I don't own Detective Conan

All characters belong to © Gosho, Aoyama

CaseClosed/Detective Conan (Fanfiction) Series

AKHIR PENANTIAN(?) S2


CHAPTER 2A

Bridge to Destiny - 1

Ding dong... Ding dong...

Telunjuk pria itu kembali menekan tombol bel di samping pagar.

Ding dong... Ding dong...

Hening. Tidak ada jawaban dari orang yang tinggal di dalamnya.

"Aaaaahh... Sepertinya dia tidak ada di rumah, sayang," ucap pria itu sedikit kecewa. Wanita lawan bicaranya hanya membuang muka sambil mendengus kesal, "Huh, kenapa kuncinya yang kau tinggalkan bukan kepalamu saja sekalian yang ditinggal."

"Hei hei, bagi seorang novelis misteri sepertiku, kepala beserta ide-idenya ini adalah yang terpenting,"

"Oh ya? Lalu apakah itu bisa menolong kita masuk ke dalam rumah? Karena angin musim dingin ini mulai membuatku menggigil," jawab wanita itu sinis.

"Aneh. Bukankah seharusnya angin-angin itu takut kepadamu?" Kini wanita itu menatapnya tajam. "Ini bukan saatnya bercanda, Yusaku! Cepat cari bagaimana caranya kita bisa masuk supaya aku menghangatkan diri di dalam!" bentak Yukiko kesal.

"Hmm, aku punya ide. Bagaimana jika kita ke tempat Agasa-san, siapa tahu Shinichi menitipkan kunci cadangan kepadanya," Yusaku mengangkat telunjuknya seperti orang yang baru memecahkan sebuah misteri. "Huh, kenapa tidak dari tadi sih–" dengus Yukiko kesal sambil berjalan ke rumah Hakase. "–dan bawa koper-koper itu."

Ding dong... Ding dong...

Kali ini jemari lentik mirip mantan aktris layar perak Jepang, Yukiko Fujimine, yang menekan bel. "Jangan bilang kalau dia pergi bersama Shinichi, hu-uh."

"Tidak bisakah kamu berhenti mengeluh, Yukiko? Sejak kita tiba di sini kau mengeluh terus," ujar Yusaku berusaha menenangkan.

Pintu terbuka dan Hakase menyembulkan kepalanya dari balik pintu. "Ah! Yusaku, Yukiko! Senang melihat kalian!" Wajah Hakase terlihat cerah begitu menyadari yang datang adalah tetangga sekaligus teman lamanya itu.

"Jadi, kapan kalian datang?" tanya Hakase sambil menghidangkan teh kepada dua tamunya itu.

"Baru saja," jawab Yusaku. "Ya, setelah hampir setengah jam angin musim dingin menusuk hingga ke tulangku," potong Yukiko acuh. Hakase tampak bingung dengan ucapan Yukiko itu. Kebingungan Hakase ditanggapi oleh Yusaku yang mengerti.

"Ah begini, aku sebenarnya ketinggalan kunci rumah dan... Sepertinya Shinichi sedang tidak di rumah jadi, aku ingin menanyakan apakah Shinichi menitipkan kunci atau semacamnya di sini?" jelas Yusaku sambil menggaruk kepalanya.

"Hooo begitu, jadi kalian menunggu Shinichi membukakan pintu. Tapi sayang sekali, sejak ia kembali ke wujudnya semula, ia sudah mengambil kunci yang dulu ia titipkan,"

"Tidak apa-apa, Hakase, biar dia merasakan akibat dari kebodohannya. Kami akan menunggu di sini sampai Shinichi pulang, tidak apa-apa 'kan?" jawab Yukiko.

"Eh?" Hakase terlihat bingung dengan pernyataan itu.

"Ada apa? Apa Hakase keberatan?"

"Tidak... Tidak sama sekali, toh daripada aku juga sendirian di rumah. Tapi, mungkin Shinichi baru kembali lusa."

"Ha-ah...?" jawab mereka berdua serempak.

"Shinichi sedang pergi ke Kyoto bersama teman-temannya di SMA Teitan. Apa dia tidak cerita?" tanya Hakase.

"Eh... Ng.. Ano... Sebenarnya..," Yukiko mencari-cari alasan.

"Sebenarnya kami tidak memberitahu Shinichi kalau kami akan datang. Ada seseorang yang ingin membuat kejutan untuk anaknya–" jawab Yusaku sambil menoleh ke istrinya "–tapi sepertinya kini ia yang terkejut karena rencananya gagal." Yukiko hanya bisa menghela nafas mendengar itu.

"Hahahahahaha, jadi seperti itu... Yukiko, kau sama sekali tidak berubah," Hakase tertawa mendengar penjelasan Yusaku.

