
"Benarkah hal itu? Aku tidak menerima data-datanya saat kalian membeberkan tentang operasi ini," kali ini giliran Shiratori menjawab
"Kami tidak bisa memberitahukannya karena ia adalah informan rahasia,"
"Apakah dia masuk dalam program perlindungan saksi?" tanya Inspektur lagi.
"Eh, tidak,"
"Kalau begitu, kami tetap punya hak untuk menahan dan meminta keterangannya lebih lanjut," jawab Shiratori.
"Tapi nyawanya terancam, Inspektur! Dia bisa saja terbunuh,"
"Ini kantor kepolisian, Jodie-san. Tidak mungkin ada yang bisa membunuh di sini. Lagipula ini kan juga bisa dibilang kesalahan kalian, kenapa saksi yang penting bagi kalian tidak kalian beritahukan kepada kami lebih awal. Kini kalian tidak bisa mengubah pandangan kami bahwa ia pernah terlibat dalam organisasi itu dan berbahaya," jawab Inspektur dan kini meninggalkan mereka diikuti Shiratori.
to be continued...