"Omong-omong Hakase, apa benar kau tinggal sendirian? Seingatku ada seorang anak kecil umm... Maksudku gadis seumuran Shinichi yang tinggal bersamamu," tanya Yusaku. Mendengar perkataan itu, wajah Hakase langsung berubah. Pikirannya kembali melayang kepada gadis yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri itu.

xxx

"Jadi dia pergi dari kemarin dan belum memberi kabar...?" ujar Yusaku setelah mendengar penjelasan Hakase. Yukiko yang di sampingnya terlihat cemas. "Tidak, tidak seperti itu 'kan, Hakase? Dia akan kembali kan...," ucapnya berusaha meyakinkan.

"Aku tidak tahu, Yukiko. Aku juga berharap seperti itu. Walaupun dia bilang akan kembali, tapi entah kenapa aku merasa..." Hakase tidak mampu melanjutkan kata-katanya.

"Maaf, Hakase. Apakah dia tidak berkata apa-apa lagi? Soal penerbangannya, penginapan, atau apapun?" tanya Yusaku.

"Tidak, tidak sama sekali. Semuanya berlangsung begitu cepat. Kopernya pun sudah siap. Seolah dia sudah merencanakannya sejak jauh-jauh hari,"

"Tidak ada hal lain yang ia sampaikan?" selidik Yusaku lagi.

"Dia hanya memintaku untuk tidak mengatakan hal ini kepada siapa-siapa, terutama Shinichi." Jelas Hakase.

"Eh, tapi kenapa?" tanya Yusaku. Yukiko seperti tersadar sesuatu. Ia kini menenangkan Hakase, "Sudah, Hakase. Bagaimana kalau Anda istirahat dulu? Sepertinya Hakase kurang tidur. Kepergian anak itu juga pasti membuat Hakase kepikiran terus kan?" Hakase hanya mengangguk sedih, "Baiklah, aku tinggal kalian dulu."

"Ada apa?" kini giliran Yusaku bingung melihat tingkah istrinya.

"Shinichi pernah berjanji untuk melindungi anak itu apapun yang terjadi. Kalau anak itu pergi dan Shinichi tidak boleh tahu, pasti ada sesuatu berbahaya yang ia rencanakan,"

"Berbahaya seperti?"

"Entahlah, pokoknya kita harus bisa mencaritahu ke mana anak itu pergi. Sebelum Shinichi kembali."

"Kenapa harus sebelum...," belum sempat Yusaku menyelesaikan kalimatnya, Yukiko sudah memotong. "Oh ayolah, tuan novelis. Sepertinya insting misterimu sudah mematikan insting lainnya ya. Kira-kira apa yang terjadi kalau Shinichi tahu anak itu pergi? Ia kan memendam perasaan kepadanya," ujar Yukiko menggantung.

"Siapa memendam perasaan kepada siapa?" Yusaku masih bingung.

"Keduanya. Jadi, tunggu apa lagi. Kita harus segera menyelidikinya,"

xxx

"Oh begitu. Jadi kemarin sama sekali tidak ada penerbangan ke sana karena cuaca di sana buruk. Baiklah, terima kasih..."

"Sesuai dugaan," Yukiko tersenyum.

"Sepertinya ia tidak meninggalkan Tokyo," jelas Yusaku.

"Ya, tapi ke mana? Sepengetahuanku dia tidak punya tempat lain selain bersama Hakase."

"Sepertinya kita harus merangkai ini semua dari awal," kini Yusaku duduk di salah satu sofa.

"Anak itu pergi sekitar seminggu setelah kembali ke wujud asalnya. Sementara organisasi itu telah lenyap, seharusnya tidak ada yang perlu ditakuti hingga harus merahasiakan kepergiannya," jelas Yusaku.

"Ya, lain ceritanya kalau organisasi itu masih ada dan ia dalam wujud asalnya. Aku bisa mengerti kalau ia tidak mau melibatkan orang lain,"

"Melibatkan orang lain?"

"Ya, kau tahu 'kan kalau kedua orangtuanya sudah meninggal. Kakaknya meninggal saat mencoba mengeluarkannya dari organisasi itu. Wajar kalau dia berpikir kakaknya terbunuh karena dirinya dan kini ia tidak mau lebih banyak orang lagi terlibat–" jelas Yukiko. "–begitu kira-kira yang Shinichi bilang."

"Apakah ada sesuatu yang ia rahasiakan? Apakah sebenarnya organisasi itu belum hancur?" tanya Yusaku.

"Itu tidak mungkin! Bukankah kau lihat FBI dan CIA telah begitu yakin merilis hasil kerja mereka?"

"Lembaga pemerintah terbiasa membuat seperti itu sebagai propaganda kepada masyarakat, meyakinkan bahwa segalanya aman, menunjukkan kehebatannya dan seolah mereka yang paling berjasa." Yukiko hanya menghela nafas mendengar jawaban suaminya itu.

"Jadi, apa menurutmu sebenarnya organisasi itu belum hancur?" tanya Yukiko.

"Apa kau tidak mempercayai anakmu yang mengatakan semuanya sudah selesai?" tanyanya lagi.

"Aku percaya Shinichi, tapi bisa saja ada hal yang tidak Shinichi ketahui."

"Oh jadi kau tidak mempercayai gadis itu?" tanya Yukiko kini terlihat kesal. Tidak ada jawaban dari Yusaku. "Aku percaya kepadanya sebagaimana Shinichi mempercayainya. Dia hanya sebatang kara dan sudah sangat menderita, suamiku. Kalau kita tidak mempercayainya, siapa yang akan percaya kepadanya?"

xxx

"Sepertinya ini membuahkan hasil," Yusaku tersenyum.

"Bagaimana?"

"Aku menghubungi salah satu kenalanku di perusahaan taksi. Ia menceritakan bagaimana salah satu karyawannya yang bingung karena mengantarkan seorang gadis blasteran dengan membawa koper cukup besar menuju ke Kantor Kepolisian Metropolitan," jelas Yusaku.

"Haah.. Kantor polisi? Apa kau yakin ini dia?" tanya Yukiko sedikit tidak percaya.

"Aku juga merasa sedikit aneh, tapi dugaan saja tidak cukup 'kan?"

"Kau ingin mengecek ke sana?"

"Tidak, aku akan menelepon."

"Ke mana?"

"Sssttt...," sergah Yusaku sambil membuat isyarat agar Yukiko diam.

"Ah. Apa kabar, Inspektur Megure! Ini aku Yusaku," ujarnya dengan nada ceria.

"Yusaku-san! Lama tidak mendengar kabar darimu. Apa kau baik-baik saja? Kau masih di Amerika?"

"Tidak, tidak. Aku sedang liburan di Tokyo saat ini."

"Benarkah? Senang mendengarnya. Kita harus bertemu kalau liburanmu di sini masih lama."

"Tentu saja, Inspektur. Ngomong-ngomong, aku perlu bantuanmu."

"Ada apa, Yusaku-san?" tanya Inspektur.

"Begini, sebenarnya ada kerabatku yang sudah lebih dulu tiba di Tokyo. Hanya saja saat aku tiba di sini, aku kehilangan jejaknya. Aku khawatir kalau terjadi sesuatu,"

"Ooh jadi tentang orang hilang. Kalau begitu, aku akan menghubungkanmu dengan Divisi..."

"Oh tidak perlu, Inspektur–" Yusaku memotong, "–ini tidak seserius itu. Hanya saja dia sudah lama tidak tinggal di Jepang dan aku khawatir dia nyasar. Seorang gadis berusia 20-an tahun dengan rambut kepirangan hampir sebahu."

Inspektur berpikir sejenak lalu membuka suaranya, "Apa Shiho Miyano yang kau maksud?" Ya, bagaimana mungkin Inspektur lupa akan sosok tahanannya itu. Seorang gadis muda yang bahkan ia sendiri tidak tega untuk memasukkannya ke sel yang dingin itu.

Yukiko yang mendengar pembicaraan itu lewat loudspeaker mengangguk.

"Benar, Inspektur. Dari mana kau mengetahuinya?" tanya Yusaku pura-pura bingung.

"Kami menahannya, Yusaku-san. Kami menahannya karena ia terlibat dalam organisasi yang sedang kami selidiki." Ada ketegasan, sekaligus sedikit kesedihan di jawaban Inspektur.

"Apa? Itu tidak mungkin, seingatku bukan seperti itu yang terjadi,"

"Kami akan segera ke sana untuk menemui Anda, Inspektur. Bolehkah?" Yusaku masih berpura-pura panik.

"Tentu saja. Dengan senang hati aku akan menunggumu di kantorku," Inspektur kemudian mematikan teleponnya.

xxx

"Tentu saja kau menghubungi Inspektur bukan hanya karena ia satu-satunya polisi yang kau kenal dekat 'kan?" tanya Yukiko kepada suaminya yang sedang menyetir Beetle yang dipinjam dari Hakase.

"Menurutmu?" Yusaku malah bertanya balik dan hanya dijawab dengan bahu Yukiko yang terangkat.

"Seingatku Kepolisian Jepang kebagian mengejar anak buah rendahan dari organisasi itu. Gadis itu pernah menjadi bagian mereka dan cepat atau lambat polisi pasti akan menemukan data tentangnya," jelas Yusaku.

"Jadi polisi berhasil menangkapnya?"

"Sebaliknya, kupikir ia menyerahkan diri,"

Yukiko masih bingung. "Kenapa dia menyerahkan diri?" pikirnya.

"Kalau benar seperti yang kau bilang bahwa ia tidak mau melibatkan orang lain. Ini adalah jalan termudah agar Hakase atau Shinichi tidak perlu mengetahui bahwa polisi mencarinya," papar Yusaku lagi.

"Tapi kini kita terlibat," jawab Yukiko.

"Bukan dia yang melibatkan kita, tapi kita yang melibatkan diri di dalamnya," tutup Yusaku.

to be continued...